Saturday, June 14, 2008

Sai Inspires 14th June 2008 ( What is character and how can we develop it?)

Spiritual disciplines determine the character of a person. Character determines the destiny - whether good or bad. Character is built up by constant practice of good actions. Actions, in turn, are based on one's thoughts and intentions. Whenever any thought arises in the mind, one should examine whether it is right or wrong, if it will do good to society or cause harm to it. Actions should be based on such enquiry. It would be wrong to blame anyone for our misfortunes. Our thoughts and actions alone are responsible for our plight. If one entertains pure thoughts and does all actions with firm faith in God, he/she will be favoured with God's Grace.

Disiplin spiritual menjadi penentu jenis karakter seseorang. Karakter akan menentukan destiny (nasib) - apakah baik maupun buruk. Karakter terbentuk melalui praktek-praktek kebajikan yang dilakukan secara kontinu. Tindakan kebajikan itu tergantung pada pola pikiran dan niat seseorang. Ketika suatu bentuk pikiran terlintas di benakmu, maka engkau harus menilai apakah jenis pikiran itu baik atau buruk, apakah tindakan yang dipicu oleh pikiran itu bakal menghasilkan manfaat positif bagi masyarakat atau tidak. Tindakan-tindakan kita hendaknya selalu didasari oleh pertimbangan-pertimbangan seperti ini. Sungguh salah bila kita menyalahkan orang lain atas ketidak-beruntungan yang sedang kita alami. Pikiran dan tindakan kita sendirilah yang bertanggung-jawab atas penderitaan itu. Jikalau engkau senantiasa memelihara pikiran yang murni dan melakukan semua tindakan dengan keyakinan yang kokoh terhadap Tuhan, maka tentu rahmat Ilahi tidak akan jauh darimu.

- Divine Discourse, July 21, 1986.

Friday, June 13, 2008

Sai Inspires 13th June 2008 ( What is true modernism?)

Man has been enslaved by money. People live a superficial, hollow, artificial life. This is indeed a great pity. One should seek to possess only as much money as is most essential for his living. The quantity of riches one must own can be compared to the shoes one wears; if too small, they cause pain; if too big, they are a hindrance while walking. Money too has to be with us only just enough for a life of physical and mental comfort. When we have more, it breeds pride, sloth and contempt for others. In pursuit of money, man descends to the level of the beast. Money is of the nature of manure. Piled up in one place, it pollutes the air. Spread it wide, scatter it over fields - it rewards you with a bumper harvest. So too, when money is spent in all the four quarters for promoting good works, it yields contentment and happiness in plenty. But today, such deeds of renunciation and holy thoughts are absent. We pride ourselves today as being 'modern'. Does modernism involve giving up morality and justice? Or, allowing the senses to run amok? Or, blindly running after countless desires? No. Modernism means self-control and selfconfidence.

Manusia telah dibudaki oleh uang. Mereka menjalani kehidupan yang superfisial, hampa dan artifisial. Hal ini sungguh amat disayangkan sekali. Hendaknya engkau mencari pemenuhan (uang) dalam jumlah yang secukupnya saja bagi kehidupanmu sehari-hari. Jumlah kekayaan yang dimiliki seseorang dapat diperumpamakan seperti ukuran sepatu yang engkau kenakan; apabila ukurannya terlalu kecil, maka kaki akan terasa sakit; sebaliknya jikalau terlalu besar, maka perjalananmu akan terganggu pula. Demikianlah jumlah uang yang engkau miliki hendaknya dalam batasan yang secukupnya saja untuk kenyaman hidup secara jasmaniah dan rohaniah. Jikalau kita mempunyai uang yang berlimpah-ruah, maka resikonya adalah kita akan terjangkit 'penyakit' berupa kesombongan dan sikap merendahkan orang lain. Dalam upaya untuk 'mengejar' uang, manusia telah menurunkan derajatnya menjadi level kebinatangan. Uang itu karakternya mirip-mirip dengan pupuk. Jikalau ditumpuk di satu tempat, maka ia akan menebar bau-busuk ke sekelilingnya. Tetapi kalau ia disebar ke sawah atau ladang, maka ia akan memberkahimu dengan panen yang berlimpah. Demikian pula, bila uang yang engkau miliki diberdayakan untuk perbuatan bajik ke segenap penjuru, maka perbuatanmu itu akan menganugerahimu dengan berkah dan kebahagiaan. Ironisnya, di zaman modern ini, pemikiran serta perbuatan luhur seperti ini sudah amat jarang dijumpai. Kita cenderung membanggakan diri sebagai manusia 'modern'. Tetapi apakah memang benar bahwa modernisme itu perlu sampai mengorbankan moralitas dan keadilan? Ataukah modernisme mengajarkan kita untuk membiarkan panca indera kita berkeliaran secara liar? Atau memupuk keinginan yang tiada habisnya? Tentu saja tidak! Justru yang dimaksudkan dengan modernisme adalah self-control (pengendalian diri) dan self-confidence (kepercayaan/keyakinan pada diri sendiri).

- Divine Discourse, July 17, 1981.

Thursday, June 12, 2008

Sai Inspires 12th June 2008 ( What does the Lord really expect from us?)

You attach importance to quantity; but, the Lord considers only quality. He does not calculate how many measures of "sweet rice" you offered, but, how many sweet words you uttered, how much sweetness you added in your thoughts. Offer Him the fragrant leaf of bhakti (devotion), the flowers of your emotions and impulses, freed from the pests of lust, anger, etc.; give him fruits grown in the orchard of your mind, sour or sweet, juicy or dry, bitter or sugary.

Engkau begitu mementingkan tentang kuantitas/jumlah, namun bagi Tuhan, yang terpenting bagi-Nya adalah kualitas. Beliau tidak akan menghitung seberapa banyak "sweet rice" yang telah engkau berikan, melainkan Ia lebih peduli dengan kualitas tutur-katamu yang memberikan hiburan bagi orang lain serta seberapa luhurnya pola pikiranmu. Persembahkanlah kepada-Nya daun dalam bentuk bhakti (devotion), bunga dalam wujud emosimu, yang mana semuanya hendaknya bebas dari hama-hama yang dinamakan sebagai nafsu, kemarahan dan sebagainya. Berikanlah kepada-Nya buah-buahan yang tumbuh subur di dalam batinmu, baik itu yang rasanya asam maupun manis, baik yang penuh dengan sari (jus) maupun yang kering.

- Divine Discourse, February 8, 1963.

Wednesday, June 11, 2008

Sai Inspires 11th June 2008 ( What is the true purpose of all spiritual practices?)

Sadhana (spiritual practice) is most required to control the mind and the desires after which it runs. If you find that you are not able to succeed, do not give up the sadhana but do it more vigorously, for it is the subject in which you did not get passing marks that requires special study, is it not? Sadhana means inner cleanliness as well as external cleanliness. You do not feel refreshed if you wear unwashed clothes after your bath, do you? Nor do you feel refreshed if you wear washed clothes, but skip the bath. Both are needed, the baahya and the bhaava (the external as well as the internal) purity.

Sadhana (praktek spiritual) sangatlah diperlukan untuk mengendalikan mind dan keinginan-keinginannya. Jikalau engkau menilai bahwa engkau belum juga berhasil, janganlah engkau meninggalkan sadhanamu, melainkan sebaliknya engkau perlu semakin giat dalam pelaksanaannya. Hal ini persis seperti ketika engkau mengikuti ujian, dimana jikalau engkau masih belum lulus, maka tentunya engkau perlu belajar semakin serius dan giat. Nah, sadhana ini diartikan sebagai inner cleanliness dan juga sebagai external cleanliness. Tentunya engkau belum merasa segar jikalau setelah mandi, engkau masih mengenakan baju yang belum dicuci. Demikian pula, bila engkau mengenakan baju baru, tetapi oleh karena belum mandi, maka engkau juga akan merasa gerah! Jadi, kebersihan dari kedua aspek itu tetap saja diperlukan. Dengan perkatan lain, purity mencakup baahya dan bhaava (eksternal dan internal).

- Divine Discourse, Vijayadasami, 1953.

Tuesday, June 10, 2008

Sai Inspires 10th June 2008 (how we undermine the beautiful gift that God has given to each one of us which is the human body)

The human body is spoken of as a temple where the individual soul is installed. I would prefer to describe it as a house taken on rent by you. God is the Master, the owner. The jeevi (tenant) has taken it on rent and is occupying it. The rent has to be paid in the form of good deeds, good thoughts, good speech and good conduct. But, the tenant ignores the owner and does not pay the rent. So, the Master has to compel the man to vacate. He sends 'notices' reminding him of the need to vacate, unless he pays the rent. Grey hairs are the first intimation; the tenant dyes his hair and pays no heed to the warning. The teeth fall out; that is the second warning. The tenant gets a denture fixed and ignores this reminder too. Cataract in the eye is the next warning of the need to leave the house; an operation helps him to pass it by. Glasses restore his sight. The skin becomes loose, wrinkled. This warning too is unheeded; the man hides the signal with the help of cosmetics. So, the owner has to send his emissaries - a few fatal illnesses - and force him to clear out of the house. Why stick on, for years, like crows? Far better to live happily like a royal swan, albeit for a short span. Live ideal lives through controlled minds.

Badan fisik manusia disebut sebagai kuil dimana terdapat jiwa masing-masing individu. Aku lebih suka menyebutnya sebagai rumah sewaan. Tuhan adalah pemilik rumah itu. Jeevi (manusia) telah menyewanya dan sedang menghuni rumah tersebut. Sewa 'rumah' haruslah dibayar dalam bentuk perbuatan bajik, pemikiran, ucapan serta perilaku yang baik. Namun yang disayangkan adalah bahwa kebanyakan para penyewa suka melupakan pemilik rumah itu dan tidak jarang malah tidak mau bayar sama sekali. Akibatnya, sang pemilik rumah - mau-tidak-mau - harus melakukan tindakan pengusiran. Untuk itu, Beliau telah mengirimkan beberapa peringatan-peringatan awal agar si penyewa segera membayar sebelum diusir keluar. Adapun peringatan-peringatan itu antara lain sebagai berikut: rambut yang mulai beruban, namun si penghuni rumah masih juga tidak peduli, ia malahan melakukan toning rambutnya agar kembali menjadi hitam. Peringatan kedua adalah gigi yang mulai copot, namun si penghuni masih bisa mengakalinya dengan berkunjung ke dokter gigi. Peringatan ketiga adalah katarak yang mulai timbul di mata, namun kembali lagi hal ini bisa diakali melalui operasi dan dengan menggunakan kaca-mata khusus. Peringatan selanjutnya, kulit yang mulai berkeriput, tetapi manusia masih tidak peduli dan malahan menggunakan kosmetik untuk menutupi raut wajah yang sudah berkeriput itu. Sebagai langkah terakhir, si pemilik rumah memberikan peringatan dengan cara mengirimkan penyakit fatal yang memaksa agar para penghuni yang bandel itu segera mengosongkan rumahnya. Pertanyaannya adalah mengapa engkau begitu bersikeras untuk hidup sedemikian lama bagaikan kawanan burung gagak? Adalah jauh lebih berharga hidup dalam jangka pendek tapi bagaikan kawanan angsa yang terhormat. Jalanilah kehidupan ideal dengan melalui pengendalian mind (pikiran).

- Divine Discourse, February 5, 1981.

Monday, June 9, 2008

Sai Inspires 9th June 2008 ( Why is there pleasure as well as pain in our lives?)

In creation there are many things which are naturally bad. Out of these bad things, good emerges. When one desires something, the desire is associated with aversion to something else. Man's life is bound up with likes and dislikes, with good and bad thoughts, with union and separation. Hence samsara (worldly life) has been compared to a vast ocean on which the waves are constantly bringing about union and separation. The same ocean contains pearls and gems. Therefore, we have to face and overcome the trials and tribulations of life...If these difficulties are not there, life will have little value.

Di sekeliling kita (alam ciptaan Tuhan) tentunya terdapat banyak hal yang kurang baik. Di antara hal-hal yang tidak baik itu, muncullah kebajikan. Ketika engkau mendambakan sesuatu, maka sebenarnya keinginan ini muncul sebagai akibat engkau ingin menghindari sesuatu hal yang lain. Kehidupan manusia pasti akan berhadapan dengan rasa suka maupun tidak suka, diselingi oleh pikiran yang positif dan negatif, berhadapan dengan union (persekutuan) dan separation (perpisahan). Itulah sebabnya mengapa samsara (kehidupan di dunia ini) dapat diibaratkan seperti samudera luas dengan riak gelombangnya yang secara kontinu bersatu dan kemudian berpisah dan seterusnya. Di dalam samudera juga terdapat permata dan batu-batu mulia lainnya. Itulah sebabnya, kita harus siap untuk menghadapi segala bentuk cobaan dan tantangan hidup... Jikalau kesulitan-kesulitan seperti itu tidak ada, maka kehidupan ini menjadi tak ada nilainya.

- Divine Discourse, June 1st, 1991.

Sunday, June 8, 2008

Sai Inspires 8th June 2008 ( What is at the root of today's problems? And how can we overcome them?)

Human life today is riddled with many problems. People are confused as to what they should believe and what they should reject, what they should do and what they should eschew. Man has lost the capacity to discriminate between the enduring and the ephemeral. He believes in the unreal and has no belief in that which should be believed. The reason for this is self-interest. It is only when human behaviour is reformed that the world will get transformed. The process of change has to begin in men's minds... The state of the world, good or ill, depends on the behaviour of individuals. There is nothing wrong with the world in itself. It is man's wrong desires which are the cause of his misery. Hence, keep your minds ever pure and unsullied. Keep out rigorously all bad thoughts by reciting the name of the Lord.

Kehidupan manusia dewasa ini penuh dengan berbagai macam persoalan. Manusia telah kehilangan arah dalam hal memilih antara mana yang harus mereka yakini dan mana yang harus mereka tolak, mereka juga kebingungan dalam memilih antara apa yang harus mereka lakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Manusia telah kehilangan kemampuan diskriminatifnya. Ia justru lebih percaya terhadap hal-hal yang tidak real dan sebaliknya malah tidak yakin sama sekali terhadap sesuatu yang seyogyanya ia yakini. Sumber penyebab dari segala kekacauan ini adalah dikarenakan adanya self-interest (sifat yang terlalu mementingkan dirinya sendiri). Dunia ini hanya bisa mengalami transformasi jikalau manusia melakukan reformasi terhadap behaviour (sikap/perilaku)nya. Proses perubahannya haruslah dimulai dari mind masing-masing manusia.... Kondisi dunia ini (baik atau buruk), sangatlah dipengaruhi oleh behaviour masing-masing individu. Tidak ada yang salah dengan dunia ini. Penyebab segala bentuk penderitaan adalah dikarenakan oleh keinginan-keinginan manusia yang salah. Oleh sebab itu, engkau perlu menjaga batinmu agar senantiasa suci dan murni. Jauhilah segala bentuk pikiran-pikiran negatif dengan jalan senantiasa mengulang-ulang nama-nama Tuhan.

- Divine Discourse, June 1st, 1991.