Saturday, July 28, 2007

Sai Inspires - 28th July 2007 (Saturday)



God is a Witness of the act-consequence chain. You can avoid the consequence by dedicating the act to God and abstaining from attachment. Only you have to be sincere in your surrender and in your detachment. For this you have to cleanse your heart and feelings through japa, smarana and dhyaana (recitation of God's Names, remembering God, and meditation on God). Without a pure heart and virtuous life, even though you may recite the Vedas you will benefit little from that.

Tuhan hanyalah merupakan saksi dalam mata rantai hukum sebab & akibat. Engkau mungkin bisa menghindar dari konsekuensi perbuatanmu dengan jalan mendedikasikan perbuatanmu tersebut kepada-Nya dan bersikap abstain dari segala bentuk kemelekatan. Prasyarat utama yang perlu dimiliki adalah bahwa engkau harus bersikap tulus dalam penyerahan dirimu serta dalam detachment (ketidak-melekatan). Untuk itu, engkau perlu terlebih dahulu membersihkan hati dan perasaanmu melalui japa, smarana dan dhyaana (pengulangan nama-nama Tuhan, ingat kepada-Nya dan bermeditasi kepada-Nya). Tanpa adanya hati yang murni dan kehidupan yang saleh, engkau tak akan banyak memetik manfaat walaupun engkau mungkin bisa mengulang-ulang ataupun menghafal kitab Veda.

- Divine Discourse, September 27th, 1979.

Friday, July 27, 2007

Sai Inspires - 27th July 2007 (Friday)




Today, it appears as if there is a revival of spiritual activity everywhere. Religious associations are coming up all over the world. But much of the activity of spiritual aspirants is motivated by self-interest. Devotees address prayers to God for the fulfillment of their material desires. All the study of scriptures is of little avail if genuine love of God does not flow spontaneously from the heart. It is only through such love that the Divine can be realized.



Dewasa sekarang ini kita melihat banyak bermunculannya atau bangkitnya aktivitas-aktivitas spiritual dimana-mana. Asosasi yang bernuansakan ke-agama-an dibentuk di seluruh dunia. Akan tetapi, kebanyakan para aspiran spiritual itu melakukan aktivitasnya dengan didorong oleh self-interest (semata-mata hanya demi untuk kepentingannya sendiri). Para bhakta menghaturkan doa-doanya kepada Tuhan demi untuk mencapai pemenuhan atas keinginan materialnya. Semua studi tentang kitab-kitab suci tak akan ada gunanya apabila tidak disertai dengan cinta-kasih murni yang mengalir secara spontan dari dalam hati. Ke-Ilahi-an hanya bisa tercapai apabila engkau memiliki cinta-kasih tersebut.



- Divine Discourse, January 19th, 1984.

Thursday, July 26, 2007

Sai Inspires - 26th July 2007





Just as burning charcoal, if it loses its heat, becomes mere charcoal; and a piece of jaggery, if it loses its sweetness, becomes a lump of clay; likewise man remains truly human only as long as he adheres to the Eternal Dharma (which is represented by purity in thought, word and deed - Trikarana Suddhi). Without this basic quality, man is only human in form and not his true nature.



Sebongkah arang yang telah kehilangan kemampuannya untuk dibakar, maka ia hanyalah sebongkah arang yang tak ada manfaatnya; atau apabila sepotong jaggery (gula yang terbuat dari tebu, banyak ditemukan di India - Red) telah kehilangan rasa manisnya, maka ia tak lain hanyalah berupa segumpal tanah-liat; demikian pula halnya dengan manusia, bahwa ia hanya disebut sebagai "manusia" apabila ia senantiasa mengikuti Dharma abadi-nya (yang direpresentasikan sebagai kemurnian dalam hal pikiran, ucapan dan perbuatan - Trikarana Suddhi). Dengan perkataan lain, mereka yang tidak memiliki kualitas dasar itu hanyalah sesosok mahluk berwujud orang namun ia tak mempunyai sifat asli sebagaimana layaknya seorang manusia.



- Divine Discourse, November 21st, 1990.

Wednesday, July 25, 2007

Sai Inspires - 25th July 2007




Develop faith in yourself and faith in God. This is the secret of greatness. Self-confidence today is manifest only in matters relating to worldly achievements and self-centered pursuits. Faith and confidence are not in evidence in the spiritual field. Without unwavering faith, the Divine cannot be experienced. In the absence of firm faith, the formal observance of spiritual practices yields no results. The primary requisite is unqualified and unshakable faith in God.

Kembangkanlah keyakinan terhadap (kemampuan) dirimu dan kepada Tuhan. Inilah rahasia kesuksesanmu. Dewasa ini kepercayaaan-diri (self-confidence) hanya termanifestasikan dalam hal-hal yang berkaitan dengan pencapaian yang bersifat duniawi/materialistik dan egosentris. Sebaliknya, kita jarang/tidak menemukan keyakinan dan kepercayaan diri dalam bidang spiritual. Tanpa adanya keyakinan yang mantap, Sang Ilahi tak akan bisa direalisasikan. Demikian pula, bila tidak disertai oleh keyakinan yang teguh, segala bentuk praktek spiritual tak akan membuahkan hasil. Dengan perkataan lain, prasyarat utama (kesuksesan lahir dan batin) adalah keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan kepada Tuhan.

- Divine Discourse, October 6th, 1986.

Tuesday, July 24, 2007

Sai Inspires - 24th July 2007





As long as God is regarded as different from the devotee, the true nature of Bhakti (devotion) cannot be understood. It is this feeling of difference which ultimately leads to loss of faith in God, despite the practice of bhajans, chanting, meditation and yoga. One who regards himself as different from God can never become a true devotee. He must consider himself Divine in substance, even as a spark is not different from the fire from which it came.



Selama engkau memperlakukan Tuhan sebagai 'entitas' yang berbeda dibandingkan dengan bhakta lainnya, maka kaidah alamiah dari Bhakti (devotion) tak akan bisa dipahami. Walaupun engkau mempraktekkan bhajan, chanting, meditasi dan yoga, namun selama perasaan saling membedakan tersebut masih ada, dirimu masih rawan untuk kehilangan keyakinan/kepercayaan kepada-Nya. Mereka yang menganggap dirinya berbeda dari Sang Ilahi tak akan bisa menjadi bhakta sejati. Sikap yang benar adalah bahwa pada hakekatnya engkau harus memperlakukan dirimu sebagai Divine, seperti halnya percikan api yang kualitasnya tidak berbeda dengan sumbernya.



- Divine Discourse, August 27th, 1986.

Monday, July 23, 2007

Sai Inspires - 23rd July 2007





Faith in God implies recognition of the Omnipresence of the Divine in the Universe and seeking to experience that Divinity within one's self. The Divine is One, though it may be called by many names. It must be realized that God is all-pervasive and nothing exists without the power of the Divine. One should not allow one's faith in God to be affected by the ups and downs of life. All troubles should be treated as tests and challenges to be faced with courage and faith.



Keyakinan kepada Tuhan mengandung implikasi tentang aspek ke-Omnipresence-Nya di alam semesta ini dan bahwa engkau perlu berupaya untuk menyadari serta mengenali aspek Divinity (Ke-Ilahi-an) yang ada di dalam diri masing-masing. Walaupun Ia dipanggil dengan berbagai macam nama, namun Tuhan adalah Maha Esa. Engkau perlu menyadari bahwa Tuhan mencakupi segala-galanya dan bahwa tanpa adanya kekuatan Ilahi, maka tiada sesuatupun di alam semesta ini yang dapat eksis. Sungguh tidak tepat bila engkau membiarkan keyakinanmu goyah dan terpengaruh oleh gelombang pasang-surut kehidupan ini. Segala bentuk problem & kesulitan hendaknya diperlakukan sebagai batu-ujian dan tantangan yang perlu dihadapi dengan penuh keberanian dan keyakinan.



- Divine Discourse, June 3rd, 1986.

Sai Inspires - 22nd July 2007




Love is the form of the Brahman (Supreme). Love permeates Brahman. God can be attained only when love is merged with Love. There is nothing greater than Love in the Cosmos. Love is sweeter than nectar. It is because men have forgotten this love that they have become a prey to all kinds of ills and lost peace of mind.



Cinta-kasih adalah perwujudan Brahman (sesuatu yang tak mengalami perubahan, bersifat tetap, dan merupakan dasar dari segala-galanya). Cinta-kasih mencakupi Brahman. Tuhan hanya bisa direalisasikan apabila cinta-kasih bersatu dengan CINTA-KASIH. Di dalam kosmos ini, tiada hal lain yang lebih berharga dibandingkan cinta-kasih. Ia bahkan jauh lebih manis daripada nectar yang manapun juga. Sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit serta kegalauan dalam batin manusia adalah disebabkan oleh karena yang bersangkutan telah melupakan cinta-kasih tersebut.



- Divine Discourse, July 28, 1992.