Thursday, November 5, 2009

Sai Inspires 5th November 2009


Do not shape your conduct with an eye on the opinion of others. Instead, follow bravely, gladly and steadily the sweet and pleasant promptings of your own gentle and good manners. Follow your own Inner Self. Associate yourself with those who are richly endowed with Truth. Spend every second of your life usefully and well. If you possibly can, render service to others. Engage yourself in nursing the sick, but when thus engaged in service, do not worry about either the result or the act of service or the person to whom it is rendered. The service is made holy and pure, if you ignore both the good and the bad, and keep on silently repeating in your hearts the name of the Lord that most appeals to you.

Janganlah membentuk perilakumu berdasarkan pendapat orang lain. Sebaliknya, bertindaklah dengan penuh keberanian, kegembiraan dan kemantapan untuk menampilkan dirimu yang manis dan menyenangkan dalam gaya yang lembut dan baik. Ikutilah kata hati Diri Sejatimu. Bergaullah dengan mereka yang telah kaya akan Kebenaran. Isilah waktu dalam hidupmu dengan hal-hal yang berguna dan baik. Jika memungkinkan, lakukanlah pelayanan tanpa pamrih kepada orang lain. Libatkanlah dirimu dalam pelayanan kepada orang-orang yang menderita sakit, namun ketika engkau sedang melayani, jangan khawatir tentang hasil yang akan didapat dari pelayanan yang engkau berikan atau pada orang yang engkau layani. Pelayanan akan bisa dilakukan dengan penuh kesucian dan kemurnian, jika engkau tidak mempedulikan apakah yang engkau tolong adalah baik atau jahat, dan sembari mengulang-ulang dalam keheningan di dalam hatimu nama Tuhan yang engkau pilih.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Wednesday, November 4, 2009

Sai Inspires 4th November 2009


First, give up all impure impulses and cultivate the pure ones. After this, try step by step to give up even these and render the mind objectless, Nirvishaya. Peace thus obtained is effulgent, blissful and associated with Wisdom. It is indeed the experience of God himself. Peace is the key quality that everyone of you must aspire to achieve. The aspirant who wants to attain this peace has to constantly practise a virtuous life, overcoming all the initial obstacles. Peace is like a mountain of rock. It can stand up against the continuous floods of temptation against evil. This Prasanthi (supreme peace) need not be sought anywhere outside. It emanates from the inner consciousness itself. It is the very basis of the urge towards liberation.

Pertama-tama, tinggalkanlah semua keinginan yang tidak murni dan kembangkanlah keinginan yang murni. Setelah itu, cobalah sedikit demi sedikit untuk menghilangkan keinginan dan buatlah pikiran menjadi tanpa obyek,Nirvishaya. Kedamaian yang didapat akan berkilauan, penuh kebahagiaan dan selalu dalam lingkaran kebijaksanaan. Bahkan hal itu sebenarnya adalah pengalaman akan Tuhan sendiri. Kedamaian adalah sifat utama yang harus diidamkan untuk bisa dicapai oleh setiap orang. Pengikut spiritual yang ingin mencapai kedamaian ini haruslah secara terus-menerus menjalani kehidupan yang penuh kebajikan, menghadapi segala macam rintangan. Kedamaian adalah bagaikan gunung batu. Ia bisa menjulang bertahan menghadapi terjangan godaan jahat. Prashanti ini (kedamaian yang tertinggi) tidak perlu dicari diluar diri. Ia memancar dari kesadaran diri sendiri. Ia adalah hal yang sangat mendasar untuk bisa menuju pada tercapainya pembebasan diri.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 3rd November 2009


To nourish the scriptures, it is important to practise two statements: "Speak the Truth" and "Speak it pleasantly". If only these two are kept in view and practised, there is no greater discipline needed. It is only in an atmosphere of peace that such sacred maxims can be put in action. To earn that calmness, steady effort and concord are essential. Devotion is the very fountainhead of Peace. If everyone plants devotion in their heart and nourishes it with care and constant attention, a harvest of goodness and concord can be reaped. The path of devotion is the best and easiest for everyone under present conditions.

Untuk mengamalkan ajaran dalam kitab suci, adalah penting untuk menerapkan dua pernyataan berikut: “Katakanlah Kebenaran” dan “Katakanlah dengan menyenangkan”. Hanya jika kedua hal tersebut bisa terus dijaga dan dilaksanakan, tiada lagi diperlukan ajaran yang lebih tinggi. Hanya di dalam suasana yang penuh kedamaian sajalah maka ajaran tersebut bisa dilaksanakan. Untuk mendapatkan ketenangan tersebut, usaha keras yang terus-menerus dan memelihara kerukunan adalah hal yang sangat penting. Pengabdian adalah asal-muasal Kedamaian. Jika setiap orang menanamkan benih pengabdian di dalam hati mereka masing-masing dan memeliharanya dengan penuh kepedulian dan perhatian yang terus-menerus, maka hasil panen kebaikan dan kerukunan akan bisa dipetik. Jalan pengabdian adalah yang terbaik dan termudah bagi setiap orang dalam kondisi sekarang ini.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 2, 2009

Sai Inspires 2nd November 2009


The present state of affairs is due to people losing faith in themselves and in the sastras (scriptures) . Those who claim to have faith do not conduct themselves according to the scriptures and nourish them. Consequently, goodness and good habits have gone out of the world and wicked habits and degradation has gained the upper hand. This is incorrect and needs transformation. A child may refuse to swallow a pill when it is in the bed, suffering from fever. It may clamour for a plantain, instead of a pill. Do you know what to do at that time? Do not omit the pill. Insert the pill inside the plantain and offer it to the child to be swallowed. It's desire is satisfied. The fever too, comes down. The fundamental has not been discarded. It has remained unchanged. Only the method of administering it has been modified. So too, in the mi dst of crazy habits and behaviors, fundamental scriptures must be presented in a way it is easy to absorb; it must be practised, understood, experienced and enjoyed.

Peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi sekarang ini adalah akibat hilangnya keyakinan orang-orang terhadap diri mereka sendiri dan juga terhadap sastra (kitab suci). Mereka menyatakan dirinya memiliki keyakinan namun tidak menjunjung tinggi dan tidak berperilaku sesuai tuntunan kitab suci. Akibatnya, kebaikan dan kebiasaan baik semakin menghilang dari dunia dan kebiasaan buruk serta penurunan martabat semakin bertambah. Itu semua adalah tidak benar dan perlu adanya perubahan. Seorang anak mungkin akan menolak minum pil pahit ketika ia sedang terbaring sakit di tempat tidur, menderita demam. Dia mungkin meminta pisangnya saja, namun tidak mau minum pil. Tahukah engkau apa yang harus dilakukan saat itu? Jangan buang pil tersebut. Masukkanlah pil tersebut ke dalam pisang dan berikanlah kepada sang anak untuk ditelan. Keinginan sang anak terpenuhi, demikian juga sakit demamnya akan sembuh. Hal yang mendasar janganlah diabaikan. Ia tidak akan pernah berubah. Hanya cara menguasainya sajalah yang telah disesuaikan. Demikian halnya, ditengah-tengah kebiasaan dan tingkah laku yang bobrok saat ini, kitab-kitab suci yang menjadi dasar haruslah disampaikan dengan cara sedemikian rupa sehingga mudah diserap; kemudian harus dilanjutkan dengan dilakukan, dipahami, dialami dan pada akhirnya akan dinikmati.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 1st November 2009


Even for being blessed by the Lord's Grace, one must have peace and wait patiently. Serenity alone succeeds in bringing about the result of the spiritual practices. Add this lesson to the practices you are engaged in. The true devotee will always dwell in God. He/she has no time to know or feel their welfare or worries. Attaining the Lord is the one and only idea in their mind. It is hard to understand this nature... Let me explain with an example. A small child runs about shouting "amma, amma" searching for his/her missing mother. The mother takes it up in her arms and places it on her lap. The child stops crying and is free from all fear. But can the child calculate and find out the difference between its previous state and its present relief? No! Nor is it necessary to do so! So too, if you seek to ever serve the Lord, immerse yourself in service and be engaged in thoughts of God.

Bahkan untuk bisa diberkati dengan mendapatkan Anugerah Tuhan, seseorang harus memiliki kedamaian dan menanti dengan penuh kesabaran. Hanya ketenteraman sajalah yang bisa membawakanmu hasil dari latihan-latihan spiritual. Tambahkanlah pelajaran ini dalam latihan yang engkau jalani. Seorang pemuja akan selalu merenungkan Tuhan. Ia tidak akan memiliki waktu untuk mengetahui atau merasakan kemakmuran atau kekhawatiran mereka. Mencapai Tuhan adalah hal utama dan satu-satunya tujuan dalam pikiran mereka. Adalah sangat sulit untuk memahami suasana semacam ini… Marilah Aku terangkan dengan satu contoh. Seorang anak kecil berlari-lari sambil berteriak “amma, amma” sembari mencari-cari ibunya yang hilang. Sang Ibu menggendong anak itu dan menaruhnya di pangkuannya. Si anak kemudian berhenti menangis dan terbebas dari segala macam rasa takut. Namun bisakah si anak memperhitungkan dan mencari tahu perbedaan diantara suasana sebelumnya dan perasaan lega saat ini? Tidak! Bahkan tidaklah perlu untuk melakukan hal itu! Demikian juga, jika engkau ingin terus melayani Tuhan, libatkanlah dirimu dalam pelayanan dan tenggelamkanlah dalam pikiran akan Tuhan.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 31st October 2009


If the devotee has dedicated his all, body, mind and existence to the Lord, the Lord Himself will look after everything, and He will always be with the devotee. Under such circumstances, there is no need for prayer. But have you so dedicated yourself and surrendered everything to the Lord? No! When losses occur, or calamities come, or plans go astray, the devotee blames the Lord. If you fully rely completely on the Lord at all times, why should He deny you His Grace? Why should He desist from helping you? At times, devotees do not rely fully and unswervingly on the Lord. Therefore, though you have to be the agent and the instrument doing everything, keep on praying with devotion and faith. Faith is the product of peace, not of haste and hurry. Prayer of this type with peace is essential for spiritual aspirants. Prayer of this type will promote equanimity.

Jika seorang pemuja Tuhan telah mempersembahkan segalanya, badan, pikiran dan keberadaannya kepada Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan menjaga semua itu, dan Tuhan akan selalu bersama sang pemuja. Dalam situasi semacam itu, tidaklah perlu berdoa. Namun sudahkah engkau seperti itu dalam mempersembahkan dan memasrahkan segalanya kepada Tuhan? Tidak! Ketika engkau kehilangan sesuatu, atau malapetaka terjadi, atau rencanamu berantakan, para pemuja meyalahkan Tuhan. Jika engkau sepenuhnya pasrah kepada Tuhan sepanjang waktu, bagaimana mungkin Tuhan bisa ingkar dalam memberimu AnugerahNya? Bagaimana mungkin Tuhan bisa menolak untuk membantumu? Kadang-kadang, para pemuja tidaklah pasrah sepenuhnya dan tanpa penyimpangan pada Tuhan. Dengan demikian, meskipun engkau harus menjadi utusan dan alat Tuhan untuk melakukan segalanya, tetaplah selalu berdoa kepada Tuhan dengan penuh puja dan keyakinan. Keyakinan adalah hasil dari kedamaian, bukan dari ketergesa-gesaan dan buru-buru. Doa semacam ini dengan penuh kedamaian adalah sangat penting bagi pencari spiritual. Doa semacam ini akan meningkatkan ketenangan hati.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 30th October 2009


Luster in the face, splendor in the eye, a determined look, noble voice, large-hearted charity of feeling and unwavering goodness - these are signposts of a developing and progressing Will-Force. A mind without agitations, a joyous and unblemished outlook - these are the marks of a person in whom peace has taken root. A spiritual aspirant can pray and ask from the Lord, the gift of such virtues and peace necessary for their growth. In fact, the spiritual aspirant, has as his only capital, prayer, for earning any of his/her goals.

Wajah yang berseri-seri, mata yang berbinar, penampilan yang penuh tekad, suara yang menunjukkan keluhuran budi, kebesaran hati yang menunjukkan rasa kedermawanan dan kebaikan hati yang tak tergoyahkan – itu semua adalah petunjuk akan adanya perkembangan dan kemajuan Tekad Dirimu. Pikiran yang tanpa kegelisahan, cara berpikir yang penuh suka cita dan tanpa cela – itu semua adalah ciri-ciri seseorang dimana kedamaian telah berurat berakar di dalam dirinya. Seorang pencari spiritual dapat berdoa dan memohon kepada Tuhan, hadiah berupa kebajikan dan kedamaian yang diperlukan demi pertumbuhan spiritual mereka. Bahkan sebenarnya, sang pencari spiritual, telah memiliki modal, yaitu doa, untuk mencapai tujuannya.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini