Monday, March 10, 2008

Sai Inspires - 10th March 2008 ( How can we always be at peace and be protected?)

The body is the temple of God; in every body, God is installed, whether the owner of the body recognizes it or not. It is God that inspires you to good acts, that warns you against the bad. Listen to that Voice. Obey that Voice and you will not come to any harm. A lady wept that her necklace was lost or stolen; she searched everywhere and became inconsolably sad. Then, when she passed across a mirror, she found the lost necklace around her neck. It was there all the time. Similarly, God is there, as the Inner Dweller whether you know it or not.

Badan fisik ini bagaikan kuil bagi Tuhan; Beliau terdapat di dalam badan setiap orang, tidak peduli apakah yang bersangkutan menyadarinya atau tidak. Tuhan memberimu inspirasi untuk melakukan perbuatan bajik, dan Beliau juga memperingatkanmu untuk tidak berbuat jahat. Dengarlah dan patuhilah perintah-Nya, maka dengan demikian tiada petaka yang dapat menimpamu. Ada seorang wanita yang bersedih hati dan menangis oleh karena ia merasa kalungnya sudah dicuri orang atau hilang; ia mencari-cari kalung tersebut ke setiap tempat dan hanya sia-sia saja. Kemudian ketika ia melintasi sebuah cermin, ia baru menyadari bahwa selama ini kalungnya masih tetap menempel di lehernya! Jadi kalung itu tidaklah hilang sama sekali. Demikianlah, Tuhan ada di situ, yaitu sebagai penghuni hati kita. Beliau tetap ada di sana biarpun kita menyadarinya ataupun tidak.

- Divine Discourse, February 27, 1961.

Thursday, March 6, 2008

Sai Inspires - 6th March 2008 ( What should we imbibe and implement in our lives on this auspicious day?)

God is the embodiment of Sathyam, Sivam, Sundaram (Truth, Auspiciousness and Beauty). All that you see, hear and experience should be offered to God.... Whatever may be the sadhana, one should not give up the resolve. One should have single-pointed attention; one should listen only to the principle of oneness.... The universal family of Lord Siva, Mother Parvati, Subramanya and Vinayaka are the perfect example for this principle. Cultivate their example... The principle of unity is slowly declining among the people of the world. There is strife and discord between even two brothers of the same small family.... The ultimate goal of this Sivarathri is to develop unity among humanity, whatever be the obstacles, difficulties and provocations. You should never make use of harsh words while speaking to others. Always speak sweetly and softly, with a loving heart.

Tuhan adalah perwujudan Sathyam, Sivam, Sundaram (Kebenaran, Kebajikan dan Keindahan). Segala sesuatu yang engkau lihat, dengar dan rasakan seyogyanyalah dipersembahkan kepada-Nya... Apapun juga jenis sadhana yang engkau putuskan untuk dilakukan, yang terpenting adalah bahwa engkau tidak boleh menyerah terhadap resolusimu itu. Engkau harus memupuk perhatian yang terfokus; mendengar dengan berdasarkan prinsip persatuan (oneness)... Keluarga universil Lord Siva, Ibunda Parvati, Subramanya dan Vinayaka - keluarga ini merupakan contoh yang sempurna dalam mengambarkan prinsip persatuan tersebut. Contohilah suri teladan yang mereka perlihatkan... Dewasa sekarang ini, prinsip persatuan secara perlahan sedang mengalami kemerosotan. Pertikaian dan ketidak-cocokan bahkan dapat ditemukan di antara sanak-bersaudara dalam satu keluarga yang kecil sekalipun.... Maksud/tujuan utama dari perayaan Sivarathri ini adalah untuk mendidik kita agar menumbuh-kembangkan semangat persatuan di tengah-tengah kehidupan sehari-hari (yang penuh dengan gejolak rintangan, kesulitan dan provokasi lainnya). Janganlah engkau mengucapkan kata-kata yang kasar ketika sedang berbicara dengan orang lain. Senantiasalah bertutur-kata secara halus dan lembut dan dengan hati yang penuh cinta-kasih.

- Divine Discourse, March 1st, 2003.

Wednesday, March 5, 2008

Sai Inspires - 5th March 2008 (The spirit in which we should engage ourselves in serving others)

Do not keep yourself apart, intent on your own salvation, through japa or dhyaana (chanting or meditation). Move among your brothers and sisters, looking for opportunities to help; but, have the Name of God on the tongue and the Form of God before the eye of the mind. That is the highest sadhana. God in the heart! Task in hand! Proceed in that spirit. God's Grace will be showered on you, in full measure.

Janganlah engkau mengasingkan diri dan hanya memikirkan keselamatan dirimu sendiri dengan melakukan japa atau dhyana (pengkidungan nama-nama Tuhan atau meditasi). Terjunlah ke tengah-tengah masyarakat, dan carilah kesempatan untuk memberikan bantuan; ditambah dengan praktek pengulangan nama-nama Tuhan di lidahmu serta memelihara wujud-Nya di mata batinmu. Inilah bentuk sadhana yang paling tingi, yaitu Tuhan di dalam hati dan pekerjaan/seva di tangan! Majulah dalam semangat itu, maka dengan demikian, Rahmat Tuhan akan dicurahkan sepenuhnya kepadamu.

- Divine Discourse, February 1st, 1970.

Tuesday, March 4, 2008

Sai Inspires 4th February 2008 (the first step in our journey to inner joy and peace)


In this spiritual sphere of mental peace and inner joy, the responsibility for success or failure is entirely one's own. You have no right to shift it on to others. The fire will go out if the fuel is over; so stop feeding it with fuel. Do not add fuel to the fire of the senses. Detach the mind from the temporary and attach it to the eternal... Plant the seedling of Bhakthi (devotion), namely, the preliminary exercise of Naamasmarana (remembering the Lord's name), in the mind. That will grow into a tree with the branches of virtue, service, sacrifice, love, equanimity, fortitude and courage. You swallow food, but you are not aware how that food is transformed into energy, intelligence, emotion and health. In the same way, just swallow this food for the spirit, this Naamasmarana, and watch how it gets transmuted as virtue and the rest without your being aware of it.

Sukses atau tidaknya seseorang dalam mencapai kedamaian batin maupun kebahagiaan adalah merupakan tanggung-jawab sepenuhnya dari yang bersangkutan. Engkau tidak memiliki hak untuk melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Kobaran api akan padam dengan sendirinya ketika ia kehabisan bahan bakarnya; oleh sebab itu janganlah semakin menambah bahan bakar (terhadap kobaran api nafsu/keinginanmu). Jauhkanlah pikiran/batinmu dari hal-hal yang bersifat temporer dan pusatkanlah perhatianmu kepada sesuatu yang bersifat eternal (abadi).... Tanamkanlah benih-benih bhakti (devotion), yaitu terutama kebiasaan/latihan Naamasmarana (pengulangan nama-nama Tuhan). Benih tersebut kelak akan tumbuh besar menjadi pepohonan dengan cabang-cabangnya dalam bentuk virtue (sifat/perilaku yang luhur), service (pelayanan), love (cinta-kasih), equanimity (keseimbangan batin), fortitude (keuletan) dan courage (keberanian). Engkau menelan makanan, namun engkau tidak sadar bagaimana sari-sari makanan tersebut ditransformasikan menjadi energi/tenaga, kecerdasan, emosi dan kesehatan. Demikian pula, telan sajalah makanan bagi jiwamu ini, yaitu Naamasmarana dan lihatlah bagaimana ia akan ditransmutasikan menjadi virtue (sifat-sifat bajik/luhur) tanpa sepengetahuanmu.

- Divine Discourse, February 27, 1961.

Monday, March 3, 2008

Sai Inspires 3rd March 2008 (valuable guideposts to live by in our lives)


The idea that a posh bungalow, with costly sofas, dining tables, etc., or a heavy pay packet is the ideal to be worked for should be given up. This ideal breeds evil. The ideal should be - hands dedicated to hard work, heads dedicated to service, and hearts filled with compassion. Vivekaananda exhorted students to cultivate compassion. No one should suffer harm or pain through our words or deeds. For, when another is hurt by us, what really happens is we insult and injury our true nature. Attention is now paid solely to the self and its wishes. This must be reversed. Not what we can get from others but what we can give others - that must be our concern.

Buanglah jauh-jauh pemikiran bahwa kehidupan ini adalah semata-mata untuk mengejar kesenangan atau kenikmatan dalam bentuk seperti: memiliki villa/bungalow yang diisi dengan sofa yang mahal, meja makan eksklusif ataupun paket-paket mahal lainnya. Pemikiran seperti itu sangat berpotensi untuk menghasut terjadinya kejahatan. Cara pandang hidup yang seharusnya kita galakkan adalah kerja keras, sikap dedikatif terhadap pelayanan dan hati yang penuh dengan welas-asih. Vivekananda mendorong para siswa-siswanya untuk mengembangkan sikap welas-asih. Kita tidak boleh melukai siapapun juga baik melalui ucapan maupun perbuatan kita. Sebab apabila kita melukai orang lain, maka itu sebenarnya berarti bahwa kita menghina dan melukai diri kita sendiri. Janganlah hanya mementingkan diri sendiri, sebab yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apa yang bisa kita berikan kepada orang lain dan bukan sebaliknya.

- Divine Discourse, March 8, 1981.

Saturday, March 1, 2008

Sai Inspires - 1st March 2008 (How can we live intelligently?)


Every individual should be the master of their behaviour; he/she should not be led away by the impulse of the moment; one must be conscious always of what is good for him/her. You should so carry your daily tasks that you do not make others suffer or suffer yourself. That is the sign of intelligent living. You should not give way to fits of anger or grief, elation or despair... Be Saatwik, calm, unruffled and collected. The more you develop charity for all beings, contrition at your own faults, fear of wrong and fear of God - the more firmly established you are in Shanti (peace).

Setiap orang/individu harus bisa menjadi master (penguasa) atas perilakunya sendiri, janganlah engkau terpancing untuk merespons terhadap dorongan impuls sesaat; sadarilah selalu hal-hal apa saja yang baik bagi dirimu. Jalanilah tugas-tugasmu sehari-hari dan pastikanlah engkau tidak menimbulkan penderitaan bagi orang maupun dirimu sendiri. Inilah pertanda bahwa engkau sudah menjalani kehidupan secara intelligent (cerdas). Jangan terpancing oleh kemarahan maupun penderitaan, pujian maupun celaan... Bersikaplah saatwik, tenang, tak terpengaruh dan penuh kendali. Semakin engkau mengembangkan sikap kedermawanan terhadap semua mahluk, menyesali kesalahanmu, takut berbuat salah dan senantiasa ingat kepada Tuhan; maka engkau akan semakin mantap di dalam Shanti (kedamaian batin).

- Divine Discourse, February 27, 1961.

Sai Inspires - 29th February 2008 (how we can see Divinity in entire creation)


Suppose you make an idol of Lord Krishna in silver. All parts of the idol are in silver. When you see the form of Krishna in the idol, you are not aware of the silver. When you want to see only the silver out of which the idol is made, the form is out of your view. Similarly, when you turn your mind towards God, who is pervading the entire Universe, the mind will be wholly filled with God, and you won't see the different forms of the objects in the world. But if the mind is directed towards worldly objects, you will fail to see the Divinity that pervades all objects.

Andaikan engkau membuat patung/rupang Lord Krishna dari bahan perak, maka seluruh bagian dari rupang tersebut akan terbuat dari perak. Namun apabila engkau berkonsentrasi dan hanya menatap wujud Krishna pada rupang itu, maka engkau tidak akan sadar atas keberadaan unsur peraknya. Sebaliknya bila engkau hanya ingin melihat bahan pembuatnya, maka wujud Krishna untuk sementara berada di luar dari fokus perhatianmu. Demikianlah, bila engkau mengarahkan batinmu ke arah keTuhanan - yang mencakupi seisi alam semesta - maka batinmu juga hanya akan terisi oleh pemikiran-pemikiran Ilahiah dan engkau tidak akan melihat berbagai variasi rupa atau wujud obyek-obyek yang ada di dunia ini. Namun sebaliknya, bila mind diarahkan kepada obyek-obyek duniawi, maka engkau tidak akan bisa melihat aspek Divinity yang mencakupi segalanya.

- Divine Discourse, May 20, 1993.