Showing posts with label Service Attitude. Show all posts
Showing posts with label Service Attitude. Show all posts

Sunday, June 15, 2008

Sai Inspires 15th June 2008 (What is the attitude with which service should be done?)

All acts of service are not equally sanctifying or uniform in the benefits they confer. When service is undertaken by power-hungry people, or under compulsion, or with a desire to imitate, it can result in more harm than good. Self-aggrandisement, competition or ostentation are motives that will pollute the sacred sadhana of service. In doing service, one should avoid all egoism, exhibitionism and favouritism. Before embarking on a service project, one should examine whether one’s heart is full of selfless love, humility and compassion. Think, too, whether the head is full of intelligent understanding and knowledge of the problem and its solution, if one’s hands are eager to offer the healing touch, whether one can gladly spare the time, energy and skill to help others in dire need .

Tidak semua bentuk tindakan pelayanan memberikan hasil atau manfaat yang sama. Ketika tindakan pelayanan itu dilakukan oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan, atau oleh karena unsur paksaan ataupun dengan keinginan untuk mengimitasi/menyamai, maka hasil-hasil perbuatan itu justru akan lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Sikap-sikap membanggakan diri, kompetisi maupun kesombongan merupakan sikap-sikap yang akan menodai kesucian dari sadhana pelayanan. Dalam melaksanakan tindakan pelayanan, pastikanlah engkau menghindari yang namanya egoisme, sikap exhibitionism (pamer diri) maupun favouritism (pilih-kasih). Sebelum memulai tindakan seva, cobalah nilai apakah hatimu penuh dengan cinta-kasih tanpa pamrih, kerendahan hati dan kewelas-asihan? Di samping itu, renungkan juga apakah engkau sudah memiliki pengetahuan dalam memahami problem yang sedang dihadapi dan solusinya? Apakah tanganmu memang sudah siap dan rela untuk memberikan sentuhan penyembuhan? Apakah engkau rela mengorbankan waktu, tenaga dan ketrampilanmu untuk menolong mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan?

- Divine Discourse, November 21, 1986.

Wednesday, April 30, 2008

Sai Inspires 30th April 2008 ( What should be our mental makeup when we decide to do service?)

By the process of loving service, you can become the promoters of much joy. Do not consider any act of service as demeaning. Sweeping the streets, for example, is not below your dignity. Do you not sweep the floor of your home? Do you not scrub and wash off dirt? When you undertake such tasks, the less-privileged will also gladly share in them. Why be ashamed to be good? The ridicule that may be cast on you has been the reward of many saints; it will soon fade away. Mohammed was driven out of Mecca by those who could not appreciate his teachings. Jesus was crucified. But, their names resound in reverence in the hearts of millions. So, boldly face ridicule and plunge into selfless, intelligent service.

Melalui serangkaian proses pelayanan yang dilakukan secara penuh cinta-kasih, kelak engkau akan menemukan kenikmatan & kesenangan dalam praktek tersebut. Janganlah engkau menganggap pelayanan sebagai suatu perbuatan yang rendah. Sebagai contoh, tindakan menyapu jalanan bukanlah sesuatu tindakan yang rendah/hina. Bukankah engkau juga menyapu di rumahmu sendiri? Bukankah engkau juga menyikat dan membersihkan kotoran di bajumu? Apabila engkau juga berpartisipasi dalam tindakan-tindakan tersebut, maka mereka yang kurang beruntung tentu akan merasa senang dan mau ikut berpartisipasi. Mengapa harus malu untuk berbuat kebaikan? Cemoohan yang seperti engkau terima ini telah dialami juga oleh para rishi/sadhu; yang mana kelak semuanya itu akan berakhir. Nabi Muhammad diusir dari kota Mekah oleh mereka yang tidak bisa menghargai ajaran-ajarannya. Demikian pula, Yesus disalibkan. Akan tetapi, nama-nama mereka tetap bergema dengan penuh penghormatan di dalam hati berjuta-juta orang hingga hari ini. Oleh sebab itu, hadapilah semua kritikan maupun cemoohan itu dengan tegar dan libatkanlah dirimu dalam pelayanan tanpa pamrih.

- Divine Discourse, December 1st, 1982.