Sunday, June 7, 2009

Sai Inspires 7th June 2009


What you judge as joy or sorrow is only like a passing cloud, which cannot affect the splendor of the Sun or Moon. Know that such emotions follow one another when the wheel of life turns round from moment to moment. The sea has water that cannot quench thirst, but it has also pearl and coral. You have to get toughened by the hammer strokes of joy and sorrow until you are unaffected by the vicissitudes of fortune. The Atman (Self) alone is eternal and unchanging.

Apa yang engkau anggap sebagai suka atau duka hanyalah bagaikan awan yang melintas, yang tidak bisa mempengaruhi kemegahan Sang Surya atau pun Rembulan. Ketahuilah bahwa semua perasaan suka dan duka saling sambung-menyambung mengikuti putaran roda kehidupan dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Lautan memiliki air yang tidak akan bisa memuaskan rasa dahaga, namun di dalamnya juga tersimpan mutiara dan batu karang. Engkau harus ditempa sedemikian rupa dengan memakai pukulan palu kesenangan dan penderitaan sampai pada akhirnya engkau menjadi tidak terpengaruh oleh perubahan nasib. Atman (Sang Diri Sejati) itu sendiri adalah kekal abadi dan tak berubah.

- Divine Discourse, Nov 23, 1975

Saturday, June 6, 2009

Sai Inspires 6th June 2009


God is sweet Love. You too must reveal the same sweet love, and thereby announce the Reality of God as Love. Do not exhibit equanimity momentarily. You must not start getting angry at all and sundry, after a while. Some are Yogis (spiritual) in the morning, Bhogis (epicureans) at noon and Rogis (Sick) at night. You must not act three roles in one day. Your deepest yearning must be to experience the One, the Being that is present in You. Be aware of the One that manifests as many. That is the Divine Life.

Tuhan adalah Kasih yang membahagiakan. Engkau juga harus menampakkan kemanisan kasih yang sama, dan dengan cara demikian akan mempermaklumkan Kesadaran akan Tuhan dalam perwujudan sebagai Kasih. Jangan memperlihatkan ketenangan hati sementara. Engkau jangan sampai menjadi marah pada semua orang, setelah beberapa waktu dalam kedamaian. Beberapa orang menjadi Yogis (spiritual) di pagi hari, Bhogis (penggemar makanan dan minuman) di siang hari dan Rogis (sakit) di malam hari. Engkau jangan memainkan tiga macam peran dalam sehari. Hasrat kerinduanmu yang paling dalam haruslah untuk merasakan Keillahian, merasakan kehadiran Tuhan yang bersemayam di dalam Dirimu. Sadarilah bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu menjelma dalam banyak perwujudan. Itu adalah Hidup yang Berketuhanan.

-Divine Discourse, Vol 13, 23 Nov 1975

Friday, June 5, 2009

Sai Inspires 5th June 2009


The mansion called life must be built on a strong foundation. The pursuit of Artha and Kama, of wealth and welfare, of all desirable objects must be regulated by the standard of Dharma. Dharma (righteousness) fosters those who foster it. The strongest foundation is ever-present faith in the Almighty.

Rumah besar dan indah yang disebut dengan kehidupan harus dibangun di atas landasan yang kuat. Mencari Arthadan Kama , yaitu kekayaan dan kenyamanan, dalam bentuk semua benda duniawi yang diinginkan harus diatur berdasarkan nilai-nilai Dharma. Dharma (kebajikan) akan memelihara siapa pun yang memelihara Dharma itu sendiri. Landasan yang paling kokoh adalah kepercayaan yang terus-menerus kepada Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, Vol.VIII., P.74

Thursday, June 4, 2009

Sai Inspires 4th June 2009


Dharma is not the giving of alms, feeding and providing lodging to pilgrims or the adherence to one's traditional profession or craft. In all worldly activities, you should be careful not to offend propriety, or the canons of good nature. You should not play false to the promptings of the Inner Voice. You should be prepared at all times to respect the appropriate dictates of conscience; you should watch your steps to see whether you are in someone else's way; you must be ever vigilant to discover the Truth behind all this scintillating variety. This is the entire duty, it is yourDharma. 

Dharma bukanlah berarti memberi sedekah, menyumbang makanan dan menyediakan tempat menginap bagi para peziarah atau kepatuhan pada seseorang karena jabatan atau pekerjaan tradisionalnya. Dalam semua kegiatan duniawi, engkau harus berhati-hati supaya tidak melanggar kebenaran, atau peraturan demi kebaikan alam. Engkau jangan sampai tertipu dan tidak mengenali kehadiran Suara Hati yang muncul tiba-tiba. Engkau harus siaga sepanjang waktu untuk dapat mengenali suara kesadaran; engkau harus selalu memperhatikan langkah-langkahmu untuk menjaga supaya tidak melanggar jalur orang lain; engkau harus selalu terjaga supaya mampu menemukan Kebenaran dibalik semua kelap-kelip dunia yang terus berganti. Ini adalah seluruh kewajiban, ini adalah Dharmamu. 

- Dharma Vahini

Sai Inspires 3rd June 2009


Peace is a shoreless ocean. It is the Light that illumines the world. It confers knowledge of this world and that. Pure love can emanate only from a heart immersed in peace, for it is an atmosphere that pervades and purifies. Peace is not a conviction arrived at by means of logic. It is the discipline of all disciplined lives. Iron has to be beaten flat by iron alone. So too, the inferior, lower mind, has to be shaped better by the superior mind itself. One has to make his mind superior and stronger for the task of personal upliftment. Drink deep the waters of discipline. Immerse yourself in it and become cleansed. May its coolness refresh your sorrows and pains, and quench the fires of sin.  

Kedamaian itu bagaikan samudera tak bertepi. Ia adalah Sang Cahaya yang menerangi seluruh dunia. Ia membuka pengetahuan akan dunia. Kasih sejati hanya bisa memancar dari hati yang penuh kedamaian, karena ia adalah atmosfir yang menyebar dan memurnikan. Kedamaian bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan dengan akal sehat semata. Mencapai kedamaian adalah mata pelajaran yang paling utama dari semua pelajaran dalam kehidupan. Besi hanya bisa ditempa oleh besi. Demikian juga, pikiran yang rendah dan mudah terpengaruh harus dibentuk menjadi lebih baik dengan menggunakan pikiran yang lebih kuat. Orang harus membuat pikirannya menjadi lebih teguh dan kuat demi menjalankan tugas untuk peningkatan diri. Minumlah air minum kedisiplinan. Ceburkanlah dirimu ke dalamnya dan jadilah lebih bersih. Semoga kesejukannya mampu menyegarkan duka dan deritamu, dan memadamkan api dosa. 

- Prasanthi Vahini

Tuesday, June 2, 2009

Sai Inspires 2nd June 2009


Absence of mere anger cannot be taken as peace. The winning of a desired object and the satisfaction derived then should not be confused with peace. The peace that has pervaded the heart must not be shaken subsequently for any reason. Peace must be everlasting and have no ups and downs; it cannot be partial in adversity and complete in prosperity. It cannot be one thing today and another tomorrow. Only that kind of permanent peace alone deserves to be calledPrasanthi. Maintaining the same even flow of peace, bliss, and joy is Prasanthi. 

Tiadanya kemarahan dalam diri tidak bisa dianggap sebagai hadirnya kedamaian. Mendapatkan benda-benda duniawi yang diinginkan dan mendapat kepuasan darinya jangan disalahartikan dengan tercapainya  kedamaian. Kedamaian yang meresap ke dalam hati seharusnya tidak dapat diguncangkan setelahnya dengan alasan apapun. Kedamaian haruslah kekal abadi selamanya dan tidak ada naik turun; tidak bisa hanya merasa sedikit damai saat tertimpa kemalangan dan merasa penuh kedamaian saat mendapatkan kemakmuran. Tidak juga berubah-ubah hari ini begini esok hari begitu. Hanya kedamaian yang abadilah yang layak disebut dengan Prasanthi. Menjaga tetap mengalirnya kedamaian, kebahagiaan, dan kegembiraan adalah Prasanthi. 

- Prasanthi Vahini

Monday, June 1, 2009

Sai Inspires 1st June 2009


Through selfless service you realise that all beings are waves of the Ocean of Divinity. No other sadhana (spiritual practice) can bring you into the incessant contemplation of the Oneness of all living beings. You feel another's pain as your own; you share another's success as your own. To see every one else as yourself and yourself in every one, that is the core of the sadhana of seva. Again, sevamakes the ego languish for want of food. It makes you humble before the suffering of others, and when you rush to render help, you do not calculate how high or low his social or economic status is. The hardest heart is slowly softened into the softness of butter by the opportunities that the sevaoffers. 

Melalui kegiatan pelayanan tanpa pamrih engkau akan menyadari bahwa semua makhluk hidup adalah ombak gelombang dari Lautan Illahi. Tiada sadhana (latihan spiritual) lain yang mampu membawamu pada pemusatan pikiran yang tiada henti-hentinya akan Kesatuan semua makhluk hidup. Engkau akan merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaanmu; engkau akan menganggap kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaanmu juga. Melihat orang lain sebagai dirimu dan melihat dirimu dalam diri orang lain adalah inti dari sadhana dalam seva. Dan juga,seva membuat ego meluruhkan keinginan akan makanan.Seva membuatmu menjadi peka terhadap penderitaan orang lain. Ketika engkau bersemangat untuk menolong orang lain, jangan sampai menghitung-hitung seberapa tinggi atau rendah status sosial orang yang akan engkau tolong. Dengan demikian, hati yang paling keras pun akan secara perlahan-lahan menjadi lembut melalui kesempatan melakukan seva. 

-Divine Discourse, November 14, 1975