Thursday, February 17, 2011

Sai Inspires - November 25, 2010

A person bound by objective desires will try in various ways to fulfil them. He becomes a slave to his senses and their pursuits. But if he withdraws the senses from the world and gets control over their master, the mind, and engages that mind in thapas (penance), then he can establish Swa-rajya or Self-mastery or independence over himself. Allowing the senses to attach themselves to objects is what causes bondage. When the mind that flows through the senses towards the outer world is turned inwards and is made to contemplate on the Atma, it attains liberation or Moksha.

Seseorang yang amat terikat dengan keinginan pada benda-benda duniawi akan mencoba berbagai macam cara untuk memenuhinya. Orang tersebut akan menjadi budak bagi indera dan keinginannya. Namun jika ia menarik kembali inderanya dari keduniawian dan menaklukkan penguasanya, yaitu pikiran, dan menyibukkan pikiran ke dalam Thapas (penebusan dosa), maka ia akan dapat menegakkan Swa-rajya atau penguasaan diri atau bebas dari keterikatan diri. Membiarkan indera untuk mengikatkan diri pada benda-benda duniawi – itulah yang menyebabkan orang diperbudak. Ketika pikiran yang menghambur keluar melalui indera menuju ke dunia luar diarahkan berbalik menuju ke dalam diri dan ditujukan untuk merenung pada Atma, maka akan tercapai pembebasan atau Moksha.

- Bhagavatha Vahini, "Doubts and Questions", Ch 31.

Sai Inspires - November 24, 2010

Hands are not the only limbs or agents that are involved in Karma or human activity. Whatever is done, seen or heard, one should be vigilant about its purity. Thought, word and deed must be free from pride, greed and hatred. The words that one utters must be free from these faults. Things that one yearns to hear must be free from these superficially attractive qualities; the pleasures that one seeks must not be polluted by evil. You must first assimilate these mental lessons and demonstrate their effect in your speech. You must translate this lesson taught by words into action.

Tangan bukanlah satu-satunya alat atau anggota badan yang terlibat di dalam Karma atau perbuatan manusia. Engkau harus waspada dan menjaga kemurnian apapun yang dilakukan, apapun yang dilihat, dan apapun yang didengar. Pikiran, perkataan dan perbuatan harus bebas dari kesombongan, keserakahan dan kebencian. Kata-kata yang diucapkan seseorang haruslah bersih dari sifat-sifat buruk tersebut. Kata-kata yang ingin didengar oleh seseorang haruslah bebas dari hal-hal yang menarik namun dangkal tanpa makna; kebahagiaan yang dicari seseorang haruslah tidak tercemar oleh kejahatan. Engkau pertama kali harus menyerap ajaran-ajaran rohani tersebut dan memperlihatkan pengaruh ajaran tersebut dalam ucapanmu. Engkau harus menerjemahkan pelajaran yang telah diajarkan lewat kata-kata menjadi tindakan.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 23, 2010

It is a matter of great bliss to be loved by many. To win over the hearts of so many is a sign of Divinity. I love everyone and all love Me. Do not hurt anyone by your harsh words and enter into any evil paths. Recognise the truth that God pervades everything from microcosm to macrocosm. With Shraddha and Vishwasa (sincerity of purpose and faith) and self-confidence, you can achieve anything in the world. Love God from the depths of your heart. Follow Swami’s commands and you will attain everything and be victorious in all your endeavours!

Adalah suatu kebahagiaan besar untuk dikasihi oleh banyak orang. Untuk memenangkan hati begitu banyak orang, itu adalah ciri-ciri Ketuhanan. Aku mengasihi setiap orang dan setiap orang mengasihiKu. Jangan menyakiti siapa pun dengan kata-kata yang kasar darimu dan jangan terjerumus ke jalan kejahatan apapun. Sadarilah kebenaran bahwa Tuhan hadir dan merasuk ke segala hal mulai dari mikrokosmos sampai dengan makrokosmos. Dengan Shraddha dan Vishwasa (maksud dan tujuan yang tulus serta keyakinan) dan kepercayaan diri, engkau akan dapat mencapai apapun di dunia. Kasihilah Tuhan dengan setulusnya dari relung lubuk hatimu yang terdalam. Ikutilah perintah-perintah Swami maka engkau akan mendapatkan semuanya dan akan meraih kemenangan dalam perjuanganmu!

- Divine Discourse, Nov 23, 2001.

Sai Inspires - November 22, 2010

Education should be used for promoting the welfare of the nation. Knowledge gained through education should be used selflessly for promoting the well-being of humanity. What we need today are Uttama-purushulu (noble and ideal men and women). The nation will prosper only when there are such persons. And people like these will emerge in society only when there is purity of mind and morality in society. Only a society with a moral foundation can foster such noble persons. Spirituality is the only means for redemption.

Pendidikan harus digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan seharusnya dimanfaatkan dengan tanpa pamrih untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Apa yang kita butuhkan saat ini adalah Uttama-purushulu (pria dan wanita yang berhati mulia dan berjiwa besar). Bangsa ini akan makmur hanya jika orang-orang seperti itu hadir dengan pikiran dan hati yang mulia. Orang semacam itu akan muncul di masyarakat hanya ketika ada kemurnian pikiran dan moralitas dalam masyarakat. Hanya masyarakat dengan dasar moral yang bisa memunculkan orang yang mulia seperti itu. Spiritualitas adalah satu-satunya cara untuk penebusan dosa.

Sai Inspires - November 21, 2010

The common man is drawn by external pomp and apparent motives. So he judges the leelas (Divine sport) as common and even low. The inner meaning and purpose are not easily patent to all. But the Lord can never engage Himself in purposeless and paltry activities. His advent is for the uplift of the world from the morass of wickedness and unrighteousness, for fulfilling the needs of those devoted to Him, for the reestablishment of righteousness and morality, and for the revival of the Vedas. He has to take into account the merit acquired by each in previous lives and shower His grace accordingly. His leelas or Divine activities are so shaped that they suit the time, the person, the aspiration and the compassion which cause each shower of grace!

Orang yang awam akan gampang terkesima dan tertarik oleh kemegahan duniawi dan mudah memahami hal-hal yang gamblang. Maka orang tersebut menganggap bahwa Leela (permainan Illahi) sebagai hal yang biasa dan bahkan menganggapnya sebagai hal yang sepele. Makna batiniah dan tujuan permainan Illahi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan mudah kepada semua orang. Namun Tuhan tidak akan pernah menyibukkan DiriNya dengan pekerjaan yang tanpa tujuan dan remeh semata. KedatanganNya adalah untuk mengangkat dunia dari rawa-rawa kejahatan dan ketidakbenaran, untuk memenuhi kebutuhan mereka yang telah mengabdi sepenuh hati padaNya, untuk menegakkan kembali kebenaran dan budi pekerti, dan demi kebangkitan Veda. Beliau harus memperhitungkan karma pahala masing-masing orang yang diperoleh pada kehidupan yang sebelumnya dan memberikan anugerahNya yang sepadan. Permainan Illahi atau kegiatan-kegiatan Tuhan diwujudkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan waktu, orang yang menerima, cita-cita dan kasih sayang masing-masing yang menyebabkan setiap orang bermandikan anugerah sepatutnya!

- Bhagavatha Vahini, Chap 34.

Sai Inspires - November 20, 2010

For the protection of the world, for upholding Dharma (righteousness), for fulfilling the yearnings of devotees, He wills and assumes a special Form and moves in the world. He confers joy on the devotees by His Divine acts, which convince them of His Advent. They are thus confirmed in their faith and prompted to dedicate their activities to God and thus save themselves, and liberate themselves. On certain occasions, for resolving certain urgent crisis, God has incarnated with Forms embodying only a part of His Divinity, with some Divine powers and potentialities.

Untuk melindungi dunia, untuk menegakkan Dharma (kebenaran), untuk memenuhi kerinduan para pemujaNya, maka Tuhan berkehendak dan mengambil Wujud tertentu dan melangkah di dunia ini. Tuhan menganugerahkan kebahagiaan bagi para bhaktaNya melalui Permainan IllahiNya, yang meyakinkan mereka akan Kedatangan Tuhan. Dengan demikian maka para bhakta tersebut menjadi teguh dalam keyakinan dan bersedia untuk mempersembahkan segala kegiatan mereka untuk Tuhan, yang mana hal tersebut akan menyelamatkan diri mereka sendiri, dan pada akhirnya akan membebaskan diri mereka dari ikatan dunia. Pada saat-saat tertentu, untuk mengatasi keadaan yang mendesak, Tuhan telah menjelma kedalam Wujud tertentu yang mengambil hanya sebagian dari Aspek KetuhananNya, dengan beberapa kekuatan dan kemampuan Illahi.

- Bhagavatha Vahini, Chap 32.

Sai Inspires - November 19, 2010

From time immemorial, women of Bharat, by their adherence to ideals have bestowed joy on this land and hence occupy an exalted position, which is higher than that of men. Women of such exalted character have set great ideals of womanhood in Bharat. Only if the women come up in society, will the whole world turn sacred. There is nothing in this world that women cannot achieve. Recognising the nature of such women, we must encourage them and give them equal opportunities in society. However, in today's world, there is no encouragement for women to cultivate high ideals. In modern times, the ways of life have become so perverted that only evil thoughts, feelings and behaviour rule the roost.

Sejak dahulu kala, perempuan Bharat (bangsa India), berkat kepatuhan mereka pada suri teladan, telah memberikan kebahagiaan pada tanah ini dan karenanya mereka mendapatkan tempat yang mulia, lebih tinggi daripada laki-laki. Perempuan yang berkarakter mulia seperti itu telah menjadi contoh bagi kaum wanita di tanah Bharat. Hanya jika para perempuan mulia seperti itu muncul di tengah masyarakat, maka seluruh dunia akan berubah menjadi suci. Tiada satu pun di dunia ini yang tidak bisa dicapai oleh perempuan. Menyadari sifat-sifat perempuan yang mulia seperti itu, kita harus mendukung mereka sembari memberi kesempatan yang sama bagi mereka di masyarakat. Namun, dalam masyarakat yang telah tercemar seperti sekarang ini, tidak ada dukungan bagi para wanita untuk mengembangkan diri dan mencapai keteladanan yang utama. Di zaman modern ini, gaya hidup telah menjadi begitu menyimpang sedemikian rupa sehingga hanya pikiran yang jahat, perasaan yang jahat dan perilaku yang jahatlah yang berkuasa.

- Divine Discourse, 19 November 2001.