Wednesday, September 29, 2010

Sai Inspires 29th September 2010


Withdraw your mind from worldly thoughts and fix it on the Name of the Lord, Hari, who charms all hearts. Listen to the wisdom of the Divine, the Bhagavatha Thathwa with all your heart. There is no activity holier than that. There can be no greater spiritual exercise or discipline or vow. The human body is a worthy boat. The story of Lord Hari is the rudder in this world of constant change. Lord Hari is the boatman who will safely ferry you across Samsara, the sea of birth and death.

Tariklah pikiranmu dari pikiran duniawi dan perbaikilah dengan Nama Tuhan Hari, yang mempesona semua hati. Dengarkanlah kebijaksanaan Ilahi, Bhagavatha Thathwa dengan segenap hatimu. Tidak ada aktivitas yang lebih suci dari hal itu. Tidak ada latihan spiritual atau disiplin yang lebih besar dari hal tersebut. Tubuh manusia diibaratkan sebagai sebuah perahu yang berharga. Kisah Tuhan Hari adalah kemudi di dunia ini dari perubahan yang terus-menerus. Tuhan Hari adalah tukang perahu yang akan menyelamatkan kapalmu menyeberangi Samsara, lautan kelahiran dan kematian.


- Bhagavatha Vahini, Chap 27, "Enter Sage Suka"

Sai Inspires 28th September 2010


We may not always be able to know the reasons for our faith. It originates and is shaped by our personal likes and dislikes, our dominant feelings. But we must not become the target for anger, hatred, jealousy and the evil deeds they lead us into. We must cultivate broad, inclusive feelings. Only then are you entitled to acquire Vidya (higher learning), and you will earn respect in society. You must keep far away from narrow selfish thoughts, feelings and plans.

Kita mungkin tidak selalu dapat mengetahui alasan untuk keyakinan kita. Ia berasal dan dibentuk oleh perasaan dominan yang ada dalam diri kita, yaitu perasaan suka dan tidak suka. Tapi kita tidak harus menjadi sasaran bagi kemarahan, kebencian, iri hati, dan perbuatan buruk mereka yang membawa kita ke dalamnya. Kita harus mengembangkan dengan jelas, perasaan inklusif. Hanya setelah itu, engkau berhak untuk mendapatkan Vidya (pengetahuan tertinggi), dan engkau akan dihormati dalam masyarakat. Engkau harus membuang jauh pikiran yang mementingkan diri sendiri, perasaan, dan rencana-rencana yang sempit.

- Vidya Vahini, Chap 16.

Sai Inspires 27th September 2010


The scriptures are as affectionate to us as a mother is. They teach lessons as a mother does to her children, in conformity with the level of intelligence and according to the needs of time and circumstance. A mother with two children gives the strong and healthy one every item of food for which it clamours, but she takes great care not to overfeed the ailing child and gives it only those items that can restore it soon to good health. Can we, on that account, accuse her of being partial to one and prejudiced against the other in conferring love? The scriptures draw the attention to the secret and value of work (Karma). Work can improve life and set its ideals aright. Everyone must be instructed on how to transform work into beneficial activity. Yet, Karma is not all; it is only the means to the end. Advocacy of Karma is not the chief goal of the scr iptures.

Kitab suci penuh kasih sayang kepada kita seperti seorang ibu. Kitab suci mengajarkan pelajaran sebagai seorang ibu melakukannya bagi anak-anaknya, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan sesuai dengan kebutuhan waktu dan keadaan. Seorang ibu yang memiliki dua anak memberikan makanan dengan cara yang berbeda pada masing-masing anaknya. Pada anak yang sehat dan kuat, si ibu memberikan makanan apapun yang dimintanya, tetapi si ibu mengambil dengan hati-hati untuk tidak memberi makanan yang berlebihan bagi anak yang kurang sehat dan hanya memberikan makanan yang dapat segera memulihkan kesehatannya. Bisakah kita, pada kasus tersebut menyalahkan bahwa si ibu berat sebelah terhadap anak-anaknya? Kitab suci menarik perhatian pada rahasia dan nilai pekerjaan (Karma). Karma dapat meningkatkan kehidupan dan mengatur kehidupan menuju tujuan yang benar. Setiap orang harus diarahkan pada bagaimana mengubah suatu pekerjaan menjadi kegiatan yang bermanfaat. Namun, Karma bukanlah segalanya, melainkan hanya sebagai sarana untuk menuju tujuan akhir. Advokasi Karma bukanlah tujuan utama dari Kitab Suci.


-Sutra Vahini, Chap 4, "Transform work into dedication".

Sunday, September 26, 2010

Sai Inspires 26th September 2010


The ideas and pronouncements of others may often be personal, or may induce feelings of hatred between people. Why should we accept them as ours and mould our feelings accordingly? We should not try to shape our feelings and patterns of behaviour to conform to those of others. We must not relinquish our faith, our experience and our innate holiness. Born as human beings, moving about as educated persons, yet foolishly following others as sheep do and polluting the minds with ideas borrowed from others are things to be avoided.

Gagasan dan pernyataan dari orang lain sering menjadi gagasan pribadi, atau gagasan tersebut dapat menyebabkan perasaan benci di antara orang-orang. Mengapa kita menerimanya sebagai gagasan kita dan membentuknya sesuai dengan perasaan kita? Seharusnya kita tidak mencoba untuk membentuk perasaan kita dan pola perilaku kita agar sesuai dengan orang lain. Kita tidak boleh melepaskan keyakinan kita, pengalaman kita, dan kesucian yang merupakan sifat bawaan kita. Lahir sebagai manusia, bertindaklah sebagai orang berpendidikan, tapi dengan bodohnya kita mengikuti orang lain sebagai orang yang berpandangan picik, membuat dan mencemari pikiran dengan ide-ide yang dipinjam dari orang lain, hal-hal seperti inilah yang harus dihindari.

- Vidya Vahini, Ch 16 .

Saturday, September 25, 2010

Sai Inspires 25th September 2010


During the war, the palms of Lord Sri Krishna, soft and tender like lotus petals, developed boils all over, since the steeds strained their hardest, when they were restrained or controlled as He had to hold the reins tight. The Lord devoid of food and sleep, performed services both high and low, and kept ready both horses and chariot in perfect trim. He also went on various other sundry errands, which were fundamental to achieving victory. He bathed the horses in the river, attended to their wounds and applied balm to cure them. Basically, He acted as a servant in the household of Pandavas! He never assumed the role of the Universal Sovereign that is His real nature and status. That was the measure of His affection for those devoted to Him!

Selama perang, telapak tangan Sri Krishna, halus dan lembut seperti kelopak bunga teratai, walaupun timbul rasa panas di seluruh tangan-Nya ketika kuda-kuda menarik dengan sangat kuat, dan saat kuda-kuda itu telah mengendur atau terkendali, Beliau harus tetap memegang tali kekang dengan kuat. Tuhan itu sama sekali tidak makan juga tidak tidur, Beliau melakukan pelayanan baik yang tinggi dan yang rendah, dan menyiapkan dengan baik kuda dan kereta dalam kondisi yang sempurna. Beliau juga melanjutkan mengerjakan berbagai macam pekerjaan lainnya, yang mendasar untuk mencapai kemenangan. Beliau memandikan kuda-kuda di sungai, merawat luka-lukanya dan memakaikan balsem untuk menyembuhkan luka-luka tersebut. Pada dasarnya, Beliau bertindak sebagai pelayan dalam keluarga Pandawa! Beliau tidak pernah berperan sebagai Penguasa Universal yang merupakan sifat Beliau yang sesungguhnya. Itulah tanda kasih sayang Beliau kepada mereka yang berbhakti kepada-Nya!

- Bhagavatha Vahini, Ch 22.

Sai Inspires 24th September 2010


It is an arduous process for people to become aware of the One that is their core. People are of the essence of food (Annam). The gross body is the product of the food consumed. But within everyone there is a subtler force, an inner vibration named Vital Air (Prana). The mind (Manas) within is subtler still, and deeper and subtler than the mind is the intellect (Vijnana). Beyond the intellect, people have in them the subtlest sheath of spiritual bliss (Ananda). When people delve into this region of spiritual bliss, they can experience the reality, the Brahman (Divinity). That Divine awareness is indeed the most desirable.

Ini adalah proses yang sulit bagi orang-orang untuk menjadi sadar akan Atma yang merupakan inti mereka. Orang-orang menganggap makanan (Annam) yang esensi. Badan kasar adalah produk dari makanan yang dikonsumsi. Namun, di dalam diri setiap orang ada kekuatan yang lebih halus, yaitu getaran batin yang bernama Vital Air (Prana). Pikiran (Manas) ada didalamnya, dan yang lebih dalam dan lebih halus dari pikiran adalah intelek (Vijnana). Melampaui intelek, di dalamnya ada selubung paling halus yaitu kebahagiaan spiritual (Ananda). Ketika orang-orang menyelami kawasan kebahagiaan spiritual ini, mereka dapat mengalami reality (kebenaran) yaitu Brahman (Divinity). Sesungguhnya hanya kesadaran Ilahi-lah yang paling diinginkan

- Sutra Vahini, Ch 3, "Bliss is the Core of five vital sheaths"

Sai Inspires 23rd September 2010


Keep the mind and the intellect serene and sacred, free from dirt. When thoughts and feelings are impure and agitated, you cannot be calm and happy. When the mind is polluted, so are our reactions. To keep the mind clean, you must analyse sympathetically situations involving others and their activities, and then decide on how to react to them. You should not rush to draw conclusions. Adopting the reactions of others is certainly not desirable. You must resolve on any action only after intelligent discrimination and inquiry. “Some course of action is being followed by someone; so, we shall follow that course ourselves” - this attitude is mean and demeaning, it is a sign of weakness. It is the consequence of basic ignorance. Only sheep behave in that manner.

Jagalah pikiran dan intelek tenang, suci, serta bebas dari ketidakmurnian. Ketika pikiran dan perasaan tidak murni dan gelisah, engkau tidak bisa tenang dan bahagia. Ketika pikiran telah tercemar, reaksinya juga tercemar. Untuk menjaga pikiran tetap suci, engkau harus menganalisis dengan penuh perhatian situasi yang melibatkan orang lain dan aktivitas mereka, dan kemudian memutuskan bagaimana bereaksi terhadap mereka. Engkau seharusnya tidak perlu terburu-buru untuk menarik suatu kesimpulan. Mengadopsi reaksi orang lain sudah tentu tidak diinginkan. Engkau harus menyelesaikan tindakan apapun hanya setelah melakukan diskriminasi dan penyelidikan yang cerdas. "Beberapa tindakan dituruti dengan pengetahuan yang kurang, maka dari itu, kita seharusnya mengikuti diri kita sendiri" Tindakan yang dituruti dengan pengetahuan yang kurang merupakan tindakan yang buruk dan merendahkan, yang merupakan tanda kelemahan. Ini adalah konsekuensi dari ketidaktahuan yang mendasar. Hanya orang yang berpandangan piciklah yang berperilaku seperti tersebut.

- Vidya Vahini, Ch 16.

Wednesday, September 22, 2010

Sai Inspires 22nd September 2010


The shastras (scriptures) direct and counsel everyone. People yield to delusion and become one with the darkness caused by false values and attachment to the unreal - the “me” and “mine”. But scripture is the mother; she does not give up. She persists and pursues; she reminds people of their goal in order to ensure that they will be saved. One need not drink the entire ocean to know its taste; placing just one drop on the tongue is enough. Similarly, it is impossible to understand all the contents of the scriptures. It is enough if one grasps the important lesson that is elaborated therein and puts that lesson into practice. The lesson is: Constant thought of God.

Shastras (kitab suci) langsung dan mengarahkan setiap orang. Orang-orang menyerah pada khayalan dan menjadi satu dengan kegelapan yang disebabkan oleh nilai-nilai yang keliru dan keterikatan pada yang tidak nyata tersebut, "aku" dan "milikku". Namun kitab suci adalah ibu, yang tidak akan menyerah. Kitab suci bertahan dan mengejar, ia mengingatkan orang-orang akan tujuan mereka, untuk memastikan bahwa mereka akan diselamatkan. Seseorang tidak perlu minum seluruh samudra untuk mengetahui bagaimana rasanya air laut, hanya satu tetes di lidah sudah cukup untuk merasakannya. Demikian pula, adalah mustahil untuk memahami semua isi dari kitab suci. Sudah cukup jika seseorang memahami pelajaran penting yang diuraikan di dalamnya dan mempraktekkan ajaran tersebut. Pelajarannya adalah: Berpikir konstan pada Tuhan.

- Sutra Vahini, Chap 3, "The Vedas teach the constant thought of God".

Tuesday, September 21, 2010

Sai Inspires 21st September 2010


Engage yourselves in selfless service. The reward for it will come of its own accord. Do not have any doubts on this score. Whatever you undertake, do it with all your heart and to your full satisfaction. That satisfaction is all the reward and recompense that you will need. It will confer great strength on you. This is the virtue that you have to cultivate. Acquire this true wealth. Without goodness, all other riches are of no avail.

Libatkan dirimu dalam pelayanan tanpa pamrih. Pahala dari pelayanan akan datang dengan sendirinya. Janganlah ragu-ragu dalam hal ini. Apa pun yang engkau lakukan, lakukanlah dengan penuh kepuasan dan dengan segenap hatimu. Kepuasan itu adalah semua pahala dan imbalan yang akan engkau butuhkan. Hal ini akan memberi kekuatan besar padamu. Ini adalah kebajikan yang harus ditanamkan. Dapatkanlah kekayaan sejati ini. Tanpa kebaikan, semua kekayaan yang lain juga sia-sia.


-Divine Discourse, 11th March 1994

Monday, September 20, 2010

Sai Inspires 20th September 2010


Everyone is endowed with a hridaya (spiritual heart). When you fill your heart with love and compassion, peace will reign supreme in the world. There will be no jealousy, hatred or anger, but only love everywhere. Restlessness will disappear from the face of the earth. One who has filled his heart with compassion will always remain in peace. It is most essential to know this truth. People mistake hridaya for the physical heart but truly it represents the all-pervasive Atmic principle, in other words, the Aham. So you should keep your heart absolutely pure and sacred.

Semua orang diberkahi dengan Hridaya (hati spiritual). Bila engkau mengisi hatimu dengan cinta dan kasih sayang, kedamaian tertinggi akan menguasai dunia. Tidak akan ada kecemburuan, kebencian atau kemarahan, tetapi hanya cinta-kasih dimana-mana. Kegelisahan akan hilang dari muka bumi. Seseorang yang telah mengisi hatinya dengan kasih sayang akan selalu tetap dalam damai. Adalah sangat penting untuk mengetahui kebenaran ini. Orang-orang keliru menilai Hridaya hanya untuk hati (fisik), tetapi Hridaya sebenarnya merupakan prinsip Atma yang meliputi segalanya, dengan kata lain, 'Aham'. Jadi engkau seharusnya menjaga hatimu benar-benar murni dan suci.

-Vidya Vahini, Chap 16.

Sai Inspires 19th September 2010


What is spirituality? It is the resolute pursuit of cosmic consciousness. Spirituality aims at enabling a person to manifest in all its fullness the Chaitanya (Divine Cosmic Consciousness) that is present both within and outside oneself. It means getting rid of one’s animal nature and developing the divine tendencies in one's personality. It connotes breaking down the barriers between God and Nature and establishing their essential oneness. Today, people think that spirituality has no relation to mundane life, and vice versa; this is a big mistake. True divinity is a combination of spirituality and social obligations. National unity and social harmony are founded upon spirituality. It is the Divine that links spirituality and social existence.

Apa itu spiritualitas? Spiritualitas merupakan keteguhan hati untuk mengejar kesadaran kosmik. Spiritualitas bertujuan memungkinkan seseorang untuk mewujudkan segala pemenuhan yaitu Chaitanya (Kesadaran Cosmic Ilahi) yang selalu ada baik di dalam maupun di luar diri kita. Ini berarti menyingkirkan sifat hewani seseorang dan mengembangkan kecenderungan ilahi dalam dirinya. Ini juga berarti mendobrak penghalang antara Tuhan dan Alam dan membentuk kesatuan penting. Saat ini, orang berpikir spiritualitas tidak ada hubungannya dengan kehidupan duniawi, demikian juga sebaliknya. Ini adalah kekeliruan besar. Keilahian sejati adalah kombinasi dari spiritualitas dan kewajiban sosial. Persatuan nasional dan harmoni sosial dibangun diatas spiritualitas. Inilah Ketuhanan yang menghubungkan spiritualitas dan kehidupan sosial.

- Divine Discourse, 12th Feb 1991.

Saturday, September 18, 2010

Sai Inspires 18th September 2010


Many feel that it is human to err and that Bhagawan should forgive their lapses. In fact, if they were truly human, they should not commit mistakes at all. Even if sometimes a mistake is committed, willingly or unwillingly, it should not be repeated. It is a grievous error to think that it is natural for a human being to err. To follow the directives of the senses is the mark of an animal. To be guided by the Atma is the sign of a human being. None should attempt to justify his or her weaknesses and lapses as natural to a human being; they should be regarded as signs of mental debility. When you have truly acquired sense-control, you will experience the power of the Divine in you.

Banyak yang merasa bahwa jika manusia berbuat kesalahan, Bhagawanlah yang seharusnya mengampuni kesalahan mereka tersebut. Sebenarnya, mereka sama sekali tidak boleh melakukan kesalahan. Bahkan jika kadang-kadang engkau melakukan kesalahan, sengaja ataupun tidak sengaja, kesalahan tersebut seharusnya tidak diulangi lagi. Ini adalah kesalahan yang serius jika kita berpikir adalah wajar bagi manusia untuk berbuat salah. Selalu mengikuti arahan dari panca indera adalah ciri dari binatang. Selalu mengikuti pedoman dari Atma adalah ciri dari manusia. Tidak seorangpun seharusnya berusaha untuk membenarkan kelemahan dan kesalahannya sebagai sifat alami manusia. Hal tersebut seharusnya dianggap sebagai tanda-tanda kelemahan mental. Jika engkau benar-benar telah menguasai inderamu, engkau akan mengalami kuasa Ilahi di dalam dirimu.

- Divine Discourse, January 14, 1992.

Thursday, September 16, 2010

Sai Inspires 16th September 2010


Students have to pay great attention to an important quality—cleanliness, both outer and inner. When either of these is absent, that person becomes useless for any task. The clothes you wear, the books you read and the environment around you must be clean. This is the outer cleanliness. That is to say, every material object you deal with for living has to be kept clean. The body has to be scrubbed and washed every day, or else, it may cause infection to you and others. The teeth and eyes, the food and drink, all should be free from dirt. You can then lead a healthy life.

Siswa harus memberikan perhatian yang besar untuk kualitas yang penting yaitu kebersihan, baik lahir dan batin. Ketika salah satu dari kualitas ini tidak ada, kita akan menjadi tidak berguna untuk tugas apapun. Pakaian yang engkau kenakan, buku-buku yang engkau baca dan lingkungan di sekitarmu harus bersih. Ini merupakan kebersihan luar. Artinya, setiap materi objek yang berhubungan dengan hidup kita harus tetap bersih. Tubuh harus dibersihkan setiap hari, jika tidak, itu dapat menyebabkan infeksi pada dirimu dan juga pada orang lain. Gigi dan mata, makanan dan minuman, semua harus bebas dari kotoran. Selanjutnya engkau dapat menjalani hidup sehat.

- Vidya Vahini, Chap 16.

Wednesday, September 15, 2010

Sai Inspires 15th September 2010


Brahman (Divinity) is the source of all the Holy Texts and is therefore all-knowing. Brahman is the very source of illumination. Only the Omniscient One can be the source of the Vedas. Only the scriptures can liberate people through that illumination named knowledge. They regulate one's life and foster it, guarding it from grief. The Vedas offer comforting counsel; they deal with people affectionately and lead them forward, for they are received through venerable personages who attained the highest knowledge, Brahman.

Brahman (Tuhan) adalah sumber Kitab Suci dan oleh karena itu semua menyadarinya. Brahman adalah sumber cahaya. Hanya Yang Maha Mengetahui yang dapat menjadi sumber Veda. Hanya kitab suci yang dapat membebaskan orang-orang melalui cahaya, yaitu pengetahuan. Ia mengatur kehidupan dan memelihara kita, serta menjaga kita dari penderitaan. Veda memberikan saran yang menyenangkan, menguraikan dengan penuh kasih sayang dan selanjutnya mengarahkan kita, karena Veda didapatkan melalui orang-orang yang patut dimuliakan yang telah mencapai pengetahuan tertinggi, yaitu Brahman.

- Sutra Vahini, Chap 2, "The Vedas, Originating in Brahman, Reveal It"

Tuesday, September 14, 2010

Sai Inspires 14th September 2010


The hearts of the great will be so full of divine content and equanimity, that they will not be affected by the ups and downs of fortune. A fragrant flower will please one with its captivating scent, whether it is held in the left hand or in the right. So too, whether in the sky or in the forest, village or city, on the heights or the valley, the great will be equally happy. They know no change as demonstrated by the Pandavas in the epic Mahabharatha. Even though they were in the jungle, they were able to spend their days happily by the grace of Lord Krishna.

Hati yang agung akan sangat penuh dengan kebahagiaan ilahi dan ketenangan, tidak akan dipengaruhi oleh pengalaman baik dan buruk. Bunga yang harum, aromanya akan sangat menawan, baik itu dipegang di tangan kiri atau di tangan kanan. Demikian juga, apakah di langit atau di hutan, di desa atau di kota, pada ketinggian atau lembah, yang agung akan sama bahagianya. Mereka menyadari tidak akan ada perubahan, seperti yang ditunjukkan oleh Pandawa dalam wiracarita Mahabharatha. Meskipun mereka berada di hutan, mereka bisa menghabiskan hari-hari mereka dengan gembira dengan berkat Sri Krishna.

- Bhagavatha Vahini, Chap 20

Sai Inspires 13th September 2010


The Gita warns that any insult or injury or even neglect directed against any living being is an act that ridicules or hurts the Divine (“Sarva Jeeva Thiraskaaram Keshavam Prathigachchathi”) The Gita also clearly says, “Sunee chaiva svapaakecha, pandithaah sama darshinah”, that is, the learned man who has acquired humility through Vidya (knowledge) must deal with equal compassion and consideration for all living beings. Uniform kindness shown in this manner transforms itself into homogenous welfare for the recipients. Wishing well for all is the sign of one who has earned Vidya. The narrow vision that is limited to one community must be given up. Bhaarathiya culture thus emphasises the highest truth, the broadest vision.

Gita memperingatkan bahwa setiap penghinaan atau penderitaan atau bahkan mengabaikan setiap makhluk hidup adalah tindakan yang mengejek atau menyakiti Tuhan ("Sarva Jeeva Thiraskaaram Keshavam Prathigachchathi") Gita juga mengatakan dengan jelas, "Sunee chaiva svapaakecha, pandithaah sama darshinah ", artinya, orang terpelajar yang memiliki kerendahan hati yang diperoleh melalui Vidya (pengetahuan) harus memiliki kasih sayang dan perhatian yang sama terhadap semua makhluk hidup. Kebaikan yang sama yang ditunjukkan dengan cara seperti ini mengubahnya menjadi kesejahteraan yang homogen bagi penerimanya. Mengharapkan yang baik untuk semuanya adalah tanda dari orang yang telah menerima Vidya. Pandangan sempit yang terbatas pada satu komunitas harus disingkirkan. Budaya Bhaarathiya menekankan kebenaran tertinggi, yaitu pandangan yang lebih luas.

-Vidya Vahini, Chap 16.

Sai Inspires 12th September 2010


The genuine characteristics, the Swaroopa Lakshana, never undergoes change. It abides in all. The form, name, time or space may suffer change; but the core of truth (the Swaroopa Lakshana) will not alter. That core is denoted as Asthi (existence), Bhathi (luminescence) and Priyam (attractiveness) in Vedantic texts. Existence is the unchanging truth; it may change its form and name, in time and space, but the ‘is-ness’ is genuine. It makes itself known as existing, through the native characteristic of Prakasha (luminosity) or capacity to attract our awareness and confer knowledge. We can know it because it has luminescence; all things we are aware of have this innate characteristic. Each thing also has the nature of likeability, the capacity to invoke attachment and love as a result of usability. The above three together are the nature of God.

Lakshana Swaroopa, sifat sejati yang khas, tidak pernah mengalami perubahan. Ia ada dalam semuanya. Wujud, nama, waktu atau ruang bisa mengalami perubahan; tetapi inti kebenaran, Lakshana Swaroopa, tidak akan berubah. Dalam teks-teks Vedanta, inti tersebut dilambangkan sebagai Asthi (keberadaan), Bhathi (luminesensi) dan Priyam (daya tarik). Keberadaan adalah kebenaran yang tidak mengalami perubahan. Bentuk dan nama, dalam ruang dan waktu, mungkin dapat mengalami perubahan tetapi 'is-ness' adalah sejati. Itulah yang membuatnya dikenal sebagai yang ada, melalui sifat sejati, Prakasha (luminositas) atau kapasitas untuk menarik kesadaran kita dan memberikan pengetahuan. Kita bisa mengetahuinya karena hal tersebut memiliki luminesensi; kita tahu segala sesuatu memiliki karakteristik bawaan ini. Setiap hal juga memiliki sifat yang menyenangkan, kapasitas untuk menimbulkan keterikatan dan cinta-kasih sebagai akibat dari penggunaannya. Ketiga hal tersebut merupakan sifat Tuhan.

- Sutra Vahini, Chapter 2,"Never Changing Qualities of Godhead".

Sai Inspires 11th September 2010


Ganapathi is the embodiment of Buddhi (intellect) and Jnana (wisdom). Truth emerges out of wisdom and ultimately leads to Ananda (bliss). This is the teaching of Ganapathi. You are under the false impression that today is the birthday of Vinayaka, but He has neither birth nor death; neither beginning nor end. He is the Eternal Witness. All the festivals of Bhaarath (India) are suffused with deep inner meaning. They are highly sacred. Festivals are not meant just for preparing and consuming delicious items. Their purpose is to remind us of Divinity. On festival days, you decorate your houses with buntings of green leaves and also wear new clothes, discarding the old ones. Likewise, you should give up your past bad habits and cultivate new and sacred ideas.

Ganapathi merupakan perwujudan dari Buddhi (intelek) dan Jnana (kebijaksanaan). Kebenaran muncul dari kebijaksanaan dan akhirnya mengarah ke Ananda (kebahagiaan sejati). Ini adalah ajaran Ganapathi. Engkau berada di bawah anggapan yang keliru bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Vinayaka, tetapi Beliau tidak mengalami kelahiran maupun kematian. Beliau tidak memiliki awal maupun akhir. Beliau adalah saksi abadi. Semua perayaan-perayaan Bhaarath (India) diliputi dengan makna batin yang mendalam. Perayaan tersebut sangat suci. Perayaan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mempersiapkan makanan yang lezat dan kemudian menikmatinya. Perayaan dimaksudkan untuk mengingatkan kita akan Ketuhanan. Pada hari-hari perayaan, engkau menghiasi rumahmu dengan bendera-bendera daun hijau dan engkau juga memakai baju baru, menyingkirkan baju yang lama. Demikian juga, engkau harus melepaskan kebiasaan burukmu dan menanamkan gagasan-gagasan yang baru dan suci.

- Divine Discourse: September 13, 1999 .

Saturday, September 11, 2010

Sai Inspires 10th September 2010


If you seek Vidya (knowledge), you must possess kindness, compassion and love towards all living beings. Compassion to all beings should be your very nature. If it is absent, you become a boor. Vidya means, more than anything else, the quality of genuine concern for all living beings. If you bear ill-will against any being, your education has no meaning. The advice given in the Gita, “Adweshta Sarva Bhoothanam (with no ill-will towards any being)," conveys the same message. Love and compassion must not be limited to mankind only; they must embrace every living being.

Jika engkau mencari Vidya (pengetahuan), engkau harus memiliki kebaikan, kasih sayang dan cinta-kasih terhadap semua makhluk. Kebaikan untuk semua makhluk seharusnya menjadi sifat sejatimu. Jika tidak, engkau akan menjadi orang yang tidak beradab. Vidya berarti lebih dari apa pun, memiliki sifat belas kasihan terhadap semua makhluk. Jika engkau memiliki perasaan benci terhadap makhluk apa saja, pendidikan yang engkau dapatkan tidak ada artinya. Nasehat yang diberikan dalam Gita, "Adweshta Sarva Bhoothanam," (dengan tidak menyakiti makhluk apapun), menyampaikan pesan yang sama. Cinta-kasih dan belas kasihan tidak harus dibatasi hanya untuk umat manusia. Cinta-kasih harus merangkul setiap makhluk hidup.

-Vidya Vahini, Ch 16.

Sai Inspires 9th September 2010


Every being has its own Dharma or innate specialty or individuality or special characteristics. This rule applies equally to blades of grass and the stars. The cosmos is not one continuous flux; it progresses persistently towards achieving a totality in the qualities and circumstances. But if you are too immersed in the all-pervasive delusion, you cannot elevate yourself. When in delusion, you are not aware of the path of peace and harmony in the world. You will also not be able to hold on to the good and avoid the bad, and establish yourself in the righteous path. However, you can transform yourself from the present status through self-effort and discrimination. The moral forces permeating the cosmos will

Setiap manusia memiliki Dharma sendiri atau sifat bawaan yang khusus atau individualitas atau karakteristik khusus. Aturan ini juga berlaku sama bagi bumi dan langit. Alam semesta bukanlah satu-satunya yang mengalami perubahan secara terus-menerus. Hal ini berlangsung terus-menerus untuk mencapai totalitas dalam kualitas dan keadaan. Tetapi jika engkau terlalu terbenam dalam khayalan, engkau tidak dapat mengangkat dirimu sendiri. Ketika berada dalam khayalan, engkau tidak menyadari jalan menuju kedamaian dan keselarasan di dunia. Engkau juga tidak akan mampu berpegang pada yang baik dan menghindari yang buruk, serta menentukan dirimu di jalan yang benar. Namun, engkau dapat mengubah dirimu dari status sekarang ini melalui usaha sendiri dan kemampuan membedakan. Kekuatan moral menembus alam semesta pasti akan meningkatkan pencapaianmu!certainly promote your achievement!

- Sutra Vahini, Chapter 2, "The Path of Righteousness".

Wednesday, September 8, 2010

Sai Inspires 8th September 2010


Every educated person and student must cultivate simplicity and discard ostentation. If they are addicted to pompousness, they lose their genuine nature or individuality. Even if a person is a master of all sciences or famous as a great intellectual, he is certain to be counted out of scholars and pundits if he has no humility and discipline in his dealings with others. He may win respect for some time but that will decline pretty soon. Alertness to serve and simplicity alone will confer honour on a person. When one gives up an attitude of pretentiousness, one earns permanent respect from people. Real education imparts a spirit of renunciation, a dislike for ostentation, and the yearning for serving others.

Setiap siswa dan orang yang berpendidikan harus memupuk kesederhanaan dan harus menyingkirkan kesombongan. Jika kesombongan sudah melekat, mereka akan kehilangan sifat sejati mereka atau bersifat individualitas. Bahkan jika seseorang menguasai semua ilmu pengetahuan atau menjadi orang terkenal sebagai seorang pemikir besar, ia tentu tidak akan dimasukkan dalam hitungan para sarjana dan cendekiawan jika ia tidak memiliki kerendahan hati dan disiplin dalam bertingkah laku dengan orang lain. Mereka mungkin dihormati beberapa saat, tetapi sikap tersebut akan segera menurun. Hanya dengan melayani dan kesederhanaan seseorang akan dihargai. Ketika seseorang melepaskan kesombongan, ia bisa mendapatkan rasa hormat permanen dari orang-orang. Pendidikan sejati mengajarkan agar kita tidak mementingkan diri sendiri, tidak sombong, dan memiliki kerinduan untuk melayani orang lain.

-Vidya Vahini, Chap 15

Tuesday, September 7, 2010

Sai Inspires - 7th September 2010


One may be subjected to calumny, insult and dishonour; Or plunged into poverty or pain; but the person who has surrendered to the Will of God will welcome each of these gladly and bear it with equanimity. The Lord will never give up His children. Those devoted to God have to be patient and calm, under the most poignant provocation. The fact is the pious and the God-fearing are those who are most visited by travails and troubles: in order to teach mankind these great truths, Krishna enacted the drama in Mahabharatha, with the Pandavas as the cast. Every incident in their lives is but a scene in His Play.

Orang bisa menjadi sasaran fitnah, penghinaan dan tidak dihargai, mereka mungkin jatuh ke dalam kemiskinan atau penderitaan, tetapi bagi mereka yang telah pasrah total kepada Kehendak Tuhan akan menyambutnya dengan senang hati dan menanggung semua itu dengan sikap yang tenang. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Mereka yang mengabdikan diri (Bhakta) kepada Tuhan harus sabar dan tenang, walaupun berada di bawah kesedihan yang mendalam. Kenyataannya adalah, orang-orang yang beriman dan takut pada Tuhan adalah mereka yang sering mendapatkan penderitaan dan masalah: untuk mengajarkan manusia akan kebenaran ini, Sri Krishna telah memerankan drama dalam Mahabharatha, dengan Pandawa sebagai pemainnya. Setiap kejadian dalam hidup mereka hanyalah sebuah adegan dalam Permainannya-Nya.


- Bhagavatha Vahini, Chap 19, "Pandavas, an example for Kali Age"

Monday, September 6, 2010

Sai Inspires 6th September 2010


The bubble born of water floats in it and bursts to become one with it. All the visible objective worlds are like the bubbles emanating from the vast ocean of Divinity, Brahman. They are on the water and are sustained by water. How else can they arise and exist? Finally, they merge and disappear in water itself. For their origination, subsistence, and mergence, they depend only on water. Water is one; bubbles are plentiful. Water is real; bubbles are appearances. Water is the basis; bubbles are delusive forms of the same imposed on it.

Gelembung dihasilkan dari air mengapung didalamnya dan kemudian pecah menjadi satu dengannya. Semua objek-objek duniawi terlihat seperti gelembung yang berasal dari samudra luas Ketuhanan, yaitu Brahman. Gelembung itu ada di atas air dan ditopang oleh air. Bagaimana pula gelembung-gelembung itu ada dan muncul? Akhirnya, gelembung-gelembung itu menyatu dan menghilang di dalam air itu sendiri. Gelembung-gelembung itu hanya tergantung pada air baik untuk asal mulanya, kehidupannya, dan kembali pula menyatu dengan air. Air itu satu dan gelembung itu banyak. Air adalah nyata; gelembung hanyalah sesuatu yang terlihat. Air merupakan dasar; dan gelembung merupakan bentuk palsu yang sama yang dikenakan di atasnya.

- Sutra Vahini, Chap 2.

Thursday, September 2, 2010

Sai Inspires 2nd September 2010


Love has no reason. Love is the basis for love. Only through this love, we can attain God. Any other spiritual pursuits give us temporary joy not permanent bliss. Only through the principle of love and its practice, we can recognize and realize the Embodiment of Love. Where is this Love? This love is within us, but we divert this in different ways. We have a variety of sweets, but the same sugar is present in all of them. Similarly, Divine Love is inherent and immanent in everybody; there is no human heart bereft of love. So, we should visualize the love which is in everybody. To teach this path of love, Lord Krishna incarnated who said, "Yadaa, Yadaahi Dharrmasya Glaanir Bhavathi Bharatha; abhyuthaanam adharrmasya, Tadaatmaanam Srujaamyaham - Whenever the hearts of human beings become barren, because of unrighteousness and lovelessness, in order to sow the seeds of love and in order to propagate the principle of love, God incarnates.< /p>

Cinta-kasih itu tanpa alasan. Cinta-kasih adalah dasar bagi cinta-kasih. Hanya melalui cinta-kasih ini, kita bisa mencapai Tuhan. Setiap pencarian spiritual lainnya memberikan kepada kita kebahagiaan yang sementara bukan kebahagiaan yang permanen. Hanya melalui prinsip cinta-kasih dan mempraktekkannya, kita dapat mengenali dan menyadari Perwujudan Cinta-kasih. Dimanakah Cinta-kasih ini? Cinta-kasih ini ada dalam diri kita, tetapi kita mengalihkankannya dalam berbagai cara. Kita memiliki berbagai macam manisan, tetapi gula yang sama ada dalam semua manisan tersebut. Demikian pula, Cinta-kasih Tuhan senantiasa ada dan tak terpisahkan dalam setiap orang, tidak ada hati manusia yang tidak memiliki cinta-kasih. Jadi, kita seharusnya memvisualisasikan cinta-kasih dalam diri semua orang. Untuk mengajarkan jalan cinta-kasih, Sri Krishna bersabda, "Yadaa, Yadaahi Dharrmasya Glaanir Bhavathi Bharatha; abhyuthaanam adharrmasya, Tadaatmaanam Srujaamyaham - Kapanpun hati manusia kering, yang disebabkan oleh ketidakbenaran dan kebencian, agar supaya menabur benih cinta-kasih dan menyebarkan prinsip cinta-kasih, maka Tuhan akan menjelma.


- Divine Discourse, August 14, 1998.

Sai Inspires 31st August 2010


There is a technique by which the Immortal Spirit can be discovered. Though it may appear difficult, each step forward makes the next one easier, and a mind that is made ready by discipline can discover the Divine basis of man and creation in a flash. There is no short-cut to this consummation. One has to give up all the tendencies that one has accumulated so far and become light for the journey. Lust, greed, anger, malice, conceit, envy, hate – all these tendencies have to be shed. It is not enough to listen to spiritual discourses and count the number you have listened to. The only thing that counts is practising at least one of those teachings.

Ada caranya bagaimana Immortal Spirit dapat ditemukan. Walaupun mungkin sangat sulit, setiap langkah yang dilalui akan membuat langkah selanjutnya menjadi lebih mudah, dan pikiran akan siap dengan disiplin yang kemudian mampu menemukan dasar penciptaan manusia dalam sekejap. Tidak ada jalan singkat untuk melaksanakan hal ini. Seseorang harus melepaskan semua kecenderungan negatif bahwa seseorang telah mengumpulkan sampai begitu jauh dan menjadi cahaya dalam perjalanannya. Nafsu, ketamakan, kemarahan, kedengkian, keangkuhan, iri hati, kebencian - semua kecenderungan negatif ini harus dilepaskan. Tidaklah cukup mendengar wacana spiritual dan menghitung berapa jumlah wacana yang telah engkau dengarkan. Satu-satunya yang penting dilakukan adalah mempraktekkan setidak-tidaknya salah satu ajaran yang telah engkau dengarkan tersebut.


- Divine Discourse, 8th December, 1964

Sai Inspires 30th August 2010


A true scholar should not entertain egoism in his thoughts at any time. However, the misfortune is that scholars as a class are today afflicted with unbounded egoism. As a consequence, they follow incorrect ideals and take to wrong paths. They confer the benefits of education only on themselves and on their kith and kin. As a result, they forgo their position among sajjans (noble men) and the respect it can bring. One must grant generously to others the knowledge, skill and insight that one has acquired. If this is not done, human progress itself is endangered. In order to promote the best interest of mankind, one has to cultivate the holy urge of paropakaaram (service to others) and the attitude of sharing.

Seorang terpelajar sejati seharusnya tidak mengembangkan egoisme dalam pikirannya. Akan tetapi, kesulitannya adalah bahwa para terpelajar saat ini telah dibelenggu dengan egoisme yang tidak terbatas. Maka akibatnya mereka mengikuti tujuan yang salah dan mengambil jalan yang salah. Mereka memberi manfaat pendidikan hanya untuk diri mereka sendiri serta sanak keluarga mereka. Sebagai hasilnya, mereka melupakan posisi mereka diantara Sajjans (orang-orang mulia) dan orang-orang yang menghargai mereka. Seseorang harus memberikan dengan murah hati pada orang lain pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang telah diperolehnya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka kemajuan umat manusia akan terancam. Untuk memajukan umat manusia, seseorang harus mengembangkan dorongan suci untuk melayani orang lain (Paropakaaram) dan memiliki sikap berbagi dengan yang lainnya

-Vidya Vahini, Chap 15

Sai Inspires 29th August 2010


Consider what happens when a person sees a dry stump of a tree at night: he/she is afraid that it is a ghost or a bizarre human being. It is neither, though it is perceived as either. The reason for this misperception is darkness. The absence of light superimposes on something another object that is not there. In the same manner, the darkness that is spread through maya (false perception) veils and renders unnoticeable the Primal Cause, Brahman (Divine Self), and imposes the cosmos on it as a perceptible reality. This deceptive vision is corrected by the Jnana (awakened consciousness) and transmuted into the vision of Prema (Universal Love).

Bayangkanlah apa yang terjadi ketika seseorang melihat batang pohon kering di malam hari: ia ketakutan mengira batang pohon itu sebagai hantu atau manusia yang aneh. Penyebab dari kekeliruan ini adalah kegelapan. Kegelapanlah menyebabkan adanya sesuatu pada sesuatu hal lain yang sebenarnya tidak ada. Dengan cara yang sama, kegelapan yang disebarkan melalui Maya (persepsi yang keliru) menyelubungi kesadaran akan Brahman sebagai Penyebab Utama, dan menerapkan hal itu pada alam semesta, sebagai suatu realitas yang nyata. Pandangan yang keliru ini diperbaiki oleh Jnana (kesadaran yang dibangkitkan) sehingga berubah menjadi Prema (kasih yang universal).

-Sutra Vahini, Chap 2

Sai Inspires 28th August 2010


Education is rendered noble when the spirit of service is inculcated. The service rendered must be free of the slightest trace of narrow selfishness. That is not enough. The thought of service should not be marred by the desire for something in return. You have to perform the service as you would perform an important Yajna (sacrificial ritual). As trees do not eat their fruits but offer them to be eaten by others in an attitude of detachment; as rivers, without drinking the waters they carry, quench the thirst and cool the heat from which others suffer; as cows offer their milk, produced primarily for their calves, in a spirit of generosity born of Tyaga (renunciation), to be shared by others; so too you should offer yourself to others prompted by the motive of service and without consideration of selfish interests. Only then can you justify your status as sajjana (noble men).

Pendidikan yang diberikan akan sangat mulia ketika semangat pelayanan ditanamkan. Pelayanan yang diberikan harus terbebas dari jejak mementingkan diri sendiri. Inipun belum cukup. Pikiran pada saat melakukan pelayanan seharusnya tidak boleh dirusak oleh keinginan untuk mendapatkan balasannya. Engkau harus melakukan pelayanan seperti engkau akan melakukan suatu Yajna penting (ritual pengorbanan). Sikap tanpa keterikatan, diperlihatkan oleh pohon, ia tidak memakan buah-buahan yang dihasilkannya, tetapi memberikan buah-buahan itu untuk dimakan oleh orang lain, seperti sungai, ia tidak meminum air yang dibawanya, tetapi air dapat melepas dahaga dan mendinginkan panas bagi mereka yang memerlukannya; seperti sapi yang memberikan susunya, yang sebenarnya dihasilkan terutama untuk anak-anaknya, kemudian dengan semangat kemurahan hati yang timbul dari Thyaga (pengorbanan), maka susu itu dibagikan pada orang lain, demikian juga engkau seharusnya memberikan dirimu pada orang lain didorong oleh motif pelayanan dan tanpa mempertimbangkan kepentinganmu sendiri. Hanya dengan melakukan hal ini, kemudian engkau dapat disebut sebagai Sajjana (orang mulia).

- Vidya Vahini, Chap 14.

Sai Inspires - 27th August 2010


It is due to the gift of His Divine Grace that we survive in this world. Every drop of blood coursing through our veins is but a drop from the shower of His Grace. Every muscle is but a lump of His Love. Every bone and cartilage is but a piece of His mercy. It is clear that without Him we are but bags of skin. But, unable to understand this secret, we strut about boasting “I achieved this,” and “I accomplished this.”

Berkat karunia-Nya kita bisa hidup di dunia ini. Setiap tetes darah yang mengalir melalui pembuluh darah kita hanyalah setetes dari percikan rahmat-Nya. Setiap otot hanyalah segumpal Kasih-Nya. Setiap tulang dan tulang rawan hanyalah bagian dari rahmat-Nya. Jelas bahwa tanpa Beliau kita ada tetapi hanya berupa kantong kulit saja. Tetapi, kita tidak mampu memahami rahasia ini, dan menyatakan dengan kesombongan "aku mencapai hal ini," dan "aku berhasil melakukan ini."

- Bhagavatha Vahini, Chap 8, "Dhridarashtra transformed".