Tuesday, January 5, 2010

Sai Inspires 5th January 2010


In this created world, wisdom is enveloped in ignorance. So long as the lamp is burning, there will be a shadow beneath it. That is just inevitable. So too, when the flame of illusion is burning, the shadow of ignorance persists, right underneath! However, the Knowledge of Self destroys the ignorance, and wisdom does shine, just as Sunrise illumines the whole world and there is peace. To attain this result of peace, effort is super critical. The mind is conditioned to good or bad, by the environment. The reformers of today do not strive to transform the qualities of people. They are trying to bring about equality in economic matters, in outer life. Improving economic status alone will not bring about lasting peace. Lasting Peace can only be obtained, when character is moulded and developed. There is an urgent need to reform the character through the Knowledge of the Self. This reform alone will bear fruit - the fruit of peace and eternal bliss.

Di dunia ini, kebijaksanaan terbungkus oleh ketidaktahuan. Selama lampu pelita menyala, akan ada bayangan di bawahnya. Itu adalah hal yang tak terhindarkan. Demikian juga, ketika api khayal menyala, bayang-bayang ketidaktahuan akan muncul, tepat dibawahnya! Namun, Pengetahuan Diri yang Sejati akan melenyapkan ketidaktahuan tersebut, dan kebijaksanaan akan bersinar, sebagaimana Matahari Terbit yang menyinari seluruh dunia dan menebarkan kedamaian. Untuk mendapatkan kedamaian tersebut, usaha keras sangatlah penting. Pikiran dikondisikan pada hal baik atau buruk, oleh lingkungan. Para pendukung perubahan saat ini tidak berusaha mengubah sifat orang-orang. Mereka mengusahakan perbaikan di bidang ekonomi semata, di dunia jasmaniah. Memperbaiki status ekonomi saja tidak akan membawa kedamaian yang abadi. Kedamaian Abadi hanya bisa diraih, kalau karakter itu dibentuk dan dikembangkan. Saat ini sangat perlu untuk mengubah karakter dengan menggunakan Pengetahuan Diri yang Sejati. Hanya perubahan ini sajalah yang akan membuahkan hasil – yaitu kedamaian dan kebahagiaan abadi.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 4th January 2009


Unknowingly, you may create and develop in yourself an abounding variety of selfish habits and attitudes that causes great discontent for oneself. The impulse for this comes from the power complex, the greed for accumulating authority, domination, power and the greed for things which can never be eternal and full. You may feel elated that you are master of all arts or owner of all wealth or possessor of all knowledge...From where did you acquire these? You may even claim that you earned all this through your own efforts, labour and toil, but surely, you received it from someone. The source from which all power originates is Sarweswara (Lord of All). Omnipotence belongs only to the Lord of all beings. Ignoring the omnipotence and deluding oneself that the little power that one has acquired is one's own is indeed ahamkaara(selfishness, conceit, or pride). Ahamkaara causes grief and must be uprooted from within. It will not subsist in an individual filled with genuine devotion, recognized by the characteristics of kindness, love, patience, forbearance and gratefulness. Seek therefore, to develop these virtues in you.

Tanpa disadari, engkau mungkin menciptakan dan menumbuhkan di dalam dirimu sendiri berbagai macam kebiasaan dan sikap mementingkan diri sendiri yang menyebabkan kekecewaan besar bagi diri orang lain. Dorongan untuk melakukan hal tersebut datang dari himpunan kekuatan, keserakahan untuk menumpuk wewenang, kuasa, kekuatan dan berbagai macam keserakahan lain yang semu dan takkan terpuaskan. Engkau mungkin merasa senang menjadi ahli seni atau pemilik kekayaan atau pemilik ilmu pengetahuan… Dari manakah engkau mendapatkan semua itu? Engkau bahkan mungkin menyatakan bahwa semua itu engkau peroleh melalui usaha keras, kerja dan jerih payahmu, namun sebenarnya, engkau memperoleh semua itu dari seseorang. Sumber dari segala kekuatan adalah Sarweswara (Tuhan dari Segalanya). Kemahakuasaan hanya milik Tuhan seru sekalian alam. Mengabaikan kemahakuasaan Tuhan dan menipu diri bahwa sedikit kekuatan yang dimiliki seseorang adalah dari dirinya sendiri sebenarnya adalah ahamkaara(egoisme, kesombongan, atau keangkuhan). Ahamkaaramenyebabkan penderitaan dan harus dicabut sampai ke akar-akarnya. Ahamkaara tidak akan bisa hidup dalam diri seseorang yang penuh dengan pengabdian yang tulus, yang bisa dikenali dari sifat-sifat ramah, kasih, penuh kesabaran dan rasa syukur. Maka dari itu, berusahalah untuk menumbuhkan kebajikan tersebut dalam dirimu.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Monday, January 4, 2010

Sai Inspires 3rd January 2010


For attaining growth in spirituality, an ethical life is the foundation. This ethical life is based upon discrimination between Truth and Falsehood. Just as the pearl is retained while the shell is discarded, you must accept the Truth and reject the non-essentials. To achieve this, individual exertion and Divine Grace, both should be existent. You must constantly practice the great lesson that the body and the Soul are separate. This is a highly beneficial exercise. This will serve you to realize the Truth - the Truth that Divinity persists in all, which is God Himself.

Untuk bisa mencapai peningkatan secara spiritual, hidup dengan etika adalah dasarnya. Hidup dengan etika ini berdasarkan pemilahan antara Kebenaran dan Ketidakbenaran. Bagaikan mutiara yang tetap dijaga sementara cangkang kerang dibuang, engkau harus mempertahankan Kebenaran dan membuang hal-hal yang tidak penting lainnya. Untuk mencapai hal ini, usaha sendiri dan Anugerah Tuhan, keduanya haruslah ada. Engkau harus terus-menerus berusaha memahami bahwa badan dan Jiwa adalah berlainan. Ini adalah latihan yang berguna. Ini akan membawamu untuk bisa memahami Kebenaran – Kebenaran bahwa Ketuhanan itu hadir di dalam diri semua makhluk, yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Sai Inspires 2nd December 2010


The blemishes of the heart have to be washed by leading moral life and doing one's duty. A time may come when you become tired or weak - If it is, then you should pray thus: "Oh Lord, things have gone beyond my capacity. I feel further effort is too great a strain. Please give me strength." At first, God stands at a distance, watching your efforts like the teacher who stands apart when the student writes the answer to his questions. Then, when you shed your attachment to enjoyment and take to good deeds and service, God comes encouragingly near. For, He is like the Sun God, who stands waiting outside a closed door. Like the servant who knows the rights of the master and his own limitations, God does not announce His presence or bang the door. He simply waits! When you open the door just a little, the Sun rushes and promptly drives out the darkness from within. So too, when God's help is asked for, He is present by your side, with his Hands extended to render assistance. All that is needed is the wisdom to remember Him and the discrimination to pray and ask Him.

Kotoran yang melekat di hati harus dibersihkan dengan menjalankan hidup yang bermoral dan menunaikan kewajiban. Ada saatnya engkau merasa begitu lelah atau lemah – Jika benar begitu adanya, maka engkau harus berdoa: “Oh Tuhan, semua ini telah melampaui kemampuanku. Aku merasa apa yang harus kulakukan adalah terlalu berat. Tolong berilah aku kekuatan.” Pertama-tama, Tuhan seakan berdiri di kejauhan, memperhatikan usahamu bagaikan seorang guru yang mengawasi muridnya mengerjakan ujian dari sang guru. Kemudian, ketika engkau telah membuang keterikatanmu akan kesenangan dan berbuat baik serta melakukan pelayanan tanpa pamrih, Tuhan akan datang menghampirimu penuh semangat. Karena, Tuhan adalah bagai Sang Surya, yang berdiri menanti di luar pintu yang tertutup rapat. Bagaikan pelayan yang memahami sang tuan dan segala keterbatasannya, Tuhan tidaklah mengumumkan kehadirannya ataupun membuka pintu tersebut. Ia menanti! Ketika engkau sedikit saja membuka daun pintu, Sang Surya akan menerobos masuk dan dengan seketika melenyapkan kegelapan yang ada di dalam ruangan. Demikian juga, ketika Tuhan dimintai pertolongan, Ia akan hadir disampingmu, dengan tanganNya yang terentang siap untuk memberikan bantuan. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan untuk selalu mengingat Tuhan dan kemampuan untuk memilah kapan perlu berdoa dan memohon pertolonganNya.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Saturday, January 2, 2010

Sai Inspires 1st January 2010


In everything you do, use all the strength and talent with which you are endowed, speaking and acting truthfully. At first, you might fail in this and you might encounter difficulties and sufferings. But ultimately, you are bound to succeed and achieve victory and Bliss. Each one of you should pay constant attention to your habits and to the traits of your character. Always remember the maxim,Sathyameva Jayate (Truth alone Triumphs). Through your behavior and your way of life, you can realize the Truth and Paramathma (the Eternal Self).

Apapun yang engkau lakukan, gunakanlah segala kekuatan dan kemampuan yang telah dianugerahkan kepadamu, berbicara dan bertindaklah sejujurnya. Pertama kali, engkau mungkin akan gagal dan engkau mungkin akan menjumpai kesulitan dan penderitaan. Namun pada akhirnya nanti, engkau akan mencapai keberhasilan dan bisa meraih kemenangan dan Kebahagiaan. Engkau harus terus memperhatikan tingkah laku dan sifatmu. Ingatlah selalu akan hal ini, Sathyameva Jayate (hanya Kebenaran sajalah yang akan Menang). Melalui tingkah laku dan cara hidupmu, engkau akan bisa menyadari Kebenaran danParamathma (Sang Diri Sejati yang Kekal).

-Divine Discourse, Prema Vahini

Sai Inspires 31st December 2009


It is said, "mounam bhajaswa (pratice silence)". What ismounam (silence)? It does not mean keeping the mouth shut. It means, getting beyond the influence of all the senses and being established always in the consciousness of One's own Reality. When the mind withdraws from the external world, the tongue too becomes silent. All senses follow suit. That is real silence. Hence, you should learn to observe this world from afar, with an uninterested attitude. Then, you can also escape the wiles of the intellect which breeds doubts, delusions and dualistic diversions, that draws you away from Bliss and Peace. One who has reached that stage will be in highest peace and attain the highest joy.

Disebutkan bahwa, ”mounam bhajaswa (latihlah keheningan)”. Apakah itu mounam (keheningan)? Itu bukanlah berarti sekedar menutup mulut semata. Itu berarti, melampaui segala macam pengaruh dari semua indera dan menjadi berada di dalam kesadaran Diri Sejati. Ketika pikiran ditarik dari dunia luar, maka lidah juga akan menjadi diam. Semua indera akan mengikutinya. Ini adalah keheningan yang sejati. Maka dari itu, engkau harus belajar untuk memahami dunia ini dari kejauhan, dengan sikap yang tanpa ketertarikan. Maka, engkau juga akan bisa melepaskan diri dari tipu muslihat pikiran yang hanya akan menumbuhkan keraguan, khayalan dan keterpecahan dualistis, yang akan menarikmu menjauhi Kebahagiaan dan Kedamaian. Ia yang telah mencapai tahap tersebut akan berada pada kedamaian yang tertinggi dan akan mendapatkan kebahagiaan yang tertinggi.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini.

Sai Inspires 30th December 2009


The effulgence of the Divine Self is obscured by egoism or vanity. Therefore, when egoism or vanity (ahamkaara) is destroyed, all troubles end, all discontents vanish and Bliss is attained. As the Sun is obscured by mist, the feeling ofAhamkaara hides eternal bliss. Even if the eyes are open, a piece of cloth or cardboard can prevent vision from functioning effectively and usefully. So too, selfishness prevents a human being from seeing God, who is nearer to Him than anyone or anything. To bring the teachings of the Scriptures into one's actual life, you must scotch the feeling "I know" and open your eyes to the Real Essence and introspect on it. Then, you can attain bliss without fail.

Kecemerlangan Tuhan dibuat suram oleh keakuan atau kesombongan. Jadi, ketika keakuan atau kesombongan (ahamkaara) telah dihancurkan, maka semua kesulitan akan teratasi, semua ketidakpuasan akan lenyap dan Kebahagiaan Sejati akan bisa diraih. Bagaikan tertutupnya Sang Surya oleh kabut, demikian juga rasa Ahamkaaramenyembunyikan kedamaian abadi. Biarpun kedua mata kita terbuka lebar, sehelai kain atau sepotong kertas karton bisa menghalangi pandangan kita sehingga tidak bisa bekerja dengan baik dan berguna. Demikian juga, sifat mementingkan diri sendiri akan menghalangi manusia untuk bisa melihat Tuhan, dimana kita berada lebih dekat padaNya daripada orang lain atau apapun. Supaya bisa melaksanakan ajaran Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari, engkau harus menghilangkan perasaan ”Aku tahu” dan bukalah matamu pada Intisari Sejati dan berinstropeksi padanya. Maka, engkau akan bisa meraih kebahagiaan tanpa kegagalan.

- Divine Discourse, Prema Vahini