Thursday, June 17, 2010

Sai Inspires 17th June 2010


The name ‘Bhagavatha’ can be applied to every account of the experiences of those who have contacted God and the Godly. God assumes many forms and enacts many activities. The title ‘Bhagavatha’ is given to the description of the experiences of those, who have realized Him, who have been blessed by His Grace and chosen as His instruments. By Bhagavatha, we also mean those, who are attached to God, who seek the companionship of God. To be in the midst of such devotees is to foster one's own devotion. The experience of devotees is a panacea that cures physical, mental and spiritual illnesses.

Nama "Bhagavatha' dapat digunakan pada setiap pengalaman yang dialami oleh mereka yang telah mengalami kontak dengan Tuhan dan orang-orang yang beriman. Tuhan mengambil berbagai wujud dan memerankan banyak aktivitas. Nama 'Bhagavatha' diberikan untuk menggambarkan pengalaman bagi mereka yang telah menyadari-Nya, yang telah diberkati dengan rahmat- Nya dan dipilih sebagai instrumen-Nya. Bhagavatha juga berarti mereka yang dekat dengan Tuhan, serta mereka yang mencari persahabatan dengan Tuhan. Berada di tengah-tengah para Bhakta seperti ini adalah untuk mengembangkan pengabdian kita sendiri. Pengalaman para Bhakta adalah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, mental, dan spiritual.

- Bhagavatha Vahini, Chap "The Bhagavatha".

Wednesday, June 16, 2010

Sai Inspires 16th June 2010


People today believe that they are the body, the senses, etc. and crave for objective pleasures. They convince themselves that this pleasure is wanted by them and under this mistaken notion, they seek to fulfill their cravings. They delude themselves that they can secure bliss by catering to the body and the senses. Such attempts cannot earn bliss. The pleasure obtained from external objects brings grief along with it and such attempts to obtain pleasure is rewarded with disillusionment, defeat and disaster. The three source texts (Upanishads, Brahma Sutras and Bhagavad Gita) clearly call out that YOU are the very embodiment of Ananda (bliss). They help people attain the highest wisdom.

Orang-orang saat ini percaya bahwa mereka adalah badan, indera, dll dan menginginkan kesenangan objektif. Mereka meyakinkan diri mereka bahwa kesenangan inilah yang mereka inginkan dan mereka memiliki pikiran yang keliru, sehingga mereka berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Mereka menipu diri sendiri bahwa mereka dapat memperoleh kebahagiaan dengan melayani badan dan indera. Upaya-upaya seperti itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kesenangan yang diperoleh dari objek-objek eksternal akan membawa kesedihan dan usaha-usaha seperti itu untuk memperoleh kesenangan akan mendatangkan kekecewaan, kekalahan, dan malapetaka. Tiga sumber naskah suci (Upanishad, Brahma Sutra dan Bhagavad Gita) dengan jelas menyatakan bahwa ENGKAU adalah perwujudan Ananda (kebahagiaan), yang membantu orang-orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.

- Sutra Vahini, Chap "Humanity is an embodiment of Bliss".


Sai Inspires 15th June 2010


In olden times, when in any region, the people were sunk in fear or anxiety, or when the sources of joy and contentment ran dry, they traced the cause for the calamity to some fault or failure in the worship offered to God in the temples of that area. They sought to identify these mistakes and correct them, so that they could have inner peace. They believed that the crisis could be controlled through these means. Such acts are now bundled together and called superstitions, and are cast aside. This is not superstition at all. The ancients grasped the supreme truth only after personally experiencing its validity.

Pada zaman dahulu, saat di daerah manapun, orang-orang tenggelam dalam ketakutan atau kecemasan, atau ketika sumber kebahagiaan dan kepuasan hati meninggalkan mereka, mereka menelusuri penyebabnya untuk beberapa kesalahan atau kegagalan dalam pemujaan kepada Tuhan di kuil-kuil di daerah itu. Mereka berusaha mengidentifikasi kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, sehingga mereka bisa memiliki kedamaian batin. Mereka percaya bahwa krisis dapat dikendalikan melalui cara ini. Tindakan seperti itu, saat ini disebut "takhayul", dan diabaikan. Ini sama sekali bukanlah takhayul. Orang dahulu memahami kebenaran tertinggi setelah mengalami secara pribadi kebenaran tersebut.

-Vidya Vahini, Chapter, X.

Monday, June 14, 2010

Sai Inspires 14th June 2010


The Jagath (world) is unreal, non-existent, and the mistaken notion that it is real has to be renounced. The understanding that the idea of Jagath is a superimposition by our mind on the Reality is Jnana (Spiritual Wisdom). Though the objective world appears real, one must be aware that it is deluding us. Therefore, one has to give up the yearning for deriving pleasure from the objects that appear and attract, both here and hereafter. Thus, one is liberated as soon as one renounces all attachment and desires. The ajnana (ignorance) can be destroyed only with Atma Vidya (knowledge of the Divine Self). When this illusion disappears, the ups and downs that one faces in Samsara (the ever-changing world) also gets destroyed.

Jagath (dunia) ini tidaklah nyata, tidak ada, dan pendapat yang keliru yang menyatakan dunia itu nyata harus ditinggalkan. Pemahaman yang menggambarkan bahwa Jagath (dunia) adalah superimposisi oleh pikiran kita pada Realita adalah Jnana (kebijaksanaan spiritual). Meskipun dunia objektif muncul secara nyata, orang harus menyadari bahwa hal itu telah memperdaya kita. Oleh karena itu, kita harus melepaskan kerinduan bagi kesenangan yang berasal dari objek yang terlihat menarik, baik di sini maupun di akhirat. Jadi, seseorang segera dibebaskan dan meninggalkan semua keterikatan dan semua keinginan. Ajnana (ketidaktahuan) dapat dihancurkan hanya dengan Atma Vidya (pengetahuan tentang Atma). Ketika ilusi ini menghilang, kesenangan dan kesedihan seseorang dalam Samsara juga akan dihancurkan.

-Sutra Vahini, Chap "Renunciation alone confers immortality."


Sunday, June 13, 2010

Sai Inspires 13th June 2010


The cow secretes milk for the sustenance of the calf; the calf is its chief beneficiary. But, as we see, others too benefit from this milk. So too, though the devotees are the primary cause and their sustenance is the prime purpose; other incidental benefits such as fostering of righteousness, suppression of evil and the wicked also happen in the mission of an Avatar. God is above and beyond all the limits of time and space, and no list of characteristics and qualities can describe Him completely. The place and the Form of the Avatar are chosen such that they promote the purpose of fulfilling the yearning of the devotees.

Sapi menghasilkan susu untuk makanan bagi anak sapi dan anak sapilah yang menerima manfaat utama dari susu yang dihasilkan sapi. Namun, seperti yang kita lihat, yang lain juga menerima manfaat dari susu ini. Demikian juga, meskipun para Bhakta merupakan alasan utama dan menjaga kelangsungan hidup mereka adalah tujuan utama; manfaat yang terkait lainnya seperti mengembangkan kebajikan, menindas kejahatan dan orang jahat juga terjadi dalam misi Avatar. Tuhan berada jauh di atas dan melampaui segala batas ruang dan waktu, dan tidak ada karakteristik dan sifat yang dapat menggambarkan Beliau sepenuhnya. Tempat dan Wujud Avatar dipilih sehingga dapat memenuhi kerinduan para Bhakta.

-Bhagavatha Vahini, "Chap "The Bhagavatha".

Sai Inspires 12th June 2010


A tree can spread its branches wide; its branches can bring forth blossoms which yield fruit, but this happens only when water is fed to the roots. Instead, if the water is poured on branches, fruits or flowers, can the tree grow and spread? Society has as its root of peace and prosperity, the virtues of devotion and dedication. Hence the educational system must pay attention to the promotion and strengthening of these virtues amongst the people.

Sebuah pohon dapat tumbuh dengan cabang-cabang yang menyebar luas. Cabang-cabang tersebut dapat menghasilkan bunga-bunga yang kemudian dapat menghasilkan buah, tetapi hanya jika akar pohon tersebut diberi makan dengan air. Sebaliknya, jika air dituangkan pada cabang-cabang, buah atau bunga, dapatkah pohon tumbuh dan berkembang? Masyarakat diibaratkan sebagai akar perdamaian dan kemakmuran, kebajikan dan pengabdian. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus memperhatikan kemajuan dan memperkuat kebajikan diantara orang-orang.

-Vidya Vahini, Chapter 10.


Sai Inspires 11th June 2010


A Sutra (aphorism) enshrines in a few words, vast expanses of meaning, vast depths of fundamental significance. The Brahma Sutras gather multi-coloured flowers from all the Upanishads and string them together to form an enchanting garland. Each aphorism can be elaborated and explained in a number of learned ways, according to one's understanding, faith, preference, experience and pleasure.

Sutra (peribahasa) menyimpan beberapa kata, mengandung makna yang luas, kedalaman yang luas, serta mengandung arti yang mendasar. Brahma Sutra terdiri dari bunga beraneka warna dari seluruh Upanishad dan merupakan rangkaian yang satu sama lain membentuk garland yang mempesona. Setiap peribahasa dapat diuraikan dan dijelaskan dalam beberapa cara, menurut pemahaman, keyakinan, pilihan, pengalaman, dan kesenangan seseorang.

- Sutra Vahini, Chapter "Thereafter, the inquiry into Brahman".