Wednesday, May 7, 2008

Sai Inspires 7th May 2008 (the surest and simplest way to attain peace)

Everything is possible by the power of love. Love is everything in this world. The world cannot exist without love. Do not entertain bad desires. They will bring about your ruin... We must keep the mind peaceful and sacred. We can acquire peace of mind only by love for God.

Segala sesuatunya menjadi mungkin (terjadi) berkat kekuatan cinta-kasih, sebab cinta-kasih adalah segala-galanya di dunia ini. Eksistensi dunia ini tidak mungkin terjadi bilamana tanpa disertai dengan cinta-kasih. Janganlah mempunyai keinginan-keinginan yang jahat (negatif), sebab hal itu hanya akan membawa kehancuran bagimu.... Jagalah agar batin (pikiran)mu senantiasa damai dan suci. Batin yang damai hanya mungkin tercapai melalui cinta-kasih terhadap Tuhan.

- Divine Discourse, May 26, 2002.

Tuesday, May 6, 2008

Sai Inspires 6th May 2008 (Who are our two mothers? And how should we take care of them?)

Remember that you have two mothers: the Dhesha-maatha (the mother country) and Dheha-maatha (the mother who gave the body). If you do not have a sterling character, the mother country is thrown into grief. If you do not have love and gratitude, the mother is thrown into grief. When both are happy through you...Your life is then indeed blessed.

Ingatlah bahwa engkau mempunyai dua ibu, yaitu: Dhesha-maatha (ibu pertiwi) dan Dheha-maatha (sang ibu yang memberimu badan jasmani). Jikalu engkau tak memiliki karakter yang mulia, maka ibu pertiwimu akan terperosok dalam penderitaan. Jikalau engkau tak memiliki cinta-kasih dan perasaan bersyukur, maka ibumu juga akan mengalami penderitaan. Apabila kedua ibumu berbahagia oleh karena perbuatanmu.... maka kehidupanmu betul-betul sangat diberkati.

- Divine Discourse, May 13, 1968.

Monday, May 5, 2008

Sai Inspires 5th May 2008 ( What is the most important process we have to start if we wish to attain Divinity?)


When the heart is purified, the entire life becomes sanctified. There will be no need for elaborate social reconstruction if people develop good qualities and act righteously. Young people should get rid of bad thoughts and habits. The spiritual quest cannot be put off to old age. The time to start seeking the Divine is now itself. Strive from now on to purify your thoughts and actions.

Ketika hatimu sudah dimurnikan, maka seluruh kehidupanmu menjadi suci. Kita tidak perlu lagi mewacanakan tentang rekonstruksi sosial jikalau orang-orang sudah mengembangkan kualitas diri yang baik serta bertindak secara bajik. Kaum muda harus bisa menyingkirkan pikiran-pikiran serta kebiasaan yang negatif. Pencarian spiritual tidak boleh ditunda hingga usia senja. Waktu untuk memulai pencarian Divine adalah saat ini juga. Untuk itu berjuanglah mulai dari sekarang untuk memurnikan pikiran dan perbuatanmu.

- Divine Discourse, February 13, 1991.

Sunday, May 4, 2008

Sai Inspires 4th May 2008 ( How can we understand God through Nature?)

Look at the modern attempts to understand God by concentrating on exploring the secrets of Nature. This is a wrong approach. The effort should be to realize that Nature has come from God. Only then God can be experienced. You have to turn your mind from the mundane to the Divine, from Nature to Nature's God. By getting immersed in evanescent and impermanent worldly concerns, people are polluting their lives. Admittedly the phenomenal world presented by Nature is true. The Spirit is also truth. Man's journey is not from untruth to Truth but from a lesser truth to a higher Truth. Truth is only one. That truth is God.

Cobalah lihat upaya-upaya yang dilakukan oleh kaum modernis dalam hal untuk memahami tentang ke-Tuhan-an, yang mana mereka menkonsentrasikannya dalam bentuk tindakan eksplorasi terhadap rahasia-rahasia alam. Pendekatan seperti ini sebenarnya tidaklah tepat. Yang harus dilakukan adalah melakukan upaya untuk menyadari bahwa alam berasal dari Tuhan, sebab hanya dengan demikianlah, barulah kita bisa merasakan kemuliaan Tuhan. Arahkanlah pandangan batinmu kepada Divine, dari alam kepada Sang Khalik. Bila engkau hanya berkutat sekitar hal-hal yang bersifat duniawi, maka itu sebenarnya engkau sedang menimbulkan polusi dalam kehidupanmu. Memang tidak disangkal bahwa fenomena-fenomena yang direpresentasikan oleh alam semesta adalah kebenaran, demikian pula halnya dengan The Spirit (Atma). Perjalanan manusia bukanlah dari ketidak-benaran menuju kepada kebenaran, melainkan ia merupakan perjalanan dari yang sedikit benar menuju kepada kebenaran tertinggi. Kebenaran hanya ada satu adanya, dan kebenaran itu adalah Tuhan.

- Divine Discourse, June 25, 1989.

Saturday, May 3, 2008

Sai Inspires 3rd May 2008 ( How to be a true devotee in real life?)

How should devotion to God express itself? Not in ostentatious external forms like smearing vibhuti, wearing a special dress or flaunting a rosary. Devotees make a distinction between personal duties and service to the Divine. They look upon worship, meditation and the like as Divine service and what they do for their families and friends as personal duties. This kind of division amounts to practicing a deception on God. God is Omnipresent and subsumes all things. Hence, there is no meaning in making a distinction between one kind of work and another.

Bagaimanakah caranya mengkespresikan devotion (bhakti) kepada Tuhan? Bhakti bukanlah diartikan sebagai tindakan mengoleskan badan kita dengan lapisan vibhuti, juga bukan berarti harus memakai gaun/pakaian yang khusus maupun menggunakan japamala (tasbeh). Para bhakta membuat garis perbedaan antara tugas/tanggung-jawab pribadi dan pelayanan kepada Divine. Mereka menganggap bahwa ibadah, meditasi dan sejenisnya adalah pelayanan kepada Divine, sedangkan tugas/tanggung-jawabnya kepada keluarga dan teman-temannya sebagai urusan pribadinya. Pembagian-pembagian seperti ini sebenarnya merupakan praktek penipuan bagi Tuhan, sebab Beliau adalah Omnipresent dan mencakupi segala-galanya. Jadi, tak ada gunanya melakukan pembagian-pembagian seperti itu.

- Divine Discourse, June 25, 1989.

Friday, May 2, 2008

Sai Inspires 2nd May 2008 ( How vital is it to be conscious of our speech?)

Speech is produced cheap, but it has high value. It can elevate as well as demean man. Listening to a speech, a zero can rise into a hero or a hero can collapse into a zero. It can inspire or plant despair. It must be true and sweet, not false and pleasant. Man must endeavour to acquire speech untouched by subterfuge, limbs untouched by cruelty, hands free from violence and thoughts free from vengefulness. Frenzy, fanaticism and gusts of anger have to be controlled, for they lead to disasters whose range is beyond calculation...Be conscious that every word we utter or hear will leave an impression on our consciousness, and provoke reactions which may or may not be beneficial. This is the reason why the company of God and godly people is to be sought.

Ucapan sangat mudah sekali diutarakan, tetapi ia mengandung makna/nilai yang sangat tinggi. Ucapan kita bisa memuji dan bisa juga menghina sesama manusia. Dengan mendengarkan suatu wacana, seseorang yang mengalami keterbelakangan akan bisa bangkit dan menjadi seseorang yang terhormat atau sebaliknya. Ucapan kita bisa memberikan inspirasi dan bisa juga menanamkan rasa putus-asa. Oleh sebab itu, engkau perlu memastikan bahwa ucapanmu santun dan benar, tidak mengucapkan yang tidak benar atau sekedar enak didengar saja. Engkau harus berupaya untuk memiliki ucapan-ucapan yang tidak ternoda oleh tipu-muslihat, pastikanlah agar anggota-anggota badanmu tidk tersentuh oleh kekejaman, tanganmu terbebaskan dari kekejian serta pikiran yang tidak dinodai oleh perasaan ingin membalas-dendam. Agitasi emosional, fanatisme dan kemarahan haruslah dapat engkau kendalikan, sebab mereka akan membawamu menuju malapetaka apabila dibiarkan secara liar (tidak terkendali).... Sadarilah setiap ucapan yang akan engkau ucapkan maupun dengar, sebab ucapan-ucapan itu akan meninggalkan impresi di dalam kesadaran kita serta mencetuskan reaksi-reaksi yang mungkin berimplikasi negatif terhadapmu. Itulah sebabnya pergaulan dengan mereka yang saleh dan Tuhan (Sathsang) sangatlah diperlukan.

- Divine Discourse, May 20, 1982.

Thursday, May 1, 2008

Sai Inspires 1st May 2008 (the highest ideals we need to practice in our daily life)

The mind can act as a bridge leading man from the tangible to the intangible, from the personal to the impersonal. Cleanse the mind and mould it into an instrument for loving thoughts, for expansive ideas. Cleanse the tongue and use it for fostering fearlessness and friendship. Cleanse the hands; let them desist from injury and violence. Let them help and lead, heal and guide. This is the highest spiritual practice.

Mind dapat bertindak sebagai jembatan yang menuntun manusia dari sesuatu yang tangible (nyata) menuju kepada yang intangible (yang tidak dapat dinyatakan secara jelas), dari sesuatu yang personal kepada yang bersifat impersonal. Bersihkanlah batinmu dan bentuklah ia sedemikian rupa agar dapat menjadi instrumen yang penuh dengan buah-buah pikiran yang bernafaskan cinta-kasih serta ekspansif. Bersihkan juga lidahmu dan pergunakanlah ia sebagai instrumen untuk menghasilkan keberanian dan persahabatan. Bersihkan pula tangan-tanganmu; dan janganlah membiarkannya terlibat dalam tindakan kekerasan. Gunakanlah semua instrumen itu untuk keperluan membantu dan menuntun, menyembuhkan serta mengarahkan. Inilah praktek spiritual yang tertinggi.

- Divine Discourse, May 20, 1982.