Thursday, February 17, 2011

Sai Inspires - December 02, 2010

You must exercise constant watchfulness over your feelings and reactions. You must keep out selfishness, envy, anger, greed and other such evil tendencies from entering your minds. These are nets which entrap you; these vices overwhelm and subdue your holiness, so that you cannot be influenced any longer. Then you forget yourself and behave like an individual caught in frenzy. You blabber as your tongue dictates without regard to the effect - good or evil and engage in those works which your hands favour. Be aware and keep them in control! If you carefully discriminate, you can be recognised by the good company you keep, the noble works you delight in and the good words you utter.

Engkau harus menjaga perasaan dan reaksimu secara terus-menerus. Engkau harus mencegah egoisme, iri hati, kemarahan, keserakahan dan kecenderungan buruk lainnya memasuki pikiranmu. Sifat-sifat buruk ini adalah jaring yang menjebakmu, yang dapat melemahkan kesucianmu, sehingga engkau tidak bisa dipengaruhi lagi. Kemudian engkau akan melupakan dirimu sendiri dan bersikap seperti seorang individu yang terjebak dalam hiruk-pikuk duniawi. Engkau akan berkata-kata dengan tanpa memperhatikan efek - baik atau buruk dan menggunakannya untuk mendukung pekerjaanmu. Kendalikanlah! Jika engkau dengan hati-hati menjalankan diskriminasi, engkau dapat dikenali dalam pergaulan yang baik, pekerjaan yang baik yang engkau senangi dan dari kata-kata yang engkau ucapkan.

- Vidya Vahini, Chap 27.

Sai Inspires - December 01, 2010

When viewed without the twin distortions of like and dislike, love and hate - all forms, all effects, and all causes are experienced only as Brahman (Divinity). When the vision is affected by love or hate, each form, effect and cause, appears different from the rest. When feelings are calm and balanced, the many is experienced as the one. An agitated mind can never have a single vision. It runs along contrary lines, so it experiences the world, nature, and the cosmos as separate from God. Such vision also creates division. Serene vision reveals unity. As is the vision, so is the impression, the view of the world.

Bila dilihat tanpa perasaan suka dan tidak suka, cinta-kasih dan kebencian, semua bentuk, semua efek, semua penyebab hanya dialami sebagai Brahman (Divinity). Ketika visi dipengaruhi oleh cinta-kasih atau kebencian, setiap bentuk, setiap efek dan setiap sebab, tampak berbeda dari yang lain. Ketika perasaan tenang dan seimbang, berbagai hal tersebut dialami sebagai satu tanpa perbedaan. Pikiran yang kacau tidak akan pernah memiliki visi tunggal. Hal ini berjalan secara berlawanan, sehingga pengalaman dunia, alam, dan kosmos nampak terpisah dari Tuhan. Visi tersebut juga menimbulkan divisi. Visi yang tenang akan mengungkapkan persatuan. Sebagaimana visi tersebut, demikian pula perasaannya, bagaimana memandang dunia ini.

- Sutra Vahini, Chap 12.

Sai Inspires - November 30, 2010

Every sense runs after external objects one after the other, one supporting the other, restlessly and miserably. One must bring under control the mind, the reasoning faculty and the senses which roam aimlessly behind objective pleasures. One must train them to take on the task of concentrating all attention on the glory and majesty of God to follow one systematic course of one-pointed discipline. Bring them all and lead them towards the Higher Path. Their unlicensed behaviour has to be curbed. They must be educated by means of japa (chanting God’s name), dhyana (meditation) or noble deeds, or some other dedicatory and elevating activity that purifies and ennobles.

Setiap indera satu sama lain saling mengejar objek-objek eksternal dengan kegelisahan dan sia-sia. Oleh karenanya, seseorang harus mengendalikan pikiran serta mempertimbangkan inderanya yang berkelana tanpa tujuan di balik kesenangan-kesenangan objektif. Seseorang harus melatih inderanya agar dapat memusatkan semua perhatiannya pada kemuliaan dan keagungan Tuhan dengan penuh disiplin. Bawalah mereka semua dan arahkanlah mereka menuju jalan yang lebih tinggi. Perilaku dari indera yang tidak sesuai harus diatasi, dengan cara Japa (mengucapkan nama Tuhan), Dhyana (meditasi) atau perbuatan mulia, atau kegiatan persembahan lainnya yang dapat memurnikan dan memuliakan.

- Bhagavatha Vahini, Chap 31.

Sai Inspires - November 29, 2010

The process of purifying the inner equipment of man in the crucible of single-pointed speech, feeling and activity, directed towards God is called thapas (penance). The inner consciousness will then be rid of all blemishes and defects. When the inner consciousness has been rendered pure and unsullied, God will reside therein. Finally, he will experience the vision of the Lord Himself, within him.

Proses untuk memurnikan batin manusia melalui perkataan, perasaan, dan tindakan, yang diarahkan pada Tuhan disebut dengan Thapas (penebusan dosa). Kesadaran batin kemudian akan menghilangkan semua cacat dan noda. Ketika kesadaran batin telah dimurnikan dan tidak ternoda, Tuhan akan bersemayam di dalamnya. Akhirnya, ia akan mengalami visi Tuhan, dalam dirinya.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 28, 2010

As a teacher, you must ask yourself, "Have the pupils grasped the lesson alright? Which subject has to be taught in which way, and through which method?” These problems should bother you as a teacher. Moreover you should conduct yourself just in the same manner as you advise and expect the students to behave. When they are taught the lessons through love, their reverence for the teacher will also deepen. Each teacher should strive to encourage the all-round development of the student. You must expand your heart through love, and not waste the years of your life in furthering your own interests.

Sebagai seorang guru, engkau harus bertanya pada dirimu sendiri, “Apakah para murid telah menangkap pelajaran dengan baik? Mata pelajaran apakah yang harus disampaikan dan dengan cara bagaimana, melalui metode seperti apa?” Persoalan seperti ini seharusnya menjadi perhatianmu sebagai seorang guru. Selain itu engkau harus bertingkah laku sebagaimana apa yang telah engkau nasehatkan dan harapkan dari para murid untuk berperilaku. Ketika mereka diajarkan pelajaran melalui kasih, rasa hormat mereka kepada guru juga akan semakin dalam. Setiap guru harus berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan murid dengan seutuhnya dan seluruhnya. Engkau harus mengembangkan hatimu melalui kasih, dan tidak menyia-nyiakan bertahun-tahun waktu kehidupanmu hanya demi untuk memajukan kepentinganmu semata.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 27, 2010

Of the instruments used by everyone, the body with its hands ready executes the thought which is expressed in words. The deed, the work, the labour that the hand of man is engaged in, is the source of all the happiness or misery for everyone. Man asserts that he is happy, or that he is anxious and afraid or that he is in trouble; and he attributes the cause of these conditions to some person other than himself. This belief rests on a wrong basis. Happiness and misery are due to one’s own actions. Whether one accepts this truth or not, one has to go through all the consequences of one’s actions. This is the Law of Nature.

Diantara anggota badan yang digunakan manusia, tubuh punya tangan yang siap mewujudkan buah pikiran yang dinyatakan melalui ucapan. Perbuatan, pekerjaan, tugas yang dilaksanakan tangan manusia, adalah sumber dari segala kebahagiaan atau penderitaan bagi setiap orang. Manusia berada pada suatu keadaan apakah ia bahagia, atau ia cemas dan takut atau ia sedang berada dalam kesulitan. Ia mengira orang lain dan bukan dirinya sendirilah sebagai penyebab keadaannya. Kecenderungan semacam ini adalah salah. Kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Tidak peduli apakah seseorang menerima atau menolak kebenaran ini, ia tetap harus menerima segala akibat dari perbuatannya. Ini adalah hukum alam.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 26, 2010

The teacher must come down to the level of the student. This process is called ‘descent.’ It does not mean stepping down from the top to the ground. It only means accepting the level of the person who is to be benefited. The baby on the floor cannot jump in to the arms of the mother, when she calls upon it to come up. Iif the mother feels “I am a great person, I will not stoop”, she cannot possess the child. Stooping does not make a person small. The teacher too, is not demeaning himself when he comes down to the level of the pupil in order to teach him. It is only a laudable sign of love.

Guru harus menyesuaikan dirinya ke tataran murid. Proses ini disebut ‘turun’. Hal ini bukan berarti merosotnya derajat sang guru dari puncak ke dasar. Ini artinya bahwa guru menerima sepenuhnya tingkatan dari seseorang yang akan diberinya ajaran. Bayi di lantai tidak bisa melompat ke tangan ibu, ketika sang ibu memanggil si bayi supaya bangun. “Saya adalah orang yang utama. Saya tidak akan membungkuk” – jika sang ibu memiliki perasaan seperti itu, ia tidak akan bisa mengasuh anak. Membungkuk tidak akan membuat seseorang menjadi kerdil. Demikian juga dengan guru, ia tidaklah merendahkan dirinya sendiri ketika ia turun untuk menyesuaikan diri ke tingkatan sang murid untuk memberinya pelajaran yang sesuai. Itu hanya suatu tanda rasa kasih guru yang terpuji.

- Vidya Vahini, Ch 19.