Friday, November 7, 2008

Sai Inspires 7th November 2008 ( Solution to realize the Oneness in every being, in every atom we see around us, every single day)

Ajnaana (ignorance) can be removed by acknowledging the universality of God and the merging of your individuality in the Universal. First practise the attitude of "Nenu Neevadu" ("I am yours") . Let the wave in your heart discover and acknowledge that it belongs to the sea. This first step is not as easy as it seems. The wave takes a long time to recognize that it is the vast sea beneath which gives its existence. Its ego is so powerful that it will not permit it to be so humble, as to bend before the sea. But hold on to this thought like the kitten clings to its mother, moving plaintively for succor and sustenance, and all trace of ego will be removed. This step finally leads one to realize that there is no duality, all is one!

Ajnaana (kebodohan batin) hanya bisa disingkirkan dengan cara mengenali universalitas Tuhan serta melalui persekutuan (penyatuan) individualitasmu dengan Yang Maha Esa. Sebagai langkah awal, praktekkanlah attitude (sikap) "Nenu Neevadu" ("Aku adalah milik-Mu"). Biarkanlah riak gelombang yang ada di dalam hatimu menemukan serta menyadari bahwa ia adalah milik sang samudera. Memang langkah pertama ini mungkin tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi riak gelombang untuk menyadari bahwa dasar eksistensinya bergantung pada sang samudera. Rasa egonya begitu kuat sehingga membuatnya susah untuk bersikap rendah hati dan hormat. Namun walaupun begitu, janganlah engkau lepas dari pemikiran seperti itu, bagaikan anak kucing yang berpegang erat kepada induknya untuk mencari perlindungan dan asupan makanan, kelak semua jejak-jejak sang ego akan terlucuti. Akhirnya engkau akan dituntun dalam mencapai kesadaran bahwa semuanya hanya satu adanya, tiada dualitas!

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, 8-Sep-1963

Thursday, November 6, 2008

Sai Inspires 6th November 2008 ( How can we become tough and focus ourselves on the spiritual path?)

The education that does not confer modesty and wisdom (Vinaya and Viveka) is a sheer waste of precious time. Whatever else you learn or do not learn, equip yourself with the strength that is necessary to be virtuous. Resist the temptation and the lures of the objective world. Wisdom is, not the cleverness that is given inordinate value today, but the capacity to see things in their proper proportion. One must also have the attitude of reverence to the past, and also to the elders who are the repository of spiritual wisdom and experience that one must acquire. To make life sweeter, deny yourself of many desires and you will find that you have become tough enough to bear both good fortune and bad.

Apabila pendidikan tidak mampu menghasilkan kemampuan pengendalian diri serta kebijaksanaan (Vinaya dan Viveka), maka pendidikan seperti itu adalah sia-sia belaka. Dalam keadaan bagaimanapun juga, bekalilah dirimu dengan kekuatan yang diperlukan agar dapat memupuk sikap-sikap yang luhur/terpuji. Jauhilah dirimu dari daya magnet dunia obyektif. Yang dimaksud dengan kebijaksanaan bukanlah hanya sekedar kepintaran belaka, melainkan ia diartikan sebagai kemampuan untuk melihat segala sesuatu sesuai dengan proporsinya yang layak. Hormatilah nilai-nilai sejarah dan juga terhadap para orang-tua - sumber kebijaksaan spiritual dan pengalaman berharga lainnya. Agar kehidupanmu menjadi lebih bermakna, kendalikanlah dirimu dari segala bentuk keinginan sehingga dengan demikian, engkau akan melihat dirimu menjadi lebih tangguh dalam menghadapi pasang-surut kehidupan ini.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 18, 12-8-63

Wednesday, November 5, 2008

Sai Inspires 5th November 2008 ( How do we make the most of our inner vices?)

Anger and hatred can be used to ward off the evil that stalks the spiritual aspirant. Be angry at the things that hamper you. Hate the habits that brutalize you. Cultivate the supreme knowledge (Jnaana) and visualize the Lord in all beings, things and activities. That will make your human birth worthwhile.

Kemarahan dan kebencian dapat diberdaya-gunakan untuk mengusir kejahatan yang selama ini menghambat perjalananmu sebagai aspiran spiritual. Kerahkanlah amarahmu terhadap hal-hal yang selalu menghalangimu (dalam hal perbuatan bajik). Bencilah kebiasaan-kebiasaan yang memperlakukanmu secara brutal. Kembangkanlah kebijaksanaan (Jnaana) dan visualisasikanlah Tuhan di dalam diri setiap mahluk, obyek dan kegiatan. Dengan demikian, kelahiranmu sebagai manusia akan memperoleh manfaatnya yang sebenarnya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, Sep-8-63

Tuesday, November 4, 2008

Sai Inspires 4th November 2008 ( How can we convert our misfortunes and miseries into opportunities to get nearer and dearer to the Lord?)

Welcome all the blows of fate, all the misfortunes and miseries, as gold welcomes the crucible, the hammer and the anvil, in order to get shaped into a jewel, or as the sugarcane welcomes the chopper, the crusher, the boiler, the pan, the sprayer and the dryer, so that its sweetness may be preserved and used as sugar by all. Chosen devotees never demur when disasters fall thick upon them. They will be happy and remember the Lord, and cling to Him. The Lord too, rushes to the help the devotee faster than the devotee can get to Him. If you take one step towards Him, He takes a hundred towards you. He will be more than a mother, foster you from within you and save you.

Bersiaplah untuk menerima serangkaian cobaan, kemalangan dan ketidak-nyamanan; seperti halnya bongkahan emas yang tidak mengeluh bilamana dimasukkan ke dalam crucible (untuk dilumerkan), kemudian dipukul agar dapat dibentuk menjadi perhiasan atau pada perumpamaan lainnya: seperti batang tebu yang rela untuk dipotong, dihancurkan, dimasak dan seterusnya, agar dapat menghasilkan manisan yang kelak dapat digunakan sebagai gula oleh semuanya. Para bhakta yang terpilih tidak akan pernah berkeluh-kesah ketika mereka menghadapi penderitaan. Mereka akan senantiasa senang dan ingat kepada Tuhan serta berpegang-teguh kepada-Nya. Demikian pula, Tuhan akan bergegas menolong bhakta-bhakta seperti ini, bahkan pertolongannya akan diberikan sebelum bhakta itu memintanya. Ketahuilah bahwa apabila engkau mengambil satu langkah menuju kepadaNya, maka Beliau akan mengambil seratus langkah mendekatimu. Beliau akan mengasihimu melebihi kasih seorang ibu, Ia akan melindungi dan menyelamatkanmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 23, 8-Sep-63

Monday, November 3, 2008

Sai Inspires 2nd November 2008 (How can we sanctify our every routine activity?)

Even when you are engaged in your daily chores, you can convert them into worship of God. While you are sweeping the floor, you can deem it as clearing your heart of all impurities. All work should be done with a pure heart filled with devotion, just as cooking must be done in a clean vessel. Whatever good you may do without a genuine feeling of love is of no use. It is love in a pure heart that transforms work into worship.

Di tengah-tengah kesibukanmu sehari-hari, engkau tetap bisa beribadah kepada Tuhan. Misalnya, ketika engkau sedang menyapu lantai, maka ketika itu engkau bisa beranggapan bahwa seolah-olah engkau sedang membersihkan hatimu dari kekotoran batin. Apapun juga pekerjaan yang sedang engkau lakukan, maka laksanakanlah dengan hati yang murni dan disertai oleh bhakti, seperti halnya ketika memasak, engkau perlu memastikan bahwa wajan yang engkau pergunakan betul-betul bersih. Apapun juga perbuatan bajik yang dilakukan tanpa adanya perasaan cinta-kasih adalah tak berguna sama sekali. Cinta-kasih di dalam hati yang murni akan mentransformasikan tugas/pekerjaanmu menjadi ibadah.

- Divine Discourse, April 11, 1994.


Sai Inspires 3rd November 2008 ( What kind of attitude should we develop so that we never have any adverse results of our actions?)

Selfless service is the ideal to be aimed at. If you fan a person out of love, when you stop, he cannot blame you; but when the paid servant stops fanning, the master takes him to task. In the first case, the act is done in the selfless way, with no aim to seek gain. The desire for gain is like poison fangs; when they are pulled out, the snake of karma is rendered harmless.

Pelayanan tanpa-pamrih (selfless service) adalah idealisme yang harus engkau upayakan untuk tercapai. Apabila engkau mengipasi (menyejukkan) seseorang dengan penuh cinta-kasih, dan ketika engkau berhenti; maka orang tersebut tidak akan bisa menyalahkanmu. Namun lain halnya apabila seorang pelayan (yang digaji) dan apabila ia tidak melakukan tugasnya itu, maka sang tuan berhak untuk mengambil tindakan terhadapnya. Nah, dalam perumpamaan yang pertama tadi, terlihat bahwa perbuatan dilakukan secara selfless, yaitu tanpa adanya harapan untuk memperoleh sesuatu. Keinginan untuk mendapatkan pamrih adalah bagaikan racun ular berbisa; apabila racun itu dicopot dari giginya, maka ular (yang merupakan representasi karma) menjadi tidak berbahaya lagi.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 3, Page 68.

Saturday, November 1, 2008

Sai Inspires 1st November 2008 (What is that that we must cultivate to experience happiness that is lasting?)

What is it that men should acquire today? It is the broadening of the heart so that it may be filled with all-embracing love. Only then the sense of spiritual oneness of all mankind can be experienced. Out of that sense of unity will be born the love of God. This love will generate in the heart pure bliss that is boundless, indescribable and everlasting. For all forms of bliss, love is the source. A heart without love is like a barren land. Foster love in your hearts and redeem your lives. Whatever your scholarship or wealth, they are valueless without love. Without devotion all other accomplishments are of no avail for realising God. Men aspire for liberation. True liberation means freedom from desires.


Manusia perlu berupaya untuk mengisi hatinya dengan cinta-kasih yang berlimpah. Sebab hanya dengan demikian, semangat persatuan spiritual antar umat manusia akan dapat tercapai. Dari semangat persatuan itu, maka akan terlahir cinta-kasih Ilahiah. Cinta-kasih Divine ini akan menghasilkan pure bliss (kebahagiaan) yang langgeng dan abadi. Cinta-kasih adalah sumber dari segala bentuk kebahagiaan. Tanpa cinta-kasih, hatimu bagaikan tanah yang tandus. Peliharalah cinta-kasih di dalam hatimu dan sucikanlah kehidupanmu. Apapun juga gelar kesarjanaan atau kekayaanmu, semuanya tak ada artinya bila tanpa cinta-kasih. Tanpa adanya devotion (bhakti), maka semua hasil pencapaianmu menjadi tak ada nilainya (dalam upayamu untuk merealisasikan Tuhan). Manusia beraspirasi untuk mencapai pembebasan (moksha), namun ketahuilah bahwa sebenarnya yang dimaksud dengan true liberation (pembebasan sejati) adalah kebebasan dari jeratan segala bentuk keinginan (duniawi).


- Divine Discourse, Dec 25, 1994.