Showing posts with label happiness. Show all posts
Showing posts with label happiness. Show all posts

Friday, June 27, 2008

Sai Inspires 27th June 2008 ( When and how can we attain perennial happiness?)

Where can a fish find the greatest happiness? In water, in a full flooded river or the sea. If you place it in a golden plate set with gems, can it derive any joy from that good fortune? So too, man can be happy only when he is merged in thoughts of the God from whom he has come, by whom he lives and into whom he merges.

Dimanakah kawanan ikan bisa merasakan kebahagiaan? Tentu saja di dalam air, yaitu di dalam sungai maupun lautan. Jikalau engkau melektakkan ikan itu di atas piringan yang terbuat dari emas serta berhiaskan batu-batu mulia, tetap saja si ikan tidak akan merasa bahagia bukan? Demikian pula halnya dengan manusia, ia hanya bisa merasa bahagia ketika ia tenggelam di dalam pemikiran-pemikiran tentang Divinity yang merupakan asal-usulnya, dan yang merupakan sumber kehidupannya serta juga sebagai tujuan akhir dari kehidupannya kelak.

- Divine Discourse, March 30, 1973.

Wednesday, January 2, 2008

Sai Inspires - 2nd January 2008 (What can give us sustained and genuine happiness?)


Mountain peaks are charming from a distance; when approached, they confront us with terror-striking jungles. So too, the world (Samsara) appears charming, when men have not delved into its meaning and value. When discrimination is employed to explore its value, the truth is revealed that the family jungle or the world jungle cannot give genuine happiness. Only the Atma can give that blessing. Can the lake, which strikes us as invitingly charming so long as the mirage is on, quench one’s thirst?... Therefore, one should learn Self Knowledge, the process by which one becomes aware of one’s Self Reality. By learning it and living it, one can quench his own thirst and help to quench the thirst of all mankind.

Puncak pegunungan tampak sangat menawan jikalau dilihat dari jauh; namun ketika didekati, kita akan dikonfrontir dengan hutan lebatnya yang menakutkan. Demikian pula, dunia (Samsara) juga tampak menawan, yaitu terutama jikalau manusia belum memahami secara benar arti dan maknanya. Seandainya kemampuan diskriminatif telah dimanfaatkan, maka kita akan menyadari bahwa belantara kehidupan berkeluarga atau kehidupan secara duniawi tidak akan bisa memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Blessing hanya bisa diberikan oleh Atma. Apakah fatamorgana akan bisa memuaskan rasa dahaga kita?... Untuk itulah, engkau perlu mempelajari tentang Self Knowledge (pengetahuan tentang diri sendiri), yaitu suatu proses pembelajaran untuk menyadari realitas diri kita yang sejati. Dengan demikian, maka engkau akan bisa menuntaskan rasa dahagamu dan pada gilirannya engkau juga akan bisa membantu memuaskan rasa dahaga seluruh umat manusia.

- Vidya Vahini

Thursday, November 29, 2007

Sai Inspires - 29th November 2007 (the true path to eternal happiness)

Man is a bundle of bones clothed in muscle and fitted with communication nerves. As a base of this gross body, he has a subtle body too. It has its own hunger and thirst and life cannot be happy unless these too are fulfilled - the hunger to return to the Source, a thirst for the nectar that confers immortality. In the search for something to allay this hunger and this thirst, man meets with countless obstacles, for, he does not know the road and is easily misled by his own senses which profess to show him the road. It is only when some disaster or distress overpowers him that he becomes aware of the true path. The true path is the path that reveals the Aathma (self) within.

Manusia adalah sekumpulan tulang-belulang yang dibungkusi oleh otot-otot serta terpasang oleh jaringan komunikasi melalui urat-syaraf. Sebagai dasar dari badan jasmani ini, manusia masih memiliki badan halusnya yang memiliki rasa lapar dan hausnya tersendiri. Kehidupan ini tidak akan mencapai kebahagiaan selama rasa lapar dan haus tersebut belum terpenuhi, yakni rasa lapar untuk kembali bersatu kepada sumbernya (Tuhan) serta rasa haus untuk mencicipi nectar yang akan memberikan keabadian hidup (immortality). Dalam usahanya untuk memuaskan rasa lapar dan haus itu, manusia berhadapan dengan banyak rintangan-rintangan, sebab dia tidak tahu arah jalan yang benar dan sebaliknya dia malah disesatkan oleh panca-inderanya sendiri yang mengaku-ngaku sebagai penuntun perjalanan itu. Manusia baru akan menyadari arah perjalanan yang benar setelah ia mengalami kemalangan ataupun penderitaan. Arah perjalanan yang benar ditandai oleh jalan atau rute yang bakal mengungkapkan kebenaran Aatma (spirit/diri sejati) di dalam diri kita masing-masing.

- Divine Discourse, March 30, 1979.