Jagalah amarah dan ucapanmu agar senantiasa penuh dengan kelembutan dan sopan santun, sebab memang itulah sifat alamiahmu. Berbicaralah tanpa adanya unsur kemarahan, tidak perlu terlalu formal maupun dibuat-buat, yang terpenting adalah langsung dari hati nuranimu. Dengan demikian, engkau akan berbagi kebahagiaan dan cinta-kasih dengan semuanya. Apabila engkau tidak sanggup untuk memakai busana yang mahal ataupun perhiasan, janganlah engkau menjadi marah. Tetaplah tegar agar terhindar dari desakan khayalak ramai. Ingatlah selalu bahwa menjaga kualitas diri dan karakter positif sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh jasmani.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 24, Sep 12 1963.Friday, November 14, 2008
Sai Inspires 14th November 2008 ( What can we do today to our speech so that we can spread joy and love among all? )
Thursday, November 13, 2008
Sai Inspires 13th November 2008 ( What is Swami's guidance to us on how we should handle brickbats or criticisms laid on us?)
Kehidupan berumah-tangga merupakan medan latihan spiritual yang bagus. Ia disebut sebagai Sadhana Kshetra (lapangan untuk pelaksanaan praktek spiritual). Ketika ada pihak yang menunjukkan kesalahanmu, janganlah engkau menjadi marah. Cobalah engkau analisa perilaku/perbuatanmu agar engkau dapat menemukan kesalahan/kekurangan yang ada di dalam dirimu sendiri. Self-examination (introspeksi diri) adalah langkah awal untuk menuju kepada Self-improvement dan kedamaian. Engkau tidak perlu terlalu membesar-besarkan kesalahan orang lain, berikanlah kelonggaran terhadapnya dan lihatlah kesalahan itu sebagai bentuk kelalaian/kesalahan yang kecil sekali. Sebaliknya, besar-besarkanlah kesalahan yang engkau perbuat dan sekaligus berusahalah untuk menyingkirkannya secepat mungkin. Orang-orang yang menunjukkan kesalahanmu merupakan sahabatmu, sebab mereka telah memberikan tanda peringatan bagimu.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 24, Sep 12, 1963.
Wednesday, November 12, 2008
Sai Inspires 12th November 2008 (What do we have to do to be away from all worries in our life?)
Divinity yang ada di dalam dirimu akan senantiasa mendesakmu untuk mengikuti jalan kebenaran serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemoralan. Ada sebagian orang yang perhatian terhadap bisikan perintah-Nya; sebagian lagi hanya mendengar setelah Ia memrotes keras. Tetapi ada pula orang yang bahkan tuli sama sekali terhadap arahan-arahan-Nya, dan terakhir, sebagian manusia bertekad untuk tidak mendengar sama sekali. Beberapa orang lebih suka berpergian dengan naik pesawat terbang, yang lainnya lebih memilih perjalanan dengan mobil atau menumpang bis. Namun percayalah, bahwa cepat atau lambat, setiap orang haruslah dituntun oleh-Nya. Semuanya kelak harus sampai ke tempat tujuannya. Lakukanlah porsi tugasmu sebaik-baiknya. Yang perlu engkau lakukan - agar selamat - hanyalah mendengar dan mematuhi.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, 1963
Tuesday, November 11, 2008
Sai Inspires 11th November 2008 (What can one experience when they surrender to the Lord?)
Jadilah seruling Ilahi di tangan-Nya. Biarkanlah nafas Tuhan tersalurkan melalui dirimu sehingga menghasilkan alunan musik indah yang menyenangkan hati semuanya. Pasrahkanlah dirimu kepada-Nya, lepaskanlah ke-ego-an serta keinginan-keinginanmu. Dengan demikian, maka Ia akan memilihmu serta menjadikanmu sebagai seruling-Nya. Biarkanlah Ia melantunkan irama yang disukai-Nya. Tuhan adalah cinta-kasih murni. Tidak ada unsur kebencian di dalam diri-Nya.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6-Sep-1963
Monday, November 10, 2008
Sai Inspires 10th November 2008 ( How can we pass the test of life and escape all the attractions of the world?)
Kehidupan ini memperoleh maknanya apabila engkau menggunakannya untuk melihat Tuhan. Tujuan kehidupan ini adalah untuk menyatu dalam samudera yang maha luas, yaitu keilahian (Divinity)! Janganlah engkau mengisi kehidupanmu dengan hal-hal yang berbau duniawi. Sebab jikalau itu yang engkau lakukan, maka hidupmu akan menjelma menjadi bagaikan pasar malam yang hiruk-pikuk! Dengarkanlah hal-hal yang akan memancingmu untuk semakin dekat dengan prinsip-prinsip ke-Tuhan-an; lakukanlan perenungan dan jadikanlah prinsip itu sebagai bagian dari kesadaranmu. Proses manana (refleksi/perenungan) ini akan menjadikanmu sebagai manusia sejati. Inilah batu ujian bagi kehidupan setiap umat manusia.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6-Sep-1963.
Sunday, November 9, 2008
Sai Inspires 9th November 2008 (What is the importance of repeating the Name of God as a spiritual discipline? How can we continue to do this penance?
Enter from now on into a discipline of Naamasmarana, the incessant remembrance of the Lord, through the Name of the Lord. It does not need any special time or extra allotment of time, it can be done always, in the waking state, whether you are bathing or eating, walking or sitting. All the hours now spend in gossip, in watching sports or films, or in hollow conversations can be best used for silent contemplation of the Name and the Form, and splendour of the Lord.
Mulailah dari sekarang untuk berdisiplin dalam praktek Naamasmarana, yaitu pengulangan nama-nama Tuhan secara terus-menerus. Untuk menjalankan disiplin ini tidaklah diperlukan waktu yang khusus sebab ia bisa dilaksanakan kapan saja, baik dalam keadaan terjaga, sedang mandi atau makan, berjalan ataupun duduk. Waktu yang selama ini dimanfaatkan untuk bergosip-gosipan, menonton pertandingan olah-raga ataupun film maupun dalam percakapan ngalor-ngidul – sekarang bisa digunakan untuk berkontemplasi terhadap nama dan rupa serta kemuliaan Tuhan.
Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 14, May 1963.
Saturday, November 8, 2008
Sai Inspires 8th November 2008 ( How can we easily understand the mystery of good and the evil co-existing in the world? What is the purpose? )
Both good and evil have the right to exist. The evil has to be used for the purpose for which it is suited. The skin of the orange is not sweet. But it helps to protect the sweetness within. The bitter green skin of the unripe orange protects the fruits during the ripening period. The skin too gradually takes on some of the sweetness and flavor of the ripening orange. So too, evil has to be slowly transformed into good by the subtle influence of association.
Kebajikan dan negativitas – kedua-duanya memiliki hak yang sama untuk eksis. Aspek yang jahat haruslah diberdaya-gunakan dalam misi/maksud yang memang merupakan bagiannya. Kulit buah jeruk tidaklah manis, namun ia berfungsi untuk melindungi sari manis yang terdapat di dalamnya. Kulit hijau nan pahit pada buah jeruk yang belum matang berperan sebagai pelindung buah tersebut selama proses pematangannya. Lambat-laun kulit itupun akan menyerap sejumlah rasa manis serta aroma dari buah tersebut. Nah, demikianlah, kejahatan secara perlahan-lahan juga perlu ditransformasikan menjadi kebajikan melalui pengaruh pergaulan dengan yang saleh.
Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 17, 2-Aug-1963