Showing posts with label devotion. Show all posts
Showing posts with label devotion. Show all posts

Thursday, April 24, 2008

Sai Inspires 24th April 2008 ( When can we say that we are devoted to the Lord?)

Devotion to God is not to be calculated on the basis of the institutions one has started or helped, the temples one has built or renovated, the donations one has given away, nor does it depend on the number of times one has written the Name of the Lord or on the time and energy one has spent in the worship of the Lord. These are not vital at all, no, not even secondary. Devotion is Divine Love, unsullied by any tinge of desire for the benefit that flows from it, or the fruit or consequence of that love. It is love that knows no particular reason for its manifestation. It is of the nature of the love of the soul for the Oversoul; the river for the sea; the creeper for the tree, the star for the sky, the spring for the cliff down which it flows. It is sweet, in bad times as well as good. It is an unchanging attitude, a desirable bent of the mind, standing steady through joy and grief.

Devotion (bhakti) kepada Tuhan tidak bisa dikalkulasikan berdasarkan berapa banyaknya institusi atau lembaga (sosial) yang telah diprakarsai atau dibantu olehmu, demikian juga ia tidak bisa dihitung berdasarkan berapa banyaknya kuil yang telah engkau bangun atau renovasi, besarnya sumbangan yang telah diberikan dan juga tidak bisa diukur dari berapa banyaknya nama-nama Tuhan yang telah engkau tuliskan maupun seberapa lama waktu dan besarnya energi yang telah dihabiskan untuk melakukan pemujaan terhadap-Nya. Devotion adalah cinta-kasih Ilahi, yaitu cinta-kasih yang tak ternodakan oleh keinginan untuk memetik keuntungan dan ia juga tidak terlalu berharap kepada konsekuensi (positif) yang bakal diperolehnya. Ia merupakan cinta-kasih yang tidak membeda-bedakan, bagaikan anak sungai yang mendambakan untuk bersatu kembali dengan samudera luas, air terjun yang mengalir secara alamiah ke bawah.... Cinta-kasih itu tak berubah, baik di kala sedang mengalami kesusahan maupun kesenangan; ia berdiri kokoh di segala situasi.

- Divine Discourse ,February 25, 1964.

Tuesday, April 22, 2008

Sai Inspires 22nd April 2008 ( What is the true meaning of devotion?)

There are no short-cuts in the spiritual field. As a matter of fact, bhakthi (the path of devotion) is even more difficult than jnaana (path of wisdom); for, to get the attitude of 'Thou' not 'I', one has to surrender completely to the Higher Power, personified as the Lord. The ego has to be fully curbed; the faith that "not even a blade of grass can shake in the wind without His being aware of it and thus having caused it" has to be implanted in the mind. Devotion is not a leisure time job. Erase sensual desire; clear the heart of all blemish; then, the Lord will be reflected therein as in a mirror. Spiritual discipline is very necessary; it is not enough if you place charcoal over the cinders; you must fan vigorously, so that the charcoal too is changed into burning cinders...You have to engage in sadhana to win God's Grace.

Di bidang spiritual, kita tidak mengenal jalan pintas. Sebenarnya bhakthi (jalan pengabdian/devotion) adalah jauh lebih sulit dibandingkan jnaana (jalan kebijaksanaan); sebab untuk memiliki attitude 'Thou' (Dialah) dan bukan 'I' (aku), maka engkau perlu memiliki sikap surrender (pasrah diri) secara utuh terhadap Higher Power (kekuatan Ilahi), yang dipersonifikasikan sebagai 'Tuhan'. Untuk itu, sang ego harus diatasi terlebih dahulu sembari menanamkan keyakinan di dalam batin kita bahwa "tak ada sehelai rumput yang akan bisa bergoyang di tengah terpaan angin bila memang itu bukan atas kehendak-Nya." Devotion bukanlah kegiatan di kala senggang. Singkirkanlah keinginan-keinginan sensual; bersihkanlah hatimu dari noda-noda batin; maka dengan demikian, Tuhan akan tercerminkan di dalam hatimu bagaikan pantulan bayangan kaca. Disiplin spiritual sangat penting; batu arang tidak bisa diletakkan begitu saja di tempat pengapian; melainkan engkau perlu mengipasinya secara terus-menerus, agar batu arang itu dapat menjelma menjadi bara api.... Untuk mendapatkan rahmat Ilahi, engkau harus melakukan sadhana.

- Divine Discourse, March 26, 1965.

Friday, April 18, 2008

Sai Inspires 18th April 2008 ( Is being devoted a sign of cowardness in the present times?)

Devotion is no sign of weakness; it is a sign of courage, of wisdom, of discrimination; it alone can give soukhyam and shaanthi (happiness and peace). Every one has one day or other to fall in line with you, for every one is terribly anxious to get these two. They try, in their ignorance or excitement, various other remedies, but this remedy alone can cure them.


Devotion (bhakti) bukanlah merupakan pertanda kelemahan; sebaliknya ia justru merupakan simbol keberanian, kebijaksanaan, kemampuan diskriminatif; sebab hanya bhakti sajalah yang bisa memberimu soukhyam dan shaanthi (kebahagiaan dan kedamaian). Setiap orang pada suatu hari kelak pasti akan mengikuti jejakmu, sebab setiap orang sangat antusias untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Disebabkan oleh karena kebodohan batinnya, mereka mencoba berbagai macam cara, namun pada akhirnya mereka akan sadar bahwa hanya devotion sajalah yang bisa menyembuhkan (penyakit) mereka.


- Divine Discourse, July 4, 1961.


Saturday, January 12, 2008

Sai Inspires - 12th January 2008 (the state of true devotion)

Devotion is the state of mind in which one has no separate existence apart from God. The devotee's very breath is God; his every act is by God, for God; his thoughts are of God; his words are uttered by God, about God. For, like the fish which can live only in water, man can live only in God - in peace and happiness. In other media, he has only fear, frantic struggle, and failure... It is only association with the Divine that can confer value and significance. The mind too gets illumined, and feels joy, peace and calm, only because the peace, joy and calm, which are the native characteristics of the spirit (God) within are reflected on it.

Devotion (bhakti) adalah keadaan batin dimana seseorang tidak lagi merasakan dirinya terpisah dari Tuhan. Nafas yang dihembuskannya adalah nafas keTuhanan; setiap tindakannya digerakkan oleh Tuhan dan hanya untuk-Nya; demikian pula pikiran dan ucapannya adalah oleh dan tentang Tuhan. Seperti halnya seekor ikan yang hanya bisa hidup di dalam air; maka demikian pula manusia hanya bisa hidup di dalam Tuhan, yaitu di dalam kedamaian dan kebahagiaan. Di media atau tempat lain, manusia akan selalu dirundung oleh ketakutan, pemberontakan dan kegagalan... Kehidupan manusia akan menjadi berharga dan bermanfaat hanya jikalau ia bergaul dengan Sang Divine. Melalui pergaulan dengan Tuhan, batin manusia akan mengalami pencerahan dan memperoleh keceriaan, kedamaian serta ketenangan.

- Divine Discourse, November 23, 1967.

Wednesday, January 2, 2008

Sai Inspires - 29th December 2007 (What is true devotion?)

As a first step, you use the flower, the lamp, the incense, etc. to worship the Saguna (attributeful) form. Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings, purer, more valuable and worthier of your Lord. No one sticks to the slate for long; you feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers; and something more yours than incense. You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame. That is real worship, real devotion.

Sebagai langkah awal, engkau menggunakan bunga, lampu (jyotir), dupa dan perlengkapan lainnya sebagai media untuk melakukan pemujaan terhadap Saguna (wujud para dewata). Kelak, praktek devotionmu akan beranjak ke bentuk dedikasi baru, dengan persembahan yang lebih murni, lebih berharga serta lebih layak bagi Dewata pilihanmu. Tentunya tidak ada orang yang berkeinginan untuk tidak naik kelas; demikian pula, tentunya engkau ingin mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang bisa bertahan lebih lama daripada sekedar persembahan bunga-bungaan saja; dan sesuatu yang lebih mewakili dirimu daripada sekedar dupa. Engkau merasa ingin memurnikan dirimu serta menjadikan kehidupanmu sebagai nyala (dupa) yang mengharumkan. Inilah yang disebut sebagai ibadah yang sejati, the real devotion.

- Divine Discourse, October 26, 1961.

Tuesday, November 13, 2007

Sai Inspires - 13th November 2007 (How exactly is devotion?)

Devotion should be the unified expression of love for God, action in the service of God and total surrender to the will of God. These are intertwined like the braid of a woman's tresses. Bhakthi (devotion), Upaasana (worship) and Jnaana (awareness of the Self) together demonstrate the Oneness of the Divine. This truth is common to all religions.

Devotion (bhakti) adalah ekspresi terpadu dalam hal cinta-kasih kepada Tuhan, yang dikombinasikan dengan tindakan pelayanan kepada-Nya seta penyerahan diri secara total atas kehendak-Nya. Ketiga aspek tersebut saling terkait satu sama lainnya persis seperti kepang rambut wanita. Bhakti (devotion), Upaasana (ibadah) dan Jnaana (kesadaran Atmic) – ketiga-tiganya memperlihatkan kaidah Oneness of the Divine (prinsip persatuan/kemanunggalan Ilahiah). Kebenaran ini merupakan hal yang umum dijumpai di dalam semua ajaran agama.

- Divine Discourse, December 18, 1994.