Friday, September 28, 2007

Sai Inspires - 28th September 2007 (How can we, as a society, progress in the right direction?)




Society may be viewed as a many-petalled flower. Every individual is like a petal. All the petals together make for the beauty of the flower. Without the petals there will be no flower. Likewise, every individual is a petal making up the flower of society. Each one should manifest the glory of the Divine. Society may also be compared to a four-wheeled chariot. The four wheels are: Aikamathyam (Unity), Swaadhenam (Control), Jnanam (Knowledge) and Sakhti (Power). These four help the society to go forward.

Masyarakat dapat diibaratkan sebagai sekuntum bunga yang memiliki banyak kelopak, dimana setiap kelopak tersebut merepresentasikan masing-masing individu. Kumpulan daun-daun kelopak itu membentuk keindahan sekuntum bunga. Bila tidak ada kelopak, maka dengan sendirinya tidak akan terdapat bunga. Demikian pula analoginya, setiap orang individu diibaratkan sebagai kelopak yang berkumpul sehingga menghasilkan sekuntum bunga (baca: masyarakat). Setiap orang hendaknya memanifestasikan kemuliaan Divine. Masyarakat dapat juga dibandingkan dengan kereta beroda-empat. Keempat roda tersebut terdiri atas: Aikamathyam (Unity/persatuan), Swaadhenam (Control/pengendalian diri), Jnanam (Knowledge/Pengetahuan/kebijaksanaan) dan Shakti (Power/Kemampuan). Keempat roda tersebut akan mendorong masyarakat untuk bergerak maju.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Thursday, September 27, 2007

Sai Inspires - 27th September 2007 (What is the Truth about our everyday existence that we must realise?)




Many people imagine that they are caught up in the coils of Samsaara (worldly life) and are the victims of worldly existence. This is a ridiculous idea. It is not family life that binds you. It has no arms to clasp you. It is you who are endowed with hands, eyes and ears. It is you who are holding on to worldly life and suffering the consequences. This is the truth in the false and the unreality in the Real. This accounts for the fact that in the world today the false is deemed true and the truth is considered as untrue.

Banyak orang yang beranggapan bahwa mereka terperangkap dalam kehidupan Samsaara (kehidupan duniawi) dan menjadi korban eksistensi dunia ini. Pendapat seperti itu sesungguhnya amatlah mengelikan, sebab yang mengikatmu bukanlah kehidupan berkeluarga (family life). Ia tidak memiliki tangan untuk menjeratmu. Justru engkau sendirilah yang dibekali dengan tangan, mata dan telinga. Jadi, engkau sendirilah yang berpegang-erat kepada kehidupan duniawi dan sebagai akibatnya, yang menderita adalah dirimu sendiri. Hal ini bagaikan kebenaran di tengah-tengah kepalsuan dan ketidak-realitasan di tengah-tengah realitas. Inilah biang-kerok yang menyebabkan seolah-olah sesuatu yang salah malah dianggap sebagai benar; dan sebaliknya, yang benar dianggap salah.

- Divine Discourse, December 18, 1994.

Wednesday, September 26, 2007

Sai Inspires - 26th September 2007 (the single most important virtue that can ensure perennial peace)



All must cultivate the spirit of equal-mindedness. This is the mark of a true human being. It is the spirit of serenity in which one looks upon praise or blame, honour or dishonour, pleasure or pain alike. We tend to shrivel up when somebody abuses us. The whole world looks gloomy. We swell with pride when anybody praises us. What we should cultivate is an attitude in which we remain unaffected in both the situations. Shanthi (mental tranquility) is necessary for experiencing the truth of the Self. There is no greater thing on earth than peace of mind. Every effort must be made to acquire Shanthi.

Setiap orang harus mengembangkan semangat keseimbangan-batin (equal-mindedness). Inilah pertanda manusia sejati. Dengan batin yang tenang, engkau akan bersikap seimbang; baik ketika berhadapan dengan pujian maupun celaan, dihormati ataupun tidak, rasa senang maupun sedih. Kita cenderung menjadi rendah-diri ketika seseorang berperilaku secara tidak bersahabat terhadap kita, dan sebaliknya kita akan menjadi sombong ketika ada yang memuji-muji kita. Yang perlu kita upayakan adalah sikap dimana kita tidak terpengaruh oleh kedua jenis situasi tersebut. Shanthi (ketenangan batin) sangat dibutuhkan agar kita dapat mengalami sendiri kebenaran Sang Atma (the Self). Tiada hal lain yang lebih berharga di dunia ini daripada ketenangan batin. Segenap daya-upaya perlu dikerahkan untuk mencapai Shanthi.

- Divine Discourse, May 26, 1985.

Tuesday, September 25, 2007

Sai Inspires - 25th September 2007 (How can we effectively enhance the good traits in us?)


Whatever qualities a man may possess, he cannot make proper use of them if he lacks company of good people. Through the Satsangam (company of good persons) one can develop good qualites, good thoughts, good feelings and do good deeds, and thereby transform his human nature into Divine nature. This, in fact, is the primary duty of every individual. To develop good qualities, one has to get rid of one's bad traits.

Tanpa didukung oleh pergaulan yang baik, engkau tidak akan bisa mendaya-gunakan secara positif kualitas-kualitas bajik yang ada di dalam dirimu. Hanya melalui Satsangam (pergaulan dengan mereka yang saleh), engkau akan bisa mengembangkan kualitas (diri), pemikiran, perasaan serta perbuatan yang bajik; sehingga dengan demikian, aspek kemanusiaanmu akan mengalami transformasi menjadi Divine. Inilah tugas utama yang harus diemban oleh setiap individu Guna mengembangkan kualitas (diri) yang positif, engkau perlu (terlebih dahulu) berupaya dalam mengenyahkan sifat-sifat yang jelek (negatif).

- Divine Discourse, May 26, 1985.

Monday, September 24, 2007

Sai Inspires - 24th September 2007 (How can we experience perennial peace and bliss with the love that is present in our hearts?)



Nectar is described by the scriptures as extremely sweet. But nectar nowhere approaches the sweetness of love. As against love, nectar appears insipid. The uniqueness of such love is beyond the comprehension of ordinary people. Such love arises only when you churn the ocean of bliss. Hence, all our actions should be based on Love. But in this mundane world, love assumes external forms. When pure gold is given to the goldsmith for making a jewel, he mixes copper and other metals with it and thereby its value is reduced. Likewise, because pure love is mixed with worldly attachments, it gets tainted. But when such tainted love is directed towards seva (service) it gets purified.

Di dalam kitab-kitab suci, nectar (minuman lezat yang konon merupakan minuman para dewa) disebut-sebut sebagai minuman yang sangat manis. Akan tetapi, walaupun begitu, rasa manis nectar masih belum bisa menyamai manisnya cinta-kasih. Bila dibandingkan dengan cinta-kasih, nectar terasa hambar. Keunikan cinta-kasih berada di luar jangkauan pemahaman manusia biasa. Cinta-kasih demikian hanya muncul apabila engkau melakukan penggodokan terhadap lautan bliss. Oleh sebab itu, hendaknya setiap tindakan kita dilandasi atau dijiwai oleh cinta-kasih. Namun di tengah-tengah dunia fana ini, cinta-kasih mengambil wujud dalam berbagai bentuk. Ketika sebongkah emas murni diserahkan kepada tukang emas untuk dibuatkan perhiasan, maka ia akan mencampurkan tembaga dan zat-zat logam lainnya, sehingga nilai emas itupun menjadi berkurang. Demikian pula, apabila cinta-kasih murni dicampur dengan kemelekatan duniawi, maka cinta-kasih menjadi ternoda. Akan tetapi walaupun begitu, apabila cinta-kasih yang sudah tidak murni ini dapat engkau arahkan melalui tindakan seva (pelayanan), maka ia akan mengalami proses pemurnian kembali.

- Divine Discourse, November 24, 1990.

Sai Inspires - 23rd September 2007 (Points to consider while engaged in service activities)



Indulging in flimsy gossip and watching scenes of violence and cruelty, men today are wasting and missing a big portion of their precious lives. Time is condemned, because it is too little, or because it runs too fast to fulfill galloping greed. Men are not aware that time sanctified by service offers high rewards to themselves as well as those whom they serve. All acts of service are not equally sanctifying or uniform in the benefits they confer. When service is undertaken by power-hungry people, or under compulsion or by imitative urges, it results in more harm than good. Self-aggrandizement or competition or ostentation are motives that will pollute the sacred Sadhana of Service.

Sebagian besar dari rentang kehidupanmu akan terbuang secara sia-sia apabila engkau melibatkan dirimu dalam gosip yang omong-kosong atau apabila engkau menonton pemandangan yang penuh dengan tindak kekerasan ataupun kekejaman. Malah ada orang yang menyalahkan waktu yang dikatakanya berlalu terlalu cepat atau terlalu sedikit waktu untuk memenuhi keinginannya yang menggunung. Mereka tidak menyadari bahwa waktu yang dimanfaatkan secara baik dan disucikan oleh tindakan pelayanan akan memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka sendiri dan juga kepada mereka yang dilayani. Tindakan pelayanan membuahkan manfaat yang tidaklah sama untuk setiap orang. Apabila pelayanan dilakukan oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan, atau yang berada dibawah dorongan atau motif yang palsu; maka hasilnya justru akan menjadi tidak baik. Kesucian dari sadhana pelayanan akan tercemar oleh kegiatan pelayanan yang dimotivasi oleh keinginan untuk menonjolkan diri sendiri, sikap kompetitif dan sok-pamer.

- Divine Discourse, November 21, 1986.

Saturday, September 22, 2007

Sai Inspires - 22nd September 2007 (love principle and its true nature)



The Trinity is symbolically present in everyone. The heart has been equated with Easwara (Shiva). This means that the heart symbolizes the Atmic principle in man. This refers not to physical heart but to the spiritual heart. The heart represents Divinity as well as the Love principle. The Atma is unbounded and hence Love also has no limit. Men in their narrow-mindedness may set limits to their love, but love as a Divine quality is infinite.

Secara simbolis, Trinitas (Brahma-Vishnu-Maheswara) telah eksis di dalam diri setiap orang. Hati (nurani) diasosiasikan sebagai Easwara (Shiva). Dengan perkataan lain, hati (nurani) merupakan simbolisasi prinsip Atmic di dalam diri manusia. Yang dimaksudkan dengan hati di sini bukanlah jantung (yang berfungsi untuk memompa aliran darah kepada seluruh organ tubuh), melainkan adalah jantung atau hati spiritual. Spiritual heart tersebut merepresentasikan Divinity dan sekaligus prinsip cinta-kasih. Atma bersifat tak terbatas atau Maha Luas; demikian pula, cinta-kasih tak mengenal batasan. Akan tetapi, oleh karena kepicikan dan pandangannya yang sempit, manusia justru memberi batasan-batasan terhadap cinta-kasih. Ketahuilah bahwa cinta-kasih sebagai salah-satu kualitas Divinity bersifat maha luas, maha besar dan maha kuasa.

- Divine Discourse, December 25, 1987.