Thursday, August 26, 2010

Sai Inspires 26th August 2010



A bird in flight in the sky needs two wings; a person on the earth below needs two legs to move; an aspirant eager to attain the mansion of moksha (liberation), the abode of freedom, needs renunciation and wisdom - renunciation of worldly desires and wisdom to become aware of the Atma. When a bird has only one wing, it cannot rise up into the sky. In the same manner, if one has only renunciation or only wisdom, one cannot attain the supreme Self, Brahman. The sense of “mine” is the bond of deluding attachment. How long can one cling to what one fondles as mine? Some day, one has to give up everything and leave, alone and empty handed. This is the inescapable destiny.

Seekor burung terbang di langit memerlukan dua sayap; orang di bumi ini membutuhkan dua kaki untuk bergerak; seorang peminat spiritual yang berhasrat untuk mencapai Moksha (pembebasan), tempat tinggal kebebasan, memerlukan kebijaksanaan dan pengorbanan yaitu melepaskan keinginan-keinginan duniawi dan kebijaksanaan untuk menyadari Atma. Bukankah ketika burung hanya memiliki satu sayap, ia tidak dapat terbang? Demikian pula, jika seseorang hanya memiliki pengorbanan saja atau kebijaksanaan saja, seseorang tidak bisa mencapai Brahman. Perasaan "milikku" adalah ikatan yang menipu keterikatan. Berapa lama seseorang bisa melekat pada milikku? Suatu hari, seseorang harus melepaskan segalanya dan meninggalkan semuanya sendirian dengan tangan kosong. Ini adalah takdir yang tak akan bisa dihindari.

- Sutra Vahini, Chap 1 "Renouncing Me and Mine"

Wednesday, August 25, 2010

Sai Inspires 25th August 2010


We have to learn good things from others. We sow seeds in the ground and provide it with manure and water. The seed sprouts, becomes a sapling and grows into a huge tree. It does not become soil when placed therein, nor manure when it feeds thereon, nor water when it partakes thereof. It only imbibes from each of them whatever it can benefit from them. It grows into what is essentially IT, namely, a huge tree! May you too grow likewise. You have to learn much from others; imbibe about the Supreme and the means of attaining it from even the lowest. Learn from others how to practise progressive sadhana (spiritual exercise) and saturate yourselves with it. But do not be transformed into others.

Kita harus belajar hal-hal baik dari orang lain. Kita menabur benih di tanah. Kita memberikan benih tersebut pupuk dan air. Benih tumbuh menjadi tunas, menjadi pohon kecil lalu berkembang menjadi pohon yang besar. Benih itu tidak menjadi tanah ketika ditempatkan di tanah, ia tidak menjadi pupuk ketika ia diberi pupuk, tidak pula menjadi air ketika ia disiram dengan air. Ia hanya menyerap unsur-unsur yang bermanfaat baginya. Ia tumbuh sesuai dengan esensi dirinya yaitu pohon yang besar! Semoga engkau juga tumbuh sedemikian. Engkau harus belajar lebih banyak lagi dari orang lain. Pelajari tentang Yang Agung dan cara mencapainya bahkan dari orang yang terendah sekalipun. Belajarlah dari orang lain bagaimana cara mempraktekkan Sadhana (latihan spiritual) dan penuhilah dirimu dengan hal tersebut. Tapi janganlah berubah menjadi orang lain.

-Vidya Vahini, Chap 13

Tuesday, August 24, 2010

Sai Inspires 24th August 2010


The Vedas and the Shastras (scriptures) are the greatest repositories of Hitha (beneficence) as they were won through penance and travail by sages and seers who were interested in the welfare of humanity and the liberation of man. They advise that man must regulate his 'outer-look' and develop the 'inner-look'; the inner reality is the foundation on which the outer reality is built. It is like the steering wheel inside the car which directs the outer wheels. Know that the basic reality is God. Become aware of it and stay in that awareness always. Whatever be the stress and the storm, do not waver from that faith.

Weda dan Shastras (kitab suci) adalah gudang terbesar Hitha (kebaikan), yang telah didapatkan melalui tapa dan penderitaan oleh orang-orang bijak dan orang-orang yang tertarik pada kesejahteraan umat manusia dan pembebasan manusia. Weda dan Shastras menyarankan bahwa manusia harus mengatur ‘pandangan luar’ mereka dan mengembangkan 'pandangan ke dalam (batin)'; yaitu realitas batin yang merupakan fondasi yang akan membangun realitas luar. Hal ini diibaratkan roda kemudi di dalam mobil yang mengarahkan roda luar mobil. Ketahuilah bahwa realitas dasar adalah Tuhan. Sadarilah kebenaran ini dan selalulah tetap dalam kesadaran ini. Apapun tekanan dan badai yang dihadapi, janganlah ragu-ragu dengan keyakinan tersebut

- Bhagavatha Vahini, Chap 8, "Dhritharashtra transformed" .

Sai Inspires 23rd August 2010


Desire and bondage to the objects desired and the plans to secure them are attributes of the jeevis (individualized selves), not of the Self or atma resident in the body. The sense of “me” and “mine” and the emotions of lust and anger originate in the body-mind complex. Only when this complex is conquered and outgrown can true virtue emanate and manifest. The sense of “doer” and “enjoyer”, of being an agent, might appear to affect the Atma, but they are not part of the genuine nature of the Atma. Things get mirrored and produce images, but the mirror is not tarnished or even affected thereby. It remains as clear as it was. Every jeevi has these as genuine, basic attributes: purity, serenity, and joy. Every individual is ebullient with these qualiti es.

Keinginan dan keterikatan pada objek yang diinginkan dan rencana-rencana untuk mengamankannya merupakan sifat dari Jeevis (diri individual), bukan dari Atma yang mendiami tubuh ini. Perasaan "aku" dan "milikku" serta keinginan yang sangat kuat dan amarah berasal dari pikiran yang kompleks. Hanya ketika hal ini dapat ditaklukkan dan diatasi, maka kebajikan sejati akan muncul dan menjelma dalam diri. Perasaan "pelaku" dan "penikmat", muncul untuk mempengaruhi Atma, tetapi bukanlah merupakan sifat sejati dari Atma. Diibaratkan seperti cermin yang dapat menghasilkan gambar, tetapi cermin itu tidak ternodai atau bahkan tidak terpengaruh olehnya. Setiap Jeevi memiliki sifat sejati ini, yang merupakan sifat dasar yaitu: kemurnian, ketenangan, dan kegembiraan. Setiap individu bersemangat dengan sifat-sifat ini.

- Sutra Vahini, Chap 1, "Renouncing Me and Mine".

Sai Inspires 22nd August 2010


Imitation can never become culture. You may wear royal robes and act the role; but can you, as a result of this imitation, become a king? A donkey clothed in tiger skin does not become a tiger. Imitation is a sign of cowardice. It cannot further one’s progress. In fact the tendency to imitate leads you down, step by step, into frightful shape. You must endeavour to uplift yourselves. You must be proud that you are devotees of the Lord. You must hold your ancestors in high esteem. You should not imitate others and copy their attitudes. However, you may imbibe the good in them.

Tiruan tidak pernah bisa menjadi kebudayaan. Engkau dapat mengenakan jubah kerajaan dan berperan sebagai raja, tetapi dapatkah engkau menjadi raja karenanya? Seekor keledai yang memakai kulit harimau tidak akan menjadi harimau. Tiruan adalah tanda pengecut. Hal ini selanjutnya tidak dapat membuat kemajuan seseorang. Kecenderungan untuk meniru menyebabkan engkau jatuh perlahan-lahan ke dalam situasi yang menakutkan. Engkau harus berusaha untuk mengangkat dirimu sendiri. Engkau harus bangga bahwa engkau adalah bhakta Tuhan. Engkau seharusnya bangga pada leluhurmu. Engkau seharusnya tidak meniru orang lain serta meniru sikap mereka. Namun, engkau dapat menyerap hal-hal baik dari mereka.

- Vidya Vahini, Chap 14.

Monday, August 23, 2010

Sai Inspires 21st August 2010


Your forefathers achieved prosperity, peace and joy and succeeded in attaining their goals only through faith. If you lose faith, you are certain to fall. For, faith is the very breath of life. When there is no breath, one becomes a shavam (corpse). With the breath of faith, you become Shivam (Divine), the same as the Lord Himself. Faith can endow you with all forms of power and render you full and complete (poorna). For, Atma, by its very nature, is self-sufficient and full. No other Sadhana (spiritual exercise) is needed to realise that state. Purity and self-sufficiency (paripoornatha) is also your true nature. Impurity and insufficiency are alien to mankind. You should not ignore or forget this fact. Real education must arouse this faith and infuse the awareness of this fullness in every activity. This is the essential aim, the core of the right type of education.

Kakek moyangmu telah mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka hanya melalui keyakinan. Jika engkau kehilangan keyakinan, engkau pasti akan jatuh. Karena, keyakinan adalah napas kehidupan. Ketika tidak ada napas, seseorang menjadi Shavam (mayat). Dengan napas keyakinan, engkau menjadi Shivam (Tuhan), sama seperti Tuhan sendiri. Keyakinan dapat memberikanmu segala bentuk kekuatan dan membuatmu menjadi Poorna (sempurna). Untuk, Atma, pada hakikatnya sifat sejatinya, adalah sempurna. Tidak ada Sadhana (latihan spiritual) yang lain yang diperlukan untuk menyadarinya. Paripoornatha (kemurnian dan kesempurnaan) juga merupakan sifat sejatimu. Ketidakmurnian dan kekurangan adalah sesuatu yang bertentangan bagi umat manusia. Engkau tidak boleh mengabaikan atau melupakan kenyataan ini. Pendidikan sejati harus membangkitkan keyakinan dan menanamkan kesadaran ini penuh pada setiap aktivitas. Ini adalah tujuan penting, inti dari type pendidikan yang sejati.

-Vidya Vahini, Ch 14.

Friday, August 20, 2010

Sai Inspires 20th August 2010


The stage of equanimity is essential for spiritual progress. It can be gained only when the Buddhi (intellect) is cleansed of the blot of deluding attachments and involvements. Without that serenity, the intellect cannot proceed on the trail of Brahman (God). In fact, the term ‘virtue’ is only another name for the ‘intelligence’ that follows the promptings of the Atma, the Self that is your Reality. Only one who has such virtue can win awareness of Atma. And, once awareness is gained, you will no longer be caught in delusion or desire.

Tahap ketenangan sangat penting bagi kemajuan spiritual. Hal ini dapat diperoleh hanya jika Buddhi (intelek) dibersihkan dari noda ilusi keterikatan dan kekusutan dunia. Tanpa ketenangan itu, intelek tidak dapat melanjutkan jejak Brahman (Tuhan). Istilah 'kebajikan' hanyalah nama lain untuk 'akal budi' yang mengikuti Atma, yang merupakan Kebenaran sejati. Hanya seseorang yang memiliki kebajikan seperti itulah yang bisa memenangkan kesadaran Atma. Dan, sekali kesadaran itu telah diperoleh, engkau tidak akan lagi terjebak dalam khayalan atau keinginan duniawi.

- Sutra Vahini, Chap 1, "The Primacy of Moral Character"

Thursday, August 19, 2010

Sai Inspires 19th August 2010


Not even the tiniest event can happen unless willed by the Lord. Be fully convinced of this. He is the Suthradhari, the holder of the strings that move the puppets and make them act their roles; but He seats Himself among the spectators and pretends He is unaware of the plot or story or cast. The characters cannot deviate a dot from His directions. His Will guides and determines every single movement and gesture. The varying emotions affect the hearts of those who witness the play; but they do not cause a ruffle in the heart of the Suthradhari. He decides what this person should say or that person should do and He prompts in them the appropriate words and deeds.

Tidak ada kejadian sekecil apa pun yang dapat terjadi kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Yakinlah sepenuhnya tentang hal ini. Beliau adalah Suthradhari (sutradara), yang menggerakkan wayang-wayang dan membuat mereka bertindak sesuai dengan peran mereka, tetapi Beliau sendiri juga duduk di antara para penonton dan Beliau berpura-pura tidak menyadari alur atau cerita atau para pelakunya. Karakter tidak bisa menyimpang setitikpun dari petunjuk-Nya. Kehendak Beliau memandu dan menentukan setiap gerakan. Berbagai emosi mempengaruhi hati orang-orang yang menyaksikan permainan tersebut, tetapi mereka tidak mengganggu hati Sang Suthradhari. Beliau memutuskan apa yang seharusnya dikatakan atau dilakukan oleh seseorang dan Beliau-lah yang menyebabkan mereka berkata-kata dan berbuat yang sesuai dengan peran mereka.

-Bhagavatha Vahini, Chap 10

Wednesday, August 18, 2010

Sai Inspires 18th August 2010


If you condemn yourself, day and night as petty and weak, you can never accomplish anything. If you think that you are luckless and low, thereby you become luckless and low. Instead, when you cultivate the awareness that you are a spark of God, that you have as your reality Divinity Itself, you can become really Divine, and you can have command over all powers. “As you feel, so you become” (Yad bhaavam, thad bhavathi). It is how you feel that matters most. That is the basis for all that you are. This is a must for every one of you! Have faith in the Atma, the Divine Self, that you really are!

Jika engkau menyalahkan dirimu sendiri, siang dan malam sebagai orang yang rendah dan lemah, engkau tidak akan pernah bisa mencapai apapun. Jika engkau berpikir bahwa engkau adalah orang yang tak beruntung dan rendah, maka engkau akan menjadi orang yang tak beruntung dan rendah. Sebaliknya, ketika engkau menanamkan kesadaran bahwa engkau adalah percikan Tuhan; bahwa engkau memiliki kesadaran Tuhan dalam dirimu, maka engkau benar-benar bisa menjadi Tuhan, dan engkau dapat memiliki segala kekuatan. "Yad Bhaavam, Thad Bhavathi" (seperti apa yang engkau pikirkan, maka seperti itulah jadinya). Ini adalah bagaimana engkau merasakan sesuatu, yang merupakan dasar dari semuanya yaitu dirimu sendiri. Milikilah keyakinan pada Atma, Tuhan itu sendiri yang adalah dirimu sendiri! Hal ini adalah kewajiban setiap orang!

-Vidya Vahini, Ch 14

Tuesday, August 17, 2010

Sai Inspires 17th August 2010


People may have performed a variety of Vedic rites and sacrifices; they might even be expounding the contents of a variety of sacred scriptures that they have mastered; they may be endowed with prosperity, owning vast wealth; they might teach the Vedas and their complementary disciplines with due exposition of meanings. But without moral character, they have no place where Brahman (Divinity) is taught or learned. This is the important lesson conveyed by divine aphorisms.

Orang-orang mungkin telah melakukan berbagai macam ritual Veda dan pengorbanan; mereka bahkan telah menguraikan isi berbagai kitab suci dan menganggap bahwa mereka telah menguasainya. Mereka mungkin akan diberkati dengan kemakmuran, kekayaan, dan mereka mengajarkan Veda dilengkapi dengan penjelasan terperinci makna dari Veda tersebut. Tetapi tanpa karakter, mereka tidak akan memiliki tempat di mana Brahman (Tuhan) diajarkan atau dipelajari. Ini adalah pelajaran penting seperti yang disampaikan dalam aforisme ketuhanan.

- Sutra Vahini, Chap 1, "Primacy of Moral Character".

Monday, August 16, 2010

Sai Inspires 16th August 2010


We see the outer circumstances, the processes which result in the final event and in our ignorance we judge that this set of causes produced these effects. But circumstances, events, emotions and feelings are all simply ‘instruments’ in His Divine Hands, serving His Will and His Purpose. The world is the stage on which each one acts the role He has allotted. Every one struts about for the time given by Him and obeys His instructions without fail or falter. We may proudly think that we have done this or that by ourselves, but the truth is that everything happens as He wills.

Kita melihat kedaan luar, proses yang membuahkan hasil akhir dan dalam ketidaktahuan kita, kita menilai bahwa rangkaian yang dihasilkan menyebabkan efek-efek ini. Tetapi keadaan, peristiwa, emosi dan perasaan semuanya hanyalah 'instrumen' di Tangan Ilahi -Nya, layanilah kehendak-Nya dan Tujuan-Nya. Dunia dapat diibaratkan sebagai suatu panggung di mana masing-masing dari kita bertindak sesuai dengan peran yang telah Beliau berikan. Setiap orang melangkah sesuai dengan waktu yang diberikan oleh-Nya dan mematuhi petunjuk-Nya tanpa keragu-raguan. Kita mungkin merasa bangga dan berpikir bahwa kita telah melakukan ini atau itu oleh diri kita sendiri, tetapi kenyataannya adalah segala sesuatu terjadi sebagaimana kehendak-Nya.

- Bhagavatha Vahini, Chap 10.

Sunday, August 15, 2010

Sai Inspires 15th August 2010


When it is desired to promote the prosperity of the nation, everyone of you must gather into yourself all the spiritual resources that you can. This implies that all the spiritual inclinations, beliefs and urges which are now feeble and dissipated must be united and reinforced. As part of religions, many creeds and cults may exist just as many branches are present in a tree. You should not condemn them as wrong and no branch should fight against another or compete with another. Realize the truth in the maxim, “Ekam Sath, Vipraah Bahudhaa Vadanthi” (Only One exists; the wise describe it in many ways).

Bila diinginkan untuk meningkatkan kemakmuran suatu bangsa, setiap darimu harus menghimpun semua sumber spiritual yang engkau dapat. Ini artinya bahwa segala kecenderungan spiritual, keyakinan-keyakinan dan nasehat-nasehat yang sekarang lemah dan hilang harus disatukan dan diperkuat kembali. Sebagai bagian dari suatu agama, beberapa kepercayaan dan sekte yang ada dapat diibaratkan sebagai cabang-cabang dalam sebatang pohon. Engkau tidak seharusnya mencela mereka sebagai sesuatu yang salah dan tidak ada cabang yang seharusnya berjuang melawan yang lainnya atau bersaing dengan yang lainnya. Sadarilah kebenaran dalam peribahasa berikut, "Ekam Sath; Vipraah Bahudhaa Vadanthi" (Hanya ada satu Tuhan; orang bijaksana menggambarkannya dalam banyak cara).

- Vidya Vahini, Chap 13

Saturday, August 14, 2010

Sai Inspires 14th August 2010



Codes of behaviour, spiritual practices and manifestations of Love - all have enormous virtues which promote the progress of man. The basic truth of Creation is unity in multiplicity. The ‘Bharatiya’ (Indian) mode of worship is based on the awareness that the One manifests through many discrete forms and attributes when confronted by various situations and conditions. So Bharatiyas have the intellectual tolerance among all peoples of the world to proclaim to all the quarters that God exists and can be found in every religion. This is their unique good fortune.


Cara berperilaku, praktek spiritual dan manfestasi Cinta-kasih - semuanya memiliki kebajikan yang sangat besar yang mendorong kemajuan manusia. Kebenaran Penciptaan adalah kesatuan dalam keanekaragaman. Cara pemujaan 'Bharathiya' yang didasarkan pada kesadaran bahwa Beliau memanifestasikan melalui berbagai bentuk dan atribut yang berbeda-beda pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Jadi Bharathiya memiliki toleransi intelektual di antara semua bangsa di dunia untuk menyatakan bahwa Tuhan itu ada dan dapat ditemukan di setiap agama. Inilah keunikannya.


- Sutra Vahini, Chap 1, "Six Primary Virtues".

Friday, August 13, 2010

Sai Inspires 13th August 2010


Virtues are the most effective means for purifying the inner consciousness at all levels, for they prompt the person to discover what to do and how to do it. Only those who have earned good destiny can claim excellence in discrimination. Adherence to this determination is the raft that can take one across Bhava Sagara (the worldly ocean of flux and fear). A person of virtues has a place in the region of the liberated. That person can merge in Brahman (Divinity), the embodiment of Supreme Bliss.

Kebajikan adalah sarana yang paling efektif untuk memurnikan kesadaran batin pada semua tingkatan, karena hal tersebut menyebabkan seseorang menemukan apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Hanya mereka yang telah memiliki takdir yang baik dapat memperlihatkan keunggulan dalam hal kemampuan membedakan. Ketaatan terhadap kebulatan tekad ini adalah rakit yang dapat menyeberangkan seseorang dari Bhava Sagara (lautan ketidakstabilan dan ketakutan). Seseorang yang baik memiliki tempat dalam suatu wilayah yang tidak terikat. Orang tersebut dapat menyatu dengan Brahman (Tuhan), perwujudan Kebahagiaan yang tertinggi.


- Sutra Vahini, Chap, 1, "The primacy of Moral Character"

Sai Inspires 12th August 2010


The one who devotes their life to earn the knowledge of the Atma, that is, their true Self, must possess holy virtues, mould their conduct and have sacred contacts. For no knowledge can be higher than virtuous character; truly, character is power. For persons who have dedicated their years to the acquisition of higher learning, sterling character is an indispensable qualification. Every religion emphasizes the same need, not as a special creedal condition but as the basis of spiritual life and conduct itself. Those who lead lives on these lines can never come to harm; they will be endowed with sacred merit.

Orang yang mengabdikan hidupnya untuk mendapatkan pengetahuan tentang Atma yang merupakan kebenaran sejati, harus memiliki kebajikan suci, dan mereka harus membentuk perilaku dan kehidupan mereka supaya menjadi suci. Tidak ada pengetahuan yang lebih tinggi dari karakter yang suci. Sebenarnya, karakter adalah kekuatan. Untuk orang yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi, karakter yang murni adalah kualifikasi yang sangat diperlukan. Setiap agama menekankan kebutuhan yang sama, bukan sebagai suatu keadaan yang khusus tetapi sebagai dasar kehidupan spiritual dan melakukannya sendiri. Mereka yang menjalani kehidupan berdasarkan pada batasan-batasan ini tidak akan pernah menyakiti. Mereka akan diberkati dengan kesucian yang sepantasnya.

- Sutra Vahini, Chap 1"The reason for inquiry: Futility of Reason"

Wednesday, August 11, 2010

Sai Inspires 11th August 2010


We may each have different ideas on the nature and characteristics, the form and attributes of God. One person may believe that God has the qualities and form of humans. Another may believe in a God devoid of human form and signs but yet manifesting in embodiments. Another may believe in God as altogether formless. Every one of these can find in the Vedas declarations supporting their stands. For all have faith in God, that is to say, in a mysterious Sakthi (power) which is the source, support and sustenance of all, a Power which subsumes all.

Masing-masing dari kita mungkin memiliki pemikiran yang berbeda pada sifat dan karakteristik, wujud serta atribut Tuhan. Seseorang mungkin percaya bahwa Tuhan mengambil sifat dan wujud manusia. Yang lainnya mungkin percaya bahwa Tuhan tidak mengambil wujud sebagai manusia namun masih memanifestasikannya dalam perwujudan manusia. Yang lainnya mungkin percaya bahwa Tuhan sama sekali tidak berwujud. Setiap orang dapat menemukan pernyataan dalam Kitab Suci Weda yang mendukung pendirian mereka. Oleh karenanya semua orang memiliki keyakinan pada Tuhan yang artinya, dalam Sakthi (kekuatan) yang misterius yang merupakan sumber, mendukung dan memberikan segalanya, yaitu suatu Kekuatan yang melingkupi segalanya.

-Vidya Vahini, Chap 13

Tuesday, August 10, 2010

Sai Inspires 10th August 2010


One of the basic rules of living is not to be ashamed of your forefathers. As you read more of the history of the past, and visualise the human condition in those ages, your pride is bound to increase. Let faith in the supreme achievements of your forefathers flow in and energise the blood in your veins. Let the strength of that faith render your body, mind and spirit equally strong. The fruit of Vidya (true learning) is the recognition that every community of people and every religion has, along with a basic unity, something special of its own to offer.

Salah satu aturan dasar dalam kehidupan adalah engkau tidak boleh malu mengakui kakek moyangmu. Ketika engkau membaca lebih banyak lagi sejarah di masa lampau, dan engkau membayangkan lebih banyak lagi keadaan umat manusia di usia mereka, kebanggaanmu pasti akan meningkat. Biarlah keyakinan pada sukses tertinggi yang telah dicapai oleh kakek moyangmu mengalir dalam dirimu dan memberikan energi dalam pembuluh darahmu. Biarlah kekuatan dari keyakinan itu memberikan badanmu, pikiranmu, dan semangatmu menjadi sama kuatnya. Buah dari Vidya (pengetahuan sejati) adalah menghargai bahwa setiap kelompok masyarakat dan setiap agama mempunyai kesatuan dasar, sesuatu yang istimewa dari diri kita sendiri yang bisa diberikan.

- Vidya Vahini, Ch 13.

Monday, August 9, 2010

Sai Inspires 9th August 2010



One of the most important virtues to be cultivated is unshakable, unwavering faith — faith in the shastras (sacred scriptures) and the moral codes they contain, as well as in the Atma and your Guru (preceptor). Scriptures are designed to ensure the peace and prosperity of the world and the spiritual perfection of mankind. They have before them this great aim; they show the way to its realisation. So, you must place faith in such holy scriptures, Gurus (preceptors), and elders. Gurus are indeed worth worshipping, for they show us the Shreyomarga (path of the ultimate fulfilment). The one who has unwavering faith will achieve this wisdom.

Salah satu kebajikan yang paling penting untuk ditanamkan adalah memiliki keyakinan yang mantap –keyakinan pada Shastras (kitab suci) dan kode moral yang dikandungnya, baik pada Atma maupun pada Guru-mu (pembimbing). Kitab Suci dirancang untuk menjamin perdamaian dan kemakmuran dunia dan kesempurnaan spiritual umat manusia. Kitab suci memiliki tujuan yang agung, ia menunjukkan cara untuk realisasinya. Jadi, engkau harus menempatkan keyakinan pada kitab suci tersebut, Guru (pembimbing), dan pada para orang tua. Guru memang layak untuk dipuja, karena mereka menunjukkan pada kita Shreyomarga (jalan pemenuhan tertinggi). Orang yang memiliki keyakinan yang mantap akan mencapai kebijaksanaan ini.


- Sutra Vahini, Chap 1, "Six Primary Virtues"

Sai Inspires 8th August 2010


Your intellect must rest upon and draw inspiration from the Atma (Divine Self) at all times and under all circumstances. As an aspirant for spiritual progress, you must be attached only to the unchanging Universal Consciousness. All your actions should have the joy of God as your goal. You must place implicit faith in the scriptural dictum: "All living beings are facets and fractions of God." To confirm this faith and strengthen it, you must look upon all beings as equal. You have to acquire this virtue of equanimity as this is Sadhana Sampathi (the real treasure acquired through spiritual practices).

Akal budimu harus menarik inspirasi Atma di setiap waktu dan dalam semua keadaan. Sebagai peminat spiritual, untuk kemajuan spiritual, engkau harus memiliki keterikatan hanya pada Kesadaran Universal yang tidak berubah. Semua tindakanmu seharusnya memiliki kebahagiaan pada Tuhan sebagai tujuan terakhirmu. Engkau harus menempatkan keyakinan yang mutlak pada kitab suci: "Semua makhluk hidup adalah percikan dari Tuhan." Untuk memantapkan dan menguatkan keyakinan ini, engkau harus melihat semua makhluk adalah sama. Engkau harus memperoleh keutamaan ini karena ini adalah Sadhana Sampath (kekayaan sejati yang diperoleh melalui praktek spiritual).

-Sutra Vahini, Chap, 1.

Saturday, August 7, 2010

Sai Inspires 7th August 2010


Returning injury for injury, harm for harm, or insult for insult only adds to the Karmic burden, which has to be endured and eliminated in future lives. This load is termed “Aagaami” (impending). You can't escape the task of undergoing the consequences of your thought, word, and deed in due course. Paying evil for evil can never lighten the weight of Karma; it will only become heavier. It might confer immediate relief and contentment, but it can only make you suffer later. Forbearance, therefore, instructs you to do good even to those who injure you.

Membalas luka dengan luka, kejahatan dengan kejahatan, atau penghinaan dengan penghinaan hanya akan menambah beban Karma, yang harus ditanggung dan dihapuskan di kehidupan yang akan datang. Beban ini disebut dengan "Aagaami" (yang akan datang). Engkau tidak dapat melarikan diri dari kewajiban menjalani konsekuensi dari pikiran, perkataan, dan perbuatanmu pada waktunya. Membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan pernah bisa meringankan beban Karma, ia hanya akan membebanimu lebih berat lagi. Mungkin hal tersebut segera memberimu kesenangan dan kepuasan, tetapi akan membuatmu menderita di kemudian hari. Bersabarlah, karena itu mulailah pada dirimu sendiri untuk berbuat baik bahkan kepada mereka yang telah menyakitimu.

-Sutra Vahini, Chap 1, "Six Primary Virtues".


Sai Inspires 6th August 2010


The lotus leaf is born under water and it floats on water, but it does not get wet. You too must be in the world likewise—in it, by it, for it, but not of it. The the special feature of Vidya (higher education) is to prepare you for this role. That is to say, with the heart immersed in the Divine and the hands busy in work, you must live thus on earth. Love should not degenerate into an article of commerce. Love fulfils itself in Love.

Daun teratai tumbuh di bawah air, ia mengapung di atas air, tetapi daunnya tidak basah. Demikian juga seharusnya engkau berada di dunia ini, engkau lahir, dan hidup di dunia ini, tetapi engkau tidak terpengaruh olehnya. Ini adalah keistimewaan khusus dari Vidya (pendidikan tinggi), untuk mempersiapkanmu dalam tugas ini. Artinya, dengan hati tenggelam dalam perenungan dengan Tuhan dan tangan sibuk dalam pekerjaan, engkau harus hidup dengan cara demikian di bumi. Cinta-kasih seharusnya tidak merosot menjadi sebuah benda yang diperdagangkan. Cinta-kasih itu memenuhi cinta-kasih itu sendiri.

- Vidya Vahini, Chap 13.

Sai Inspires 5th August 2010


The attitude of forbearance is to refuse to be affected or pained when inflicted with sorrow, loss, or ingratitude and wickedness of others. In fact, you should be happy and calm, because you should know that these are the results of your own actions now recoiling on you, and therefore you should view those who caused the misery as friends and well-wishers. You should not retaliate or wish them ill. You must bear all blows patiently and gladly. The natural reactions of people, whoever they may be, when someone injures them is to injure in return; when someone causes harm, to retaliate violently; and when someone insults them, to insult back in some way or the other. This is the characteristic of the pravritti marga (worldly path) — the path of objective involvement. If you seek nivritti marga (the inner path of sublimation and purification) you must avoid such reactions and exhibit forbe arance.

Sikap sabar adalah tidak terpengaruh atau tidak menderita ketika mendapatkan kesedihan, kehilangan, dan ketika orang lain tidak berterima kasih padamu serta ketika disakiti oleh orang lain. Engkau seharusnya selalu bahagia dan bersikap tenang, karena engkau seharusnya mengetahui bahwa hal tersebut adalah hasil dari perbuatanmu sendiri saat ini yang mengingatkanmu, dan engkau seharusnya memandang orang-orang yang menyebabkan penderitaan tersebut sebagai teman dan orang yang memberikan kebahagiaan. Engkau seharusnya tidak membalasnya atau menginginkan mereka menderita. Engkau harus menerima semuanya dengan sabar dan senang hati. Reaksi alami orang-orang, siapa pun mereka, ketika seseorang melukainya, mereka ingin membalas melukainya kembali; ketika seseorang menyebabkan kerugian, melakukan kejahatan, dan ketika seseorang menghina mereka, maka ia akan membalasnya dengan menghinanya dengan suatu cara atau lainnya. Ini adalah karakteristik dari Pravritti marga (jalan duniawi) – jalan yang melibatkan objek-objek duniawi. Jika engkau mencari Nivritti marga (jalan menuju pemurnian batin), engkau harus menghindari reaksi seperti itu dan menunjukkan (kesabaran).

- Sutra Vahini, Chap I, "Six Primary Virtues"

Sai Inspires 4th August 2010


Do not think that the Vedas (scriptures) lay down a bundle of frightening rules, regulations and laws. Every one of them has been laid down by the Lord, as the lawgiver. All elements in the Cosmos, every particle everywhere, are acting every moment as ordained by Him. This is what the Vedas inform us. No worship can be higher and more beneficial than serving the Lord. One has to offer Love to Him, more Love than one bears to anything else in this world and the next. He must be loved as the One and Only. He has to be remembered adoringly with such Love. That is the fruit that real education must result in.

Jangan berpikir bahwa Weda (kitab suci) menetapkan sekumpulan peraturan dan undang-undang yang menakutkan. Setiap aturan yang ada telah ditetapkan Tuhan, sebagai Sang pembuat hukum. Semua elemen dalam alam semesta ini, setiap partikel, setiap tindakan telah ditakdirkan- Nya. Inilah yang dikatakan Weda kepada kita. Tidak ada pemujaan yang lebih tinggi dan lebih bermanfaat daripada melayani Tuhan. Seseorang harus mempersembahkan cinta kasih kepada-Nya, lebih dari sekedar cinta kasih dari apa pun di dunia ini. Dia harus dicintai sebagai Yang Esa. Dia harus diingat dan dipuja dengan cinta kasih seperti itu. Ini adalah buah yang harus dihasilkan dari pendidikan sejati.

-Vidya Vahini, Chap 13

Sai Inspires 3rd August 2010


The sacred activities like rituals and sacrifices that are laid down in the Vedas (scriptures) cannot confer liberation (moksha) from bondage. They help only to cleanse the consciousness. It is said that they raise people to heaven, but heaven is also only a bond. It does not promise eternal freedom. The freedom that makes one aware of the truth, of one’s own truth, can be gained only through listening to the Guru (sravana), ruminating over what has been listened to (manana), and meditating on its validity and significance (nidi-dhyasana). Only those who have detached their minds from desire can benefit from the Guru. Others cannot profit from the guidance.

Kegiatan suci seperti ritual dan pengorbanan yang ditetapkan dalam Weda (kitab suci) tidak dapat menganugerahkan pembebasan (Moksha) dari keterikatan. Kegiatan-kegiatan tersebut hanya membantu memurnikan kesadaran seseorang. Dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut menaikkan orang menuju ke surga, namun bahkan surga itu juga terikat. Surga tidak menjanjikan kebebasan kekal. Kebebasan yang membuat seseorang sadar akan kebenaran, kebenaran itu sendiri, dapat diperoleh hanya melalui mendengarkan Guru (Shravana), merenungkan apa yang telah didengarkan (Manana) serta merenungkan kebenaran dan artinya (Nididhyasana). Hanya mereka yang telah melepaskan diri dari keinginan yang diakibatkan oleh pikiranlah yang mendapatkan keuntungan dari bimbingan Guru, yang lainnya tidak.

- Sutra Vahini, Ch. 1, "Six Primary Virtues".