Monday, November 30, 2009

Sai Inspires 30th November 2009


Every human being is a bundle of impulses and intentions. One can reduce one's innate divinity and inner peace by giving free vent to one's impulse or intention. The impulse is the fuel and the intention is the fire. The fire can be put out, only by placing the fuel aside. When the fire dies down, peace is attained. You are the embodiment of Divine Peace. Let your wish, will and effort be directed to your own good. Do not divert them to worldly pleasures, for they will cause harm and destroy peace.

Setiap orang adalah kumpulan dorongan nafsu dan niat. Seseorang bisa menurunkan nilai keillahian dalam diri dan kedamaian hati dengan membuka pintu lebar-lebar bagi dorongan nafsu dan niat. Dorongan nafsu tersebut adalah bahan bakarnya dan niat adalah apinya. Api bisa dipadamkan, hanya dengan menghentikan aliran bahan bakarnya. Ketika api padam, kedamaian akan tercapai. Engkau adalah perwujudan Kedamaian Illahi. Usahakanlah agar harapan, kehendak dan upayamu agar terarah demi kebaikanmu. Jangan arahkan mereka pada kesenangan duniawi, karena hal itu akan mengakibatkan penderitaan dan menghancurkan kedamaian.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sunday, November 29, 2009

Sai Inspires 29th November 2009


Think about this: You may have experienced that when you do some task for a long time, you will correct your mistakes as and when you discover them. You also will avoid the repetition of the same mistake while continuing with the task; is it not? As you continue to perform these, you will invariably achieve even more success than you hoped to get! What is wanted in this circumstance, is just the unflagging desire to achieve victory. That will lead you to discover the means thereof to develop earnestness and care in the pursuit of those means and to invariably achieve success. The wish to succeed must be strengthened by the will, and the will, by the effort. Similarly, you must develop the desire to be devoted to God. If the wish is powerful, you will learn the means and practice with steadiness in effort to attain your wish.

Renungkanlah hal berikut ini: Engkau telah mengalami bahwa ketika engkau mengerjakan tugas-tugasmu untuk jangka waktu yang lama, engkau akan memperbaiki kesalahan-kesalahanmu ketika engkau menemukannya. Engkau juga akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama sewaktu engkau mengerjakan tugasmu selanjutnya; bukankah begitu? Seiring dengan berlanjutnya pekerjaanmu, engkau tanpa kecuali akan mencapai keberhasilan yang lebih banyak daripada apa yang engkau harapkan! Apa yang diperlukan didalam suasana yang seperti ini, adalah tekad yang tak kunjung padam untuk meraih kemenangan. Itulah yang akan menuntunmu untuk menemukan arti pentingnya menumbuhkan kesungguhan dan perhatian dalam mengejar keberhasilan dan mencapai keberhasilan. Harapan untuk berhasil haruslah diperkuat oleh kehendak, dan kehendak, melalui usaha. Demikian juga, engkau harus mengembangkan keinginan untuk menjadi setia kepada Tuhan. Jika pengharapanmu sangat kuat, engkau akan mempelajari caranya dan berlatih dengan penuh kesungguhan dalam berusaha untuk mencapai harapanmu.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 28th November 2009


Every spiritual aspirant must enter on the path of inquiry. If you aspire for peace and equanimity, the basic thing is you must have faith in the temporary nature of the world and be engaged in the uninterrupted contemplation of the Divine. Do not be bound by the selfish attachments. Engage yourself in the discharge of duties and do not allow yourself to be gladdened by success or saddened by failure. Be ready to renounce all that is harmful, and then leveraging discrimination, you can beat the drum of victory by attainingPrasanthi - supreme peace.

Setiap pengikut spiritual haruslah memasuki jalan penyelidikan diri. Jika engkau mendambakan kedamaian dan keseimbangan, hal yang paling mendasar adalah engkau harus memahami sifat semu dari keduniawian dan lakukanlah pemusatan pikiran yang tak tergoyahkan pada Tuhan. Jangan terjerat pada keterikatan yang mementingkan diri sendiri. Laksanakanlah tugasmu tanpa keterikatan akan hasilnya dan jangan biarkan dirimu menjadi gembira oleh keberhasilan dan berduka oleh kegagalan. Bersiaplah untuk menjauhkan diri dari segala hal yang membahayakan, dan kemudian dengan meningkatkan kemampuan memilah, engkau akan menabuh genderang kemenangan dengan mencapai Prasanthi – kedamaian tertinggi.

-Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Friday, November 27, 2009

Sai Inspires 27th November 2009


Suppose you write a letter to somebody - whatever be the contents of the letter, if it is put in an envelope and post it, whom will it reach? It will not be given to anyone and will not come back to the person who wrote it too. Instead, if, on the cover, the address of the person who wrote it and to whom it must go are both written, then it will not only reach the receiver, but one can even predict when it will reach its destination. So too, what are you doing with your letter - your life? You are ignoring this important question, and do not have time to think about it. You must first know your own full address - Who are you? You are theAtman. From where did you come? From the Supreme Self. Where are you going? To the Supreme Self. How long will you be here? Until you merge with the Supreme Self. Knowing this truth, engage yourself in acts that will help you enjoy the bliss of the Supreme, Self Same Atma.

Misalkan engkau menulis surat untuk seseorang – apapun isi surat itu, jika dimasukkan ke dalam amplop dan diposkan, akan sampai kepada siapakah? Surat itu tidak akan disampaikan ke siapapun dan juga tidak akan kembali pada si penulis. Sebaliknya, jika, pada sampul surat itu, dituliskan nama dan alamat si pengirim serta si penerima, maka surat itu tidak hanya akan sampai pada si penerima, namun juga akan bisa diperkirakan kapan sampainya surat itu pada tujuannya. Demikian juga, apa yang akan engkau lakukan dengan suratmu – hidupmu? Engkau mengabaikan pertanyaan penting ini, dan tidak punya waktu untuk memikirkannya. Pertama kali engkau harus mengetahui alamat lengkapmu – Siapakah dirimu? Engkau adalah Atman. Dari manakah engkau berasal? Dari Sang Diri Sejati yang Utama. Kemanakah engkau pergi? Kepada Ia yang Utama. Berapa lama dan sampai kapan engkau ada disini? Sampai engkau bersatu dengan Yang Utama. Dengan memahami kebenaran ini, libatkanlah dirimu dalam kegiatan yang akan membantumu untuk bisa menikmati kebahagiaan Utama, Atma Diri yang Sama.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Thursday, November 26, 2009

Sai Inspires 26th November 2009


Animals and human beings have these things in common - eating, wandering about, sleeping and seeking pleasure. However, human beings have other unique abilities like the power to reason out, the power to renounce and the power to decide on right and wrong. These are the special powers of human beings. These powers should be applied not only in worldly matters, but also in the investigation of the Ultimate Truth. If Discrimination, Renunciation and Inquiry are carried out while passing through the joys and sorrows of life, conviction is bound to dawn in a moment that all the worldly pleasures are unreal and have no basis for eternal joy. When such knowledge dawns, one is bound to tread the path of religion, perform Sadhana and take up the inquiry which leads him to Truth. This is the task that mankind must be engaged in.

Hewan dan manusia memiliki sifat-sifat umum berikut ini – makan, berkelana, tidur dan mencari kesenangan. Namun, umat manusia memiliki kemampuan khusus lain seperti misalnya kemampuan untuk memahami sesuatu, kemampuan untuk melakukan penyangkalan diri dan kemampuan untuk membedakan hal-hal yang benar dan salah. Itu semua adalah kemampuan khusus yang dimiliki umat manusia. Kemampuan ini seharusnya jangan hanya dipakai untuk hal-hal duniawi saja, namun juga untuk menyelidiki Kebenaran Sejati. Jika Kemampuan Memilah, Kemampuan Penyangkalan dan Kemampuan Menyelidiki bisa terus dimanfaatkan sembari melampaui kebahagiaan dan penderitaan hidup, maka akan muncul pendirian suatu saat bahwa semua kenikmatan duniawi adalah semu adanya dan tidak bisa menjadi dasar bagi tercapainya kebahagiaan yang abadi. Ketika pemahaman tersebut muncul, orang akan melangkah menurut ajaran agama, melaksanakan Sadhana dan mendalami pemahaman yang akan membawanya menuju pada Kebenaran. Ini adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat manusia.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Wednesday, November 25, 2009

Sai Inspires 25th November 2009


Engage in Sadhana (spiritual practices) with full faith in truth and the Lord. You will attain the real prasanthi...pure and eternal peace. There is no status higher than that of the Lord, no embodiment of His is higher than truth. Truth even if enveloped in the darkest illusion, will shine brilliantly! However strongly you may imprison it in darkness, its effulgence cannot be suppressed. Truth can never die. Untruth can never live. You must all get firmly established in this belief.

Lakukanlah kegiatan Sadhana (latihan spiritual) dengan penuh keyakinan pada kebenaran dan pada Tuhan. Engkau akan meraih prashanti yang sejati… suci murni dan kedamaian yang abadi. Tidak ada keadaan yang lebih tinggi daripada keadaan Tuhan, tidak ada perwujudan Tuhan yang lebih tinggi daripada kebenaran. Kebenaran bahkan jika dibalut oleh kabut khayalan tergelap, masih akan tetap bersinar dengan cemerlang! Bagaimanapun kuatnya engkau mengurungnya dalam kegelapan, gemerlapnya tidak akan dapat disembunyikan. Kebenaran tidak akan pernah mati. Ketidakbenaran tidak akan bisa hidup. Engkau semua harus mantap dalam keyakinan ini.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Tuesday, November 24, 2009

Sai Inspires 24th November 2009


The world is the Lord's Mansion. Know it as such. He is moving about in that mansion, in its many rooms. God's worship can be done well, only if the temple is clean and pure. Never forget the the fact that what gives your body the value and purpose is the Atma (Divine Self) within you. So engage yourselves in winning peace for yourself and the world. Never ignore the Lord whose mansion is the world. Without Him, the body is a tomb, not a temple. If you always remember Him, that is joy and victory; that will bring you all auspiciousness (sarva mangala).

Dunia ini adalah Rumah Tuhan. Pahamilah hal ini. Beliau berkeliling didalam rumah tersebut, mengunjungi kamar-kamarnya. Pemujaan kepada Tuhan bisa dilaksanakan dengan baik, hanya jika tempat suci tersebut bersih dan murni. Jangan lupa bahwa yang memberi nilai dan manfaat bagi badanmu adalah Atma (Sang Diri Illahi) di dalam dirimu. Jadi libatkanlah dirimu dalam usaha memenangkan kedamaian bagi dirimu dan seluruh dunia. Jangan pernah mengabaikan Tuhan yang memiliki dunia ini sebagai rumahNya. Tanpa Tuhan, badan ini hanyalah bagaikan sebuah kuburan, bukan tempat suci. Jika engkau selalu mengingat Tuhan, itu adalah kebahagiaan dan kemenangan; yang akan membawakanmu semua harapan baik (sarva mangala).

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 23, 2009

Sai Inspires 23rd November 2009


We have to treat others' suffering and difficulties as our own. We have to be amicable with one and all. We must develop faith in the maxim that we are "Ekatmaswarupas(Embodiments of One Divine Self). If our thoughts are good, we will always engage ourselves in satkarmas (good deeds). If you indulge in bad thoughts, you will see bad everywhere. If you eat a mango, can you get the belch of a cucumber? No! Similarly, if you always entertain good thoughts, you will see good everywhere. We must also develop a sense of discrimination to differentiate between the good and bad, and incorporate the good, leaving the bad behind. This principle should be followed in society too with all our fellow human beings. See good, do good and be good - that is the way to God!

Kita harus menganggap penderitaan dan kesulitan orang lain sebagai penderitaan dan kesulitan kita juga. Kita harus bersikap ramah kepada setiap dan semua orang. Kita harus meningkatkan keyakinan sebagaimana ungkapan bahwa kita semua adalah “Ekatmaswarupas“ (Perwujudan Tuhan Yang Maha Esa). Jika pikiran kita baik, maka kita akan selalu ada di dalam satkarmas (tindakan yang baik). Jika engkau tenggelam dalam pikiran yang buruk, engkau akan melihat keburukan di setiap tempat. Jika engkau makan buah mangga, akankah engkau mendapatkan hasil kunyahan berupa mentimun? Tidak! Sama halnya, jika engkau selalu menjaga pikiranmu dalam kebaikan, engkau akan melihat kebaikan di setiap tempat. Kita juga harus meningkatkan kemampuan untuk membedakah hal-hal yang baik dengan yang buruk, dan bergabung dengan yang baik, meninggalkan keburukan. Prinsip ini harus diikuti di dalam masyarakat oleh seluruh umat manusia. Lihatlah kebaikan, lakukanlah kebaikan dan jadilah baik – itu adalah jalan menuju Tuhan!

- Divine Discourse, 23 Nov, 2008

Sunday, November 22, 2009

Sai Inspires 22nd November 2009


Many do not understand the real meaning of "Deho Devalayam" (Body is the temple). What is the purpose of the body which is actually a temple? It is to worship the Lord within. The temple of body is to be preserved and decorated for the sake of God there in, the Atma Swarupa. Forgetting this, people are immersed in faith in the body, bliss of the body, decoration of the body and dedication to the body. Do not hold fast to the unreal, temporary outer building called the body. Nevertheless, you should maintain the body carefully and not ruin it, because through this temple, the Lord can be seen. Hence always watch your body with care and protect it and never neglect the Lord within.

Banyak orang yang tidak memahami makna “Deho Devalayam” (Badan adalah tempat suci). Apakah kegunaan dari badan yang juga sebagai tempat suci? Badan adalah tempat suci untuk memuja Tuhan yang ada di dalam diri kita. Tempat suci berupa badan tersebut haruslah dijaga dan dihias bagi Tuhan yang bersemayam disana, sang Atma Swarupa. Akibat melupakan hal ini, orang-orang tenggelam dalam keyakinan pada badan, kesenangan untuk badan, hiasan bagi badan dan mengabdi kepada badan. Janganlah begitu terikat pada bangunan luar yang sementara dan semu yang disebut dengan badan. Meskipun demikian, engkau harus merawat badanmu dengan sebaik-baiknya dan jangan menghancurkan badanmu, karena dengan melalui tempat suci inilah, maka Tuhan bisa terlihat. Oleh karena itu tetaplah menjaga badanmu dengan penuh perhatian dan melindunginya serta janganlah mengabaikan Tuhan yang bersemayam di dalamnya.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Saturday, November 21, 2009

Sai Inspires 21st November 2009


Prayer must be united with practice. You should not pray for one thing and practice another; such prayer is only a means of deception. The words you utter, the deeds you do, the prayers you make - all must be directed along the same path. If you slander others, and look down upon them, you will instead have turmoil and along with the turmoil, all the attendant sorrow and pain! This is incorrect practice. When the food is taken by the hand to the mouth, and then chewed and swallowed, the essence spreads to every part of the body. So also, when the hands are engaged in acts promoting peace, the tongue must be occupied with prayers for peace. Let these virtues saturate your thought, word and deed. This is the basis for genuine peace...for the individual and the word.

Doa haruslah selaras dengan tindakan. Engkau jangan sampai berdoa untuk satu hal namun bertindak lain; doa semacam itu berarti menipu diri sendiri. Kata-kata yang engkau ucapkan, tindakan yang engkau lakukan, doa yang engkau lantunkan – semua harus diarahkan melalui jalan yang sama. Jika engkau memfitnah orang lain, dan memandang rendah pada mereka, engkau akan mengalami kekacauan dan seiring dengan itu, hadirlah penderitaan dan kesedihan! Ini adalah tindakan yang tidak benar. Ketika makanan diambil dengan tangan dan disuapkan ke dalam mulut, dan kemudian dikunyah dan ditelan, sari pati makanan tersebut akan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Demikian juga, ketika tangan sibuk dalam kegiatan menegakkan kedamaian, mulut haruslah disibukkan dengan doa untuk kedamaian. Jadikanlah kebajikan ini memenuhi pikiran, perkataan dan perbuatanmu. Ini adalah dasar dari kedamaian yang sejati… untuk setiap orang dan seluruh dunia.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Friday, November 20, 2009

Sai Inspires 20th November 2009


Peace cannot be spread or promoted by anyone. The best that can be done is to show the way to others, to inform others of its sweetness. How can another's hunger be appeased by your eating food? The diner alone derives satisfaction from the dinner. Peace too is of such a nature. Love and fortitude are enough to confer peace. Let these virtues saturate your thought, word and deed. That is the way to establish world peace. Through world peace, individual peace can also be established.

Kedamaian tidak akan bisa disebarluaskan atau dipromosikan oleh siapa pun. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menunjukkannya kepada orang lain, untuk memberi tahu orang lain tentang manisnya kedamaian. Bagaimana mungkin rasa lapar seseorang bisa dipuaskan kalau engkau yang makan makanan tersebut? Hanya yang memakan makanan tersebutlah yang akan merasakan manfaatnya. Kedamaian juga demikian. Kasih dan kesabaran semata sudah cukup untuk meraih kedamaian. Jadikanlah kebajikan ini menyelimuti pikiran, ucapan dan perbuatanmu. Itu adalah jalan untuk menegakkan kedamaian dunia. Melalui kedamaian dunia, maka kedamaian diri juga akan dapat dibangun.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Thursday, November 19, 2009

Sai Inspires 19th November 2009


Cultivate Love, Peace, Right Action and Fortitude. Practice them systemically. You should be content with what you have, refuse to be worried by the absence of things that you have not got and try as far as possible to reduce and eliminate the desires and tendencies, passions and hatreds. That is your real duty, the real purpose of human birth. If these four qualities are cultivated and practiced by each one, then there will be no envy between one person and another. Selfish grabbing will cease, the interests of others will be respected and world peace can be established. Those enthusiastic about world peace must first learn how to experience and enjoy that peace themselves. Then they can spread it later to the world outside them and promote it.

Tumbuhkanlah Kasih, Kedamaian, Tindakan yang Benar dan Keteguhan. Lakukanlah itu semua dengan baik. Engkau harus selalu puas dengan apa yang telah engkau miliki, jangan resah karena tidak memiliki apa yang belum engkau punyai dan berusahalah sejauh mungkin untuk mengurangi dan menghilangkan keinginan dan kecenderungan duniawi, hawa nafsu dan kebencian. Itu semua adalah tugasmu yang sesungguhnya, makna kelahiran sebagai manusia yang sebenarnya. Jika keempat sifat tersebut ditumbuhkan dan dilaksanakan oleh setiap orang, maka tidak akan ada rasa iri hati antara satu orang dengan yang lainnya. Keinginan merebut untuk kepentingan diri sendiri akan hilang, kepentingan orang lain akan dihormati dan kedamaian dunia akan terwujud. Mereka yang penuh semangat untuk mewujudkan kedamaian dunia harus belajar terlebih dahulu tentang bagaimana meraih dan mengalami kedamaian di dalam diri mereka sendiri. Kemudian mereka bisa menyebarkan apa yang mereka ketahui dan alami kepada seluruh dunia dan berusaha mewujudkannya.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 18th November 2009


Some persons who have no experience and who do not put their words into practice, go about declaring that the way to peace is to keep samsaara (worldly life) at a distance. That is not peaceful living. If you do not want the tree to grow, you will have to boil the seed or fry it over a fire; then it will not grow. Instead, if the seed is taken far away from the tree, will it not grow into a tree again? So too, the impulses and vasanas (desires, tendencies) are the seeds that germinate. They should be fried over the fire of discrimination only then can real peace emerge. If one escapes from the responsibilities of life or duties to society, peace cannot be enjoyed; peace will never come. However, if the desires and tendencies are eliminated and controlled, there is no need to run away.

Beberapa orang yang tidak memiliki pengalaman dan tidak menerapkan apa yang mereka ucapkan dalam bentuk perbuatan, menyatakan bahwa jalan menuju kedamaian adalah dengan cara menjaga jarak dengan samsaara(kehidupan duniawi). Itu bukanlah hidup yang penuh kedamaian. Jika engkau tidak ingin sebatang pohon berkembang biak, engkau harus merebus bibitnya atau menggorengnya di atas api; maka kemudian ia tidak akan bisa tumbuh. Sebaliknya, jika bibit tersebut dibawa pergi menjauh dari pohon induknya, bukankah ia akan tetap bisa tumbuh menjadi pohon lagi? Demikian juga, dorongan hati dan vasanas (keinginan, kecenderungan) adalah bibit yang bertunas. Mereka harus digoreng di atas api kemampuan memilah, hanya dengan demikian sajalah maka kedamaian yang sejati bisa muncul. Jika seseorang melarikan diri dari tanggung jawab kehidupan atau kewajiban pada masyarakat, maka kedamaian tidak akan bisa dinikmati; kedamaian tidak akan pernah datang. Namun, jika nafsu keinginan dan kecenderungan duniawi itu disingkirkan dan dikendalikan, maka tidak ada alasan lagi untuk melarikan diri.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 17th November 2009


One can acquire large heartedness only if one has inborn impulse or samskara and devotion in every act. Through devotion to the Lord, one gets humility, fear of sin and faith in scriptures. Through these qualities, the littleness of the mind is wiped out and one becomes large-hearted. Therefore, Oh ye seekers, first direct your effort towards acquiring 'Faith in God' and developing 'Fear of Sin'. These two will promote meekness and remember, meekness is Peace!

Seseorang bisa mencapai kebesaran jiwa hanya jika orang itu telah memiliki dorongan hati atau samskara dan persembahan dalam setiap tindakannya. Melalui persembahan kepada Tuhan, seseorang mendapatkan kerendahan hati, rasa takut berbuat dosa dan keyakinan pada kitab suci. Dengan sifat-sifat tersebut, kepicikan pikiran akan tersapu hilang dan seseorang akan menjadi berjiwa besar. Maka dari itu, wahai para pencari spiritual, pertama kali arahkanlah usahamu menuju tercapainya ‘Keyakinan pada Tuhan’ dan tumbuhkanlah ‘Rasa Takut berbuat Dosa’. Dua hal tersebut akan meningkatkan kesabaran dan ingatlah, kesabaran adalah Kedamaian!

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 16, 2009

Sai Inspires 16th November 2009


To enjoy peace, mankind must be directed by the ideals ofDharma. This depends on the mutual toleration in the family. That is again based on individual conduct that is sathwik(pure and righteous), and aims at pleasing everyone. Such conduct has a charm, all in its own. Avoid in your behavior, actions, and in your speech, all trace of pain and desire to hurt others, to insult others or to cause misery to others. Find out the best means of reforming yourself and thus practice this type of living. Desist from injury to yourself and for your own good, walk always in the path of Truth. That is verily the path of Beauty, that is the conduct that is really charming.

Untuk mencapai kedamaian, umat manusia harus diarahkan oleh keteladanan Dharma. Ini tergantung dari saling tenggang rasa di dalam keluarga. Hal itu juga tergantung dari perilaku yang sathwik (bersih dan berbudi luhur) dari seseorang, dan bertujuan untuk menyenangkan orang lain. Perilaku semacam itu memiliki pesona, yang muncul dari dalam diri. Hindarilah dalam setiap perilaku, perbuatan, dan dalam ucapanmu, semua jejak derita dan keinginan untuk menyakiti orang lain, untuk menghina orang lain atau mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain. Carilah cara terbaik untuk memperbaiki diri dan kemudian terapkanlah dalam hidupmu. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri dan demi kebaikanmu, selalulah berjalan di jalan Kebenaran. Itu adalah jalan Keasrian, yang membuat tingkah lakumu menjadi penuh pesona.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 15th November 2009


Mankind can win happiness only through unity and not through diversity. If thoughts and feelings run along the routes of distinction and division, happiness is beyond reach, and peace cannot be experienced. Consider the One Indivisible Ocean as the goal. Then, what does the direction of the flow matter? How does the name matter? They merge in the self-same sea, is it not? All devotees and aspirants, adopting the path of yoga or devotion or peace, right action, truth, and love, when they reach the ocean of Grace at last, the Name and Form fade away and distinctions disappear. They are blessed with the merger in the sea of Peace. So unity must ever be kept before the eye. Never nourish the ideas of difference, of distinct names and forms of the Lord. Such ideas are obstacles for the attainment of joy. Avoid these obstacles and develop the equal vision!

Umat manusia bisa mendapat kebahagiaan hanya melalui kesatuan dan bukannya melalui perpecahan. Jika pikiran dan perasaan pergi ke jalan perbedaan dan perselisihan, maka kebahagiaan akan berada di luar jangkauan, dan kedamaian tidak akan bisa dirasakan. Sekarang renungkanlah Satu Samudera Luas sebagai tujuan akhir. Maka, apakah arah aliran sungai itu penting? Apakah nama sungai itu penting? Mereka semua pada akhirnya akan bersatu di samudera yang sama, bukankah begitu? Semua pemuja dan penganut spiritual, mengambil jalan yoga atau bakti atau kedamaian, perilaku yang baik, kebenaran, dan kasih, ketika mereka semua mencapai samudera Anugerah pada akhirnya, Nama dan Bentuk akan berangsur-angsur menghilang dan semua perbedaan lenyap. Mereka semua terberkati dengan bersatu dalam lautan Kedamaian. Jadi, kesatuan harus terus dijaga sebaik mungkin. Jangan memupuk gagasan akan perpecahan akibat perbedaan nama dan wujud Tuhan. Gagasan tersebut adalah halangan bagi tercapainya kebahagiaan. Hindarilah halangan tersebut dan kembangkanlah visi yang sama!

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Saturday, November 14, 2009

Sai Inspires 14th November 2009


Stabilizing oneself in vairagya (renunciation) is itself the highest penance, the most exacting vow. One has to be ever alert in that thapas (penance) and strive again and again. Like a child endeavoring to walk, you might toddle a few steps, falter and fall. But like the child, you must lift yourself with smile and start again. Peace is essential for such persistence. Failures are not boulders that block your way, remember they are stepping stones to victory.

Memantapkan diri dalam melakukan vairagya (penyangkalan diri) adalah penebusan dosa tertinggi yang sesungguhnya, juga merupakan sumpah yang sangat memerlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Seseorang harus selalu siap dalam thapasitu (penebusan dosa) dan berusaha terus-menerus. Bagaikan seorang anak kecil yang sedang berusaha keras untuk belajar berjalan, pada awalnya engkau mungkin akan tertatih-tatih beberapa langkah, terhuyung-huyung dan terjatuh. Namun sebagaimana halnya anak kecil, engkau harus bangun sendiri sembari tersenyum dan mulai berusaha lagi. Kedamaian adalah sangat penting bagi ketekunan semacam itu. Kegagalan bukanlah batu besar yang menghalangi jalanmu, ingatlah bahwa mereka adalah batu pijakan untuk menuju keberhasilan.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Friday, November 13, 2009

Sai Inspires 13th November 2009


When hardships overwhelm you, know that it is the consequence of your own past deeds. Do not blame the Lord and develop a grouse against Him. Do not pay heed to this trouble or take it as such. Engage yourself in the service of others and in deeds of merit. Continue relying on the Name of the Lord as support. That is the sign of the wise. To strengthen this attitude, peace is a great source of help. Basking in the happiness born of good deeds you do, you should not be tempted to commit deeds of evil. You should strive to perform even more meritorious deeds. Then you can make your lives holier and purer and reach the Divine Presence. Such striving is the sign of the highest character.

Saat engkau dilanda penderitaan, sadarilah bahwa itu akibat dari perbuatanmu di masa lampau. Janganlah menyalahkan Tuhan dan mengomeli Beliau. Janganlah larut dalam penderitaan tersebut atau tindakan semacamnya. Libatkanlah dirimu dalam pelayanan kepada sesama umat manusia dan berbuatlah kebaikan. Tetaplah mengandalkan Nama Tuhan sebagai dukungan bagimu. Itu adalah ciri kebijaksanan. Untuk memperkuat sikap ini, kedamaian adalah sumber pertolongan yang utama. Sembari menikmati kebahagiaan dari hasil perbuatan baikmu di masa lampau, janganlah tergoda untuk bertindak jahat. Engkau bahkan harus berusaha lebih keras untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik. Maka kemudian engkau akan bisa membuat hidupmu menjadi lebih suci dan murni dan pada akhirnya akan mendapatkan Kehadiran Tuhan. Usaha keras semacam itu adalah ciri dari karakter yang tertinggi.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Thursday, November 12, 2009

Sai Inspires 12th November 2009


You must have noticed the crane walking silently or standing motionless in order to catch a fish. Why? If it plunges headlong or runs about helter skelter, can it get the fish? Similarly, the Lord is the fish in the forms ofSathya, Dharma, Santhi & Prema. The Lord can never be won, when the hullabaloo of lust, anger, egoism and envy is rampant in the heart. If the bitter qualities of lust, anger and envy germinate in the heart, fear, anxiety and sloth will be the fruits thereof. When there is sugar on the tongue, you will feel the sweetness in the taste. Similarly, so long as the heart has Bhakthi, (Devotion) Santhi(Peace) and Prema (Love for Lord), you will be filled with Ananda (Bliss).

Engkau pasti tahu bahwa pemancing ikan haruslah berjalan dengan tenang atau berdiri diam tak bergerak supaya bisa mendapatkan ikan. Mengapa? Jika ia menjulurkan pancing dengan tergesa-gesa atau berlarian kesana-kemari, bisakah ia mendapatkan ikan? Demikian juga, Tuhan diibaratkan ikan tersebut dalam wujud Sathya, Dharma, Shanti danPrema. Tuhan tidak akan bisa diraih, kalau keributan akibat nafsu birahi, kemarahan, keakuan dan iri hati bergelora di dalam hati. Jika sifat-sifat terburuk yaitu hawa nafsu, kemarahan dan iri hati telah bertunas di dalam hati, maka hasilnya adalah kecemasan dan kemalasan. Jika ada gula di lidahmu, engkau akan merasakan kemanisannya. Pada hakekatnya, selama di dalam hati ada Bhakthi(Pengabdian), Santhi (Kedamaian) dan Prema (Kasih bagi Tuhan), engkau akan penuh dengan Ananda (Kebahagiaan).

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Wednesday, November 11, 2009

Sai Inspires 11th November 2009


Santhi (Peace) can also be defined as true love towards the Lord, towards Truth itself and towards true dharma (Right Action). Hence, it makes the realization of the Lord as your sole aim. Hold fast to the desire to realize Him in this very birth. Remain unaffected by lust or greed, by joy and pain, praise and abuse or any such pair of opposites. Fortitude such as this alone leads to Realization.

Santhi (Kedamaian) juga dapat diartikan sebagai kasih sejati kepada Tuhan, kepada Kebenaran itu sendiri dan kepadadharma yang sejati (Tindakan yang Benar). Dengan demikian, hal itu akan membuka kesadaran bahwa Tuhan adalah satu-satunya tujuan. Berpeganglah dengan teguh pada harapan untuk mendapatkan kesadaran Tuhan pada kehidupanmu sekarang ini. Tetaplah tidak terpengaruh oleh hawa nafsu atau keserakahan, oleh kesenangan dan penderitaan, pujian dan celaan atau hal-hal bertolak belakang yang lainnya. Hanya kesungguhan semacam ini sajalah yang akan membawamu pada Kesadaran Sejati.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Tuesday, November 10, 2009

Sai Inspires 10th November 2009


The Lord's Name is like a mountain of sugar. Approach that mountain, have faith in it, taste it anywhere and experience that joy. The highest devotee is the one who ever revels in that joy. Others there are who live beside the mountain, enjoying for sometime the Bliss of constant remembrance of the Lord and at other times, experiencing the objects of the world. Such devotees are of the middle class. Some devote a quarter of their time to the Lord and three quarters to the world. These are the lower class of devotees. There are also others who take shelter at the foot of the mountain of Lord's Name when a calamity hits them and move far away from it when the crisis is over. Of these four grades, the highest type of devotees are those who steadily cling to the path of devotion and enjoy the Bliss throughout their lives. Resolve today that the purpose of human birth is to reach the Lord through worship. All experience, all knowledge, all actions should be directed towards that goal.

Nama Tuhan adalah bagaikan gunung gula. Dekatilah gunung tersebut, yakinilah, rasakanlah ia dimanapun dan raihlah kebahagiaan karenanya. Pemuja yang tertinggi adalah ia yang selalu ada dalam kebahagiaan tersebut. Yang lainnya adalah mereka yang hidup disamping gunung tersebut, yang separo waktu menikmati Kebahagiaan dari mengingat-ingat Tuhan dan pada saat yang lain, menikmati benda-benda duniawi. Pemuja semacam itu adalah dari tingkat menengah. Beberapa pemuja lain menghabiskan seperempat waktunya untuk Tuhan dan tiga per empat waktunya untuk keduniawian. Mereka adalah dari tingkatan yang lebih rendah. Ada juga pemuja yang mencari perlindungan di kaki gunung Nama Tuhan saat malapetaka menimpa dan menjauh ketika bencana tersebut berlalu. Dari keempat macam pemuja tersebut, yang tertinggi adalah mereka yang tanpa tergoyahkan tetap bertahan pada jalan pengabdian dan menikmati Kebahagiaan sepanjang hidup mereka. Sadarilah saat ini juga bahwa tujuan dari kelahiran sebagai manusia itu adalah untuk mencapai Tuhan melalui pemujaan. Semua pengalaman, semua pengetahuan, segala tindakan haruslah diarahkan untuk menuju pada tercapainya tujuan hidup tersebut.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 9, 2009

Sai Inspires 9th November 2009


Remove from the garden of your heart, the thorny bushes of greed and anger, jealousy and selfishness, the evil breed of "I" and "Mine". Uproot them even when they emerge as seedlings. All this discipline is truly required for earningShanthi (Peace). Be firmly convinced that you are the Universal Soul. That conviction will make every subsequent spiritual practice very easy. If you fondle the illusion that you are the body or the senses, then any spiritual practice that you will yield will tender only rot-ridden fruit. It cannot grow and become ripe and the sweet fruit of Peace cannot be won even at the end of many lives. Give up the theory that you are the body and the senses; this itself will lead to the receding of vasanas (desires, tendencies) and you will acquire mastery and gain Prasant hi (supreme peace).

Buanglah dari taman hatimu, semak belukar berduri akan keserakahan dan kemarahan, iri hati dan mementingkan diri sendiri, bibit yang jahat yaitu “aku” dan “milikku”. Cabutlah mereka semua bahkan saat bibit mereka mulai bertunas. Semua disiplin tersebut benar-benar diperlukan untuk meraihSanthi (Kedamaian). Yakinlah sepenuhnya bahwa dirimu adalah Jiwa Alam Semesta. Keyakinan tersebut akan membuat setiap latihan spiritualmu berikutnya menjadi sangat mudah. Jika engkau terbuai oleh khayalan bahwa dirimu adalah badan atau indera, maka latihan spiritual apapun yang engkau lakukan hanya akan menghasilkan buah yang membusuk. Ia tidak akan bisa berkembang dan menjadi matang dan buah manis Kedamaian tidak akan bisa dipetik bahkan pada saat akhir kehidupan yang berulang-ulang. Lupakanlah teori yang menyatakan bahwa engkau adalah tubuh dan indera; hal itu akan mengurangi vasanas (hawa nafsu keinginan, kecenderungan) dan engkau akan bisa menguasai dan mendapatkan Prasanthi (kedamaian sejati).

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini.

Sunday, November 8, 2009

Sai Inspires 8th November 2009


Cultivate devotion steadily every day and derive joy from there. One should have a mind filled with equanimity, the conviction that fundamentally all are same. The spiritual life is not a matter of meaningless talk. It is really life lived in the spirit of the Lord. It is the experience of pure joy and is another name for full Life. To lead such a joyous life, you should keep your promises and never forget them. You should be courteous and well-mannered. You have to be impartial in your dealings and be immersed in the ocean of devotion, as immovable as the Himalayas.

Kembangkanlah pengabdian dengan mantap dan terus-menerus setiap hari dan raihlah kebahagiaan darinya. Orang harus memiliki pikiran yang penuh dengan keseimbangan, memiliki keyakinan bahwa pada dasarnya semua adalah sama. Hidup spiritual bukanlah hanya wacana tanpa makna semata. Sebenarnya kehidupan spiritual itu adalah hidup dalam semangat Ketuhanan. Itu adalah pengalaman akan kebahagiaan sejati dan adalah nama lain dari Hidup yang sepenuhnya. Untuk menjalani hidup yang penuh kebahagiaan semacam itu, engkau harus selalu menepati janji-janjimu dan jangan pernah mengingkarinya. Engkau haruslah sopan dan bersikap baik. Engkau haruslah bertindak adil dalam berhubungan dengan orang lain dan tenggelam dalam samudera pengabdian, tak tergoyahkan bagai gunung Himalaya.

-Divine Discourse, Upanishad Vahini

Sai Inspires 7th November 2009


Valuable time should not be wasted in worthless talk. Conversation must be pleasant and to the point; it can be kept polite and simple, then your peace will become firm. When everything is dedicated to the Lord, there will be no room for worry or sorrow or even joy. If you rid yourself thus of attachment, your peace can never be disturbed. When I, my, mine, my own, you, yours...when these ideas take hold of the mind, peace suffers a setback. To get the attitude of sincerely offering all to Him, Love combined with faith in oneself, is essential. That is what is called Bhakthi or Devotion.

Waktu yang berharga seharusnya jangan sampai disia-siakan dalam obrolan yang tak berguna. Percakapan haruslah menyenangkan dan langsung pada tujuan; percakapan agar dijaga supaya tetap sopan dan sederhana, maka kedamaianmu akan tetap kokoh. Ketika segala sesuatu dipersembahkan kepada Tuhan, maka tidak akan ada tempat untuk penderitaan atau bahkan kesenangan. Jika engkau melenyapkan segala macam keterikatan pada dirimu, maka kedamaianmu tidak akan bisa terganggu. Kalau aku, saya, milikku, punyaku sendiri, engkau, milikmu… kalau semua hal tersebut merasuk dalam pikiran, maka kedamaian akan mengalami kemunduran. Untuk bisa bersikap tulus dalam mempersembahkan segalanya kepada Tuhan, Kasih yang digabungkan dengan keyakinan di dalam diri seseorang, adalah sangat diperlukan. Itulah yang disebut dengan Bhakthi atau Pengabdian.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Friday, November 6, 2009

Sai Inspires 6th November 2009


Do not enter upon a task through momentary compulsion of some impulse. The impulse might appear very respectable, but you should not let yourself be dragged by it. You have to be always vigilant in this matter, always steadfast and strong. Your nature should be free from pomp and show. You should understand the secret of character, and strengthen your will for your betterment. If you move in the world intelligently and with care, you can demonstrate the truth of the statement, "Man is truly the embodiment of Peace". A joyful outlook helps peace to grow. You should therefore cultivate a joyful outlook.

Jangan melaksanakan suatu pekerjaan hanya karena dorongan sekejap dari keinginan semata. Dorongan itu mungkin nampak sebagai sesuatu yang baik, namun engkau jangan membiarkan dirimu terseret olehnya. Engkau harus benar-benar waspada dalam hal ini, selalu teguh dan kuat. Dirimu harus bebas dari kesan megah dan pamer. Engkau harus memahami rahasia karakter, dan menegaskan tekadmu untuk menuju kepada hal yang lebih baik. Jika engkau bertindak di dunia secara cerdas dan penuh kepedulian, engkau akan bisa menunjukkan kebenaran pernyataan berikut ini, “Umat manusia sebenarnya adalah perwujudan Kedamaian”. Cara berpikir yang penuh kegembiraan akan membantu menumbuhkan kedamaian. Dengan demikian engkau harus terus mengembangkan cara berpikir yang penuh kegembiraan.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Thursday, November 5, 2009

Sai Inspires 5th November 2009


Do not shape your conduct with an eye on the opinion of others. Instead, follow bravely, gladly and steadily the sweet and pleasant promptings of your own gentle and good manners. Follow your own Inner Self. Associate yourself with those who are richly endowed with Truth. Spend every second of your life usefully and well. If you possibly can, render service to others. Engage yourself in nursing the sick, but when thus engaged in service, do not worry about either the result or the act of service or the person to whom it is rendered. The service is made holy and pure, if you ignore both the good and the bad, and keep on silently repeating in your hearts the name of the Lord that most appeals to you.

Janganlah membentuk perilakumu berdasarkan pendapat orang lain. Sebaliknya, bertindaklah dengan penuh keberanian, kegembiraan dan kemantapan untuk menampilkan dirimu yang manis dan menyenangkan dalam gaya yang lembut dan baik. Ikutilah kata hati Diri Sejatimu. Bergaullah dengan mereka yang telah kaya akan Kebenaran. Isilah waktu dalam hidupmu dengan hal-hal yang berguna dan baik. Jika memungkinkan, lakukanlah pelayanan tanpa pamrih kepada orang lain. Libatkanlah dirimu dalam pelayanan kepada orang-orang yang menderita sakit, namun ketika engkau sedang melayani, jangan khawatir tentang hasil yang akan didapat dari pelayanan yang engkau berikan atau pada orang yang engkau layani. Pelayanan akan bisa dilakukan dengan penuh kesucian dan kemurnian, jika engkau tidak mempedulikan apakah yang engkau tolong adalah baik atau jahat, dan sembari mengulang-ulang dalam keheningan di dalam hatimu nama Tuhan yang engkau pilih.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Wednesday, November 4, 2009

Sai Inspires 4th November 2009


First, give up all impure impulses and cultivate the pure ones. After this, try step by step to give up even these and render the mind objectless, Nirvishaya. Peace thus obtained is effulgent, blissful and associated with Wisdom. It is indeed the experience of God himself. Peace is the key quality that everyone of you must aspire to achieve. The aspirant who wants to attain this peace has to constantly practise a virtuous life, overcoming all the initial obstacles. Peace is like a mountain of rock. It can stand up against the continuous floods of temptation against evil. This Prasanthi (supreme peace) need not be sought anywhere outside. It emanates from the inner consciousness itself. It is the very basis of the urge towards liberation.

Pertama-tama, tinggalkanlah semua keinginan yang tidak murni dan kembangkanlah keinginan yang murni. Setelah itu, cobalah sedikit demi sedikit untuk menghilangkan keinginan dan buatlah pikiran menjadi tanpa obyek,Nirvishaya. Kedamaian yang didapat akan berkilauan, penuh kebahagiaan dan selalu dalam lingkaran kebijaksanaan. Bahkan hal itu sebenarnya adalah pengalaman akan Tuhan sendiri. Kedamaian adalah sifat utama yang harus diidamkan untuk bisa dicapai oleh setiap orang. Pengikut spiritual yang ingin mencapai kedamaian ini haruslah secara terus-menerus menjalani kehidupan yang penuh kebajikan, menghadapi segala macam rintangan. Kedamaian adalah bagaikan gunung batu. Ia bisa menjulang bertahan menghadapi terjangan godaan jahat. Prashanti ini (kedamaian yang tertinggi) tidak perlu dicari diluar diri. Ia memancar dari kesadaran diri sendiri. Ia adalah hal yang sangat mendasar untuk bisa menuju pada tercapainya pembebasan diri.

-Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Sai Inspires 3rd November 2009


To nourish the scriptures, it is important to practise two statements: "Speak the Truth" and "Speak it pleasantly". If only these two are kept in view and practised, there is no greater discipline needed. It is only in an atmosphere of peace that such sacred maxims can be put in action. To earn that calmness, steady effort and concord are essential. Devotion is the very fountainhead of Peace. If everyone plants devotion in their heart and nourishes it with care and constant attention, a harvest of goodness and concord can be reaped. The path of devotion is the best and easiest for everyone under present conditions.

Untuk mengamalkan ajaran dalam kitab suci, adalah penting untuk menerapkan dua pernyataan berikut: “Katakanlah Kebenaran” dan “Katakanlah dengan menyenangkan”. Hanya jika kedua hal tersebut bisa terus dijaga dan dilaksanakan, tiada lagi diperlukan ajaran yang lebih tinggi. Hanya di dalam suasana yang penuh kedamaian sajalah maka ajaran tersebut bisa dilaksanakan. Untuk mendapatkan ketenangan tersebut, usaha keras yang terus-menerus dan memelihara kerukunan adalah hal yang sangat penting. Pengabdian adalah asal-muasal Kedamaian. Jika setiap orang menanamkan benih pengabdian di dalam hati mereka masing-masing dan memeliharanya dengan penuh kepedulian dan perhatian yang terus-menerus, maka hasil panen kebaikan dan kerukunan akan bisa dipetik. Jalan pengabdian adalah yang terbaik dan termudah bagi setiap orang dalam kondisi sekarang ini.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini

Monday, November 2, 2009

Sai Inspires 2nd November 2009


The present state of affairs is due to people losing faith in themselves and in the sastras (scriptures) . Those who claim to have faith do not conduct themselves according to the scriptures and nourish them. Consequently, goodness and good habits have gone out of the world and wicked habits and degradation has gained the upper hand. This is incorrect and needs transformation. A child may refuse to swallow a pill when it is in the bed, suffering from fever. It may clamour for a plantain, instead of a pill. Do you know what to do at that time? Do not omit the pill. Insert the pill inside the plantain and offer it to the child to be swallowed. It's desire is satisfied. The fever too, comes down. The fundamental has not been discarded. It has remained unchanged. Only the method of administering it has been modified. So too, in the mi dst of crazy habits and behaviors, fundamental scriptures must be presented in a way it is easy to absorb; it must be practised, understood, experienced and enjoyed.

Peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi sekarang ini adalah akibat hilangnya keyakinan orang-orang terhadap diri mereka sendiri dan juga terhadap sastra (kitab suci). Mereka menyatakan dirinya memiliki keyakinan namun tidak menjunjung tinggi dan tidak berperilaku sesuai tuntunan kitab suci. Akibatnya, kebaikan dan kebiasaan baik semakin menghilang dari dunia dan kebiasaan buruk serta penurunan martabat semakin bertambah. Itu semua adalah tidak benar dan perlu adanya perubahan. Seorang anak mungkin akan menolak minum pil pahit ketika ia sedang terbaring sakit di tempat tidur, menderita demam. Dia mungkin meminta pisangnya saja, namun tidak mau minum pil. Tahukah engkau apa yang harus dilakukan saat itu? Jangan buang pil tersebut. Masukkanlah pil tersebut ke dalam pisang dan berikanlah kepada sang anak untuk ditelan. Keinginan sang anak terpenuhi, demikian juga sakit demamnya akan sembuh. Hal yang mendasar janganlah diabaikan. Ia tidak akan pernah berubah. Hanya cara menguasainya sajalah yang telah disesuaikan. Demikian halnya, ditengah-tengah kebiasaan dan tingkah laku yang bobrok saat ini, kitab-kitab suci yang menjadi dasar haruslah disampaikan dengan cara sedemikian rupa sehingga mudah diserap; kemudian harus dilanjutkan dengan dilakukan, dipahami, dialami dan pada akhirnya akan dinikmati.

- Divine Discourse, Prasanthi Vahini