Wednesday, January 30, 2008

Sai Inspires - 30th January 2008 (What is the best way to serve?)


Service to man can be done in many ways; but, serving the other person, by example is the best of all. Do not be a bad example to your neighbours or family members. Be good and radiate goodness. That is why, when the education of a pupil was over, the teacher in ancient times exhorted the pupil to speak the truth and observe righteousness. Because after the period of study, the young person is to engage in a job, so, he has to be given the most beneficial advice, at the appropriate moment. The truth must be spoken, without hypocrisy and deceit; there should be no motive to injure.

Pelayanan kepada sesama manusia bisa ditempuh dengan berbagai macam cara; namun pelayanan dalam bentuk menjadi contoh suri-teladan yang baik merupakan cara yang paling bagus. Janganlah menjadi contoh yang tidak baik bagi tetanggamu maupun anggota keluargamu yang lainnya. Jadilah sosok yang patut diteladani dan pancarkanlah kebajikan. Itulah sebabnya ketika seorang siswa selesai menamatkan pendidikannya, maka para guru di zaman dahulu selalu memperingatkan para siswa-siswanya untuk selalu mengucapkan kebenaran dan senantiasa mempraktekkan kebajikan. Setelah menamatkan pendidikannya, maka para siswa akan terjun dan bekerja di tengah-tengah masyarakat, itulah sebabnya mengapa mereka perlu mendapatkan nasehat yang bermanfaat dan di saat yang tepat. Kebenaran haruslah dijunjung tinggi, tanpa adanya kemunafikan dan kebohongan serta tidak disertai dengan motif untuk mencelakai.

- Divine Discourse, December 21, 1967.

Tuesday, January 29, 2008

Sai Inspires - 29th January 2008 (How can we earn His Grace and peace?)

You do not wait with folded hands for the cup of coffee to cool down to the required warmth; you ask for an extra cup and you start pouring the coffee from one cup to the other, is it not? The same anxiety, the same sadhana has to be shown in spiritual matters also, to take in the beverage of Divine Grace...Cultivate the virtues of reverence and humility...the more we subject ourselves to discipline, the more joy and peace we can enjoy.

Untuk menunggu secangkir kopi panas agar dapat diminum, maka tentunya engkau tidak perlu bersikap anjali dan berdoa bukan!? Yang perlu engkau lakukan adalah meminta cangkir yang kosong dan kemudian menuangkan kopi itu dari cangkir yang satu ke yang lainnya, bukankah begitu? Nah, sadhana yang serupa seperti itu juga perlu diterapkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah spiritual, agar kita dapat menikmati Rahmat Ilahi.... Kembangkanlah sikap penghormatan dan kerendahan hati.... apabila engkau hidup secara disiplin, maka kedamaian dan kegembiraan tidak akan jauh darimu.

- Divine Discourse, March 26, 1985

Monday, January 28, 2008

Sai Inspires - 27th January 2008 (What is it that can give a good foundation to our life?)


The very persons who accuse others are ready to commit those wrongs when they get the chance. They are not toughened enough to resist the temptation. No one stands firm for they have not found the rock of the Aathma (spirit); they have no knowledge of their Divine reality. The teaching of all the scriptures and of all the sages and saints is to recognize the Aathma (spirit) within and to build life upon that bedrock. What is required for the discovery of that bedrock? You must be able to withdraw into yourself and meditate on your own true nature, and the truth of Nature... It is the right of every seeker from every land. This is the wealth that will really save man from misery; all the rest are mere shadows, mirages, castles in the air, they drop with the body that valued them.

Bagi mereka yang (suka) menuduh orang lain, sebenarnya dia sendiri juga akan melakukan kesalahan yang sama jikalau saja kesempatan menghampirinya. Mereka belumlah cukup kuat untuk menghadapi godaan yang ada. Selama batu karang Aatma (spirit) belum ditemukan; maka selama itu pula mereka belum siap untuk menyadari realitas Divine masing-masing. Semua kitab suci dan para rishi dan sadhu mengajarkan hal yang sama, yaitu bagaimana caranya mengenali Aathma (spirit) yang ada di dalam diri kita masing-masing serta menjadikannya sebagai batu karang untuk landasan berpijak dalam kehidupan ini. Apa saja hal-hal yang diperlukan agar kita dapat menemukan batu karang itu? Yaitu bahwa kita harus sanggup untuk melakukan kontemplasi dan bermeditasi atas sifat realitas kita yang sebenarnya, yaitu our own true nature and the truth of Nature... Setiap orang dari segala penjuru dunia mempunyai hak yang sama untuk merealisasikannya. Inilah satu-satunya kekayaan yang akan menyelamatkan manusia dari penderitaan; kekayaan lainnya adalah ibarat bayang-bayang, khayalan, fatamorgana di tengah-tengah gurun pasir – yang akan ditinggalkan seiring melapuknya badan jasmani ini.

- Divine Discourse, March 26th, 1965.

Sai Inspires - 28th January 2008 (What is spirituality in daily life?)


How can any study be worthy, if it does not confer good knowledge and prompt one to do good work? An education that helps you merely to keep alive is no education at all. The wheels of the chariot of life are good knowledge and good deeds. This alone is true spirituality - virtue and humanitarian deeds. Charity is spiritual; good behaviour is spiritual; keeping away from evil is spiritual.

Bagaimana mungkin engkau bisa belajar untuk menjadi orang berguna, jikalau saja pendidikanmu tidak memberikan pengetahuan yang baik serta mendorongmu untuk melaksanakan tugas/pekerjaan yang bajik? Pendidikan yang hanya mengajarkanmu cara-cara untuk bertahan hidup bukanlah jenis pendidikan yang sejati. Pengetahuan yang baik serta perbuatan bajik merupakan kedua roda kehidupan ini. Virtue (kebajikan) dan aksi-aksi kemanusiaan (seperti: sikap dermawan, perilaku bajik dan menjauhi pergaulan yang jahat) merupakan spiritualitas sejati.

- Divine Discourse, December 1st, 1982.

Thursday, January 17, 2008

Sai Inspires - 17th January 2008 (How can we be healthy physically, socially and spiritually?)


The scriptures say that envy, greed, lust and anger are all vyaadhi kaaranam (sources of disease). Those afflicted with these qualities may consume the most healthy food, but it will not give them health. They will suffer from various digestive and nervous complaints. Therefore, those aspiring to be liberated must cut asunder these evil tendencies with the sharp sword of jnaana (spiritual wisdom). They must pray to the Lord to save them from contact with these foul characteristics. From this very moment, pray for the Grace which will enable you to control and conquer them. Deepen your faith in God. Expand your love and take into its fold, the whole of mankind. There is no alternative path for a devotee.

Di dalam kitab-kitab suci dikatakan bahwa sifat-sifat seperti dengki, serakah, nafsu dan amarah dikategorikan sebagai vyaadhi kaaranam (sumber penyakit). Mereka yang terjangkit oleh kualitas-kualitas seperti itu boleh-boleh saja mengklaim bahwa ia telah mengkonsumsi makanan yang paling sehat, namun ketahuilah bahwa makanan itu saja tidak akan memberikan kesehatan yang prima baginya. Mereka tetap akan menderita berbagai macam persoalan di dalam sistem percenaan dan urat syarafnya. Oleh sebab itu, bila engkau beraspirasi untuk terbebaskan (dari kumpulan penyakit itu), maka engkau harus memastikan bahwa engkau sudah menghancur-leburkan kecenderungan/sifat-sifat negatif itu dengan menggunakan pedang tajam dalam wujud jnaana (kebijaksanaan spiritual). Engkau harus berdoa kepada Tuhan agar Beliau berkenan menyelamatkanmu dari bersinggungan dengan karakteristik-karakteristik yang bau itu. Mulai saat ini, berdoalah untuk meminta rahmat yang akan membekalimu kekuatan untuk mengendalikan serta menaklukkan sifat negatif tadi. Perdalamlah keyakinanmu kepada Tuhan. Kembangkan cinta-kasihmu dan bawalah seluruh umat manusia ke dalam pangkuannya. Tiada alternatif atau pilihan lain bagi seorang bhakta.

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Wednesday, January 16, 2008

Sai Inspires - 16th January 2008 (When can we say that we are successful?)


Those aspiring for success in the spiritual field must decide to control anger, to subdue the vagaries of the mind with its changing resolution to do and not do things. They must put down their mental agitations and worries, and see that they do not create worry in others too. They must convince themselves that in everyone there is Shivam (God), recognizable as swaasam (breath); they must develop Vishwaprema (Universal Love) and demonstrate it in their words and deeds.

Mereka yang beraspirasi untuk menggapai kesuksesan di bidang spiritual haruslah beresolusi untuk dapat mengendalikan kemarahannya serta meredakan gejolak-gejolak batinnya yang tidak mantap. Engkau harus menenangkan mental agitations dan kekhawatiranmu, dan pastikanlah bahwa engkau tidak menularkannya kepada orang lain. Engkau harus yakin bahwa di dalam diri setiap orang terdapat Shivam (Tuhan), yang dikenali sebagai swaasam (nafas) dan selanjutnya engkau juga perlu mengembangkan Vishwaprema (cinta-kasih universal) dan merealisasikannya dalam bentuk ucapan dan perbuatanmu.

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Tuesday, January 15, 2008

Sai Inspires - 15th January 2008 (How can we experience the Supreme Truth?)


Divine Grace awaits individual striving and spiritual practice. The doctrines and directives of religion have to be assimilated by means of actual experience. It is not enough if one learns to repeat them parrot like. The Truth has to be identified; this is the very first step. The sooner we understand the Truth, the faster will religious conflicts and creedal dissensions disappear. The Omniself, is nearer than the nearest; other entities are all, though near, really far away. Become aware of this fact. Then alone can the knots, in which the heart is entangled, be loosened.

Untuk memperoleh Divine Grace (Rahmat Ilahi), maka dibutuhkan usaha individu serta praktek spiritual. Doktrin-doktrin serta arahan-arahan yang diberikan oleh ajaran agama haruslah dihayati dan diamalkan melalui praktek aktual. Tidaklah cukup bila engkau hanya mempelajarinya serta mengulanginya bagaikan burung beo semata. Kebenaran hakiki haruslah diidentifikasi; inilah sebagai langkah pertama. Semakin cepat kita memahami kebenaran, maka akan semakin cepat pula berakhirnya konflik keagamaan serta pertikaian sejenisnya. The Omniself (Tuhan) sangatlah dekat, bahkan jauh lebih dekat dibandingkan entitas-entitas lainnya. Sadarilah fakta kebenaran ini. Sebab hanya dengan demikian, maka benang kusut yang ada di dalam hatimu akan dapat dilonggarkan.

- Baba in Vidya Vahini.

Monday, January 14, 2008

Sai Inspires - 14th January 2008 (Why should be the ultimate aim of all our actions?)



All activities of man must result in cleansing his chittha - the levels of awareness. When these are done as offerings to God, they advance this cleansing process a great deal. The way a person works, he/she shapes their own destiny. Work is sublimated into worship which fructifies into wisdom. The flower is Work (karma), the emerging fruit is Worship (bhakthi) and the ripe sweet fruit is Wisdom (jnaana). It is one continuous and spontaneous process, this spiritual fulfillment of the spiritual aspirant. They are like childhood, youth and old age, each imperceptibly growing into the succeeding stage.

Semua bentuk kegiatan/aktivitas yang dilakukan oleh manusia haruslah membuahkan pembersihan chittha – tingkat-tingkat kesadarannya. Ketika semua bentuk tindakan dilakukan sebagai persembahan kepada Tuhan, maka manusia akan mengalami kemajuan dalam proses pembersihan dirinya. Cara kerja seseorang akan membentuk takdir/nasibnya. Pekerjaan yang dilakukan sebagai salah-satu bentuk ibadah akan membuahkan kebijaksanaan. Dalam hal ini, dapat dilakukan perumpamaan sebagai berikut, yaitu bunga sebagai Work (pekerjaan/tugas/karma), buah yang muncul keluar adalah Worship (bhakthi/ibadah), sedangkan buah yang sudah matang/manis sebagai Wisdom (jnaana/kebijaksanaan). Keseluruhan proses itu berlangsung secara kontinu dan spontan, dan ia merupakan spiritual fulfillment (keberhasilan/pencapaian spiritual) dari masing-masing aspiran spiritual. Ibaratnya seperti masa kanak-kanak, dewasa dan usia tua, masing-masing tahapan itu tumbuh berkembang terus secara tanpa disadari.

- Divine Discourse, November 21, 1981.

Sai Inspires - 13th January 2008 (Why should we spend time in worship and remembrance?)



Worship is just a means of educating the emotions. Human impulses and emotions have to be guided and controlled. Just as the raging waters of a river have to be curbed by bunds, halted by dams, tamed by canals and led quietly to the ocean, which can swallow all floods without a trace, so too the age long instincts of man have to be trained and transmuted by contact with higher ideals and powers. When the fruit is ripe, it will fall off the branch of its own accord. Similarly, when vairaagya (renunciation) saturates your heart, you lose contact with the world and slip into the lap of the Lord.

Worship (ibadah) adalah salah-satu cara untuk mendidik (baca: mengontrol) emosi. Dorongan impuls serta emosi manusia haruslah diarahkan dan dikendalikan. Seperti halnya arus sungai yang deras dibendung, diarahkan serta dijinakkan melalui beberapa kanal agar dapat disalurkan secara aman ke samudera/lautan. Demikian pula halnya berkenaan dengan instinct manusia – yang telah terbentuk sejak berbagai kehidupan yang lampau – harus dilatih dan dirubah melalui serangkaian kontak/hubungan dengan kekuatan adi-daya (Tuhan). Ketika buah sudah matang, maka ia akan jatuh dengan sendirinya dari cabang pohonnya. Dengan analogi yang sama, ketika vairaagya (renunciation/semangat pelepasan) telah mengisi penuh hatimu, maka engkau akan terlepas dari keterikatan duniawi dan bersatu dalam pangkuan Ilahi.

- Divine Discourse, October 26, 1961.

Saturday, January 12, 2008

Sai Inspires - 12th January 2008 (the state of true devotion)

Devotion is the state of mind in which one has no separate existence apart from God. The devotee's very breath is God; his every act is by God, for God; his thoughts are of God; his words are uttered by God, about God. For, like the fish which can live only in water, man can live only in God - in peace and happiness. In other media, he has only fear, frantic struggle, and failure... It is only association with the Divine that can confer value and significance. The mind too gets illumined, and feels joy, peace and calm, only because the peace, joy and calm, which are the native characteristics of the spirit (God) within are reflected on it.

Devotion (bhakti) adalah keadaan batin dimana seseorang tidak lagi merasakan dirinya terpisah dari Tuhan. Nafas yang dihembuskannya adalah nafas keTuhanan; setiap tindakannya digerakkan oleh Tuhan dan hanya untuk-Nya; demikian pula pikiran dan ucapannya adalah oleh dan tentang Tuhan. Seperti halnya seekor ikan yang hanya bisa hidup di dalam air; maka demikian pula manusia hanya bisa hidup di dalam Tuhan, yaitu di dalam kedamaian dan kebahagiaan. Di media atau tempat lain, manusia akan selalu dirundung oleh ketakutan, pemberontakan dan kegagalan... Kehidupan manusia akan menjadi berharga dan bermanfaat hanya jikalau ia bergaul dengan Sang Divine. Melalui pergaulan dengan Tuhan, batin manusia akan mengalami pencerahan dan memperoleh keceriaan, kedamaian serta ketenangan.

- Divine Discourse, November 23, 1967.

Friday, January 11, 2008

Sai Inspires - 11th January 2008 (How can we have the vision of the Lord within?)


By taking to repeating the Name of God and picturing in the mind the Glory of God who has that Name, as well as a thousand others, slowly the cataract of the inner eye will disappear and, one can see the God who is in his/her innermost heart, installed in the altar therein.

Dengan mengulang-ulang nama Tuhan serta melalui visualisasi wujud kemuliaanNya di dalam batin, maka dengan demikian, secara perlahan-lahan lapisan katarak yang menutupi mata batinmu akan terkelupas dan engkau akan bisa melihat Tuhan yang bersemayam di dalam relung hatimu.

- Divine Discourse, February 14, 1968.

Sai Inspires - 10th January 2008 (How can the world be permeated with peace?)


People appear to be in quest of God. They do not realize that all that they see is permeated by God. All forms are Divine. But because man's vision is externalized, he is unable to have the inner vision of the Divine. People crave for peace. Though the source of peace and bliss is within themselves, they seek this in the external, like one pursuing a mirage. Owing to restless activity, endless worry and limitless desires, man has lost peace of mind and has become prey to discontent and misery. At the outset, peace has to be cultivated within ourselves. And then that peace has to be extended to the family. From the home it should be spread to our locality. Thus, peace should begin with the individual and spread to the whole society.

Banyak orang yang terkesan seolah-olah diri mereka sedang mencari Tuhan. Mereka tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang dilihat olehnya sebenarnya dijiwai oleh Tuhan. Segala bentuk atau wujud/rupa adalah Divine. Namun oleh karena pandangan manusia cenderung hanya melihat aspek eksternal saja, maka itulah sebabnya ia tidak bisa mendapatkan inner vision of the Divine. Selanjutnya, orang-orang juga mendambakan kedamaian. Walaupun sebenarnya sumber kedamaian dan kebahagiaan ada di dalam dirinya sendiri, manusia mencarinya di luar. Tindakan seperti ini seperti mengejar bayangan di udara (mirage). Sebagai akibat dari kegiatan/aktivitasnya yang tiada henti, kecemasan yang tiada berakhir serta keinginan yang tiada batasnya, maka manusiapun telah kehilangan kedamaian batinnya dan menjadikan dirinya sebagai bulan-bulanan dari ketidakpuasan dan penderitaan. Pada intinya, kedamaian hanya bisa diperoleh dari diri kita sendiri. Setelah kita merasakan kedamaian di dalam diri kita, maka selanjutnya kita harus menyebarkannya kepada keluarga. Dan selanjutnya dari keluarga, kedamaian itu harus ditularkan ke lingkungan di sekitar kita. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kedamaian harus bersumber dari masing-masing individu dan seterusnya menyebar ke segenap lapisan masyarakat.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Wednesday, January 9, 2008

Sai Inspires - 9th January 2008 (Why should we chant His name in unison?)

Everyone must cultivate a broad mind, a large-hearted outlook. Broad mindedness is expansion, narrow-mindedness is contraction. Devotees should also cultivate broad mindedness. It is to broaden the heart that name of the Lord should be chanted. Instead of singing by oneself, when devotees sing in groups, a sense of unity develops. By all people singing in unison and all hands clapping together, all hearts become one. This unity is proclaimed in the Vedas (ancient Indian scriptures) by describing the different organs of the Lord as the Source of the Power in the different sense organs of a human being.

Milikilah cara pandang yang luas serta hati yang lapang. Broad mindedness bersifat ekspansif, sedangkan narrow-mindedness (cara pandang yang sempit) bersifat kontraktif. Para bhata hendaknya memiliki wawasan pandangan yang luas. Untuk tujuan itulah kita melakukan namasmarana (pengulangan nama-nama Tuhan). Daripada bernyanyi sendiri, apabila para bhakta bernyanyi dalam satu kelompok, maka akan timbul semangat persatuan. Dengan bernyanyi dan bertepuk-tangan secara bersama-sama, maka hati kita akan menjadi satu. Persatuan (unity) ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab Veda, dimana Tuhan menjadi motor pengerak dari setiap organ manusia.

- Divine Discourse, April 1984.

Tuesday, January 8, 2008

Sai Inspires - 8th January 2008 (What is the true meaning of Yagna or sacrifice?)

Yajna (sacrifice) means "giving up" or "renunciation". What exactly has to be given up? Riches? That is easy enough. One's home? That too is not hard. Does it mean retiring into a forest, breaking away from kith and kin? Many have done so and become proud of it. The renunciation (thyaga) that the sacrifice (yajna) demands is the casting off of pomp, pride, envy, greed, in short, the ego itself. Every rite laid down in the Veda (ancient Indian scriptures) has this aim only - to promote selflessness and Universal Love. Concentration on sensual gratification, anger, fury, hatred - these are bestial characteristics. Man must be ashamed to have even a trace of such traits. The characteristics of human nature are, and ought to be - love, forbearance, detachment, renunciation and truth.

Yajna (pengorbanan) diartikan sebagai “tindakan melepaskan/menyerahkan” atau “renunciation”. Apakah yang perlu dilepaskan? Kekayaankah? Menyerahkan kekayaan tentulah sangat gampang. Lalu, apakah rumah yang perlu diserahkan? Itupun tidaklah terlalu sulit. Lalu, apakah itu diartikan sebagai tindakan pengasingan diri ke dalam hutan seraya melepaskan diri dari keterikatan dengan sanak-keluarga? Banyak orang yang sudah pernah menempuh jalan yang terakhir ini, namun mereka justru menjadi sombong. Pengertian sebenarnya dari thyaga (istilah lain untuk pengorbanan) adalah melepaskan sifat-sifat buruk seperti suka show-off (sombong), keangkuhan, kedengkian, keserakahan atau dengan perkataan lain kita harus mencoreng sang ego kita sendiri. Setiap bentuk tindakan ritual yang digariskan dalam Veda mempunyai maksud/tujuan tersebut, yaitu untuk mendorong selflessness (sikap yang tidak menonjolkan diri sendiri/tanpa pamrih) dan cinta-kasih yang universal. Apabila seseorang lebih menonjolkan sifat-sifat sensual, kemarahan, kebencian – maka itu tiada lain adalah karakter kebinatangan. Engkau harus merasa malu bila sifat-sifat seperti itu masih bercokol di dalam dirimu. Karakter manusia sejati adalah cinta-kasih, kesabaran, ketidak-melekatan, pengorbanan dan kebenaran.

- Divine Discourse, December 21, 1982.

Monday, January 7, 2008

Sai Inspires - 7th January 2008 (How can we let our personalities blossom?)


God incarnates to foster saintly people, it is said. By saintly people, they do not mean the dwellers in Himalayan retreats; they mean the virtuous person who forms the inner reality of every one of you, the outer appearance being but a mask which is worn to delude yourself into esteem. Every one is a saint, for he/she is an embodiment of bliss, peace and immortality. But, by allowing the crust of ego to grow thick and fast, the real nature is tarnished. By the action of satsang (the company of God-minded persons), by systematic attention to self-control and self-improvement, man can overcome the delusion that makes him identify himself with the body and its needs and cravings.

Dikatakan bahwa Tuhan berinkarnasi demi untuk memelihara orang-orang yang saleh. Yang dimaksud dengan orang-orang yang saleh bukanlah semata-mata diartikan sebagai para yogi di Himalaya; akan tetapi, pengertiannya adalah orang-orang yang berjiwa luhur yang sebenarnya merupakan inti jadi diri dari setiap orang di dunia ini. Penampilan luar ini (badan fisik) hanyalah berupa kedok/topeng yang mengaburkan jati dirimu yang mulia. Setiap orang adalah saint (orang suci), sebab setiap orang adalah perwujudan bliss (kebahagiaan), peace (kedamaian) dan imortalitas (keabadian). Oleh karena kita telah membiarkan sang ego tumbuh secara tak terkendali, maka sebagai akibatnya, jati diri kita yang sebenarnya ikut mengalami penodaan. Melalui satsang (pergaulan yang saleh) serta melalui serangkaian tindakan pengendalian dan pengembangan diri yang sistematis, kita akan bisa mengatasi delusi yang menganggap bahwa seolah-olah dirimu adalah badan jasmani ini.

- Divine Discourse, September 7, 1966.



Sai Inspires - 6th January 2008 (How can we unburden ourselves of the day's troubles?)


Life today is filled with sorrow; it is beset with fear and despair. The only time you can forget these thoughts and strengthen yourself to meet the hard times is when you contact the Source of all strength, God. You cannot get that peace and joy while you bend under the burden of daily life. You are carrying a huge load of worry all day; keep that aside for an hour every evening and spend that time with God who can make your shoulders strong and your burden light.

Penderitaan menyelimuti kehidupan dewasa sekarang ini; yang mana ia juga diselingi oleh perasaan takut dan keputus-asaan. Satu-satunya saat dimana engkau bisa melupakan keadaan tersebut serta memperoleh kembali kekuatan untuk menghadapi masa-masa sulit adalah ketika engkau menghubungi sumber dari segala kekuatan, yaitu Sang Khalik (Tuhan). Engkau tidak bisa mendapatkan kedamaian dan kesenangan selama engkau masih dibebani oleh kehidupan sehari-hari, yaitu saat mana engkau senantiasa membawa serta sejumlah kekhawatiran. Letakkanlah beban-beban tersebut selama paling tidak satu jam setiap harinya (di kala senja) dan luangkanlah waktumu bersama-sama dengan Tuhan agar dengan demikian, pundak-pundakmu dapat pulih kembali sehingga beban-bebanmu akan terasa menjadi lebih ringan.

- Divine Discourse, December 4, 1976.

Saturday, January 5, 2008

Sai Inspires - 5th January 2008 (How can we derive maximum joy from our lives?)


Help others so that you may repay the service that you received. Do not look on, when you find some one in pain or grief. As far as possible, relieve the pain, console the grief-stricken. A man who works for wages, calculates the reward at so much per hour, receives his wages and quits. But, when one works as part of his worship, glad that he is given the chance to serve as long and as gladly as he can, he derives maximum Aananda (joy).

Bantulah orang lain agar dengan demikian engkau dapat membayar kembali pelayanan yang telah engkau terima. Janganlah bersikap acuh ketika engkau melihat seseorang yang sedang mengalami penderitaan/kesakitan. Sesuai dengan kemampuanmu, cobalah untuk meringankan penderitaannya serta berilah hiburan bagi mereka yang sedang bersedih hati. Seseorang yang bekerja demi untuk gaji, ia akan menghitung imbalan yang diperolehnya sesuai dengan waktu/tenaga yang telah diberikannya. Namun bagi mereka yang bekerja dengan pengertian bahwa tindakannya itu adalah sebagai bagian dari ibadah, maka orang-orang seperti ini justru merasa senang & bergembira oleh karena telah diberikan kesempatan untuk melayani, sehingga dengan demikian, ia akan memetik Aananda (kebahagiaan) yang maksimal.

- Divine Discourse, February 14, 1968.

Friday, January 4, 2008

Sai Inspires - 4th January 2008 (How can small acts of service help us?)

Little acts of service can confer on you great spiritual benefit. Firstly, it will destroy your egoism. Pride will transform friends into enemies, will keep even kinsmen afar, and will defeat all good schemes. Service will develop in you the quality of humility. And humility will enable you to work in happy unison with others.

Tindakan pelayanan yang kecil sekalipun akan sanggup memberikan manfaat spiritual yang berfaedah bagimu. Pertama-tama, ia akan membantu untuk menghancurkan perasaan egoismu. Kesombongan akan dapat merubah para sahabat menjadi kawanan musuh, ia akan menjauhkanmu dari sanak-saudara serta ia juga akan merusak kebajikan-kebajikan yang ada. Sebaliknya, seva atau pelayanan akan menghasilkan kualitas rendah-hati (humility). Dengan sikap kerendah-hatian ini, maka engkau akan dapat bekerja-sama secara kompak & senang dengan orang lain.

- Divine Discourse, November 21, 1981.

Thursday, January 3, 2008

Sai Inspires - 3rd January 2008 (What is the easiest path of be happy?)

Just think for a moment whether the rich, the strong, the highly educated or the clever are happy. No one is happy, you will find. If you must be happy, one of two things must happen. All your desires must be fulfilled, or you should not have any desire. Of these, the reduction of desire is the easier path.

Cobalah renungkan sejenak apakah kebahagiaan terdapat di antara mereka yang kaya, yang berkuasa, serta yang terpelajar? Engkau akan menemukan bahwa tak seorangpun yang happy. Untuk memperoleh kebahagiaan, maka paling tidak harus tercapai salah-satu dari kedua hal berikut ini, yaitu: semua keinginanmu terpenuhi atau engkau tak berkeinginan sama sekali. Dari kedua jalan itu, maka pengurangan keinginan adalah jalan yang paling mudah.

- Divine Discourse, November 26, 1962

Wednesday, January 2, 2008

Sai Inspires - 2nd January 2008 (What can give us sustained and genuine happiness?)


Mountain peaks are charming from a distance; when approached, they confront us with terror-striking jungles. So too, the world (Samsara) appears charming, when men have not delved into its meaning and value. When discrimination is employed to explore its value, the truth is revealed that the family jungle or the world jungle cannot give genuine happiness. Only the Atma can give that blessing. Can the lake, which strikes us as invitingly charming so long as the mirage is on, quench one’s thirst?... Therefore, one should learn Self Knowledge, the process by which one becomes aware of one’s Self Reality. By learning it and living it, one can quench his own thirst and help to quench the thirst of all mankind.

Puncak pegunungan tampak sangat menawan jikalau dilihat dari jauh; namun ketika didekati, kita akan dikonfrontir dengan hutan lebatnya yang menakutkan. Demikian pula, dunia (Samsara) juga tampak menawan, yaitu terutama jikalau manusia belum memahami secara benar arti dan maknanya. Seandainya kemampuan diskriminatif telah dimanfaatkan, maka kita akan menyadari bahwa belantara kehidupan berkeluarga atau kehidupan secara duniawi tidak akan bisa memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Blessing hanya bisa diberikan oleh Atma. Apakah fatamorgana akan bisa memuaskan rasa dahaga kita?... Untuk itulah, engkau perlu mempelajari tentang Self Knowledge (pengetahuan tentang diri sendiri), yaitu suatu proses pembelajaran untuk menyadari realitas diri kita yang sejati. Dengan demikian, maka engkau akan bisa menuntaskan rasa dahagamu dan pada gilirannya engkau juga akan bisa membantu memuaskan rasa dahaga seluruh umat manusia.

- Vidya Vahini

Sai Inspires - 1st January 2008 (What should be our New Year resolution?)


On this New Year Day, you should resolve that you will start every day with Love, spend the day with Love, fill the day with Love and end the day with Love. There should be no difference of caste, creed, color, religion or nationality. Love knows no distinction of any kind. You must wish every one to be happy. Fill the heart with Love. Cultivate good thoughts, speak good words and do good deeds with the broad view that everyone in the world should be happy.

Di tahun baru ini, engkau harus bertekad untuk memulai setiap hari dengan cinta-kasih, mengisi dan menghabiskan sepanjang hari dengan cinta-kasih dan akhirilah sehari-harimu dengan cinta-kasih pula. Janganlah melakukan pembedaan berdasarkan kasta, ras, warna kulit, agama maupun kebangsaan. Cinta-kasih tidak mengenal semuanya itu. Engkau harus berharap agar setiap orang berbahagia. Isilah hatimu dengan cinta-kasih. Milikilah pikiran yang positif, ucapkanlah kata-kata yang baik dan lakukanlah perbuatan bajik dengan disertai oleh harapan agar setiap orang di dunia ini ikut berbahagia.

- Divine Discourse, January 1, 1994

Sai Inspires - 31st December 2007 (What does it mean when we say we are leading a spiritual life?)


A life of spiritual practice involves the dedication of all acts to God, the offering of whatever one does or thinks or speaks at the Feet of God. You can do this only when you are aware always of the Presence of God, in and around you. Your awareness must not deviate for a moment from God. The mind must revolve round one centre, God. Your concentration must be strong and steady. You are now able to attain concentration when you walk, talk, write or cycle along. But, you say you are helpless when it is a question of concentrating on God. Why have you to struggle to acquire it? The reason is: you have no yearning, no fond attachment, no Love towards God. But, carry on with the endeavour. By means of continuous culture, it is possible to acquire it.

Kehidupan yang bernafaskan praktek spiritual mencakupi sikap dedikatif atas setiap bentuk tindakan kita kepada Tuhan, yaitu mempersembahkan segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan maupun yang diucapkan di hadapan kaki Tuhan. Praktek seperti itu hanya bisa dilakukan jikalau kita senantiasa menyadari kehadiran Tuhan di dalam dan di sekelilingmu. Jagalah agar kesadaran seperti itu senantiasa terpelihara setiap saat. Perhatian batinmu hendaknya hanya diarahkan ke satu titik fokus, yakni Tuhan. Konsentrasimu haruslah kuat dan mantap. Saat ini engkau sanggup berkonsentrasi ketika sedang berjalan, berbicara, menulis ataupun ketika bersepeda. Tetapi engkau mengatakan bahwa dirimu tak berdaya ketika menyangkut tentang upaya berkonsentrasi kepada Tuhan. Mengapa engkau harus begitu bersusah-payah melakukannya? Penyebabnya adalah karena engkau tidak mendambakanNya atau lebih tepatnya cinta-kasihmu kepada Tuhan masih belum cukup mendalam. Teruskanlah upaya-upayamu itu. Melalaui serangkaian kebiasaan yang terlatih, maka kemungkinan untuk mencapai konsentrasi kepada-Nya akan semakin besar.

- Divine Discourse, January 5, 1971.

Sai Inspires - 30th December 2007 (What is the profound significance of devotional singing?)





The bhajans that are sung permeate the ether in the form of sound waves and fill the entire atmosphere. Thereby the whole environment gets purified. Breathing in this purified atmosphere, our hearts get purified. Reciting the Lord's name is a process of give and take. Singing the Lord's name should become an exercise in mutual sharing of joy and holiness. It should be remembered that the sounds we produce reverberate in the atmosphere. They remain permanently in the ether as waves and outlast the individual uttering the sounds.

Nyanyian bhajan yang dikidungkan akan meliputi dan mengisi lapisan ether (atmosfir) dalam bentuk sebagai gelombang suara; sehingga dengan demikian, maka lingkungan di sekitar itu akan mengalami proses pemurnian. Dengan menghirup udara dari atmosfir yang sudah disucikan ini, maka hati kita juga akan ikut dimurnikan. Pengulangan nama-nama Tuhan adalah suatu proses give and take. Hendaknya kebiasaan menyanyikan nama-nama Tuhan dijadikan sebagai latihan mutual sharing, yaitu dalam hal saling berbagi kesenangan dan kesucian. Engkau harus ingat bahwa suara-suara yang kita ucapkan akan bergetar dan bergema di atmosfir. Getaran-getaran tersebut secara permanen tetap ada di lapisan ether dan gelombang-gelombang tersebut berusia lebih panjang daripada orang yang mengucapkan atau mengkidungkannya.



- Divine Discourse, November 8, 1986.

Sai Inspires - 29th December 2007 (What is true devotion?)

As a first step, you use the flower, the lamp, the incense, etc. to worship the Saguna (attributeful) form. Soon, your devotion moves on to newer forms of dedication, newer offerings, purer, more valuable and worthier of your Lord. No one sticks to the slate for long; you feel that you should place before the Lord something more lasting than mere flowers; and something more yours than incense. You feel like purifying yourselves and making your entire life one fragrant flame. That is real worship, real devotion.

Sebagai langkah awal, engkau menggunakan bunga, lampu (jyotir), dupa dan perlengkapan lainnya sebagai media untuk melakukan pemujaan terhadap Saguna (wujud para dewata). Kelak, praktek devotionmu akan beranjak ke bentuk dedikasi baru, dengan persembahan yang lebih murni, lebih berharga serta lebih layak bagi Dewata pilihanmu. Tentunya tidak ada orang yang berkeinginan untuk tidak naik kelas; demikian pula, tentunya engkau ingin mempersembahkan kepada Tuhan sesuatu yang bisa bertahan lebih lama daripada sekedar persembahan bunga-bungaan saja; dan sesuatu yang lebih mewakili dirimu daripada sekedar dupa. Engkau merasa ingin memurnikan dirimu serta menjadikan kehidupanmu sebagai nyala (dupa) yang mengharumkan. Inilah yang disebut sebagai ibadah yang sejati, the real devotion.

- Divine Discourse, October 26, 1961.