Friday, July 31, 2009

Sai Inspires 31st July 2009


The word "Adhyatmic" or spiritual is often used by aspirants and preceptors. What exactly is implied when this word is used? IsBhajan or congregational prayer Adhyatmic? Or, does it involve religious rituals and ceremonies? Or, does it involve Japa andDhyana? (Repetition of Names of the Lord and Meditation)? Or does it extend to pilgrimages to holy places? No, No! These are merely beneficial acts. Adhyatmic in its real sense relates to two progressive achievements or at least sincere attempts towards those two achievements - Elimination of the animal traits still clinging to human beings and unification with the Divine.

Kata “Adhyatmic” atau spiritual seringkali digunakan oleh pengikut dan pengajar spiritual. Apa yang sebenarnya tersirat dari perkataan tersebut? Apakah Bhajan atau doa bersama termasuk dalamAdhyatmic? Atau, apakah itu termasuk upacara dan perayaan keagamaan? Atau, apakah itu termasuk Japa dan Dhyana? (Pengulangan Nama-nama Tuhan dan Meditasi)? Atau lebih luas lagi termasuk juga perjalanan atau ziarah ke tempat suci? Bukan, Bukan! Hal itu semua hanyalah tindakan yang bermanfaat.Adhyatmic dalam pengertian yang sebenarnya berhubungan dengan dua kemajuan pencapaian atau paling tidak usaha-usaha sepenuh hati menuju tercapainya dua hal berikut ini – Melenyapkan sifat-sifat atau ciri-ciri hewani yang masih tetap melekat pada umat manusia dan persatuan dengan Tuhan.

-Divine Discourse, Dec 30, 1977

Thursday, July 30, 2009

Sai Inspires 30th July 2009


Evil company demeans and debases an individual. Take the example of fire. It is considered holy and is religiously worshipped in many orthodox homes where the scriptures are chanted and provide the guidelines of life. On the other hand, when fire enters a bail or a rod of iron, it has to suffer hammer blows in plenty while the rod or the ball is shaped into some tool by a human being. Attachment to the iron brings about this calamity for the highly venerated fire.

Pergaulan dengan lingkungan yang buruk akan merendahkan diri dan menurunkan nilai seseorang. Ambil contoh api. Api dianggap suci dan dipuja secara religius di banyak rumah-rumah yang melakukan pemujaan tradisional dimana ayat-ayat dalam kitab suci dilantunkan dan memberi panduan hidup. Di lain pihak, ketika api digunakan untuk membentuk bola atau batang besi, ia akan mendapatkan pukulan-pukulan palu berkali-kali selama proses pembentukan bola atau batang bersi tersebut menjadi suatu alat yang berguna bagi manusia. Keterikatan pada besi akan menimbulkan perasaan bahwa malapetaka telah terjadi pada api yang sangat dipuja dan dihormati.

- Divine Discourse, Aug 17 1977

Wednesday, July 29, 2009

Sai Inspires 29th July 2009


Sri Krishna (Divine Incarnation of Lord Krishna) was born as the eighth child of Devaki. This is very significant to an aspirant to visualize the Divine present in themselves. Samadhi is the observance of the eight fold discipline - abstention from evil doing, observance, controlling breath and posture, withdrawal of mind from sense objects, concentration, meditation and absorption in the Self (Atma). The Lord can be visualized only after the seven steps are successfully negotiated and the mind purified in the process. The term Samadhi represents the intelligence in grasping the fundamental equality of every being. Not only will all feelings of difference and distinction disappear, but even notions such as heat and cold, grief and joy, good and bad, become meaningless. When one reaches that state, the Lord is automatically born in their consciousness.

Sri Krishna (Penjelmaan Tuhan dalam wujud Krishna) terlahir sebagai putra kedelapan dari Devaki. Hal ini sangatlah penting bagi para pemuja untuk menggambarkan bahwa Ketuhanan hadir dalam diri mereka sendiri. Samadhi adalah puncak dari delapan tingkat latihan spiritual – perbuatan yang baik, ketaatan, pengendalian nafas dan sikap badan, menarik pikiran dari benda-benda duniawi, pemusatan pikiran, meditasi dan bersatu dengan Diri Sejati (Atma). Tuhan hanya bisa digambarkan setelah ketujuh tahap tersebut sudah berhasil dicapai dan pikiran menjadi semakin termurnikan dalam tahapan tersebut. Istilah keadaan Samadhi menunjukan kecerdasan dalam memahami persamaan mendasar antara sesama makhluk hidup. Bukan hanya semua perasaan akan perbedaan dan jarak akan lenyap, namun bahkan juga rasa seperti misalnya panas dan dingin, derita dan bahagia, baik dan buruk, menjadi tidak berpengaruh. Ketika seseorang telah mencapai tingkatan tersebut, Tuhan akan dengan sendirinya akan mewujud di dalam kesadarannya.

- Divine Discourse, June 1, 1977

Tuesday, July 28, 2009

Sai Inspires 28th July 2009


You will fall if you practise apeksha (attachment) , and rise by practising upeksha (non-attachment) . In the consecrated fire of your heart, pour your ego. Rise as a humbler, wiser being, saluting the Divine within you. What you hear, must be pondered over. What is pondered, should be put into practice. It is only when all three are accomplished that the realization of Bliss can be attained.

Engkau akan jatuh jika engkau menerapkan apeksha (keterikatan) , dan akan bangkit dengan menerapkan upeksha (ketidakterikatan) . Leburlah semua rasa keakuanmu dengan menuangkannya ke dalam api suci dalam hatimu. Bangkit dan berkembanglah sebagai manusia yang lebih sederhana dan bijaksana, menghormati Ketuhanan yang ada di dalam dirimu. Wacana suci yang engkau dengar, haruslah direnungkan secara mendalam. Apa yang telah direnungkan, haruslah diterapkan dalam tindakan yang nyata. Hanya jika ketiga hal tersebut telah dilaksanakan maka Kebahagiaan Sejati akan bisa engkau dapatkan.

- Divine Discourse, 15 Oct 1977.

Sai Inspires - 27th July 2009

Human beings have passed through many animal lives before they have come to earth in human form. Strains of animal nature such as cruelty, anger, greed and hatred still persist in many people. Sometimes, one exhibits the tendency of many animals present in one being. When you indulge in needless and useless controversy of matters beyond your understanding, you announce yourself as a sheep; when you jump from one idea to another, from one ideal to another, from one project to another, without fully involving yourself in any, you exhibit the nature of a monkey. You must cast off these traits from your composition.

Umat manusia telah melewati banyak tahap kehidupan sebagai binatang sebelum mereka menjelma ke bumi sebagai manusia. Sisa-sisa sifat alami binatang seperti misalnya kekejaman, kemarahan, keserakahan dan kebencian masih terdapat pada banyak orang. Kadang-kadang, seseorang menunjukkan kecenderungan beberapa sifat kebinatangan sekaligus yang ada pada manusia. Ketika engkau sibuk dalam urusan yang tidak penting dan terlibat dalam perselisihan yang tidak berguna diluar pemahamanmu, engkau menunjukkan dirimu sebagai seekor domba; ketika pikiranmu melompat-lompat dari satu hal ke hal yang lain, dari satu teladan ke teladan yang lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, tanpa sepenuh hati melibatkan dirimu didalamnya, engkau mempertontonkan sifat alami seekor kera. Engkau harus melenyapkan semua ciri-ciri tersebut dari dalam dirimu.

- Divine Discourse, Oct 15, 1977

Sai Inspires 26th July 2009


Accept the ideal of a disciplined life. Do not set bad examples for your own children. Animal instincts and impulses have persisted in human nature as vestiges and only when their upsurge is controlled and gradually eliminated, the springs of Divinity can manifest. Nature can be modified by nurture. Open yourself gladly to the influence of the Satsang (holy company) to help you to accomplish this goal. A disciplined life is the best offering you can make to the country or to the Divine in you.

Terimalah teladan dari hidup yang penuh kedisiplinan. Jangan memberi contoh yang buruk kepada anak-anakmu sendiri. Naluri dan dorongan hewani telah ada secara alami pada manusia sebagai sisa-sisa dan hanya jika saat kenaikannya bisa dikendalikan dan secara perlahan-lahan dilenyapkan, maka mata air Ketuhanan akan bisa terwujud. Sifat alamiah hanya bisa diubah dengan cara merawatnya. Bukalah dirimu dengan sepenuh hati pada pengaruh Satsang (lingkungan pergaulan yang suci) untuk membantumu mencapai tujuan ini. Hidup yang penuh disiplin adalah yang terbaik yang bisa engkau persembahkan kepada negaramu atau pada Ketuhanan yang bersemayam di dalam dirimu.

- Divine Discourse, Aug 17, 1977

Sunday, July 26, 2009

Sai Inspires 25th July 2009


The physical is subordinate to the spiritual. The body is the cart and the spirit, the horse. To not follow the disciplines imposed for betterment, is as absurd as putting the cart before the horse. Of course, the cart should be kept in good condition. Vice ruins the body and makes it unfit for the journey of life. The mind is the horse. It is starved, neglected and not groomed for the journey. Achieve lasting joy and do not throw way precious years of life in silly adventures. Develop faith and do not be turned away by your egoism or other's cynicism. With wisdom and detachment, your hearts will bloom with fragrant beauty.

Badan jasmaniah itu lebih rendah dibandingkan dengan spiritual. Badan adalah kereta dan jiwa adalah kudanya. Dengan tidak mengikuti ajaran-ajaran yang telah ditentukan untuk mencapai kemajuan, adalah sama mustahilnya dengan menempatkan kereta di depan kuda. Tentu saja, kereta haruslah dijaga supaya selalu dalam keadaan baik. Perbuatan jahat akan menghancurkan badan dan membuatnya tidak layak untuk melalui perjalanan hidup. Pikiran adalah kudanya. Ia merasa lapar, terabaikan dan tak terawat dengan baik untuk menempuh perjalanan. Capailah kebahagiaan yang abadi dan jangan membuang-buang tahunan waktu kehidupanmu yang berharga dalam petualangan yang tidak berguna. Kembangkanlah keyakinan dan jangan sampai disesatkan oleh rasa keakuan dirimu atau olok-olok orang lain. Dengan kebijaksanaan dan ketidakterikatan, hatimu akan mekar dan menyebarkan keharuman.

- Divine Discourse, June 1, 1977

Friday, July 24, 2009

Sai Inspires 24th July 2009


The company one keeps determines one's character. People join groups where they can freely express their innate nature. You must carefully choose the company you are in. Consider this example: A length of string is a worthless thing, no one will wear it in the hair or place it reverentially on an idol of God. But, when it associates itself with a few fragrant flowers, then women decorate their hair with it and devotees place the garland of flowers on the idol they adore.

Lingkungan pergaulan menentukan karakter seseorang. Orang-orang mencari kelompok dimana mereka bisa mengungkapkan pembawaan alami mereka secara bebas. Engkau harus berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan. Ambil contoh berikut ini: Seutas benang panjang tidaklah berguna, tak seorang pun yang akan memakainya di rambut atau meletakkannya dengan penuh hormat di hadapan pujaan perwujudan Tuhan. Namun, ketika pada seutas tali tersebut ditambahkan beberapa kuntum bunga yang wangi, maka para wanita akan bisa menghiasi rambutnya dengan untaian bunga tersebut dan para pemuja akan bisa mempersembahkan untaian bunga tersebut pada perwujudan Tuhan yang mereka puja.

- Divine Discourse, 17 Aug 1977

Thursday, July 23, 2009

Sai Inspires 23rd July 2009


Human beings think that they are enjoying the pleasures; but, really speaking, it is the pleasures that are enjoying them. They sap your energies, dry up your discrimination, eat up the allotted years, and worm into the mind, infesting it with egoism, envy, malice, hate, greed and lust. You are born in society, it has helped to guard, guide and foster you, to educate you and to fill you with dreams and ideals. Repay to the society the debt you owe to it.

Umat manusia berpikir bahwa mereka menikmati kesenangan badaniah; namun, sebenarnya, kesenanganlah yang menikmati mereka. Mereka menghisap tenagamu, menghilangkan kemampuanmu untuk bisa membedakan hal-hal yang baik dan buruk, memakan tahunan waktu milikmu, dan menyelinap merasuki pikiran, memenuhinya dengan rasa keakuan, iri hati, cemburu, kebencian, kerakusan dan hawa nafsu. Engkau terlahir di dalam masyarakat, yang telah membantu menjagamu, menuntun dan merawatmu, untuk mendidikmu dan mengisimu dengan cita-cita dan keteladanan terbaik. Lunasilah hutang-hutangmu tersebut kepada masyarakat.

- Divine Discourse, July 30, 1977

Sai Inspires 22nd July 2009


You do not lose much if a finger is so damaged that it needs to be cut off. The body can still function and be a fit instrument. Even if you lose a limb, you can function and benefit with the help of your faculties. But if you lose character, then everything is lost. Do not allow laziness, hatred or anger to contaminate your hearts. The world looks forward to your leadership in establishing and ensuring peace. Practice calmness and the habit of deliberation. If anyone blames, abuses or hurts you, do not retaliate with the same. Behave nobly and with patience.

Engkau tidak akan banyak kehilangan jika salah satu jarimu terluka sehingga harus dipotong. Badan masih dapat berfungsi dan menjadi alat yang berguna. Bahkan jika engkau kehilangan anggota badan, engkau masih bisa bekerja dan menghasilkan dengan bantuan orang lain. Namun jika engkau kehilangan karakter, maka semuanya akan lenyap. Jangan biarkan kemalasan, kebencian atau kemarahan meracuni hatimu. Dunia menantikan kepemimpinanmu dalam menegakkan dan memastikan tercapainya kedamaian. Terapkanlah ketenangan dan kebiasaan untuk penuh pertimbangan. Jika seseorang menuduhmu, memakimu atau menyakitimu, jangan membalas dendam dengan melakukan hal yang sama. Bersikaplah dengan mulia dan penuh kesabaran.

- Divine Discourse, Jul 30 1977

Tuesday, July 21, 2009

Sai Inspires 21st July 2009


Great devotees knew the secret of spiritual surrender. Their worship was not tainted by any bargaining spirit. For those who bargain and crave for profit, reverence is equated with returns. They sell homage at so much per unit of satisfactory response. They are like paid servants, clamoring for wages, overtime allowance, bonus, etc. They calculate how much they are able to extract for the service rendered. Be on the other hand, a member of the family, a kinsman, a friend. Feel that you are the Lord's own. Then, work will not tire. It will be done much better. It will yield more satisfaction. And what about the wages? The Master will maintain you in bliss!

Pengikut yang agung mengetahui rahasia tentang kepasrahan spiritual. Persembahan mereka tidak tercemari oleh rasa keinginan akan imbal balik. Bagi mereka yang melakukan tawar menawar dan mengidamkan keuntungan, pemujaan yang mereka lakukan diukur dengan hasil yang didapat. Mereka menjual penghormatan dengan ukuran imbal balik yang memuaskan. Mereka bagaikan pembantu yang dibayar, berteriak terus-menerus menuntut kenaikan upah, uang lembur, bonus, dan sebagainya. Mereka menghitung seberapa banyak mereka bisa terima untuk pelayanan yang telah diberikan. Jadilah sebaliknya, bagaikan seorang anggota keluarga, sanak saudara, seorang teman. Rasakanlah bahwa engkau adalah milik Tuhan. Maka, kerja tidak akan melelahkan. Pekerjaan akan bisa dilaksanakan dengan lebih baik. Kerja tersebut akan memberikan lebih banyak kepuasan tanpa diminta. Dan bagaimana dengan upah? Tuhan akan tetap menjagamu supaya terus berada dalam kebahagiaan.

- Divine Discourse, June 16, 1977

Monday, July 20, 2009

Sai Inspires - 20th July 2009


Give joy to all. Practicing Selfless Love is the way to achieve this ideal. When Love can bring even God near you, how can it fail where human beings are involved? God dwells in a pure heart, shining in His innate splendor of Wisdom, Power and Love. Start the day with Love. Spend the day with Love. Fill the day with Love. End the day with Love. That is the way to God.

Sebarkanlah kegembiraan pada semua orang. Menerapkan Kasih Tanpa Mementingkan Diri Sendiri adalah jalan untuk mencapai teladan tersebut. Ketika Kasih bahkan bisa membawa Tuhan mendekat padamu, bagaimana mungkin ia bisa gagal dimana umat manusia terlibat didalamnya? Tuhan bersemayam di dalam hati yang murni, menyinarkan cahaya Kebijaksanaan, Kekuatan dan Kasih Tuhan yang cemerlang. Mulailah hari dengan Kasih. Lalui hari dengan Kasih. Isilah hari dengan kasih. Akhiri hari dengan Kasih. Itulah jalan menuju Tuhan.

- Divine Discourse, Mar 20, 1977.

Sunday, July 19, 2009

Sai Inspires 19th July 2009


The most effective discipline that one can adopt to attain the highest goal in life is the control and conquest of five senses. The eye ever seeks the vile, just as a motorist views an ugly advertisement, not withstanding the danger to his own life. The ear craves for scandal and salacious stuff; it does not persuade you to attend discourses that will help you in spiritual development. When someone pours abuse on another, the two ears attain maximum concentration. To avoid the errors and evils that the eyes, ears, the tongue, the mind and the hands can commit, they must be held in check so that they may not ruin the mind as well as the body of the person.

Cara paling ampuh yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertinggi dalam hidup adalah dengan mengendalikan dan menaklukkan panca indera. Mata selalu mencari hal-hal yang menjijikkan, sebagaimana pengendara motor melihat iklan yang jelek di tepi jalan, tidak mewaspadai bahaya yang mengancam dirinya. Telinga ketagihan dengan skandal dan hal-hal cabul; ia tidak membujukmu untuk menghadiri pemberian wacana atau wejangan yang akan menolongmu dalam usaha pengembangan spiritual. Ketika seseorang mencaci-maki dan berlaku kejam terhadap orang lain, kedua telinga akan berkonsentrasi dengan sepenuhnya pada kejadian itu. Untuk menghindari terjadinya kesalahan dan kejahatan yang bisa dilakukan oleh mata, hidung, lidah, pikiran dan tangan, mereka harus selalu berada dalam pengendalian sehingga mereka tidak menghancurkan pikiran dan juga pada badan orang tersebut.

-Divine Discourse, 20 Mar 1977

Sai Inspires 18th July 2009


Riches melt away only when you spend them. But the span of years you can live on earth is shortened every moment, whether you like it or not. Therefore, you must feel an urgency in accomplishing great tasks in life. The intellect is a special gift that has been offered to you, so you may know yourself. Like the mirror is used to look at your face and set right your blemishes, use the intellect to discharge your duties in life perfectly.

Kekayaan akan berkurang hanya jika engkau membelanjakannya. Namun jangka waktu tahunan yang engkau bisa lalui dalam hidup di muka bumi ini pasti akan diperpendek setiap saat, entah itu engkau sukai atau tidak. Maka dari itu, engkau harus merasakan perlunya menunaikan tugas-tugas agung dalam hidupmu. Kecerdasan adalah hadiah istimewa yang telah dianugerahkan kepadamu, sehingga engkau bisa memahami diri sendiri. Bagaikan cermin yang digunakan untuk melihat mukamu dan memperbaiki tata rias wajah yang kurang sesuai, gunakanlah kecerdasanmu untuk menunaikan tugas-tugasmu di dalam hidup ini dengan sempurna.

- Divine Discourse, 20 Mar 1977

Friday, July 17, 2009

Sai Inspires 17th July 2009


When love is tainted by selfishness, it cannot illumine at all. Self is lovelessness; Love is selflessness. Love gives and forgives. Self gets and forgets. Love can never entertain the idea of revenge, for it sees all others as Oneself. When the tongue is hurt by the teeth, do you seek vengeance against the teeth? No, they both belong to you and are integral parts of your body. So too, when some other person insults you or inflicts pain, allow wisdom to have mastery over you. Discover the truth and do not rush to conclusions, always keeping love as your guide. This is a difficult task, but not beyond your capacity. Embark on this task with ardor and faith, you will attain sweet victory.

Ketika kasih dicemari oleh rasa mementingkan diri sendiri, ia tidak akan dapat menyinarkan cahayanya sama sekali. Keakuan itu tidak memiliki sifat kasih; Kasih itu tidak memiliki sifat mementingkan diri sendiri. Kasih itu memberi dan memaafkan. Keakuan itu menerima dan melupakan. Kasih tidak akan dapat memenuhi hasrat keinginan pikiran untuk membalas dendam, karena ia melihat makhluk lain sebagai Tuhan Yang Maha Tunggal. Ketika lidah terluka oleh tergigit oleh gigi, apakah engkau akan membalas dendam terhadap si gigi? Tidak, mereka semua adalah milikmu dan merupakan bagian-bagian yang menjadi satu dalam badanmu. Demikian juga halnya, ketika orang lain mencelamu atau mengakibatkan penderitaan padamu, biarlah kebijaksanaan yang mengendalikan dirimu. Temukanlah hal-hal kebenaran di balik semua kejadian itu dan jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, selalulah menjaga kasih sebagai pemandumu. Ini adalah tugas yang luar biasa sulit, namun semua itu tidak akan diluar kemampuanmu untuk menghadapinya. Bergabunglah dalam pekerjaan ini dengan penuh semangat dan keyakinan, engkau pasti akan meraih kemenangan yang manis.

-Divine Discourse, Feb 16, 1977

Sai Inspires 16th July 2009


Strive - that is your duty. Yearn, that is your task. Struggle, that is your assignment. If only you do these, sincerely and steadily, God cannot keep back for long the reward of realization. The river strives, yearns and struggles to merge with the sea from which it came. It has that consummation ever alert in its consciousness. It attempts to make itself pure and pellucid so that it may be welcomed by its source. It overcomes every obstacle of terrain in order to journey successfully towards it goal. Similarly, you too must utilize all the physical, mental, intellectual, moral and material endowments that God has granted you so that you may journey to the goal of Realization.

Berjuanglah dengan gigih – itu adalah kewajibanmu. Milikilah kerinduan yang mendalam, itu adalah untuk mengiringi pekerjaanmu. Berusahalah dengan keras, itu adalah tugasmu. Tuhan tidak akan dapat menahan lebih lama hadiah berupa kesadaran bagimu. Sang sungai berjuang, merindukan dan berusaha untuk menyatu dengan lautan yang mana merupakan tempat ia berasal. Sungai tersebut memiliki kesadaran yang terus-menerus bahwa ia harus berusaha keras demi tercapainya tujuan. Ia berusaha terus-menerus untuk membuat dirinya menjadi murni dan jernih supaya bisa diterima oleh sumbernya. Ia menghadapi setiap hambatan permukaan tanah dihadapannya sedemikian rupa sehingga perjalanannya bisa berhasil mencapai tujuan. Demikian juga halnya, engkau harus mendayagunakan semua bakat kemampuan fisik, mental, kecerdasan, moral dan material yang telah dianugerahkan Tuhan kepadamu sehingga engkau bisa menempuh perjalananmu menuju tercapainya tujuan yaitu Kesadaran Diri.

- Divine Discourse, Feb 16 1977

Wednesday, July 15, 2009

Sai Inspires 15th July 2009


Take an ordinary postal envelope. Upon it, in golden ink, write the address of a person in artistic calligraphy. Insert a beautiful worded letter full of amazing sentiments, and drop it into a postbox. What happens to it? It will not move even a yard away! Now take a simple post card, scribble unimpressive things with no special care, affix a stamp, an address and drop it into the box. What happens? The artistically ornamental envelope is inert, while the inartistic cheap document travels a thousand miles towards the person indicated. Therefore, whatever may be the uniqueness or importance, the furore or attractiveness, the service that you do can yield no fruit if it is done without a pure chiththa (thought or intention).

Ambillah sepucuk amplop surat biasa. Di amplop surat tersebut, dengan memakai tinta emas, tulislah alamat seseorang dengan gaya tulisan yang seni. Masukkanlah ke dalam amplop tersebut selembar kertas surat yang indah bertuliskan kata-kata penuh rasa yang luar biasa, dan masukkanlah ke dalam kotak pos surat . Apa yang terjadi padanya? Surat tersebut tidak akan beranjak satu meter pun! Sekarang ambillah sebuah kartu pos sederhana, coretkanlah sesuatu yang tidak penting dan tidak mengesankan dengan tanpa perhatian khusus, tempelkan selembar perangko, tambahkan alamat surat dan masukkanlah ke dalam kotak pos surat . Apa yang terjadi? Amplop surat yang penuh keindahan tersebut hanya tetap diam di dalam kotak pos surat , sedangkan kartu pos yang murah dan sederhana bisa berkelana ribuan kilometer menuju alamat orang yang tertulis disana. Demikian juga, bagaimanapun istimewa atau pentingnya, bagaimanapun kegembiraan atau daya pikat yang dihasilkannya, pelayanan yang engkau lakukan tidak akan menghasilkan buah jika pelayanan tersebut dilakukan tanpa chiththa (pikiran atau maksud) yang murni.

-Divine Discourse, Mar 6, 1977

Tuesday, July 14, 2009

Sai Inspires 14th July 2009


By saturating work with love, it can be transformed into worship. When such work is offered to God, it gets sanctified into puja (sacramental worship). This makes it free from ego. It is also freed from the earthly desire for success and the earthly fear of failure. When you can feel that when you have done the work as best as you can, your puja is complete. It is then for Him who has accepted the puja to confer on you what He considers best. This attitude will make the work unattached. Regular practice of this discipline will render the consciousness clear and pure. Without this practice, however prospective your career might be, however much you may accumulate the wherewithal of a comfortable life, to whatever heights of authority you may have climbed through the exercise of intelligence, your gains shall be nothing, unless your every activity is suffused with the Divine purity, that is inherent in consciousness.

Dengan hadirnya kasih dalam setiap hal yang kita kerjakan, pekerjaan itu menjadi persembahan. Ketika pekerjaan tersebut dipersembahkan kepada Tuhan, ia akan tersucikan menjadi puja(persembahan suci). Itu akan membuat pekerjaan yang kita lakukan bebas dari ikatan rasa keakuan. Pekerjaan itu juga akan terbebaskan dari harapan duniawi akan kesuksesan dan ketakutan duniawi akan kegagalan. Saat engkau merasa bahwa apa yang telah engkau kerjakan adalah yang terbaik sepanjang kemampuanmu, maka pujamu telah ditunaikan. Adalah terserah kepada Tuhan sebagai penerima puja yang telah engkau persembahkan untuk menentukan anugerahNya kepadamu yang terbaik menurutNya. Sikap seperti ini akan membuat pekerjaanmu menjadi tanpa keterikatan. Latihan yang teratur tentang pelajaran ini akan membuat kesadaranmu menjadi bersih dan murni. Tanpa latihan ini, biar bagaimanapun cerahnya karirmu, berapapun uang yang engkau peroleh untuk menikmati kenyamanan hidup, atau seberapapun tingginya kedudukan yang telah engkau capai melalui latihan kecerdasan, semua yang engkau peroleh tidak akan berarti apa-apa, kecuali jika setiap kegiatanmu engkau dasarkan pada kemurnian Illahi, yang tak terpisahkan dari kesadaran diri.

- Divine Discourse, Mar 6, 1977

Sai Inspires 13th July 2009


Seeing one's own reality is the opening of the doors of liberation. For this, the mirror of the heart has to be prepared by coating the back of the heart with Truth and Righteous Action. Otherwise the image will not appear. In every act of yours, if you observe truth and justice, then you can see your own reality revealed. You may say that the burden of past acts and their inevitable consequences have to be borne; but the Grace of the Lord can burn that burden in a flash; the revelation of reality, will, in a flash, save you from that burden.

Melihat kenyataan diri adalah langkah untuk membuka pintu menuju pembebasan. Untuk itu, cermin hati haruslah dipersiapkan dengan cara memberi lapisan pemantul bayangan di bagian belakang hati dengan Kebenaran dan Kebajikan. Kalau tidak, bayangan itu tidak akan muncul. Dalam setiap tindakanmu, jika engkau terus mengamati dengan kebenaran dan keadilan, maka engkau bisa melihat kenyataan dirimu sedang ditunjukkan. Engkau bisa saja berdalih bahwa hasil-hasil tindakan masa lampau dan akibat-akibat yang tidak dapat dihindarkan harus terlahir kembali; namun Anugerah Tuhan bisa membakar semua beban tersebut dalam sekejap; maka terbukanya kesadaran diri, akan, dengan sekejap, menyelamatkanmu dari beban tersebut.

-Divine Discourse, Dec 25, 1976

Sunday, July 12, 2009

Sai Inspires - 12th July 2009


The Lord is devoid of attachment and hatred. He comes on a Mission and is bent only on that task. His nature is to support the right and admonish the wrong. His task is to restore vision to man, to turn his footsteps along the path of morality and self-control, so that he may achieve self-knowledge.

Tuhan itu tidak terikat dan tanpa kebencian. Tuhan datang untuk menunaikan Tugas dan hanya terlibat dalam tugas tersebut. HakikatNya adalah untuk mendukung mereka yang benar dan menegur mereka yang salah. TugasNya adalah untuk memperbarui pandangan umat manusia, untuk menuntun langkah-langkah manusia menapaki jalan yang bermoral dan dalam pengendalian diri, sehingga manusia bisa mendapatkan pengetahuan diri sejati.

- Divine Discourse, 25 Dec, 1976

Saturday, July 11, 2009

Sai Inspires 11th July 2009


Let me call upon you to give up two evils from your mind on this Holy Day: Self-praise and talking scandal. Adopt one habit: The habit of loving service to the distressed. If you spend all your time and energy in worldly comfort and sensual delight, you are disgracing the human existence. Consider this body as a temple of God where He resides. Keep it clean, fresh and fragrant through developing Compassion and Love. Use the Temple of God, only for holy thoughts, words and deeds. Do not demean it by using it for low, trivial and unholy tasks. Wherever you are, whatever you do, have this resolution steady and strong.

Persilakanlah Aku datang kepadamu untuk memintamu agar menghilangkan dua macam keburukan dari pikiranmu pada Hari yang Suci ini: Memuji diri sendiri dan membicarakan skandal. Ambillah satu kebiasaan: Kebiasaan untuk melakukan pelayanan penuh kasih kepada mereka yang menderita. Jika engkau menghabiskan semua waktu dan tenagamu dalam kesenangan duniawi dan kesenangan sensual semata, engkau sedang mempermalukan keberadaan umat manusia. Anggaplah badan ini sebagai tempat tinggal Tuhan dimana Ia bersemayam. Jagalah badan ini supaya tetap bersih, segar dan harum dengan cara mengembangkan rasa Welas Asih dan Kasih. Gunakanlah Istana Tuhan ini, hanya untuk tempat pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci. Jangan merendahkan diri dengan menyalahgunakannya untuk melakukan hal-hal yang rendah, sepele dan tidak suci. Dimanapun engkau berada, apapun yang engkau lakukan, milikilah ketetapan hati ini dengan kokoh dan kuat.

- Divine Discourse, 25 Dec, 1976

Friday, July 10, 2009

Sai Inspires 10th July 2009


You must realize that the divine current that flows and functions in every living being is the One Universal Entity. When you desire to enter the Mansion of God, you are confronted by two closed doors: The desire to praise yourself and the desire to defame others. The doors are bolted by envy and there is also the huge lock of egoism preventing entry. So if you are earnest, you have to resort to the key of love and open the lock. Then remove the bolt and the doors are wide open. The education you receive must train you to be successful in this difficult operation.

Engkau harus menyadari bahwa sifat-sifat ketuhanan yang mengalir dan bekerja dalam diri setiap makhluk hidup sebenarnya adalah Sang Maha Tunggal yang meliputi seluruh Alam Semesta. Ketika engkau ingin memasuki Kerajaan Tuhan, engkau dihadapkan pada dua buah pintu yang tertutup: Keinginan untuk menyanjung diri sendiri dan keinginan untuk mencela orang lain. Kedua pintu tersebut dipaku dengan rasa iri hati dan juga dikunci dengan gembok keakuan yang menghalangimu untuk masuk. Jadi jika engkau sungguh-sungguh, engkau harus menggunakan anak kunci kasih dan membuka gembok tersebut. Setelah itu cabutlah pakunya dan pintu-pintu tersebut akan terbuka lebar. Pendidikan yang engkau tempuh harus mengajarimu supaya berhasil dalam pekerjaan yang sulit ini.

- Divine Discourse, Dec 25, 1976

Thursday, July 9, 2009

Sai Inspires 9th July 2009


From the narrow vision of the individual need, one must voyage out into the broad vision of the Universal. When a drop of water falls into the ocean, it loses its narrow individualities, its name and form and assumes the form, name and taste of the ocean itself. If it seeks to live separately as a drop, it will soon evaporate and be reduced to non-existence. Each one must become aware that he/she is part of the One Truth that encompasses everything in the Universe. Make the heart big and the mind pure, only then can peace and prosperity be established on earth.

Bermula dari pandangan yang sempit akan kebutuhan seseorang, ia harus menjelajah keluar menuju kepada pandangan yang luas akan Alam Semesta. Ketika setetes air jatuh ke tengah lautan, tetes air tersebut akan kehilangan kepribadiannya yang sempit, nama dan bentuknya dan selanjutnya tetes air tersebut akan menjelma menjadi bentuk, nama dan rasa lautan itu sendiri. Jika tetes air itu memilih untuk hidup sendiri terpisah sebagai tetes air, dengan cepat ia akan menguap dan hilang tanpa bekas. Setiap orang harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Kebenaran Tunggal yang meliputi segalanya di Alam Semesta ini. Buatlah hatimu menjadi lapang dan murnikanlah pikiranmu, hanya dengan demikianlah maka kedamaian dan kesejahteraan akan bisa diwujudkan di bumi ini.

- Divine Discourse, Dec 25, 1976

Sai Inspires 8th July 2009


'Dharma' or Right Action promotes peace and happiness, contentment and joy. Today, we are in need of persons who have attained purity in all levels of consciousness. One can reach perfect bliss only when his/her heart becomes free from envy, egoism, greed and other evil traits. We need persons who can recognize Tebaland relish the kinship and the identity that exists between man and man, as well as between one society and another. Dharma, Righteous Action alone provides peace, contentment and joy.

‘Dharma’ atau Tindakan yang Benar akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan, kesenangan dan kegembiraan. Saat ini, kita sangat membutuhkan orang-orang yang telah mencapai kemurnian dalam semua tingkat kesadaran. Seseorang bisa memperoleh kebahagiaan sejati hanya jika hatinya terbebas dari iri hati, keakuan, ketamakan dan sifat-sifat buruk lainnya. Kita memerlukan orang-orang yang mampu memahami dan menumbuhkan semangat kekeluargaan dan kesamaan yang ada diantara sesama umat manusia, sebagaimana juga diantara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain.Dharma, Tindakan yang Benar, hanya itu sajalah yang mampu memberikan kedamaian, kesenangan dan kegembiraan.

- Divine Discourse, Dec 25 1976

Tuesday, July 7, 2009

Sai Inspires 7th July 2009


Those who sing bhajans get what can be called "Double Promotion", for they derive joy and distribute joy. Life today is filled with sorrow, it is beset with fear and despair. The only time you can forget these thoughts and strengthen yourself to meet the hard times is when you contact the Source of all strength, God. You cannot get that peace and joy while you bend under the burden of daily life. You are carrying a huge load of worry all day. Keep that aside for an hour every evening and spend that time with God, who can make your shoulders strong and your burden light. You eat twice a day for the upkeep of the body, should you not do bhajan at least once for the upkeep of the mind?

Bagi mereka yang menyanyikan lagu-lagu bhajan akan mendapatkan apa yang disebut dengan “Peningkatan Ganda”, karena mereka mendapatkan kebahagiaan dan sekaligus menyebarkan kebahagiaan. Hidup saat ini dipenuhi dengan penderitaan, ditimpa ketakutan dan berputus asa. Satu-satunya waktu dimana engkau bisa melupakan pikiran-pikiran tersebut dan memperkuat dirimu sendiri untuk menghadapi masa-masa yang sulit adalah ketika engkau menghubungkan diri dengan Sumber dari segala sumber kekuatan, yaitu Tuhan. Engkau tidak akan dapat memperoleh kedamaian dan kebahagiaan saat engkau tunduk dibawah tumpukan beban hidup sehari-hari. Engkau membawa beban kekhawatiran yang sangat berat sepanjang hari. Kesampingkanlah sejenak semua itu selama satu jam setiap malam dan luangkanlah waktu bersama Tuhan, yang mana bisa membuat bahumu menjadi kuat dan meringankan bebanmu. Engkau makan dua kali sehari untuk menjaga kesehatan badan, bukankah seharusnya engkau melaksanakanbhajan paling tidak sekali sehari untuk menjaga kesehatan pikiran?

- Divine Discourse, , Dec 12, 1976

Sai Inspires 6th July 2009


When you intend to harm another, the evil recoils on you. The grief which you suffer is only an echo of the grief you inflict in another's heart. So when you have injured another, pray for pardon. Repent and resolve never to do it again. Through genuine prayer, mountains of evil can be pulverized and destroyed. From now on, decide that your words shall be soft and sweet, your acts beneficial to others and your thoughts always about how to serve others who are weaker and less prosperous.

Ketika engkau berniat untuk menyakiti orang lain, kejahatan telah menjangkiti dirimu. Penderitaan yang engkau rasakan saat ini disebabkan oleh penderitaan yang engkau akibatkan pada hati orang lain. Jadi ketika engkau telah menyakiti orang lain, berdoalah untuk memohon ampun. Menyesallah dan putuskan untuk tidak mengulanginya lagi. Melalui doa yang sungguh-sungguh, gunung kejahatan dapat dilumatkan dan dihancurkan. Mulai saat ini dan seterusnya, buatlah supaya perkataanmu menjadi lembut dan manis, tindakanmu memberi manfaat bagi orang lain dan pikiranmu selalu demi bagaimana untuk melayani mereka yang lebih lemah dan kurang sejahtera.

- Divine Discourse, Dec 12, 1976

Sunday, July 5, 2009

Sai Inspires 5th July 2009


The supreme secret is that man must live in the world where he is born like the lotus leaf, which though born in water floats upon it without being affected or wetted by it. Of course, it is good to love and adore God with a view to gain some valuable fruit either here or hereafter. But since there is no fruit or object more valuable than God or more worthwhile than God, the Vedas advise us to love God, with no touch of desire in our minds. Love, since you must love for love’s sake; Love God, since whatever He can give is less than He Himself. Love Him alone, with no other wish or demand.

Rahasia yang paling utama adalah bahwa manusia harus hidup di dunia dimana ia dilahirkan bagai daun teratai, dimana meskipun ia lahir di dalam air dan mengambang di atasnya namun ia tidak terpengaruh atau menjadi basah karenanya. Tentu saja, adalah suatu hal yang baik untuk mengasihi dan memuja Tuhan dengan pandangan untuk memperoleh beberapa keuntungan saat ini atau nantinya. Namun karena tiada buah atau benda yang lebih berharga daripada Tuhan atau lebih bermanfaat daripada Tuhan, maka Veda mengajarkan kita untuk mengasihi Tuhan, dengan tanpa harapan atau keinginan apapun di dalam pikiran kita. Kasih, karena engkau harus mengasihi demi kasih itu sendiri; Kasihi Tuhan, karena apapun yang Ia anugerahkan pastilah tidak akan lebih dari DiriNya Sendiri. Kasihi Tuhan saja, dengan tanpa harapan akan imbal balik atau permintaan.

- Sathya Sai Vahini

Saturday, July 4, 2009

Sai Inspires 4th July 2009


Life has the nobler goal of self-illumination, of lighting the lamp of love inside oneself and sharing that lamp with all around us. Kama (desire) and Krodha (anger) are the enemies that will not allow that flame to be burning bright.Kama (Desire) is the lust for physical pleasure, for power, fame, wealth and scholarship. Krodha (Anger) is the result of foiled lust. If you long for peace of mind, you must take the spiritual practice that will confer peace on you. If you choose the wrong path, you cannot complain that you are lost. Salt and camphor look alike, but you have to exercise your intelligence to discriminate between them. Brass makes more noise than gold, but you should not be deceived by that and choose brass instead of gold.

Hidup memiliki tujuan yang lebih mulia, yaitu untuk menyalakan pelita kasih dalam diri seseorang dan berbagi cahaya pelita tersebut dengan semua orang di sekeliling kita.Kama (hawa nafsu) dan Krodha (kemarahan) adalah musuh-musuh yang tidak akan memberi kesempatan kepada pelita tersebut untuk menyala dengan terang. Kama (hawa nafsu) adalah nafsu keinginan akan kesenangan duniawi, nafsu untuk memiliki kekuasaan, kemasyhuran, kekayaan dan kepintaran. Krodha (kemarahan) adalah hasil dari hawa nafsu yang gagal terpenuhi. Jika engkau mendambakan kedamaian pikiran, engkau harus melaksanakan latihan spiritual yang akan memberimu kedamaian. Jika engkau dengan sengaja mengambil jalan yang salah, engkau tidak boleh mengeluh bahwa engkau telah tersesat. Garam dan kamfer terlihat serupa, namun engkau harus melatih kecerdasanmu untuk bisa membedakan keduanya. Kuningan menimbulkan suara yang lebih nyaring daripada emas, namun engkau jangan sampai tertipu oleh keadaan tersebut sehingga salah memilih kuningan dan bukannya emas.

- Divine Discourse, Nov 23, 1976

Friday, July 3, 2009

Sai Inspires 3rd July 2009


Once the person is drawn to the Divine, the process of culturing or "Samskara" begins. Without this, the individual is fallow and feeble. He has no dignity or personality. A worthless steel lump is transformed by skilful manipulation and reconstruction into a watch that is worth several units of money. This is the result of the Samskara, which turned a steel lump into an useful tool for indicating time. In a similar manner, one can be transformed into a noble, efficient, happy and disciplined member of the society by implanting in him/her good thoughts, good feelings, good deeds and good emotions. Such transformed persons will spontaneously engage themselves in the task of promoting human welfare. They will be promoters of the ideals of the brotherhood of the man and the fatherhood of God.

Begitu engkau tertarik pada Ketuhanan, maka proses pengolahan atau “Samskara” akan dimulai. Tanpa proses ini, seseorang hanya akan tetap kosong dan lemah. Ia tidak mempunyai martabat atau kepribadian yang baik. Potongan baja yang tidak berguna bisa diubah dengan memanfaatkan keterampilan membuat dan membentuk menjadi jam yang berguna dan berharga. Ini adalah hasil dari Samskara, yang mengubah potongan baja menjadi alat yang berguna untuk menunjukkan waktu. Dengan cara yang serupa, seseorang bisa diubah menjadi orang yang mulia, berdaya guna, bahagia dan disiplin yang berguna bagi masyarakat dengan memupuk pikiran yang baik, perasaan yang baik, perbuatan yang baik dan emosi yang baik. Orang yang telah mengalami perubahan seperti itu tanpa diminta akan segera ikut serta dalam tugas-tugas memajukan kesejahteraan umat manusia. Mereka akan menjadi penganjur keteladanan akan persaudaraan antara sesama umat manusia dan sifat kebapakan Tuhan.

- Divine Discourse, Nov 23, 1976