Saturday, August 7, 2010

Sai Inspires 2nd August 2010



The timeless soul which is beyond delusion and darkness has to be cognised by every person through his/her own efforts. You have taken birth as inheritors of this estate of Eternal Bliss. You are the dearly loved children of the Lord. You are as pure and as sacred as air. Do not condemn yourselves as sinners. You are lion cubs, not sheep. You are wavelets of Immortality, not bodies compounded from matter. Material objects are there to serve you and do your bidding. You should not serve them and do their bidding.

Jiwa abadi yang melampaui khayalan dan kegelapan harus diketahui oleh setiap orang melalui usaha-usahanya sendiri. Engkau telah mengambil kelahiran sebagai pewaris sejati yaitu kebahagiaan abadi. Engkau adalah anak-anak yang sangat dikasihi Tuhan. Engkau murni dan suci bagaikan udara. Janganlah engkau menyalahkan dirimu sendiri sebagai orang yang berdosa. Engkau adalah singa, bukan domba. Engkau adalah gelombang keabadian, bukan badan yang merupakan kumpulan materi. Objek-objek material ada untuk melayanimu dan menuruti perintahmu. Engkau seharusnya tidak melayani mereka dan menuruti perintah mereka.

-Vidya Vahini, Chap 13.

Sai Inspires 1st August 2010


True devotion consists in offering all your thoughts and actions to God and yearning for His grace. Devotion confined to a brief spell in the pooja room (shrine) or temple is not true devotion. During that time, devotion seems to swell within you and you feel at peace but, once outside, the peace is lost and anger takes its place. This cannot be called devotion. Bhakti (Devotion) has been described as a state of non-separation from God. Regardless of time, space or circumstance, one should feel closeness to God – that is Bhakti. True devotion transcends the limitations imposed by one’s daily routines and the obligations of life.

Pengabdian (bhakti) yang sejati mempersembahkan semua pikiran dan tindakan-tindakanny a kepada Tuhan dan selalu mengharapkan berkat-Nya. Bhakti yang hanya dibatasi pada pengucapan mantra di ruang Pooja (kuil) atau temple, bukanlah bhakti yang sejati. Selama berjalannya waktu, bhakti kelihatannya bertambah besar di dalam dirimu, dan engkau merasakan kedamaian, tetapi sekali waktu kedamaian akan menghilang dan kemarahanlah yang menggantikannya. Hal ini tidak dapat disebut sebagai bhakti. Bhakti (pengabdian) telah digambarkan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Terlepas dari waktu, ruang, atau keadaan, orang seharusnya merasakan kedekatan dengan Tuhan – inilah yang disebut dengan Bhakti. Bhakti yang sejati melampaui batas-batas yang ditetapkan pada rutinitas sehari-hari dan kewajiban hidup.

- Divine Discourse, March 6, 1989

Sai Inspires - 31st July 2010


The story of the Lord's adventures is all nectar. It has no other component, content or taste. Everyone can drink their fill from any part of that ocean of nectar, just as sugar is sweet irrespective of whether it is eaten during the day or night. For, it is day or night only for the person who eats, not for the sugar. Sugar behaves uniformly always. So too, the love of God and the love for God are both eternally sweet and pure, whatever the method of accepting or attaining them. The same sweetness exists, everywhere, at all times, in every particle.

Kisah kemuliaan Tuhan adalah segala nektar. Kisah tersebut tidak memiliki komponen lainnya, tidak ada rasa lainnya, tidak ada konten lainnya. Setiap orang dapat meminum isi dari setiap bagian lautan nektar, seperti rasa gula yang manis tidak peduli apakah dimakan siang atau malam hari. Siang atau malam hanya berlaku bagi orang yang memakan gula tersebut, bukan pada gulanya. Gula selalu berperilaku yang sama. Demikian pula, cinta-kasih Tuhan dan cinta-kasih untuk Tuhan keduanya selamanya manis dan murni, apapun metode yang dipergunakan untuk menerima dan mencapainya. Ada rasa manis yang sama, dimana-mana, setiap saat, di setiap partikel.

- Bhagavatha Vahini, Chap 1, "The Bhagavatha"

Sai Inspires - 30th July 2010


It is a very difficult task to secure a good Guru. Sishyas (disciples) can become exemplary persons only when a real Guru accepts them. When pure-hearted, unselfish and non-egoistic students approach a Guru, the Guru exults in ecstatic delight. Parikshith, the Emperor, renounced everything and decided to realise God, and, right at that moment, Maharshi Suka appeared, to guide him straight to his goal. Similarly, when the good sishyas get good Gurus, they succeed not only in attaining Bliss but also in conferring peace, prosperity and joy upon the entire world.

Merupakan tugas yang sangat sulit untuk mendapatkan Guru yang baik. Sishyas (siswa) dapat menjadi teladan bagi orang lain hanya ketika Guru sejati menerima mereka. Ketika hati dimurnikan, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak egois, siswa mendekati Guru, Guru akan sangat bahagia. Raja Parikshith meninggalkan segala sesuatu dan memutuskan untuk menyadari Tuhan dan tepat pada saat itu, Maharshi Suka muncul untuk membimbingnya langsung menuju tujuannya. Demikian pula, ketika siswa yang baik mendapatkan guru-guru yang baik, mereka berhasil tidak hanya dalam mencapai kebahagiaan sejati tetapi juga memberikan kedamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan di seluruh dunia.

-Vidya Vahini, Chap 12

Thursday, July 29, 2010

Sai Inspires 29th July 2010


It is mentioned that "Success begets success." But how is success to be achieved and what is the success you should aim at? The Bhagavad Gita declares: Shraddhavan Labhathe Jnanam (The persevering seeker secures wisdom). This means that without perseverance and earnestness, no success can be achieved. Man is not able to make significant progress towards the Divine because of absence of strenuous striving in the spiritual sphere. Without spiritual practice, reading religious books and listening to spiritual discourses have no value. Study of scriptures and reciting God's names may be good acts in themselves. But, if there is no love, which is the basis of all sadhana (spiritual discipline), they are of no use.

Disebutkan bahwa "Sukses melahirkan sukses." Tetapi bagaimana keberhasilan yang akan dicapai dan apa tujuan keberhasilan itu? Bhagavad Gita menyatakan: Shraddhavan Labhathe Jnanam (Peminat spiritual yang tekun akan mencapai kebijaksanaan). Ini berarti bahwa tanpa ketekunan dan kesungguhan, tidak ada keberhasilan yang dapat dicapai. Manusia tidak dapat membuat kemajuan yang berarti menuju Tuhan disebabkan tidak adanya usaha yang keras dalam bidang spiritual. Membaca buku-buku agama dan mendengarkan wacana-wacana spiritual tidak akan ada artinya, jika tidak dibarengi dengan praktek spiritual. Mempelajari Kitab Suci dan mengulang-ulang Nama Tuhan merupakan tindakan baik bagi diri mereka sendiri. Tetapi, jika tidak ada cinta-kasih, yang merupakan dasar dari semua sadhana (disiplin spiritual), semuanya itu tidak akan ada gunanya.

- Sathya Sai Speaks, Vol-17, Ch-3

Wednesday, July 28, 2010

Sai Inspires 28th July 2010


It is creditable if you behave as a human being and even more laudable if you behave as God would. But to behave as a demon or a beast is indeed despicable. Human beings were long born as a mineral, then became a tree; in the process of evolution, got promoted to an animal, and finally rose to the status of a human being. It is a matter of great shame if an individual slides into the nature of a beast or an ogre. One deserves praise only if one rises to the Divine status. That is the fulfilment of one’s destiny. Avoid contact with the vices and develop attachment to virtues. Transmute your heart into an altar for the Lord. Destroy all the shoots and sprouts of desire. Then, your heart will be sublimated into a ksheerasagara, the pure ocean of milk where Lord Vishnu reclines. Your heart will be transformed and you will di scover endless delight.

Engkau akan lebih dihargai jika engkau berperilaku sebagai manusia dan bahkan lebih dihargai lagi jika engkau berperilaku seperti Tuhan. Tetapi jika engkau berperilaku buruk atau berperilaku binatang, itu benar-benar tercela. Dalam proses evolusi, manusia lahir sebagai mineral, kemudian menjadi pohon; meningkat menjadi binatang, sampai akhirnya menjadi manusia. Akan sangat memalukan jika seorang individu tergelincir ke sifat-sifat binatang atau raksasa. Seseorang layak mendapatkan pujian hanya jika naik ke status Tuhan. Itu adalah pemenuhan takdir seseorang. Hindari kontak dengan keburukan dan kembangkan keterikatan pada kebajikan. Ubahlah hatimu menjadi altar bagi Tuhan. Hancurkan semua bibit dan tunas keinginan. Selanjutnya, hatimu akan dimurnikan ke Ksheerasagara, lautan susu murni di kediaman Dewa Wisnu. Hatimu akan di transformasi dan engkau akan menemukan kebahagiaan yang tak akan berakhir.

- Bhagavatha Vahini, Chap 1, "The Bhagavatha"

Sai Inspires 27th July 2010


Tapas (penance) does not mean positioning oneself upside down, head on the ground and feet held up like a bat. Nor is it the renunciation of possessions and properties, wife and children, emaciating one’s body or holding the nose to regulate one’s breath. Physical actions, oral assertions and mental resolves—all three have to be in unison. The thought, the speech and the act, all have to be pure. This is the real Tapas. And they have to be co-ordinated not by the compulsion of duty. The effort must be undertaken for satisfying one’s inner yearnings, for the contentment of the Self. This struggle is the essence of Tapas.

Thapas (bertapa) bukan berarti melakukan postur posisi badan terbalik, kepala berada di tanah dan mengangkat kaki, seperti kelelawar. Bukan pula menolak harta benda dan kekayaan, istri dan anak-anak, menguruskan badan atau mengatur nafas. Tindakan, perkataan, dan pikiran– ketiganya haruslah sejalan. Pikiran, perkataan, dan perbuatan semuanya harus murni. Inilah Thapas yang sebenarnya. Dan mereka harus diseimbangkan bukan karena paksaan. Usaha-usaha harus dilakukan untuk memenuhi kerinduan batin untuk kepuasan sang diri. Perjuangan ini adalah esensi dari Thapas.

- Vidya Vahini, Chap 12.