Saturday, May 31, 2008

Sai Inspires 31st May 2008 (Who is our true friend?)

God alone can be within; no one else can. There is a person who claims to be your friend; can this friend of yours be within you? Worldly friends are external, but your true friend is inside; that is God! He alone can be both inside as well as outside, and He has the right to be so! Your heart is a single-seat sofa, and there is place for only one. That one seat must be reserved for God. If you lead your life filled with this feeling, not only would your life be always happy but, in addition, you would be able to spread that happiness all around you.

Selain Tuhan, tiada orang yang memiliki kemampuan untuk 'berdiam' di dalam dirimu. Mungkin terdapat segelintir orang yang mengatakan bahwa mereka adalah teman/sahabat sejatimu; namun cobalah renungkan apakah mereka ini bisa 'tinggal' di dalam dirimu? Ketahuilah bahwa sahabat-sahabat duniawi bersifat eksternal, sedangkan sahabat sejatimu ada di dalam dirimu; dan Ia adalah Tuhan! Beliau bisa berada di dalam maupun di luar, dan Beliau sajalah yang memiliki hak untuk itu! Hatimu adalah bagaikan sebuah sofa single-seat (satu tempat duduk saja), dan ia haruslah diperuntukkan bagi-Nya. Seandainya saja engkau menjalani kehidupanmu dengan perasaan seperti ini, maka bukan hanya kehidupanmu akan senantiasa berbahagia, namun di samping itu, engkau juga akan sanggup untuk menyebarkan kebahagiaan di sekelilingmu.

- Divine Discourse, May 22, 2000 .

Friday, May 30, 2008

Sai Inspires 30th May 2008 (Words of encouragement, on what should be our only goal)

If you immerse a pot in water, there is water in the pot and also around the pot. The water inside is not different from the water outside. The same is true of God. The scriptures say: Antarbahisca Tat Sarvam Vyapya Narayanah Sthitah - ‘God is present inside, outside, everywhere’. It is the same God who is within as well as without. You must have unshakeable faith in this truth, in this basic fact concerning the Divine. Neverforget God, no matter what the problems or difficulties. Don't you have a mind? Don't you have aspirations and goals? Be firm; be resolute. God must be your goal, and you must pursue it with steadfast determination. Today, man is not doing that; he is following goals set by others, by foolish and thoughtless people. What do you achieve by this? Nothing! On the other hand, you lose even what you have.

Jikalau engkau mencelupkan sebuat pot ke dalam air, maka baik di dalam maupun di luar pot tersebut tentunya akan terdapat air. Air yang terdapat di bagian dalam tidaklah berbeda dengan air yang ada di bagian luarnya. Analogi yang sama juga berlaku untuk Tuhan. Kitab suci menyatakan bahwa: Antarbahisca Tat Sarvam Vyapya Narayanah Sthitah - 'Tuhan eksis di dalam, di luar dan dimana-mana.' Tuhan yang sama terdapat di dalam dan juga di luar. Engkau harus memiliki keyakinan yang mantap tentang kebenaran ini yang menyangkut fakta mendasar tentang Sang Ilahi. Apapun dan bagaimanapun juga bentuk kesulitan yang engkau hadapi, janganlah engkau melupakan Tuhan. Apakah engkau tak mempunyai mind? Apakah engkau tak memiliki aspirasi maupun tujuan (hidup)? Milikilah kemantapan hati. Tuhan harus dijadikan sebagai tujuan (hidupmu), dan engkau harus mengupayakan tercapainya tujuan itu dengan tekad yang bulat. Ironisnya, tiada manusia yang melakukan hal seperti itu sekarang, mereka malah justru mengikuti sasaran/tujuan yang ditetapkan oleh orang lain (istilahnya mengekor) yang notabene bodoh secara batiniah. Apa yang engkau harapkan dari tindakan seperti itu? Tidak ada sama sekali! Sebaliknya engkau justru akan kehilangan hal-hal (positif) yang telah engkau capai.

- Divine Discourse, May 22, 2000 .

Sai Inspires 29th May 2008 (How can we go beyond the opposites we find ourselves in everyday?)

The mind steeped in the Love of God is beyond any shock and strain like the chloroformed patient who is oblivious of the incisions made by the surgical instruments. Love, only of this kind, can ultimately be victorious. Pain is a part of life, and must be accepted at any cost. Pleasure is an interval between two pains. But today, the devotion of people wavers with every trying circumstance. When our wishes are fulfilled, we install many photographs for worship; and when they are unfulfilled, we throw out all the photographs. We must cultivate the temperament that makes us view pleasure and pain alike. Both pain and pleasure are gifts of God, for there is no pleasure without pain, and no pain without pleasure. Culture lies in seeing this unity of pain and pleasure.

Batin yang dilandasi oleh cinta-kasih terhadap Sang Khalik tidak akan terpengaruh oleh gelombang pasang-surut kehidupan ini, persis seperti seorang pasien yang telah dibius tidak akan merasakan sakit akibat sayatan pisau ahli bedah. Cinta-kasih seperti ini pasti akan mencapai kemenangannya. Penderitaan sudah merupakan bagian dari kehidupan ini, dan engkau harus siap untuk menerimanya. Kesenangan adalah interval di antara dua penderitaan. Dewasa ini, kebanyakan orang memiliki bhakti yang tidak mantap. Ketika doa-doa atau harapanmu dikabulkan, maka engkau akan memasang foto-foto dewatamu untuk dihormati; namun apabila harapanmu tidak terpenuhi, maka engkau akan membuang semua foto-foto itu. Milikilah temperamen yang memungkinkanmu untuk menerima kesenangan maupun penderitaan secara seimbang. Semuanya itu adalah anugerah Tuhan, sebab tiada kesenangan bila tiada penderitaan, dan sebaliknya.

- Summer Showers, 1996.

Wednesday, May 28, 2008

Sai Inspires 28th May 2008 (a beautiful meditation on ‘Love’)

True learning is like an X-ray camera, which lays bare the innermost details with perfect fidelity. Our mind should be like an X-ray with Love as the film, so that it can capture the entire personality of a being with total fidelity. An X-ray machine without film is of no use, as nothing can be captured without a film. Similarly, a mind devoid of Love is of no use. Love does not change with time. It is abiding and eternal. But the love of people today is transient and ephemeral, and may expire at any time. Such a love is not at all worthy of being called Love. True Love endures trial and turbulence, loss, and pain, and it transcends every trying circumstance. We should not forget God under any circumstance, however difficult it might be. Our Love for God should survive every onslaught. We should resist all the ravages of time and the vicissitudes of life. Our Love should not change and float with every passing wind .

Proses pembelajaran yang sejati adalah bagaikan kamera X-ray, yang berhasil merekam detil yang jelas & akurat dari bagian dalam (tubuh). Seyogyanya batin/pikiran kita juga seperti X-ray dengan cinta-kasih sebagai film-nya, agar mind tersebut dapat dimanfaatkan untuk merekam keseluruhan personalitas kita dengan kejelasan & keakuratan yang total. Sebuah mesin X-ray yang tidak dilengkapi dengan film sama sekali tak ada gunanya. Cinta-kasih tak mengalami perubahan oleh waktu, ia bersifat kontinu dan abadi. Namun walaupun begitu, cinta-kasih manusia dewasa sekarang ini bersifat transien yang bisa kadaluarsa kapan saja. Cinta-kasih seperti ini sama sekali tidak dapat diartikan sebagai cinta-kasih yang sebenarnya. Cinta-kasih sejati tahan terhadap ujian dan cobaan serta sanggup melewati setiap bentuk keadaan. Dalam kondisi bagaimanapun juga sulitnya, janganlah kita melupakan Tuhan. Cinta-kasih kita terhadap-Nya harus sanggup bertahan. Kita harus sanggup bertahan di tengah-tengah pasang-surung kehidupan. Cinta-kasih kita tidak boleh berubah ataupun sirna di tengah tiupan angin yang lewat.

- Summer Showers, 1996.

Tuesday, May 27, 2008

Sai Inspires 27th May 2008 ( Have you ever wondered what God wants from us? It is something very simple and sweet)


We pay tax for all the facilities provided to us. We pay water-tax to the Municipality, which provides us with water. We pay tax to the Electricity Department for providing power. But what taxes are we paying to the great Lord who provides us with endless power, light and wind? When we pay tax to the different departments for services provided, is it not our duty to pay the tax of gratitude to God? We do not show any gratitude to God who has gifted us the five elements, which never get depleted. In fact, it should be our foremost duty to show our gratitude to God, who gives us so much in endless abundance. It is the absence of such gratitude that is the cause of agitation and confusion in the world today. We have to face the consequences of our misdeeds because every action has a reaction, resound and reflection.The awareness of this fact on the part of one and all will bring abundant peace and harmony.

Kita membayar pajak atas semua jenis fasilitas yang diberikan kepada kita. Sebagai contoh, kita membayar pajak air, listrik, dan sebagainya. Tetapi apakah kita membayar pajak kepada Tuhan Maha Besar yang telah memberikan kita sumber daya yang tiada habisnya (secara cuma-cuma) dalam wujud cahaya mentari dan angin (dan sebagainya)? Kalau kita membayar pajak kepada berbagai departemen untuk pelayanan yang diterima, lalu bukankah kita juga berkewajiban untuk membayar pajak sebagai ungkapan syukur dari kita kepada-Nya? Sumber penyebab utama dari berbagai macam bentuk agitasi dan kebingungan dewasa sekarang ini adalah dikarenakan kita tidak mempunyai rasa bersyukur atas karunia-Nya. Sebagai akibatnya, kita harus berhadapan dengan konsekuensi dari setiap perbuatan kita yang tidak baik; sebab setiap bentuk tindakan pasti mempunyai reaction, resound dan reflection. Bila kita menyadari tentang hal ini, maka kita akan memiliki rasa damai dan keharmonisan.

- Summer Showers, 1996.

Monday, May 26, 2008

Sai Inspires 26th May 2008 ( What are the two forces acting on us constantly? And how can we win His Grace?)

There are two competing factors at work in this world. The first is preyo shakti (the force that promotes a material outlook or tendency) and the other is sreyo shakti (the force that promotes a spiritual outlook or tendency). The former is what motivates people in the various stages of life, from childhood to old age, driving them to sensual pleasures. Sreyo shakti, on the other hand, manifests as the noble virtues daya (compassion), prema (Love), sahana (patience), sahanubhuti (empathy), tyaga (spirit of sacrifice), etc., in the individual.... While preyo shakti can secure fleeting pleasures, sreyo shakti alone can earn God's Grace for you.

Terdapat dua faktor utama yang saling berkompetisi dalam kehidupan di dunia ini. Yang pertama dinamakan preyo shakti (kekuatan yang mendorong kecenderungan duniawi) dan yang lainnya adalah sreyo shakti (kekuatan yang mempromosikan kecenderungan batiniah/spiritualitas). Preyo Shakti adalah dorongan yang memotivasi orang di dalam berbagai tahap kehidupannya - dari sejak kecil hingga tua - untuk selalu menginginkan kenikmatan sensual. Sedangkan Sreyo Shakti adalah jenis dorongan yang termanifestasikan dalam berbagai sifat-sifat luhur seperti daya (welas-asih), prema (cinta-kasih), sahana (kesabaran), sahanubhuti (perasaan empati), tyaga (semangat pengorbanan), dan sebagainya.... Apabila sreyo shakti mungkin bisa memberikanmu kenikmatan yang bakal berlalu, maka sreyo shakti sajalah yang bisa memberikan rahmat Tuhan bagimu.

- Divine Discourse, May 22, 2000.

Sunday, May 25, 2008

Sai Inspires 25th May 2008 ( What is the relationship between worldly enjoyment, happiness and sacrifice?)

The effulgence of Divinity can be seen when the six qualities of enthusiasm, dynamism, intellect, energy, courage, and valour shine in a person. Bhoga (craving for sensual pleasures) and tyaga (the spirit of sacrifice) cannot ever co-exist. Bhoga will not allow tyaga to come anywhere near, while tyaga would strongly resist bhoga. One might wonder, "Is it possible to sacrifice, and yet be happy?" The answer is, "Yes, it is possible". If ego is effaced and there are no expectations of reward for the actions performed, sacrifice itself becomes a joyous experience; happiness and sacrifice then merge into one. Happiness is not the property of any particular individual; all are entitled to it, and everyone has the right to enjoy it. To receive your share, you must sanctify your life by serving society, using the gifts God has endowed you with.

Kecemerlangan Ilahi hanya bisa terlihat ketika engkau memiliki keenam kualitas berikut ini di dalam dirimu, yaitu: antusias, dinamis, intellect (buddhi), energi, keberanian serta keteguhan hati. Bhoga (sifat mencari-cari kenikmatan sensual) dan tyaga (semangat pengorbanan) - kedua-duanya tidak akan bisa mentolerir eksistensi masing-masing. Bila demikian halnya, engkau mungkin bertanya-tanya: "Apakah mungkin untuk berkorban namun tetap happy-happy saja?" Jawabannya adalah, "Yes, hal itu memang dimungkinkan." Ketika sang ego sudah berhasil ditaklukkan dan tiada lagi harapan/impian untuk menerima penghargaan atas tindakan/usaha yang dilakukan; maka pada saat itulah kebahagiaan dan pengorbanan merging menjadi satu. Happiness (kebahagiaan) bukanlah milik eksklusif orang-orang tertentu; seluruh manusia berhak untuk mendapatkannya dan menikmatinya. Untuk memperoleh bagian yang merupakan hakmu, maka engkau harus terlebih dahulu mengabdikan kehidupanmu dengan jalan memberikan pelayanan kepada society sembari mendaya-gunakan pemberian Tuhan yang telah diberikan kepadamu (jiwa dan raga).

- Divine Discourse, May 22, 2000.