Sunday, November 29, 2009

Sai Inspires 28th November 2009


Every spiritual aspirant must enter on the path of inquiry. If you aspire for peace and equanimity, the basic thing is you must have faith in the temporary nature of the world and be engaged in the uninterrupted contemplation of the Divine. Do not be bound by the selfish attachments. Engage yourself in the discharge of duties and do not allow yourself to be gladdened by success or saddened by failure. Be ready to renounce all that is harmful, and then leveraging discrimination, you can beat the drum of victory by attainingPrasanthi - supreme peace.

Setiap pengikut spiritual haruslah memasuki jalan penyelidikan diri. Jika engkau mendambakan kedamaian dan keseimbangan, hal yang paling mendasar adalah engkau harus memahami sifat semu dari keduniawian dan lakukanlah pemusatan pikiran yang tak tergoyahkan pada Tuhan. Jangan terjerat pada keterikatan yang mementingkan diri sendiri. Laksanakanlah tugasmu tanpa keterikatan akan hasilnya dan jangan biarkan dirimu menjadi gembira oleh keberhasilan dan berduka oleh kegagalan. Bersiaplah untuk menjauhkan diri dari segala hal yang membahayakan, dan kemudian dengan meningkatkan kemampuan memilah, engkau akan menabuh genderang kemenangan dengan mencapai Prasanthi – kedamaian tertinggi.

-Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Friday, November 27, 2009

Sai Inspires 27th November 2009


Suppose you write a letter to somebody - whatever be the contents of the letter, if it is put in an envelope and post it, whom will it reach? It will not be given to anyone and will not come back to the person who wrote it too. Instead, if, on the cover, the address of the person who wrote it and to whom it must go are both written, then it will not only reach the receiver, but one can even predict when it will reach its destination. So too, what are you doing with your letter - your life? You are ignoring this important question, and do not have time to think about it. You must first know your own full address - Who are you? You are theAtman. From where did you come? From the Supreme Self. Where are you going? To the Supreme Self. How long will you be here? Until you merge with the Supreme Self. Knowing this truth, engage yourself in acts that will help you enjoy the bliss of the Supreme, Self Same Atma.

Misalkan engkau menulis surat untuk seseorang – apapun isi surat itu, jika dimasukkan ke dalam amplop dan diposkan, akan sampai kepada siapakah? Surat itu tidak akan disampaikan ke siapapun dan juga tidak akan kembali pada si penulis. Sebaliknya, jika, pada sampul surat itu, dituliskan nama dan alamat si pengirim serta si penerima, maka surat itu tidak hanya akan sampai pada si penerima, namun juga akan bisa diperkirakan kapan sampainya surat itu pada tujuannya. Demikian juga, apa yang akan engkau lakukan dengan suratmu – hidupmu? Engkau mengabaikan pertanyaan penting ini, dan tidak punya waktu untuk memikirkannya. Pertama kali engkau harus mengetahui alamat lengkapmu – Siapakah dirimu? Engkau adalah Atman. Dari manakah engkau berasal? Dari Sang Diri Sejati yang Utama. Kemanakah engkau pergi? Kepada Ia yang Utama. Berapa lama dan sampai kapan engkau ada disini? Sampai engkau bersatu dengan Yang Utama. Dengan memahami kebenaran ini, libatkanlah dirimu dalam kegiatan yang akan membantumu untuk bisa menikmati kebahagiaan Utama, Atma Diri yang Sama.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Thursday, November 26, 2009

Sai Inspires 26th November 2009


Animals and human beings have these things in common - eating, wandering about, sleeping and seeking pleasure. However, human beings have other unique abilities like the power to reason out, the power to renounce and the power to decide on right and wrong. These are the special powers of human beings. These powers should be applied not only in worldly matters, but also in the investigation of the Ultimate Truth. If Discrimination, Renunciation and Inquiry are carried out while passing through the joys and sorrows of life, conviction is bound to dawn in a moment that all the worldly pleasures are unreal and have no basis for eternal joy. When such knowledge dawns, one is bound to tread the path of religion, perform Sadhana and take up the inquiry which leads him to Truth. This is the task that mankind must be engaged in.

Hewan dan manusia memiliki sifat-sifat umum berikut ini – makan, berkelana, tidur dan mencari kesenangan. Namun, umat manusia memiliki kemampuan khusus lain seperti misalnya kemampuan untuk memahami sesuatu, kemampuan untuk melakukan penyangkalan diri dan kemampuan untuk membedakan hal-hal yang benar dan salah. Itu semua adalah kemampuan khusus yang dimiliki umat manusia. Kemampuan ini seharusnya jangan hanya dipakai untuk hal-hal duniawi saja, namun juga untuk menyelidiki Kebenaran Sejati. Jika Kemampuan Memilah, Kemampuan Penyangkalan dan Kemampuan Menyelidiki bisa terus dimanfaatkan sembari melampaui kebahagiaan dan penderitaan hidup, maka akan muncul pendirian suatu saat bahwa semua kenikmatan duniawi adalah semu adanya dan tidak bisa menjadi dasar bagi tercapainya kebahagiaan yang abadi. Ketika pemahaman tersebut muncul, orang akan melangkah menurut ajaran agama, melaksanakan Sadhana dan mendalami pemahaman yang akan membawanya menuju pada Kebenaran. Ini adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat manusia.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Wednesday, November 25, 2009

Sai Inspires 25th November 2009


Engage in Sadhana (spiritual practices) with full faith in truth and the Lord. You will attain the real prasanthi...pure and eternal peace. There is no status higher than that of the Lord, no embodiment of His is higher than truth. Truth even if enveloped in the darkest illusion, will shine brilliantly! However strongly you may imprison it in darkness, its effulgence cannot be suppressed. Truth can never die. Untruth can never live. You must all get firmly established in this belief.

Lakukanlah kegiatan Sadhana (latihan spiritual) dengan penuh keyakinan pada kebenaran dan pada Tuhan. Engkau akan meraih prashanti yang sejati… suci murni dan kedamaian yang abadi. Tidak ada keadaan yang lebih tinggi daripada keadaan Tuhan, tidak ada perwujudan Tuhan yang lebih tinggi daripada kebenaran. Kebenaran bahkan jika dibalut oleh kabut khayalan tergelap, masih akan tetap bersinar dengan cemerlang! Bagaimanapun kuatnya engkau mengurungnya dalam kegelapan, gemerlapnya tidak akan dapat disembunyikan. Kebenaran tidak akan pernah mati. Ketidakbenaran tidak akan bisa hidup. Engkau semua harus mantap dalam keyakinan ini.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Tuesday, November 24, 2009

Sai Inspires 24th November 2009


The world is the Lord's Mansion. Know it as such. He is moving about in that mansion, in its many rooms. God's worship can be done well, only if the temple is clean and pure. Never forget the the fact that what gives your body the value and purpose is the Atma (Divine Self) within you. So engage yourselves in winning peace for yourself and the world. Never ignore the Lord whose mansion is the world. Without Him, the body is a tomb, not a temple. If you always remember Him, that is joy and victory; that will bring you all auspiciousness (sarva mangala).

Dunia ini adalah Rumah Tuhan. Pahamilah hal ini. Beliau berkeliling didalam rumah tersebut, mengunjungi kamar-kamarnya. Pemujaan kepada Tuhan bisa dilaksanakan dengan baik, hanya jika tempat suci tersebut bersih dan murni. Jangan lupa bahwa yang memberi nilai dan manfaat bagi badanmu adalah Atma (Sang Diri Illahi) di dalam dirimu. Jadi libatkanlah dirimu dalam usaha memenangkan kedamaian bagi dirimu dan seluruh dunia. Jangan pernah mengabaikan Tuhan yang memiliki dunia ini sebagai rumahNya. Tanpa Tuhan, badan ini hanyalah bagaikan sebuah kuburan, bukan tempat suci. Jika engkau selalu mengingat Tuhan, itu adalah kebahagiaan dan kemenangan; yang akan membawakanmu semua harapan baik (sarva mangala).

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 23, 2009

Sai Inspires 23rd November 2009


We have to treat others' suffering and difficulties as our own. We have to be amicable with one and all. We must develop faith in the maxim that we are "Ekatmaswarupas(Embodiments of One Divine Self). If our thoughts are good, we will always engage ourselves in satkarmas (good deeds). If you indulge in bad thoughts, you will see bad everywhere. If you eat a mango, can you get the belch of a cucumber? No! Similarly, if you always entertain good thoughts, you will see good everywhere. We must also develop a sense of discrimination to differentiate between the good and bad, and incorporate the good, leaving the bad behind. This principle should be followed in society too with all our fellow human beings. See good, do good and be good - that is the way to God!

Kita harus menganggap penderitaan dan kesulitan orang lain sebagai penderitaan dan kesulitan kita juga. Kita harus bersikap ramah kepada setiap dan semua orang. Kita harus meningkatkan keyakinan sebagaimana ungkapan bahwa kita semua adalah “Ekatmaswarupas“ (Perwujudan Tuhan Yang Maha Esa). Jika pikiran kita baik, maka kita akan selalu ada di dalam satkarmas (tindakan yang baik). Jika engkau tenggelam dalam pikiran yang buruk, engkau akan melihat keburukan di setiap tempat. Jika engkau makan buah mangga, akankah engkau mendapatkan hasil kunyahan berupa mentimun? Tidak! Sama halnya, jika engkau selalu menjaga pikiranmu dalam kebaikan, engkau akan melihat kebaikan di setiap tempat. Kita juga harus meningkatkan kemampuan untuk membedakah hal-hal yang baik dengan yang buruk, dan bergabung dengan yang baik, meninggalkan keburukan. Prinsip ini harus diikuti di dalam masyarakat oleh seluruh umat manusia. Lihatlah kebaikan, lakukanlah kebaikan dan jadilah baik – itu adalah jalan menuju Tuhan!

- Divine Discourse, 23 Nov, 2008

Sunday, November 22, 2009

Sai Inspires 22nd November 2009


Many do not understand the real meaning of "Deho Devalayam" (Body is the temple). What is the purpose of the body which is actually a temple? It is to worship the Lord within. The temple of body is to be preserved and decorated for the sake of God there in, the Atma Swarupa. Forgetting this, people are immersed in faith in the body, bliss of the body, decoration of the body and dedication to the body. Do not hold fast to the unreal, temporary outer building called the body. Nevertheless, you should maintain the body carefully and not ruin it, because through this temple, the Lord can be seen. Hence always watch your body with care and protect it and never neglect the Lord within.

Banyak orang yang tidak memahami makna “Deho Devalayam” (Badan adalah tempat suci). Apakah kegunaan dari badan yang juga sebagai tempat suci? Badan adalah tempat suci untuk memuja Tuhan yang ada di dalam diri kita. Tempat suci berupa badan tersebut haruslah dijaga dan dihias bagi Tuhan yang bersemayam disana, sang Atma Swarupa. Akibat melupakan hal ini, orang-orang tenggelam dalam keyakinan pada badan, kesenangan untuk badan, hiasan bagi badan dan mengabdi kepada badan. Janganlah begitu terikat pada bangunan luar yang sementara dan semu yang disebut dengan badan. Meskipun demikian, engkau harus merawat badanmu dengan sebaik-baiknya dan jangan menghancurkan badanmu, karena dengan melalui tempat suci inilah, maka Tuhan bisa terlihat. Oleh karena itu tetaplah menjaga badanmu dengan penuh perhatian dan melindunginya serta janganlah mengabaikan Tuhan yang bersemayam di dalamnya.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini