Sunday, August 31, 2008

Sai Inspires 31st August 2008 (What is the purpose of bhajans in our lives?)


Bhajan is one of the processes by which you can train the mind to expand into eternal values. Teach the mind to revel in the glory and the majesty of the Lord and wean it away from petty horizons of pleasure. That is all that bhajan or pooja can do. Bhajan induces in you a desire for experiencing the truth, to glimpse the beauty that is God, and taste the bliss that is the Self. It encourages man to dive into himself and be genuinely his real self. Once that search is desired, the path is easy. One has to be constantly reminded that he/she is Divine.


Bhajan adalah salah-satu proses dimana engkau bisa melatih mind (batin) agar bergelut dalam nilai-nilai luhur nan abadi. Ajarkanlah mind agar ia senanitasa merenungkan kemuliaan Tuhan serta menjauhinya dari kenikmatan sesaat. Inilah yang dapat dicapai melalui bhajan maupun pooja. Bhajan akan menimbulkan keinginan untuk merasakan sendiri kebenaran, untuk melihat keindahan Tuhan serta untuk mencicipi bliss yaitu Sang Atma (Self). Bhajan akan mendorongmu agar menyelam ke dalam dirimu sendiri guna merealisasikan jati-dirimu yang sejati. Apabila terdapat dorongan demikian, maka jalan untuk mencapainya akan menjadi mudah. Yang terpenting adalah engkau harus selalu ingat bahwa dirimu adalah Divine.

Saturday, August 30, 2008

Sai Inspires 30th August 2008 (Is religion responsible of all the conflict in the world today?)

Religion is being condemned as the root of chaos and conflict. In spite of great progress in many other areas of life, religious animosity is aflame even today in many parts of the world. It has to be emphasised that religion is not the root cause of this state of affairs. The factional fights and fanatic hatred are due to the unruly ego that is given free play. Religion strives to destroy just this vicious tendency. So it has to be supported, not condemned. What has to be condemned is the narrow, perverted attitude of hating those who do not agree with you or who hold different opinions of the mysterious force that animates the universe. When people are blind to the truth that the human family is one indivisible Unity, they grope in the dark and are afraid of strange touch. The cultivation of love, alone, can convince man of this truth that there is only one caste - the caste of Humanity, and only one religion - the religion of Love. Since no religion upholds violence or despises love, it is wrong to ascribe the chaos to religion.

Agama sering dijadikan kambing-hitam atas terjadinya kekacauan dan konflik di dunia ini. Walaupun kemajuan telah tercapai di berbagai bidang kehidupan, namun permusuhan yang berbau keagamaan masih terjadi di berbagai belahan dunia. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa agama bukanlah akar penyebab dari kondisi itu. Pertikaian dan kebencian fanatis tersebut diakibatkan oleh karena sepak-terjang sang ego dibiarkan secara tak terkendali. Agama justru berusaha menghancurkan kecenderungan negatif seperti itu. Oleh karenanya, seharusnyalah kita mendukungnya dan bukannya malah menyalahkannya. Yang harus disalahkan adalah sikap berpikiran sempit yang dimiliki oleh mereka yang tidak setuju denganmu ataupun mereka yang memiliki pandangan berlawanan terhadap kekuatan misterius yang mengerakkan alam semesta ini (Tuhan). Apabila orang-orang masih belum sadar bahwa seluruh umat manusia adalah bagaikan satu keluarga besar yang terjalin dalam satu Unity, maka selama itu pula mereka masih bergelut dalam kegelapan dan alergi/takut terhadap pihak-pihak lain yang tidak sejalan dengan idealisme mereka. Satu-satunya jalan keluarnya adalah melalui pemupukan cinta-kasih guna meyakinkan kebenaran bahwa hanya ada satu kasta, yaitu kasta kemanusiaan dan hanya ada satu agama, yaitu agama cinta-kasih. Oleh karena tidak ada satupun agama yang mendukung tindak kekerasan maupun menjauhi cinta-kasih, maka sungguh salah bila kita menuding agama sebagai biang-kerok dari kekacauan tersebut.

-Divine Discourse, October 1, 1976.

Friday, August 29, 2008

Sai Inspires 29th August 2008 ( What should be done to remove the fear of a spiritual aspirant?)

Cast away the vice of egoism, the evil of greed and the poison of envy. When you seek joy from something outside you, remember that a far greater joy lies in wait, within your own inner consciousness. When you are afraid of someone or something outside you, remind yourself that fear is born, fed and fertilised in your own mind and that you can overcome it by denying it. How can fear counter the path of a spiritual aspirant? It can hide in no shadow; it can pester no Saadhaka (Spiritual aspirant), who has God in his heart. Faith in God is the armour that the Saadhaka wears. People of all lands are Saadhakas, whether they know it or not. Be steady, do not waver, keep straight on, hold fast to the ideal without despair. Do not turn away sadly if God doesn't shower Grace when you expect. Pray until God relents.

Buanglah jauh-jauh sikap-sikap seperti egoisme, keserakahan dan keiri-hatian. Apabila engkau selama ini mencari kebahagiaan di luar, maka mulai ingatkanlah dirimu bahwa kebahagiaan sejati justru ada di dalam, yaitu di dalam inner consciousness-mu. Jika engkau merasa takut terhadap seseorang atau sesuatu di luar, maka ingatkanlah dirimu bahwa sumber ketakutan itu justru ada di dalam mind-mu dan engkau sebenarnya memiliki daya kekuatan untuk mengingkarinya. Bagaimanalah mungkin ketakutan menjadi penghalang bagi seorang aspiran spiritual? Ia (ketakutan) tidak akan bisa menjegal seorang Saadhaka (aspiran spiritual) yang mempunyai Tuhan di dalam hatinya. Keyakinan terhadap Sang Ilahi adalah perisai yang dikenakan oleh para saadhaka. Manusia dari segenap penjuru pada hakekatnya adalah Saadhakas, baik mereka menyadarinya maupun tidak. Milikilah keyakinan yang mantap, berjalanlah terus serta berpegang-teguh kepada idealisme tanpa ragu. Janganlah berpaling dari Tuhan ketika Rahmat belum dicurahkan kepadamu. Berdoalah hingga Beliau menganugerahkannya.

-Divine Discourse, October, 1976.

Thursday, August 28, 2008

Sai Inspires 28th August 2008 ( When can we make our hearts a delightful abode of the Lord?)

The world is a furnace and factory. You must shape your destiny through honest and untiring efforts. If you take up this challenge and spend your allotted years, skills and intelligence in a purposeful activity, then you are really entitled to the status of "Karma Yogi." >From dawn to dusk, you must utilise every ounce of your energy in work that is beneficial to yourself and the people of the country. You should not waste time in wasteful habits; you must devote your strength and stamina for productive aims. You must strive to feed and foster your family and sit down for meals with them in the happy family circle. Then, God will be delighted to reside in your heart.

Dunia ini ibaratnya seperti sebuah tungku dan pabrik. "Takdir/nasib"-mu terbentuk melalui seberapa jujur dan uletnya usaha-usaha yang engkau lakukan. Apabila engkau bersedia menerima tantangan ini dan menghabiskan masa hidupmu, ketrampilan serta kepintaranmu dalam aktivitas-aktivitas yang bermanfaat; maka barulah engkau layak untuk diberi status sebagai "Karma Yogi." Dari mulai sejak pagi hingga petang, hendaknya engkau betul-betul memanfaatkan energi/tenaga-mu untuk melakukan hal-hal yang memberi manfaat bagi dirimu dan juga orang lain. Janganlah engkau membuang-buang waktu secara percuma; kerahkanlah segenap tenaga dan staminamu untuk hal-hal yang bersifat produktif. Engkau harus berjuang untuk memberi nafkah keluargamu dan duduk makan bersama-sama dalam satu lingkaran happy family. Dengan demikian, Tuhan akan senang berdiam di dalam hatimu.

-Divine Discourse, March, 1974.

Wednesday, August 27, 2008

Sai Inspires 27th August 2008 ( What is the litmus test of true friendship?)

If a person is adopting wrong ways, a true friend should not be afraid of pointing out his errors with a view to improving him. You should make a determination to cultivate friendships only based upon Prema (Love). Only such sacred friendships associated with Prema, springing from the fountain of one's heart, is true friendship. It is not enough to merely share joy with each other; it is more important to share sorrow with each other. True friendship is that, which enables one to help others, at all times, and in all circumstances. You must transcend dissension and live in harmony, by raising your hearts to God.

Jikalau seseorang mengadposi jalan yang salah, maka sebagai teman yang sejati, seyogyanya engkau tidak perlu takut untuk menunjukkan kesalahannya dengan tujuan untuk mengoreksinya. Hendaknya engkau membulatkan tekadmu untuk menjalin persahabatan yang dilandasi oleh Prema (cinta-kasih). Persahabatan sejati adalah persahabatan suci yang bersumber dari dalam hati serta dijiwai oleh cinta-kasih. Tidaklah cukup bila engkau hanya sekedar berbagi kesenangan/kebahagiaan semata, tetapi tidak kalah pentingnya adalah bahwa engkau juga siap untuk berbagi kesusahan satu sama lainnya. Persahabatan sejati adalah jenis persahabatan yang memungkinkanmu untuk membantu yang lainnya di setiap saat dan keadaan. Engkau harus sanggup mengatasi rasa suka dan tidak suka serta hidup dalam keharmonisan dengan mempersembahkan hati nuranimu kepada-Nya.

-Divine Discourse, Summer Showers, 1973.

Tuesday, August 26, 2008

Sai Inspires 26th August 2008 ( How to conquer a mountain of trouble?)

Through very small effort, great things can be accomplished. A huge serpent can be destroyed by a large number of small ants. Do not consider yourself small. Seek to acquire the strength and determination to carry out your duties. In the world, difficulties crop up from time to time. Jealousy towards one's betters is quite common. Crows have animus against the cuckoo. Cranes jeer at swans. Neither the cuckoo nor the swan is worried. The world has many such envious beings. Do not allow yourself to be overwhelmed by such experiences. You have to confront them boldly and stand up for truth.

Berkat upaya yang kecil sekalipun, banyak hal-hal besar yang akan bisa tercapai. Seekor ular yang besar bisa ditaklukkan oleh sejumlah besar semut-semut kecil. Oleh sebab itu, janganlah engkau menganggap dirimu kecil. Berusahalah untuk memupuk segenap tenaga dan kebulatan-tekad untuk melaksanakan tugas/tanggung-jawabmu. Di dunia ini, persoalan datang silih-berganti. Sikap-sikap cemburu umum kita jumpai. Kawanan burung gagak merasa tidak senang terhadap burung cuckoo. Demikian pula, kawanan burung bangau juga berperilaku yang sama terhadap kawanan angsa. Namun walaupun begitu, baik burung cuckoo maupun angsa – kedua-duanya tidak merasa terganggu. Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti itu. Janganlah engkau membiarkan dirimu terlalu terlarut dengan pengalaman-pengalaman seperti ini. Engkau harus tangguh menghadapinya dan berdiri di atas dasar kebenaran.

- Divine Discourse, June 18, 1989.

Monday, August 25, 2008

Sai Inspires 25th August 2008 ( What kind of discrimination should we apply while performing actions?)

Good and evil, happiness and misery, merit and sin depend on one's actions. As is the action, so is the result. It is easy to indulge in sinful deeds, but it is very difficult to bear the bad results they yield. Therefore, use your sense of discrimination, before performing an action. The upanishads say, "Thasmai Namah Karmane" (Salutations to the action). This means you should perform your actions, giving up the sense of ego, so that it becomes sacred. Then, such actions will bring you good name and will also contribute to the welfare of the world.

Baik dan jahat, bahagia dan sedih, pahala dan dosa - semuanya itu tergantung pada tindakanmu sendiri. Sebagaimana perbuatanmu, maka demikianlah yang akan engkau dapatkan. Sungguh sangatlah mudah untuk terjebak dalam perbuatan/tindakan yang tidak benar, tetapi akan sangat sulit sekali bagimu untuk menanggung hasilnya nanti. Oleh sebab itu, sebelum melakukan sesuatu, senantiasa pergunakanlah kemampuan diskriminatifmu. Kitab Upanishad menyatakan, "Thasmai Namah Karmane" (Penghormatan terhadap tindakan/action). Pengertiannya adalah bahwa dalam melakukan tugas/kewajibanmu, janganlah memiliki rasa ego agar hasil perbuatanmu menjadi murni/suci. Dengan demikian, maka hasil tindakanmu akan memberikan nama baik serta berkontribusi bagi kesejahteraan dunia.

Divine Discourse, April 14, 2001.

Sunday, August 24, 2008

Sai Inspires 24th August 2008 (What is the inner significance of the Name, "Krishna"?)

"Krishna" means to attract, to draw. "Krishna" draws the mind away from sensory desires. He pulls the mind away from everything else, which is inferior, less valuable. He pulls the mind towards Him and satisfies the deepest thirst of man - for peace, joy and wisdom. Thirst for Krishna, for seeing Him, hearing Him and His Flute, for installing Him in the heart, in the mind, for grasping His Reality through the intellect - this thirst is the healthiest, most conducive to peace. Devotion to Krishna is the chain by which the monkey mind can be fastened and subdued.

"Krishna" artinya Ia yang menjadi daya tarik. Dengan perkataan lain, "Krishna" mengalihkan mind (batin) dari keinginan-keinginan indriawi. Ia menarik perhatian mind dari hal-hal yang bersifat inferior dan kurang berharga. Sebaliknya, Krishna akan mengarahkan mind kepada diri-Nya serta memuaskan dahaga manusia atas kedamaian, kebahagiaan dan kebijaksanaan. Dari semua bentuk rasa dahaga, maka boleh dikatakan bahwa dahaga atas Krishna – yaitu kerinduan untuk melihat-Nya, mendengar-Nya dan alunan seruling-Nya, menempatkan-Nya di dalam hati dan mind serta keinginan untuk memahami realitas-Nya melalui intellek – merupakan dahaga yang paling berharga dan sehat serta sangat kondusif bagi pencapaian peace (kedamaian). Bhakti terhadap Krishna adalah bagaikan mata-rantai yang mampu mengendalikan monkey mind (kebinalan pikiran).

- " Sathya Sai Speaks", Volume 6: 'Krishna Thrishna'

Saturday, August 23, 2008

Sai Inspires 23rd August 2008 (How do we recognize if we are on the right-track in the spiritual path?)

The thirst for Krishna (God) is a sign of health in the spiritual field. Not to have it is a sign of "Bhava Roga" - the disease that afflicts worldly persons, the symptoms being grief, discontent, pain and worry, even when health and wealth are endowed. The thirst for God can be cultivated by the reading of scriptures, the cultivation of congenial company, lessons from a kind and considerate Guru and regular practice of Japam. Once it is acquired, the thirst itself will lead you on to places and persons able to quench it. This is also the advantage of the spiritual quest; the first step makes the second easy.

Rasa-haus atas Krishna (Tuhan) adalah merupakan pertanda kesehatan di bidang spiritual. Apabila engkau tidak memiliki dahaga seperti itu, maka itu adalah pertanda "Bhava Roga" - yakni penyakit yang menjangkiti manusia-manusia duniawi, gejala-gejalanya (di tengah-tengah kekayaan materi) antara lain: penderitaan, ketidak-puasan, penyakit dan kegelisahan. Rasa-haus kepada Tuhan dapat dipupuk melalui pembacaan kitab-kitab suci, pergaulan/satsang yang baik, mendengarkan ajaran-ajaran dari Guru yang layak serta melalui praktek japam secara teratur. Setelah engkau berhasil menemukannya, maka selanjutnya engkau akan dituntun kepada tempat dan sosok yang sanggup untuk memuaskan dahaga itu. Inilah keuntungan dari pencarian spiritual; yang menjadikan langkah berikutnya menjadi lebih mudah.

- Sathya Sai Speaks, Volume 6: 'Krishna Thrishna".

Friday, August 22, 2008

Sai Inspires 22nd August 2008 ( How can we give up attachment and ego?)

Attachment presents never ending attraction towards objects. But it is very easy to renounce! Simply think: "Everything belongs to God. Nothing is mine!" This is the way to transcend attachment. You can say, "My home, my land, my wife, my child, my wealth, my car and so on, but bear in mind this: These are for use only, not for ownership. They are God's property. You must part with everything at death. So, gradually, decrease the idea of "mine." Experience the world with your power of discrimination. Use the world to engage in constructive actions, to walk the path of truth.

Kemelekatan (attachments) bersifat menjerat dirimu terhadap obyek-obyek duniawi. Sebetulnya tidaklah sulit untuk melatih ketidak-melekatan! Caranya adalah dengan merenungkan point berikut ini, yaitu bahwa “Segalanya adalah milik Tuhan. Tak ada sesuatupun yang merupakan milikku!” Beginilah caranya untuk mengatasi kemelekatan. Engkau boleh saja berkata, “Ini adalah rumahku, tanahku, istriku, anakku, kekayaanku, mobilku dan seterusnya”, tetapi ingatlah selalu hal ini: Bahwa semuanya itu hanya untuk dipergunakan olehku, bukan untuk dimiliki. Segalanya adalah milik Tuhan. Engkau harus berpisah darinya di kala kematian menjemputmu. Dengan demikian, secara perlahan-lahan, koreksilah pemahamanmu terhadap kepemilikan itu. Jalanilah kehidupan di dunia ini dengan menggunakan kekuatan diskriminasimu. Berdaya-gunakanlah dunia ini dengan senantiasa memelihara pemikiran-pemikiran yang konstruktif serta berjalanlah di atas jalan kebenaran.

- Divine Discourse, 1995.

Thursday, August 21, 2008

Sai Inspires 21st August 2008 ( How should we progress each day?)

The most important element in man's existence is Sankalpa (firm thought). As are the thoughts, so is the speech. As is the speech, so are the actions. The harmony of these three will lead to the experience of Divinity. Words come out of the heart. They should be filled with compassion. The heart is the abode of compassion. It is the source of love. Hence, whatever emanates from the heart should be filled with love. That love should express itself in speech. The flow of love in speech should find concrete expression in action.

Elemen yang paling penting dalam eksistensinya sebagai manusia adalah Sankalpa (kebulatan tekad). Sebagaimana pikiranmu, maka demikianlah ucapanmu. Dan sebagaimana ucapanmu, maka demikian pula tindakan yang hendaknya engkau lakukan. Harmonisasi dari ketiga komponen ini akan menuntunmu dalam experiencing Divinity. Ucapan-ucapan yang dilontarkan dari dalam hatimu haruslah bernafaskan welas-asih (compassion). Hati nurani adalah merupakan abode (tempat tinggalnya) compassion, ia adalah sumber cinta-kasih. Oleh sebab itu, yang keluar dari dalam hatimu hanyalah cinta-kasih yang selanjutnya diekspresikan dalam bentuk ucapan. Aliran cinta-kasih dalam ucapanmu itu hendaknya diekspresikan dalam bentuk tindakan nyata.

- Divine Discourse, Sep 17, 1995.

Wednesday, August 20, 2008

Sai Inspires 20th August 2008 ( How can we stay healthy all the time?)

The Shastras (scriptures) say that envy, greed, lust, anger are all Vyaadhi Kaaranam (source of diseases). One afflicted with these qualities may consume the most healthy food, but, it will not confer good health; he/she will suffer from various digestive and nervous troubles. Therefore, one must cut dry the evil tendencies with the sharp sword of Jnaana (spiritual Wisdom). One must pray to the Lord for His Grace, that will enable him/her to control and conquer the evil qualities. With God's grace, one can be saved from contact with these evil qualities.

Kitab-kitab suci (Shastras) menyatakan bahwa sikap seperti keiri-hatian, keserakahan, nafsu dan kemarahan adalah merupakan Vyaadhi Kaaranam (sumber penyakit). Walaupun seseorang mungkin mengkonsumsi makanan yang paling sehat, namun apabila dirinya sudah terjangkiti oleh 'penyakit-penyakit' tadi, maka makanan yang super sehat itupun tak akan bisa memberikan kesehatan prima baginya; sebab ia tetap akan menderita berbagai macam penyakit pencernaan dan syaraf. Oleh sebab itu, adalah penting sekali bagimu untuk memotong habis kecenderungan negatif dengan pedang tajam Jnaana (kebijaksanaan spiritual). Engkau harus berdoa kepada Tuhan untuk memperoleh rahmat-Nya, sehingga dengan demikian engkau akan sanggup untuk mengendalikan dan menaklukkan kualitas diri yang negatif. Berkat karunia-Nya, maka engkau akan terselamatkan dari bersinggungan dengan kualitas-kualitas jahat itu.

Divine Discourse, Nov 23, 1966

Tuesday, August 19, 2008

Sai Inspires 19th August 2008 ( Where is righteousness in today's world?)

Righteousness dwells in your heart. It is in your conduct, your thoughts, words and deeds. When the impulses arising from the heart are expressed in words, that is Sathya, Truth . To put into action, such words arising out of purity, is Dharma, Righteousness...Love in action is Righteousness. Love in speech is Truth. Love in thought is Peace. Love in understanding is non-violence. Realize that God is in everyone and practice non-violence.

Nilai-nilai kebajikan telah ada di dalam hatimu. Hal itu (dapat) tercermin melalui perilaku, pikiran, ucapan dan perbuatanmu. Ketika di dalam hatimu timbul dorongan (untuk berbuat kebajikan) yang kemudian dinyatakan dalam bentuk ucapan, maka itu dinamakan sebagai Sathya (Kebenaran). Mengimplementasikan ucapan itu dalam bentuk perbuatan, hal ini dinamakan Dharma (perbuatan bajik).... Cinta-kasih dalam pebuatan disebut sebagai Rigtheousness (kebajikan). Cinta-kasih dalam ucapan adalah Truth (kebenaran). Cinta-kasih dalam pemikiran adalah Peace (kedamaian), dan cinta-kasih dalam pemahaman adalah non-violence (tanpa-kekerasan). Sadarilah bahwa Tuhan ada di dalam diri setiap orang dan praktekkanlah non-violence (tanpa-kekerasan).

- Divine Discourse, Sep 17, 1995.

Monday, August 18, 2008

Sai Inspires 18th August 2008 (How to attain success in our spiritual journey?)

Those aspiring for success in the spiritual field must decide to control anger, to subdue the vagaries of the mind with its changing resolution to do and not to do things.  They must put down their mental agitations and worries and see that they do not create worry in others also.  They must convince themselves that in everyone, there is "Shivam", recognizable as the breath..  They must develop Universal Love (Vishwa Prema) and demonstrate it in their words and deeds.  May you all win Sathyam, Shaanthi, Sukham (Truth, Peace, Joy) through this means.  May you all merge in the source of allAanandam (Divine Bliss).

Bagi mereka yang beraspirasi untuk menggapai kesuksesan di bidang spiritual, maka mereka harus mampu untuk mengendalikan kemarahannya serta mengatasi kebinalan mind yang selalu berubah pikiran. Mereka harus mengesampingkan gejolak mental serta kekhawatirannya sekaligus memastikan bahwa mereka juga tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap orang lain. Mereka harus meyakinkan dirinya bahwa di dalam diri setiap orang terdapat "Shivam" yang dikenal sebagai nafas (kehidupan).... Mereka harus mengembangkan cinta-kasih Universal (Vishwa Prema) dan memperlihatkannya dalam ucapan dan perbuatannya. Semoga engkau mendapatkan Sathyam, Shaanthi

Sunday, August 17, 2008

Sai Inspires 17th August 2008 (How can we remember the Divine all through the day, amidst the daily chores?)

You should not be ever entangled in the meshes of this world and its problems.  Try to escape into the purer air of the spirit as often as you can, taking the name of the Lord on your tongue.  Of the 24 hours of the day, have 6 hours for your individual needs, 6 hours for the service of the others, 6 hours for sleep and 6 hours for dwelling in the Presence of the Lord.  Those six hours will endow you with the strength of steel.

Janganlah engkau membiarkan dirimu terjebak dalam kekusutan dunia dan persoalan-persoalannya. Cobalah untuk mencari "udara segar" sesering mungkin, yaitu dengan mengulang-ulang nama-nama Tuhan. Dari 24 jam dalam satu hari, gunakanlah 6 jam untuk kebutuhan pribadimu, 6 jam untuk pelayanan terhadap orang lain, 6 jam untuk tidur dan 6 jam untuk perenungan terhadap Sang Ilahi. Rentang waktu enam jam tersebut akan membekalimu kekuatan dan kekebalan laksana besi-baja.

                             Divine Discourse, May 23 2002.

Saturday, August 16, 2008

Sai Inspires 16th August 2008 (How can we redeem our lives?)

If you want to transform the world, to promote all-round prosperity in the country, pray that "All people should be happy."   For the prayer to become a reality, develop faith in the Self.  Never forget God.  All beings are manifestations of the Cosmic Divine.  The forms are different, but the spirit that animates them all is One, just like the current that illumines the bulbs of different colours and different wattage.  Cultivate this feeling of oneness and do not be critical of any faith or religion.  Dedicate your lives to the service of your fellow beings, thereby redeeming your lives.

Jikalau engkau hendak mentransformasikan dunia ini serta mengupayakan kesejahteraan bagi negara, maka ucapkanlah doa "Semoga semua mahluk berbahagia." Agar doa tersebut menjadi kenyataan, maka kembangkanlah keyakinan terhadap diri (Atma). Janganlah melupakan Tuhan. Semua mahluk hidup adalah manifestasi Divine Cosmic. Walaupun wujudnya berbeda-beda, namun jiwa (spirit) yang melandasinya adalah sama dan satu adanya, ibaratnya seperti arus listrik yang menjadi daya penerang untuk bola-bola lampu dari berbagai jenis warna dan watt. Tanamkanlah semangat persatuan ini dan janganlah mengkritik keyakinan maupun agama manapun juga. Dedikasikanlah kehidupanmu bagi pelayanan sesamamu, sehingga dengan demikian kehidupanmu mencapai makna & manfaatnya.

                                    - Divine Discourse, September 17, 1995.

Friday, August 15, 2008

Sai Inspires 15th August 2008 ( What can we do to sanctify our lives despite the troubled times?)

India and the world today are suffering from disorder and violence because people have lost Aathma-Vishvaasa (Faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the spirit. This is incorrect. Whatever you do, deem it as God's work. This can be applied to every ordinary act in daily life, whether it is sweeping the floor, cooking or cutting vegetables. Every one of these acts can be turned into a spiritual exercise by the spirit in which you do it. Install the Divine in your hearts and carry on your duties with devotion and dedication.

India dan negara-negara lain di dunia ini sedang mengalami penderitaan dewasa sekarang ini sebagai akibat ketidak-teraturan dan kekerasan yang disebabkan oleh karena manusia telah kehilangan Aathma-Vishvaasa (keyakinan terhadap diri sejatinya). Mereka terlalu melekat pada badan jasmaninya dan melupakan Spirit (jiwa/atma). Tindakan seperti itu sungguh tidaklah benar. Apapun juga pekerjaan yang sedang engkau lakukan, anggaplah itu sebagai pekerjaan Tuhan. Perlakuan serupa bisa diaplikasikan dalam tindakan sehari-hari, baik itu berupa pekerjaan menyapu, memasak ataupun memotong sayuran. Dengan semangat seperti itu, maka setiap bentuk tindakan/pekerjaan bisa dijadikan sebagai latihan spiritual. Tempatkanlah Divine di dalam hatimu dan jalankanlah tugas dan kewajibanmu dengan bhakti dan dedikasi.

- Divine Discourse, Sep 17, 1995.

Thursday, August 14, 2008

Sai Inspires 14th August 2008 ( To live a happy life, what should we earn?)

Develop largeness of heart. The heart is not a physical organ. It derives its name "Hridaya" from the fact that it is a seat of daya (Compassion). Develop compassion for all. Go forward from the narrow feelings of "I" and "mine" to "We" and "Ours". It is not easy to comprehend the formless, attributeless, infinite Divine. The truth of the Divine has to be discovered and experienced by each and everyone. The Divine is omnipresent... You must lead a life of truth and Godliness based on this conviction. Strive to make the nation an upholder of truth and righteousness. This is the foremost duty today.

Milikilah hati yang lapang. Yang dimaksud dengan hati disini bukanlah organ jantung, melainkan "Hridaya" yang tiada lain merupakan tempat bercokolnya daya (welas-asih). Berikanlah compassion (kewelas-asihan) kepada semuanya. Melangkahlah dari pemikiran sempit "aku" dan "keakuan" menjadi "We (kita)" dan "kebersamaan". Tidaklah mudah bagimu untuk dapat memahami tentang sesuatu yang formless (tak berwujud), attributeless (yang tak beratribut) serta Divine yang serba infinite. Kebenaran tentang Divine haruslah ditemukan dan dialami oleh setiap orang. Divine bersifat omnipresent.... Berdasarkan keyakinan ini, hendaknya engkau menjalani kehidupan yang dilandasi oleh kebenaran dan ke-Tuhan-an (Godliness). Berjuanglah agar menjadikan bangsa dan negaramu ini sebagai penjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. Inilah tugas utamamu hari ini.

- Divine Discourse, June 22, 1987

Wednesday, August 13, 2008

Sai Inspires 13th August 2008 ( As an educated person, how should we conduct ourselves?)

The heart is referred to as "Hrudaya" (Hrud + daya), meaning that the heart is the seat of compassion. Real education is that, which fosters virtues, morality, truth, compassion, discipline and duty. It is not enough to be merely intelligent. Education must confer wisdom that flows from the heart and not just knack or cunningness... Set apart some time for service. Be balanced. You should neither study continously nor play all the time. Do not slide into lazy habits; laziness must be avoided at all costs. Excessive talking must also be avoided. Too much talk diminishes memory and dulls intelligence. Therefore, talk only when you must, and speak sweetly. When you talk, be always courteous and never fail to respect your parents. Your actions must always be based on love f or you to be called as an educated person.

Hati (nurani) disebut juga "Hrudaya" (Hrud+daya), yang mana artinya adalah bahwa hati nurani merupakan tempat dimana terdapatnya welas-asih. Pendidikan sejati adalah pendidikan yang mengembangkan sifat-sifat luhur, moralitas, kebenaran, kewelas-asihan, disiplin dan tanggung-jawab. Tidaklah cukup bila engkau hanya memiliki kepintaran semata-mata. Pendidikan haruslah membuahkan kebijaksanaan yang mengalir keluar dari hati sanubarimu.... Luangkanlah sebagian dari waktumu untuk melakukan tugas pelayanan. Milikilah keseimbangan hidup. Janganlah engkau terus-menerus belajar sepanjang hari dan sebaliknya, jangan pula engkau hanya bermain-main terus. Janganlah membiarkan kebiasaan bermalas-malasan menguasaimu. Juga, janganlah terlalu banyak berbicara, sebab too much talk akan menghilangkan daya ingat dan menumpulkan intelligence-mu. Oleh sebab itu, berbicaralah ketika engkau harus berbicara, dan bertutur-katalah secara sopan santun. Ketika engkau bercakap-cakap, selalu jagalah keramahan dan bersikap hormat terhadap orang-tuamu. Tindakanmu haruslah dilandasi oleh cinta-kasih, hanya dengan demikian, engkau baru layak disebut sebagai manusia terpelajar.

- Divine Discourse, May 15, 2000.

Tuesday, August 12, 2008

Sai Inspires 12th August 2008 (What is the most important faculty we have and how should we use it?)

Who is a human? One endowed with a "mind" is a human being. A person without the thinking faculty can never feel kind or compassionate. They alone are true human beings, who instinctively assist those who are in distress and seeking help. One must be eager to wipe the tears of others. You must always endeavor to help and give relief to those who are suffering.

Siapakah yang dimaksud dengan human (manusia)? Mereka yang memiliki "mind" (batin) adalah pengertian sebenarnya dari human being. Seseorang yang tidak memiliki kemampuan berpikir, maka dirinya tidak akan pernah memiliki sikap welas-asih (compassionate) dan kebaikan. Manusia sejati adalah individu yang secara naluriah siap membantu sesama mahluk yang sedang mengalami penderitaan serta membutuhkan uluran tangan. Engkau harus senantiasa berupaya memberi pertolongan serta meringankan beban penderitaan sesamamu.

- Divine Discourse, May 15, 2000.

Monday, August 11, 2008

Sai Inspires 11th August 2008 ( What is the basic criteria that every human being must meet?)

Truth, Sacrifice and Righteousness constitutes humanness. Truth is Neethi (Morality), Righteousness is Reethi (Code of Conduct), and Sacrifice is Khyathi (Reputation). The combination of all of these is called Manava Jathi (Human Race). One cannot be called a human being on the basis of the form. One has to adhere to truth, uphold righteousness, and develop the spirit of sacrifice to deserve the title of human being. Spend time in serving others. Love your fellowmen. Surrender yourself to God. The entire world is permeated with Love and nothing surpasses Divine Love.

Kebenaran, pengorbanan dan kebajikan - ketiga unsur ini merupakan aspek utama kemanusiaan. Truth (kebenaran) adalah Neethi (moralitas), Righteousness (kebajikan) adalah Reethi (kode etik perilaku), dan Sacrifice (pengorbanan) adalah Khyathi (reputasi/nama baik). Kombinasi dari ketiga unsur tersebut membentuk Manava Jathi (human race/ras kemanusiaan). Seseorang tidak bisa serta merta dijuluki sebagai manusia hanya berdasarkan wujud/fisiknya saja. Ia baru layak disebut sebagai manusia apabila ia menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebajikan serta mengembangkan semangat pengorbanan. Luangkanlah waktumu untuk memberikan pelayanan kepada orang lain. Cintailah sesamamu. Pasrahkanlah dirimu kepada Tuhan. Seisi dunia ini diliputi oleh cinta-kasih dan tiada sesuatupun yang bisa mengimbangi cinta-kasih Ilahiah (Divine Love).

- Divine Discourse, July 28, 1999.

Sunday, August 10, 2008

Sai Inspires 10th August 2008 (How can we avoid mistakes in life?)

Before you do anything, pause, take time, think and reflect on what you are about to do.  Never be in a hurry.  Remember, "Haste makes Waste."  Avoid impulsive actions.  Instead, pause and ponder.  Whenever a thought arises in you to do something, take time and ask yourself: "Is it good or bad?"  It is very important to exercise your discrimination properly. It is "Fundamental Discrimination" that you should apply and not individual discrimination.  Fundamental Discrimination means "Your action should benefit others."  Avoid haste, be patient, decide carefully using fundamental discrimination and only then act.

Sebelum engkau melakukan sesuatu, tunggulah sebentar, ambillah waktu untuk berpikir dan merenungkan tindakan yang akan engkau ambil. Jangan pernah tergesa-gesa. Ingatlah selalu, "Haste makes Waste" (Sikap terburu-buru hanya akan membuahkan kesia-siaan). Hindarilah perbuatan yang bersifat impulsif. Sebaliknya, berhenti dan merenung. Apapun juga bentuk-bentuk pikiran yang timbul, tanyakan terlebih dahulu kepada dirimu sendiri: "Apakah perbuatan ini baik atau buruk?" Sangat penting bagimu untuk melatih kemampuan diskriminatif secara baik. Yang perlu engkau terapkan adalah "Fundamental Discrimination", dan bukannya individual discrimination. Yang dimaksudkan dengan Fundamental Discrimination adalah bahwa "Perbuatan/tindakanmu haruslah memberi manfaat kepada orang lain." Jauhi sikap tergesa-gesa, berlatihlah kesabaran, dan buatlah keputusan berdasarkan fundamental discrimination, dan setelah itu barulah bertindak.

Divine Discourse, May 15, 2000

Saturday, August 9, 2008

Sai Inspires 9th August 2008 (What should we deposit in the Banks?)

Today it is a common practice for people to deposit their money in banks.  Likewise, deposit the power of your senses, your mind and the wisdom in the bank of God.  They will never diminish; they will continue to grow forever and will be returned to you in times of need.  Sustain and safeguard sacred love.  Never give vent to hatred.  Consider whatever happens as good for you.

Di zaman sekarang ini, sudah merupakan hal yang wajar apabila orang-orang menyimpan uangnya di bank. Demikian pula, seyogyanyalah engkau juga mendepositokan panca indera, batin dan kebijaksanaanmu di bank milik Tuhan. Simpananmu itu tidak akan pernah hilang; ia akan terus bertambah dan kelak akan dikembalikan kepadamu di kala engkau memerlukannya. Pelihara dan jagalah cinta-kasih yang murni. Janganlah pernah engkau memberi ruangan kepada kebencian. Anggaplah segala sesuatu yang terjadi adalah demi kebaikan untukmu.

Divine Discourse, July 28, 1999.

Friday, August 8, 2008

Sai Inspires 8th August 2008 ( What is the easiest way to Live in Love?)

The body is the temple, and God is the Indweller. If this body is a temple, so is that body and every other body. All bodies are temples. The same God resides in every one of them. The same God is present in all. Hence, regard the entire universe as one big family. Love all without exception. If you hate anyone, it amounts to hating your own self. So hurt never and help ever. There is no God beyond Love. God is Love and Love is God. Live in Love.

Badan jasmani ini adalah sebuah 'kuil' dimana Tuhan adalah penghuninya. Jikalau badan jasmanimu adalah sebuah kuil, maka demikian pula halnya dengan badan jasmani orang lain. Semuanya adalah kuil atau biara bagi-Nya. Tuhan yang sama eksis dan hadir di dalam diri setiap orang. Oleh sebab itu, seluruh alam semesta ini dapat dianggap sebagai sebuah keluarga besar. Untuk itu, cintailah semuanya tanpa pengecualian. Apabila engkau membenci seseorang, maka itu sama artinya dengan membenci dirimu sendiri. Oleh sebab itu, hurt never dan help ever. Tak ada yang lebih mulia dibandingkan cinta-kasih. Tuhan adalah cinta-kasih dan cinta-kasih adalah Tuhan. Hiduplah dalam cinta-kasih.

- Divine Discourse, May 2000.

Thursday, August 7, 2008

Sai Inspires 7th August 2008 ( How to identify and practise Divinity in our daily lives?)

There is one aspect that you can use to identify Divinity. That is by showing your gratitude. God is giving you so many things. When you are not well, a doctor comes and gives you an injection. You then pay the doctor his fees. Your expression of gratitude ends there. When you are hungry, you tell your mother that you would like to eat something. Your mother gives you some food that you relish with great joy. This itself is an expression of gratitude to your mother. You may be suffering - when someone consoles you and gives you strength, you express your gratitude to him. In this way, all the help rendered should be gratefully acknowledged without fail. Make this be your way of life.

Terdapat satu aspek yang bisa engkau gunakan untuk keperluan identifikasi Divinity, yaitu dengan jalan menunjukkan ungkapan syukur/berterima-kasih (gratitude). Tuhan telah memberikan banyak hal bagimu. Ketika engkau sakit, maka dokter menolong dan memberimu obat/injeksi. Kemudian engkau membayar honor dokter itu. Ungkapan berterima-kasihmu berhenti di sana. Lalu ketika engkau lapar, maka engkau memberitahu ibumu bahwa engkau ingin makan. Selanjutnya ibumu akan memberikan makanan yang engkau terima dengan senang-hati. Ini juga merupakan bentuk ekspresi terima-kasihmu kepada sang ibu. Ketika engkau sedang bersedih-hati, seseorang menghibur serta menasehatimu dan atas kebaikannya itu, engkau mengucapkan terima-kasih kepadanya. Inti ceritanya adalah bahwa untuk setiap bantuan yang telah diberikan (oleh orang lain) hendaknya kita harus bersyukur dan berterima-kasih. Camkanlah baik-baik dan jadikanlah prinsip ini sebagai bagian dari jalan kehidupanmu.

- Divine Discourse, May 23, 2002.

Wednesday, August 6, 2008

Sai Inspires 6th August 2008 ( How to obtain God's Grace?)

There is plenty of grace that God can give you. But it is at a depth! Some effort is required to obtain it. If you need to fetch water from a well, you need to tie a rope to the bucket, lower it into the well and draw the water out. The rope to use is that of devotion. This rope must be tied to the vessel of your heart and lowered into the well of God's grace. What you receive, when the water is drawn out, is pure bliss. Live in love with everybody. Once you earn this love, everything else will be added unto you.

Tuhan memiliki segudang berkah/anugerah yang siap dilimpahkan bagimu, namun karunia-Nya terdapat di 'suatu tempat' yang amat dalam! Diperlukan upaya/usaha untuk memperolehnya. Jikalau engkau hendak menimba air dari dalam sumur, maka tentunya engkau membutuhkan seutas tali yang engkau ikat di sebuah ember, kemudian ember & tali itu diturunkan ke dalam sumur untuk menimba airnya. Tali dalam perumpamaan tersebut adalah devotion (bhakti), dimana tali itu harus diikat kepada hatimu yang disimbolkan sebagai ember serta diturunkan ke dalam sumur (Rahmat Tuhan). Air yang engkau dapatkan adalah berupa bliss yang murni. Hiduplah dalam cinta-kasih dengan semuanya. Sekali engkau memperoleh/melaksanakan cinta-kasih ini, maka segalanya akan ditambahkan kepadamu dengan sendirinya.

- Divine Discourse, May 24, 2002.

Tuesday, August 5, 2008

Sai Inspires 5th August 2008 ( What does Swami expect of students?)

Remember that life is precious and should not be wasted in the pursuit of trivial and temporary things. Together with academic studies, students should cultivate spiritual Sadhana. Even in academic studies, students should not confine themselves to merely transferring to the memory, what is contained in the books. They must digest what they have studied and put their knowledge to practical use in the service of the society. Try to absorb what is contained in the books, and make this knowledge, a part of your life. Just as water stored in a reservoir is used for irrigation through canals, the knowledge acquired by you should be diverted to useful channels for the benefit of the society.

Ingatlah selalu bahwa kehidupan ini sangatlah berharga dan janganlah engkau menyia-nyiakan momen yang ada hanya demi untuk mengejar hal-hal yang tak berguna dan bersifat sementara. Berbarengan dengan pelajaran akademik, para siswa hendaknya juga menjalankan spiritual sadhana. Dalam hal studi akamedik, janganlah engkau hanya membatasi dirimu dengan sekedar mengalihkan/transfer pengetahuan (yang ada di dalam buku) ke dalam ingatanmu. Engkau harus mencerna hal-hal yang sudah dipelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari demi untuk manfaat orang banyak. Cobalah untuk menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam pelajaranmu agar kelak dapat diberdaya-gunakan dalam kehidupanmu sendiri. Seperti halnya air yang tersimpan di dalam reservoir akan digunakan untuk keperluan irigasi melalui kanal-kanal yang ada, maka demikian pula, pengetahuan yang telah engkau peroleh hendaknya juga diberdaya-gunakan melalui saluran-saluran yang berguna demi untuk manfaat orang-banyak.

- Divine Discourse, June 22, 1987.

Monday, August 4, 2008

Sai Inspires 4th August 2008 ( How to enjoy success in life?)

With noble thoughts, good deeds and constant contemplation of God, undertake good actions. Help others. Never entertain jealousy. Jealousy leads to total ruin. You must feel happy at others' happiness. Only then, you too will enjoy success and gain bliss.

Senantiasalah berbuat kebajikan dengan dibekali oleh pemikiran yang luhur serta kontemplasi (perenungan) terhadap-Nya. Selalu siap membantu. Janganlah menyimpan kecemburuan, sebab kecemburuan hanya akan menghasilkan kehancuran. Engkau harus merasa senang bila orang lain berbahagia. Sebab hanya dengan demikian, barulah engkau bisa menikmati kesuksesan serta memperoleh bliss.

- Divine Discourse, May 24, 2002.

Sunday, August 3, 2008

Sai Inspires 3rd August 2008 (To live a happy life, what should we earn?)

Shun your vices.  Give up your bad habits.  Develop virtues and cultivate good habits.  Take to the right path and enjoy an ideal life.  If you have both health and happiness, you need not acquire anything else.  Money can always be earned, but what is really important is earning of virtues.  Money without virtues is of no use, for, it is virtues that gives happiness in life and not money.  Do lead a sacred life on the sacred path with good behaviour.  Pure thoughts and feelings will always keep us cheerful.  Live cheerfully!

Jauhilah kejahatan dan tinggalkanlah kebiasaan-kebiasaan yang jelek. Sebaliknya pupuk dan kembangkanlah kebiasaan yang baik dan jalanilah kehidupan yang bajik dan saleh. Apabila engkau memiliki kesehatan (yang bagus) dan kebahagiaan, maka itulah hal yang terpenting. Uang selalu bisa dicari, tapi yang paling utama adalah memiliki virtues (kepribadian yang luhur). Uang tanpa disertai virtues tak ada gunanya, sebab yang memberikan kebahagiaan dalam kehidupan ini bukanlah uang, melainkan virtues. Jalanilah kehidupanmu dengan berlandaskan kepada perilaku yang baik. Pikiran dan perasaan yang murni akan membuahkan kehidupan yang bahagia.

Divine Discourse, May 27, 2002.

Saturday, August 2, 2008

Sai Inspires 2nd August 2008 (What is Prarabdha Karma and Sanchita Karma? Can the consequences of our actions be overcome with the Grace of God?)

Prarabdha Karma is the one which we are presently undergoing.  and experiencing.  Sanchita means the past Karma.  Agami refers to Karma that will follow in the future.  Prarabdha is in between theSanchita and Agami.  We are experiencing the Prarabdha on account of the previous Sanchita karma.    We should not try to worship God, only for the sake of overcoming the consequences of all our actions. If you worship Him to get His Grace, Prarabdha, Sanchita and all other Karma will become ineffective by themselves.

Prarabdha Karma adalah jenis karma yang sedang kita jalani dan alami saat ini. Sanchita adalah Karma masa lampau, sedangkan Agami adalah karma yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan demikian, berarti Prarabdha berada di antara Sanchita dan Agami. Kita mengalami Prarabdha (karma) sebagai akibat dari Sanchita karma. Hendaknya kita tidak mencoba untuk beribadah kepada Tuhan hanya dengan maksud agar dapat terhindar dari konsekuensi perbuatan kita. Apabila engkau beribadah kepada-Nya demi untuk memperoleh rahmat & karunia-Nya, maka secara otomatis semua bentuk-bentuk Karma akan menjadi tak berdaya dengan sendirinya.

Divine Discourse, January 6, 1975

Friday, August 1, 2008

Sai Inspires 1st August 2008 ( How can we experience the all-pervasive Divinity?)

Be always saturated with Prema (Divine Love). Speak softly and sweetly. Do not use harsh words against anyone, for words wound more fatally than arrows. Sympathize with suffering, loss and ignorance. Try your best to provide timely help or share a soothing word. Do not damage the faith of anyone in virtue and Divinity. Encourage others to have that faith by demonstrating in your own life, that virtue is its own reward, and Divinity is all-pervasive and all-powerful.

Jadikanlah Prema (cinta-kasih Ilahiah) sebagai nafas kehidupanmu. Berbicaralah secara lembut dan santun. Janganlah menggunakan kata-kata yang kasar terhadap siapa saja, sebab luka yang ditimbulkan oleh ucapanmu akan jauh lebih fatal dibandingkan luka yang ditimbulkan oleh anak-panah. Bersimpatilah terhadap mereka yang sedang menderita, terpuruk dan dilanda oleh kebodohan (batin). Upayakanlah semaksimal mungkin untuk memberikan pertolongan atau sekedar memberikan kata-kata hiburan bagi mereka. Janganlah merusak keyakinan orang lain dalam hal virtue (nilai luhur) dan Divinity. Sebaliknya, engkau harus mendorong agar orang lain mengembangkan keyakinannya melalui contoh suri teladan yang engkau perlihatkan melalui kehidupanmu sendiri, bahwa dengan memupuk sifat-sifat luhur engkau akan memperoleh imbalannya yang setimpal dan bahwa Divinity mencakupi segala-galanya dan maha kuasa.

- Divine Discourse, September 1983.