Saturday, October 3, 2009

Sai Inspires 3rd October 2009


Progress in devotion or meditation means the attainment of concentration. Never lose the sight of the Divine Form which you have pictured for yourself. Don't allow the mind to wander on distractions. Be convinced that the distractions of sight and sound are designed to scatter your attention away from the Divine Form. Be on your guard, do not be deluded and never forget the auspicious form. Picture in yourself the Divine Lord, in whom is immersed all creation. What you will experience and when depends upon His Grace. Your mission is to practice one-pointed concentration on Him. It does not depend upon the length of time, or the number of births you have taken. Some may realize the goal even in a few days. It completely depends upon your dedication, devotion and relentless practice. The time cannot be calculated or reasoned out. It is all His Grace.

Kemajuan dalam pemujaan atau meditasi dapat diartikan sebagai tingkat pencapaian dalam konsentrasi. Jangan sampai kehilangan penglihatan akan Wujud Tuhan yang telah engkau gambarkan bagi dirimu sendiri. Jangan biarkan pikiran untuk berkelana atau terganggu. Yakinlah bahwa gangguan dalam penglihatan dan suara adalah dibuat untuk memecah perhatianmu dari Wujud Tuhan. Jagalah dirimu sendiri, jangan sampai terperdaya dan jangan sampai melupakan wujud pilihanmu. Gambarkanlah Wujud Tuhan dalam dirimu, yang meresap dalam semua ciptaan. Apa yang akan engkau alami dan kapan waktunya adalah terserah pada Tuhan. Tugasmu adalah untuk mempraktekkan konsentrasi terpusat pada satu titik yaitu Tuhan. Tugas tersebut tidak tergantung pada berapa lama waktunya, atau berapa kali kelahiran yang telah engkau jalani. Beberapa orang mungkin menyadari tujuannya bahkan hanya dalam waktu beberapa hari. Hal itu sepenuhnya tergantung pada bakti, pengabdian dan latihanmu yang tak kenal menyerah. Waktu tidaklah menjadi perhitungan atau dijadikan alasan. Semuanya adalah Anugerah Tuhan.

- Sandeha Nivarini

Sai Inspires 2nd October 2009


Even an ounce of experience is useful than a ton of learning! Many people lecture hours after hours things that are learn by rote. Can one become great by merely the length or the beauty of the lectures? That is like vomiting a swallowed meal. Give up this talk about others being bad or wrong. Develop your faith and devotion. Strengthen your discipline to meditate on the Lord and engage yourself in beneficial deeds. Speak only what will bring good. Worship the Lord, keep Him ever in your memory. If you are immersed in these, you will not worry at all about the right and wrong of others.

Bahkan satu ons pengalaman lebih berguna daripada berton-ton pelajaran! Banyak orang memberi ceramah berjam-jam tentang hal-hal yang mereka pelajari dengan menghafal. Dapatkah seseorang menjadi agung hanya dengan menghitung berapa lama atau bagaimana menariknya ceramah itu disampaikan? Hal itu ibarat memuntahkan kembali makanan yang telah ditelan. Berhentilah membicarakan keburukan atau kesalahan orang lain. Kembangkanlah keyakinan dan pengabdian. Perkuatlah disiplinmu untuk bermeditasi pada Tuhan dan sibukkanlah dirimu dalam kegiatan yang memberi kemajuan. Berbicaralah hanya tentang hal-hal yang akan membawa kebaikan. Pujalah Tuhan, jagalah supaya Beliau selalu ada dalam ingatanmu. Jika engkau tenggelam dalam hal Ketuhanan ini, engkau tidak akan khawatir sama sekali tentang benar salahnya orang lain.

- Sandeha Nivarini

Thursday, October 1, 2009

Sai Inspires 1st October 2009


They (great people) will have no craving for wealth. They will neither love those who praise them nor hate those who blame them. They will not prevent their disciples from approaching them and will not prohibit anyone from approaching them. They will look upon all with equal love. They will not relish the defamation of others. They will not be vengeful against those who point out to them their own mistakes and wrongs. They will always spread Truth, Right Action, Peace and Love. They will ever yearn for the joy, welfare and progress of others. 

Mereka (orang-orang yang agung) tidak akan mengidamkan harta kekayaan. Mereka tidak akan menyayangi orang yang memuji atau sebaliknya membenci orang yang menyalahkannya. Mereka tidak akan menghindar dari penganut yang mencarinya dan tidak akan menghalangi siapa pun yang mendekatinya. Mereka akan memandang segala sesuatu dengan kasih yang sama. Mereka tidak akan suka memfitnah orang lain. Mereka tidak akan menaruh dendam pada orang yang menunjukkan kekeliruan dan kesalahannya. Mereka akan selalu menyebarkan Kebenaran, Tindakan yang Benar, Kedamaian dan Kasih. Mereka akan selalu menginginkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kemajuan bagi orang lain. 

- Sandeha Nivarini


Wednesday, September 30, 2009

Sai Inspires 30th September 2009


Today people have no regard for truth. Many people do not really mean what they speak. They have something in their mind but say just the opposite. They manipulate their words according to the person and situation. Truth is that which does not change with time. Truth is changeless in past, present and future. Truth is one, not two. The Upanishads (ancient Indian scriptures) extol the principle of truth in many ways. Truth cannot be described in words. Bliss is its form. When you close your eyes and start contemplating on truth, you will experience inexpressible bliss. Unknowingly, you start smiling. Where has this smile come from? It has come from your feelings of bliss. And what is the source of bliss? The source of bliss is God. The happiness you get by your union with God is eternal. Happiness is union with God. When you are dua l-minded, you cannot experience this happiness.

Sekarang ini orang-orang tidak menghargai kebenaran. Banyak orang bertindak tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. Mereka berpikir tentang sesuatu hal namun mengatakan yang sebaliknya. Mereka memanipulasi kata-kata tergantung siapa orang yang diajak bicara dan kondisi saat itu. Kebenaran tidaklah berubah seiring dengan perjalanan waktu. Kebenaran itu tidak berubah di saat lampau, saat ini dan di masa yang akan datang. Kebenaran hanyalah satu, bukan dua.Upanishads (kitab India kuno) menyanjung prinsip kebenaran dengan banyak cara. Ketika engkau memejamkan mata dan mulai memusatkan pikiran pada kebenaran, engkau akan merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dinyatakan dengan kata-kata. Tanpa disadari, engkau akan mulai tersenyum. Dari manakah senyum itu berasal? Ia datang dari rasa bahagiamu. Dan dari manakah kebahagiaan itu berasal? Sumber dari kebahagiaan adalah Tuhan itu sendiri. Kebahagiaan yang engkau dapatkan dari persatuan dengan Tuhan adalah kekal abadi. Kebahagiaan adalah persatuan dengan Tuhan. Kalau pikiranmu mendua, engkau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan ini.

- Divine Discourse, October 14, 2002

Tuesday, September 29, 2009

Sai Inspires 29th September 2009


If all is eaten at the same time, the food will not be digested. It would lead to bad health. What we have eaten requires time to get digested and assimilated. Similarly, what is heard should be understood and put in practice. Take time to digest and practice what you internalized. Placing your burden on Destiny and keeping quiet means diminution of effort. Without effort and prayer, Destiny and Grace cannot be attained. Start the effort! With effort and prayer, Destiny can be attained.

Jika semua makanan dimakan pada waktu yang bersamaan, makanan tersebut tidak akan dapat dicerna dengan baik. Hal itu akan berakibat buruk bagi kesehatan. Apa yang kita makan memerlukan waktu untuk dicerna dan diserap oleh tubuh. Demikian juga, apa yang kita dengar haruslah dipahami terlebih dahulu dan kemudian dilaksanakan. Luangkanlah waktu untuk mencerna dan melaksanakan apa yang engkau telah dapatkan. Meyerahkan semua bebanmu pada Takdir dan kemudian berdiam diri berarti meremehkan nilai dari usaha. Tanpa usaha dan doa, Takdir dan Anugerah tidak akan bisa didapatkan. Mulailah berusaha! Melalui usaha dan doa, Takdir bisa dicapai.

- Sandeha Nivarini

Monday, September 28, 2009

Sai Inspires 28th September 2009


During the little time available, if you don't think of some good subject, but merely recollect the ignorant prattle of others, it is as if you too have joined the blame game. This is harmful to a devotee. One word following another produces anger and pain. The path of devotion is designed for suppressing, not developing these qualities. The talk of the fault finders is like the sound of bronze. Cheap metals make more sound. Gold which does not make sound is very valuable. So too, true devotees will remain mute, following the path of silence. Their tongue will be fully engaged in the repetition of the essential greatness of the Lord's Name. It is best that they have no respite for any other word. So, do not permit the words of the bronze-voiced persons to enter your ears, instead fill them with the Name of the Lord.

Di dalam sedikit waktu luangmu, jika engkau tidak memikirkan hal-hal yang baik, namun hanya mengingat-ingat kembali perkataan orang lain yang sebenarnya tidak perlu, hal itu bagaikan memasuki permainan saling menyalahkan. Hal ini berbahaya bagi seorang pengikut spiritual. Rentetan satu kata mengikuti kata yang lain akan menimbulkan kemarahan dan rasa sakit hati. Jalan pencari spiritual sejati dibuat untuk mengurangi, bukannya meningkatkan sifat-sifat buruk tadi. Obrolan untuk mencari-cari kesalahan orang lain adalah bagaikan ributnya suara logam perunggu. Logam murahan akan menghasilkan suara lebih ribut. Emas, yang mana tidak menimbulkan keributan suara, adalah logam yang sangat berharga. Demikian juga, pengikut spiritual sejati akan tetap tenang, mengikuti jalan keheningan. Lidah mereka akan selalu sibuk dalam mengulang-ulang Nama Tuhan. Itu adalah jalan yang terbaik karena tidak akan ada jeda untuk kata yang lain selain Nama Tuhan. Jadi, jangan biarkan kata-kata dari orang lain yang bagaikan suara logam murahan masuk ke telingamu, sebaliknya penuhilah telingamu dengan Nama Tuhan.

- Sandeha Nivarini

Sai Inspires 27th September 2009


It is not good to spend time in conversations which are fault finding and abusive in nature. These are natural and common with many people. Knowing this, those who aspire to become true devotees should search only for bases on which they should build their joy. All the available time should be used for holy purposes, it should not be wasted. You have nothing to do with the good and the bad in the others. Instead of wasting the time, it should be utilized to discard the bad and develop the good in you.

Tidaklah baik jika menghabiskan waktu dalam perbincangan untuk mencari-cari kesalahan dan meyerang orang lain. Hal ini biasa terjadi pada banyak orang. Sadar akan hal ini, mereka yang berharap untuk bisa menjadi pengikut spiritual sejati seharusnya hanya mencari hal-hal yang bisa membangun kebahagiaan sejati mereka sendiri. Semua waktu yang berharga seharusnya digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang suci, jangan menyia-nyiakan waktu. Engkau tidak memiliki urusan dengan kebaikan atau keburukan dalam diri orang lain. Jadi, daripada membuang-buang waktumu dengan percuma, pergunakanlah waktumu untuk membuang segala keburukan dan mengembangkan segala kebaikan yang ada di dalam dirimu.

- Sandeha Nivarini