Wednesday, January 30, 2008

Sai Inspires - 30th January 2008 (What is the best way to serve?)


Service to man can be done in many ways; but, serving the other person, by example is the best of all. Do not be a bad example to your neighbours or family members. Be good and radiate goodness. That is why, when the education of a pupil was over, the teacher in ancient times exhorted the pupil to speak the truth and observe righteousness. Because after the period of study, the young person is to engage in a job, so, he has to be given the most beneficial advice, at the appropriate moment. The truth must be spoken, without hypocrisy and deceit; there should be no motive to injure.

Pelayanan kepada sesama manusia bisa ditempuh dengan berbagai macam cara; namun pelayanan dalam bentuk menjadi contoh suri-teladan yang baik merupakan cara yang paling bagus. Janganlah menjadi contoh yang tidak baik bagi tetanggamu maupun anggota keluargamu yang lainnya. Jadilah sosok yang patut diteladani dan pancarkanlah kebajikan. Itulah sebabnya ketika seorang siswa selesai menamatkan pendidikannya, maka para guru di zaman dahulu selalu memperingatkan para siswa-siswanya untuk selalu mengucapkan kebenaran dan senantiasa mempraktekkan kebajikan. Setelah menamatkan pendidikannya, maka para siswa akan terjun dan bekerja di tengah-tengah masyarakat, itulah sebabnya mengapa mereka perlu mendapatkan nasehat yang bermanfaat dan di saat yang tepat. Kebenaran haruslah dijunjung tinggi, tanpa adanya kemunafikan dan kebohongan serta tidak disertai dengan motif untuk mencelakai.

- Divine Discourse, December 21, 1967.

Tuesday, January 29, 2008

Sai Inspires - 29th January 2008 (How can we earn His Grace and peace?)

You do not wait with folded hands for the cup of coffee to cool down to the required warmth; you ask for an extra cup and you start pouring the coffee from one cup to the other, is it not? The same anxiety, the same sadhana has to be shown in spiritual matters also, to take in the beverage of Divine Grace...Cultivate the virtues of reverence and humility...the more we subject ourselves to discipline, the more joy and peace we can enjoy.

Untuk menunggu secangkir kopi panas agar dapat diminum, maka tentunya engkau tidak perlu bersikap anjali dan berdoa bukan!? Yang perlu engkau lakukan adalah meminta cangkir yang kosong dan kemudian menuangkan kopi itu dari cangkir yang satu ke yang lainnya, bukankah begitu? Nah, sadhana yang serupa seperti itu juga perlu diterapkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah spiritual, agar kita dapat menikmati Rahmat Ilahi.... Kembangkanlah sikap penghormatan dan kerendahan hati.... apabila engkau hidup secara disiplin, maka kedamaian dan kegembiraan tidak akan jauh darimu.

- Divine Discourse, March 26, 1985

Monday, January 28, 2008

Sai Inspires - 27th January 2008 (What is it that can give a good foundation to our life?)


The very persons who accuse others are ready to commit those wrongs when they get the chance. They are not toughened enough to resist the temptation. No one stands firm for they have not found the rock of the Aathma (spirit); they have no knowledge of their Divine reality. The teaching of all the scriptures and of all the sages and saints is to recognize the Aathma (spirit) within and to build life upon that bedrock. What is required for the discovery of that bedrock? You must be able to withdraw into yourself and meditate on your own true nature, and the truth of Nature... It is the right of every seeker from every land. This is the wealth that will really save man from misery; all the rest are mere shadows, mirages, castles in the air, they drop with the body that valued them.

Bagi mereka yang (suka) menuduh orang lain, sebenarnya dia sendiri juga akan melakukan kesalahan yang sama jikalau saja kesempatan menghampirinya. Mereka belumlah cukup kuat untuk menghadapi godaan yang ada. Selama batu karang Aatma (spirit) belum ditemukan; maka selama itu pula mereka belum siap untuk menyadari realitas Divine masing-masing. Semua kitab suci dan para rishi dan sadhu mengajarkan hal yang sama, yaitu bagaimana caranya mengenali Aathma (spirit) yang ada di dalam diri kita masing-masing serta menjadikannya sebagai batu karang untuk landasan berpijak dalam kehidupan ini. Apa saja hal-hal yang diperlukan agar kita dapat menemukan batu karang itu? Yaitu bahwa kita harus sanggup untuk melakukan kontemplasi dan bermeditasi atas sifat realitas kita yang sebenarnya, yaitu our own true nature and the truth of Nature... Setiap orang dari segala penjuru dunia mempunyai hak yang sama untuk merealisasikannya. Inilah satu-satunya kekayaan yang akan menyelamatkan manusia dari penderitaan; kekayaan lainnya adalah ibarat bayang-bayang, khayalan, fatamorgana di tengah-tengah gurun pasir – yang akan ditinggalkan seiring melapuknya badan jasmani ini.

- Divine Discourse, March 26th, 1965.

Sai Inspires - 28th January 2008 (What is spirituality in daily life?)


How can any study be worthy, if it does not confer good knowledge and prompt one to do good work? An education that helps you merely to keep alive is no education at all. The wheels of the chariot of life are good knowledge and good deeds. This alone is true spirituality - virtue and humanitarian deeds. Charity is spiritual; good behaviour is spiritual; keeping away from evil is spiritual.

Bagaimana mungkin engkau bisa belajar untuk menjadi orang berguna, jikalau saja pendidikanmu tidak memberikan pengetahuan yang baik serta mendorongmu untuk melaksanakan tugas/pekerjaan yang bajik? Pendidikan yang hanya mengajarkanmu cara-cara untuk bertahan hidup bukanlah jenis pendidikan yang sejati. Pengetahuan yang baik serta perbuatan bajik merupakan kedua roda kehidupan ini. Virtue (kebajikan) dan aksi-aksi kemanusiaan (seperti: sikap dermawan, perilaku bajik dan menjauhi pergaulan yang jahat) merupakan spiritualitas sejati.

- Divine Discourse, December 1st, 1982.

Thursday, January 17, 2008

Sai Inspires - 17th January 2008 (How can we be healthy physically, socially and spiritually?)


The scriptures say that envy, greed, lust and anger are all vyaadhi kaaranam (sources of disease). Those afflicted with these qualities may consume the most healthy food, but it will not give them health. They will suffer from various digestive and nervous complaints. Therefore, those aspiring to be liberated must cut asunder these evil tendencies with the sharp sword of jnaana (spiritual wisdom). They must pray to the Lord to save them from contact with these foul characteristics. From this very moment, pray for the Grace which will enable you to control and conquer them. Deepen your faith in God. Expand your love and take into its fold, the whole of mankind. There is no alternative path for a devotee.

Di dalam kitab-kitab suci dikatakan bahwa sifat-sifat seperti dengki, serakah, nafsu dan amarah dikategorikan sebagai vyaadhi kaaranam (sumber penyakit). Mereka yang terjangkit oleh kualitas-kualitas seperti itu boleh-boleh saja mengklaim bahwa ia telah mengkonsumsi makanan yang paling sehat, namun ketahuilah bahwa makanan itu saja tidak akan memberikan kesehatan yang prima baginya. Mereka tetap akan menderita berbagai macam persoalan di dalam sistem percenaan dan urat syarafnya. Oleh sebab itu, bila engkau beraspirasi untuk terbebaskan (dari kumpulan penyakit itu), maka engkau harus memastikan bahwa engkau sudah menghancur-leburkan kecenderungan/sifat-sifat negatif itu dengan menggunakan pedang tajam dalam wujud jnaana (kebijaksanaan spiritual). Engkau harus berdoa kepada Tuhan agar Beliau berkenan menyelamatkanmu dari bersinggungan dengan karakteristik-karakteristik yang bau itu. Mulai saat ini, berdoalah untuk meminta rahmat yang akan membekalimu kekuatan untuk mengendalikan serta menaklukkan sifat negatif tadi. Perdalamlah keyakinanmu kepada Tuhan. Kembangkan cinta-kasihmu dan bawalah seluruh umat manusia ke dalam pangkuannya. Tiada alternatif atau pilihan lain bagi seorang bhakta.

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Wednesday, January 16, 2008

Sai Inspires - 16th January 2008 (When can we say that we are successful?)


Those aspiring for success in the spiritual field must decide to control anger, to subdue the vagaries of the mind with its changing resolution to do and not do things. They must put down their mental agitations and worries, and see that they do not create worry in others too. They must convince themselves that in everyone there is Shivam (God), recognizable as swaasam (breath); they must develop Vishwaprema (Universal Love) and demonstrate it in their words and deeds.

Mereka yang beraspirasi untuk menggapai kesuksesan di bidang spiritual haruslah beresolusi untuk dapat mengendalikan kemarahannya serta meredakan gejolak-gejolak batinnya yang tidak mantap. Engkau harus menenangkan mental agitations dan kekhawatiranmu, dan pastikanlah bahwa engkau tidak menularkannya kepada orang lain. Engkau harus yakin bahwa di dalam diri setiap orang terdapat Shivam (Tuhan), yang dikenali sebagai swaasam (nafas) dan selanjutnya engkau juga perlu mengembangkan Vishwaprema (cinta-kasih universal) dan merealisasikannya dalam bentuk ucapan dan perbuatanmu.

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Tuesday, January 15, 2008

Sai Inspires - 15th January 2008 (How can we experience the Supreme Truth?)


Divine Grace awaits individual striving and spiritual practice. The doctrines and directives of religion have to be assimilated by means of actual experience. It is not enough if one learns to repeat them parrot like. The Truth has to be identified; this is the very first step. The sooner we understand the Truth, the faster will religious conflicts and creedal dissensions disappear. The Omniself, is nearer than the nearest; other entities are all, though near, really far away. Become aware of this fact. Then alone can the knots, in which the heart is entangled, be loosened.

Untuk memperoleh Divine Grace (Rahmat Ilahi), maka dibutuhkan usaha individu serta praktek spiritual. Doktrin-doktrin serta arahan-arahan yang diberikan oleh ajaran agama haruslah dihayati dan diamalkan melalui praktek aktual. Tidaklah cukup bila engkau hanya mempelajarinya serta mengulanginya bagaikan burung beo semata. Kebenaran hakiki haruslah diidentifikasi; inilah sebagai langkah pertama. Semakin cepat kita memahami kebenaran, maka akan semakin cepat pula berakhirnya konflik keagamaan serta pertikaian sejenisnya. The Omniself (Tuhan) sangatlah dekat, bahkan jauh lebih dekat dibandingkan entitas-entitas lainnya. Sadarilah fakta kebenaran ini. Sebab hanya dengan demikian, maka benang kusut yang ada di dalam hatimu akan dapat dilonggarkan.

- Baba in Vidya Vahini.