Friday, October 31, 2008

Sai Inspires 31st October 2008 ( How can we persist in seeing the Divine everywhere? How do we leverage the power of Eternal Love in all our actions

There is no living being without the spark of love; even a mad man loves something or somebody intensely. You must recognize this love as but a reflection of the Lord. That is your reality, recognize Him as the Lord residing in your heart. Without that spring of Love that bubbles in your heart, you will not be prompted to love at all. Recognize that spring, rely on it more and more, develop its possibilities, try to irrigate the whole word with it. Discard all touch of self from it. Do not seek anything in return for it, from those to whom you extend it.

Tiada mahluk hidup di dunia ini yang tidak memiliki percikan cinta-kasih; bahkan seseorang yang dilabel sebagai kurang waras sekalipun juga mencintai sesuatu atau seseorang dengan amat sangat. Engkau harus menyadari bahwa cinta-kasih ini adalah refleksi Tuhan. Sebab itulah realitasmu yang sebenarnya, kenalilah Tuhan yang berada di dalam hatimu. Tanpa adanya mata-air cinta-kasih yang bergelora di dalam hatimu, maka engkau tak akan mungkin bisa mencintai semuanya. Carilah mata air itu, dan jadikanlah ia sebagai sumber kehidupanmu. Kembangkanlah segala bentuk kemungkinan untuk memanfaatkan sumber mata-air cinta-kasih tersebut, cobalah untuk memanfaatkannya sebagai sumber irigasi demi untuk manfaat orang banyak. Jauhkanlah unsur-unsur ego daripadanya. Janganlah mengharapkan pamrih dari orang-orang yang telah engkau berikan cinta-kasihmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 212, 6-Sep-63

Thursday, October 30, 2008

Sai Inspires 30th October 2008 ( What can one experience when they surrender to the Lord?)

You must become the Divine Flute in His hands. Let the breath of your beloved Lord pass through you, making delightful music that melts the hearts. Surrender yourself to Him, become hollow, egoless, desireless. Then, He Himself will come and pick you up caressingly, and apply 'you', the Flute, to His Lips and blow His sweet breath through you. Allow Him to play whatever song He likes. The Lord is pure Love. He has no hatred in Him.

Jadilah seruling Ilahi di tangan-Nya. Biarkanlah nafas Tuhan tersalurkan melalui dirimu sehingga menghasilkan alunan musik indah yang menyenangkan hati semuanya. Pasrahkanlah dirimu kepada-Nya, lepaskanlah ke-ego-an serta keinginan-keinginanmu. Dengan demikian, maka Ia akan memilihmu serta menjadikanmu sebagai seruling-Nya. Biarkanlah Ia melantunkan irama yang disukai-Nya. Tuhan adalah cinta-kasih murni. Tidak ada unsur kebencian di dalam diri-Nya.

- Sri Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6-Sep-1963

Wednesday, October 29, 2008

Sai Inspires 29th October 2008 ( What is the secret passage to win the heart of the Lord?)

Sanctify every word and deed by filling it with the Love and the Name of your favorite Lord. The gold of which an anklet was made can become the gold for a crown on the head of a temple image. Only it has to be melted in the crucible and beaten into shape. The waters of the river may not be pure, but the devotee who sips it with a Manthra or Sthothra (Sacred Prayers) on his lips, transmutes it into a sacred theertha (Holy Water). The body becomes healthy by exercise and work. The mind becomes healthy by remembrance and contemplation of the Lord through regular, well-planned discipline, carried out joyfully. This is the secret passage to win the Heart of the Lord, to realize Him quick and fast.

Suci dan murnikanlah setiap tutur kata dan perbuatanmu dengan cara mendaya-gunakan cinta-kasih serta nama Tuhan yang paling dekat di hatimu. Gelang emas yang ada di pergalangan kaki bisa dibuat menjadi mahkota emas dan diletakkan di kepala rupang yang ada di dalam kuil. Namun sebelum emas itu berhak untuk ditempatkan di sana, maka terlebih dahulu tentunya ia harus melalui proses pelumeran dan pembentukkan. Air sungai mungkin tidaklah murni, namun apabila seorang bhakta berendam di sana sembari mengucapkan Manthra atau Sthothra, maka air di situ akan ditransformasikan menjadi theertha suci. Badan fisik menjadi sehat melalui olah-raga dan bekerja. Mind (batin) menjadi sehat dengan cara senantiasa ingat dan berkontemplasi terhadap-Nya secara teratur, disiplin dan dilakukan secara senang hati. Inilah rahasia untuk memenangkan hati Tuhan serta mencapai pencerahan secara cepat.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 6, Sep-6-63

Tuesday, October 28, 2008

Sai Inspires 28th October 2008 ( How can we pass the test of life and escape all the attractions of Maya? )

The goal of life is the final merging in the sea, God. You should not fill life with the world. That will make it a vanity fair, an insanity fair. Listen to all such things that will draw you towards the principle of Godhead; then, think it over in the silence, make it a part of your consciousness. This process of Manana (Reflection) makes you a human being. This is the test of life for every human being.

Tujuan akhir kehidupan ini adalah untuk mencapai kemanunggalan dengan samudera, yaitu Tuhan. Janganlah engkau mengisi kehidupanmu dengan hal-hal duniawi, sebab bila hal itu engkau lakukan, maka kehidupanmu akan menjadi seperti pasar malam. Dengarkanlah hal-hal yang akan semakin mendekatkanmu kepada prinsip-prinsip ke-Tuhan-an; lalu renungkanlah di dalam kesunyian, dan jadikanlah ia sebagai bagian dari kesadaranmu. Proses perenungan/refleksi (Manana) seperti ini akan menjadikanmu sebagai manusia sejati. Inilah batu ujian bagi setiap mahluk hidup.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 21, 6th Sep 1963.

Monday, October 27, 2008

Sai Inspires 27th October 2008 ( What sort of actions help us reach God?)

There is no Sathyam (Truth) without Shivam (Goodness). Truth alone can confer Beauty and Auspiciousness. Truth is beauty, joy is beauty. Grief and falsehood are ugly because they are unnatural. Do your actions, that are approved by higher wisdom. Stay away from those actions that are born of ignorance. Then all actions will be beneficial and blessed.
Sathyam (kebenaran) dan Shivam (Kebajikan) selalu jalan berbarengan. Hanya kebenaran sajalah yang bisa menghasilkan keindahan dan kesucian. Kebenaran adalah keindahan, kebahagiaan juga merupakan wujud keindahan. Sebaliknya, penderitaan dan kebohongan di-cap sebagai kejelekan oleh karena kedua sifat tersebut bukanlah sifat alamiah (dari diri seorang manusia). Kerjakanlah hal-hal yang sudah disetujui oleh kebijaksanaan tertinggi. Sebaliknya, jauhilah perbuatan-perbuatan yang bersumber dari kebodohan (batin). Bila engkau mengikuti praktek seperti ini, maka semua perbuatan/tindakanmu akan menjadi bermanfaat dan diberkati.
- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 16, 7-7-1963

Sunday, October 26, 2008

Sai Inspires 26th October 2008 (What should we do to achieve success in life?)

Remember always that it is easy to do what is pleasant; but it is difficult to be engaged in what is beneficial. Not all that is pleasant is profitable. Success comes to those who give up the path strewn with roses and brave the hammer-blows and sword-thrusts on the path fraught with difficult choices.

Ingatlah selalu bahwa adalah relatif lebih gampang untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan; namun sulit untuk mengerjakan/melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tidak semua perbuatan yang menyenangkan itu secara otomatis bermanfaat.Kesuksesan hanya akan dicapai oleh mereka yang rela meninggalkan kenikmatan duniawi dan sebaliknya justrumemberanikan diri untuk mengikuti jalan yang penuh dengan rintangan dan hambatan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 18, 12-8-63

Saturday, October 25, 2008

Sai Inspires 25th October 2008 (How should one deal with life during challenging times?)

Life is a battlefield, a Dharmakshethra, where duties and desires are always in conflict. Smother the fiery fumes of desire, hatred and anger that rises up in your hearts. It is sheer cowardice to yield to these enemies that turn you into beasts. When obstacles come, meet them with courage. They harden you, make you tough.

Kehidupan ini bagaikan medan pertempuran, sebuah Dharmakshethra, dimana selalu terjadi pertentangan/konflik antara keinginan dan tugas/tanggung-jawab. Padamkanlah bara api keinginan, kebencian dan kemarahan yang bergelora di dalam hatimu. Sungguh merupakan tindakan pengecut apabila ada yang menyerah kepada musuh-musuh yang akan menjebloskanmu ke dalam sarang binatang buas. Ketika engkau menghadapi rintangan hidup, hadapilah dengan penuh keberanian. Sebab semua ujian/cobaan itu akan semakin membuat engkau teguh & kokoh.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 17, 2-8-1963.

Friday, October 24, 2008

Sai Inspires 24th October 2008 (Why is it very important to practice Unity in Diversity in our daily lives to attain nearness and dearness with Him?)

Each person has a different conception of God and goodness, according to one's upbringing and the state of purification of their impulses. All conceptions are valid; when water is let out in fields, you will find sheets of different shapes - circular, rectangular, oval, square, according to the shape of the fields. The fertility or the quantity of the crops harvested do not vary according to the geometrical correctness of the shapes. How far, how fast you have established attachment to the Lord - that is the test, the rest does not matter!

Setiap orang memiliki konsepnya masing-masing tentang aspek Ke-Tuhanan dan kebajikan, semuanya dipengaruhi oleh keadaan bagaimana yang bersangkutan dibesarkan dan juga tergantung pada kondisi seberapa murninya dorongan impuls/batin masing-masing. Semua konsep-konsep itu sahj-sah saja; ibaratnya seperti ketika air dibiarkan mengaliri sebidang lahan, maka engkau akan melihat berbagai bentuk cetakan, lingkaran, persegi, oval, kotak - tergantung pada bentuk lahan itu. Kesuburan dan banyaknya hasil panen tidaklah dipengaruhi oleh bentuk geometri lahan tersebut. Yang jauh lebih menentukan adalah seberapa dalamnya kemelekatanmu terhadap Tuhan - sebab inilah batu ujiannya, faktor-faktor lainnya tidaklah penting sama sekali!

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 17, 2-8-1963.

Thursday, October 23, 2008

Sai Inspires 23rd October 2008 ( What is the significance of the Nature that we see around us?)

The indhriyas (sense organs) may be used for the purpose of increasing spiritual joy (bliss) in this very life. When a fruit juice is poured into a cup, the cup does not know its taste. If you hold it in the palm, you do not get the taste. You have to drink it with the straw, the senses; then buddhi (the intellect) using the tongue can experience the sweetness. The fruit juice is prakrithi (Nature). To drink is to taste the sweetness, which is to experience Divinity that is immanent in it. This is the purpose and the rationale. Prakrithi (Nature) is just a Leela (Creation) of the Lord set before you, so that you may become aware of His Glory, His splendor.

Panca indera dapat diberdaya-gunakan untuk tujuan mencapai kebahagiaan spiritual dalam kehidupan ini. Apabila engkau menuangkan jus buah-buahan ke dalam sebuah gelas/cangkir, maka gelas/cangkir tersebut tidak akan mengetahui bagaimana rasa dari jus tersebut. Demikian pula, apabila engkau menuangkannya ke atas telapak tanganmu, engkau juga tidak akan tahu bagaimana rasanya. Untuk mencicipi manisnya jus buah-buahan itu, maka engkau perlu meminumnya dengan menggunakan sedotan (yang direpresentasikan oleh panca indera); serta memanfaatkan buddhi (intellect - yang diwakili oleh lidah) untuk menikmati rasa manisnya. Jus buah-buahan dalam perumpamaan ini adalah representasi dari prakrithi (Nature/alam). Tindakan meminum guna merasakan rasa manis adalah sebagai tindakan untuk mengalami/merasakan Divinity yang ada di Nature. Inilah penjelasannya. Prakrithi tiada lain merupakan Leela (ciptaan) Tuhan yang diberikan kepadamu, agar dengan demikian, engkau dapat menyadari kemuliaan-Nya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 17, 2-8-1963

Wednesday, October 22, 2008

Sai Inspires 22nd October 2008 ( What is the easiest way for us to understand the oneness of the Self, particularly in our daily lives?)

See yourself in all; Love all as yourself. A dog caught in a room whose walls are mirrors sees in all its myriad reflections, and thinks of them as not itself, but as its rivals and competitors. It barks at the other dogs and tires itself out by jumping on this reflection and becomes mad with fury. The wise man, however, sees himself everywhere and is at peace. He is happy that there are so many reflections of himself all around him. That is the attitude that you must learn to possess, it will save you from needless bother.
Lihatlah dirimu sendiri di dalam diri setiap orang; cintailah semuanya bagaikan engkau mencintai dirimu sendiri. Seekor anjing yang masuk ke dalam suatu ruangan kaca akan melihat begitu banyaknya pantulan dirinya, dan ia mengira bahwa pantulan-pantulan tersebut sebagai lawan atau saingannya. Akibatnya, sang anjing itu terus menggongong dan mencoba untuk menyerang anjing-anjing yang ada di dalam cermin itu dan merasa sangat marah. Lain halnya dengan manusia bijak, ia melihat dirinya ada di mana-mana namun ia justru merasa lebih damai. Ia merasa bahagia karena melihat begitu banyaknya refleksi dirinya di sekitarnya. Nah, inilah sikap atau attitude yang seharusnya engkau pelajari dan miliki, sebab sikap seperti itu akan banyak meringankanmu dari hal-hal yang tidak perlu.

- Sathya Sai Speaks, Ch 3, Vol 16, 7-7-1963

Tuesday, October 21, 2008

Sai Inspires 21st October 2008 ( What kind of actions help us to reach God?)

There is no Sathyam (Truth) without Shivam (Goodness). Truth alone can confer beauty and auspiciousness. Truth is beauty, joy is beauty. Grief and falsehood are ugly because they are unnatural. Do your actions, that are approved by higher wisdom. Stay away from those actions that are born of ignorance. Then, all actions will be beneficial and blessed.

Sathyam (kebenaran) dan Shivam (Kebajikan) selalu jalan berbarengan. Hanya kebenaran sajalah yang bisa menghasilkan keindahan dan kesucian. Kebenaran adalah keindahan, kebahagiaan juga merupakan wujud keindahan. Sebaliknya, penderitaan dan kebohongan di-cap sebagai kejelekan oleh karena kedua sifat tersebut bukanlah sifat alamiah (dari diri seorang manusia). Kerjakanlah hal-hal yang sudah disetujui oleh kebijaksanaan tertinggi. Sebaliknya, jauhilah perbuatan-perbuatan yang bersumber dari kebodohan (batin). Bila engkau mengikuti praktek seperti ini, maka semua perbuatan/tindakanmu akan menjadi bermanfaat dan diberkati.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 16, 7-7-1963

Monday, October 20, 2008

Sai Inspires 20th October 2008 ( What is the important step that we must take today and persevere until we reach the Goal of becoming one with the Lor

The Lord is a "Kalpavriksha" (Wish fulfilling tree); you have to approach Him and develop attachment to Him. You must win His Grace and be ever near Him, keeping back all the forces that draw you away from Him. Even if you commit some technical faults in singing about Him or in worshipping Him, it does not matter. Bhakthi (intense devotion) will make Him excuse the error. Your devotion will force the Lord to give you Himself as the Gift.

Tuhan dijuluki sebagai "Kalpavriksha" (pohon yang memenuhi harapan-harapan kita); engkau hanya perlu mendekati-Nya dan melekat kepada-Nya. Berusahalah untuk mengatasi rintangan-rintangan yang ada dalam mendapatkan rahmat-Nya serta agar senantiasa berada dekat dengan-Nya. Walaupun engkau mungkin melakukan beberapa kesalahan teknis ketika menyanyikan pujian ataupun beribadah kepada-Nya, namun ketahuilah bahwa hal itu tidaklah menjadi persoalan bagi-Nya. Beliau akan memaafkan kesalahan itu oleh karena bhakthi-mu yang sedemikian tulusnya. Devotion atau bhakthi yang luhur & intensif akan mendorong Tuhan untuk menyerahkan diri-Nya sebagai hadiah untukmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 12, 29-4-63

Sai Inspires 19th October 2008 ( How should our "farewell" be?)

If only people knew the path to permanent joy and peace, they will not wander distracted among the bye-lanes of sensual pleasure. When you die, you must die not like a tree or a beast or a worm, but like a individual who has realized that He/she is God. That is the consummation of all the years you spend in the human frame.

Seandainya saja manusia mengetahui jalan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian abadi, maka tentunya ia tidak akan mudah untuk terbuai oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi. Ketika engkau meninggal, maka janganlah engkau meninggal seperti layaknya sebatang pohon atau hewan maupun serangga/cacing; melainkan engkau melatih diri sedemikian rupa (sewaktu engkau masih hidup) agar engkau meninggal sebagai individu yang sudah menyadari bahwa dirimu adalah Tuhan. Inilah pencapaian yang seharusnya engkau dapatkan sepanjang rentang kehidupanmu sebagai manusia.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 11, Apr, 1963.

Sai Inspires 18th October 2008 ( What is Dharma (Right Action)? How does the Lord protect it time and again? And what is our role?)

Dharma is the code of conduct which promote the ideals that everyone at various stages of their life must follow. One may be a householder, earner, master, servant, saadhaka (spiritual aspirant) or sanyasi (monk), everyone has a code of conduct. When this code is distorted and if the purpose of this earthly sojourn is undermined, The Lord incarnates as Man to restore the principles and re-establish the practice of Dharma. Take the Name of the Lord and do your duty in a dedicated manner. Express gratitude to your parents. This is the Lord's advise.

Dharma merupakan kode etik perilaku yang mengandung nilai-nilai etis yang harus diikuti oleh setiap orang dalam berbagai tahapan kehidupannya masing-masing. Baik sebagai perumah-tangga, pencari nafkah, majikan, pelayan, saadhaka maupun sanyasi - semuanya memiliki kode-etiknya tersendiri. Apabila kode etik ini dilanggar dan seandainya pemahaman atas tujuan utama keberadaan kita di dunia ini menjadi kabur, maka Tuhan akan berinkarnasi dalam wujud sebagai manusia untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip (kebenaran) dan mengembalikan (manusia) ke jalan praktek Dharma. Berlindunglah kepada nama Tuhan dan laksanakanlah tugas/kewajibanmu dengan semangat dedikasi. Ekspresikanlah rasa hormat dan terima-kasihmu kepada orang-tuamu. Sebab inilah nasehat dari Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 10, Apr, '63

Friday, October 17, 2008

Sai Inspires 17th October 2008 (Are you worried about your fellow-passengers not boarding the plane of spirituality with you?)

The Divinity in everyone prompts them to stick to the truth and to the moral values. Some hear even its whisperings; others listen only when it protests loudly. There are others who are deaf to this prompting, and a few are determined not to hear. Some may ascend a plane, others may travel by car or board a bus. Believe me, all have to be guided by it, sooner or later. All must reach their destination some day or other. Do your part sincerely. You only have to listen and obey to be saved.

Divinity yang ada di dalam diri setiap orang mendorong masing-masing agar senantiasa berpegang pada prinsip kebenaran dan nilai-nilai kemoralan. Ada sebagian orang yang mendengarkan bisikan (hati nurani) ini; sebagian lagi baru mendengar ketika suara hati sudah menyuarakan protesnya secara lantang. Namun ada juga yang sama sekali tuli atas suara itu, dan bahkan ada pula yang memutuskan untuk tidak mendengarkannya. Sebagian orang memilih untuk berpergian dengan naik pesawat terbang, yang lainnya lebih suka perjalanan lewat darat. Namun percayalah, bahwa setiap orang - entah cepat atau lambat - pasti harus dituntun oleh suara hatinya masing-masing. Suatu hari kelak, tujuan perjalanan harus tercapai. Yang bisa engkau lakukan adalah laksanakanlah tugas & kewajibanmu sebaik-baiknya. Dengarkanlah hati nuranimu dan patuhilah arah-arahan-Nya agar engkau terselamatkan.

- Sathya Sai Speaks, Ch 9, Vol 3, Feb 2, 1963

Thursday, October 16, 2008

Sai Inspires 16th October 2008 ( What can we do to experience realization with Him?)

What is the profit if you simply repeat "Delicious food" thousand times? You have to eat, digest and assimilate. If you have no deposits in your account of Bhagavan's Grace Bank, how dare you issue cheques expecting returns when you are in distress? From today, make the deposits, such as service to others and create assets for yourself by possessing Divine Love, and practicing Non-Violence to all. Then, you will receive help in return. Believe Me, through your daily activities, you can realize the Lord. Remember the Name of the Lord with the agony of the unfulfilled search and you are sure to experience Me. If the yearning is present, the result is certain.

Apalah guna bagimu bila engkau hanya mengulang-ulang kata-kata berikut ini "Oh, ini makanan yang sungguh enak"? Yang perlu engkau lakukan adalah cicipilah makanan itu, rasakan dan dilanjuti dengan proses pencernaan. Apabila engkau belum memiliki simpanan/deposit di dalam rekeningmu di institusi perbankan milik Bhagawan (Rahmat Ilahi-Nya), maka engkau tidak akan bisa atau tidak berhak untuk menerbitkan lembaran cek sembari mengharapkan adanya curahan rahmat-Nya di kala engkau sedang mengalami kesusahan. Mulai hari ini, rajin-rajinlah menabung, yaitu dalam bentuk tindakan pelayanan terhadap orang lain serta kumpulkanlah asset-asset (harta kekayaan)-mu dalam wujud cinta-kasih Ilahiah serta mempraktekkan non-violence (pikiran, ucapan dan perbuatan yang tanpa kekerasan). Bila engkau melakukan hal ini, maka bala bantuan tidak akan jauh darimu. Percayalah bahwa melalui aktivitasmu sehari-hari, engkau akan bisa mencapai realisasi/kesadaran Tuhan. Ingatlah selalu nama-nama-Nya di setiap waktu, ibaratnya seperti orang yang begitu menderita oleh karena keinginannya atau pencariannya belum berhasil. Apabila hal itu dilakukan, maka hasilnya (karunia Bhagawan) pasti akan engkau dapatkan.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 5, Feb 6, 1963.

Wednesday, October 15, 2008

Sai Inspires 15th October 2008 ( How can we experience the sweetness that He is, throughout our lives?)

The Lord is sugar. You may drop it into tea or coffee or milk or water. Into whatever thing you put it, it will make it sweet. Sweetness is His nature, sweetness is his signature. If you melt the sugar, there is neither water nor sugar, but a third thing called sugar syrup, which also gives sweetness. If your tongue is bitter through hatred, envy and pride, you cannot feel any sweetness. Get rid of the illness and you can enjoy the sweetness that God really is!

Tuhan adalah seperti gula (batu). Engkau boleh mencelupkan gula itu ke dalam minuman teh, kopi, susu atau air. Ke dalam minuman apapun juga engkau celupkan gula itu, maka minuman tersebut akan menjadi manis. Sweetness (rasa manis) memang sudah merupakan sifat-Nya dan juga merupakan tanda-tangan-Nya. Apabila engkau melumerkan gula (batu), maka tiada lagi air maupun gula, yang ada hanyalah sirup gula yang manis. Ketika lidahmu terasa 'pahit' - oleh karena kebencian, keiri-hatian dan kesombongan - maka engkau tidak akan bisa merasakan rasa manisnya. Singkirkanlah terlebih dahulu penyakit-penyakit itu, maka engkau akan dapat menikmati rasa manis-Nya!

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 8, Mar, 1963

Tuesday, October 14, 2008

Sai Inspires 14th October 2008 ( What is it that we should yearn for and ask of Him dearly?)

Do not worry about worldly comforts and ask God about those things, as if they are all-in-all. Do not waste your precious life-time in distracting doubts about the existence of the Lord in the human form - here and now. Cultivate Divine Love towards all, that is the greatest service you can do to yourself. For, the others are the very same self as you. You must bend only before Love and Truth, not before hatred, cruelty and falsehood.

Engkau tidak perlu mengkhawatirkan tentang kenyamanan duniawi dan engkau juga tidak perlu meminta-mintanya dari Tuhan, seolah-olah bahwa itu adalah segala-galanya. Janganlah engkau menyia-nyiakan waktumu yang amat berharga dengan mempertanyakan tentang eksistensi Tuhan dalam wujud-Nya sebagai manusia. Yang penting engkau lakukan adalah kembangkanlah cinta-kasih Ilahiah terhadap semuanya, sebab inilah pelayanan terbaik yang bisa engkau lakukan terhadap dirimu sendiri. Ketahuilah bahwa orang lain pada hakekatnya tidaklah berbeda dari dirimu (dari sudut pandang self/atma). Jadikanlah cinta-kasih dan kebenaran sebagai jalan kehidupanmu, dan janganlah terpengaruh oleh kebencian, kekejaman maupun negativitas lainnya.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Ch 7, Mar, 1963.

Monday, October 13, 2008

Sai Inspires 13th October 2008 (How should our outlook be when we are intensely playing our roles in the game of life?)

The batsmen, the bowlers, and the fieldsmen in a game do not get a fraction of the pleasure that the fans enjoy. The fans note each fault and excellence in stroke and the defense. They appreciate the finer points of the game. So too, to get the maximum joy out of this game of living, one should cultivate this attitude of the onlooker, even when one has to get deeply embroiled in the game.

Para pemain dalam suatu pertandingan tidaklah memiliki kenikmatan sebagaimana halnya yang dirasakan oleh para penonton. Mereka (penonton) mencatat kesalahan-kesalahan yang dilakukan dan juga mengagumi kehebatan serangan maupun pertahanan para pemain itu. Dengan perkataan lain, keindahan pertandingan itu betul-betul dinikmati oleh para penonton. Demikian pula, agar dapat memetik kesenangan maksimal dari permainan kehidupan ini, maka engkau perlu memiliki attitude (sikap) sebagai seorang pengamat.

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Chap 7, Mar '63.


Sunday, October 12, 2008

Sai Inspires 12th October 2008 (How should our mental make up be when we are facing tests in our lives?)

Do not grieve that the Lord is testing you and putting you through the ordeal of undergoing difficult times. For, it is only when you are tested, can you assure yourself of success and become aware of your limitations. You can concentrate on the subjects in which you are deficient, so that you can pass in them when you are tested again. You should study well in advance and have the courage and confidence, born out of knowledge and skill. This is the pathway to victory.

Janganlah engkau mengeluh ketika Tuhan sedang memberikan cobaan bagimu di kala masa-masa yang sulit. Sebab hanya melalui ujian inilah, maka engkau baru bisa yakin untuk menggapai kesuksesan serta menyadari kelemahanmu sendiri. Berkat cobaan itu, engkau akan menaruh perhatian/konsentrasi yang lebih intensif terhadap hal-hal yang masih menjadi kelemahanmu (dan sekaligus memperbaikinya), sehingga dengan demikian; engkau akan bisa lulus pada saat engkau diuji lagi di kemudian hari. Berkat pengalaman serta pengetahuanmu itu, engkau akan memiliki keberanian dan kepercayaan diri. Inilah modal awal dalam jalan untuk mencapai kemenangan.

  • Sathya Sai Speaks, Chap 7, Vol 3, Mar 1963.



Saturday, October 11, 2008

Sai Inspires 11th October 2008 (In our journey to the Lord, how should our attitude be towards our daily needs? What should we do to transform them?

Spiritual effort (sadhana) requires regular habits and moderation in food, sleep and exercise. The body, the mind and the spirit, all three must be equally looked after. Unless you have "muscles of iron and nerves of steel" you cannot contain in your head the adhwaitha (Oneness with the Universe) principle. To see Truth as Truth and untruth as untruth, clarity of vision and courage of vision are both needed. You have come into this world to enter the presence of Lokesha (Lord of the Universe). So, do not tarry in wayside inns, mistaking them to be the goal. The Lord will be longing for the arrival of the lost, He is like a cow yearning for its calf.

Latihan spiritual (sadhana) mempersyaratkan kebiasaan yang rutin serta pembatasan (kecukupan) dalam hal konsumsi makanan, tidur dan olahraga. Engkau perlu menjaga & merawat keseimbangan antara badan jasmani, pikiran dan jiwamu. Prinsip adhwaitha (non dualisme) baru bisa dipahami jikalau engkau memiliki "otot dari besi dan syaraf dari baja" - dengan perkataan lain, dibutuhkan ketangguhan dan keuletan. Untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran dan ketidak-benaran sebagai ketidak-benaran, maka engkau perlu memiliki pandangan yang jernih. Kedatanganmu ke dunia ini adalah untuk berada di tengah-tengah Lokesha (Lord of the Universe/Tuhan alam semesta). Oleh sebab itu, janganlah engkau malah nyasar ke 'penginapan' yang ada di sepanjang perjalananmu, janganlah engkau mengira tempat itu sebagai tujuan akhirmu. Tuhan amat merindukan mereka yang tersesat dalam perjalanan, ibarat seperti induk lembu yang sedang merindukan anak-anak-nya.

- Sathya Sai Speaks, Chap 5, Vol 3, Feb 6 1963.

Friday, October 10, 2008

Sai Inspires 10th October 2008 (What will be our outlook when we have surrendered all our worries at His Lotus Feet?)

Once you decide that the orchard in your mind is His, all fruits will be sweet. That sharanaagathi (seeking refuge for protection) will render all fruits acceptable to the Lord, and so, they cannot be bitter. And for water, what can be purer and more precious than your tears? Shed, not in grief, but in rapture at the chance to serve the Lord and to walk along the path that leads to Him!

Sekali engkau menetapkan bahwa orkid (orchard) yang ada di dalam batinmu adalah diri-Nya, maka dengan demikian, semua buah yang dihasilkan pasti akan manis adanya. Sikap sharanaagathi (penyerahan diri) ini akan menghasilkan buah yang disukai oleh-Nya, dan oleh sebab itu, 'rasa'nya tidak mungkin pahit. Sementara itu, untuk keperluan pengairan, tiada air yang lebih suci dan berharga selain daripada air matamu. Janganlah engkau menangis oleh karena fakor kesedihan, melainkan dalam kesenangan berlimpah sebagai akibat engkau dianugerahi kesempatan untuk melayani-Nya serta berjalan di atas jalan yang menuntun kepada-Nya!

- Sathya Sai Speaks, Vol 3, Chap 6, Feb '63.

Thursday, October 9, 2008

Sai Inspires 9th October 2008 (How should we treat adversities in our life?)

When you have malaria, you have to take bitter quinine medicine. That is the medicine needed to cure the ailment. Likewise, when adversity confronts you, treat it as a medicine for your own good. Gold has to be melted and beaten to make a jewel. A diamond is cut to make it more brilliant. Likewise, troubles in life serve to refine a person. Love should enable you to welcome even hardships as meant for your own good.

Ketika engkau terjangkit penyakit malaria, maka pada saat itu engkau perlu mengkonsumsi obat yang lumayan pahit (quinine). Sebab itulah obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Demikian pula analoginya, ketika kesulitan (hidup) menghampirimu, maka hendaknya engkau menganggapnya sebagai obat demi kebaikanmu. Bongkahan emas haruslah dilumerkan dan dibentuk menjadi perhiasaan. Demikian juga, bongkahan intan haruslah dipotong agar menjadi semakin berkilau. Ketahuilah bahwa persoalan-persoalan hidup berfungsi untuk semakin menyempurnakan dirimu. Dengan bermodalkan cinta-kasih, engkau akan siap untuk menghadapi tantangan hidup demi untuk kebaikanmu sendiri.

- Divine Discourse, November 23, 1996.

Wednesday, October 8, 2008

Sai Inspires 8th October 2008 (What is the highest gain one can earn in this life? How do we acquire it?)

Shanthi (Peace) is the highest gain which you can earn in this life! Have full faith in God and in yourselves. Engage always in good deeds, beneficial activities. Speak the truth. Do not inflict pain by word or deed or even thought. That is the way to gain Shanthi (Peace).

Shanthi (kedamaian) merupakan pencapaian tertinggi yang bisa engkau peroleh dalam kehidupan sekarang ini! Milikilah keyakinan yang penuh terhadap Tuhan dan terhadap dirimu sendiri. Senantiasalah berbuat kebajikan serta tindakan-tindakan yang memberi manfaat (bagi orang banyak). Ucapkanlah kebenaran, janganlah menyakiti siapa saja baik melalui ucapan atau perbuatan maupun pikiran. Inilah jalan untuk memperoleh Shanthi (kedamaian).

- Sathya Sai Speaks, , Vol I, Ch 13, Sep 1, '58



Tuesday, October 7, 2008

Sai Inspires 7th October 2008 (How can we always experience an atmosphere of concord, wherever we are?)

Be fixed in the consciousness that you yourself are the immortal "Athma" (spirit) which is indestructible, which is holy, pure and divine. That will give you unshakable courage and strength. Then, you must develop mutual love and respect. Tolerate all kinds of persons and opinions, all attitudes and peculiarities. The home, the workplace and the society are all the training grounds of tolerance. The relationship with each other must be based on love, not fear. Only the atmosphere of love can guarantee happy co-operation and concord.

Senantiasa sadarilah bahwa dirimu adalah Athma (jiwa) yang immortal (abadi), yang tidak mengalami kelapukan, selalu suci, murni dan divine. Keyakinan seperti ini akan memberikan keberanian serta kekuatan yang kokoh. Setelah itu, engkau juga perlu mengembangkan cinta-kasih yang mutual (timbal-rasa) serta saling menghormati. Bersikaplah tolerantif terhadap setiap orang dan juga terhadap pendapat, sikap dan perbedaan lainnya. Rumah-tangga, tempat kerja dan lingkungan masyarakat merupakan tempat-tempat untuk melatih sikap toleransi. Hubungan dengan orang lain haruslah didasari oleh cinta-kasih dan bukannya rasa takut. Hanya atmosfir cinta-kasihlah yang bisa menjamin terlaksananya hubungan kerja-sama yang harmonis dan menyenangkan.

- Sathya Sai Speaks, Vol I Ch 6, Feb 2, 1958.



Monday, October 6, 2008

Sai Inspires 6th October 2008 (What is Swami's guidelines to us on the minimum requirements for livelihood?)

One can be happy with much less equipment than he/she seems to think is essential. When some article is with you for little time, you feel it is indispensable and you do not know how to live without it. Like the silkworm, you weave a cocoon for yourself out of your fancy. Do not allow costly habits to grow, costly from the monetary as well as the spiritual point of view. Watch your likes and dislikes with vigilant eyes and discard anything that threatens to encumber your path.

Di luar perkiraanmu semula, sebenarnya engkau bisa hidup berbahagia dengan kebutuhan yang sesedikit mungkin. Ketika ada sesuatu benda/artikel yang menyertaimu untuk sesaat, engkau merasa seolah-olah benda/artikel itu tidak bisa terlepas darimu dan engkau tidak tahu bagaimana mungkin bisa hidup tanpanya. Ibaratnya seperti ulat yang membuat kempopong yang mengurunginya sendiri. Janganlah engkau membiarkan dirimu terjerat oleh kebiasaan-kebiasaan yang mahal, yaitu sesuatu yang mahal baik dari segi keuangan maupun sudut pandang spiritual. Perhatikan kesukaan dan ketidak-sukaanmu dengan mata yang waspada dan buanglah jauh-jauh segala sesuatu yang berpotensi untuk menghalangi perjalananmu.

- Sathya Sai Speaks, Vol I Ch 16, Sep 9 1958.




Sunday, October 5, 2008

Sai Inspires 5th October 2008 (How to easily comprehend the principle of oneness in every being, that is present at all times?)

Spread joy at all times. Do not pour into others' ears your tales of woe and worry; carry a smile on your face so that everyone who sees you can catch that exhilaration. When you tell others of your success, your purpose is to create envy in them. You must not only love others, but you must also be so good that others may love you. Try to console, encourage, strengthen, and enlighten those who are miserable, downhearted, weak or ill-informed. Get yourselves equipped for this role.

Senantiasa pancarkanlah keceriaan setiap waktu. Janganlah berkeluh-kesah terhadap orang lain tentang kesusahan dan kekhawatiranmu; pancarkanlah senyuman di wajahmu agar setiap orang yang melihatmu juga merasakan kegembiraan. Ketika engkau bercerita tentang kesuksesanmu, ingatlah bahwa di situ terdapat potensi dimana engkau menimbulkan keiri-hatian bagi yang mendengarkannya. Janganlah engkau hanya sebatas mencintai orang lain, tetapi engkau juga harus sedemikian baiknya sehingga mendorong orang lain mencintaimu juga. Cobalah untuk menghibur, memberi semangat, mendorong keyakinan serta membawa penerangan bagi mereka yang sedang bersusah-hati, bersedih, lemah ataupun tersesat. Persiapkanlah dirimu untuk menjalankan peran tersebut.

-Sri Sathya Sai Speaks, Vol 1 Ch 15, Sep 3, 1958.



Saturday, October 4, 2008

Sai Inspires 4th October 2008 (important strategy that we must adopt to be successful)

Remember always that it is easy to do what is pleasant; but it is difficult to be engaged in what is beneficial. Not all that is pleasant is profitable. Success comes to those who give up the path strewn with roses, and brave the hammer-blows and sword-thrusts of the path fraught with danger.

Ingatlah selalu bahwa adalah cenderung lebih mudah/gampang untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan; namun jauh lebih sulit untuk melaksanakan hal-hal yang memberi manfaat. Tidak semua hal yang menyenangkan membuahkan manfaat. Kesuksesan akan dituai oleh mereka yang rela meninggalkan jalan yang ditaburi oleh bunga mawar, dan sebaliknya, memberanikan diri yang menempuh perjalanan yang penuh dengan berbagai tantangan/cobaan.

-Sri Sathya Sai Speaks, Vol 1 Ch 14, Sep 2, 1958.




Friday, October 3, 2008

Sai Inspires 3rd October 2008 (How can we carry on with our life with least torubles coming our way?)

Life is a jungle where there is a great deal of dry wood that harbors worms and insects. No one cleans the floor of the forest, or cuts away the undergrowth of bush and bramble. To wade through the thorns and the leech-ridden floor of the jungle, one has to wear boots. So too, one has to wear the boots of sense-regulation if one has to pass through the jungle of life without harming oneself. This is the lesson you must ponder over and practice.

Kehidupan ini bagaikan hutan belantara dimana terdapat begitu banyak kayu-kayu kering yang menjadi sarang ulat dan serangga lainnya. Tiada seorangpun yang membersihkan tanah di hutan ataupun ilalang/semak belukar yang ada. Agar dapat melintasi permukaan yang becek, penuh lumut serta tanaman berduri di dalam hutan, maka engkau perlu memakai sepatu boot. Demikian pula, engkau perlu mengenakan 'sepatu boot' dalam bentuk self-regulation (disiplin diri) guna melintasi rimba kehidupan tanpa 'mencederai' dirimu sendiri. Inilah pelajaran yang harus engkau renungkan serta praktekkan dari waktu-ke-waktu.

- Sri Sathya Sai Speaks, Vol VII, Page 111.

Thursday, October 2, 2008

Sai Inspires 2nd October 2008 (How can we keep on persevering without giving up the path of Meditation and Devotion to the Lord?)

Have full faith in God and in yourselves. Engage always in good deeds, beneficial activities. Speak the truth. Do not inflict pain through words or deeds or even thoughts. That is the way to gain shanthi (peace); that is the highest gain which you can earn in this life.

Milikilah keyakinan yang utuh terhadap Tuhan dan dirimu sendiri. Senantiasalah terlibat dalam perbuatan yang bajik serta kegiatan yang bermanfaat. Ucapkanlah kebenaran. Janganlah menyakiti siapapun juga melalui ucapan atau perbuatan maupun pikiran. Inilah jalan untuk mencapai shanthi (kedamaian) yang merupakan manfaat terbesar yang bisa engkau peroleh dalam kehidupan ini.

  • Sri Sathya Sai Speaks, Vol I, Ch 13, Sep 1, '58


Wednesday, October 1, 2008

Sai Inspires 1st October 2008 (How do we erode the doubts and fear that lurks us in times of trouble?)

Every person has Divinity embedded in him, as well as truth and sweetness. Only he/she does not how to manifest that Divinity and how to realize that Truth or taste that sweetness. Courage is the tonic for acquiring both physical as well as mental health and their strength. Give up doubt, hesitation and fear. Do not give any chance for these to strike root in your mind. Keep the name of the Lord always on your tongue and dwell on the endless forms of the Lord. Attach yourself to Him, the temporary objects will themselves fall off!

Di dalam diri setiap orang sebenarnya sudah terkandung unsur Divinity, kebenaran dan keindahan. Persoalannya adalah bahwa pada umumnya manusia tidak tahu bagaimana cara untuk memanifestasikan ataupun merealisasikan unsur-unsur tersebut. Keberanian adalah bagaikan tonic (obat) untuk memperoleh kesehatan jasmaniah dan rohaniah. Buanglah segala bentuk keragu-raguan, kebimbangan maupun ketakutan. Janganlah membiarkannya berakar di dalam batinmu. Senantiasa ucapkanlah nama-nama Tuhan serta merenungkan keindahan wujud/rupa-Nya. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya, maka semua obyek-obyek duniawi akan sirna dengan sendirinya!

- Sri Sathya Sai Speaks, , Vol I, Ch 14, Sep 2, 1958