Wednesday, April 7, 2010

Sai Inspires 7th April 2010


You repeat the name of the Lord, sing bhajans, and perform meditation to earn single-mindedness, is it not? Once this single mindedness has been earned, its inner significance will be revealed to you and effort will become unnecessary. Those eager to become aspirants, to attain salvation, should not yield to arguments and counter-arguments. You should not be enticed by the wiles of bad feelings! You should see your own faults and not repeat them. You should guard and protect the one-pointedness, with your eyes fixed on the goal, and dismiss as trash whatever difficulties, defeats and disturbances you may encounter on your path.

Engkau mengulang nama Tuhan, menyanyikan lagu Bhajan, dan bermeditasi agar memperoleh kemanunggalan pikiran, bukan? Setelah kemanunggalan ini tercapai, ketuhanan di dalamnya akan terungkap sehingga usaha lainnya tidak lagi penting. Mereka yang ingin menjadi peminat spiritual, untuk mencapai pembebasan, seharusnya tidak memberikan argumen dan menentang argumen tersebut. Engkau seharusnya tidak tertarik oleh tipu daya perasaan yang buruk! Engkau seharusnya melihat kesalahanmu sendiri dan tidak mengulanginya lagi. Engkau seharusnya menjaga dan melindungi hal ini, dengan matamu yang tetap mengarah pada tujuan, dan melenyapkan berbagai kesulitan, halangan dan gangguan yang mungkin engkau temui dalam perjalananmu.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Tuesday, April 6, 2010

Sai Inspires 6th April 2010


A great teacher is one who has the knowledge of the Self imprinted in his/her heart. The individual who can welcome this truth and is eager to know it alone deserves to be a pupil. The seed must have the life principle latent in it. The field must be ploughed and made fit for sowing. If both these conditions are fulfilled, the spiritual harvest will be bountiful.

Seorang guru agung adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang Diri yang tertanam kuat dalam hatinya. Setiap orang yang dapat menerima kebenaran ini dan selalu ingin mengetahuinya sendiri pantaslah disebut sebagai siswa. Benih harus memiliki prinsip hidup yang laten di dalamnya. Ladang harus dibajak dan dibuat sesuai untuk bisa ditanami. Jika kedua kondisi ini dipenuhi, maka akan didapatkan panen spiritual yang berlimpah.

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Monday, April 5, 2010

Sai Inspires 5th April 2010


All spiritual practices are of no avail, if the heart is not pure. Your cravings and attachments will not disappear even if you are immersed in many spiritual practices so long as the heart is full of the illusion of egoism. Remember that agitations of the mind cannot exist in the same heart filled with love. Can light and darkness ever co-exist at the same place and the same time? Hence, you must remove the illusion of egoism from your heart. To get rid of the feeling of "I" and "mine", you must worship the Lord. You must become an aspirant without likes and dislikes.

Jika hati tidak murni, maka semua praktek spiritual yang dilakukan tidak akan ada gunanya. Keinginaan dan apa yang engkau dambakan tidak akan lenyap selama hati ini dipenuhi dengan ilusi ego, bahkan jika engkau tenggelam dalam banyak praktek spiritual. Ketahuilah bahwa pikiran yang tidak murni tidak akan bisa bersemayam di dalam hati yang sama yang dipenuhi dengan kasih. Dapatkah cahaya dan kegelapan hidup berdampingan di tempat yang sama, dan pada saat yang bersamaan? Oleh karena itu, engkau harus melenyapkan ilusi egoisme dari hatimu. Jika engkau berkeinginan untuk menyingkirkan perasaan "aku" dan "milikku", engkau harus memuja Tuhan. Engkau harus menjadi peminat spiritual, tanpa dipengaruhi oleh rasa suka ataupun tidak suka.

-Divine Discourse, Prema Vahini.

Sunday, April 4, 2010

Sai Inspires 4th April 2010


The inevitable destiny of every living being is the attainment of perfection and fullness. Our present condition of incompleteness is the consequence of our activities during our previous lives. The thoughts, feelings, passions and acts of past lives have caused the present condition in life. Similarly, our future is being built on the basis of our present deeds and desires, thoughts and feelings. Seek help from the Divine to purify and sublimate your consciousness. Thus, your spiritual progress will be accelerated and you will attain perfection and fullness.

Takdir yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk hidup adalah pencapaian kesempurnaan. Keadaan ketidaksempurnaan kita sekarang adalah konsekuensi dari perbuatan kita selama hidup kita sebelumnya. Pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatan kita pada kehidupan di masa lalu-lah yang telah menyebabkan keadaan dalam kehidupan kita saat ini. Demikian pula, keadaan kita di masa depan sedang dibangun atas dasar perbuatan dan keinginan, serta pikiran dan perasaan kita dalam kehidupan sekarang. Carilah pertolongan pada Tuhan untuk memurnikan kesadaranmu. Dengan demikian, kemajuan spiritualmu akan dipercepat dan engkau akan mencapai kesempurnaan.

- Divine Discourse, Vidya Vahini

Saturday, April 3, 2010

Sai Inspires 3rd April 2010


You experience joy and misery through the ear. Therefore, avoiding the cruel arrows of harsh words, one should use words that are sweet, pleasant and soft. With that softness, add the sweetness of truth. To make the words soft, if falsehood is added, it would only clear the way for some more misery. Hence, a spiritual aspirant should use very soft, sweet, true and pleasant words. The mind of such an aspirant is Mathura, their heart is Dwaraka and their body is Kashi. Such persons can be recognized by their good qualities themselves.

Engkau mengalami suka cita dan penderitaan melalui telinga. Oleh karena itu, hindarilah mengucapkan kata-kata yang kasar, seseorang seharusnya mengucapkan kata-kata dengan manis, menyenangkan, dan lembut. Dengan kelembutan itu, tambahkanlah kebenaran. Jika kebohongan ditambahkan, hal ini jelas merupakan jalan menuju penderitaan, maka ucapkanlah kata-kata dengan lembut. Oleh karena itu, seorang pencari spiritual seharusnya mengucapkan kata-kata dengan lembut, manis, benar, serta menyenangkan. Pikiran seorang pencari spiritual ibarat Mathura, hati mereka adalah Dwaraka dan badannya adalah Kashi. Orang-orang seperti itu dapat dikenali dengan kualitas baik dari mereka sendiri.

- Divine Discourse, Prema Vahini

Friday, April 2, 2010

Sai Inspires 2nd April 2010


The four subtle elements of consciousness - manas (the mind), buddhi (the intellect), chittha (will) and ahamkara (the ego) - are all maya (delusion). What is maya? Maa (means 'not') and ya (means 'exist') - that which does not exist but appears to exist is maya. Maya makes the unreal appear as real and the real as unreal. The other name for maya is ajnana (ignorance). Ajnana is that which hides the reality from you and makes you regard the non-existing as existing. It makes the false appear as true. As you move towards the light, your shadow falls behind you; when you move away from the light, you have to follow your own shadow. Go every moment one step nearer to the Lord and then maya, the shadow, will fall behind you and w ill not delude you at all.

Keempat elemen kesadaran - manas (pikiran), buddhi (intelek), chittha (keinginan) dan ahamkara (ego) – semuanya adalah maya (khayalan). Apa itu maya? Maa (berarti ‘tidak’) dan ya (berarti ‘ada’) – maya adalah yang tidak ada tetapi tampaknya ada. Maya membuat sesuatu yang tidak nyata terlihat nyata dan sesuatu yang nyata terlihat tidak nyata. Nama lain dari maya adalah ajnana (ketidaktahuan). Ajnana adalah yang menyembunyikan kenyataan darimu dan membuat engkau menganggap yang tidak ada menjadi ada. Hal inilah yang membuat ketidakbenaran terlihat benar. Saat engkau bergerak menuju cahaya, bayanganmu jatuh di belakangmu; ketika engkau menjauhi cahaya, engkau harus mengikuti bayanganmu sendiri. Berjalanlah setiap langkah mendekati Tuhan maka maya, bayangan, akan jatuh di belakangmu dan sama sekali tidak akan memperdaya engkau.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 21, Chapter - 18

Thursday, April 1, 2010

Sai Inspires 1st April 2010


The bird called Jeeva (individual soul) resides within a nine-holed pot called body. Seeing the antics of the mind, death keeps laughing. It is a wonder how the bird has a body, how it came into the pot, and how it rises up and goes. All the sages, and human beings of all the continents, are constantly undergoing the sentence of carrying about with them the burden of the body. Now, out of all these beings, who are friends and who are enemies? When egoism dies out, all are friends. There are then no enemies. This lesson must be remembered by all.

Ibarat burung, Jeeva (jiwa individu) bersemayam di dalam tubuh ini. Pahamilah pikiran yang selalu melompat-lompat dan maut terus membayangi. Ini adalah sesuatu yang menakjubkan bagaimana burung tersebut dapat masuk, dan bagaimana burung itu dapat bangkit serta keluar dari sana. Semua orang suci dan semua makhluk dari semua benua menjalani hukuman membawa beban tubuh mereka. Sekarang, dari semua makhluk, siapakah yang disebut teman dan siapakah yang disebut musuh? Ketika egoisme dilenyapkan secara perlahan-lahan, semuanya adalah teman. Maka tidak ada lagi musuh. Pelajaran ini harus diingat oleh semuanya.

-Divine Discourse, Prema Vahini