Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Friday, October 31, 2008

Sai Inspires 31st October 2008 ( How can we persist in seeing the Divine everywhere? How do we leverage the power of Eternal Love in all our actions

There is no living being without the spark of love; even a mad man loves something or somebody intensely. You must recognize this love as but a reflection of the Lord. That is your reality, recognize Him as the Lord residing in your heart. Without that spring of Love that bubbles in your heart, you will not be prompted to love at all. Recognize that spring, rely on it more and more, develop its possibilities, try to irrigate the whole word with it. Discard all touch of self from it. Do not seek anything in return for it, from those to whom you extend it.

Tiada mahluk hidup di dunia ini yang tidak memiliki percikan cinta-kasih; bahkan seseorang yang dilabel sebagai kurang waras sekalipun juga mencintai sesuatu atau seseorang dengan amat sangat. Engkau harus menyadari bahwa cinta-kasih ini adalah refleksi Tuhan. Sebab itulah realitasmu yang sebenarnya, kenalilah Tuhan yang berada di dalam hatimu. Tanpa adanya mata-air cinta-kasih yang bergelora di dalam hatimu, maka engkau tak akan mungkin bisa mencintai semuanya. Carilah mata air itu, dan jadikanlah ia sebagai sumber kehidupanmu. Kembangkanlah segala bentuk kemungkinan untuk memanfaatkan sumber mata-air cinta-kasih tersebut, cobalah untuk memanfaatkannya sebagai sumber irigasi demi untuk manfaat orang banyak. Jauhkanlah unsur-unsur ego daripadanya. Janganlah mengharapkan pamrih dari orang-orang yang telah engkau berikan cinta-kasihmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 212, 6-Sep-63

Saturday, July 19, 2008

Sai Inspires 19th July 2008 (What is the form of God that everybody understands and appreciates?)

Love must expand from the individual to the whole universe. We must regard Love as God. The different forms attributed to God are products of fancy. But Love can be directly experienced. Whether one is a theist or an atheist, a hedonist or a recluse, a yogi or a materialist, he has high regard for love. Love is the one form in which everybody is ready to accept God. The cultivation of love and achieving universal Love through Love is the sublime path of Love - that is the path of Devotion.

Cinta-kasih haruslah dikembangkan mulai dari seorang individu hingga mencakup seluruh alam semesta. Kita harus memperlakukan cinta-kasih sebagai Tuhan. Adapun berbagai macam bentuk atribut yang selama itu diberikan kepada-Nya adalah merupakan hasil kreasi manusia sendiri. Sementara itu, cinta-kasih adalah merupakan atribut yang bisa langsung dialami oleh kita masing-masing, baik apakah engkau adalah seorang theist maupun atheist, seorang hedonist maupun sanyasi, seorang yogi maupun materialist. Semuanya menghargai cinta-kasih; yang merupakan perwujudan Ilahi yang mudah diterima oleh setiap orang. Pengembangan cinta-kasih untuk pencapaian universal Love merupakan jalan Bhakti (devotion). 

Divine Discourse, January 19, 1986.

Monday, June 16, 2008

Sai Inspires - 16th June 2008 ( What is the reward for love?)

Love for Love's sake; do not manifest it for the sake of material objects or for the fulfillment of worldly desires. Desire begets anger, anger provokes sin, for under its impact, friends are seen as foes. Anger is at the bottom of every variety of calamity. Therefore do not fall a prey to it. Treat every one - whoever he may be - with the all-inclusive compassion of Love. This constructive sympathy has to become the spontaneous reaction of all mankind. Saturate the breath - while you inhale and while you exhale - in Love. Saturate each moment in Love. Love knows no fear. Love shuns falsehood. Fear drags man into falsehood, injustice and wrong. Love does not crave for praise; that is its strength. Only those who have no Love in them itch for reward and reputation. The reward for Love is Love itself.

Curahkanlah cinta-kasih yang murni yang terbebas dari pengaruh obyek-obyek materi dan keinginan-keinginan duniawi. Keinginan akan menimbulkan kemarahan, dan kemarahan akan mendorongmu untuk berbuat 'dosa' dimana (salah-satu dampaknya adalah) teman/sahabat akan diperlakukan sebagai musuh. Kemarahan merupakan sumber penyebab dari segela jenis malapetaka. Oleh sebab itu, janganlah engkau membiarkan dirimu terpengaruh olehnya. Perlakukanlah setiap orang - siapapun dia - dengan siraman welas-asih yang sama. Perilaku simpatik yang konstruktif ini hendaknya menjadi reaksi spontan dari seluruh umat manusia. Bernafaslah dalam cinta-kasih. Isilah setiap saat dengan cinta-kasih. Cinta-kasih tak mengenal rasa-takut, ia menghindarimu dari perbuatan yang salah. Ketakutan akan menyeret manusia untuk melakukan kesalahan, ketidak-adilan dan perbuatan negatif lainnya. Cinta-kasih tak mendambakan pujian; inilah salah-satu kekuatannya. Hanya mereka yang tak memiliki cinta-kasih sajalah yang menginginkan imbalan dan reputasi. Imbalan bagi cinta-kasih adalah cinta-kasih itu sendiri!

- Divine Discourse, July 29, 1969.

Monday, May 19, 2008

Sai Inspires 19th May 2008 (the most powerful force of this world)

The word bhakti (devotion) is derived from the root word bhaj, which means pure, unsullied and selfless love toward God. In this world, no other virtue is greater than love. Love is truth, love is righteousness, and love is wealth. This world originated from love, is sustained by love, and ultimately merges in love. Every atom has its origin in love. There are innumerable powers such as atomic power, magnetic power, etc., in this world, but the power of love surpasses them all. Life bereft of faith and love is meaningless and useless.

Istilah bhakti (devotion) berasal dari suku-kata 'bhaj', yang artinya adalah cinta-kasih yang suci, murni dan tanpa pamrih terhadap Tuhan. Di dunia ini, tiada sifat luhur yang lebih tinggi daripada cinta-kasih. Cinta-kasih adalah kebenaran, kebajikan dan kesejahteraan. Dunia ini berasal-mula dari cinta-kasih, ditopang oleh cinta-kasih dan pada akhirnya akan bersatu kembali dalam cinta-kasih. Setiap atom cikal-bakalnya adalah cinta-kasih. Terdapat berbagai macam sumber daya/kekuatan seperti sumber-daya atomik, magnetik dan sebagainya, namun semua sumber-sumber daya itu tak bisa diperbandingkan dengan kekuatan cinta-kasih. Kehidupan tanpa keyakinan dan cinta-kasih sama sekali tak ada artinya dan tak ada gunanya.

- Divine Discourse, March 24, 1965.

Saturday, March 29, 2008

Sai Inspires - 27th March 2008 ( Which is that love that can liberate us?)

Man's nature is Prema, Love. He cannot survive a moment, when deprived of Love. It is the very breath of his life. When the six vices, to which he was attached so long, disappear, Love is the only occupant of the heart; but Love has to find an object, a Loved one. It cannot be alone. So, it is directed to the dark-blue Divine Child, the charming cowherd Boy, who is Purity Personified, who is the embodiment of service, sacrifice and selflessness, who has taken residence in that cleansed Altar. There is no scope now for any other attachment to grow. So, step by step, this Love for Madhava (God) becomes deeper, purer, more self-denying, until at last, there is no other need for thought and the individual is merged in the Universal.

Sifat dasar manusia adalah Prema (cinta-kasih). Bilamana ia kekurangan cinta-kasih, ia tidak dapat bertahan hidup bahkan hanya untuk sesaat sekalipun. Boleh dikatakan bahwa cinta-kasih sudah menjadi nafas kehidupannya. Ketika keenam musuh batin - yang telah menimbulkan kemelekatan di dalam diri manusia - sirna; maka tertinggallah cinta-kasih sebagai satu-satunya penghuni hati nurani. Namun walaupun begitu, cinta-kasih tetap membutuhkan sesuatu obyek untuk dicintainya. Ia tidak bisa bertahan hidup sendirian. Oleh sebab itulah, cinta-kasih diarahkan kepada anak Ilahi yang memiliki sosok kebiru-biruan (Lord Krishna), yang tiada lain adalah sosok menawan dari seorang anak penggembala yang juga adalah personifikasi dari sifat-sifat murni, pelayanan, pengorbanan dan tanpa-keakuan; Beliau memiliki tempat bersemayam di dalam hati yang telah dibersihkan/disucikan. Dalam pada itu, tiada lagi kemelekatan lainnya yang bisa berkembang. Selangkah demi selangkah, cinta-kasih terhadap Madhava (Tuhan) menjadi semakin dalam, murni, tanpa keakuan; hingga pada akhirnya, tiada lagi pikiran oleh karena setiap individu telah bersatu kembali kepada Yang Maha Universal.

- Bhagavatha Vahini.

sai

Tuesday, March 11, 2008

Sai Inspires - 11th March 2008 (the three kinds of love)

Love is of three kinds: Swaartha or self-centered, which like a bulb, illumines just a small room; Anyonya or mutual, which like the moonlight spreads wider but is not clearer; and Paraartha or other-centered, which like the sunlight is all pervasive and clear. Cultivate the third type of love; that will save you. For all the service that you do to others through that love is, in fact, service done to yourself. It is not the others that you help, remember, it is yourself that is helped.

Terdapat tiga jenis cinta-kasih, yaitu: Swaartha atau cinta-kasih yang berpusat pada diri sendiri, ibaratnya seperti bola lampu yang hanya menerangi sebuah kamar/ruangan yang kecil; Anyonya atau cinta-kasih mutualistik, yaitu seperti cahaya rembulan yang lebih menyebar namun tidak memberikan cahaya yang cukup terang; dan ketiga adalah Paraartha atau cinta-kasih yang lebih berorientasi terhadap orang lain, persis seperti cahaya mentari yang menerangi semuanya dan sangat jelas. Kembangkanlah cinta-kasih jenis yang ketiga tadi; maka dengan demikian, engkau akan terselamatkan. Setiap bentuk pelayanan yang engkau berikan dengan berdasarkan cinta-kasih itu adalah sebenarnya pelayanan yang engkau berikan terhadap dirimu sendiri. Ingatlah selalu bahwa pertolongan yang engkau berikan kepada orang lain pada hakekatnya adalah pertolongan terhadap dirimu sendiri.

- Divine Discourse, February 27, 1961.

Saturday, December 1, 2007

Sai Inspires - 1st December 2007 (How can we make our life a saga of love?)




Love is the fruit of life. The fruit has three components - the skin, the juicy kernel and the seed. To experience the fruit, we have first to remove the skin. The skin represents egoism, the 'I' feeling, the excluding, limiting, individualizing principle. The seed represents 'selfishness', the 'mine' feeling, the possessive, the greedy, desireful principle. This too has to be discarded. What remains is the sweet juice, the rasa, which the scriptures describe as Divine, the Love Supreme.

Cinta-kasih adalah bagaikan buah kehidupan. Buah-buahan memiliki tiga komponen atau bagian, yaitu: bagian kulit, sari buahnya (yang menghasilkan juice) serta bagian bijinya. Untuk dapat menikmati sepotong buah, maka terlebih dahulu kita harus membuang kulit-kulitnya. Nah kulit buah itu merupakan simbolisasi dari sifat egoisme, yaitu perasaan ‘I’ (aku) yang serba membatasi, eksklusivisme serta prinsip-prinsip individualisasi. Sedangkan bagian biji merupakan representasi dari ‘selfishness’ (sikap kecongkakan), perasaan ke-aku-an, memiliki, serakah serta penuh dengan desire (keinginan). Kedua bagian tersebut haruslah disingkirkan, sehingga hanya tersisa inti-sarinya yang manis atau yang disebut sebagai ‘rasa’. Kita-kitab suci menyebut rasa tersebut sebagai Divine, cinta-kasih nan mulia.

- Divine Discourse, December 25, 1981.