Wednesday, December 31, 2008

Sai Inspires 31st December 2008 (What is the role of good company and sacred books in our effort to win God's Grace?)

Listen to holy discourses, read sacred books. Holy places, Holy company and Holy Day - when these conjoin, it is the chance of a lifetime - make the fullest use of it. Your effort and the atmosphere of the place, together will lead you to success. Learn the means of winning Grace and earning purity from those who know - the elders and the scholars who have put their learning into practice. Do not despair or hesitate. Winning Grace will definitely wipe off the past. Good self-effort, good company and good practices will ensure happiness for ever. Hold on to these, till you win His Grace.

Dengarlah wacana-wacana suci, baca & pelajarilah buku-buku yang baik. Tempat suci, pergaulan saleh dan hari suci - apabila ketiga-tiganya menyatu dan bertepatan satu sama lainnya, maka momen seperti itu sungguh merupakan saat yang sangat berharga dan engkau harus bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Upaya-upaya yang engkau lakukan disertai dengan situasi di sekitarmu akan membawamu menuju kepada kesuksesan. Pelajarilah cara-cara untuk memenangkan rahmat Ilahi serta untuk mendapatkan purity (cara hidup yang suci & murni) dari mereka yang telah menjalaninya. Janganlah engkau berputus-asa maupun ragu-ragu. Bila engkau mendapatkan karunia & rahmat-Nya, maka niscaya karma-karma jelek sebelumnya akan dapat diringankan atau dihapuskan. Upaya yang ulet, pergaulan yang saleh serta praktek (spiritual) yang benar akan menjamin tercapainya kebahagiaan abadi. Ingatlah point ini hingga engkau berhasil memperoleh rahmat-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 25, April 1, 1965.

Tuesday, December 30, 2008

Sai Inspires 30th December 2008 (How far do we have to travel in our journey to see God?)

If the place you must reach is very near, you can just step across; if the distance is more, you may need a vehicle, bullock-drawn or horse-drawn. For longer distances, you may require a car or plane. But, the Lord is the nearest to you. Slide ajar the door of delusion; remove the curtain of ignorance; open the closed eye! He is right there beside you, before you! The fog of sensual pleasure is hiding God from you. Switch on the Light - darkness disappears and God becomes visible to you.

Apabila tempat yang hendak engkau kunjungi sangat dekat, maka engkau bisa berjalan kaki saja; jikalau jaraknya agak jauh, mungkin engkau membutuhkan kendaraan, kereta lembu ataupun kuda. Namun untuk tempat yang sangat jauh, maka engkau mungkin memerlukan kendaraan bermotor (mobil) atau bahkan pesawat. Lain halnya dengan Tuhan, Beliau berada sangat dekat denganmu. Engkau hanya perlu menggeser pintu delusi; menyibak tirai kebodohan batinmu dan bukalah matamu! Beliau berada persis di depanmu! Kabut kenikmatan sensual selama ini telah menyembunyikan-Nya darimu. Bukalah lampu (lentera hati), maka kegelapan akan sirna dan Tuhan akan tampak olehmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30, 1965.

Monday, December 29, 2008

Sai Inspires 29th December 2008 (What exactly is our duty that we should carry out?)

First, tend your parents with love, reverence and gratitude. Second, speak the truth and act virtuously. Third, whenever you have a few moments to spare, repeat the Name of the Lord, remembering the Form in your mind. Fourth, never indulge in talking ill of others or try to discover other's faults. And finally, never cause pain to others in any form.

Pertama, rawatlah orang-tuamu dengan cinta-kasih, penghormatan dan berterima-kasih. Kedua, ucapkanlah kebenaran dan lakukan tindakan bajik. Ketiga, setiap engkau memiliki keempatan, ucapkanlah nama-nama Tuhan sembari selalu menempatkan wujud-Nya di dalam batinmu. Keempat, jangan pernah menjelek-jelekkan orang lain ataupun mencoba untuk mencari-cari kesalahannya. Dan yang terakhir, janganlah menyakiti siapa saja.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 24, Mar 31, 1965.

Sunday, December 28, 2008

Sai Inspires 28th December 2008 (What is the test for true devotion? What is the attitude we must cultivate to be a true devotee?)

True devotion must not get dispirited; nor elated or satisfied with lesser gains. It must fight against failure, loss, calumny, calamity, ridicule and against egoism, pride, impatience and cowardice. The Truth that is in all beings is also in you. Search for yourself and discover that unity; that source of courage, of love, of wisdom present in you.

Janganlah engkau mematahkan semangat mereka yang sedang berusaha untuk memupuk devotion (bhakti) sejati; jangan pula engkau cukup berpuas diri dengan hasil yang tidaklah seberapa. Engkau harus berani untuk siap menghadapi kegagalan, kerugian, penderitaan, petaka, hinaan dan disamping itu juga berwasapda terhadap timbulnya sikap egoisme, kesombongan, ketidak-sabaran dan sikap pengecut. Unsur kebenaran yang ada di dalam diri setiap mahluk juga ada di dalam dirimu. Carilah ke dalam dirimu sendiri dan temukanlah unsur pemersatu itu; yang merupakan sumber keberanian, cinta-kasih dan kebijaksanaan.

- Sathya Sai Speaks,  Vol 5, Ch 24, Mar 31, 1965.


Saturday, December 27, 2008

Sai Inspires 27th December 2008 (Traversing the path of Dharma, what are the pitfalls we should be aware of?)

Do not judge others by their dress or their exterior. There may be a few who do not live up to the high standards they profess, it is a very small percentage like a few small stones in a bag of rice. To condemn all is unjust, untrue and unkind. Resolve from this day to see only the good in others, and to develop the good in yourselves. Discard anger, hate, envy and greed. You can do it by dwelling always on the Name of the Lord.

Janganlah menilai seseorang dari pakaian maupun penampilan luarnya saja. Terdapat segelintir orang yang memang tidak berperilaku sesuai dengan standar yang seharusnya, ibaratnya seperti butiran-butiran batu yang terdapat di dalam sekarung beras. Oleh karena adanya segelintir ketidak-sempurnaan itu, maka kita boleh menyalahkan semuanya, sebab hal itu tidaklah bijak, benar maupun adil. Bulatkanlah tekadmu sejak hari ini untuk hanya melihat kebaikan di dalam diri orang lain dan sekaligus mengembangkan kebajikan di dalam dirimu sendiri. Buanglah kemarahan, kebencian, sikap iri-hati dan keserakahan. Engkau akan sanggup untuk melakukannya dengan berbekalkan nama-nama Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 23, Mar 30, 1965.

Friday, December 26, 2008

Sai Inspires 26th December 2008 (What is our Dharma? How should we practice it in every moment of our lives?)

Speak softly, speak kindly. Give generously, give wisely; wipe the tear and assuage the sigh and the groan. Do not simply throw money at the needy; give with respect and reverence; give with Grace. Give also with humility. Try to live with others harmoniously. That is the true following of dharma (Right Conduct).

Berbicaralah secara lembut dan santun. Berikanlah (sumbangan) secara tulus dan bijak. Hapuslah air mata mereka yang sedang menderita. Janganlah hanya sekedar memberikan uang semata-mata. Yang tidak kalah penting adalah bahwa engkau memberinya dengan penuh rasa hormat dan disertai oleh kerendahan-hati. Hiduplah bersama-sama secara harmonis satu sama lainnya. Inilah yang dinamakan sebagai Dharma (Right conduct/kebajikan) .

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30, 1965.

Thursday, December 25, 2008

Sai Inspires 25th December 2008 (What is the message we can learn from the Life of Jesus? )

Jesus was a Master, born with a purpose - His mission was to restore love, charity and compassion in the heart of everyone. He had no attachment to the self, nor paid any heed to joy or sorrow, loss or gain. He had a heart that responded to the call of anguish and he went about the land preaching the lesson of love. His life was dedicated for the upliftment of humanity...When Jesus proclaimed that he was the Messenger of God, he wanted to emphasise that every one is a messenger of God and has to speak, act and think like one.

Yesus adalah seorang Master (spiritual), beliau lahir dengan tujuan utama yaitu mengemban misi untuk memulihkan kembali cinta-kasih, sikap kedermawanan dan welas-asih di dalam hati setiap insan manusia. Beliau tak memiliki kemelekatan duniawi dan Beliau juga tidak terpengaruh oleh pasang-surut kehidupan. Hati-Nya selalu tanggap terhadap penderitaan orang lain dan Beliau mengajarkan tentang cinta-kasih. Kehidupan-Nya didedikasikan untuk mengangkat derajat hidup kemanusiaan... Ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah utusan Tuhan, maka sebenarnya Beliau juga menekankan bahwa setiap orang juga adalah utusan-Nya dan oleh sebab itu kita harus berbicara, bertindak dan menganut pola pikiran yang selaras dengan peran tersebut.

- Sathya Sai Speaks, Vol 14, Ch 16, 25-Dec-1978.

Wednesday, December 24, 2008

Sai Inspires 24th December 2008 ( What is the relationship between our senses and contentment? )

The ear fills the head. The head directs the arm, and the arm acts. So hear good things, do good acts, share good thoughts. Speak softly and kindly. Give generously. Give wisely. Wipe the tear and assuage the sigh and the groan. Do not simply throw money at the needy. Give with respect and reverence. Give with grace and humility. Live with one another harmoniously. That is Dharma (Right Conduct). It will give joy and contentment.

(Hal-hal yang kita dengar melalui) telinga akan mengisi otak kita. Selanjutnya otak akan memberikan perintah kepada tangan dan kemudian tangan melakukan serangkaian tindakan. Oleh sebab itu, arahkanlah telingamu untuk mendengar hal-hal yang baik, lakukanlah kebajikan dan sebarkanlah pemikiran-pemikiran yang positif. Berbicaralah secara lembut dan santun. Berikanlah (sumbangan) secara tulus dan bijak. Hapuslah air mata mereka yang sedang menderita. Janganlah hanya sekedar memberikan uang semata-mata. Yang tidak kalah penting adalah bahwa engkau memberinya dengan penuh rasa hormat dan disertai oleh kerendahan-hati. Hiduplah bersama-sama secara harmonis satu sama lainnya. Inilah yang dinamakan sebagai Dharma (Right conduct/kebajikan) yang akan memberimu kebahagiaan dan kepuasan diri.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 22, 30-Mar-65

Tuesday, December 23, 2008

Sai Inspires 23rd December 2008 ( What are the obstacles that impede spiritual progress? What strategy do we need to overcome them?)

"You must be rich in devotion to God. Great devotees pray that their difficulties may continue, so that they keep the Lord ever in their mind. Riches are a great handicap in the path of spiritual progress. Even though you may be rich, do not cultivate attachment to the bank account or to the mansions, cars and comforts you command. Have them, as if they are given to you on trust by the Lord."

"Engkau harus kaya dalam bhaktimu terhadap Tuhan. Para bhakta-bhakta yang saleh berdoa semoga mereka tetap mengalami kesulitan/kesusahan agar dengan demikian, mereka tetap bisa ingat kepada-Nya. Kekayaan adalah merupakan rintangan besar dalam mencapai kemajuan spiritual. Walaupun engkau mungkin bernasib baik dan menjadi kaya, namun ingatlah selalu bahwa janganlah engkau melekat kepada rekeningmu di bank atau terhadap 'istana' rumahmu, mobil maupun kenyamanan lainnya. Engkau boleh memilikinya, namun ingatlah bahwa semuanya itu hanya dipinjamkan kepadamu oleh Tuhan."

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 23, 30-Mar-65

Monday, December 22, 2008

Sai Inspires 22nd December 2008 (How do we reconcile and proceed on our path, when we encounter inconsistencies and inequalities in our daily lives?)

Falsehood looks easy and profitable, but it binds you and pushes you into perdition. Purify your feelings and impulses. Do not worry that the others are not doing similarly. Each person is carrying their destiny in their own hands. You should strive for your salvation, at your own pace. Two people may have two acres each in the same village, but they reap different quantities of harvest, depending on the skill and attention they bestow and the quality of the seeds, soil and the manure they use. You have no right to the fruits grown on another's tree.

Kejahatan memang seolah-olah tampak gampang dan menjanjikan hasil yang berlimpah, namun ingatlah bahwa ia akan menjeratmu dan mendorongmu menuju ke jurang kehancuran. Murnikanlah perasaan serta dorongan batinmu. Engkau tidak perlu khawatir jikalau orang lain tidak melakukan hal yang sama. Setiap orang memiliki takdir dan nasibnya masing-masing. Engkau harus berjuang demi untuk keselamatanmu sendiri sesuai dengan kondisimu. Walaupun dua orang masing-masing memiliki sebidang tanah di desa yang sama, namun jumlah panen yang mereka peroleh bisa berbeda; semuanya tergantung pada ketrampilan dan perhatian yang dicurahkannya terhadap tanamannya dan juga tergantung pada kualitas benih, jenis tanah dan pupuk yang digunakan. Engkau tak berhak atas hasil panen pohon tetanggamu itu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 22, Mar 29, 1965.

Sai Inspires 21st December 2008 (How can we avoid the irksome conflicts and challenges and live in peace and joy, radiating Divine Love around us?)

Use your life to spread joy, not grief. Most of the clamour that you cause is due to wrangling for space; the stronger ones insisting on their rights and even robbing others of their rights. You should not give anger a free and furious scope. You must set limits to your own anger and hate and honor these limits. Plough your heart with virtues, feed it with the water of Divine Love, and sow the seeds of Divine Name. Then, you can reap the rich harvest of Divine Knowledge.

Daya-gunakanlah kehidupanmu untuk tujuan menyebarkan kebahagiaan, bukan penderitaan. Sebagian besar ratap-tangis yang engkau alami adalah disebabkan oleh karena pertengkaran demi untuk merebut hak/kekuasaan; dimana yang kuat memaksakan kehendaknya dan bahkan sampai merampas kebebasan/hak orang lain. Janganlah engkau membiarkan kemarahanmu memuncak secara membabi-buta. Engkau harus menerapkan batasan-batasan atas amarah serta kebencianmu dan patuhilah batasan-batasanmu itu. Garaplah benih-benih keluhuran, berikanlah cinta-kasih Ilahi sebagai pupuk untuk menyuburkan tanahmu dan tanamkanlah benih dalam bentuk nama Ilahi. Kelak engkau akan mendapatkan panen berlimpah dalam bentuk kebijaksanaan Ilahiah (Divine Knowledge).

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 21, Mar 29, 1965.

Sai Inspires 20th December 2008 (What are the key tenets that we must practice when we speak with another person?)

Loud talk, long talk, wild talk, talk full of anger and hate..all these affect the health of the person. They breed anger and hate in others. They wound, excite, enrage and estrange. When you are silent, you have the leisure and the chance to dive within and examine your failings and faults. You should have more inclination in finding your own, than to seek them in others. If your foot slips, you earn a fracture. If your tongue slips, you have fractured someone's faith or joy. That fracture can never be set right; that wound will fester for ever. Therefore, use the tongue with great care. The softer you talk, the less you talk, the sweeter you talk, the better for you and the world.

Berbual, bergosip-gosipan, berbicara ngalor-ngidul, berbicara dengan disertai oleh amarahan dan kebencian.... semua tindakan (melalui ucapan) itu berpotensi untuk mempengaruhi kesehatanmu. Ucapan-ucapan tersebut akan membangkitkan amarah dan kebencian. Mereka berpotensi untuk melukai serta menjeratmu. Sebaliknya apabila engkau memilih untuk bersikap diam, maka engkau akan memiliki kesempatan untuk melakukan perenungan dan kontemplasi diri untuk mencari kelemahan dan kesalahan diri kita sendiri. Jikalau kakimu terpeleset, maka kemungkinannya engkau mengalami keseleo atau terkilir. Tetapi apabila yang terpeleset itu adalah lidahmu, maka engkau akan meninggalkan luka di dalam keyakinan dan ketenangan batin orang lain. Luka seperti itu sulit untuk disembuhkan dan bahkan ia bisa membekas terus di dalam diri orang tersebut. Oleh sebab itu, berhati-hatilah menggunakan lidahmu. Semakin santun dan semakin sedikit engkau berbicara, maka akan semakin baik bagi dirimu dan dunia ini.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 21, Mar 29 1965.

Friday, December 19, 2008

Sai Inspires 19th December 2008 (How can we overcome our inner vices?)

It is easy to conquer anger through love, attachment through reasoning, falsehood through truth, bad thoughts through good ones and greed through charity.

Adalah cukup mudah untuk menaklukkan: kemarahan melalui cinta-kasih, kemelekatan dengan reasoning (kebijaksanaan), pikiran yang jelek dengan yang baik dan keserakahan melalui sikap kedermawanan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 20, Mar 29, 1965.

Thursday, December 18, 2008

Sai Inspires 18th December 2008 (How long do we have to keep on persisting with our spiritual sadhana?)

Try to break a coconut, as it comes from the tree. The shell is covered compactly by a coat of fibre. You cannot break the coconut as it is by hitting it with a crowbar. Take off the fibrous armor, then breaking is very easy. You can also take the coconut to the temple as an offering to God. So too, you have to remove the fibre of desire for sense-objects and then go before the Lord, devoid of kaama (desire) and krodha (anger). You have to destroy your ego and surrender to the Lord. Then you declare that you are egoless and break the coconut into two. You will be accepted unto Him now, not before.

Cobalah engkau memecahkan buah kelapa yang baru dipetik/jatuh dari pohon. Kulit buah kelapa itu masih terbungkus utuh oleh lapisan/selaput (fibre). Cukup sulit untuk memecah kelapa seperti itu. Namun lain halnya apabila engkau mengupas terlebih dahulu selaputnya, maka tindakan selanjutnya untuk membuka/memecah buah tersebut menjadi gampang. Engkau boleh membawa buah kelapa itu ke kuil sebagai persembahan kepada dewata. Dengan analogi yang serupa, engkau harus terlebih dahulu menyingkirkan selaput keinginan duniawi dan barulah setelah itu pergi menghadap kepada Tuhan, dengan tanpa membawa serta kaama (keinginan) dan krodha (kemarahan). Engkau harus menghancurkan ego-mu dan pasrah kepada-Nya. Dengan demikian, engkau baru layak untuk mendeklarasikan bahwa dirimu sudah tanpa ego dan pecahkanlah buah kelapa itu menjadi dua bagian. Niscaya engkau akan diterima oleh-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 29, Mar 29, 1965.

Wednesday, December 17, 2008

Sai Inspires 17th December 2008 ( What is the secret of peace and contentment?)

Make your mind cling to God. Let it do all things for God and leave the results, success or failure to God. Let it leave the loss and the profit, the elation or the dejection to God. That is the secret of Peace and Contentment.

'Tambat'kanlah pikiranmu kepada Tuhan. Lakukanlah segala sesuatu - baik melalui pikiran, ucapan dan perbuatan - hanya demi untuk-Nya. Serahkanlah hasil-hasilnya - baik itu berupa kesuksesan, kegagalan, untung maupun rugi, pujian maupun celaan - kepada Tuhan. Inilah rahasia untuk tercapainya kedamaian dan kepuasan diri.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 19, Mar 28 1965.

Tuesday, December 16, 2008

Sai Inspires 16th December 2008 ( How can we ensure a world of peace and security for ourselves and all our brethern?)

Love has first to gladden the home. There is no love now between the elders and the youngsters in the home; often children do not revere parents. This moral decline will certainly undermine unity and strength. Moral decline is worse than military decline; it will lead to greater disaster. If you always repeat the idea of "mine", how can you be useful to others?... Sacrifice is the 'salt' of life; it is the secret of peace and joy... All the senses are self-centred, egoistic. They must be educated to be "inward-directed", towards the Atma which is Universal.

Pertama-tama cinta-kasih haruslah bersemi di dalam rumah-tangga. Sekarang sudah tidak ada lagi cinta-kasih antara mereka yang lebih tua dengan yang lebih muda di rumah; para anak sudah tidak lagi menghormati orang-tuanya. Kemerosotan moral ini akan mengerogoti persatuan dan keutuhan. Kejadian ini (kemerosotan moral) jauh lebih berbahaya daripada desersi di dalam lingkungan militer, sebab ia akan menimbulkan bencana besar. Jikalau engkau terus-menerus mengadopsi paham bahwa "ini adalah milikku", maka bagaimana mungkin engkau bisa berguna bagi orang lain?.... Ketahuilah bahwa sikap rela berkorban adalah garam dalam kehidupan ini; ia merupakan rahasia perdamaian dan kebahagiaan.... Panca ideramu memiliki kecenderungan yang hanya mementingkan dirinya sendiri alias egoistik. Engkau harus mengarahkan serta mendidik sensasi indriawi tersebut agar menuju kepada "inward-directed", yaitu fokus kepada Atma yang bersifat universal.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 18, Mar 27, 1965.

Monday, December 15, 2008

Sai Inspires 15th December 2008 (What is the secret of peace and joy? How to attain it?)

Sacrifice is the salt of life; it is the secret of peace and joy. All the senses are self-centered, egoistic. They should be controlled so that they may not stand in the way of sacrifice. They must be educated to be "inward-directed", towards the Atma which is the Universal Self. That experience is gained by entrusting the senses to the Lord. Everyone must pass through good deeds into the realm of expanding Love, and from Love, one learns the lessons of sacrifice, dedication, and of surrender to the Lord.

Pengorbanan adalah bagaikan garam kehidupan; ia merupakan rahasia untuk tercapainya kedamaian dan kebahagiaan. Sementara itu, sensasi indriawi pada umumnya bersifat egoistik dan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Engkau perlu melakukan pengendalian terhadap panca indera guna memastikan agar ia tidak menjadi penghalang bagimu dalam praktek pengorbanan. Mereka harus dididik sedemikian rupa sehingga perhatiannya menjadi "inward-directed", yaitu menuju kepada Atma yang merupakan Universal Self. Pengalaman Atmic tersebut akan tercapai melalui jalan memasrahkan seluruh panca indera kepada Tuhan. Melalui tindakan bajik yang dilandasi oleh cinta-kasih, engkau akan belajar tentang pengobanan, dedikasi dan penyerahan diri total.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 18, Mar 27 1965.

Sunday, December 14, 2008

Sai Inspires 14th December 2008 (How can we mitigate the unpleasant consequences of our karma?)

The consequence of a karma can be wiped out only through karma, just as a thorn can be removed only by means of another. Do good karma to assuage the pain of the bad karma which you have done, and from which you suffer now. The best and the simplest karma is the repetition of the Name of the Lord. Be always engaged in it. It will keep out evil tendencies and wicked thoughts, and help you radiate love all around you.

Konsekuensi dari karma (buruk) hanya bisa dihapus dengan melaksanakan karma (baik), seperti halnya duri yang menancap bisa diatasi (dicabut) dengan menggunakan duri lainnya. Lakukanlah karma baik guna mekompensasi karma jelek yang telah engkau lakukan dan yang sedang menimbulkan akibatnya bagimu sekarang. Cara yang terbaik dan paling sederhana adalah dengan melakukan karma pengulangan nama-nama Tuhan (Namasmarana). Senantiasalah ingat kepada-Nya, maka dengan demikian engkau akan terhindar dari kecenderungan serta pikiran negatif dan sekaligus membantumu untuk memancarkan cinta-kasih terhadap orang-orang di sekitarmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 17, 26-Mar-1965.

Saturday, December 13, 2008

Sai Inspires 13th December 2008 (What do we need to do to earn profit in the business of life?)

Life is a market. In life, giving and taking, bargaining and speculating is part of the game. Life has its ups and downs, its profits and losses, joys and sorrows, depreciations and appreciations and balance sheets. But the giving of "Bhakthi" (Devotion) in exchange for "Mukthi" (Liberation) is the most powerful business for all.

Kehidupan ini bagaikan sebuah pasar dimana terjadi 'transaksi' serah-terima dan penawaran serta spekulasi adalah bagian dari permainan di pasar ini. Kehidupan ini mempunyai pasang-surut, untung dan rugi, senang dan susah, depresiasi dan apresiasi serta neracanya tersendiri. Namun di atas segala bentuk transaksi itu, pemberian Bhakti (devotion) untuk mendapatkan Mukthi (pencerahan) adalah merupakan jenis transaksi yang paling berharga.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 16, 26-Mar-65

Friday, December 12, 2008

Sai Inspires 12th December 2008 (What do we need to do to see the Lord reflected within our Heart?)

There are no shortcuts in the spiritual field. As a matter of fact, the path of devotion is even more difficult than that of knowledge. The ego has to be fully curbed. The faith that 'Not even a blade of grass can shake in the wind without His being aware of it and thus having caused it" has to be implanted in the mind. Devotion is not an activity to be undertaken at leisure time. Erase sensual desires; clear the heart of all blemish. Then, the Lord will be reflected therein as a mirror.
Dalam bidang spiritual, kita tak mengenal adanya jalan pintas. Sejujurnya, jalan devotion (bhakti) adalah jauh lebih sulit dibandingkan dengan jalan knowledge (pengetahuan). Sang ego harus benar-benar dikekang. Engkau harus menanamkan di dalam batinmu keyakinan bahwa tak ada sehelai rumput yang bisa bergoyang tanpa adanya kehendak dari-Nya. Devotion bukanlah sejenis kegiatan yang hanya dilaksanakan di waktu luang. Hapuslah keinginan-keinginan duniawi; bersihkanlah hatimu dari segala bentuk noda. Maka dengan demikian, Tuhan akan terpantul di dalam hatimu bagaikan cermin yang bersih cemerlang.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 16, 26-Mar-65

Thursday, December 11, 2008

Sai Inspires 11th December 2008 ( What are the three ways prescribed by the scriptures to realize the Supreme One?)

The Vedas proclaim three sections: Karma, Upasana, and Jnaana. Karma is the section dealing with the activities that strengthen and purify faith and devotion. Upaasana is the section dealing with worship of the personal God. It is the surrender of all skills and experiences and dedication of one's acts unto the the Lord. As a result of these two, the Consciousness is able to recognize in a flash the Jnaana, the knowledge of the Divinity immanent in all.

Kitab Veda memberitahukan adanya tiga jalan, yaitu: Karma, Upasana dan Jnaana. Karma adalah aspek yang berkaitan dengan aktivitas yang memperkuat serta memurnikan keyakinan serta bhakti (devotion). Upaasana berhubungan dengan aspek ibadah atau penyerahan-diri (dedikasi) terhadap Tuhan. Sebagai hasil dari pelaksanaan Karma dan Upaasana, maka Consciousness (kesadaran) akan mencapai Jnaana, yaitu kebijaksanaan/pengetahuan yang menyadari eksistensi Divinity di dalam segala hal.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 16, Mar 26 1965.

Wednesday, December 10, 2008

Sai Inspires 10th December 2008 (How can we secure happiness and joy wherever we are?)

Learn to be happy and content where you are. Do not run towards other places, with the hope of securing happiness and contentment there. Have inner riches, not outer acquisitions. Make your home the seat of virtue, of morality and love. Control anger and greed. Keep all personal animosity away from your conduct. Feel that everyone is your kith and kin bound together by love and co-operation. Live amicably, Live Joyfully. These are the signs of a genuine devotee.
Berbahagialah dan milikilah rasa puas dimanapun engkau berada. Janganlah engkau pergi dan mencarinya di tempat lain. Yang terpenting adalah kekayaan yang ada di dalam dirimu sendiri, bukan sesuatu yang bersifat eksternal. Jadikanlah rumahmu sebagai singgasana sifat-sifat luhur, moral dan cinta-kasih. Kendalikanlah amarah dan keserakahanmu. Jauhilah sikap sentimen pribadi dalam tindakanmu. Anggaplah setiap orang sebagai sanak-keluargamu yang terjalin oleh ikatan cinta-kasih dan kerja-sama. Hiduplah dalam nuansa persahabatan dan keceriaan. Inilah pertanda seorang bhakta sejati.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 15, Mar 26 1965.

Tuesday, December 9, 2008

Sai Inspires 9th December 2008 ( What is the right usage of our tongue and feet? How can we use them to promote harmony?)

Develop the feeling of co-operation, of love and respect of each and every being. In order to promote harmony, the first rule you must follow is control of the tongue. Do not give all your thoughts immediate expression. Select, ponder and then speak out. Speak softly, sweetly without malice in your heart. Speak as if you are addressing Sai who resides in everyone. Use the tongue to recite the Name of the Lord. Use your feet to go on pure and holy errands, use your heart to keep pure thoughts and feelings.

Galang semangat kerja-sama, cinta-kasih dan sikap hormat terhadap setiap orang. Untuk menghasilkan keharmonisan, maka prasyarat pertama adalah bahwa engkau harus mengendalikan lidah/ucapanmu. Janganlah engkau membiarkan segala bentuk pikiran yang terlintas di benakmu langsung dikeluarkan melalui ucapanmu. Engkau perlu memilih, menganalisa dan barulah mengucapkannya. Berbicaralah secara lembut dan santun tanpa adanya unsur kebencian maupun negativitas lainnya di dalam hatimu. Berbicaralah seolah-olah engkau sedang bercakap-cakap dengan Sai yang eksis di dalam diri setiap orang. Gunakanlah lidahmu untuk mengulang-ulang nama Tuhan. Kakimu hendaknya dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang suci dan berdaya-gunakanlah hatimu untuk menyimpan pikiran dan perasaan yang murni.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 15, Mar 26 1965.

Monday, December 8, 2008

Sai Inspires 8th December 2008 (Why is it important to adore God in every being that comes into contact with us?)

The temple is built of brick and mortar. The idol is made of stone.  However, you are determined to see in it, the Divine Principle. If you can penetrate behind the stone and see Divinity, how much easier it is to see the Lord who resides in the heart of every human being? Try to realize that first, so that your faith in the idol and temple can be well settled.  Revere man, that is the first step towards reverence for God. For, man is prathyaksha (perceptible) and God isparoksha (imperceptible). 



Sebuah kuil dibangun dari batu dan semen. Rupang dewata terbuat dari bebatuan. Namun walaupun demikian, engkau tetap bertekad untuk melihat Prinsip Ilahiah di dalamnya. Apabila keyakinanmu sedemikian tebalnya sehingga sanggup untuk menembus ke bebatuan dan menganggap di dalamnya terkandung Divinity, maka seharusnya akan jauh lebih mudah bagimu untuk melihat Tuhan yang bersemayam di dalam hati setiap mahluk hidup. Cobalah untuk merealisasikan kebenaran ini terlebih dahulu, agar keyakinanmu terhadap rupang dewata dan kuil juga semakin mantap. Hormatilah sesama manusia sebagai langkah pertama untuk menghormati Tuhan. Ketahuilah bahwa manusia bersifat prathyaksha (perceptible/masih bisa dipahami/dihayati oleh kemampuan batin), sedangkan Tuhan bersifat isparoksha (imperceptible/tidak akan sanggup dipahami oleh kemampuan manusia biasa).

- Sathya Sai Speaks,  Vol 5, Ch 13, Mar 24 1965. 

Sunday, December 7, 2008

Sai Inspires 7th December 2008 (How can you resolve the conflicts in your mind while making choices on the tasks to be performed in a day?)

Go straight along the path of Karma (Action) and Dharma (Virtue) towards Brahma, the Supreme Reality. This is your destiny. Action has to be performed, there is no turning away. Each has his allotted task, according to the status, taste, tendency and earned merit. Do it, with the fear of sin. Welcome pain and grief, so that you take both success and failure as hammer strokes to shape you into a sturdy Sadhaka, spiritual aspirant.

Jalanlah terus di jalur Karma (Action/Tindakan) dan Dharma (kebajikan) untuk menuju kepada Brahma (Tuhan). Inilah takdirmu. Action/Tindakan tetap harus dilaksanakan, tak ada jalan untuk menghindarinya. Setiap orang mempunyai tugas dan kewajibannya tergantung pada karma-phalanya masing-masing. Jalanilah kehidupan ini dengan senantiasa waspada agar tidak terjerumus dalam 'dosa'. Kesulitan dan penderitaan maupun sukses dan kegagalan adalah bagaikan hantaman palu yang akan membuatmu menjadi sadhaka (aspiran spiritual) yang sejati.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 13, Mar 24 1965.

Saturday, December 6, 2008

Sai Inspires 6th December 2008 (What is the nature of True Love?)

Whenever there is a vacuum in any heart, love flows into it. It is glad that it can fill the emptiness. Love is never held back; it is offered in abundance without guile or deceit. Love does not wear the cloak of falsehood, flattery or fear. The tendrils of love, aspire to cling only to the garments of God. It understands that God resides in His splendor, in every Heart.

Bilamana terdapat kevakuman di dalam hati, cinta-kasih akan mengalir masuk ke dalamnya. Ia merasa senang bisa mengisi kekosongan yang ada. Cinta-kasih tidak pernah ditahan-tahan; ia selalu diberikan secara berlimpah tanpa adanya unsur kelicikan. Cinta-kasih tak mengenal kebohongan, kepalsuan maupun ketakutan. Ia memahami bahwa Tuhan bersemayam di dalam hati semuanya.

  • Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 12, Mar 22, 1965.



Friday, December 5, 2008

Sai Inspires 5th December 2008 ( What is the relationship between the Name of the Lord and Peace in your heart?)

Virtuous conduct (dharma) purifies the mind and leads you to God. It creates a taste and deepens your Love for the Name and the Form of your favorite Lord. With Love in your Heart, you will, then naturally respect and obey the command of the Lord. Have the Name of the Lord on your tongue, and the Form of the Lord in the eye, and the demon called unending desire will fly from your mind, leaving joy and content behind. This kind of constant dwelling on God will promote in you love for all beings. You will then only see good in others.

Perilaku yang bajik (dharma) akan memurnikan batin serta menuntunmu menuju kepada-Nya. Ia menciptakan rasa dan semakin memperdalam kecintaanmu terhadap nama dan wujud Ilahi yang paling engkau sukai. Dengan berbekal cinta-kasih di dalam hatimu, maka secara alamiah, engkau dengan sendirinya akan menghormati serta mematuhi perintah-perintah-Nya. Senantiasa ucapkanlah nama Tuhan dan peliharalah wujud-Nya di matamu; dengan demikian, maka musuh (setan) keinginan duniawi akan meninggalkanmu dan yang tersisa adalah kebahagiaan dan kepuasan diri. Perenungan yang dilakukan secara terus-menerus terhadap Tuhan ini akan membangkitkan semangat cinta-kasihmu terhadap semua mahluk hidup dan engkau hanya akan melihat kebajikan di dalam diri setiap orang.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 12, 22-Mar-1965.

Thursday, December 4, 2008

Sai Inspires 4th December 2008 (How can we live without grief or sorrow in our daily lives?)

No one can liberate you, for no one has bound you. You hold on to the worldly pleasure and you weep in pain. The bird is pursued by crows, so long as it carries the fish in its beak. It twists and turns in the sky, trying to dodge the crows who seek to snatch the fish. Tired, at last, it drops the fish. Immediately it becomes free. You too can be happy, provided you drop the fish of attachment that you carry. Give up the attachment to the senses, then grief and worry can harass you no more.
Tak ada seorangpun yang bisa membebaskanmu, sebab pada hakekatnya, tiada seorangpun juga yang mengikatmu. Kemelekatanmu terhadap kenikmatan duniawilah yang selama ini menjadi sumber utama penyebab penderitaanmu. Seekor burung yang sedang mengigit ikan di paruhnya akan selalu dikejar-kejar oleh kawanan burung gagak. Burung itu akan mencoba melakukan berbagai manuver guna menghindari kejaran kawanan gagak yang mencoba untuk merebut makanannya. Tetapi pada akhirnya oleh karena merasa terlalu lelah, burung itupun melepaskan ikan tersebut. Seketika itu pula sang burung menjadi bebas. Nah, analogi ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita. Apabila engkau ingin bahagia, maka lepaskanlah kemelekatanmu atas hal-hal duniawi yang selama ini engkau bawa-bawa terus. Atasilah kemelekatanmu terhadap kenikmatan indriawi, maka dengan demikian penderitaan dan kekhawatiran tak akan menghantuimu lagi.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 10, 2-Mar-65

Wednesday, December 3, 2008

Sai Inspires 3rd December 2008 ( How should we play our role in the game of life?)

Spread joy at all times. Do not pour into others' ears, your tales of woe and worry. Carry a smile on your face, so that every one who sees you can catch that exhilaration. When you tell others of your success, your purpose is to create envy in them. You must not only love others, but you must be so good that others too may love you. Try to console, encourage, strengthen and enlighten those who are miserable, downhearted, weak or ill-informed. Get yourselves equipped for this role.

Dalam keadaan bagaimanapun juga, pancarkanlah keceriaan di wajahmu. Janganlah engkau berkeluh-kesah terhadap orang lain. Senanitasa tersenyumlah, agar mereka yang melihatmu juga merasa senang & ceria. Ketika engkau menceritakan tentang kesuksesanmu, pastikanlah engkau tidak menimbulkan rasa iri-hati di dalam diri mereka. Selain mengembangkan cinta-kasih, engkau juga harus menjadi sedemikian baiknya sehingga orang lain juga akan mencintaimu. Cobalah untuk memberi hiburan, dorongan, himbauan dan pencerahan terhadap mereka yang sedang menderita, patah-semangat, putus-asa maupun yang tersesat. Persiapkanlah dirimu untuk menjalankan peran-peran tersebut.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 5, 20-Feb-65

Tuesday, December 2, 2008

Sai Inspires 2nd December 2008 ( How can we effectively co-operate with each other at work and home and in our daily lives?)

When doing your work, do not argue that this particular bit is your jurisdiction and the other is not. Support and supplement each other in joyful co-operation. Do not be sticklers for boundaries and limits. Act as an ideal team, infusing into each other energy and enthusiasm. Do not interfere wildly with what others are doing or criticize others sullenly. There should be no place in your hearts for malice, envy or even competition.

Ketika engkau mengerjakan tugas-tugasmu, janganlah engkau mempertengkarkan tentang hal-hal atau pekerjaan-pekerjaan yang merupakan jatah/kewajibanmu dan yang bukan. Hendaknya engkau mendukung dan saling melengkapi satu sama lainnya dalam semangat kerja-sama (gotong-royong). Janganlah engkau terlalu kaku/ngotot untuk memberi batasan-batasan tertentu. Jalankanlah tugas-tugasmu sebagai anggota tim yang ideal, yang saling memberikan energi dan antusiasme. Janganlah engkau sembarang mencampuri urusan atau pekerjaan orang lain dan jangan pula engkau memberikan kritikan tidak membangun terhadapnya. Sangat penting sekali bagimu untuk memastikan bahwa di dalam hatimu tidak terkandung niat yang jahat, keiri-hatian maupun keinginan untuk bersaing (kompetisi).

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 6, 24-Feb-65

Monday, December 1, 2008

Sai Inspires 1st December 2008 (How can we cure the disease of our mind?)

The dedication to the Lord sanctifies all activities. He is the reason for all activity. He is the prompter, the executor, the giver of the strength and skill, and the enjoyer of the fruit thereof. So dedication must come naturally to you, for all is His, and nothing is yours. Your duty is to believe that He is the impeller of your activities and draw strength from that belief. Until the wounds heal and the new skin hardens, the bandage must protect that area. So too, until the unity is realized, the balm of faith, holy company and holy thoughts must be applied to the ego-affected mind.

Tindakan dedikatif terhadap Tuhan akan memurnikan semua aktivitas/tindakan lainnya. Sebab Beliau adalah tujuan dari aktivitas-aktivitas tersebut. Beliau adalah Sang pencetusnya, pelaksana, pemberi kekuatan dan ketrampilan serta yang menikmati buah-buah hasil perbuatan itu. Oleh sebab itu, sikap dedikatif haruslah muncul secara alamiah dari dalam dirimu, sebab pada hakekatnya, semuanya adalah milik-Nya dan tak ada sesuatupun yang merupakan milikmu. Tugas dan kewajibanmu adalah meyakini bahwa Beliau adalah sang pendorong dari semua aktivitasmu serta seraplah tenaga dari keyakinan/kepercayaan itu. Sebelum luka-lukamu sembuh dan kulitnya mengeras kembali, maka perban/plaster haruslah tetap digunakan untuk melindungi luka tersebut. Demikian pula, sebelum unity (Divine realisation) tercapai, maka kita perlu menggunakan perban/plaster dalam bentuk keyakinan, pergaulan yang saleh, pemikiran yang suci - sebagai obat terhadap batin yang terjangkiti oleh sang ego.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 5, 20-Feb-65

Sunday, November 30, 2008

Sai Inspires 30th November 2008 (What are the important steps that will lead us in the glorious path of wisdom?)

All individuals have to reach the goal, travelling along the path of wisdom. This knowledge comes as soon as you look into yourselves and analyze your own experience. In order to get the craving for that analysis, you have to educate yourselves into that attitude. Developing good habits, avoiding bad habits, mixing in the company of the pious, being active in good deeds, serving those in distress - all these steps will lead you into the glorious path of Self-Knowledge. You must take to this discipline and save yourselves from grief and distress. I bless that you may get the will to do so and to persist in the spiritual practice, till success is won.

Setiap orang harus sampai ke tujuan akhir, yaitu dengan menapaki jalan kebijaksanaan. Pengetahuan atau kebijaksanaan itu akan muncul apabila engkau melihat ke dalam dirimu sendiri dan menganalisa pengalaman-pengalaman yang telah engkau lalui. Untuk memunculkan kemampuan analitis seperti itu, maka engkau harus mendidik dirimu sendiri dengan attitude yang selaras, antara lain dengan cara mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, menghindari kebiasaan jelek, bergaul dengan mereka yang saleh, aktif melakukan perbuatan bajik serta melayani mereka yang memerlukan uluran tangan – semua langkah-langkah tersebut akan menuntunmu menuju kepada pengetahuan diri (Self-Knowledge). Disiplin ini harus engkau laksanakan agar engkau terselamatkan dari penderitaan. Aku memberkatimu agar engkau memperoleh semangat untuk melakukannya serta tetap langgeng di dalam menjalankan praktek spiritualmu hingga tercapainya kemenangan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 5, Feb 20, 1965.

Saturday, November 29, 2008

Sai Inspires 29th November 2008 (one small act of vigilance which will positively carry us through the journey of life)

Be silent yourself. That will induce silence in others. Do not fall into the habit of shouting, talking long and loud. Reduce contacts to the minimum. Carry with you an atmosphere of quiet contemplation, wherever you happen to be. There are some who live in a perpetual hullabaloo, in a tornado of noise. Whether they are in an exhibition or a hotel or a temple, they tongues never stop. These will not proceed far on the road to reach God.

Be silent yourself (tidak perlu banyak bicara). Dengan demikian, engkau juga akan mendorong orang lain untuk berdiam-diri juga. Janganlah memiliki kebiasaan suka berteriak-teriak, berbicara panjang lebar dengan suara yang lantang. Kurangilah kontak hingga ke level yang sesedikit mungkin. Sebaliknya biasakan dirimu untuk setiap saat selalu memelihara atmosfir quiet contemplation. Ada sebagian orang yang sudah terbiasa hidup dalam suasana yang begitu hiruk-pikuk, bagaikan suara tornado (angin puting beliung). Baik ketika sedang berada di tengah-tengah suasana pameran atau di hotel ataupun di kuil, lidah mereka tidak pernah berhenti. Orang-orang seperti ini tidak akan melangkah jauh di jalan untuk menuju Tuhan.

- Sri Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30 1965.

Friday, November 28, 2008

Sai Inspires 28th November 2008 (How long do we have to keep on persisting with our spiritual Sadhana?)

A ladder has to be as tall as the height you want to reach. Your Sadhana has to be as long as the time taken to reach the goal. When the walls are completed, the scaffolding is removed. When the vision of the Reality is attained, the spiritual practices of Japa, Vratha, Puja, Archana (chanting, worship, etc.) can be dispensed with. You must be watching for every chance to dwell on the noble thoughts, do elevating tasks, and to curb the downward pull of the ego.
Ketinggian tangga yang engkau pergunakan haruslah disesuaikan dengan tinggi obyek yang hendak engkau gapai. Demikian pula halnya dengan sadhana; yang harus engkau lakukan sepanjang waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuanmu. Ketika dinding yang sedang dibangun itu sudah selesai, maka tentunya susunan scaffolding-nya juga sudah boleh dibongkar. Nah, apabila vision of the Reality (pencerahan) sudah berhasil engkau capai, maka praktek-praktek spiritual seperti Japa, Vratha, Puja, Archana dll sudah boleh engkau tinggalkan. Namun sebelum itu tercapai, engkau harus senantiasa mencari waktu untuk mengarahkan mind (batinmu) terhadap pemikiran-pemikiran yang suci, luhur dan mulia, serta melakukan hal-hal yang semakin mendorong kemajuan batinmu serta sekaligus menahan hasutan-hasutan sang ego.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30, 1965.

Thursday, November 27, 2008

Sai Inspires 27th November 2008 (What are the obstacles in the path of realization? Why is it important to concentrate on a single purpose?)

Detach yourself from the senses. Then only the Atma (Soul) can shine. I do not mean that you should destroy the senses. The mind must be withdrawn from its present comrades, its senses and must be loyal to its real master, the intellect. Keep a lamp in a room with all its five windows open. The wind will blow it out, for the flame is swayed from all directions. To keep the flame burning straight, you have to close the windows. Similarly, the senses are the windows, the flame is the mind, and our concentration should be the single purpose of God realization.

Janganlah melekat terhadap panca inderamu, dengan begitu maka Atma (Soul/Jiwa) akan terealisasikan. Yang Ku-maksudkan disini bukanlah diartikan bahwa engkau harus menghancurkan panca inderamu. Melainkan engkau harus menjaga mind (batinmu) sedemikian rupa dari godaan-godaan panca indera dan pastikanlah bahwa ia betul-betul loyal terhadap 'tuan'nya yang sebenarnya, yaitu sang intellect (buddhi). Apabila engkau menyalakan pelita/lampu (dari lilin) di dalam sebuah ruangan yang memiliki jendela yang semuanya terbuka, maka api lilin itu kemungkinan besar akan padam karena tertiup angin dari segala penjuru. Agar lilin tersebut tetap menyala, maka engkau seharusnya menutup jendela-jendela itu. Panca indera kita dianalogikan sebagai jendela tersebut dan nyala api adalah mind kita. Konsentrasi utamamu haruslah sedemikian rupa demi untuk tercapainya realisasi Ke-Tuhan-an.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 3, Jan 29, 1965.

Wednesday, November 26, 2008

Sai Inspires 26th November 2008 (What is the result of all the spiritual practice?)

Water or fire as such, cannot move a train. They must both co-operate to produce a third thing, steam. The steam moves the engine forward. The curbing of the mind takes you to the winning post. Kerosene oil and air must both unite to form the gas which ignites in the petromax lamp to give light. Similarly Bhakthi or Jnaana or Karma (devotion or wisdom or action) must all lead to the achievement of equanimity. Otherwise, they are simply pseudo.

Air maupun api saja tidak akan bisa menggerakan kereta-api. Kedua-duanya harus saling bekerja-sama untuk menghasilkan unsur ketiga, yaitu uap (air). Nah, uap (air) inilah yang menjadi daya pengerak mesin kereta-api itu. Pengendalian mind (batin) akan mengantarkanmu menuju kemenangan. Minyak tanah dan udara haruslah bersatu guna membentuk gas yang menyalakan lampu petromaks. Demikian pula, Bhakthi atau Jnaana maupun Karma (devotion atau kebijaksanaan atau tindakan) harus menghasilkan pencapaian keseimbangan batin. Sebab jikalau tidak, maka semuanya itu hanyalah kepalsuan belaka.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 3, Jan 29 1965.

Tuesday, November 25, 2008

Sai Inspires 25th November 2008 (useful and practical tenets that we must follow everyday in our lives)

Purify the heart by being good and kind to all. Do not attempt to find fault with others. Look upon all with love, respect and faith in their sincerity. I would ask you to treat your servants kindly. Do not entertain hatred or contempt in your heart. Show your resentment if you must, through words, not action. Repent for the errors that you commit and decide never to repeat them. Pray for strength to carry out your resolutions.

Sucikan serta murnikan hatimu dengan cara berbuat kebajikan. Janganlah engkau mencoba-coba untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Perlakukanlah semuanya dengan cinta-kasih, penghormatan serta keyakinan atas ketulusan hati mereka. Aku meminta agar engkau memperlakukan pembantu/karyawanmu secara baik. Janganlah membenci ataupun menghina. Seandainyapun engkau merasa tidak puas, maka apabila dirasakan perlu, ungkapkanlah melalui tutur katamu dan jauhilah tindakan secara fisik. Sesalilah kesalahan yang pernah engkau perbuat dan bulatkanlah tekadmu untuk tidak mengulanginya lagi. Berdoalah untuk meminta kekuatan dalam menindak-lanjuti resolusi-resolusimu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 4, Jan 30 1965.

Monday, November 24, 2008

Sai Inspires 24th November 2008 (How can we escape pain and grief and be filled with bliss?)

The consciousness "I am the body" must go, if the spirit "I am one with the Self" must emerge. So long as you are one with the Universal consciousness, no pain or grief or egoism can tarnish you. Take the sea water. Small quantity of the sea water enclosed in a small bottle will get foul in a few days. But, if it remains in the sea, nothing could foul it. Be in the sea, as part of it. Do not separate yourself. Do not feel that you are the body, separate from the Indweller.

Untuk mencapai realisasi bahwa dirimu adalah satu dengan Divine, maka sebelumnya kesadaran "I am the body" (identifikasi dengan badan jasmani) haruslah dilepaskan terlebih dahulu. Selama engkau berada di dalam kesadaran universal, maka tiada penderitaan maupun egoisme yang bisa menodaimu. Ambillah contoh air laut, apabila engkau menyimpannya di dalam sebuah botol yang tertutup; maka dalam beberapa hari saja, air itu akan menjadi bau. Tetapi apabila air itu dibiarkan bebas di samudera, maka tiada sesuatupun yang bisa mengakibatkannya menjadi bau. Oleh sebab itu, biarkanlah dirimu menjadi bagian dari samudera, janganlah engkau memisahkan dirimu. Janganlah engkau menganggap bahwa dirimu semata-mata hanyalah badan fisik belaka yang terpisah dari sang penghuninya (Atma).

- Sathya Sai Speaks, Vol 1, Ch 3, 29-Jan-1965.

Sunday, November 23, 2008

Sai Inspires 23rd November 2008 (What is the important offering we must offer to our dear Lord to win His blessing?)

Recognize the truth that Sai is in all. When you inflict pain on another, remember that the other is yourself in another form, with another name. Give up this vice; be happy when another is happy. That is more pleasing to the Lord than the prayers you recite or the flowers you heap on His picture or image. Be simple in your method of living, have saathwik (pure) food and moderate recreation. Let your mind be fixed on the ideals of service. Let your thoughts be guided by Sathya, Dharma, Shaanthi, Prema. That is the blessing I confer on you today.

Ketahuilah bahwa Sai ada di dalam diri semuanya. Apabila engkau menimbulkan rasa sakit terhadap orang lain, maka ingatlah bahwa yang disebut sebagai orang lain itu sebenarnya adalah dirimu sendiri dalam wujud dan nama yang lain. Jauhilah kejahatan; berbahagialah apabila engkau melihat orang lain berbahagia. Sikap dan tindakan seperti itu jauh lebih disukai oleh Tuhan daripada doa-doa yang engkau panjatkan maupun rangkaian bunga yang engkau gantung di foto maupun wujud-Nya yang lain. Jalanilah kehidupan yang sederhana, konsumsi makan yang saathwik dan rekreasi (hiburan) yang bersifat moderat. Pusatkan perhatianmu terhadap peluang untuk memberikan pelayanan. Biarkanlah pikiranmu dituntun oleh Sathya, Dharma, Shaanthi dan Prema. Inilah anugerah yang Ku-berikan kepadamu hari ini.

- Bhagavan's Birthday Discourse, November 23, 1965.

Saturday, November 22, 2008

Sai Inspires 22nd November 2008 (What can we do to get nearer and dearer to Him at the earliest?)

You should cultivate an attitude of inseparable attachment to the Lord, who is your very self. If He is a flower, you should feel yourself as a bee that sucks its honey. If He is a tree, you must be a creeper that clings to it. If He is a cliff, then feel that you are a cascade running over it. If He is the sky, be the tiny star that twinkles in it. Above all, be conscious of the truth that you and He are bound by the Supreme Love. If you feel this acutely with subtle intelligence, then the journey will be quick and the goal can be achieved.


Jati Dirimu yang sebenarnya adalah Divine, oleh sebab itu, milikilah attitude dimana engkau merasa tidak akan pernah bisa berpisah dari-Nya. Jikalau Beliau adalah kembang (bunga), maka engkau harus merasa bahwa dirimu menjadi lebah yang menyedot sari madu-Nya. Jikalau Ia adalah sebatang pohon, maka engkau adalah tanaman menjalar yang menumpang pada pohon itu. Jikalau Ia adalah batu karang, maka rasakanlah bahwa seolah-olah dirimu adalah air terjun yang mengalir di atasnya. Jikalau Beliau adalah langit/angkasa, maka engkau menjadi bintang kecil yang gemerlap menghiasi langit itu. Pendek kata, sadarilah kebenaran bahwa dirimu dan Tuhan terikat oleh jalinan cinta-kasih Mulia (Supreme Love). Jikalau engkau mampu menjiwai kebenaran ini dengan benar, maka perjalananmu (menuju ke tujuan hidup) akan menjadi lebih cepat.



Friday, November 21, 2008

Sai Inspires 21st November 2008 ( What is the constant vigil that we must be alert for to become one with Him?)

Know that you and I are one. You can realize this only by intense spiritual discipline, that is not marred by anger, envy and greed...the vices that sprout from the ego. When you get angry, you act as if you are possessed by an evil spirit. Your face becomes ugly and frightful. Heed that signal, and take yourself to a quiet spot. Do not give free vent to wicked vocabulary. Envy and greed also emanate from the ego and have to be carefully watched and controlled. Like the tadpole's tail, the ego will fall away when one grows in wisdom. Develop wisdom, discriminate and know the ephemeral nature of all objective things.

Ketahuilah bahwa dirimu dan Aku adalah satu adanya. Engkau akan mencapai kesadaran itu hanya setelah melalui serangkaian disiplin spiritual ketat yang tidak tercemar oleh unsur kemarahan, keiri-hatian dan keserakahan (sifat-sifat negatif yang bersumber dari sang ego). Ketika engkau sedang dalam kondisi penuh amarah, maka pada saat itu engkau akan terlihat seolah-olah sedang dirasuki oleh roh yang jahat. Wajahmu menjadi sangat jelek dan menakutkan. Pada saat unsur-unsur kemarahan mulai menjangkitimu, maka secepat mungkin sadarilah dan asingkanlah dirimu ke tempat yang sepi dan hindarilah penggunaan kosa-kata yang jelek. Demikian pula, engkau perlu memperhatikan serta mengendalikan unsur keiri-hatian dan keserakahan yang juga bersumber dari sang ego. Seperti halnya buntut seekor tadpole (binatang amfibi) yang akan copot menjelang usia dewasanya, maka demikian pula, sang ego akan sirna dengan sendirinya pada saat engkau semakin matang dalam kebijaksanaanmu. Oleh sebab itu, kembangkanlah terus kebijaksanaan, kemampuan diskriminatif agar dapat mengenali hal-hal yang bersifat sementara dalam obyek-obyek duniawi.

- Sathya Sai Speaks, Vol 5, Ch 1, Jan 14 1965.