Saturday, June 7, 2008

Sai Inspires 7th June 2008 ( How can we always maintain purity of our mind?)

Resolve to be good and loving from this moment. Do your duties gladly and to the satisfaction of your well-wishers. If you feel sorry for the wrongs you did, that itself will please God and He will pardon you. If you endeavour to turn a new leaf and become better, God will shower His Grace on you...Whenever an idea of hurting others or taking some one else's belongings or spreading falsehood about others enters your mind, turn to God for help. Ask Him to give you strength, for all these ideas are born of fear and cowardice, qualities which in turn come from weakness. Repeat the name of God or hum a bhajan, and you will find that all your bad thoughts will flee, leaving you free from evil.

Mulai saat ini, bertekadlah untuk berbuat baik dan selalu mengembangkan cinta-kasih. Lakukanlah tugas-tugasmu dengan senang-hati dan untuk kepuasan setiap orang. Ketika engkau merasa bersalah atas perbuatan tidak benar yang telah engkau lakukan, maka sikap seperti itu akan menyenangkan Tuhan dan Beliau akan memaafkanmu. Jikalau engkau betul-betul berupaya untuk bertobat dan menjadi lebih baik lagi, maka Tuhan akan mencurahkan rahmat-Nya untukmu.... Ketika di dalam batinmu muncul pemikiran-pemikiran untuk merugikan orang lain, misalnya keinginan unuk mencuri ataupun menyebarkan fitnah dan sebagainya, maka segeralah berpaling kepada Tuhan untuk meminta bantuan-Nya. Berdoalah kepada-Nya untuk meminta kekuatan, sebab semua pemikiran-pemikiran (negatif) tadi bersumber dari rasa takut dan sikap pengecut, yang mana semua kualitas itu berakar dari kelemahan di dalam diri kita sendiri. Ucapkanlah nama Tuhan atau nyanyikanlah bhajan bagi dirimu sendiri, maka dengan demikian, semua pemikiran (negatif) itu akan lenyap dan menjauhkanmu dari kejahatan.

- Divine Discourse, March 19, 1978.

Sai Inspires 6th June 2008 ( What is it that we must really seek in this world?)

This cosmos is a vast exhibition. It is the creation of the Lord. All are entering this exhibition and taking whatever they choose. Some seek jobs, others wealth and so on. They are content to take objects of their choice. But no one asks the question: "Lord! If I take away one thing or another, what is it that I really gain? If You become mine, all these will become mine." When you have entered the Cosmic exhibition, you must seek the Divine. Then, the whole Universe becomes yours. You must seek that which is lasting and unchanging. There is no meaning in going after one thing after another. There is no end to that process. There is no satisfaction in that. What you acquire today, loses its charm the next day and you desire something new. But once the Divine is attained, all things are obtained.

Alam semesta ini bagaikan satu pameran/pagelaran yang maha luas. Ia merupakan kreasi/ciptaan Tuhan. Semua (mahluk) memasuki arena pameran ini dan mengambil apapun juga yang mereka inginkan. Ada yang mencari pekerjaan, kekayaan dan sebagainya. Mereka merasa sudah cukup puas dengan obyek-obyek pilihannya masing-masing. Namun tiada seorangpun yang meminta: "Tuhan! Kalau aku mengambil sesuatu, lalu apa sebetulnya yang akan saya peroleh selanjutnya? Jikalau saja Dikau menjadi milikku, maka tentu semuanya ini secara otomatis juga akan menjadi milikku." Ketika engkau sudah memasuki pameran kosmik ini, maka sudah seharusnyalah engkau mencari Divine. Dengan demikian, maka seluruh alam semesta ini akan menjadi milikmu. Carilah sesuatu yang tidak mengalami perubahan dan bertahan untuk selamanya. Tak ada gunanya mengakumulasikan hal-hal yang bersifat tetek-bengek dan tak berkesudahan itu. Tiada kepuasan yang bisa tercapai melalui hal tersebut. Sesuatu yang engkau dapatkan hari ini akan kehilangan daya-tariknya keesokan harinya dan selanjutnya engkau akan mulai mendambakan hal lainnya lagi. Namun apabila sekali saja engkau berhasil mencapai Divine, maka segala sesuatu akan tercapai dengan sendirinya.

- Divine Discourse, April 16, 1988.

Sai Inspires 5th June 2008 (In the long term, what is it that can give us continuous happiness?)

In all that man does with a view to love himself, it is not possible for him to ignore loving others. Without cultivating love for others, you can never cultivate love for yourself. Sorrow for yourself is gained by hurting others. In the same manner, victory in every war will result in another war. So also, any happiness that you can give to others will result in happiness for yourself in the end. Man must realize that he cannot get anything without sharing it with humanity around him. So, you must believe that, in due course, happiness of the people around you will lead to your own happiness.

Dalam setiap upaya yang dilakukan oleh manusia dengan tujuan untuk mencintai dirinya, maka adalah tidak mungkin baginya untuk mengabaikan cinta-kasih terhadap orang lain. Dengan tanpa berbagi cinta-kasih terhadap orang lain, maka engkau tidak mungkin bisa mengembangkan cinta-kasih terhadap dirimu sendiri. Kesedihan yang engkau alami adalah disebabkan oleh karena engkau telah melakukan tindakan yang menyebabkan orang lain menjadi sedih. Demikian juga, kemenangan yang diperoleh dalam setiap medan perang akan menghasilkan peperangan berikutnya. Sebaliknya, apapun juga bentuk kebahagiaan yang dapat engkau berikan kepada orang lain akan membuahkan kebahagiaan bagi dirimu sendiri. Engkau harus menyadari bahwa engkau tidak akan bisa memperoleh apapun juga bila engkau tidak berkenan untuk saling berbagi dengan sesamamu. Oleh sebab itu, engkau harus yakin bahwa kelak kebahagiaan yang dialami oleh orang-orang disekitarmu akan membuahkan kebahagiaan bagi dirimu sendiri.

- Summer Showers, 1973.

Sai Inspires 4th June 2008 (how God can manifest through us)

God is not separate from you; in fact, He resides in you. He manifests when you are virtuous and have the right tendencies and attitudes. The gunas or tendencies of a person are strongly influenced by food and life style. If these are such as to promote body-consciousness, then the six deadly enemies, kama (desire), krodha (anger), lobha (greed), moha (attachment), mada (pride), and matsarya (jealousy), overwhelm the person. If one rises above the body to the level of the heart, then the divine qualities of prema (love), daya (compassion), sahana (patience), and sahanubhuti (empathy) all manifest in the person.

Tuhan sama sekali tidak terpisah dari dirimu; sebenarnya Beliau ada di dalam dirimu. Beliau akan memanifestasikan diri-Nya apabila engkau melakukan kebajikan serta memiliki attitude (sikap) yang benar. Tendensi/sifat (guna) dari seseorang sangatlah dipengaruhi oleh jenis makanan dan gaya kehidupannya. Bila tendensinya lebih condong kepada body-consciousness (kesadaran badaniah), maka keenam musuh manusia akan menguasainya, yaitu: kama (nafsu keinginan), krodha (kemarahan), lobha (keserakahan), moha (kemelekatan), mada (kesombongan) dan matsarya (kecemburuan). Sebaliknya apabila engkau sanggup mengatasi jeratan dari badan jasmani ini, maka kualitas-kualitas divine akan termanifestasikan di dalam dirimu, yaitu sifat-sifat prema (cinta-kasih), daya (welas-asih), sahana (kesabaran), dan sahanubhuti (sikap empatik).

- Divine Discourse, May 22, 2000.

Sai Inspires 3rd June 2008 (the inner journey from bad, to good, to God)

Once bad thoughts are given up, you would have reached the destination. Give no scope for bad thoughts. See good in all. Everyone must love God. Do not waste your time by looking for God elsewhere; He is right within you, around you, behind you, above you, and below you. Is it ever possible to get away from such an Omnipresent God? God is everywhere but what you see of Him outside is just a reflection of the inner Divinity. That is why Swami often says: Art is outside, while heart is inside. God is in the heart. That also is why Vedanta advocates the development of inner vision.

Sekali pemikiran-pemikiran yang negatif berhasil disingkirkan, maka engkau sudah sampai di tujuan perjalananmu. Jangan lagi menyimpan bad thoughts. Lihatlah kebajikan/kebaikan di atas segalanya. Setiap orang harus mengembangkan cinta-kasih Ilahiah. Janganlah membuang-buang waktumu dengan mencari Tuhan dimana-mana; sebab Beliau ada di dalam dirimu, di sekitarmu, di belakangmu, di atasmu dan juga di bawahmu. Apakah mungkin bagimu untuk menyembunyikan diri dari Tuhan yang maha omnipresent ini? Tuhan ada dimana-mana, dan segala sesuatu yang engkau lihat di luar ini tiada lain merupakan refleksi dari inner Divinity. Itulah sebabnya Swami sering berkata: Art ada di bagian luar, sedangkan heart ada di dalam. Tuhan hanya ada di dalam heart (hati nurani). Inilah salah-satu alasan mengapa kitab suci Vedanta selalu menganjurkan tentang betapa pentingnya mengembangkan inner vision.

- Divine Discourse, May 22, 2000 .

Sai Inspires 2nd June 2008 ( What should we do if someone hurts or abuses us?)

The more you love humanity, the greater would be the happiness that you experience. On the other hand, if your love is feeble, then so will be your sense of joy. Therefore, love all. What do you lose by loving all? Nothing whatsoever. Love can confer so much joy. If you smile, others would do the same. Therefore, all of you must go through life with smiles and joy. When someone scolds, one normally feels hurt, while the person who is scolding gets some satisfaction. Don't feel hurt when you are criticized or abused. Instead, react by just smiling. You may wonder, "Why should I smile when that person is saying so many unpleasant things about me?" The answer is simple. You must smile because you have given the other person a chance to derive some satisfaction, even if it is by hurting your feelings. Be happy that you were an instrument to make the other person happy. This is the positive attitude and sense of love that you have to develop.

Semakin engkau mencintai sesama umat manusia, maka akan semakin besar pula kadar kebahagiaan yang akan engkau rasakan. Sebaliknya, apabila cinta-kasihmu lemah, maka demikian pula halnya dengan kebahagiaan yang bakal engkau peroleh. Oleh sebab itu, love all. Apa sih ruginya bila engkau mencintai semuanya? Tak ada bukan!? Cinta-kasih bisa memberikan kebahagiaan yang berlimpah-limpah. Jikalau engkau tersenyum, maka orang lainpun akan melakukan hal yang sama. Oleh sebab itu, jalanilah kehidupan ini dengan senyuman dan kebahagiaan. Ketika seseorang sedang mencaci, maka biasanya hati kita merasa terluka, sementara orang yang mencaci itu untuk sementara waktu merasa senang. Dalam hal seperti ini, janganlah biarkan dirimu terluka akibat kritikan maupun cacian itu. Sebaliknya, bereaksilah dengan hanya sekedar tersenyum. Engkau mungkin mengira, "Mengapa saya harus tersenyum ketika orang itu sedang mengucapkan begitu banyak hal yang kurang menyenangkan tentang saya?" Jawabannya sangatlah sederhana. Engkau tersenyum oleh karena sebenarnya engkau sedang memberikan kesempatan bagi orang tersebut untuk merasakan sedikit kepuasan walaupun itu sebenarnya melukai perasaaanmu. Berbahagialah oleh karena engkau telah menjadi instrumen buat menyenangkan orang lain. Inilah attitude yang positif dan sense of love yang harus engkau kembangkan.

-Divine Discourse, May 22, 2000.

Sai Inspires 1st June 2008 (the wonderful spiritual message from the game of football)

A game of football is played by two teams, each team consisting of ten players playing on each side of the field. While playing, each team strives to score a goal by shooting the ball between the two goal posts. Life is a game, in which one has to aim at leading one's life between the two goal posts of secular and spiritual education. While playing football, one kicks the ball as long as it is filled with air. Once the football is deflated, no one kicks it. The air in the football signifies the presence of ego. A man swayed by ego would have to receive blows until he becomes devoid of ego. Only a deflated ball is taken by the hands, whereas an inflated ball is kicked mercilessly. Similarly, a person who has destroyed his ego is well respected, whereas the person who allows himself to be swayed by ego becomes the target of all sorts of attacks. Only a person who is free from ego can transform himself into an ideal man.

Permainan sepak-bola dilakoni oleh dua tim, dimana masing-masing regu/tim terdiri atas sepuluh orang pemain yang mengisi kedua sisi lapangan sepak-bola itu. Ketika sedang bermain, masing-masing tim akan berupaya untuk mencetak gol melalui tendangan bola yang diupayakan untuk disarangkan melalui kedua-buah tiang (yang dinamakan sebagai gawang) Nah, kehidupan kita ini dapat diibaratkan seperti permainan sepak bola itu, dimana masing-masing orang mempunyai tujuan hidupnya baik di bidang sekuler (keduniawian) maupun spiritual. Ketika sedang bermain bola, maka selama bola itu masih berisi udara, maka ia akan selalu ditendang ke sana dan kemari. Kehadiran udara di dalam bola merepresentasikan sang ego. Artinya adalah bahwa manusia yang terombang-ambing oleh kuasa ego akan selalu menerima tendangan, sebaliknya hanya bola yang sudah kempes sajalah yang selamat dan dibawa dengan tangan. Demikianlah analoginya, manusia yang telah menghancurkan egonya akan dihormati dengan baik, sedangkan mereka yang masih terjerat oleh ego akan menjadi target dari segala bentuk serangan. Hanya manusia yang bebas dari ego sajalah yang bisa mentransformasi dirinya menjadi manusia ideal.

- Summer Showers, 1996 .