Friday, April 30, 2010

Sai Inspires 30th April 2010


Service is the blossom of Prema (Love), a flower that fills the mind with rapture. Harmlessness is the fragrance of that flower. Let even your little acts be suffused with compassion and reverence. Be assured that your character would thereby shine greatly. The highest happiness is contentment. Where there is no harshness, holiness will thrive and virtue will flourish. Where greed exists, there, vice will breed thick.

Pelayanan itu mekar dari Prema (cinta-kasih), sebuah bunga yang mengisi pikiran dengan kebahagiaan. Tidak menyakiti adalah keharuman dari bunga. Biarlah bahkan tindakan sekecil apapun yang engkau lakukan diliputi dengan kasih sayang dan rasa hormat. Yakinlah bahwa karakter yang demikian itu akan bersinar penuh kemuliaan. Kebahagiaan tertinggi adalah kepuasan. Di mana tidak ada kekerasan, kesucian akan berkembang dan kebajikan akan tumbuh dengan subur. Dimana ada keserakahan, maka perbuatan buruk akan berkembang biak.

-Divine Discourse, Vidya Vahini, Chapter VIII.

Thursday, April 29, 2010

Sai Inspires 29th April 2010


Worship God with purity of feeling and free from all other thoughts. As a result of this worship, the Lord will appear before your inner eye, in the form which is dear to you. This vision is not a matter of imagination; it is a ‘face to face’ experience. Without difference of location, you can abide in the presence of the Lord. Sometimes you may see everything as the glory of the Lord and become suffused with God consciousness. All these are the fruits of your devotion. As your devotion matures further, all differences disappear and unity is attained, and the highest stage is reached. This is called Saayujya. You should aspire for this merger with the Lord. At this stage, you will wish to serve the Lord as He pleases and experience joy from the Divine Form.

Pujalah Tuhan dengan perasaan yang murni dan bebas dari segala pikiran lainnya. Sebagai hasil dari pemujaan ini, Tuhan akan muncul dihadapan mata batinmu, dalam wujud yang engkau puja. Pandangan ini bukanlah imajinasi, ini merupakan pengalaman 'tatap muka'. Tanpa membedakan tempat, engkau dapat tinggal dalam hadirat Tuhan. Kadang-kadang engkau mungkin melihat segala sesuatu sebagai kemuliaan Tuhan dan kemudian diliputi dengan kesadaran Tuhan. Semua ini adalah buah dari bhakti (pengabdian) yang telah engkau lakukan. Saat bhakti (pengabdian)mu sudah sempurna, selanjutnya semua perbedaan lenyap dan kesatuan akan dicapai, dan tahapan tertinggi pun akan tercapai. Ini disebut Saayujya. Engkau harus mempunyai keinginan untuk mendapatkan hal ini yaitu menyatu dengan Tuhan. Pada tahapan ini, engkau akan mempunyai keinginan untuk melayani Tuhan sebagaimana yang Beliau kehendaki dan mengalami kebahagiaan dari Wujud Tuhan.

- Prema Vahini, Chapter "Mukthi is of Four Kinds"

Wednesday, April 28, 2010

Sai Inspires 28th April 2010


Rendering service to others, without expecting service from them in return is the secret to ensure peace and prosperity for all. Karma or activity which binds is a huge, fast-growing tree. Undertake every act as an act of worship to glorify the Lord; it is like a powerful axe that can cut the root of the tree. This is the true Yagna, the most important ritual that one must practise. This sacrifice promotes and confers Brahma Vidya (Self Knowledge). The yearning to do Seva must flow in every nerve of the body, penetrate every bone and activate every cell.

Memberikan pelayanan kepada orang lain, tanpa mengharapkan kembali pelayanan dari mereka adalah rahasia untuk menjamin kedamaian dan kemakmuran untuk semuanya. Karma atau perbuatan yang mengikat adalah sesuatu yang sangat besar, seperti pohon yang cepat tumbuh. Melakukan setiap tindakan sebagai pemujaan untuk memuliakan Tuhan, diibaratkan seperti sebuah kapak yang kuat yang dapat memotong akar pohon. Ini adalah Yagna sejati, ritual yang paling penting bahwa seseorang harus melakukannya. Pengorbanan ini meningkatkan dan menganugerahkan Brahma Vidya (Pengetahuan Atma). Kerinduan untuk melakukan seva (pelayanan) harus mengalir di setiap saraf tubuhmu, menembus setiap tulang dan mengaktifkan setiap sel.

-Divine Discourse, Vidya Vahini .

Sai Inspires 27th April 2010


A kitten simply continues mewing in its place, placing all its burdens on its mother. The mother cat holds the kitten in its mouth and moves it to more elevated places or transports it safely through even very narrow passages. So too, the Lord will grant everything that is needed in this life, if all burdens are placed on Him and if He is pursued ceaselessly without forgetting Him for even a moment. All that is required is to place the entire burden on the Lord and surrender fully to His Will. He will certainly provide everything. Lakshmana, the dear brother of Rama, was an exemplar who followed this path of devotion called Marjalakishora.

Seekor anak kucing terus-menerus mengeong di tempatnya, meletakkan semua beban hidupnya pada ibunya. Ibu kucing membawa anak kucing tersebut dalam mulutnya dan memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi atau mengangkutnya dengan aman bahkan melalui jalan yang sempit. Demikian juga, Tuhan akan memberikan segala sesuatu yang diperlukan dalam hidup ini, jika semua beban ditempatkan pada-Nya dan jika Beliau dikejar terus-menerus tiada henti tanpa melupakan-Nya bahkan untuk beberapa saat. Semua yang dibutuhkan adalah menempatkan seluruh beban pada Tuhan dan memasrahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Beliau pasti akan memberikan segalanya. Yang mengikuti jalan pengabdian seperti ini disebut Marjalakishora, salah satu contoh yang melaksanakan bhakti (pengabdian) seperti ini adalah Laksmana adik kesayangan Rama.

- Prema Vahini, Chapter "Bhakti is of Two Kinds".

Monday, April 26, 2010

Sai Inspires 26th April 2010


While rendering Service, the attitude of it being done for one's own satisfaction should not tarnish it. Service must be rendered as an essential part of the process of living itself. This is the real core of true knowledge. It is as core as brick and mortar are to a house that is being built. The activity of service needs the Vidya (true education) that can strengthen our resolve in purifying our thought, word and deed. Such Vidya and service springing from the heart is essential for the country's progress.

Saat memberikan pelayanan pada orang lain, seharusnya pelayanan tidak dinodai dengan sikap untuk kepuasan diri sendiri. Pelayanan harus diberikan sebagai bagian penting dari proses kehidupan itu sendiri. Hal ini adalah inti sebenarnya dari pengetahuan sejati. Bagi sebuah rumah yang sedang dibangun, ini diibaratkan dengan batu bata dan adukan semen. Kegiatan pelayanan memerlukan Vidya (pendidikan sejati) yang dapat memperkuat tekad kita dalam memurnikan pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Vidya yang seperti itu dan pelayanan yang muncul dari hati adalah hal yang diperlukan untuk kemajuan negara.

-Divine Discourse, Vidya Vahini, Chapter VIII.

Sai Inspires 25th April 2010


Your devotion to God has to be continuous, uninterrupted, like the flow of oil from one vessel to another. You may have observed that the young monkey relies on its own strength to protect itself. Wherever its mother might jump, it has to attach itself fast to the mother's belly and should not release its hold, even if pulled apart. So too, as a devotee you must stand the test at the hands of the Lord and hold on to the Lord's Name at all times and under all conditions, tirelessly, without the slightest trace of dislike or disgust, bearing ridicule and criticism of the world and overcoming the feelings of shame and defeat. Practice of devotion of this kind is called Markatakishora Marga. Prahlada, a great child devotee of the Lord, practiced this kind of devotion.

Bhakti (pengabdian)mu pada Tuhan harus terus menerus, tidak terputus, diibaratkan seperti aliran minyak dari satu bejana ke bejana yang lain. Engkau mungkin telah mengamati bahwa monyet muda mengandalkan kekuatannya sendiri untuk melindungi dirinya. Kemanapun ibunya melompat, secepatnya ia harus melekatkan dirinya ke perut ibunya dan tidak ingin lepas dari pegangannya, bahkan jika pegangannya terlepas. Demikian juga, sebagai seorang Bhakta, engkau harus berpegangan pada tangan Tuhan serta berpegang pada Nama Tuhan setiap saat dan dalam segala keadaan, tanpa kenal lelah, tanpa sedikit pun perasaan tidak suka, tidak mencemooh, tidak mengkritik dunia dan mengatasi perasaan malu dan kegagalan. Praktek bhakti yang seperti ini disebut Markatakishora Marga. Prahlada, seorang bhakta agung, melaksanakan bhakti seperti ini.

-Divine Discourse, Vidya Vahini.

Sai Inspires 24th April


Vidya (true knowledge) impels one to pour into the sacrificial fire one's narrow ego and foster in its place, universal Love, which is the foundation for the superstructure of spiritual victory. Unbounded Love purifies and sanctifies the mind. Let your thoughts centre around God, your feelings and emotions be holy, and your activities be the expression of selfless service. Let the mind, the heart and the hand be thus saturated with goodness. True education must accomplish this task of sublimation. Service rendered to another has to confer full joy in all ways. Vidya must emphasize that in the name of service, no harm, or pain or grief should be inflicted on another.

Vidya (pengetahuan sejati) mendorong seseorang untuk menuangkan egonya ke dalam api korban suci dan meletakkannya di tempatnya, cinta-kasih universal, yang merupakan fondasi bagi suprastruktur kemenangan spiritual. Cinta-kasih yang tak terbatas dapat memurnikan dan menyucikan pikiran. Biarkan pikiranmu terpusat pada Tuhan, perasaan dan emosi menjadi suci, serta perbuatan menjadi ekspresi pelayanan tanpa pamrih. Biarkan pikiran, hati dan tangan dipenuhi dengan kebaikan. Pendidikan yang sesungguhnya harus menyempurnakan tugas suci ini. Pelayanan yang diberikan kepada orang lain, harus memberi kebahagiaan penuh dalam segala hal. Vidya harus menekankan bahwa dalam pelayanan, tidak merugikan, tidak ada rasa sakit atau kesedihan yang ditimbulkannya.

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Friday, April 23, 2010

Sai Inspires 23rd April 2010


If you want to be a devotee, you must surrender completely to the Lord. Mere reading of scriptures is of no avail. One can experience joy only as a result of action. To have devotion, there is no restriction on caste, creed or gender. For the Lord's mission, the kinship with Him is attained only on account of devotion. Of what use is it to have status, wealth and character without loving devotion to the Lord? Like the cloud that does not bear rain, but wanders in the sky, people without devotion are at the mercy of the winds, irrespective of their caste or wealth, power and fame they possess.

Jika engkau ingin menjadi seorang Bhakta, engkau harus memasrahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Semata-mata hanya membaca kitab suci tidak akan ada manfaatnya. Seseorang dapat mengalami kebahagiaan diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukannya. Dalam bhakti (pengabdian), tidak ada batasan kasta, keyakinan atau jenis kelamin. Untuk misi Tuhan, persahabatan dengan-Nya hanya dicapai dengan bhakti (pengabdian). Apa gunanya memiliki status, kekayaan dan karakter kalau kita tidak memiliki rasa bhakti (pengabdian) yang penuh kasih kepada Tuhan? Pengabdian (bhakti) tanpa memandang kasta atau kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran yang kita miliki. Orang-orang yang tidak memiliki rasa bhakti (pengabdian) diibaratkan seperti awan yang tidak membawa hujan, tetapi mengembara di langit, karena kemurahan hati dari angin.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Sai Inspires 22nd April 2010


Prompted by the urge to advance the progress of others, you must dedicate your wealth, skill, position and status for the wellbeing of all. Then, you will become truly great. You must fulfill unfailingly the vow of selfless service. If you are conscious of your basic duties and obligations, and spend your days in carrying them out, you will be in supreme peace, wherever you are. Through your influence, your neighborhood too, will share that peace.

Dengan dorongan untuk memajukan tingkat spiritual orang lain, engkau harus mendedikasikan kekayaanmu, kemampuanmu, posisimu, dan statusmu untuk kesejahteraan semuanya. Kemudian, engkau akan menjadi benar-benar mulia. Engkau harus melakukan pelayanan tanpa pamrih secara terus-menerus. Jika engkau sadar akan tugas dan kewajiban dasar yang engkau emban, dan menggunakan waktumu untuk melaksanakan pelayanan pada mereka, engkau akan mendapatkan kedamaian tertinggi dimanapun engkau berada. Melalui pengaruhmu, lingkunganmu juga akan mendapatkan kedamaian.

-Divine Discourse, Vidya Vahini.

Wednesday, April 21, 2010

Sai Inspires 21st April 2010


Anyone who is engaged in meditation, spiritual practices and is imbued with self-control and discipline is dear to the Lord. Such devotees will also epitomize faith, patience, comradeship, kindness, joy and have unalloyed love for God. They possess discrimination, humility, wisdom and renunciation, and are always aware of their inner Self. They are constantly immersed in the contemplation of leelas (Divine play) of the Lord. Whoever dwells on Lord's Name at all times and under all conditions, and sheds tears of Love when the Lord's Name is heard from any lip, know them to be genuine devotees.

Siapapun yang disibukkan dalam meditasi, praktek spiritual dan memiliki pengendalian diri serta disiplin adalah kekasih Tuhan. Setiap bhakta mempunyai keyakinan, kesabaran, persahabatan, kebaikan, kebahagiaan dan telah memiliki cinta-kasih yang murni pada Tuhan. Mereka memiliki kemampuan membedakan, kerendahan hati, kebijaksanaan dan tidak mementingkan diri sendiri, serta selalu menyadari batin mereka sendiri. Mereka selalu tenggelam dalam perenungan Leelas (permainan Tuhan). Siapapun yang merenungkan Nama Tuhan setiap saat serta dalam berbagai keadaan, dan menitikkan air mata cinta-kasih ketika mereka mendengar Nama Tuhan dari mulut siapa saja, ketahuilah mereka adalah Bhakta sejati.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Tuesday, April 20, 2010

Sai Inspires 20th April 2010



Whoever assigns his wealth, strength, intellect and devotion towards the promotion of humankind is worthy of reverence. They are those who are born for a noble purpose. They observe the holy vow of service, unsullied by thoughts of self. This ideal of service and the urge to practice it forms the very heart of education. This is Pure Love in its chief manifestation. God loves those individuals who undertake activities for the benefit of other people, as His dear children. These are ideal brothers and sisters for their countrymen.

Siapa pun yang memberikan kekayaannya, kemampuannya, kecerdasannya, dan pengabdiannya terhadap kemajuan manusia patut dihormati. Mereka adalah orang-orang yang dilahirkan untuk tujuan mulia. Mereka mematuhi janji sucinya serta tidak dipengaruhi oleh pemikirannya sendiri. Inilah tujuan dari pelayanan dan mendorongnya untuk mempraktekkannya yang merupakan inti dari pendidikan yang sebenarnya. Ini adalah cinta-kasih yang murni dalam manifestasi utamanya. Tuhan mengasihi orang-orang yang melakukan aktivitas bagi kepentingan orang lain. Merekalah orang-orang yang ideal untuk bangsanya.

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Monday, April 19, 2010

Sai Inspires 19th April 2010


Everyone who is engaged in repetition of the Holy Name, observes vows and has self-control and discipline is dear to the Lord. These people have faith, patience, warmth towards all, and are filled with kindness and joy. They have unalloyed love towards the Lord. The true devotees of the Lord are endowed with discrimination, filled with humility and wisdom, and are always immersed in contemplation of the Lord's sport. They dwell on the Lord's name at all times and conditions, and shed tears of love when they hear the Lord's Name on any lip. These are the characteristics of genuine devotees! Such devotees are very dear to the Lord.

Setiap orang yang disibukkan dengan pengulangan Nama Suci Tuhan, mematuhi nazar dan memiliki pengendalian diri serta disiplin adalah kekasih Tuhan. Orang-orang seperti ini, mempunyai keyakinan, kesabaran, keramahan pada semua orang, serta dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan. Mereka memiliki cinta-kasih yang murni pada Tuhan. Bhakta sejati diberkati dengan kemampuan membedakan, dipenuhi dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan, serta selalu merenungkan Tuhan. Mereka merenungkan Nama Tuhan setiap saat serta dalam berbagai keadaan, dan menitikkan air mata cinta-kasih ketika mereka mendengar Nama Tuhan dari mulut siapa saja. Inilah sifat Bhakta sejati! Bhakta yang demikian sangat sayang pada Tuhan.

- Divine Discourse, Prema Vahini

Sai Inspires 18th April 2010


Work done with no concern or desire for the profit therefrom, purely out of love or from a sense of duty, is Yoga. Such work destroys your animal nature and will transform you into a Divine Being. Serve others, visualizing them as Divine Souls. That will help your progress and will save you from sliding down the spiritual stage you've attained. Service is far more salutary than even vows and worship. Service disintegrates the selfishness latent in you and opens your heart wide. It makes your heart blossom.

Pekerjaan yang dilakukan dengan tanpa memperhatikan atau menginginkan keuntungan yang didapat dari pekerjaan tsb, yang dilaksanakan dengan kemurnian hati karena cinta-kasih atau karena kewajiban, disebut dengan Yoga. Pekerjaan yang seperti ini dapat menghancurkan sifat hewaniah yang ada dalam dirimu dan akan mengubahmu menuju sifat ketuhanan. Layanilah orang lain, serta bayangkanlah mereka sebagai Tuhan dalam wujud manusia. Hal ini akan membantu kemajuan spiritualmu dan akan menyelamatkanmu dari kejatuhan spiritual. Memberikan pelayanan pada orang lain lebih baik daripada nazar ataupun pemujaan. Dengan melakukan pelayanan pada orang lain, dapat menghancurkan sifat mementingkan diri sendiri yang ada dalam dirimu dan membuka hatimu lebar-lebar sehingga membuat hatimu menjadi mekar.

-Divine Discourse, Prema Vahini.

Saturday, April 17, 2010

Sai Inspires 17th April 2010


Those devoid of Pure Love are sub-humans. The holy quality of Love is that it is ever present; not something which manifests off and on. Love is one and indivisible. Those saturated with Love are incapable of spite, selfishness, injustice, wrong and misconduct. Those who trample on Love and consider inferior qualities as important should destroy their evil qualities. Bad conduct and habits distort your humanness. Hearts filled with the nectar of Love indicate genuineness. You must possess Love that is unsullied, unselfish, devoid of impurity and that which is demonstrated continuously.

Mereka yang tidak memiliki cinta-kasih yang murni adalah sub-manusia. Sifat dari cinta-kasih adalah bahwa cinta-kasih itu selalu ada, cinta-kasih bukanlah sesuatu yang ditunjukkan kadang-kadang. Cinta-kasih adalah satu dan tak terpisahkan. Mereka yang dipenuhi dengan cinta-kasih tidak memiliki sifat mementingkan diri sendiri, tidak memiliki sifat yang tidak adil, tidak melakukan kesalahan serta tidak akan berkelakuan yang buruk. Mereka yang mengabaikan cinta-kasih dan menganggapnya remeh harus menghancurkan sifat buruk yang ada dalam diri mereka. Kebiasaan dan kelakuan yang buruk dapat merusak sifat kemanusiaan yang kita miliki. Hati yang dipenuhi dengan nectar cinta-kasih menunjukkan ketulusan. Engkau harus memiliki cinta-kasih yang tak ternoda, tidak mementingkan diri sendiri, penuh dengan kemurnian dan ditunjukkan secara terus menerus.

Divine Discourse, Prema Vahini

Friday, April 16, 2010

Sai Inspires 16th April 2010


The real tapas or asceticism in life is to observe disciplines and restrictions as prescribed. The mind is the foremost of the three inner instruments in human beings. We must protect the mind so that attachment, passion and excitement do not enter. These extremes are natural to the mind. The waves that rise in fury in the mind are lust, anger, greed, attachment, pride and envy; these six are your inner foes. Lust and anger bring on the remaining four. To release ourselves from these inner foes and to proceed in our spiritual path, we must observe spiritual practices.

Pertapa sejati adalah mereka yang dalam hidupnya mematuhi aturan-aturan (disiplin) dan melakukan pembatasan keinginan seperti yang telah ditentukan. Pikiran adalah yang terpenting dari ketiga instrumen batin pada manusia. Kita harus melindungi pikiran agar kemelekatan, nafsu, serta kegembiraan yang berlebihan tidak masuk ke dalamnya. Ini adalah sifat yang alami dari pikiran. Gelombang dahsyat dalam pikiran adalah nafsu, amarah, keserakahan, keterikatan, kesombongan, dan iri hati; ini adalah enam musuh dalam diri kita. Nafsu dan amarah merupakan penyebab dari timbulnya keempat hal yang lainnya. Untuk melepaskan diri kita dari musuh-musuh yang ada dalam diri kita dan untuk menuju ke jalan spiritual, kita harus mempelajari praktek spiritual.

- Divine Discourse, Vidya Vahini.

Thursday, April 15, 2010

Sai Inspires 15th April 2010


A 'manava' (human being) is soft, sweet and immortal, whereas 'danavas' (demonic-natured persons) are merciless, lawless and have no sweetness in them. They may look like good people; however bereft of kindness and righteousness, how can they be called as human beings? Good human beings are those, who engage themselves in soft and sweet deeds of kindness, righteousness, and tread the path of love and truth. Their good nature is resplendent and reflects on their faces which beam with joy at all times.

‘Manava (manusia) memiliki sifat yang lembut, menarik, dan abadi, sedangkan ‘danava’ (orang yang memiliki sifat jahat) memiliki sifat yang tidak mengenal belas kasihan (kejam), tidak patuh pada hukum, dan tidak memiliki kelembutan sama sekali. Mereka mungkin terlihat seperti orang baik; namun mereka kehilangan kebaikan dan kebajikan, bagaimana mereka bisa disebut sebagai manusia? Manusia yang baik adalah mereka yang melibatkan diri mereka dalam perbuatan-perbuatan yang lembut dan manis dari kebaikan dan kebajikan, dan menapaki jalan cinta-kasih dan kebenaran. Sifat baik mereka bercahaya dan mencerminkan wajah mereka yang bercahaya dengan sukacita sepanjang waktu.

- Divine Discourse, Prema Vahini

Wednesday, April 14, 2010

Sai Inspires 14th April 2010


The mind of man is apt to doze off after some spurt of spiritual activity. This is the reason festival days have been marked out on the calendar - to awaken the mind of man from sloth or complaisance. They are like alarm bells, which go off at intervals during the year, warning men of the journey ahead and the goal beyond the horizon. 'Be warned, be warned', say the sages, 'Awake, arise, stop not till the goal is attained.'

Pikiran manusia cenderung tertidur setelah melakukan aktivitas spiritual. Ini adalah alasan hari perayaan tertentu ditandai pada kalender – untuk membangkitkan pikiran manusia dari kemalasan atau kelambanan. Mereka seperti bel alarm, yang berbunyi dengan selang waktu sepanjang tahun, memperingatkan orang-orang dalam perjalanan selanjutnya dan sasaran di balik cakrawala. Orang bijak mengatakan, ‘berhati-hatilah’, ‘bangkitlah, bangunlah, jangan berhenti sampai tujuan tercapai.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 7, pg. 85.

Tuesday, April 13, 2010

Sai Inspires 13th April 2010


The advice given by Vedic teachers to young departing children, after their schooling are exalted are, "'Revere your mother as God', 'May your father be God' and 'May your Teacher be your God'; 'Speak the Truth and Act Righteously, Do not adopt other ways'."

Engage yourselves in such activities, that will promote your progress. By devoted service to parents, and consistent adherence to Truth, several great souls, including Rama and Harishchandra have made themselves immortal. By means of right conduct, common people exalted themselves to the position of World Teachers.
Hence, every bit of this advice, given to pupils, is highly powerful and relevant.

Nasehat yang telah diberikan oleh Guru Veda kepada anak-anak yang baru beranjak dewasa setelah mereka menyelesaikan pendidikannya adalah,”Hormatilah ibumu seperti Tuhan”, ‘Anggaplah ayahmu sebagai Tuhan’ dan Anggaplah gurumu sebagai Tuhan’; berkata-katalah yang benar dan bertindaklah dengan benar, jangan gunakan cara yang lain’.”

Libatkanlah dirimu dalam kegiatan tersebut, yang akan mendorong kemajuan spiritualmu. Dengan pelayanan yang tulus kepada orang tua, serta patuh pada kebenaran, beberapa jiwa besar seperti Rama dan Harischandra telah mencapai keabadian. Dengan melakukan kebajikan, masyarakat umum memuliakan diri mereka pada posisi Guru Dunia. Oleh karena itu, setiap nasehat ini, yang diberikan kepada setiap siswa, adalah sangat berpengaruh dan relevan.

-Divine Discourse, Vidya Vahini.

Monday, April 12, 2010

Sai Inspires 12th April 2010


You may have outstanding physical beauty. You may have the sparkle of robust youth. You may be from a high and noble lineage. You may be a famed scholar. However, if you lack the virtues that only spiritual discipline can ensure, you will be reckoned only as a beautiful flower with no fragrance. You must live in accordance with the prescriptions from the Scriptures and perform actions with the attitude that is needed to preserve the status you have gained as the highest soul amongst animals and living beings.


Engkau mungkin memiliki kecantikan fisik yang luar biasa. Engkau mungkin memiliki jiwa muda yang kuat. Engkau mungkin berasal dari garis keturunan tinggi dan mulia. Engkau mungkin seorang sarjana terkenal. Namun, jika engkau tidak mempunyai disiplin spiritual maka engkau akan dianggap hanya sebagai bunga yang indah, tanpa keharuman. Engkau harus hidup sesuai dengan anjuran dari Kitab Suci dan melakukan tindakan dengan sikap yang diperlukan untuk mempertahanka statusmu yang telah engkau dapatkan yaitu sebagai manusia yang memiliki jiwa tertinggi diantara hewan dan makhluk hidup lainnya.

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Sai Inspires 11th April 2010


Real people are those, who are filled with love. Their hearts are springs of mercy. They are endowed with true speech and their minds are filled with peace. Just as gold and silver are hidden deep under the earth, and pearl and coral deep under the sea, peace and joy also lie hidden in the mind. Desirous of acquiring these hidden treasures, if you dive inward and direct your mental activities towards acquiring these treasures, you become filled with love and peace. You must fill yourself with this love and live in the light of unsullied, unselfish and pure love.

Manusia sejati adalah mereka yang dipenuhi dengan cinta. Hati mereka merupakan sumber berkah. Mereka dikaruniai dengan perkataan yang benar dan pikiran mereka dipenuhi dengan kedamaian. Seperti emas dan perak tersembunyi jauh di dalam perut bumi, serta mutiara dan karang berada dibawah lautan, kedamaian dan kebahagiaan juga tersembunyi di dalam pikiran. Jika engkau mempunyai keinginan untuk mendapatkan harta karun yang tersembunyi ini, engkau harus langsung menyelam ke dalamnya, maka engkau menjadi dipenuhi dengan cinta-kasih dan kedamaian. Engkau harus mengisi dirimu dengan cinta-kasih ini dan menjalani hidup dalam cahaya yang tanpa cacat, tidak mementingkan diri sendiri, serta hati yang murni

- Divine Discourse, Prema Vahini

Sai Inspires 10th April 2010


In spirituality, the rules and regulations appear elementary at first. Later, they enable you to be aware of regions beyond the reach of the senses. Over time, you realize the experience of the Truth of all truths and appreciate that the one Lord is immanent in all and pervades the entire cosmos. You will be filled with bliss when your mind is fixed in this faith and awareness. This is true Vidya (learning), the culmination of the best educational process.

Dalam spiritualitas, pada awalnya aturan dan peraturan muncul. Selanjutnya, hal tersebut memungkinkanmu untuk menyadari adanya daerah di luar jangkauan indera. Seiring berjalannya waktu, engkau akan menyadari pengalaman kebenaran dari semua kebenaran dan menghargai bahwa Tuhan ada dalam segalanya dan meliputi seluruh alam semesta. Engkau akan dipenuhi dengan suka cita ketika pikiranmu tetap dalam keyakinan dan kesadaran. Inilah yang disebut dengan Vidya sejati (pengetahuan), puncak dari proses pendidikan yang terbaik

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Friday, April 9, 2010

Sai Inspires 9th April 2010


Nature is resplendent with many colors. When you wear blue colored glasses you only see the color you have worn, isn't it? If the world appears to you as filled with differences, it is entirely due to your fault. If all appear as one, that too, is only due to your love. For both of these, the feeling in you is the cause. It is only because one has faults within oneself, one sees the world as faulty. The Lord always looks for goodness, not for faults and sins. He only sees the righteousness in our actions! Develop goodness and righteousness. Live and act in joy and love. These two are sufficient to attain salvation.

Alam ini gemerlapan dengan banyak warna. Bila engkau mengenakan kacamata berwarna biru, bukankah engkau hanya melihat warna biru seperti warna kacamata yang telah engkau kenakan? Jika dunia ini tampak dihadapanmu penuh dengan perbedaan, hal ini sepenuhnya karena kesalahanmu. Jika semuanya tampak satu, itu disebabkan oleh adanya cinta-kasih. Untuk kedua hal ini, penyebabnya adalah perasaanmu. Hanya karena kesalahannya sendiri, seseorang memandang dunia ini dengan keliru. Tuhan selalu mengharapkan kebaikan, bukan kesalahan dan dosa. Beliau hanya melihat kebajikan dalam setiap tindakan kita! Kembangkanlah kebaikan dan kebajikan. Hidup dan bertindaklah dalam sukacita dan cinta-kasih. Kedua hal ini merupakan syarat untuk mencapai pembebasan.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Thursday, April 8, 2010

Sai Inspires 8th April 2010


Living a regulated and disciplined life is very essential. Real education must train you to observe these limits and restrictions. You take great pains and suffer privations in order to master the knowledge of this world. Similarly, you follow with strict care the routine to develop your physique. Therefore, whatever be your objective, you must obey the appropriate code of discipline.

Kehidupan yang diatur dan hidup disiplin sangatlah penting. Pendidikan yang sesungguhnya harus melatihmu untuk mematuhi batasan-batasan tersebut. Engkau mengalami kesedihan dan penderitaan untuk menguasai pengetahuan tentang dunia ini. Sama halnya, engkau memberikan perhatian pada perawatan rutin untuk mengembangkan fisikmu. Oleh karena itu, apapun tujuan hidupmu, engkau harus mematuhi peraturan yang berlaku

- Divine Discourse, Vidya Vahini

Wednesday, April 7, 2010

Sai Inspires 7th April 2010


You repeat the name of the Lord, sing bhajans, and perform meditation to earn single-mindedness, is it not? Once this single mindedness has been earned, its inner significance will be revealed to you and effort will become unnecessary. Those eager to become aspirants, to attain salvation, should not yield to arguments and counter-arguments. You should not be enticed by the wiles of bad feelings! You should see your own faults and not repeat them. You should guard and protect the one-pointedness, with your eyes fixed on the goal, and dismiss as trash whatever difficulties, defeats and disturbances you may encounter on your path.

Engkau mengulang nama Tuhan, menyanyikan lagu Bhajan, dan bermeditasi agar memperoleh kemanunggalan pikiran, bukan? Setelah kemanunggalan ini tercapai, ketuhanan di dalamnya akan terungkap sehingga usaha lainnya tidak lagi penting. Mereka yang ingin menjadi peminat spiritual, untuk mencapai pembebasan, seharusnya tidak memberikan argumen dan menentang argumen tersebut. Engkau seharusnya tidak tertarik oleh tipu daya perasaan yang buruk! Engkau seharusnya melihat kesalahanmu sendiri dan tidak mengulanginya lagi. Engkau seharusnya menjaga dan melindungi hal ini, dengan matamu yang tetap mengarah pada tujuan, dan melenyapkan berbagai kesulitan, halangan dan gangguan yang mungkin engkau temui dalam perjalananmu.

-Divine Discourse, Prema Vahini

Tuesday, April 6, 2010

Sai Inspires 6th April 2010


A great teacher is one who has the knowledge of the Self imprinted in his/her heart. The individual who can welcome this truth and is eager to know it alone deserves to be a pupil. The seed must have the life principle latent in it. The field must be ploughed and made fit for sowing. If both these conditions are fulfilled, the spiritual harvest will be bountiful.

Seorang guru agung adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang Diri yang tertanam kuat dalam hatinya. Setiap orang yang dapat menerima kebenaran ini dan selalu ingin mengetahuinya sendiri pantaslah disebut sebagai siswa. Benih harus memiliki prinsip hidup yang laten di dalamnya. Ladang harus dibajak dan dibuat sesuai untuk bisa ditanami. Jika kedua kondisi ini dipenuhi, maka akan didapatkan panen spiritual yang berlimpah.

-Divine Discourse, Vidya Vahini

Monday, April 5, 2010

Sai Inspires 5th April 2010


All spiritual practices are of no avail, if the heart is not pure. Your cravings and attachments will not disappear even if you are immersed in many spiritual practices so long as the heart is full of the illusion of egoism. Remember that agitations of the mind cannot exist in the same heart filled with love. Can light and darkness ever co-exist at the same place and the same time? Hence, you must remove the illusion of egoism from your heart. To get rid of the feeling of "I" and "mine", you must worship the Lord. You must become an aspirant without likes and dislikes.

Jika hati tidak murni, maka semua praktek spiritual yang dilakukan tidak akan ada gunanya. Keinginaan dan apa yang engkau dambakan tidak akan lenyap selama hati ini dipenuhi dengan ilusi ego, bahkan jika engkau tenggelam dalam banyak praktek spiritual. Ketahuilah bahwa pikiran yang tidak murni tidak akan bisa bersemayam di dalam hati yang sama yang dipenuhi dengan kasih. Dapatkah cahaya dan kegelapan hidup berdampingan di tempat yang sama, dan pada saat yang bersamaan? Oleh karena itu, engkau harus melenyapkan ilusi egoisme dari hatimu. Jika engkau berkeinginan untuk menyingkirkan perasaan "aku" dan "milikku", engkau harus memuja Tuhan. Engkau harus menjadi peminat spiritual, tanpa dipengaruhi oleh rasa suka ataupun tidak suka.

-Divine Discourse, Prema Vahini.

Sunday, April 4, 2010

Sai Inspires 4th April 2010


The inevitable destiny of every living being is the attainment of perfection and fullness. Our present condition of incompleteness is the consequence of our activities during our previous lives. The thoughts, feelings, passions and acts of past lives have caused the present condition in life. Similarly, our future is being built on the basis of our present deeds and desires, thoughts and feelings. Seek help from the Divine to purify and sublimate your consciousness. Thus, your spiritual progress will be accelerated and you will attain perfection and fullness.

Takdir yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk hidup adalah pencapaian kesempurnaan. Keadaan ketidaksempurnaan kita sekarang adalah konsekuensi dari perbuatan kita selama hidup kita sebelumnya. Pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatan kita pada kehidupan di masa lalu-lah yang telah menyebabkan keadaan dalam kehidupan kita saat ini. Demikian pula, keadaan kita di masa depan sedang dibangun atas dasar perbuatan dan keinginan, serta pikiran dan perasaan kita dalam kehidupan sekarang. Carilah pertolongan pada Tuhan untuk memurnikan kesadaranmu. Dengan demikian, kemajuan spiritualmu akan dipercepat dan engkau akan mencapai kesempurnaan.

- Divine Discourse, Vidya Vahini

Saturday, April 3, 2010

Sai Inspires 3rd April 2010


You experience joy and misery through the ear. Therefore, avoiding the cruel arrows of harsh words, one should use words that are sweet, pleasant and soft. With that softness, add the sweetness of truth. To make the words soft, if falsehood is added, it would only clear the way for some more misery. Hence, a spiritual aspirant should use very soft, sweet, true and pleasant words. The mind of such an aspirant is Mathura, their heart is Dwaraka and their body is Kashi. Such persons can be recognized by their good qualities themselves.

Engkau mengalami suka cita dan penderitaan melalui telinga. Oleh karena itu, hindarilah mengucapkan kata-kata yang kasar, seseorang seharusnya mengucapkan kata-kata dengan manis, menyenangkan, dan lembut. Dengan kelembutan itu, tambahkanlah kebenaran. Jika kebohongan ditambahkan, hal ini jelas merupakan jalan menuju penderitaan, maka ucapkanlah kata-kata dengan lembut. Oleh karena itu, seorang pencari spiritual seharusnya mengucapkan kata-kata dengan lembut, manis, benar, serta menyenangkan. Pikiran seorang pencari spiritual ibarat Mathura, hati mereka adalah Dwaraka dan badannya adalah Kashi. Orang-orang seperti itu dapat dikenali dengan kualitas baik dari mereka sendiri.

- Divine Discourse, Prema Vahini

Friday, April 2, 2010

Sai Inspires 2nd April 2010


The four subtle elements of consciousness - manas (the mind), buddhi (the intellect), chittha (will) and ahamkara (the ego) - are all maya (delusion). What is maya? Maa (means 'not') and ya (means 'exist') - that which does not exist but appears to exist is maya. Maya makes the unreal appear as real and the real as unreal. The other name for maya is ajnana (ignorance). Ajnana is that which hides the reality from you and makes you regard the non-existing as existing. It makes the false appear as true. As you move towards the light, your shadow falls behind you; when you move away from the light, you have to follow your own shadow. Go every moment one step nearer to the Lord and then maya, the shadow, will fall behind you and w ill not delude you at all.

Keempat elemen kesadaran - manas (pikiran), buddhi (intelek), chittha (keinginan) dan ahamkara (ego) – semuanya adalah maya (khayalan). Apa itu maya? Maa (berarti ‘tidak’) dan ya (berarti ‘ada’) – maya adalah yang tidak ada tetapi tampaknya ada. Maya membuat sesuatu yang tidak nyata terlihat nyata dan sesuatu yang nyata terlihat tidak nyata. Nama lain dari maya adalah ajnana (ketidaktahuan). Ajnana adalah yang menyembunyikan kenyataan darimu dan membuat engkau menganggap yang tidak ada menjadi ada. Hal inilah yang membuat ketidakbenaran terlihat benar. Saat engkau bergerak menuju cahaya, bayanganmu jatuh di belakangmu; ketika engkau menjauhi cahaya, engkau harus mengikuti bayanganmu sendiri. Berjalanlah setiap langkah mendekati Tuhan maka maya, bayangan, akan jatuh di belakangmu dan sama sekali tidak akan memperdaya engkau.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 21, Chapter - 18

Thursday, April 1, 2010

Sai Inspires 1st April 2010


The bird called Jeeva (individual soul) resides within a nine-holed pot called body. Seeing the antics of the mind, death keeps laughing. It is a wonder how the bird has a body, how it came into the pot, and how it rises up and goes. All the sages, and human beings of all the continents, are constantly undergoing the sentence of carrying about with them the burden of the body. Now, out of all these beings, who are friends and who are enemies? When egoism dies out, all are friends. There are then no enemies. This lesson must be remembered by all.

Ibarat burung, Jeeva (jiwa individu) bersemayam di dalam tubuh ini. Pahamilah pikiran yang selalu melompat-lompat dan maut terus membayangi. Ini adalah sesuatu yang menakjubkan bagaimana burung tersebut dapat masuk, dan bagaimana burung itu dapat bangkit serta keluar dari sana. Semua orang suci dan semua makhluk dari semua benua menjalani hukuman membawa beban tubuh mereka. Sekarang, dari semua makhluk, siapakah yang disebut teman dan siapakah yang disebut musuh? Ketika egoisme dilenyapkan secara perlahan-lahan, semuanya adalah teman. Maka tidak ada lagi musuh. Pelajaran ini harus diingat oleh semuanya.

-Divine Discourse, Prema Vahini