Friday, May 14, 2010

Sai Inspires 14th May 2010


There are many destructive forces in the world. But, luckily along with them, there are also constructive forces. As students of Vidya (True Knowledge) you should not turn yourself into worshippers of bombs and machines. You must transform yourself into active persons, worshipping the Divine. Authority and power are powerful intoxicants. They will pollute one until he/she is completely destroyed. They breed misfortune. But, genuine knowledge will confer on you fullness and fortune.

Terdapat banyak kekuatan yang merusak di dunia ini. Tetapi, untungnya bersamaan dengan hal tersebut, ada juga kekuatan yang berguna. Sebagai siswa dari Vidya (pengetahuan sejati), engkau seharusnya tidak mengarahkan dirimu menjadi pemuja bom dan mesin. Engkau harus mengubah dirimu menjadi orang yang aktif, memuja Tuhan. Kewenangan dan kekuasaan adalah minuman keras yang sangat memabukkan, yang akan mencemari seseorang sampai dia benar-benar hancur, yang selanjutnya dapat menyebabkan kemalangan. Tetapi, pengetahuan sejati akan menganugerahkanmu kesempurnaan dan keberuntungan.

- Vidya Vahini, Chapter 8.

Sai Inspires 13th May 2010


In this world, there is no penance higher than fortitude, no happiness greater than contentment, no blessing holier than mercy and no weapon more effective than patience. Devotees should consider the body as a field, the good deeds as seeds and cultivate the Name of the Lord. Take the help of the Heart as the farmer in order to get the harvest - which is the Lord Himself. Like cream in the milk, fire in the fuel, the Lord is in everything. Have full faith in this.

Di dunia ini, tidak ada penebusan dosa yang lebih tinggi dari ketabahan, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kepuasan dan tidak ada blessing (berkat) yang lebih suci dari kemurahan hati serta tidak ada senjata yang lebih efektif daripada kesabaran. Devotees (Bhakta) seharusnya menganggap tubuh ini sebagai sebuah ladang, perbuatan baik sebagai bibitnya dan tanamkanlah Nama Tuhan. Gunakanlah bantuan dari Hati sebagai petani untuk mendapatkan hasil panen - yang adalah Tuhan sendiri. Seperti krim dalam susu, api dalam bahan bakar, demikianlah Tuhan ada dalam segala hal. Milikilah keyakinan ini.

- Prema Vahini, Chapter 'The Harvest of a Sadhaka'.

Thursday, May 13, 2010

Sai Inspires - 12th May 2010


In the garden of the Heart, you must plant and foster the Rose of Divinity, the Jasmine of Humility and the Lily (Champak) flower of Generosity. In your medicine chest, you must keep in readiness, the tablets of discrimination, drops of self-control and three key powders: Faith, Devotion and Patience. Through the use of these drugs, you can escape the serious illness called Ajnana (Ignorance).

Di taman hatimu, engkau harus menanam dan memupuk mawar Ketuhanan, melati kerendahan hati serta bunga lily (champak) kemurahan hati. Dalam lemari obatmu, engkau harus siap siaga, tablet diskriminasi, setetes pengendalian diri dan tiga bubuk utama dari keyakinan, pengabdian, dan kesabaran. Melalui penggunaan obat-obatan tersebut, engkau dapat melepaskan diri dari penyakit serius yang disebut Ajnana (kebodohan).

-Vidya Vahini, Chapter 8.

Sai Inspires 11th May 2010


Good character is the precious jewel of human life. Human birth itself is the consequence of countless good deeds and it should not be frittered away. This chance must be utilized to the fullest extent. With deep yearning and steadfast discipline, you must endeavor to experience Divinity and redeem yourself.

Karakter yang baik merupakan permata yang berharga dari kehidupan manusia. Kelahiran manusia itu sendiri adalah konsekuensi dari perbuatan baik yang tak terhitung jumlahnya dan tidak ada potongan-potongan yang tertinggal. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sepenuhnya. Dengan kerinduan yang mendalam dan disiplin yang teguh, engkau harus berusaha untuk mengalami Keilahian dan membebaskan dirimu sendiri.

Monday, May 10, 2010

Sai Inspires 10th May 2010


Eating food is a holy ritual, a yajna. It should not be performed during moments of anxiety or emotional upheavals. Food should be considered as medicine for the illness of hunger and for the sustenance for life. Treat each trouble you encounter as a fortunate opportunity to develop your strength of mind and toughen you spiritually.

Makan adalah suatu ritual suci, sebuah Yajna. Makan seharusnya tidak dilakukan pada saat kecemasan atau pada saat emosi bergejolak. Makanan seharusnya dianggap sebagai obat pada saat kelaparan dan sebagai makanan untuk kehidupan. Anggaplah setiap masalah yang engkau hadapi sebagai kesempatan beruntung untuk mengembangkan kekuatan pikiran dan menguatkan spiritualmu.

- Vidya Vahini, Chapter 8.

Sunday, May 9, 2010

Sai Inspires 9th May 2010


Look at the crane - it walks about pretty fast in water. But, during that walk, it cannot catch any fish. It must, for that purpose, become slow and quiet and stand motionless. So also, if one proceeds with greed, anger and other evil qualities, one cannot secure the fish of truth, love and peace. You must chant the Name of the Lord. Then, you will surely overcome the natural traits of greed and anger. Hold on to the Lord as the Universal Goal and make Him the destination of your life's journey. Practice control of speech and constant contemplation of the Lord. Then you will be able to subdue your mind that makes you restless, and gradually you will be filled with all the good qualities!

Lihatlah derek itu – ia bergerak begitu cepat dalam air. Namun, selama perjalanannya, ia tidak dapat menangkap ikan apapun. Tentu saja, untuk mencapai tujuan tersebut, derek itu seharusnya bergerak dengan lambat dan tenang kemudian diam tak bergerak. Begitu juga, jika seseorang melangkah dengan keserakahan, kemarahan, dan sifat-sifat buruk yang lainnya, seseorang tidak dapat mengamankan ikan kebenaran, cinta-kasih, dan kedamaian. Engkau harus mengucapkan nama Tuhan. Selanjutnya, engkau pasti akan dapat mengatasi sifat alami dari keserakahan dan kemarahan. Berpeganglah pada Tuhan sebagai Tujuan Universal dan membuat-Nya sebagai tujuan perjalanan hidupmu. Praktekkanlah mengendalikan bicara dan terus-menerus merenungkan Tuhan. Setelah itu engkau akan dapat menaklukkan pikiranmu yang membuatmu gelisah, dan secara bertahap engkau akan dipenuhi dengan semua kualitas-kualitas yang baik.


- Prema Vahini, Chapter, "Sat-Sankalpa is the Path for Attaining the Presence".

Saturday, May 8, 2010

Sai Inspires 8th May 2010


The taste of food cannot be appreciated if the person is ill or if the mind is immersed in something else. Similarly, even if you are engaged in spiritual practices, you will not experience joy if your heart is filled with evil qualities. You can taste sweetness so long as there is sugar on the tongue. However, if there is even a tinge of bitterness on the tongue, your whole mouth tastes bitter. Therefore, those who aspire to attain the Holy Presence of the Lord must cultivate good habits, discipline and noble qualities. The usual accustomed ways of life will not lead you to God automatically. You must perform sadhana (spiritual practices) to modify it suitably.

Cita rasa makanan tidak dapat dinikmati jika seseorang sedang sakit atau jika pikiran ditenggelamkan dalam sesuatu yang lain. Demikian pula, bahkan jika engkau terlibat dalam praktek spiritual, engkau tidak akan mengalami kebahagiaan jika hatimu dipenuhi dengan sifat-sifat yang buruk. Engkau dapat merasakan rasa manis selama ada gula di lidah. Akan tetapi, jika ada rasa pahit di lidah, seluruh mulutmu akan terasa pahit. Oleh karena itu, mereka yang mengharapkan untuk mencapai Kehadirat Tuhan, harus menanamkan kebiasaan yang baik, disiplin, dan sifat-sifat yang mulia. Sesuatu yang biasa kita lakukan dalam kehidupan ini, secara otomatis tidak akan mengarahkanmu pada Tuhan. Engkau harus melakukan Sadhana (praktek spiritual) untuk mengubahnya menjadi sesuai.

-Prema Vahini, Chapter "Sat-Sankalpa is the Path for attaining the Presence".