Thursday, June 24, 2010

Sai Inspires 24th June 2010


On account of the impact of the external objects on the senses of perception, one experiences pleasure and mistakes it to be nectar. But over time, the pleasure initially mistaken as nectar turns into bitter and unpleasant poison. This type of happiness is Rajasic happiness. If one welcomes Rajasic sensory pleasure, one’s strength, awareness, intelligence to achieve the four human goals of Dharma (Right Action), Artha (Wealth), Kaama (Righteous Desire) & Moksha (Liberation) are weakened; one’s interest and aspiration to attain divine bliss declines.

Oleh karena pengaruh objek-objek duniawi pada indera, seseorang yang mengalami kesenangan menyalahartikannya sebagai nektar. Tapi dari waktu ke waktu, kesenangan yang awalnya disalahartikan sebagai nektar berubah menjadi racun pahit dan tidak menyenangkan. Kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan Rajasik. Jika seseorang menerima kesenangan Rajasik ini, kekuatannya, kesadarannya, serta kecerdasannya untuk mencapai empat tujuan manusia yaitu Dharma (Kebajikan), Artha (Kekayaan), Kaama (Keinginan yang benar) & Moksha (Pembebasan) akan dilemahkan; serta minat dan keinginannya untuk mencapai kebahagiaan Illahi akan menurun.

-Vidya Vahini, Chap 11 .

Wednesday, June 23, 2010

Sai Inspires 23rd June 2010


You must know that there is no end to the incarnations that God takes. He has come down on countless occasions. Sometimes He comes with a part of His glory, sometimes for a particular task, sometimes to transform an entire era of time, an entire continent of space, sometimes with a fuller equipment of splendour. The drama enacted by the Lord and the devotees drawn towards Him is the subject matter of Bhagavatha (stories on the Glory of God). Listening to these stories promotes the realization of God. Many sages have testified to its efficacy and extolled the Glory of God, and they helped to preserve it for posterity.

Engkau harus tahu bahwa tidak ada akhir bagi inkarnasi Tuhan. Beliau telah turun pada berbagai kesempatan yang tak terhitung jumlahnya. Kadang-kadang Ia datang dengan kemuliaan-Nya, kadang-kadang untuk suatu tugas tertentu, kadang-kadang untuk mengubah seluruh zaman, mengubah seluruh tempat di benua, dan kadang kala dengan perlengkapan yang penuh kemuliaan. Drama diperankan oleh Tuhan dan para Bhakta ditarik menuju kepada-Nya adalah subyek Bhagavatha (cerita tentang kemuliaan Tuhan). Mendengarkan cerita-cerita tersebut dapat meningkatkan kesadaran pada Tuhan. Banyak orang bijak telah membuktikan keberhasilan ini dan memuji kemuliaan Tuhan, dan mereka membantu untuk melestarikannya bagi anak cucu.

- Bhagavatha Vahini, Ch 1, "The Bhagavatha".

Tuesday, June 22, 2010

Sai Inspires 22nd June 2010


The awareness of Brahman (God) cannot be won by the accumulation of wealth or even by giving away of riches. Nor can it be achieved by reading texts, rising to power, acquiring degrees and diplomas, or performing scriptural sacrifices and rituals. The body is an anthill, with the mind inside the cavity. The mind has hidden in it, the serpent named ajnana (ignorance). This serpent cannot be killed by resorting to kamya karma (pleasurable activities). Jnana (spiritual wisdom) is the only weapon that can kill the serpent of ignorance. That person alone who has faith can secure this spiritual wisdom.

Kesadaran Brahman (Tuhan) tidak diperoleh dari menimbun kekayaan atau bahkan dengan memberikan kekayaan. Juga tidak dapat dicapai dengan membaca naskah-naskah suci, kekuasaan, gelar dan pendidikan tinggi, atau melakukan ritual dan korban suci. Badan ini ibarat sebuah rumah semut, dengan pikiran kita berada didalam lubangnya. Pikiran kita tersembunyi didalamnya, ular yang disebut sebagai Ajnana (ketidaktahuan). Ular tersebut tidak dapat dibunuh dengan memilih jalan Kamya Karma (aktivitas yang menyenangkan). Jnana (kebijaksanaan spiritual) adalah satu-satunya senjata yang dapat membunuh ular ketidaktahuan. Hanya mereka yang memiliki keyakinan bisa memperoleh kebijaksanaan spiritual ini.

- Sutra Vahini, Chap 1, "Thereafter the inquiry into Brahman".

Monday, June 21, 2010

Sai Inspires 21st June 2010


Even the boundless ocean can be drunk by one with ease. Huge mountains can be plucked from the face of the earth easily. The flames of a huge conflagration can be swallowed without any difficulty. But controlling the mind is far more difficult than all these. Therefore, if one succeeds in overwhelming the mind, one achieves the awareness of the soul. This success can result only when one undergoes many ordeals and denials. The bliss that is the result of this effort is the highest kind of happiness.

Samudera yang tidak ada batasnya-pun dapat diminum dengan mudah. Gunung yang besar juga dapat dipetik dari muka bumi dengan mudahnya. Api dari kebakaran yang besar dapat ditelan dengan tanpa mengalami kesulitan. Tapi mengendalikan pikiran jauh lebih sulit dari semuanya itu. Oleh karena itu, jika seseorang berhasil dalam mengendalikan pikirannya, ia dapat mencapai kesadaran jiwa. Keberhasilan ini dapat dicapai hanya ketika seseorang mengalami berbagai cobaan berat dan pengorbanan. Kebahagiaan yang didapat dari usaha ini adalah kebahagian tertinggi.

- Vidhya Vahini, Chap 11.

Sunday, June 20, 2010

Sai Inspires 20th June 2010


God is above and beyond all the limits of time and space. For Him, all beings are equal. The difference between man, beast, bird, worm, insect and even God is but a difference of the 'vessel' (the upadhi). It is like the electric current that flows through various devices and expresses itself in many different functions. There is no distinction in the current; it is the same. So too, the one single God activates every creature and gives rise to manifold consequences. The ignorant feel that all devices are distinct. The wise see only the one uniform current. God appreciates the consciousness of unity as the basic motive of all acts.

Tuhan berada jauh di atas dan melampaui segala batas ruang dan waktu. Bagi Beliau, semua makhluk adalah sama. Perbedaan antara manusia, binatang, burung, cacing, serangga dan bahkan Tuhan hanyalah perbedaan 'tempat' (Upadhi). Hal ini seperti arus listrik yang mengalir melalui berbagai peralatan dan digunakan dalam berbagai fungsi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan. Ini adalah sama. Demikian juga, hanya Tuhan yang mengaktifkan setiap makhluk dan menimbulkan berbagai akibat. Karena kebodohan kita–lah yang merasakan bahwa semua ini berbeda. Orang bijaksana melihat hal ini sama. Tuhan menghargai kesadaran dalam kesatuan sebagai motif dasar dari semua tindakan.

- Bhagavatha Vahini, Chap 1.

Sai Inspires 19th June 2010


Involvement in objective pleasure leads ultimately to grief. So, you must direct yourself towards the right means to attain bliss. Where can you gain bliss from? It is not inherent in external objects. Though external objects appear to bring pleasure, they bring in grief as well. The Upanishads, the Brahma Sutras and the Bhagavad Gita clarify the truth that you are the very embodiment of bliss. The scriptures clarify the truth and help everyone attain the highest wisdom.

Keterlibatan dengan kesenangan objektif pada akhirnya akan mengarahkan kita pada kesedihan. Jadi, engkau harus mengarahkan dirimu ke jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan. Dimana engkau bisa mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan tidak melekat pada objek-objek eksternal. Meskipun objek-objek eksternal muncul untuk membawa kesenangan, ia juga membawa kesedihan. Upanishad, Brahma Sutra, dan Bhagavad Gita menjelaskan kebenaran bahwa engkau adalah perwujudan kebahagiaan. Kitab–kitab suci tersebut menjelaskan tentang kebenaran dan membantu setiap orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.


-Sutra Vahini, Chap "Humanity is the embodiment of bliss" .

Friday, June 18, 2010

Sai Inspires 18th June 2010


Every living being craves for happiness. It does not long for misery. Some desire the acquisition of riches, some believe that gold can make them happy. Some amass articles of luxury, some collect vehicles, but everyone is set upon obtaining things that one believes can give him/her joy. But those who know wherefrom one can get happiness are very few in number. Sathwic happiness is of the nature where it appears to be poison in the beginning, but turns into nectar later. This happiness is secured through the awareness of the Self using the preliminary sadhana of sama (control of the senses), dama (control of emotions), etc. which has to be initially gone through, and appears hard and unpleasant. It involves struggle and effort. So the reaction may be bitter. This type is Sathwic happiness.

Setiap makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Mereka tidak menginginkan penderitaan yang lama. Beberapa dari mereka ingin memperoleh kekayaan; dan sebagian orang percaya bahwa emas dapat membuat mereka bahagia. Beberapa orang mengumpulkan barang-barang mewah, yang lainnya mengumpulkan kendaraan, dan setiap orang percaya setelah mereka mendapatkan harta benda, mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi orang-orang yang mengetahui bagaimana bisa mendapatkan kebahagiaan sejati sangat sedikit jumlahnya. Kebahagiaan satwik, pada awalnya nampak seperti racun, tetapi kemudian berubah menjadi nektar. Kebahagiaan ini didapat melalui kesadaran diri dengan melakukan Sadhana (latihan spiritual) melalui sama (kontrol pikiran), dama (pengendalian indera), dll, yang pada awalnya harus ditempuh dengan sulit dan tidak menyenangkan, serta memerlukan perjuangan dan usaha yang keras. Jadi reaksinya mungkin terasa pahit. Inilah type kebahagiaan satwik.

- Vidya Vahini, Chapter 11.