Saturday, January 31, 2009

Sai Inspires 31st January 2009


Instead of saying a hundred things, it is better to do one thing properly. Sanctify your life by doing selfless work. For the person who talks a lot, there is no time for work. For the person who is engaged in work, there is no time to talk. Instead of wasting time in your words, use your time in service to mankind, which is service to God, all the while repeating the Name of the Lord.


Daripada sekedar berbicara tentang ratusan hal, lebih baik mengerjakan satu hal dengan semestinya. Sucikanlah hidupmu dengan melakukan pekerjaan tanpa pamrih. Bagi mereka yang banyak ngobrol, tidak ada waktu tersisa untuk bekerja. Untuk mereka yang sibuk bekerja, tiada waktu untuk ngobrol. Daripada menghabiskan waktu untuk mengobrol, lebih baik gunakan waktumu untuk melakukan pelayanan kepada umat manusia, yang juga berarti pelayanan kepada Tuhan, sembari mengulang-ulang Nama Tuhan.


- Divine Discourse, Mar 31, 1975

Friday, January 30, 2009

Sai Inspires 30th January 2009


You must be humble, yet strong to resist temptation. Do not yield like cowards to the sly insinuations of the senses. Your time here has to be used not just to earn your income, it must also be used to acquire the art of being content and calm, collected and courageous. You must also cultivate an ardent thirst for knowing the truth of the world and of your own self. Your words must be like honey and your hearts must be as soft as butter. Your outlook must be like the lamp, illumining, not confusing. Be like the umpire on the football field, watching the game, judging the play according to the rules laid down, unaffected by success or reverse of this team or that.

Engkau harus rendah hati, namun tetap kuat untuk menahan godaan. Jangan bertingkah layaknya penakut terhadap godaan sindiran panca indera. Waktu yang engkau miliki sekarang ini jangan hanya digunakan untuk mencari penghasilan, namun harus juga digunakan untuk mengasah keahlian untuk menjadi orang yang puas dan tenang, orang yang mampu menguasai diri dan memiliki keberanian. Engkau juga harus mengembangkan rasa haus yang amat sangat akan pengetahuan tentang kebenaran dari dunia dan dirimu sendiri. Kata-katamu haruslah bagaikan madu dan hatimu harus selembut mentega. Cara berpikirmu seharusnya bagaikan lampu, menyinari, bukan membingungkan. Jadilah seperti wasit dalam lapangan sepak bola, menyaksikan pertandingan, menjadi hakim pertandingan berdasarkan aturan yang telah digariskan, tidak terpengaruh oleh keberhasilan atau kegagalan tim yang satu atau yang lain.

- Divine Discourse, Mar 13, 1964.


Thursday, January 29, 2009

Sai Inspires 29th January 2009


Your habits must change for the better. Your outlook must widen; your inward look must become deeper and more steady. You must realize the Omnipresence of God, and the Oneness of the Humanity. You must learn tolerance and patience, charity and service. You must determine to seek the higher, the richer and the more real experience of God-realization. I bless you that you may form that determination and striving step-by-step, achieve that Goal.

Engkau harus mengubah kebiasaanmu menjadi lebih baik. Cara berpikirmu harus lebih luas; introspeksi dirimu harus lebih dalam dan lebih mantap. Engkau harus menyadari sifat Tuhan yang Maha Ada, dan Kesatuan dari Umat Manusia. Engkau harus belajar bertenggang rasa dan bersabar, berderma dan melayani. Engkau harus bertekad untuk mencari hal yang lebih tinggi, yang lebih berharga dan pengalaman yang lebih nyata akan kesadaran Tuhan. Aku berkati engkau supaya bisa mewujudkan tekad tersebut dan berjuang setapak demi setapak, mencapai Tujuan itu.

- Divine Discourse, Feb 28, 1964.

Wednesday, January 28, 2009

Sai Inspires 28th January 2009


Devotion to God is not to be calculated on the basis of the institutions one has started or helped, the temples that one has built or renovated, the donations one has given away, nor the number of times that one has written or recited the Name of the Lord. These are not vital at all, not even secondary. Devotion is Divine Love, unsullied by any tinge of desire for the benefit that flows from it, or the fruit of the action, or the consequence of that love. It is love that knows no particular season or reason. Its nature is such as the love of the soul for the Divine, the river for the sea, the creeper for the tree, the star for the sky, and the spring for the cliff down which it flows. It is sweet, in bad times as well as in good.

Pengabdian kepada Tuhan tidak dihitung berdasarkan berapa jumlah lembaga yang telah dimulai atau dibantu seseorang, tempat ibadah yang telah dibangun atau direnovasi, sumbangan yang telah diberikan, atau berapa kali seseorang sudah menulis atau mengucapkan Nama Tuhan. Semua itu bukanlah hal yang utama sama sekali, bahkan tidak penting. Pengabdian adalah Kasih Tuhan, tidak tercela oleh guratan hawa nafsu akan keuntungan yang mengalir darinya, atau hasil dari perbuatan, atau akibat dari kasih tersebut. Kasih tidak mengenal musim atau alasan. Tabiatnya adalah seperti kasih dari jiwa untuk Tuhan, sungai ke lautan, tumbuhan menjalar pada pohon, bintang di langit, dan mata air yang mengalir menuruni tebing. Kasih selalu manis, dalam masa yang buruk atau baik.

- Divine Discourse, Feb 25, 1964

Tuesday, January 27, 2009

Sai Inspires 27th January 2009



It may take several lives for you to prove that you know what is best for yourself, when you will be able to chalk your own future without harming yourself or others, and are aware of all pitfalls on the way. It is best to trust the experience of the sages, who were filled with compassion, and who were moved by that compassion to illumine the path of liberation. This experience is enshrined in the Vedas. Faith in the Vedas irrigates the heart and makes it yield the harvest of universal love.



Mungkin perlu beberapa kali penjelmaan bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau menyadari apa yang terbaik bagi dirimu, kapan engkau akan dapat merancang masa depanmu sendiri tanpa merugikan dirimu atau orang lain, dan juga mewaspadai semua lubang perangkap sepanjang jalan. Cara yang terbaik adalah dengan mempercayai pengalaman orang bijaksana, yang penuh dengan rasa iba, dan yang digerakkan oleh rasa iba tersebut untuk menerangi jalan pembebasan. Pengalaman ini tersimpan dalam kitab suci Veda. Keyakinan kepada Veda akan mengairi hati dan akan membuatnya menjadi penghasil panen kasih semesta.



- Divine Discourse, January 28, 1975.

Monday, January 26, 2009

Sai Inspires 26th January 2009



The eye, the hands, the nose, the head and stomach, each look different and do one special task. Every organ has a different name and function; but they all serve the interest of one body to which they belong. They do not work at cross-purposes, do they? So too, each one of you is a limb in the body called the society. Do your work, without a murmur. Work in full co-operation with all. Then the society can be healthy and happy. Love, Love alone, can bind you to others and to God. God is the very embodiment of love.




Mata, kedua tangan, hidung, kepala dan perut, masing-masing terlihat berbeda dan masing-masing melakukan tugas khususnya. Setiap bagian tubuh mempunyai nama dan fungsi yang berbeda; namun mereka semua melayani kepentingan dari satu tubuh tempat mereka berada. Mereka tidak bekerja dengan tujuan yang bertentangan, bukan? Demikian juga, dirimu adalah anggota badan dari suatu tubuh yang disebut dengan masyarakat. Lakukanlah pekerjaanmu, tanpa bisik-bisik. Bekerjalah dalam kerjasama yang baik dengan orang lain. Maka masyarakat akan menjadi sehat dan bahagia. Kasih, hanya Kasih semata, yang dapat menyatukanmu dengan orang lain dan dengan Tuhan. Tuhan adalah perwujudan yang sesungguhnya dari kasih.

- Divine Discourse, Jan 28, 1975.


Sunday, January 25, 2009

Sai Inspires 25th January 2009


Life has been bestowed to us not for just eating and digesting, roaming and reclining. It is gifted to us for a greater purpose - to realise the Divinity within us, around us and even beyond all things that strike our senses. To waste life in vain pursuits and in sense-pleasures is not the sign of an intelligent person. Deserve the Grace of the Lord by helping the weak and the poor, the diseased and the disabled, the distressed and the downtrodden. Do not laugh at anyone or take delight in insulting or in carrying tales demeaning others. There is no more heinous sin than hurting the feeling of others. You must develop two key qualities - fear of sin and deep devotion to God.


Hidup yang telah dilimpahkan kepada kita tidak semata-mata hanya untuk makan dan mencerna makanan, berkelana dan berbaring. Hidup dianugerahkan kepada kita untuk kepentingan yang lebih mulia – untuk menyadari Keillahian yang ada di dalam diri kita, di sekitar kita dan bahkan melampaui semua hal yang bisa dirasakan oleh indera kita. Menyia-nyiakan hidup dengan pengejaran yang percuma dan kesenangan inderawi bukanlah ciri-ciri seseorang yang cerdas. Dapatkanlah Anugerah Tuhan dengan menolong sesama yang lemah dan miskin, yang sedang sakit dan yang cacat, yang sedang dalam tekanan dan tertindas. Jangan mentertawakan orang lain atau mencari kesenangan dengan mengganggu orang atau menyebarkan kebohongan yang merendahkan orang lain. Tidak ada kejahatan yang lebih keji dibandingkan dengan menyakiti perasaan orang lain. Engkau harus mengembangkan dua macam sifat penting – takut akan dosa dan pengabdian yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.


- Divine Discourse, Jan 28, 1975.

Sai Inspires 24th January 2009


To cultivate crops and reap rich harvest, the farmer clears the field of thorny plants and bushes, ploughs it, water it, sows select seeds, plucks out the weeds, fences it, sprays the crops with insecticides and finally, after undergoing all the struggles, reaps the harvest. To reap the harvest of precious joy in your heart, you too must remove the thorns and bushes of lust, anger, greed and envy. You must uproot them and remove them completely from your heart. The farmer does not allow the land to lie fallow. Similarly, through continuous good work, you must plough the field of your heart and fill the field with the water of Love. Select the special seed of your beloved Lord's Name and sow it in the field of your heart. Take discipline as the fence that will guard the crop from the cows and spray virtue as the pesticide. In this manner, foste r the field of your heart with great care and in due course, you can bring home the precious harvest of bliss (Ananda).


Untuk menanam tanaman dan mendapatkan hasil panen yang melimpah, petani membersihkan ladang dari tanaman berduri dan semak-semak, membajak tanah, mengairi tanah, menyemaikan benih terpilih, mencabuti rumput-rumput liar, memagarinya, menyemprot tanaman dengan insektisida dan akhirnya, setelah menjalani semua perjuangan, akan menuai hasil panen. Untuk bisa menuai hasil panen kebahagiaan yang berharga dalam hatimu, engkau harus terlebih dahulu melenyapkan duri dan semak hawa nafsu, kemarahan, ketamakan dan iri hati. Engkau harus mencabut sampai ke akar-akarnya dan membuang mereka sepenuhnya dari hatimu. Petani tidak boleh membiarkan ladangnya terhampar tandus. Demikian juga, dengan melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, engkau membajak ladang hatimu dan mengairi ladang tersebut dengan air kasih. Pilihlah salah satu jenis benih istimewa dari Nama Tuhan dan semaikanlah pada ladang hatimu. Jalankanlah disiplin sebagai pagar yang akan menjaga tanaman dari ternak dan semprotkanlah kebaikan sebagai pestisida. Dengan cara ini, berilah ladang hatimu perhatian yang besar dan pada saatnya nanti, engkau akan dapat membawa pulang hasil panen yang sangat berharga berupa kebahagiaan (Ananda).

- Divine Discourse, Mar 26, 1965.

Friday, January 23, 2009

Sai Inspires 23rd January 2009


Whenever there is a vacuum in any heart, love flows into it and is glad that it can fill the emptiness. Love is never held back; it is offered in abundance without guile or deceit. Love does not wear the cloak of falsehood, flattery or fear. The tendrils of love aspire to cling only to the garments of God. It senses that God resides in His splendor, in every heart. To discover that seat of God in every heart is real devotion.

Manakala ada ruang kosong di dalam hati, kasih akan mengalir ke dalamnya dan kasih senang sekali dapat mengisi kekosongan itu. Kasih itu tak terbendung; kasih tersedia dalam jumlah yang melimpah tanpa tipuan atau dusta. Kasih hadir tanpa jubah kebohongan, rayuan atau keraguan. Sulur kasih bercita-cita untuk melekat erat hanya pada pakaian Tuhan. Sulur kasih itu sadar bahwa Tuhan bertakhta dengan megah, dalam hati setiap makhluk. Untuk menemukan singgasana Tuhan dalam hati setiap makhluk adalah pengabdian yang sesungguhnya.

- Divine Discourse, Mar 22, 1965.

Thursday, January 22, 2009

Sai Inspires 22nd January 2009


Virtuous conduct purifies the mind and leads you to God. It creates a taste for the Name and the Form of God. When you love the Name and Form of the Lord, you will naturally respect and obey His command. Have the Name on the tongue and the Form in the eye, and the demon called unending desire (asha) will fly away from your mind, filling you with joy and content. This kind of constant dwelling on God will promote in you love for all beings. You will then see only good in others. You will strive to only do good to others.

Tingkah laku yang baik akan menyucikan pikiran dan membawamu pada Tuhan. Hal ini membangkitkan rasa bagi Nama dan Wujud Tuhan. Saat engkau mencintai Nama dan WujudNya, secara alamiah engkau akan menghormati dan menuruti perintahNya. Tempatkanlah Nama Tuhan pada lidahmu dan WujudNya pada penglihatanmu, maka hal jahat bernama hawa nafsu yang tak pernah berhenti (asha) akan menjauhi pikiranmu, engkau akan dipenuhi oleh kebahagiaan dan kepuasan. Perenungan yang terus-menerus tentang Tuhan akan mengembangkan dalam dirimu rasa kasih sayang terhadap seluruh makhluk. Engkau kemudian akan melihat hanya hal-hal yang baik dari orang lain. Engkau juga akan terus berusaha hanya berbuat baik terhadap orang lain.

- Divine Discourse, Mar 22, 1965.

Sai Inspires 21st January 2009


You visit holy temples and begin every day worshipping God. That is simply sathkarma (good activity). It won't take you far. Along with this, you must also develop sathguna (virtues), that is, good habits, good attitudes, good characteristics and have good character. Otherwise your life is a chain of pluses and minuses, one cancelling the other out, totaling up to a mere zero. You must become virtuous and realise the Truth, "Thou art That ("Tath thwam asi"). That will make God happy.

Engkau mengunjungi tempat suci dan memulai pemujaan sehari-hari kepada Tuhan. Itu adalah semata-mata sathkarma (perbuatan baik). Hal itu tidak akan membawamu jauh. Bersamaan dengan pemujaan ini, engkau juga harus mengembangkan sathguna (kebajikan), yaitu kebiasaan yang baik, sikap yang baik, watak yang baik dan memiliki pekerti yang baik. Kalau tidak, hidupmu hanya akan berupa rantai dari tambah dan kurang, yang satu akan membatalkan yang lain, sehingga jumlah seluruhnya hanya nol. Engkau harus berbudi luhur dan menyadari Kebenaran, ”Thou art That” (“That thwam asi”). Itulah yang akan membahagiakan Tuhan.

- Divine Discourse, March 3, 1965.

Sai Inspires 20th January 2009


The tongue has oil, fat and greasy substances rolling over it; but it is unaffected by these. It does not become greasy or oily. So too, the mind must be unaffected by the experiences of success and failure, of gain and loss, of well-being and illness. It must be wholly surrendered at the Feet of the Lord. Just close your eyes for five minutes and think of the profits and losses your efforts have won for you. Why worry? Surrender your everything to Him and let His will prevail.

Pada lidah terdapat minyak, lemak dan zat-zat licin yang terhampar di permukaannya, namun lidah tidak terpengaruh. Lidah tidak menjadi licin atau berminyak. Demikian juga, pikiran haruslah tidak terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman keberhasilan dan kegagalan, keuntungan dan kerugian, sehat dan sakit. Pikiran harus seluruhnya pasrah di Kaki Tuhan. Tutuplah matamu untuk lima menit dan pikirkan tentang keuntungan dan kerugian yang telah engkau dapatkan melalui usaha-usahamu. Mengapa khawatir? Pasrahkanlah semuanya pada Tuhan dan biarkan kehendakNya terwujud.

- Divine Discourse, Mar 3, 1965.

Sai Inspires 19th January 2009


The mind must become the servant of the intellect, not the slave of the senses. It must discriminate and detach itself from the body. It must be unattached to this casement called body, like the ripe tamarind fruit, which becomes loose inside the shell. Strike a green tamarind fruit with a stone and you cause harm to the pulp inside. But, strike the ripe fruit and see what happens. It is the dry rind that falls off, nothing affects the pulp or the seed. Likewise, the ripe aspirant (saadhaka) does not feel the blows of fate or fortune. It is the unripe one who is wounded by every blow.

Pikiran harus menjadi hamba bagi kecerdasanmu, bukan menjadi hamba bagi indera. Pikiran harus mampu membedakan dan tidak terikat pada badan. Pikiran harus lepas dari bungkus yang disebut badan, bagaikan buah asam yang masak, yang menjadi lepas didalam kelopaknya. Lemparlah buah asam muda yang masih hijau dengan batu dan engkau akan menyebabkan kerusakan pada buah didalamnya. Namun, lemparlah buah asam yang matang dan lihatlah apa yang terjadi. Kulit keringlah yang berjatuhan, buah didalam atau bijinya tidak terpengaruh. Demikian juga, pencari spiritual (saadhaka) yang telah matang tidak merasakan kemalangan nasib atau keberuntungan. Mereka yang masih mentahlah yang terluka oleh setiap kemalangan.

-Divine Discourse, Feb3, 1965.

Sai Inspires 18th January 2009


Like the frog caught and held in the mouth of a cobra, which unaware of its fate, flicks its tongue at a fly, you too are unaware of death, which holds you in its fangs. You seek joy and earn pain, hunt for pleasure and bag grief. You attach yourselves to the body that decays and let go of God, the one who lasts. A clean consciousness is like a bright and shiny lamp. Pour into the lamp, the oil of Grace, and place in it the wick of Self-Control. Keep in the position of chimney, the Name of the Lord, and repeat it continuously so that gusts of Joy and Grief will not scotch the flame. Light the lamp with the belief "I am God." Then, you will not only have Light, but also will be the source of Light.

Bagaikan katak yang tertangkap dan tertahan di mulut seekor ular kobra, yang tidak menyadari takdirnya, menjulurkan lidahnya pada lalat, seperti itu juga engkau yang tidak menyadari kematian, yang telah mencengkerammu pada taringnya. Engkau mengejar kebahagiaan dan menuai kesakitan, berburu kenikmatan dan mendapatkan kesengsaraan. Engkau mengikatkan dirimu pada badan yang semakin membusuk serta membiarkan Tuhan berlalu, Ia yang abadi. Kesadaran yang murni adalah seperti lampu minyak yang cemerlang dan berkilau. Tuangkanlah pada lampu minyak itu, minyak Anugerah, dan taruhlah padanya sumbu Pengendalian-Diri. Jagalah pada saluran cerobong asapnya, Nama Tuhan, dan lakukanlah berulang-ulang secara terus-menerus sehingga hembusan Kesenangan dan Kesedihan tidak akan menghalangi nyala api. Nyalakanlah lampu minyak dengan keyakinan bahwa “Aku adalah Tuhan.” Dengan demikian, engkau tidak hanya mendapatkan Cahaya, namun juga menjadi sumber Cahaya.

- Divine Discourse, Mar1, 1965

Sai Inspires 17th January 2009


To escape the pull of the worldly attractions and material pleasures, Faith in God as your inner reality is essential. The Divine Self is the Reality of everyone, however distinct they may appear in physical form. When one lamp lights many lamps, all shine with equal brilliance. The One Supreme Effulgence is the origin and the source of all the different lamps. This is the very foundation of our culture. Do your duty, with the feeling of oneness permeating every act of yours. Do not give any importance to differences of religion, sect, status or colour. Your duty is to emphasize the One in all that you do and speak.

Untuk melepaskan diri dari tarikan keduniawian dan kesenangan jasmaniah, Keyakinan pada Tuhan sebagai kenyataan di dalam diri adalah hal yang sangat mendasar. Perwujudan Illahi adalah Kenyataan dari semua orang, bagaimanapun bedanya wujud badaniah mereka. Saat sebuah lampu minyak menyalakan lampu-lampu yang lain, semua bersinar dengan kecemerlangan yang sama. Penyebar Cahaya Tunggal yang Tertinggi adalah asal mula dan sumber dari lampu minyak yang berbeda-beda. Ini adalah hal yang sangar mendasar dari kebudayaan kita. Lakukanlah kewajibanmu, dengan rasa kesatuan mengalir dalam setiap kegiatan yang engkau lakukan. Jangan pedulikan perbedaan agama, golongan, status atau warna kulit. Kewajibanmu adalah menegaskan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan dan ucapanmu.

- Divine Discourse, Jan 6, 1975.

Sai Inspires 16th January 2009


To secure grace of the Divine, it is not necessary to seek knowledge, wealth, power and position. Purity of mind alone is enough. Every cell of one’s body will be filled with the Divine when God is worshipped with pure and single minded devotion.

Untuk mendapatkan anugerah Tuhan, tidak perlu mengejar pengetahuan, kekayaan, kekuasaan dan jabatan. Kemurnian pikiran saja sudah cukup. Setiap sel dalam tubuh manusia akan terisi dengan Keillahian saat ia memuja Tuhan disertai pengabdian yang tulus dan pikiran yang tidak bercabang.

- Sathya Sai Speaks, Vol.XVI., p.183

Sai Inspires 15th January 2009


It is dedication to the Lord that sanctifies all activities. He is the prompter, the executor, the giver of the required strength and skill, and the enjoyer of the fruit thereof. So, dedication must come naturally to you, for all is His and nothing is yours. Your duty is to believe that He is the impeller of all your activities and draw strength from that belief. Until the wound heals, and the new skin hardens, the bandage must protect the scar. So too, until reality is realised, the balm of faith, holy company and holy thoughts must be applied to the ego-affected mind.

Adalah persembahan kepada Tuhan yang menyucikan semua kegiatan dalam hidup. Beliaulah pewisik, pelaksana, pemberi kekuatan dan keterampilan yang kita perlukan, dan Beliaulah yang menikmati hasil dari padaNya. Jadi, persembahan haruslah menjadi suatu hal yang wajar bagimu, karena semuanya adalah milikNya dan tidak ada yang jadi milikmu. Kewajibanmu adalah yakin bahwa Beliau adalah pendorong semua kegiatanmu dan engkau harus menimba kekuatan melalui keyakinan itu. Sebelum suatu luka menjadi sembuh, dan kulit yang baru jadi mengeras, perban haruslah melindungi luka tersebut. Demikian halnya, sampai hakekat yang sebenarnya disadari, maka baluran keyakinan, lingkungan pergaulan yang baik dan pandangan yang bersih harus diterapkan pada pikiran yang dihinggapi oleh ego.

-Divine Discourse, Jan 30, 1965.

Sai Inspires 14th January 2009


Purify the heart by being good and kind to all. Do not attempt to find fault with others. Look upon all with love, respect, and with faith in their sincerity. I would ask you to treat all your servants kindly. Do not entertain hatred or contempt in your heart. Show your resentment if you must, through words, not action. Repent for the errors that you commit and decide never to repeat them. Pray for strength to carry out your resolutions.

Bersihkanlah hati dengan menjadi orang yang baik dan menyenangkan bagi orang lain. Jangan mencoba untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Pandanglah orang lain dengan rasa kasih, hormat, dan yakin pada ketulusan mereka. Aku memintamu untuk memperlakukan semua pelayanmu dengan baik. Jangan memelihara perasaan benci atau jijik dalam hatimu. Tunjukkan kekesalanmu jika perlu, melalui kata-kata, bukan tindakan. Nyatakanlah penyesalan akan kesalahan-kesalahan yang engkau perbuat dan jangan mengulanginya lagi. Berdoalah demi kekuatan untuk melaksanakan keputusanmu.

- Divine Discourse, Jan 30, 1965.


Sai Inspires 13th January 2009


Do not pay more attention to the outside world than necessary; concentrate more on the inner springs of joy. In a car, the wheels that are underneath are the outer wheels. If you pay more attention to the steering wheel, that will guide the outer wheels as well. The driver of the car is inside. So too, you must care more for the inner motivator. If you are master of your feelings and impulses, you can be anywhere, engaged in any profession and you will surely have peace.

Jangan memberi perhatian pada dunia luar lebih banyak daripada yang diperlukan, pusatkan pikiran lebih banyak pada sumber kebahagiaan di dalam diri. Ambil contoh sebuah mobil, roda-roda yang berada di bawah adalah roda-roda bagian luar. Jika engkau memberi lebih banyak perhatian pada roda kemudi, maka hal itu juga akan memandu roda-roda luar juga. Pengemudi mobil berada di dalam. Dengan demikian, engkau harus lebih memperhatikan pada sumber penggerak yang ada dalam diri. Jika engkau menjadi pengendali bagi perasaan dan dorongan hatimu, engkau akan mampu berada pada tempat dimana pun, bekerja dalam profesi apa pun dan engkau pasti akan mendapatkan kedamaian.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, May 22, 1965

Sai Inspires 12th January 2009


I ask you to fix your mind on any name of the Lord that brings up into your consciousness the Glory and the Grace of the Lord. Train your hands to serve the Lord, who is shining amongst everyone. All are He. He shaves as a barber, He makes pots as the potter; He starches and irons clothes as the washerman. He prompts, He inspires, He devises and He fulfils. You take a sheet of paper on which My Form is printed and you revere me. Why cannot you then revere all human beings, believing that I am in each of them?

Aku memintamu untuk memantapkan pikiranmu pada salah satu nama Tuhan yang bisa membuka kesadaranmu akan Keagungan dan Anugerah Tuhan. Latihlah tanganmu untuk melayani Tuhan, dimana Beliau bersinar dalam diri setiap makhluk. Semua adalah Tuhan. Beliau mencukur rambut dalam wujudNya sebagai tukang cukur, Ia membuat belanga dalam wujudNya sebagai tukang tembikar; Ia mencuci dan menyetrika pakaian dalam wujudNya sebagai tukang cuci. Ia siap siaga, Ia memberi inspirasi, Ia merencanakan, Ia mewujudkan. Engkau mengambil selembar kertas dimana WujudKu tercetak disana dan kemudian engkau memujaKu. Jadi mengapa engkau tidak bisa menghormati semua umat manusia, meyakini bahwa Aku berada di dalam semuanya?

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 30, 26-Apr-1965

Sai Inspires 11th January 2009


There is a certain joy in being the master of the senses, rather than in being their slave. Suppose, you are slaves of the coffee habit. Resolve not to cater to that attachment and stick to that resolution for three days continuously. You become the master and the tongue is your slave. Coffee cannot hold sway over you any longer. If coffee is capable of conferring joy, all should get it equally from that beverage. But, some prefer tea and many find it distasteful. Some delight in taking it without sugar and others without milk. So, it is the mind that gives delight, not the coffee; it is not the object that caters to the senses. The secret is - discover the fountain of joy within; that is a never-failing, ever-full, ever-cool fountain, for it rises from God.

Kebahagiaan pasti datang saat kita mampu mengendalikan indera, tidak seperti saat menjadi budak mereka. Sebagai contoh, engkau diperbudak oleh kebiasaan minum kopi. Putuskanlah sepenuh hatimu untuk tidak memenuhi keinginan tersebut dan bertahanlah pada keputusanmu itu selama tiga hari berturut-turut. Engkau menjadi tuan dan lidah menjadi hambamu. Kopi tidak akan mampu lagi menggoyahkan ketetapanmu. Jika kopi mampu memberi kesenangan, seharusnya semua orang mendapatkan kesenangan yang sama dari minuman itu. Namun, beberapa orang lebih suka teh dan merasa bahwa kopi itu tidak enak sama sekali. Beberapa orang suka minum kopi tanpa gula dan yang lainnya lagi tanpa susu. Jadi, pikiranlah yang sebenarnya memberi kesenangan, bukan si kopi; bukan benda yang memuaskan indera. Rahasianya adalah – menemukan sumber kebahagiaan di dalam diri; yang mana tidak akan pernah berkurang, selalu penuh, sumber kesejukan yang abadi, karena ini berasal dari Tuhan.

- Divine Discourse, July 13, 1965.

Sai Inspires 10th January 2009


As far as it lies in your power, do good to others. Do not sow fear in other's hearts; do not inflict pain on others; do not promote anxiety or grief. If you take pleasure in the pain of others, you only scotch the divinity in you and bring to light the demonic nature. The Lord is present in all. He is in you, as much as He is in the others, whom you are trying to harm. Know this and give up all the efforts to ruin others. The inner reality is the same in you as it is in the 'other'.

Sepanjang kemampuanmu, berbuat baiklah kepada orang lain. Jangan menyebarkan ketakutan dalam hati orang lain; jangan menimbulkan rasa sakit pada orang lain; jangan mengembangkan kegelisahan atau kesedihan. Jika engkau merasakan kegembiraan di atas penderitaan orang lain, engkau hanya akan mengusir keillahian dan akan membangkitkan sifat jahat. Tuhan ada dalam semua makhluk. Ia ada padamu, sebagaimana Beliau juga ada pada makhluk lain, yang mana akan engkau coba sakiti. Pahamilah hal ini dan berhentilah berusaha menjatuhkan orang lain. Sang jati diri yang sesungguhnya pada dirimu adalah sama dengan yang ada pada makhluk lain.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 5, 20-Feb-65

Sai Inspires 9th January 2009


Start by controlling the vagaries of the mind, the pulls of the ego, and the attractions of sense-attachment. Be helpful to others, then your conscience itself will appreciate you, and keep you happy and content, though others may or may not thank you. Life is a steady march towards the goal. Be patient, humble, do not rush to conclusions about others and their motives.

Mulailah dengan mengendalikan tingkah laku pikiran, pengaruh ego dan godaan keterikatan inderawi. Jadikanlah dirimu berguna bagi orang lain, maka kemudian hati nuranimu sendirilah yang akan menghargaimu, dan membuatmu tetap bahagia dan puas, biarpun orang lain mungkin berterima kasih atau tidak kepadamu. Hidup adalah gerakan yang terus-menerus ke arah tujuan. Jadilah orang yang sabar, rendah hati, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai orang lain dan alasan mereka melakukan sesuatu.
- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 28, Apr 6, 1965.

Sai Inspires 8th January 2009


Life has to be lived through, for the sake of the chance to unfold the virtues. Otherwise, the person is a burden upon the earth, the consumer of food. Whether you like it or not, the length of your life is clipped every day; the Sun takes a day off when He sets. You have to pay Him this tribute. You cannot get it back, however hard you pine for it or promise to put to better use if given back to you. Once gone, the day is gone for ever. How can you be sure of the day ahead? You may not live to see it. So sanctify every moment by holy thoughts, words and deeds.

Kehidupan harus terus dijalani, demi kesempatan untuk meyebarkan kebajikan. Kalau tidak, orang itu hanya akan menjadi beban bagi bumi, hidup hanya untuk memakan makanan. Suka atau tidak suka, panjang hidupmu terus terpotong setiap hari; sang Matahari mengambil satu hari saat Ia terbit. Engkau harus membayar upeti ini untukNya. Engkau tidak bisa mendapatkannya kembali, bagaimanapun kerasnya kesengsaraanmu atau bagaimanapun janji-janjimu untuk menjalani hidup dengan lebih baik jika engkau bisa mendapatkannya kembali. Sekali telah hilang, maka hari itu akan hilang untuk selamanya. Bagaimana engkau bisa begitu yakin jika akan ada hari esok untukmu? Engkau mungkin sudah tidak hidup saat itu untuk menyaksikannya. Jadi, sucikanlah setiap detik waktumu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30, 1965.

Sai Inspires 7th January 2009


As the carpenter shapes the wood, the blacksmith shapes the iron, the goldsmith shapes the gold, so the Lord shapes in His own way, the World, woven of Space and Time. Know that the Lord is the basis and shed all fear. The tiny sparrow sits on the storm-tossed bough, because it knows its wings are strong; it does not depend upon the tossing bough to sustain it. So too, rely on the Grace of God, earn it and keep it. Then, whatever be the strength of the storm, you can survive it without harm.

Sebagaimana seorang tukang kayu yang memotong kayu, sang pandai besi menempa besi, tukang emas membentuk emas, begitu juga dengan Tuhan yang bekerja dengan caraNya, membentuk Dunia, berupa anyaman Ruang dan Waktu. Ketahuilah bahwa Tuhan adalah yang menjadi dasar dan menggugurkan semua kekhawatiran. Seekor burung pipit kecil hinggap pada dahan yang diguncangkan oleh badai, karena dia yakin pada kekuatan sayapnya; bukan bertahan pada dahan yang berguncang untuk menyokongnya. Jadi, yakinlah pada Anugrah Tuhan, raihlah dan jagalah. Maka kemudian, bagaimanapun kuatnya badai, engkau akan dapat bertahan tanpa bahaya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 28, Apr 6, 1965.

Sai Inspires 6th January 2009


Consider all objects that you collect in the world as "Trust" to be used during your pilgrimage in this Karmakshetra (field of action). You have to return them when you leave; they belong to another. When you hold a currency note in your hand and say proudly, "This is mine", that note laughs at you, for it says, "How many thousand persons have I known who prided themselves like this?" Do not fondle the delusion and the attractions of the world; strive for the Indweller (dehi) residing in the hearts of everyone.

Anggaplah bahwa semua benda yang engkau kumpulkan di dunia ini sebagai "Benda yang dipercayakan kepadamu" untuk dipergunakan selama perjalanan sucimu di Karmakshetra (medan perbuatan) ini. Engkau harus mengembalikan benda-benda tersebut ketika engkau meninggalkan medan ini; benda-benda itu bukanlah milikmu. Ketika engkau memegang nota kuitansi di tanganmu dan dengan bangganya berkata, "Ini adalah milikku", nota itu akan menertawakanmu, sembari berujar, "Berapa ribu orang yang aku kenal yang membanggakan diri seperti ini?" Jangan menimang-nimang khayalan dan daya tarik dunia luar; berusaha keraslah demi penghuni (dehi) yang bersemayam di dalam hati setiap insan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 28, Apr 6, 1965

Sai Inspires 5th January 2009


I must warn you against two infectious diseases that are rampant in the country now. Selfishness and the habit of reviling others. Investigate, examine and then you have the right to pronounce the judgment. You will realise that your own real Self is better served, by serving others. You will realise that there are far more useful ways of spending time than reviling others or praising others. Rather than bothering yourself with the excellences and faults of others, care more earnestly for your faults. Carefully foster your own excellences. That is my advice to you today.

Aku harus memperingatkanmu akan kehadiran dua macam penyakit yang merajalela di negara saat ini yaitu mementingkan diri sendiri dan mencerca orang lain. Setelah menyelidiki dan memeriksa, barulah engkau nyatakan pendapatmu. Engkau akan menyadari bahwa Dirimu yang Sebenarnya akan terlayani dengan lebih baik hanya dengan melayani orang lain. Engkau akan menyadari bahwa masih banyak hal-hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan di waktu senggang dibandingkan dengan hanya mencaci-maki atau memuji orang lain. Daripada menyibukkan dirimu dengan kelebihan dan kekurangan orang lain, akuilah dahulu kekuranganmu secara jujur. Kemudian, dengan penuh kehati-hatian, kembangkanlah kelebihanmu. Inilah nasehatKu padamu hari ini.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 27,Apr 4 1965.

Sai Inspires 4th January 2009


The heart has to be the precious treasure of joy. Normally, one does not know the key to open its lock. That key is repetition of the Name of the Lord, with a pure heart. Purify the heart with Truth, Right Action, Peace and Non-Violence. Always endeavor to do good to others, to think well of them and to speak well of others. This endeavour will wear away your egoism and attachment to things that cater to your pleasures. Do not behave like birds and beasts always engaged in earning a living or rearing a family. Struggle for higher things, use the higher talents with which you are endowed.

Hati haruslah menjadi tempat harta karun berharga yaitu berupa kebahagiaan. Biasanya, orang tidak mengetahui kunci untuk membuka gemboknya. Kunci tersebut adalah pengulangan nama Tuhan yang disertai dengan ketulusan hati. Murnikanlah hati dengan Kebenaran, Perbuatan Baik, Kedamaian dan Tanpa-Kekerasan. Selalulah berusaha keras untuk bersikap baik terhadap orang lain, berpikir baik tentang orang lain, dan berbicara yang baik dengan orang lain. Usaha keras ini akan mengikis keakuan dan keterikatan pada hal-hal yang hanya untuk memenuhi kesenanganmu. Jangan berkelakuan seperti burung dan binatang buas yang hanya selalu sibuk pada mencari penghidupan atau berketurunan. Berjuanglah untuk mendapatkan hal-hal yang lebih tinggi, gunakanlah bakat yang lebih tinggi yang telah diberkahkan untukmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 27, Apr 4, 1965.

Sai Inspires 3rd January 2009


The very first lesson in the primer of spiritual text is "Control of Speech." Speech is the armament of the man. Through the sweetness of speech, one can disarm all opposition and defeat all the designs of hatred. Sweetness makes you Pashupathi (Divine); harshness makes you pashu (bestial). Mere outward politeness is hypocrisy. Sincere speech must flow from real sweetness of heart, a heart full of love.

Ajaran yang pertama kali diberikan oleh wacana spiritual adalah tentang “Mengendalikan Ucapan.” Ucapan atau kata-kata adalah senjata manusia. Melalui ucapan yang lembut, manusia dapat meredakan semua perlawanan dan mengalahkan semua bentuk kebencian. Kata-kata yang manis membuat engkau menjadi Pasupathi (Illahi); kata-kata yang keras membuat engkau menjadi pashu (seperti binatang). Kesopanan yang dibuat-buat untuk dipamerkan adalah kemunafikan. Kata-kata yang tulus harus mengalir dari hati yang dipenuhi kelembutan, hati yang dipenuhi oleh kasih.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 27, 4-Apr-1965.

Sai Inspires 2nd January 2009


You must develop the attitude of "merging with the Divine" in all that you do. That is the attitude of dedication, of surrendering to His will. This is the best means of realizing Him. You need not learn all the verses of the sacred texts by heart and exhibit your scholarship, engaging in contest with other scholars. It is enough if you put into practice one verse, the one that appeals to you the most.

Engkau harus mengembangkan sikap “luruh pada Sang Illahi” dalam semua tindakanmu, yaitu sikap mengabdi, pasrah terhadap segala kehendakNya. Hal ini merupakan arti yang sesungguhnya tentang kesadaran akan Tuhan. Engkau tidak harus mempelajari semua syair dari kitab suci dengan sepenuh hati untuk kemudian memamerkan pengetahuanmu, sibuk dalam persaingan dengan cerdik-pandai yang lain. Cukuplah bagimu untuk menghayati dan melaksanakan satu syair saja, yaitu bagian yang paling menarik bagimu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 26, 02-Apr-65

Sai Inspires 1st January 2009


God is the only source and sustenance for the entire Universe. Everything else is an illusion. Sorrows and difficulties, loss and gain, diseases and sickness - treat them all as Divine will. Then, everything will turn out to be good for you. You are God verily, if only you get rid of the "I", the ego and "Mine" the attachment. Then you really are your real Self. Rise above "I" and "Mine", and lead a contended life. You will derive great happiness. May you all lead a happy, loving and long life. May you all be united!

Tuhan adalah satu-satunya sumber dan saripati untuk seluruh alam semesta. Lain dari pada itu hanyalah khayalan belaka. Penderitaan dan kesulitan, kerugian dan keuntungan, penyakit dan sakit – anggap mereka semua sebagai kehendak dari Sang Illahi. Maka, semuanya akan berubah menjadi hal yang baik untukmu. Sebenarnya dirimu adalah Tuhan juga, hanya jika engkau menghilangkan ”Aku” sang ego dan ”Milikku” sang keterikatan. Maka engkau akan menjadi dirimu yang sebenarnya. Bagkitkan dirimu melampaui ”Aku” dan ”Milikku”, dan tempuhlah hidup dengan perjuangan. Engkau akan memperoleh kebahagiaan yang luar biasa. Semoga engkau semua menuju pada hidup yang bahagia, penuh cinta dan panjang umur. Semoga engkau semua bersatu!

- Sathya Sai Speaks, 23-Nov-2008