Tuesday, June 30, 2009

Sai Inspires 30th June 2009


The Lord incarnates as human being to help humans comprehend that which apparently cannot be understood and to enable them to attain that which is seemingly unattainable. By this action, the Lord, who is infinite, immutable and immanent, does not suffer any diminution. Neither is He, though embodied in a human frame, influenced by the taints and blemishes that normally affect a human being. To grasp the significance of the Divine Incarnation, it is imperative that one should rise above therajasic (passionate) and thamasic (dull) gunas (atrributes). Pious (sathwic) habits alone can lead him through the path of true devotion to the Lotus Feet of the Divine. For this, a favorable environment and company of good people are essential.

Tuhan menjelma dalam wujud manusia untuk menolong umat manusia memahami apa yang tampaknya tidak dapat dipahami dan memungkinkan mereka untuk mencapai apa yang tampaknya tidak dapat dicapai. Dalam melakukan hal ini, Tuhan, yang mana adalah tak terbatas, kekal dan maha ada, tidak akan mengalami kekurangan. Beliau, meskipun mewujud dalam tubuh manusia, tidak akan terpengaruh oleh noda dan cela yang biasanya berpengaruh pada umat manusia. Untuk memahami pentingnya makna Penjelmaan Tuhan, adalah menjadi suatu keharusan bagi seseorang untuk meningkatkan diri melampaui guna (sifat-sifat)rajasic (hawa nafsu) dan thamasic (kemalasan). Hanya sikap saleh (sathwic) sajalah yang bisa menuntun seseorang melewati jalan pengabdian sejati menuju pada Kaki Padma Tuhan. Untuk mewujudkan hal ini, perlu lingkungan yang sesuai dan pergaulan dengan orang-orang yang baik.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Sai Inspires 29th June 2009


There is a burning coal. At some distance, there is a cold piece of coal. When they contact each other, the heat spreads to the cold piece of coal and the part that is in contact with the burning coal is rendered hot and red. If you vigorously sway a fan over the contact area, soon the entire coal becomes a burning ember. "Near" alone is not enough for realization. One has to make it "Dear" by using the fan of spiritual practice. The power of spiritual practices is such that it can make human transform into Divine. Spiritual Practice is the cultivation of Divine Love. Be full of Divine love, taste the exhilaration that love can confer on you.

Di suatu tempat, ada arang yang membara. Agak jauh dari tempat itu, ada arang yang belum terpakai. Ketika mereka bersentuhan satu sama lain, panas bara akan menyebar ke arang yang masih dingin dan bagian yang bersentuhan akan mulai membara dan menjadi panas. Jika engkau mengipasinya dengan penuh semangat di bagian yang mulai membara, maka dengan cepat seluruh arang yang tadi dingin akan menjadi bara api. “Dekat” saja tidaklah cukup untuk mencapai kesadaran diri. Orang harus membuatnya menjadi “Dikasihi” dengan menggunakan kipas berupa latihan spiritual. Kekuatan latihan spiritual semacam itu akan mampu mengubah manusia menjadi Illahi. Latihan Spiritual adalah usaha untuk mengembangkan Kasih Tuhan. Jadilah manusia yang selalu penuh dengan kasih Tuhan, rasakanlah kegembiraan yang bisa dipersembahkan oleh kasih bagimu.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Sunday, June 28, 2009

Sai Inspires 28th June 2009


Iron turns into rust if it seeks the company of soil. It glows, softens and takes on useful shapes, if it enjoys the company of fire. Dust can fly if it chooses the wind as its friend. It has to end as slime in a pit, if it prefers water. It has neither wing nor foot, yet it can either fly or walk, rise or fall, according to the friend it selects. Knowing this truth, a great saint, Kabir once said. "Here are my prostrations to the good, Here are my prostrations to the bad." When asked why he offered prostrations to the bad, he said, "My prostrations to the bad, so that they may leave me alone. I do the same before good, so that they might remain near me always." You are shaped by the company you keep.

Besi menjadi berkarat jika berada di tanah. Namun ia akan berkilau, lunak dan bisa dibentuk menjadi sesuatu yang berguna, jika telah dipanaskan dengan api. Debu bisa terbang jika ia memilih angin sebagai temannya. Namun ia akan berubah menjadi lumpur dalam kubangan, jika ia memilih air. Debu tidak memiliki sayap atau kaki, ia akan menjulang atau tenggelam, tergantung pada teman yang ia pilih. Berdasar kebenaran ini, seorang maha suci, Kabir sekali waktu berkata, “Ini sujudku pada kebaikan, Ini sujudku juga pada keburukan.” Ketika ditanyai mengapa ia bersujud pada keburukan, ia berkata, “Sujudku pada keburukan, itu supaya mereka meninggalkanku seorang diri. Aku melakukan hal yang sama pada kebaikan, supaya mereka tetap bersama disampingku selamanya.” Engkau dibentuk berdasarkan pengaruh dari lingkungan yang engkau pilih.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Sai Inspires 27th June 2009


No one eats to appease another's hunger nor takes drugs to alleviate another's illness. You eat to appease your own hunger, you drink to quench your own thirst. So do not seek approval, appreciation or admiration from others or refrain from your spiritual practices. Be self-reliant and self-confident. See through your own eyes. Hear through your own ears. Most people today believe their ears and deny their eyes. Or they use the eyes, ears and the brains of others and that leads to fear or misjudgment. The Lord is moved and showers Grace on every genuine appeal emanating from the heart. Let His Name dance on your tongue forever, conferring on you the sweetness of His Majesty.

Tak seorang pun yang makan untuk membuat kenyang orang lain atau minum obat untuk menyembuhkan sakit orang lain. Engkau makan untuk mengenyangkan dirimu sendiri, engkau minum untuk melepas dahagamu sendiri. Jadi, janganlah mencari persetujuan, penghargaan atau kekaguman dari orang lain atau malah berhenti menjalankan latihan spiritualmu. Jadilah orang yang memiliki rasa percaya diri. Pandanglah melalui penglihatanmu sendiri. Dengarlah lewat telingamu sendiri. Kebanyakan orang sekarang ini mempercayai telinganya namun menyangkal penglihatan mereka. Atau mereka menggunakan mata, telinga dan otak orang lain dan mengakibatkan pada rasa takut atau bahkan salah paham. Tuhan membagikan dan menyiramkan anugerahNya kepada setiap permohonan yang tulus dari dalam hati. Biarkanlah Nama Tuhan menari-nari di lidahmu selamanya, menganugerahkan rasa manis dari KeagunganNya.

- Divine Discourse, 14 Nov 1976

Friday, June 26, 2009

Sai Inspires 26th June 2009


When God is invoked by prayer that emanates from the heart, let it be even once, He responds immediately. It must not emanate only from the lips; it does not have the ring of sincerity and faith. From the lips, it must roll back on the tongue; from the tongue, it must reach down into the heart. Continuous purification alone can grant success in this effort. Just as the mother who is attending to her chores on the first floor of the house, will quickly rush to the infant lying on the ground floor when the infant wails, God will rush to your aid. The mother will not stay away because the wail was not musical or melodious. Similarly, God always responds to prayer that emanates from your heart.

Ketika seseorang berdoa kepada Tuhan untuk meminta tolong dengan sungguh-sungguh dari dalam hati, biarpun itu hanya sekali, Dia akan menjawab dengan segera. Doa jangan hanya berasal dari bibir saja; karena ia tidak memiliki lingkaran ketulusan dan kepercayaan. Dari bibir, doa harus melalui lidah; dari lidah, ia harus sampai ke dalam hati. Hanya dengan pemurnian yang terus-menerus sajalah maka usaha itu bisa mencapai keberhasilan. Bagaikan seorang ibu yang sedang mengerjakan pekerjaan sehari-hari di lantai atas rumahnya, ia akan dengan cepat berlari ke lantai bawah ketika mendengar bayinya mengaduh kesakitan, demikian juga Tuhan akan dengan segera menolongmu. Sang ibu tidak akan berdiam diri karena erangan si bayi yang tidak merdu. Sama halnya, Tuhan akan selalu menjawab doa yang berasal dari dalam hati.

- Divine Discourse, 28 Apr 1975

Thursday, June 25, 2009

Sai Inspires 25th June 2009


Every thought leaves an impression on the mind, so be ever alert that contact with evil is avoided. Ideas which are opposed to spiritual tendencies, that narrow the limits of love, that provoke anger or greed, or that cause disgust, have to be shut out. For the aspirant, this is the most essential discipline. One must sublimate such thoughts before they cause an impact on the mind, and should concentrate on the very source of the thinking process. This can be achieved by the practice of equanimity, unaffectedness or balance. The path of devotion and dedication is the easiest for most. It is attainable by love, for love leads you quickly to the Goal.

Setiap pemikiran meninggalkan jejak kesan pada ingatan, jadi waspadalah selalu untuk bisa menghindari hubungan dengan kejahatan. Gagasan-gagasan yang bertentangan dengan arah spiritual, yang mempersempit batasan kasih, yang menyebabkan kemarahan atau keserakahan, atau yang menimbulkan rasa jijik, harus disingkirkan. Bagi para pencari spiritual, hal ini adalah disiplin yang paling mendasar. Seseorang harus menghaluskan pemikiran tersebut sebelum mereka menyebabkan dampak pada ingatan, dan harus memusatkan diri pada sumber yang paling inti dari proses berpikir. Hal tersebut bisa dicapai dengan melatih ketenangan hati, berusaha untuk tidak terpengaruh atau dengan melatih keseimbangan. Jalan pengabdian dan bakti adalah yang termudah bagi kebanyakan orang. Jalan tersebut dicapai melalui kasih, karena kasih akan menuntunmu lebih cepat menuju pada Tujuan.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Wednesday, June 24, 2009

Sai Inspires 24th June 2009


The Divine Call is not to deceive or mislead. It is to transform, reconstruct, and reform. It is to make the person useful and serviceable for the society; to affirm in the individual the unity of all beings in God. The person who has undergone this samskara (refinement) becomes a humble servant of those in need of help. This is the stage of Paropakara (selfless service). Service done with this kind of reverence and selflessness prepares man to realize the One that pervades the Many.

Panggilan Tuhan bukanlah untuk membohongi atau memperdaya. Panggilan itu adalah untuk mengubah, menyusun kembali, dan memperbaiki. Panggilan tersebut untuk membuat seseorang menjadi berguna dan mampu melakukan pelayanan kepada masyarakat; untuk menegaskan pada seseorang tentang kesatuan seluruh makhluk dalam Tuhan. Seseorang yang telah menjalani samskara (proses pemurnian diri) akan menjadi pelayan yang rendah hati bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Ini adalah jenjangParopakara (pelayanan tanpa pamrih). Pelayanan yang dilaksanakan dengan semangat pengabdian yang baik dan tanpa pamrih akan mempersiapkan seseorang untuk menyadari keberadaan Tuhan Yang Maha Tunggal yang meliputi semua makhluk.

- Divine Discourse, 23 Nov 1976

Sai Inspires 23rd June 2009


The devotional songs you sing, saturates the atmosphere with thoughts of God, and of the peace and joy that He showers. The songs affects not only the particular area you are and the environment, but the entire atmosphere. Continue the attitude of devotion and humility, of service and tolerance, and the atmosphere will not be polluted by hatred. Do not contaminate the air by voices of acrimony, scandal, insult or slander. Keep silent when you feel like expressing such ideas, that itself is a service to yourself and to others.

Lagu-lagu pujian yang engkau nyanyikan, memenuhi atmosfer dengan pikiran-pikiran tentang Tuhan, juga rasa damai dan kebahagiaan yang dilimpahkanNya. Nyanyian tersebut tidak hanya mempengaruhi daerah tertentu saja dan lingkungan sekitarnya, namun seluruh atmosfer. Teruskanlah sikap pengabdian dan kerendahan hati, pelayanan dan tenggang rasa, maka atmosfer tidak akan diracuni dengan kebencian. Jangan mengotori udara dengan nada sengit, skandal, hinaan atau fitnah. Tetaplah diam dan tenang ketika engkau merasa hendak mengeluarkan perasaan tersebut, karena sikap menahan diri itu sebenarnya adalah pelayanan yang engkau lakukan pada dirimu sendiri dan orang lain.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Monday, June 22, 2009

Sai Inspires 22nd June 2009


When we fill the atmosphere with hatred we too have to perforce breathe the same air, and are hated in turn. When we saturate the air with sounds full of reverence, humility, love, courage, self-confidence and tolerance, we benefit from those qualities ourselves. The heart is the film and the mind is the lens; turn the lens towards the world and worldly pictures fall on the heart. Turn it towards God and it will transmit the pictures of the Divine.

Saat kita mengisi atmosfir dengan kebencian, kita juga terpaksa harus menghirup udara yang sama, dan dengan demikian kita akan mendapatkan kebencian juga. Ketika kita memenuhi udara dengan irama yang penuh penghormatan, kerendahan hati, kasih, keberanian, percaya diri dan tenggang rasa, kita juga yang akan menikmati sifat-sifat tersebut. Hati ini adalah gulungan film dan pikiran kita adalah lensanya; putarlah lensa pada dunia dan gambar dunia akan tercetak dalam hati. Putarlah pada Tuhan dan ia akan memberikan gambar-gambar Ketuhanan.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Sai Inspires 21st June 2009


Samkirtan is singing the Glory of God. It is the process of singing that originates in the heart... not from the lips or the tongue. It is the expression of the joyous thrill that wells up from the heart when the Glory of God is remembered. It is the spontaneous manifestation of the inner ecstasy. No attention is paid to the blame or praise that others may give. It does not seek the admiration or the appreciation of the listeners. It is sung for one's own joy, one's own satisfaction, for one's own delight. That type of singing alone is supreme.

Samkirtan adalah melantunkan lagu mengenai Keagungan Tuhan. Nyanyian itu bersumber dari dalam hati… bukan hanya dari bibir atau lidah semata. Lantunan tersebut adalah ungkapan dari kebahagiaan getaran jiwa yang meluap dari dalam hati ketika teringat akan Keagungan Tuhan. Hal itu merupakan perwujudan kegembiraan yang meluap-luap dari dalam diri yang terjadi dengan sendirinya. Ia tidak ambil pusing pada cercaan atau pujian yang mungkin diberikan orang lain. Ia tidak mencari pujian atau penghargaan dari pendengarnya. Lagu itu dinyanyikan demi kebahagiaan, demi kepuasan diri seseorang, untuk kegembiraan diri sejati. Jenis nyanyian tersebut adalah yang terbaik.

- Divine Discourse, Nov 14, 1976

Sunday, June 21, 2009

Sai Inspires 20th June 2009


Cast away the vice of egoism, the evil of greed and the poison of envy. When you seek joy from something outside you, remember that a joy far greater lies in wait within your own inner consciousness. When you are afraid of someone or something outside you, remind youself that the fear is born, fed and fertilized in your mind, and that you can overcome it by denying it. Faith in the Almighty God is the impregnable armour that the aspirant can wear, and people of all lands are aspirants, whether they know it or not. Be steady, do not waver, keep straight on, hold fast to the ideal without despair. Pray until God relents; do not turn away sadly if God does not shower Grace when you expect it.

Hilangkanlah sifat buruk keakuan, jahatnya keserakahan dan racun iri hati. Ketika engkau mencari kebahagiaan melalui benda-benda duniawi di luar dirimu, ingatlah bahwa kebahagiaan yang jauh lebih besar ada dan telah menunggu di dalam kesadaran dirimu. Ketika engkau merasa takut akan seseorang atau sesuatu di luar dirimu, ingatkan dirimu sendiri bahwa rasa takut itu lahir, tumbuh dan menjadi subur di dalam pikiranmu, dan bahwa engkau bisa mengalahkannya dengan menyangkalnya. Keyakinan pada Tuhan Yang Maha Kuasa adalah senjata yang tidak dapat dikalahkan yang bisa dipakai oleh pengikutNya, dan semua umat manusia di seluruh belahan dunia adalah pengikutNya, disadari atau tidak oleh mereka. Tetaplah teguh, jangan terombang-ambing, jagalah untuk selalu benar, bertahanlah untuk mengikuti keteladanan tanpa pernah putus asa. Berdoalah sampai Tuhan menjadi berbelas kasihan padamu; janganlah berpaling dalam kesedihan jika Tuhan belum mencurahkan AnugerahNya ketika engkau mengharapkannya.

- Divine Discourse, 1 Oct 1976

Friday, June 19, 2009

Sai Inspires 19th June 2009


When kama (desire) and krodha (anger) are rising in hot flames from the heart, how can the cool rays of Shanthi (peace), Sathya(truth), Ahimsa (non-violence) and Prema (love) emanate therefrom? This human birth is a rare chance. Use it for spreading joy, not grief. Of course it is natural for man to resent, to grow angry. You should not allow anger free and furious scope. The raging floods have to be restrained by bunds and dams so that the water may reach the sea without scouring the fields on either bank. You must set limits to your own anger and hatred, and honour those limits.

Ketika kama (hawa nafsu) dan krodha (amarah) meluap dengan panas yang berkobar dari dalam hati, bagaimana mungkin kesejukan cahayaShanthi (kedamaian), Sathya (kebenaran), Ahimsa (tanpa-kekerasan) dan Prema (kasih) bisa memancar darinya? Kelahiran sebagai manusia saat ini merupakan kesempatan yang sangat langka. Gunakanlah untuk menyebarkan kebahagiaan, bukan penderitaan. Tentu saja adalah suatu hal yang biasa bagi manusia untuk menjadi jengkel, kemudian berkembang menjadi marah. Engkau tidak boleh membiarkan kemarahan menjadi meledak bebas dan dahsyat. Banjir bandang yang mengamuk harus ditanggulangi dan dikendalikan dengan menggunakan penahan banjir dan bendungan sehingga air sungai bisa mengalir mencapai lautan tanpa harus menyebabkan kerusakan pada sawah dan ladang di kedua sisi aliran sungai. Engkau harus membatasi kemarahan dan kebencian, dan selalu berusaha menjaga supaya tidak melampaui batasan tersebut.

- Divine Discourse, 28 Aug 1976

Thursday, June 18, 2009

Sai Inspires 18th June 2009


To remove the evil of egoism, service is the most efficient instrument. Service will also impress on the person doing the service the Unity of all mankind. One who dedicates his/her time, skill and strength to service can never meet defeat, distress or disappointment, for service is its own reward. His words will be ever sweet and soft, his gestures ever revered and humble. He will have no foe, fatigue, or fear.

Untuk melenyapkan jahatnya keakuan, pelayanan tanpa pamrih adalah cara yang paling tepat. Pelayanan juga akan memberi pengaruh pada orang yang melakukannya dengan rasa Kesatuan di antara seluruh umat manusia. Orang yang meluangkan waktu, kemampuan dan kekuatannya demi pelayanan tidak akan menemui kegagalan, kesedihan atau kekecewaan, karena pelayanan tersebut adalah merupakan penghargaan itu sendiri. Kata-katanya akan menjadi selalu manis dan lembut, tingkah lakunya akan selalu penuh hormat dan sederhana. Ia tidak akan pernah dimusuhi, merasa lelah, atau takut.

- Divine Discourse, Aug 28, 1976

Wednesday, June 17, 2009

Sai Inspires - 17th June 2009


Give the body the attention it deserves, but not more. Some people advise that you should cultivate disgust towards it; but that is not beneficial. Tend it as an instrument, use it as a boat, a raft. Disgust is not a desirable attitude towards anything in God's creation. Everything is God's handiwork, an example of His Glory, His Majesty.

Berilah perhatian pada badan sesuai dengan kebutuhannya, namun jangan berlebihan. Beberapa orang menyarankan supaya engkau seharusnya mengembangkan rasa tidak suka atau jijik terhadapnya, namun hal itu bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Perlakukanlah badan sebagai alat, gunakanlah sebagai perahu, sebagai rakit. Rasa jijik atau tidak suka bukanlah sikap yang diinginkan bagi segala macam ciptaan Tuhan. Semuanya adalah buah karya Tangan Tuhan, pengejawantahan KeagunganNya, KebesaranNya.

- Divine Discourse, Aug 1, 1975

Sai Inspires - 16th June 2009


Carry on your highest duty to yourselves, following the four 'F's - Follow the Master, Face the Devil, Fight to the End and Finish the game....Love can make you gather the affection of mankind. Love will not tolerate any selfish aim or approach. Love is God, Live in Love. Then all is right; all can be well. Do not narrow it down into an instrument of restricted love. Expand your heart, so that it encompasses all.

Laksanakanlah tugas tertinggimu sendiri dengan mengikuti empat ‘F’ – Follow the Master (Ikutilah Pimpinanmu), Face the Devil(Hadapilah Kejahatan), Fight to the End (Berjuanglah sampai Akhir) dan Finish the game (Selesaikanlah permainan)… Kasih bisa membuatmu disayangi oleh banyak orang. Kasih tidak mengijinkan tujuan atau cara yang mementingkan diri sendiri. Kasih adalah Tuhan, Hiduplah dalam Kasih. Maka semuanya akan baik-baik saja; semua bisa menjadi bagus. Jangan mempersempit diri dengan hanya menjadi alat kasih yang terbatas. Luaskanlah hatimu, sehingga ia meliputi semuanya.

- Divine Discourse, Aug 1, 1976

Tuesday, June 16, 2009

Sai Inspires 15th June 2009


Desire is the worst enemy and it has to be canalized and reduced with determination until it ceases to bother you. Besides desire, anger and greed also have to be discarded, for they are present wherever there is desire. When you say "bowman", it is implied that there are arrows too with the bow. Thus desire is ever associated with anger and greed. Desire is bad even if it is for fame and authority. It is the avarice for power and pelf that ruins many a human life... Life is a long journey.Keep your hearts ever pure, steady and inclusive.Do not tarnish others hearts to make them narrow and vengeful.You must encourage opportunities to enlarge them and soften them through intensive social service.

Nafsu keinginan adalah musuh yang paling buruk dan mereka harus disalurkan dan dibatasi dengan penuh kebulatan tekad sampai mereka berhenti menganggumu. Selain nafsu keinginan, kemarahan dan keserakahan juga harus dibuang, karena mereka hadir dimanapun nafsu keinginan itu ada. Ketika engkau mengatakan “sang pemanah”, maka itu berarti bahwa ada panah bersama dengan busur. Demikian juga, nafsu keinginan adalah selalu dihubungkan dengan kemarahan dan keserakahan. Nafsu keinginan tetaplah buruk bahkan jika hal itu demi kemasyhuran dan kekuasaan. Adalah keserakahan akan kekuasaan dan kekayaan yang menghancurkan kehidupan banyak orang… Hidup adalah suatu perjalanan yang panjang. Jagalah supaya hatimu selalu murni, tetap teguh dan terbuka. Jangan mencemari hati orang lain sehingga menjadi terbatas dan penuh dendam kebencian. Engkau harus membuka kesempatan untuk membesarkan dan melembutkan mereka melalui pelayanan sosial yang sungguh-sungguh.

- Divine Discourse, Aug 8, 1976

Monday, June 15, 2009

Sai Inspires 14th June 2009


Recognize this truth. God is in all. When you hate another, you are hating the Lord. When you hate the Lord, you are hating yourself. When you inflict pain on another name, remember that the other is yourself, in another form with another name....Envy causes pain on those who are envied. When another's fortune is green, why should your eyes be red? Why get wild when another eats his fill?... Give up this vice of envy. Be happy when another is happy. That is more pleasing to the Lord than all the prayers you recite, all the flowers you heap on His picture or image, or even the hours you spend in silent meditation.

Ketahuilah kebenaran berikut ini. Tuhan meliputi semuanya. Ketika engkau membenci orang lain, engkau membenci Tuhan. Saat engkau membenci Tuhan, engkau membenci dirimu sendiri. Waktu engkau mengakibatkan penderitaan pihak lain, ingatlah bahwa orang lain tersebut adalah dirimu sendiri, dalam badan dan nama lain… Iri hati menyebabkan rasa sakit pada mereka yang dicemburui. Kalau keberuntungan orang lain berwarna hijau, mengapa matamu menjadi merah? Mengapa harus ribut kalau orang lain mendapatkan bagiannya?... Hilangkanlah sifat buruk iri hati ini. Berbahagialah saat orang lain berbahagia. Dengan melakukan itu saja sudah cukup untuk menyenangkan Tuhan dibandingkan dengan semua doa yang engkau lantunkan, atau dibandingkan dengan semua bunga yang engkau tumpukkan di gambar atau fotoNya, atau bahkan dibandingkan dengan waktu berjam-jam yang telah engkau habiskan dalam keheningan meditasi.

- Divine Discourse, Dec 24, 1980

Saturday, June 13, 2009

Sai Inspires 13th June 2009


The bumble bee can bore a hole in the hardest of the wood. But, when dusk intervenes while it is sipping the nectar from the lotus flower and as a result when the open petals close in on the bee, it finds itself imprisoned with no hope of escape. It does not know how to deal with softness. So too, the mind can play its tricks and jump about on any arena. When placed on the Lotus Feet of the Lord, it becomes inactive and harmless. To offer the mind entirely to the Lord, deep detachment from worldly desires is needed. Superficial devotion or shallow steadfastness cannot succeed.

Seekor tawon besar bisa membuat lubang pada kayu pohon yang paling keras. Namun, ketika rembang petang menjelang sementara si tawon masih sibuk mengisap madu dari bunga teratai, suasana senja membuat sang bunga mulai menguncupkan kelopak dengan si tawon masih di dalamnya, ia mendapatkan dirinya terperangkap tanpa harapan untuk bisa membebaskan diri. Si tawon tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan kelembutan madu. Demikian juga, pikiran bisa memainkan segala macam tipuan dan melompat-lompat di berbagai macam gelanggang. Ketika diletakkan di Kaki Padma Tuhan, ia menjadi tenang dan tidak membahayakan. Untuk menyerahkan pikiran sepenuhnya kepada Tuhan, ketidakterikatan yang mendalam dari ikatan kesenangan duniawi adalah sangat diperlukan. Persembahan yang tidak sungguh-sungguh atau kesetiaan yang dangkal tidak akan mencapai kesuksesan.

- Divine Discourse, Dec 24, 1980

Sai Inspires 12th June 2009


Do not pray to God for wealth, fame, positions of power or even for the fruits of your actions. The genuine seeker will pray for nothing else than God. This longing will fill all the acts he does in a day. Every wave of emotion, every tune of song and every beat of pulse will respond only to that wish. God is the basis on which this creation rests. The deepest yearning should be to experience that One, the basis, the Being, that has become. Be aware of the One, which manifests as many.

Jangan berdoa kepada Tuhan untuk meminta kekayaan, ketenaran, jabatan atau kekuasaan atau bahkan buah hasil perbuatanmu. Pencari spiritual yang sejati akan berdoa untuk meminta tiada lain Tuhan itu sendiri. Kerinduan ini akan selalu mengisi kegiatan yang ia lakukan sehari-hari. Setiap gelombang perasaan, setiap alunan lagu dan setiap detak jantungnya hanya untuk kerinduan akan Tuhan. Tuhan adalah tempat semua ciptaanNya bertumpu. Kerinduan yang paling dalam haruslah untuk menyadari bahwa Sang Tunggal, adalah sebagai dasar, Sang Pencipta, yang telah menjadikan semua. Sadarlah pada kehadiran Sang Tunggal, yang telah menjelma ke dalam semua ciptaanNya.

- Divine Discourse, 24 Apr 1980

Sai Inspires 11th June 2009


You must be ever engaged in the process of purifying the mind and clarifying the intellect. You have to free yourself from all prejudices and misunderstandings. You must speak softly and sweetly and give everyone the respect and attention due to them sincerely. Humility and tolerance must characterize your behaviour as a devotee. When the wind agitates the serene waters of a lake, wavelets dance all over its face and a thousand Suns sparkle. When calm descends and the waters are still, the shadow of the Sun within the lake is one full image.

Engkau harus selalu giat dalam proses pemurnian pikiran dan penjernihan kecerdasan. Engkau harus membebaskan dirimu dari segala macam prasangka dan kesalahpahaman. Engkau harus selalu bertutur kata dengan lemah lembut dan manis dan memberi hormat serta perhatian pada setiap orang dengan tulus. Kerendahan hati dan tenggang rasa harus mewarnai karaktermu sebagai seorang devotee. Ketika hembusan angin mengguncangkan ketenangan air danau, riak-riak gelombang menari-nari di permukaan danau dan memantulkan ribuan kerlap-kerlip Sang Surya. Ketika ketenangan itu datang dan air tersebut diam, bayangan Sang Surya di permukaan danau hanyalah satu dan bulat penuh.

- Divine Discourse, 29 March 1976

Sai Inspires 10th June 2009


Patience, Tolerance, fortitude, equanimity, fraternity...these will prove invaluable equipments in the pilgrimage to God. Do not distinguish between one fellow pilgrim and another on the basis of caste, creed or color. Do not divide them into friends and foes. Recognize the common traits, uniting efforts, and the basic divinity amongst all. Rich and poor, scholar and illiterate - these distinctions do not hold good for long, they are just outer frills. A flower radiates fragrance and charm, whether held in the right hand or the left. It does not limit that gift to some and deny it to others. Everyone who comes near, receives the fragrance.

Kesabaran, tenggang rasa, keuletan, ketenangan hati, persaudaraan… ini semua akan terbukti sebagai perlengkapan yang tak ternilai harganya dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan. Jangan membeda-bedakan antara satu penganut spiritual dan yang lain berdasarkan golongan, keyakinan atau warna kulit. Jangan mengelompokkan mereka menjadi kawan dan lawan. Kenalilah persamaan sifat, berusahalah untuk bersatu, dan temukanlah keillahian hakiki yang ada di dalam diri setiap orang. Kaya dan miskin, terpelajar dan tidak – perbedaan tersebut tidak akan bertahan lama, itu semua hanyalah embel-embel luar. Sekuntum bunga menyebarkan aroma wangi semerbak dan memperlihatkan kecantikannya, di tangan manapun ia di pegang, tangan kiri atau kanan. Hal itu tidak akan membuat sang bunga hanya memberi aromanya pada satu orang dan tidak memberikannya pada orang lain. Siapa pun yang datang mendekat, akan merasakan aroma tersebut.

- Divine Discourse, Nov 23, 1975

Tuesday, June 9, 2009

Sai Inspires 9th June 2009


The task before each of one of us is to plant the seeds of Truth, Righteousness, Peace and Love in each heart. Foster these saplings and watch over them with love and care until they grow into trees yielding a rich harvest of sweet fruits. Sages who had succeeded in this beneficial culture have laid down the means and methods, the steps and slips, the helps and hindrances, that one has to consider. The swimmer has to push the water behind him so that he might proceed forward. So too, while attempting to march forward, one has to push back from him the evil thoughts, habits, deeds and impulses that crowd in. Believe in this conviction, instill faith in your heart and you will be assured of success.

Tugas yang menanti kita semua adalah untuk menanam benih Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian dan Kasih dalam hati masing-masing. Rawatlah tunas-tunas pohon muda tersebut dan peliharalah dengan penuh kasih dan sayang sampai mereka tumbuh menjadi pohon-pohon yang akan menghasilkan panen buah-buahan yang manis. Orang-orang suci yang telah berhasil dalam pengembangan benih-benih tersebut telah menjabarkan arti dan cara, anak tangga dan jebakan-jebakan, pertolongan dan hambatan, yang harus dipertimbangkan oleh seseorang. Seorang perenang harus mengayunkan tangan ke dalam air ke belakang sehingga ia bisa meluncur ke depan. Demikian juga, seiring dengan usaha seseorang untuk maju, ia harus mendorong ke belakang semua pikiran, kebiasaan, perbuatan dan keinginan-keinginan buruk yang berkerumun di sekelilingnya. Yakinlah pada pendirian ini, bangunlah keyakinan dalam hatimu dan engkau pasti akan bisa meraih keberhasilan.

-Divine Discourse, Vol 13 Ch 19, Nov 23, 1975

Monday, June 8, 2009

Sai Inspires 8th June 2009


Today you must resolve to practice My advice, to follow My directives, to translate My message into acts of service and to engage in Sadhana. Adore your fellow being, the adoration reaches Me. Neglect him/her, you neglect Me. Of what avail is it to worship the Lord and to suppress your fellow-being? Love for God must be manifested as Love for fellow-beings and Love must express itself as Service. Through Love alone, Love that is acquired through spiritual practices, and shared with all can peace be attained by the individual as well as the nation.

Hari ini engkau harus bertekad untuk melaksanakan wejanganKu, untuk mengikuti petunjukKu, untuk menterjemahkan pesanKu ke dalam suatu bentuk pelayanan dan untuk bergiat dalam Sadhana. Kasihilah sesama manusia, rasa kasih tersebut akan sampai kepadaKu. Abaikanlah orang lain, maka engkau mengabaikan diriKu. Apa gunanya memuja Tuhan namun menindas orang lain? Rasa kasih terhadap Tuhan harus diwujudkan dalam bentuk Kasih terhadap orang lain dan Kasih tersebut harus dinyatakan dalam bentuk Pelayanan. Hanya melalui Kasih semata, Kasih yang diperoleh melalui latihan spiritual, dan dibagikan kepada semuanyalah maka kedamaian akan bisa didapatkan oleh orang itu dan akhirnya bagi negara pada umumnya.

-Divine Discourse, Vol 13 Ch 19, Nov 23, 1975

Sunday, June 7, 2009

Sai Inspires 7th June 2009


What you judge as joy or sorrow is only like a passing cloud, which cannot affect the splendor of the Sun or Moon. Know that such emotions follow one another when the wheel of life turns round from moment to moment. The sea has water that cannot quench thirst, but it has also pearl and coral. You have to get toughened by the hammer strokes of joy and sorrow until you are unaffected by the vicissitudes of fortune. The Atman (Self) alone is eternal and unchanging.

Apa yang engkau anggap sebagai suka atau duka hanyalah bagaikan awan yang melintas, yang tidak bisa mempengaruhi kemegahan Sang Surya atau pun Rembulan. Ketahuilah bahwa semua perasaan suka dan duka saling sambung-menyambung mengikuti putaran roda kehidupan dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Lautan memiliki air yang tidak akan bisa memuaskan rasa dahaga, namun di dalamnya juga tersimpan mutiara dan batu karang. Engkau harus ditempa sedemikian rupa dengan memakai pukulan palu kesenangan dan penderitaan sampai pada akhirnya engkau menjadi tidak terpengaruh oleh perubahan nasib. Atman (Sang Diri Sejati) itu sendiri adalah kekal abadi dan tak berubah.

- Divine Discourse, Nov 23, 1975

Saturday, June 6, 2009

Sai Inspires 6th June 2009


God is sweet Love. You too must reveal the same sweet love, and thereby announce the Reality of God as Love. Do not exhibit equanimity momentarily. You must not start getting angry at all and sundry, after a while. Some are Yogis (spiritual) in the morning, Bhogis (epicureans) at noon and Rogis (Sick) at night. You must not act three roles in one day. Your deepest yearning must be to experience the One, the Being that is present in You. Be aware of the One that manifests as many. That is the Divine Life.

Tuhan adalah Kasih yang membahagiakan. Engkau juga harus menampakkan kemanisan kasih yang sama, dan dengan cara demikian akan mempermaklumkan Kesadaran akan Tuhan dalam perwujudan sebagai Kasih. Jangan memperlihatkan ketenangan hati sementara. Engkau jangan sampai menjadi marah pada semua orang, setelah beberapa waktu dalam kedamaian. Beberapa orang menjadi Yogis (spiritual) di pagi hari, Bhogis (penggemar makanan dan minuman) di siang hari dan Rogis (sakit) di malam hari. Engkau jangan memainkan tiga macam peran dalam sehari. Hasrat kerinduanmu yang paling dalam haruslah untuk merasakan Keillahian, merasakan kehadiran Tuhan yang bersemayam di dalam Dirimu. Sadarilah bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu menjelma dalam banyak perwujudan. Itu adalah Hidup yang Berketuhanan.

-Divine Discourse, Vol 13, 23 Nov 1975

Friday, June 5, 2009

Sai Inspires 5th June 2009


The mansion called life must be built on a strong foundation. The pursuit of Artha and Kama, of wealth and welfare, of all desirable objects must be regulated by the standard of Dharma. Dharma (righteousness) fosters those who foster it. The strongest foundation is ever-present faith in the Almighty.

Rumah besar dan indah yang disebut dengan kehidupan harus dibangun di atas landasan yang kuat. Mencari Arthadan Kama , yaitu kekayaan dan kenyamanan, dalam bentuk semua benda duniawi yang diinginkan harus diatur berdasarkan nilai-nilai Dharma. Dharma (kebajikan) akan memelihara siapa pun yang memelihara Dharma itu sendiri. Landasan yang paling kokoh adalah kepercayaan yang terus-menerus kepada Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, Vol.VIII., P.74

Thursday, June 4, 2009

Sai Inspires 4th June 2009


Dharma is not the giving of alms, feeding and providing lodging to pilgrims or the adherence to one's traditional profession or craft. In all worldly activities, you should be careful not to offend propriety, or the canons of good nature. You should not play false to the promptings of the Inner Voice. You should be prepared at all times to respect the appropriate dictates of conscience; you should watch your steps to see whether you are in someone else's way; you must be ever vigilant to discover the Truth behind all this scintillating variety. This is the entire duty, it is yourDharma. 

Dharma bukanlah berarti memberi sedekah, menyumbang makanan dan menyediakan tempat menginap bagi para peziarah atau kepatuhan pada seseorang karena jabatan atau pekerjaan tradisionalnya. Dalam semua kegiatan duniawi, engkau harus berhati-hati supaya tidak melanggar kebenaran, atau peraturan demi kebaikan alam. Engkau jangan sampai tertipu dan tidak mengenali kehadiran Suara Hati yang muncul tiba-tiba. Engkau harus siaga sepanjang waktu untuk dapat mengenali suara kesadaran; engkau harus selalu memperhatikan langkah-langkahmu untuk menjaga supaya tidak melanggar jalur orang lain; engkau harus selalu terjaga supaya mampu menemukan Kebenaran dibalik semua kelap-kelip dunia yang terus berganti. Ini adalah seluruh kewajiban, ini adalah Dharmamu. 

- Dharma Vahini

Sai Inspires 3rd June 2009


Peace is a shoreless ocean. It is the Light that illumines the world. It confers knowledge of this world and that. Pure love can emanate only from a heart immersed in peace, for it is an atmosphere that pervades and purifies. Peace is not a conviction arrived at by means of logic. It is the discipline of all disciplined lives. Iron has to be beaten flat by iron alone. So too, the inferior, lower mind, has to be shaped better by the superior mind itself. One has to make his mind superior and stronger for the task of personal upliftment. Drink deep the waters of discipline. Immerse yourself in it and become cleansed. May its coolness refresh your sorrows and pains, and quench the fires of sin.  

Kedamaian itu bagaikan samudera tak bertepi. Ia adalah Sang Cahaya yang menerangi seluruh dunia. Ia membuka pengetahuan akan dunia. Kasih sejati hanya bisa memancar dari hati yang penuh kedamaian, karena ia adalah atmosfir yang menyebar dan memurnikan. Kedamaian bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan dengan akal sehat semata. Mencapai kedamaian adalah mata pelajaran yang paling utama dari semua pelajaran dalam kehidupan. Besi hanya bisa ditempa oleh besi. Demikian juga, pikiran yang rendah dan mudah terpengaruh harus dibentuk menjadi lebih baik dengan menggunakan pikiran yang lebih kuat. Orang harus membuat pikirannya menjadi lebih teguh dan kuat demi menjalankan tugas untuk peningkatan diri. Minumlah air minum kedisiplinan. Ceburkanlah dirimu ke dalamnya dan jadilah lebih bersih. Semoga kesejukannya mampu menyegarkan duka dan deritamu, dan memadamkan api dosa. 

- Prasanthi Vahini

Tuesday, June 2, 2009

Sai Inspires 2nd June 2009


Absence of mere anger cannot be taken as peace. The winning of a desired object and the satisfaction derived then should not be confused with peace. The peace that has pervaded the heart must not be shaken subsequently for any reason. Peace must be everlasting and have no ups and downs; it cannot be partial in adversity and complete in prosperity. It cannot be one thing today and another tomorrow. Only that kind of permanent peace alone deserves to be calledPrasanthi. Maintaining the same even flow of peace, bliss, and joy is Prasanthi. 

Tiadanya kemarahan dalam diri tidak bisa dianggap sebagai hadirnya kedamaian. Mendapatkan benda-benda duniawi yang diinginkan dan mendapat kepuasan darinya jangan disalahartikan dengan tercapainya  kedamaian. Kedamaian yang meresap ke dalam hati seharusnya tidak dapat diguncangkan setelahnya dengan alasan apapun. Kedamaian haruslah kekal abadi selamanya dan tidak ada naik turun; tidak bisa hanya merasa sedikit damai saat tertimpa kemalangan dan merasa penuh kedamaian saat mendapatkan kemakmuran. Tidak juga berubah-ubah hari ini begini esok hari begitu. Hanya kedamaian yang abadilah yang layak disebut dengan Prasanthi. Menjaga tetap mengalirnya kedamaian, kebahagiaan, dan kegembiraan adalah Prasanthi. 

- Prasanthi Vahini

Monday, June 1, 2009

Sai Inspires 1st June 2009


Through selfless service you realise that all beings are waves of the Ocean of Divinity. No other sadhana (spiritual practice) can bring you into the incessant contemplation of the Oneness of all living beings. You feel another's pain as your own; you share another's success as your own. To see every one else as yourself and yourself in every one, that is the core of the sadhana of seva. Again, sevamakes the ego languish for want of food. It makes you humble before the suffering of others, and when you rush to render help, you do not calculate how high or low his social or economic status is. The hardest heart is slowly softened into the softness of butter by the opportunities that the sevaoffers. 

Melalui kegiatan pelayanan tanpa pamrih engkau akan menyadari bahwa semua makhluk hidup adalah ombak gelombang dari Lautan Illahi. Tiada sadhana (latihan spiritual) lain yang mampu membawamu pada pemusatan pikiran yang tiada henti-hentinya akan Kesatuan semua makhluk hidup. Engkau akan merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaanmu; engkau akan menganggap kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaanmu juga. Melihat orang lain sebagai dirimu dan melihat dirimu dalam diri orang lain adalah inti dari sadhana dalam seva. Dan juga,seva membuat ego meluruhkan keinginan akan makanan.Seva membuatmu menjadi peka terhadap penderitaan orang lain. Ketika engkau bersemangat untuk menolong orang lain, jangan sampai menghitung-hitung seberapa tinggi atau rendah status sosial orang yang akan engkau tolong. Dengan demikian, hati yang paling keras pun akan secara perlahan-lahan menjadi lembut melalui kesempatan melakukan seva. 

-Divine Discourse, November 14, 1975