Wednesday, June 30, 2010

Sai Inspires 30th June 2010


Everything in this world is ephemeral, transitory; it is here today, but it may not be here tomorrow. So, if you desire for something, seek the Lord, who has no decline. Instead, if you crave for progeny, wealth and all comforts, you will suffer untold misery when you are called upon to leave everything and depart. At that moment, you would lament, “Oh, did I love so deep that I may weep so loud?” In this transitory life, joy and pain are also perforce transitory. There is nothing here fit to be worshipped as eternal. So, to get immersed in this search for the evanescent and to forget the Supreme and the Everlasting is indeed unbecoming of man.

Segala sesuatu di dunia ini bersifat fana dan sementara, kita ada disini saat ini, tapi mungkin tidak berada di sini nanti. Jadi, jika engkau menginginkan sesuatu, carilah Tuhan, yang tidak akan mengalami perubahan. Sebaliknya, jika engkau mendambakan keturunan, kekayaan, dan kenyamanan, engkau akan menderita kesengsaraan yang tak terkira ketika engkau dipanggil untuk meninggalkan segalanya dan saat engkau meninggal dunia. Pada saat itu, engkau akan mengeluh, "Oh, apakah aku mencintainya begitu mendalam sehingga aku menangis begitu kerasnya?" Dalam kehidupan yang fana ini, kebahagiaan dan kesedihan juga dialami sementara. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang layak disembah dan bersifat kekal. Jadi jika kita tenggelam dalam pencarian ini dan melupakan Yang Agung dan kekal tentu bukan sifat yang pantas sebagai manusia.

- Dharma Vahini, Page 18.

Tuesday, June 29, 2010

Sai Inspires 29th June 2010


Even the most comfortable house equipped with all the luxuries man craves for; even heaps of treasures are helpless to endow one with Shanti (Peace). Shanti can be won only by surrender to God, who is the very core of one's being, the very source of all life and living. Consider this: Are those lucky enough to possess wealth, gold, property and comfort having Shanti? No! Are persons of high scholarship or extraordinary beauty or super-human physical strength at peace with themselves and the world? What is the reason for the misery of even these people? The reason is: they have forgotten the Divine basis of Creation; they have ignored the one Absolute Underlying Principle. All lives lived without faith and devotion to the One Supreme Overlord are despicable; lives spent without tasting the Nectar of the Divine Principle are all wasted chances.

Rumah yang paling nyaman pun yang dilengkapi dengan semua kemewahan yang diharapkan manusia; ditambah lagi dengan tumpukan harta tidak mampu untuk memberikan Shanti (kedamaian). Shanti bisa diperoleh hanya dengan memasrahkan diri kepada Tuhan, yang merupakan inti dan sumber dari semua kehidupan. Pertimbangkanlah: Apakah orang-orang yang dengan keberuntungannya memiliki kekayaan, emas, properti dan kenyamanan, memiliki Shanti? Tidak! Apakah orang-orang dengan pendidikan tinggi atau memiliki kecantikan yang luar biasa atau memiliki kekuatan fisik super-manusia memperoleh kedamaian pada diri mereka sendiri dan juga dunia? Tidak! Apa penyebab dari penderitaan orang-orang ini? Alasannya adalah: mereka telah melupakan dasar dari Penciptaan Ilahi, mereka telah mengabaikan Prinsip yang paling mendasar. Semua yang menjalani hidup dengan tanpa keyakinan dan pengabdian (bhakti) kepada Dia Yang Agung adalah sangat tercela; dan semua kesempatan terbuang sia-sia karena hidup terlewati tanpa mencicipi Nectar Prinsip Ilahi.

- Dharma Vahini, Chap 12.

Monday, June 28, 2010

Sai Inspires 28th June 2010


The word ‘Sutra’ means that which, through a few words, reveals vast meanings. The Sutras discuss contrary points of view in order to remove all possible doubts about the validity and meaning of the sacred texts. The word ‘Mimamsa’, as used in ancient Indian philosophy, means the conclusion arrived at after inquiry and investigation, the inference adopted as correct after deep consideration of possible doubts and alternatives. The Vedas deal with two concepts: Dharma (Righteous actions) and Brahma (God). The Purva Mimamsa deals with Dharma or performing the rites and rituals in daily life in a righteous manner. The Uttara Mimamsa deals with Brahma (God) and its emphasis is on Jnana (experiential wisdom).

Kata ‘Sutra’ berarti melalui beberapa kata, mengungkapkan makna yang luas. Sutra membahas poin-poin yang bertentangan dengan beberapa pandangan agar dapat menghapus semua keraguan tentang kebenaran dan makna dari naskah-naskah suci. Kata 'Mīmāṃsā', seperti yang digunakan dalam filsafat India kuno, berarti menarik kesimpulan setelah dilaksanakan penyelidikan dan penelitian, sehingga kesimpulan yang diambil adalah sesuatu yang benar setelah dilakukan pertimbangan yang mendalam tentang keragu-raguan dan alternatif lainnya. Veda menguraikan dua konsep: Dharma (Kebajikan) dan Brahma (Tuhan). Purva Mīmāṃsā berhubungan dengan Dharma atau melakukan upacara dan ritual dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang benar. Uttara Mimamsa berhubungan dengan Brahma (Tuhan) dan penekanannya adalah pada Jnana (kebijaksanaan).

- Sutra Vahini, Chap 1, "Thereafter, the inquiry into Brahman" .

Sunday, June 27, 2010

Sai Inspires 27th June 2010


If the intellect is dull and derives happiness from sleep and slothfulness, points out other’s faults, it characterises Thamasic nature. This nature will make one ignore the knowledge of Self throughout one’s life. True education is that which directs and counsels the mind and intellect of man towards earning Sathwic happiness. The scriptures declare Na Sukath Labhyathe Suhkam (Happiness cannot be derived from happiness), that by undergoing unhappiness alone can happiness be won. This truth has to be instilled through Vidya (Self-knowledge or education). If you understand the joy of Sathwic happiness, true Vidya will be found to be easy and palatable.

Jika akal budi telah menjadi tumpul, malas, lamban, dan menunjukkan kesalahan orang lain, itu adalah sifat Tamasik. Sifat ini akan membuat seseorang mengabaikan pengetahuan diri sepanjang hidupnya. Pendidikan sejati-lah yang mengarahkan dan menganjurkan pikiran dan kecerdasan manusia menuju kebahagiaan yang Satwik. Kitab suci menyatakan "Na Sukath Labhyathe Suhkam” (kebahagiaan tidak diperoleh dari kebahagiaan), bahwa dengan mengalami ketidakbahagiaan, kebahagiaan dapat dimenangkan. Kebenaran ini harus ditanamkan melalui Vidya (Pengetahuan Atma). Jika engkau memahami sukacita dari kebahagiaan Satwik, maka pengetahuan sejati (Vidya) akan di dapat dengan mudah dan menyenangkan.

-Vidya Vahini, Chap 11.

Sai Inspires 26th June 2010


The fruits of the karma or activity appeal only to those who identify themselves with the body. They do not appeal to those, who know they are the indestructible Self or Atma, which is the inner motive force in everything. God is above and beyond the limits of Time and Space. He is beyond all characteristics and qualities, no list of such can describe Him fully. Hence, God always appreciates the consciousness of Unity, as the basic motive of all acts.

Buah dari karma atau tindakan terlihat menarik bagi orang-orang yang terikat dengan badan. Akan tetapi buah karma tidak terlihat menarik bagi mereka yang mengetahui Atma yang tak tergoyahkan dan tidak bisa dihancurkan – yang merupakan motif pendorong dari dalam dari semuanya. Tuhan berada jauh diatas dan melampaui batas Ruang dan Waktu. Beliau berada jauh melampaui semua karakteristik dan sifat, tidak ada sesuatupun yang dapat menggambarkan Beliau sepenuhnya. Oleh karena itu, Tuhan selalu menghargai kesadaran dalam Kesatuan, sebagai motif dasar dari semua tindakan.

- Bhagavatha Vahini, Chap 1, "The Bhagavatha"

Sai Inspires 25th June 2010


Acquisition of positions of authority and power, of skill and intelligence which can manipulate people and things, of fame and supremacy, of personal charm, of good health and happiness or of a large family with many children or wealth… none of these can confer liberation. You cannot attain liberation by undertaking sacrifices, vows, charities, pilgrimages or donations to holy projects. Though the objective world appears real, you must be aware that it is deluding you. You must give up yearning for deriving pleasure from the objects that appear and attract - both here and hereafter. Renunciation alone can lead to immortality. You will be liberated as soon as you renounce your attachment and desire.

Mendapatkan posisi jabatan dan kekuasaan, keterampilan dan kecerdasan, popularitas, daya tarik pribadi, kesehatan dan kebahagiaan atau keluarga besar dengan banyak anak atau kekayaan yang dapat memanipulasi orang-orang dan hal-hal lainnya...tidak ada satu pun dari hal tersebut yang dapat memberikan pembebasan. Engkau tidak dapat mencapai pembebasan dengan melakukan pengorbanan, janji, berderma, ziarah, atau donasi untuk proyek-proyek suci. Meskipun objek-objek duniawi kelihatannya nyata, engkau harus menyadari bahwa hal tersebut mengelabui-mu. Engkau harus menyerahkan keinginan untuk kesenangan yang berasal dari objek-objek duniawi yang muncul dan menarik – baik di dunia maupun di akhirat. Meninggalkan kesenangan yang berasal dari objek-objek duniawi, dapat mengarahkanmu pada keabadian. Engkau akan dibebaskan segera setelah engkau meninggalkan keterikatan dan keinginan duniawi.

-Sutra Vahini, Aphorism 1, "Renunciation alone confers immortality".

Thursday, June 24, 2010

Sai Inspires 24th June 2010


On account of the impact of the external objects on the senses of perception, one experiences pleasure and mistakes it to be nectar. But over time, the pleasure initially mistaken as nectar turns into bitter and unpleasant poison. This type of happiness is Rajasic happiness. If one welcomes Rajasic sensory pleasure, one’s strength, awareness, intelligence to achieve the four human goals of Dharma (Right Action), Artha (Wealth), Kaama (Righteous Desire) & Moksha (Liberation) are weakened; one’s interest and aspiration to attain divine bliss declines.

Oleh karena pengaruh objek-objek duniawi pada indera, seseorang yang mengalami kesenangan menyalahartikannya sebagai nektar. Tapi dari waktu ke waktu, kesenangan yang awalnya disalahartikan sebagai nektar berubah menjadi racun pahit dan tidak menyenangkan. Kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan Rajasik. Jika seseorang menerima kesenangan Rajasik ini, kekuatannya, kesadarannya, serta kecerdasannya untuk mencapai empat tujuan manusia yaitu Dharma (Kebajikan), Artha (Kekayaan), Kaama (Keinginan yang benar) & Moksha (Pembebasan) akan dilemahkan; serta minat dan keinginannya untuk mencapai kebahagiaan Illahi akan menurun.

-Vidya Vahini, Chap 11 .

Wednesday, June 23, 2010

Sai Inspires 23rd June 2010


You must know that there is no end to the incarnations that God takes. He has come down on countless occasions. Sometimes He comes with a part of His glory, sometimes for a particular task, sometimes to transform an entire era of time, an entire continent of space, sometimes with a fuller equipment of splendour. The drama enacted by the Lord and the devotees drawn towards Him is the subject matter of Bhagavatha (stories on the Glory of God). Listening to these stories promotes the realization of God. Many sages have testified to its efficacy and extolled the Glory of God, and they helped to preserve it for posterity.

Engkau harus tahu bahwa tidak ada akhir bagi inkarnasi Tuhan. Beliau telah turun pada berbagai kesempatan yang tak terhitung jumlahnya. Kadang-kadang Ia datang dengan kemuliaan-Nya, kadang-kadang untuk suatu tugas tertentu, kadang-kadang untuk mengubah seluruh zaman, mengubah seluruh tempat di benua, dan kadang kala dengan perlengkapan yang penuh kemuliaan. Drama diperankan oleh Tuhan dan para Bhakta ditarik menuju kepada-Nya adalah subyek Bhagavatha (cerita tentang kemuliaan Tuhan). Mendengarkan cerita-cerita tersebut dapat meningkatkan kesadaran pada Tuhan. Banyak orang bijak telah membuktikan keberhasilan ini dan memuji kemuliaan Tuhan, dan mereka membantu untuk melestarikannya bagi anak cucu.

- Bhagavatha Vahini, Ch 1, "The Bhagavatha".

Tuesday, June 22, 2010

Sai Inspires 22nd June 2010


The awareness of Brahman (God) cannot be won by the accumulation of wealth or even by giving away of riches. Nor can it be achieved by reading texts, rising to power, acquiring degrees and diplomas, or performing scriptural sacrifices and rituals. The body is an anthill, with the mind inside the cavity. The mind has hidden in it, the serpent named ajnana (ignorance). This serpent cannot be killed by resorting to kamya karma (pleasurable activities). Jnana (spiritual wisdom) is the only weapon that can kill the serpent of ignorance. That person alone who has faith can secure this spiritual wisdom.

Kesadaran Brahman (Tuhan) tidak diperoleh dari menimbun kekayaan atau bahkan dengan memberikan kekayaan. Juga tidak dapat dicapai dengan membaca naskah-naskah suci, kekuasaan, gelar dan pendidikan tinggi, atau melakukan ritual dan korban suci. Badan ini ibarat sebuah rumah semut, dengan pikiran kita berada didalam lubangnya. Pikiran kita tersembunyi didalamnya, ular yang disebut sebagai Ajnana (ketidaktahuan). Ular tersebut tidak dapat dibunuh dengan memilih jalan Kamya Karma (aktivitas yang menyenangkan). Jnana (kebijaksanaan spiritual) adalah satu-satunya senjata yang dapat membunuh ular ketidaktahuan. Hanya mereka yang memiliki keyakinan bisa memperoleh kebijaksanaan spiritual ini.

- Sutra Vahini, Chap 1, "Thereafter the inquiry into Brahman".

Monday, June 21, 2010

Sai Inspires 21st June 2010


Even the boundless ocean can be drunk by one with ease. Huge mountains can be plucked from the face of the earth easily. The flames of a huge conflagration can be swallowed without any difficulty. But controlling the mind is far more difficult than all these. Therefore, if one succeeds in overwhelming the mind, one achieves the awareness of the soul. This success can result only when one undergoes many ordeals and denials. The bliss that is the result of this effort is the highest kind of happiness.

Samudera yang tidak ada batasnya-pun dapat diminum dengan mudah. Gunung yang besar juga dapat dipetik dari muka bumi dengan mudahnya. Api dari kebakaran yang besar dapat ditelan dengan tanpa mengalami kesulitan. Tapi mengendalikan pikiran jauh lebih sulit dari semuanya itu. Oleh karena itu, jika seseorang berhasil dalam mengendalikan pikirannya, ia dapat mencapai kesadaran jiwa. Keberhasilan ini dapat dicapai hanya ketika seseorang mengalami berbagai cobaan berat dan pengorbanan. Kebahagiaan yang didapat dari usaha ini adalah kebahagian tertinggi.

- Vidhya Vahini, Chap 11.

Sunday, June 20, 2010

Sai Inspires 20th June 2010


God is above and beyond all the limits of time and space. For Him, all beings are equal. The difference between man, beast, bird, worm, insect and even God is but a difference of the 'vessel' (the upadhi). It is like the electric current that flows through various devices and expresses itself in many different functions. There is no distinction in the current; it is the same. So too, the one single God activates every creature and gives rise to manifold consequences. The ignorant feel that all devices are distinct. The wise see only the one uniform current. God appreciates the consciousness of unity as the basic motive of all acts.

Tuhan berada jauh di atas dan melampaui segala batas ruang dan waktu. Bagi Beliau, semua makhluk adalah sama. Perbedaan antara manusia, binatang, burung, cacing, serangga dan bahkan Tuhan hanyalah perbedaan 'tempat' (Upadhi). Hal ini seperti arus listrik yang mengalir melalui berbagai peralatan dan digunakan dalam berbagai fungsi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan. Ini adalah sama. Demikian juga, hanya Tuhan yang mengaktifkan setiap makhluk dan menimbulkan berbagai akibat. Karena kebodohan kita–lah yang merasakan bahwa semua ini berbeda. Orang bijaksana melihat hal ini sama. Tuhan menghargai kesadaran dalam kesatuan sebagai motif dasar dari semua tindakan.

- Bhagavatha Vahini, Chap 1.

Sai Inspires 19th June 2010


Involvement in objective pleasure leads ultimately to grief. So, you must direct yourself towards the right means to attain bliss. Where can you gain bliss from? It is not inherent in external objects. Though external objects appear to bring pleasure, they bring in grief as well. The Upanishads, the Brahma Sutras and the Bhagavad Gita clarify the truth that you are the very embodiment of bliss. The scriptures clarify the truth and help everyone attain the highest wisdom.

Keterlibatan dengan kesenangan objektif pada akhirnya akan mengarahkan kita pada kesedihan. Jadi, engkau harus mengarahkan dirimu ke jalan yang benar untuk mencapai kebahagiaan. Dimana engkau bisa mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan tidak melekat pada objek-objek eksternal. Meskipun objek-objek eksternal muncul untuk membawa kesenangan, ia juga membawa kesedihan. Upanishad, Brahma Sutra, dan Bhagavad Gita menjelaskan kebenaran bahwa engkau adalah perwujudan kebahagiaan. Kitab–kitab suci tersebut menjelaskan tentang kebenaran dan membantu setiap orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.


-Sutra Vahini, Chap "Humanity is the embodiment of bliss" .

Friday, June 18, 2010

Sai Inspires 18th June 2010


Every living being craves for happiness. It does not long for misery. Some desire the acquisition of riches, some believe that gold can make them happy. Some amass articles of luxury, some collect vehicles, but everyone is set upon obtaining things that one believes can give him/her joy. But those who know wherefrom one can get happiness are very few in number. Sathwic happiness is of the nature where it appears to be poison in the beginning, but turns into nectar later. This happiness is secured through the awareness of the Self using the preliminary sadhana of sama (control of the senses), dama (control of emotions), etc. which has to be initially gone through, and appears hard and unpleasant. It involves struggle and effort. So the reaction may be bitter. This type is Sathwic happiness.

Setiap makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Mereka tidak menginginkan penderitaan yang lama. Beberapa dari mereka ingin memperoleh kekayaan; dan sebagian orang percaya bahwa emas dapat membuat mereka bahagia. Beberapa orang mengumpulkan barang-barang mewah, yang lainnya mengumpulkan kendaraan, dan setiap orang percaya setelah mereka mendapatkan harta benda, mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Tetapi orang-orang yang mengetahui bagaimana bisa mendapatkan kebahagiaan sejati sangat sedikit jumlahnya. Kebahagiaan satwik, pada awalnya nampak seperti racun, tetapi kemudian berubah menjadi nektar. Kebahagiaan ini didapat melalui kesadaran diri dengan melakukan Sadhana (latihan spiritual) melalui sama (kontrol pikiran), dama (pengendalian indera), dll, yang pada awalnya harus ditempuh dengan sulit dan tidak menyenangkan, serta memerlukan perjuangan dan usaha yang keras. Jadi reaksinya mungkin terasa pahit. Inilah type kebahagiaan satwik.

- Vidya Vahini, Chapter 11.

Thursday, June 17, 2010

Sai Inspires 17th June 2010


The name ‘Bhagavatha’ can be applied to every account of the experiences of those who have contacted God and the Godly. God assumes many forms and enacts many activities. The title ‘Bhagavatha’ is given to the description of the experiences of those, who have realized Him, who have been blessed by His Grace and chosen as His instruments. By Bhagavatha, we also mean those, who are attached to God, who seek the companionship of God. To be in the midst of such devotees is to foster one's own devotion. The experience of devotees is a panacea that cures physical, mental and spiritual illnesses.

Nama "Bhagavatha' dapat digunakan pada setiap pengalaman yang dialami oleh mereka yang telah mengalami kontak dengan Tuhan dan orang-orang yang beriman. Tuhan mengambil berbagai wujud dan memerankan banyak aktivitas. Nama 'Bhagavatha' diberikan untuk menggambarkan pengalaman bagi mereka yang telah menyadari-Nya, yang telah diberkati dengan rahmat- Nya dan dipilih sebagai instrumen-Nya. Bhagavatha juga berarti mereka yang dekat dengan Tuhan, serta mereka yang mencari persahabatan dengan Tuhan. Berada di tengah-tengah para Bhakta seperti ini adalah untuk mengembangkan pengabdian kita sendiri. Pengalaman para Bhakta adalah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, mental, dan spiritual.

- Bhagavatha Vahini, Chap "The Bhagavatha".

Wednesday, June 16, 2010

Sai Inspires 16th June 2010


People today believe that they are the body, the senses, etc. and crave for objective pleasures. They convince themselves that this pleasure is wanted by them and under this mistaken notion, they seek to fulfill their cravings. They delude themselves that they can secure bliss by catering to the body and the senses. Such attempts cannot earn bliss. The pleasure obtained from external objects brings grief along with it and such attempts to obtain pleasure is rewarded with disillusionment, defeat and disaster. The three source texts (Upanishads, Brahma Sutras and Bhagavad Gita) clearly call out that YOU are the very embodiment of Ananda (bliss). They help people attain the highest wisdom.

Orang-orang saat ini percaya bahwa mereka adalah badan, indera, dll dan menginginkan kesenangan objektif. Mereka meyakinkan diri mereka bahwa kesenangan inilah yang mereka inginkan dan mereka memiliki pikiran yang keliru, sehingga mereka berusaha untuk memenuhi keinginan tersebut. Mereka menipu diri sendiri bahwa mereka dapat memperoleh kebahagiaan dengan melayani badan dan indera. Upaya-upaya seperti itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Kesenangan yang diperoleh dari objek-objek eksternal akan membawa kesedihan dan usaha-usaha seperti itu untuk memperoleh kesenangan akan mendatangkan kekecewaan, kekalahan, dan malapetaka. Tiga sumber naskah suci (Upanishad, Brahma Sutra dan Bhagavad Gita) dengan jelas menyatakan bahwa ENGKAU adalah perwujudan Ananda (kebahagiaan), yang membantu orang-orang untuk mencapai kebijaksanaan tertinggi.

- Sutra Vahini, Chap "Humanity is an embodiment of Bliss".


Sai Inspires 15th June 2010


In olden times, when in any region, the people were sunk in fear or anxiety, or when the sources of joy and contentment ran dry, they traced the cause for the calamity to some fault or failure in the worship offered to God in the temples of that area. They sought to identify these mistakes and correct them, so that they could have inner peace. They believed that the crisis could be controlled through these means. Such acts are now bundled together and called superstitions, and are cast aside. This is not superstition at all. The ancients grasped the supreme truth only after personally experiencing its validity.

Pada zaman dahulu, saat di daerah manapun, orang-orang tenggelam dalam ketakutan atau kecemasan, atau ketika sumber kebahagiaan dan kepuasan hati meninggalkan mereka, mereka menelusuri penyebabnya untuk beberapa kesalahan atau kegagalan dalam pemujaan kepada Tuhan di kuil-kuil di daerah itu. Mereka berusaha mengidentifikasi kesalahan-kesalahan ini dan memperbaikinya, sehingga mereka bisa memiliki kedamaian batin. Mereka percaya bahwa krisis dapat dikendalikan melalui cara ini. Tindakan seperti itu, saat ini disebut "takhayul", dan diabaikan. Ini sama sekali bukanlah takhayul. Orang dahulu memahami kebenaran tertinggi setelah mengalami secara pribadi kebenaran tersebut.

-Vidya Vahini, Chapter, X.

Monday, June 14, 2010

Sai Inspires 14th June 2010


The Jagath (world) is unreal, non-existent, and the mistaken notion that it is real has to be renounced. The understanding that the idea of Jagath is a superimposition by our mind on the Reality is Jnana (Spiritual Wisdom). Though the objective world appears real, one must be aware that it is deluding us. Therefore, one has to give up the yearning for deriving pleasure from the objects that appear and attract, both here and hereafter. Thus, one is liberated as soon as one renounces all attachment and desires. The ajnana (ignorance) can be destroyed only with Atma Vidya (knowledge of the Divine Self). When this illusion disappears, the ups and downs that one faces in Samsara (the ever-changing world) also gets destroyed.

Jagath (dunia) ini tidaklah nyata, tidak ada, dan pendapat yang keliru yang menyatakan dunia itu nyata harus ditinggalkan. Pemahaman yang menggambarkan bahwa Jagath (dunia) adalah superimposisi oleh pikiran kita pada Realita adalah Jnana (kebijaksanaan spiritual). Meskipun dunia objektif muncul secara nyata, orang harus menyadari bahwa hal itu telah memperdaya kita. Oleh karena itu, kita harus melepaskan kerinduan bagi kesenangan yang berasal dari objek yang terlihat menarik, baik di sini maupun di akhirat. Jadi, seseorang segera dibebaskan dan meninggalkan semua keterikatan dan semua keinginan. Ajnana (ketidaktahuan) dapat dihancurkan hanya dengan Atma Vidya (pengetahuan tentang Atma). Ketika ilusi ini menghilang, kesenangan dan kesedihan seseorang dalam Samsara juga akan dihancurkan.

-Sutra Vahini, Chap "Renunciation alone confers immortality."


Sunday, June 13, 2010

Sai Inspires 13th June 2010


The cow secretes milk for the sustenance of the calf; the calf is its chief beneficiary. But, as we see, others too benefit from this milk. So too, though the devotees are the primary cause and their sustenance is the prime purpose; other incidental benefits such as fostering of righteousness, suppression of evil and the wicked also happen in the mission of an Avatar. God is above and beyond all the limits of time and space, and no list of characteristics and qualities can describe Him completely. The place and the Form of the Avatar are chosen such that they promote the purpose of fulfilling the yearning of the devotees.

Sapi menghasilkan susu untuk makanan bagi anak sapi dan anak sapilah yang menerima manfaat utama dari susu yang dihasilkan sapi. Namun, seperti yang kita lihat, yang lain juga menerima manfaat dari susu ini. Demikian juga, meskipun para Bhakta merupakan alasan utama dan menjaga kelangsungan hidup mereka adalah tujuan utama; manfaat yang terkait lainnya seperti mengembangkan kebajikan, menindas kejahatan dan orang jahat juga terjadi dalam misi Avatar. Tuhan berada jauh di atas dan melampaui segala batas ruang dan waktu, dan tidak ada karakteristik dan sifat yang dapat menggambarkan Beliau sepenuhnya. Tempat dan Wujud Avatar dipilih sehingga dapat memenuhi kerinduan para Bhakta.

-Bhagavatha Vahini, "Chap "The Bhagavatha".

Sai Inspires 12th June 2010


A tree can spread its branches wide; its branches can bring forth blossoms which yield fruit, but this happens only when water is fed to the roots. Instead, if the water is poured on branches, fruits or flowers, can the tree grow and spread? Society has as its root of peace and prosperity, the virtues of devotion and dedication. Hence the educational system must pay attention to the promotion and strengthening of these virtues amongst the people.

Sebuah pohon dapat tumbuh dengan cabang-cabang yang menyebar luas. Cabang-cabang tersebut dapat menghasilkan bunga-bunga yang kemudian dapat menghasilkan buah, tetapi hanya jika akar pohon tersebut diberi makan dengan air. Sebaliknya, jika air dituangkan pada cabang-cabang, buah atau bunga, dapatkah pohon tumbuh dan berkembang? Masyarakat diibaratkan sebagai akar perdamaian dan kemakmuran, kebajikan dan pengabdian. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus memperhatikan kemajuan dan memperkuat kebajikan diantara orang-orang.

-Vidya Vahini, Chapter 10.


Sai Inspires 11th June 2010


A Sutra (aphorism) enshrines in a few words, vast expanses of meaning, vast depths of fundamental significance. The Brahma Sutras gather multi-coloured flowers from all the Upanishads and string them together to form an enchanting garland. Each aphorism can be elaborated and explained in a number of learned ways, according to one's understanding, faith, preference, experience and pleasure.

Sutra (peribahasa) menyimpan beberapa kata, mengandung makna yang luas, kedalaman yang luas, serta mengandung arti yang mendasar. Brahma Sutra terdiri dari bunga beraneka warna dari seluruh Upanishad dan merupakan rangkaian yang satu sama lain membentuk garland yang mempesona. Setiap peribahasa dapat diuraikan dan dijelaskan dalam beberapa cara, menurut pemahaman, keyakinan, pilihan, pengalaman, dan kesenangan seseorang.

- Sutra Vahini, Chapter "Thereafter, the inquiry into Brahman".

Thursday, June 10, 2010

Sai Inspires 10th June 2010


People believe that incarnations of God happen only for two reasons - the punishment of the wicked and the protection of the righteous. These represent only one aspect. The Avatar or the Divine Incarnation is really the concretisation of the yearning of the seekers of God. It is the solidified sweetness of the devotion of godly aspirants. The granting of peace and joy, and sense of fulfilment to seekers who have striven long... this too is His task. The primary reason for the formless Divine to assume the Form is for the sake of the aspirants and the seekers.

Orang-orang percaya bahwa inkarnasi Tuhan hanya terjadi karena dua alasan – menghukum orang yang jahat dan melindungi kebenaran. Ini hanya mewakili satu aspek. Avatar atau Inkarnasi Tuhan sebenarnya adalah wujud dari kerinduan para pencari Tuhan. Hal ini memperkuat rasa bhakti para peminat spiritual. Merupakan tugas-Nya untuk memberikan karunia kedamaian dan kebahagiaan, serta pemenuhan kepada para pencari Tuhan yang telah berjuang sekian lama .... Alasan utama Tuhan yang tidak berwujud mengambil wujud adalah diperuntukkan demi para peminat spiritual dan pencari Tuhan.

- Bhagavatha Vahini, Chapter "The Bhagavatha".

Sai Inspires 9th June 2010


The role of a sanyasi (monk) can be likened to a species of fish. The fish moves around in the depth of the lake; it does not stay at one spot. And while moving around, it eats up worms and the eggs of pests, thus cleansing the water. So too, the sanyasi should always be on the move, journeying into the far corners of the land. His duty is to cleanse the society of evil by his example and precept. He must transform it by his teachings into a society free from vice and wickedness.

Peran seorang Sanyasi dapat disamakan dengan suatu spesies ikan. Ikan bergerak di sekitar kedalaman danau; ia tidak akan diam di satu tempat. Dan sementara bergerak, ikan memakan cacing dan telur hama, sehingga membersihkan air. Demikian juga, Sanyasi seharusnya selalu bergerak, mengadakan perjalanan sampai jauh di ujung dunia. Tugasnya adalah untuk membersihkan masyarakat dari kejahatan dengan memberikan contoh dan ajaran-ajarannya. Dia harus mengubah masyarakat dengan ajaran-ajarannya sehingga masyarakat menjadi bebas dari sifat buruk dan kejahatan.

- Vidya Vahini, Chapter XI.

Tuesday, June 8, 2010

Sai Inspires 8th June 2010


Acquisition of the Higher Knowledge alone can fulfil the main purpose of human life. Such knowledge makes one aware that one is not the inert, non-sentient body, but is really the consciousness itself manifesting as the embodiment of "Being-Awareness-Bliss" (Sat-Chit-Ananda). When this truth dawns and is experienced, one is liberated; one is freed from the fog of ignorance (ajnana) even in this very life. One becomes a Jivan Muktha, a person liberated even while alive.

Hanya dengan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi dapat memenuhi tujuan utama dari kehidupan manusia. Pengetahuan yang seperti itu membuat seseorang menyadari bahwa ia bukanlah inert, bukan pula kesadaran badan, tetapi benar-benar mewujudkan kesadaran itu sendiri sebagai perwujudan dari "Being-Awareness-Bliss" (Sat-Chit-Ananda). Ketika kebenaran ini disadari dan dialami, seseorang dibebaskan. Salah satunya adalah dibebaskan dari kabut kebodohan, (Ajnana) bahkan dalam kehidupan ini. Seseorang yang dibebaskan bahkan saat hidupnya, ia dapat menjadi Muktha Jivan.

-Sutra Vahini, Chap, "Vedas, the Voice of the Divine".

Monday, June 7, 2010

Sai Inspires 7th June 2010


You have to achieve many objectives during this life. The highest and the most valuable of these is winning the mercy and love of God. The love of God will add unto you the wisdom you need for attaining unshakeable inner peace. Everyone should endeavour to have an understanding of the true nature of the Divine. If you want to succeed in this pursuit, you have to cultivate the spirit of service and be engaged in good deeds which will earn you the gratitude of all people. Thus, you not only accomplish the task of cleansing your consciousness, but also become a fit candidate for achieving spiritual victory.

Engkau harus mencapai banyak tujuan dalam hidup ini. Tujuan yang tertinggi dan yang paling berharga dalam dunia ini adalah memenangkan rahmat dan kasih Tuhan. Kasih Tuhan akan menambahkan kebijaksanaan yang engkau butuhkan untuk mencapai kedamaian batin. Setiap orang seharusnya berusaha untuk memiliki pemahaman tentang sifat sejati Tuhan. Jika engkau ingin berhasil dalam pencarian ini, engkau harus menanamkan semangat pelayanan dan terlibat dalam perbuatan baik sehingga engkau akan mendapatkan ungkapan rasa terima kasih dari semua orang. Jadi, engkau tidak hanya menyelesaikan tugas menyucikan kesadaranmu, tetapi juga menjadi kandidat yang baik untuk mencapai kemenangan spiritual.

-Vidya Vahini, Chap XI.

Sai Inspires 6th June 2010


For establishing oneself in the contemplation of the Omnipresent Lord, there are no limitations of time or space. There is nothing like a special time or a holy place. Wherever the mind revels in the contemplation of the Divine, that becomes the holy place. Whenever the mind meditates on the Lord, that becomes the most auspicious moment. The world can achieve prosperity through disciplined souls whose hearts are pure and who represent the salt of the earth. Everyone, from this very moment, should pray for the advent of such holy souls, try to deserve the blessings of the great, endeavour to forget one’s sufferings and promote the welfare of the world.

Untuk membangun diri sendiri dalam perenungan bahwa Tuhan di mana-mana, tidak ada batasan waktu ataupun ruang. Tidak ada waktu khusus atau suatu tempat yang suci. Dimanapun pikiran sedang dalam perenungan Tuhan, tempat tersebut menjadi tempat yang suci. Kapanpun pikiran bermeditasi pada Tuhan, saat itu adalah waktu yang terbaik. Dunia ini dapat mencapai kesejahteraan melalui orang-orang yang baik serta melalui jiwa-jiwa yang disiplin yang hatinya murni. Semua orang, dari saat ini, seharusnya berdoa bagi munculnya jiwa-jiwa suci tersebut, cobalah untuk menerima berkat itu, serta berusaha untuk melupakan penderitaan seseorang dan meningkatkan kesejahteraan dunia.

- Prema Vahini, "The Qualities a Sadhaka should cultivate".

Saturday, June 5, 2010

Sai Inspires 5th June 2010


Mountain peaks are charming from a distance. When approached, they confront us with terrifying jungles. So too, the samsara (objective world) appears charming when you have not delved into its meaning and value. When discrimination is employed to explore its value, the truth is revealed that the ‘jungles’ of family or the world cannot give genuine happiness. You should learn Atma Vidya, the Knowledge of the Self, and become aware of your reality. By learning it and living it, you can quench your thirst and help to quench the thirst of all mankind.

Puncak Gunung terlihat menawan dari kejauhan. Ketika didekati, kita akan berhadapan dengan hutan yang lebat. Demikian juga, Samsara (objek duniawi) muncul menarik ketika engkau belum menyelidiki arti dan nilainya. Ketika kemampuan membedakan digunakan untuk mencari nilai dan artinya, kebenaran terungkap bahwa 'hutan' keluarga atau dunia tidak dapat memberikan kebahagiaan sejati. Engkau seharusnya mempelajari Atma Vidya, Pengetahuan Atma, dan menyadari realitas yang sebenarnya. Dengan mempelajarinya, engkau dapat memuaskan dahagamu dan membantu untuk memuaskan dahaga seluruh umat manusia.

-Vidya Vahini, Chap X.

Friday, June 4, 2010

Sai Inspires 4th June 2010


People state, "Service to Man is Service to God." No doubt service of humanity is holy, but unless it is merged in the bigger ideal, people will not benefit from it, no matter how huge the magnitude of the service is. You must have faith in the essential divinity of every person and have the Lord in your mind. If you also adhere to the path of Truth and Right Conduct, then it will be considered as Service of the Lord. Mere repetition of the slogan is useless if the service is done without faith in the Divinity of all, and with an eye on the name and fame and fruits of one's action.

Orang-orang menyatakan, "Melayani manusia adalah melayani Tuhan." Tidak diragukan lagi, bahwa melayani orang lain adalah suci, tetapi tanpa menggabungkannya dengan tujuan yang lebih besar, orang-orang tidak akan mendapatkan manfaat dari pelayanan, sebesar apapun pelayanan itu. Engkau harus memiliki keyakinan pada sifat-sifat ketuhanan dari setiap orang dan merasakan Tuhan dalam pikiranmu. Jika engkau juga mengikuti jalan kebenaran dan kebajikan, maka hal itu akan dianggap sebagai Melayani Tuhan. Mengulang-ulang sloka tidak akan berguna jika pelayanan tersebut dilakukan tanpa keyakinan pada ketuhanan dalam semuanya dan dengan perhatian pada nama dan kemasyuran serta mengharapkan hasil dari tindakan yang dilakukan.

-Prema Vahini, Chapter "The Qualities a Sadhaka should cultivate.”

Thursday, June 3, 2010

Sai Inspires 3rd June 2010


You must pray until the world is established in happiness. Only when the Lord arrives, the religion of Truth, Peace, Compassion, Wisdom and Love will grow and prosper. The roadway laid out by holy souls has to be repaired now and then, either by those who travel through it or those who claim authority over it. It is for the sake of such repairs that the Lord sends occasionally some authorised individuals, sages, and divine personages. Through the Sadbodha or good teachings of these, the path opened by the Godmen of the past is again made clear and smooth.

Engkau harus berdoa sampai dunia ini mendapatkan kebahagiaan. Hanya ketika Tuhan telah datang, agama kebenaran, kedamaian, kasih sayang, kebijaksanaan, dan cinta-kasih akan berkembang dan berhasil dengan baik. Jalan yang telah diberikan oleh orang-orang suci ini harus diperbaiki saat ini dan juga di kemudian hari, baik oleh mereka yang melakukan perjalanan melalui jalan ini atau bagi mereka yang menyatakan memiliki otoritas. Tuhan kadang-kadang mengirim beberapa individu yang berwenang, orang-orang bijaksana, dan pendeta, demi memperbaiki hal tersebut. Melalui Sadbodha atau ajaran-ajaran yang baik ini, jalan ini telah dibuka oleh Godmen (penjelmaan Tuhan) di masa lalu yang kemudian dibuat menjadi lebih jelas.

- Prema Vahini, Chapter"The Harvest of a Sadhakae"

Wednesday, June 2, 2010

Sai Inspires 2nd June 2010


Truly speaking, prayers of great, holy people act as an invitation for the advent of the Lord. In the external world, when the subjects need any convenience or help, they approach the rulers and inform them of their needs. So also, in the spiritual kingdom, when there is no possibility of achieving and acquiring devotion, charity, peace and truth, the good and great souls who desire to achieve them, pray to the Lord within themselves. Then, in response to their prayers, the Lord Himself comes into the world and showers His grace on everyone. This is known to all who have read the stories of the Lord.

Berbicara yang benar, berdoa, orang-orang suci mengundang kehadiran Tuhan. Dalam dunia luar, ketika subyek membutuhkan kenyamanan atau memerlukan bantuan, mereka mendekati para penguasa dan menginformasikan mereka tentang kebutuhan mereka. Demikian juga, dalam kerajaan spiritual, ketika tidak ada kemungkinan untuk mencapai dan memperoleh pengabdian, kemurahan hati, kedamaian, dan kebenaran, orang-orang baik dan berjiwa besar yang ingin mencapai hal tersebut, berdoa kepada Tuhan dalam diri mereka sendiri. Kemudian, jawaban atas doa-doa mereka, Tuhan sendiri datang ke dunia dan memberikan rahmat-Nya pada setiap orang. Hal ini telah diketahui oleh semua orang yang telah membaca cerita-cerita tentang Tuhan.

- Prema Vahini, Chap X.

Tuesday, June 1, 2010

Sai Inspires 1st June 2010


Evil qualities such as hatred, envy, greed and ostentation should be uprooted. These traits are vitiating not only common people but even ascetics, monks and heads of institutions. Among these, envy and greed have gone unchecked. What the world needs today is not a new order, a new educational system, a new society or a new religion. Holiness must take root and grow in the minds and hearts of youth and children everywhere: this is the need of the hour. The good and godly must endeavour to promote this as the greatest Sadhana (spiritual practice) that everyone must undertake.

Sifat-sifat buruk seperti kebencian, iri hati, keserakahan, dan kesombongan harus ditumbangkan. Sifat-sifat tersebut tidak hanya melemahkan orang awam tetapi bahkan juga bagi pertapa, biarawan, dan pimpinan. Di antara sifat-sifat ini, iri hati dan keserakahan harus dicegah. Apa kebutuhan dunia saat ini bukanlah pemerintahan yang baru, sebuah sistem pendidikan yang baru, masyarakat yang baru ataupun agama yang baru. Kesucian harus berakar dan tumbuh dalam pikiran dan hati anak-anak dan para pemuda dimanapun mereka berada: ini adalah kebutuhan saat ini. Orang yang baik dan yang beriman harus berusaha untuk mengembangkan sifat-sifat ini sebagai Sadhana (praktek spiritual) terbesar bahwa setiap orang harus melakukannya.

-Vidya Vahini, Chap X.

Sai Inspires 31st May 2010


One's selfish needs have to be sacrificed. There must be constant efforts to do good to others. Your desire should be to establish the welfare of the world. With all these feelings at heart, you must meditate on the Lord. This is the right path. If great men and those in authority are thus engaged in the service of humanity and in promoting the welfare of the world, the thieves of passion, hatred, pride, jealousy, envy and conceit will not invade the minds of common people; the values such as Right Conduct, Mercy, Truth, Love, Knowledge and Wisdom will be safe from harm. The six internal foes called the Arishadvargas can be uprooted only by the teachings of great souls, love for God, knowledge of the Lord and the company of the holy and the great.

Kebutuhan pribadi seseorang harus dikorbankan. Harus ada usaha yang terus menerus untuk berbuat baik kepada orang lain. Engkau seharusnya mempunyai keinginan untuk mensejahterakan dunia. Engkau harus bermeditasi pada Tuhan, dengan sepenuh hati. Ini adalah jalan yang benar. Jika orang-orang besar dan orang-orang yang memiliki otoritas terlibat dalam pelayanan kemanusiaan dan turut serta dalam memajukan kesejahteraan dunia, maka keinginan untuk mencuri, kebencian, kesombongan, cemburu, iri hati dan perasaan angkuh tidak akan menyerang pikiran orang-orang biasa; sehingga nilai-nilai seperti kebajikan, kemurahan hati, kebenaran, cinta-kasih, pengetahuan dan kebijaksanaan akan aman dari bahaya. Keenam musuh internal yang disebut Arishadvarga dapat ditumbangkan hanya dengan ajaran-ajaran suci, cinta-kasih Tuhan, pengetahuan tentang Tuhan dan pergaulan dengan orang-orang suci dan agung.


- Prema Vahini, Chapter "The Qualities a Sadhaka Should Cultivate."

Sai Inspires 30th May 2010


People have now become more vicious than ever. They utilize their intelligence and skills to indulge in cruelty. They relish and revel in inflicting pain on others so much that as history reveals, around 15,000 wars have been waged in the last 5,500 years. The impending atomic war threatens to destroy the entire human race. What exactly is the cause of all this anxiety and fear? It is clear that the beast in the human being is still predominant and has not yet been overcome. Only when this is achieved can our country attain peace and joy.

Orang-orang sekarang telah menjadi lebih kejam dibandingkan dengan sebelumnya. Mereka menggunakan kecerdasan dan kemampuan mereka untuk menurutkan kekejaman. Orang-orang menikmati dan bersenang-senang dalam menyakiti orang lain, seperti diungkapkan dalam sejarah, sekitar 15.000 perang telah dilancarkan dalam 5.500 tahun terakhir. Perang atom yang akan datang mengancam untuk menghancurkan seluruh umat manusia. Apa sebenarnya penyebab semua kecemasan dan ketakutan ini? Ini disebabkan karena sifat hewaniah masih dominan dalam manusia dan belum dapat diatasi. Hanya ketika sifat ini bisa diatasi, maka negara kita dapat mencapai kedamaian dan suka cita.

- Vidya Vahini Chapter 9.

Sai Inspires 29th May 2010


For fire to increase or decrease, fuel is the only cause. The more the quantity of fuel, brighter will be the illumination. Fire has the power to give light by its very nature. So too, in the fire of intellect of the spiritual aspirant, the fuel that produces renunciation, peacefulness, truth, kindness, forbearance and selfless service has to be constantly fed so that the light of wisdom is produced. The more ‘fuel’ placed, the more the efficacious and effulgent the spiritual practitioners will become. Only trees growing on fertile soil can yield good harvest. Trees which grow on saline soils will bear only poor yield. So also, it is only in hearts that are unsullied can holy feelings, divine power and gifts shine in splendour.

Untuk kebakaran besar ataupun kecil, satu-satunya penyebab adalah bahan bakar. Semakin banyak jumlah bahan bakarnya, maka akan lebih terang cahayanya. Sifat dasar api adalah memiliki kekuatan untuk memberikan cahaya. Demikian juga, dalam api kecerdasan dari para pencari spiritual, bahan bakar yang menghasilkan tanpa keterikatan, kedamaian, kebenaran, kebaikan, kesabaran dan pelayanan tanpa pamrih harus terus-menerus diberikan sehingga akan dihasilkan cahaya kebijaksanaan. Semakin banyak bahan bakarnya, semakin baik dan semakin besarlah api para praktisi kerohanian. Hanya pohon-pohon yang tumbuh di tanah yang subur yang dapat menghasilkan panen yang baik. Pohon yang tumbuh pada tanah yang mengandung garam hanya akan menghasilkan panen yang buruk. Begitu juga, hanya di dalam hati yang suci tak ternoda, kekuatan Tuhan serta berkat Tuhan bersinar dalam kemuliaan.

-Prema Vahini, Chap. The Harvest of a Sadhaka.

Sai Inspires May 28, 2010


For political or other reasons, some persons are arrested and kept in detention in order to preserve law and order of the country. They are kept confined in big bungalows and given special treatment as befits their status and provided meals and also luxury articles as commensurate with their grades in social and political life. However, around the bungalow and the garden, there are always policemen on guard. Whatever be the standard of life enjoyed by the prisoner, he is not a free man. So too, a person confined in the ‘prison’ of the world should not be feel elated over the sensual comforts he/she can enjoy. He/she must not feel proud of their friends and kinsmen around but must recognize and keep in mind that he/she is in prison.

Untuk alasan politik atau lainnya, beberapa orang ditangkap dan ditahan dalam ruang tahanan untuk mempertahankan hukum dan ketertiban negara. Mereka dipenjara di bungalow besar dan diberi perlakuan khusus seperti layaknya status mereka dan diberikan makanan dan juga barang mewah yang sepadan dengan tingkatan mereka dalam kehidupan sosial dan politik. Namun, di sekitar bungalow dan kebun tersebut, akan selalu ada polisi berjaga-jaga. Bagaimanapun standar hidup yang dinikmati oleh tawanan tersebut, mereka bukanlah orang bebas. Demikian juga, orang yang dikurung dalam 'penjara' dunia ini seharusnya tidak merasa gembira atas kenyamanan yang mereka nikmati. Mereka seharusnya tidak merasa bangga dengan teman-teman dan sanak saudara di sekitar mereka tetapi harus menyadari dan mengingat dalam pikiran mereka bahwa dia sebenarnya berada di penjara.

- Vidya Vahini, Chap 9 .