Wednesday, November 7, 2007

Sai Inspires - 7th November 2007 (How should we use our faculty of reasoning so as to reap maximum benefit?)

Like a drop of oil on water, every individual spreads; he reaches out and far. 'I' seeks other 'I's and seeks to become 'We'. Life is a march from 'I' to 'We'. But, it usually strays from 'I' to 'They'. And does not reach God, the 'We'. Intellect alone can direct man in the path of discrimination, between the true path and false, the proper step and the improper... The reasoning power of man is shaped, not only by the education he receives now, but more by the impact of past lives and the import of future events. If the power is used for self-aggrandizement, it feeds delusion; if it is used in service for others, it promotes the Revelation of Reality. Reason must examine the vagaries of the mind and make patent the Divinity that resides and shines in every individual.

Seperti tetesan minyak yang menyebar di permukaan air, maka demikianlah setiap individu (orang) juga menyebar dalam kehidupan ini; masing-masing berkelana ke tempat yang nun jauh. ‘Aku’ mencari ‘Aku’ yang lain dan selanjutnya bersama-sama membentuk ‘Kita’. Kehidupan ini adalah derap-langkah untuk bergerak dari tahap ‘Aku’ kepada ‘Kita’. Namun pada umumnya sering terjadi penyimpangan dalam arah perjalanan itu, yaitu dari ‘Aku’ menjadi ‘Mereka’. Sebagai akibatnya, kita tidak sampai ke tujuan kita, yaitu Tuhan (‘Kita’). Hanya intellect (buddhi) saja yang bisa membekali manusia arahan yang benar dalam hal membedakan antara langkah yang benar dan salah... Kemampuan diskriminatif ini terbentuk bukan hanya melalui proses pendidikan semata, tetapi ia dipengaruhi oleh dampak kehidupan yang lampau serta kepentingan-kepentingan di masa depan. Jikalau kekuatan itu dimanfaatkan untuk tindakan menyombongkan diri, maka akan timbullah delusi; sebaliknya jikalau ia dipergunakan untuk pelayanan kepada sesama, maka ia akan mendukung tercapainya pencerahan. Buddhi haruslah dimanfaatkan untuk menilai setiap pola tingkah-laku mind (batin) serta untuk memperjelas eksistensi Divinity yang berdiam dan bersinar di dalam diri setiap individu.

- Divine Discourse, November 23, 1972.

Tuesday, November 6, 2007

Sai Inspires - 6th November 2007 (What is it that we must do to make the world a heaven of peace and prosperity?)

If you want to transform the world, promote all-round prosperity in the country and make the prayer "all people should be happy" become a reality, develop faith in the Self. Never forget God. Without God there is no Universe. Let the non-believers have their way. But they have no right to question the beliefs of others. To ask for physical proofs of the existence of experience like bliss or love or for subtle things like the fragrance of a flower is impracticable. To deny the reality of love on the ground that it has no recognizable form is meaningless. Love may have no form. But the mother who exhibits love has a form.

Jikalau engkau ingin merubah dunia ini (menjadi lebih baik), maka dukunglah kegiatan ataupun usaha untuk memajukan kesejahteraan yang ada di negaramu dan usahakanlah agar doa “semoga semua mahluk berbahagia” menjadi kenyataan serta tumbuhkanlah keyakinanmu terhadap Self (Atma). Janganlah melupakan Tuhan. Tanpa eksistensi Tuhan, maka dunia dan alam semesta ini tidak akan pernah ada. Biarkan saja mereka yang tidak mempunyai keyakinan atas kebenaran ini bercerita semaunya; namun yang jelas adalah bahwa mereka tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan kepercayaan orang lain. Sungguh tidak praktis bila ada yang meminta bukti atas eksistensi pengalaman-pengalaman real seperti bliss atau cinta-kasih maupun hal-hal lainnya seperti aroma sekuntum bunga. Sementara itu, bila ada yang menyangkal realitas cinta-kasih dengan alasan bahwa pengalaman tersebut tidak dapat dilihat dalam wujud tertentu, maka alasan seperti ini juga sungguh tidak masuk akal. Mungkin cinta-kasih tidak mempunyai wujud atau rupa, namun seorang ibu yang mencurahkan cinta-kasih jelas mempunyai sosok atau wujudnya.

- Divine Discourse, September 17, 1995.

Monday, November 5, 2007

Sai Inspires - 4th November 2007 (What is the inner significance behind chanting "Shanthi" three times at the end of every prayer session?)

The word Shanthi is pronounced three times at the end of every prayer, ritual or offering. What is the meaning behind this? The first Shanthi means: "May we enjoy peace for the body." It means that the body should not get heated by feelings of jealousy, hatred, attachments and the like. Whatever news you receive about any event, you should receive it with calmness and serenity...The second Shanthi pertains to the mind. You should not get worked up when someone says something about you which is not true....and the third Shanthi refers to peace of the soul. This peace has to be realized through love. This world has to be brought back on to the rails and it is love and peace alone which can achieve this. Fill your thoughts, actions, emotions with love, truth and peace. There may be people who may hate us but love them too.

Kata “Shanthi” diucapkan sebanyak tiga kali pada bagian akhir setiap doa, ritual ataupun persembahan. Apa arti kata-kata tersebut? “Shanti” yang pertama diartikan sebagai: “Semoga kita menikmati kedamaian untuk badan jasmani.” Artinya, semoga badan fisik kita tidak menjadi panas oleh karena perasaan cemburu, benci, kemelekatan dan sejenisnya. Apapun juga jenis berita yang kau terima dalam setiap kejadian, engkau harus menerimanya secara tenang dan damai.... “Shanti” yang kedua berkaitan dengan batin (mind). Artinya, engkau harus menjaga batin atau pikiranmu untuk tidak menjadi teragitasi sebagai akibat adanya ucapan-ucapan orang lain terhadap dirimu secara tidak benar.... dan “Shanti” yang ketiga berkaitan dengan ketenangan jiwa. Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan melalui cinta-kasih. Dunia ini harus dikembalikan ke jalannya yang benar dan hal itu hanya bisa tercapai melalui jalan cinta-kasih dan kedamaian. Isilah pikiranmu, tindakanmu dan emosimu dengan cinta-kasih, kebenaran dan kedamaian. Mungkin ada orang-orang yang membenci kita, namun kita tetap perlu mencintai mereka juga.

- Divine Discourse, December 9, 1985.

Sai Inspires - 5th November 2007 (What are the ornaments that can truly beautify us and confer peace?)

"Truth is the ornament for the neck." "Charity is the ornament for the hand." "Listening to sacred scriptures is the ornament for the ears." What other ornaments does a man need if he had these three? So says a Sanskrit saying. The ornaments which people wear today are a source of fear. But if the ornaments of truth, charity, and listening to sacred discourses are worn, there is no cause for fear. This is called Abhaya (fearlessness).

“Kebenaran adalah ornamen (perhiasan) bagi leher.” “Charity (sikap kedermawanan) adalah ornamen bagi tangan.” “Mendengarkan kitab-kitab suci adalah ornamen bagi telinga.” Apakah terdapat ornamen-ornamen lainnya yang dibutuhkan oleh manusia jikalau dia sudah memiliki ketiga-tiganya? Demikian bunyi salah-satu pepatah Sanskerta. Ornamen-ornamen yang dikenakan oleh manusia dewasa ini justru merupakan sumber ketakutan bagi dirinya sendiri. Seandainya saja mereka memakai ornamen kebenaran, kedermawanan dan mendengarkan wacana-wacana yang luhur, maka di dalam dirinya tiada lagi rasa takut. Inilah yang disebut sebagai Abhaya (tiadanya rasa takut/fearlessness).

- Divine Discourse, July 9, 1995.

Saturday, November 3, 2007

Sai Inspires - 3rd November 2007 (What should be the guiding force in our life?)

Whatever you do, deem it as God's work. This can be applied to every ordinary act in daily life, whether it is sweeping the floor or cutting vegetables. Every one of these acts can be turned into a spiritual exercise by the spirit in which you do it. To perform every act as an offering to the Divine is true devotion. The world today is suffering from disorder and violence because people have lost Aathma-Vishvaasa (faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the Spirit. Man should not follow the senses which are wayward, the body which is perishable, or the mind which is fickle. He must follow the conscience, which tells him what is right or wrong.

Apapun juga yang engkau lakukan, anggaplah itu sebagai pekerjaan untuk Tuhan. Pemikiran seperti ini bisa diaplikasikan dalam setiap perbuatan rutin sehari-hari, baik itu berupa pekerjaan menyapu lantai ataupun memotong sayur. Setiap bentuk tindakan tersebut bisa ditransformasikan menjadi latihan-latihan spiritual berkat semangat yang melatar-belakanginya. Melaksanakan setiap tindakan/pekerjaan sebagai persembahan kepada Divine jelas merupakan devotion (bhakti) yang sebenarnya. Sebagai akibat manusia yang tidak lagi memiliki keyakinan terhadap jati-dirinya yang sebenarnya (baca: Atma) (Aathma Vishvaasa), maka alhasil, dunia dewasa ini sedang mengalami kekacauan dan berbagai tindakan kekerasanpun bermunculan. Janganlah engkau mengikuti panca-inderamu yang suka bertindak semaunya, jangan pula engkau mengiktui badan jasmani yang mengalami kelapukan dan juga janganlah tunduk kepada mind (pikiran) yang suka plin-plan (tidak mantap). Sebaliknya, ikutilah conscience (hati-nurani)-mu, yang akan memberitahukan mana yang baik dan mana yang salah.

- Divine Discourse, September 17, 1995.

Friday, November 2, 2007

Sai Inspires - 2nd November 2007 (What is the hallmark of a true spiritual aspirant?)

You must be like the sandalwood tree which transmits its fragrance even to the axe that is used to cut it. When an incense-stick is lighted, it is burning itself away, but it radiates its perfume all around. In the same manner, a true devotee, should see to it that he keeps his peace intact under all circumstances. He should radiate happiness all around. This is the primary sadhana (spiritual practice). Through Sadhana, try to get that peace. Peace cannot be obtained in the world outside. Our kith and kin, our material possessions or name or fame will not give us peace. Peace is something which swells from within you. It is not something which is gathered from outside. We desire peace, but we keep doing things, which, far from giving peace, cause anxiety and worry. Trifles are allowed to upset one's peace of mind. The true spiritual aspirant should remain unaffected by what others say about him.

Jadilah seperti pohon cendana yang tetap menyebarkan harum- semerbak bahkan terhadap kapak yang digunakan untuk memotongnya. Ketika sebatang dupa dibakar, maka secara perlahan dia akan terbakar habis, namun keharumannya tetap terpancarkan ke segenap penjuru. Demikianlah, dalam kondisi yang bagaimanapun juga, seorang bhakta sejati haruslah berupaya untuk mempertahankan kedamaian-batinnya. Hendaknya ia memancarkan kebahagiaan ke segala arah. Inilah sadhana utama. Cobalah untuk mendapatkan kedamaian melalui sadhana-mu. Kedamaian tidak akan bisa diperoleh dari dunia-luar. Sanak-saudara, harta kekayaan, ketenaran dan jabatan – semuanya itu tidak akan bisa memberikan kedamaian; sebab kedamaian adalah sesuatu yang bersumber dari dalam dirimu sendiri. Kita mendambakan kedamaian, akan tetapi kita justru melakukan banyak hal yang berlawanan, yang malahan menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran. Bahkan hal-hal yang sepele saja dibiarkan menganggu ketenangan batin. Seorang aspiran spiritual sejati tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan orang lain terhadap dirinya.

- Divine Discourse, December 9, 1985.

Thursday, November 1, 2007

Sai Inspires - 1st November 2007 (What is the difference between an ordinary man and an Avatar?)

Give away 'Love' to all; give up the ego; display heroism in service; with compassion to fellowmen, feel your intimate kinship with them. Visualize the Aathma (spirit) that illumines all; derive unending Bliss therefrom. All who come Embodied are Avatars, that is to say, advents of the Divine, manifestations of God. What, then, is the special feature of Rama, Krishna, Buddha, and Christ? Why do you celebrate their birthdays with such reverential enthusiasm? The specialty is this: they are aware; you are unaware of the Aathma which is the Truth. Awareness confers Grace, Glory, Majesty, Might, and Splendour. Awareness confers liberation from bounds, from time, space and causation; from sleep, dream and wakefulness. For you, sleep is fiction; dream is fantasy and wakefulness a many-directional storm. Avatars are ever alert, aware, and alight.

Curahkanlah cinta-kasihmu terhadap setiap orang; buanglah jauh-jauh sang ego; milikilah sikap patriotik dalam tindakan pelayanan dan rasakanlah kedekatanmu dengan setiap orang. Visualisasikanlah Aatma yang menerangi semuanya serta rasakanlah bliss dari hasil visualisasi tersebut. Setiap insan sebenarnya adalah avatar atau dengan perkataan lain, mereka sebenarnya adalah manifestasi Tuhan (Divine). Bila demikian, lalu apa yang menjadi keunikan Rama, Krishna, Buddha dan Kristus? Mengapa engkau merayakan hari-jadi tokoh-tokoh tersebut dengan antusias & rasa hormat yang mendalam? Keunikan Avatar-Avatar tersebut adalah bahwa mereka menyadari ke-Avataran-Nya; sedangkan engkau tidak menyadari Aathma yang merupakan kebenaran sejati. Kesadaran bahwa dirimu merupakan Aathma akan membekalimu dengan rahmat, kemuliaan, keagungan, kekuatan dan kecemerlangan. Kesadaran itu juga akan menganugerahimu pencerahan diri dari segala bentuk kemelekatan, bebas dari ikatan ruang dan waktu serta sebab-musabab yang saling bergantungan; ibarat engkau menjadi sadar dari tidurmu dan mimpi-mimpimu. Bagimu, keadaan tidur adalah bagaikan cerita fiksi dan mimpi adalah khayalan. Seorang Avatar senantiasa dalam kondisi terjaga, waspada dan tercerahkan.

- Divine Discourse, October 10, 1983.