Friday, November 30, 2007

Sai Inspires - 30th November 2007 (What should be our attitude while engaged in our duties?)

While engaged as you are in seva karma (service activity) as sadhana (spiritual practice), you encounter many hurdles. But, that is the nature of the world in which you act. It is a world of dual characteristics - good and bad, joy and grief, progress and regress, light and shade. Do not pay heed to these; do what comes to you as a duty, as well as you can, with prayer to God. The rest is in His Hands.

Ketika sedang aktif dalam melaksanakan seva karma (aktivitas pelayanan) sebagai bagian dari sadhana (praktek spiritual), engkau mungkin akan menghadapi banyak rintangan. Kondisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia yang memiliki karakteristik dual – yaitu kebajikan dan kejahatan, kegembiraan dan kesedihan, kemajuan dan kemunduran, terang dan gelap. Engkau tidak perlu terlalu memperdulikan hal-hal tersebut; lakukanlah kewajibanmu dengan sebaik-baiknya disertai oleh doa kepada Tuhan. Selebihnya berada di tangan Dia.

- Divine Discourse, November 21, 1981.

Thursday, November 29, 2007

Sai Inspires - 29th November 2007 (the true path to eternal happiness)

Man is a bundle of bones clothed in muscle and fitted with communication nerves. As a base of this gross body, he has a subtle body too. It has its own hunger and thirst and life cannot be happy unless these too are fulfilled - the hunger to return to the Source, a thirst for the nectar that confers immortality. In the search for something to allay this hunger and this thirst, man meets with countless obstacles, for, he does not know the road and is easily misled by his own senses which profess to show him the road. It is only when some disaster or distress overpowers him that he becomes aware of the true path. The true path is the path that reveals the Aathma (self) within.

Manusia adalah sekumpulan tulang-belulang yang dibungkusi oleh otot-otot serta terpasang oleh jaringan komunikasi melalui urat-syaraf. Sebagai dasar dari badan jasmani ini, manusia masih memiliki badan halusnya yang memiliki rasa lapar dan hausnya tersendiri. Kehidupan ini tidak akan mencapai kebahagiaan selama rasa lapar dan haus tersebut belum terpenuhi, yakni rasa lapar untuk kembali bersatu kepada sumbernya (Tuhan) serta rasa haus untuk mencicipi nectar yang akan memberikan keabadian hidup (immortality). Dalam usahanya untuk memuaskan rasa lapar dan haus itu, manusia berhadapan dengan banyak rintangan-rintangan, sebab dia tidak tahu arah jalan yang benar dan sebaliknya dia malah disesatkan oleh panca-inderanya sendiri yang mengaku-ngaku sebagai penuntun perjalanan itu. Manusia baru akan menyadari arah perjalanan yang benar setelah ia mengalami kemalangan ataupun penderitaan. Arah perjalanan yang benar ditandai oleh jalan atau rute yang bakal mengungkapkan kebenaran Aatma (spirit/diri sejati) di dalam diri kita masing-masing.

- Divine Discourse, March 30, 1979.

Wednesday, November 28, 2007

Sai Inspires - 28th November 2007 (Can beauty confer on us the joy we aspire for?)


Man cannot derive joy merely from things that are beautiful or from individuals who are beautiful. Man derives joy from the objects he loves and not from other things. It is the love that lends beauty to the object. Hence joy is equated with beauty and the sweetness of honey. Anyone who seeks joy should not go after things of beauty. The fountain-source of joy is within himself. To bring forth that joy man should cultivate the inward vision.

Manusia tidak bisa mendapatkan joy (kesenangan/keceriaan) sekedar dari barang-barang ataupun individu yang tampak cantik. Manusia memetik joy dari obyek-obyek yang dicintainya dan bukan dari obyek lainnya. Cinta-kasih membuat obyek tersebut menjadi indah. Oleh sebab itu, joy sering dipersamakan dengan kecantikan dan rasa manisnya madu. Siapapun juga yang menginginkan joy hendaknya tidak mengejar barang-barang kecantikan (eksternal). Sumber utama joy ada di dalam diri kita masing-masing. Untuk dapat mengeluarkannya, maka kita harus memupuk inward vision (pandangan yang ditujukan ke dalam diri kita sendiri).

- Divine Discourse, June 24, 1989.



Sai Inspires - 27th November 2007 (What is our real nature and destiny?)


Man is Sathyam, Shivam and Sundharam (Truth, Goodness and Beauty). That is why he is drawn by the true, the beautiful and the good. He hates being labeled a liar or an ugly person or a bad character! Man has to go out of his way, take special pains, to tread the path of falsehood; it is more difficult for him to sustain a lie than support the truth. So, man is turning back on his destiny when he revels in falsehood, ugliness and wickedness...Man is bound to God, by the same destiny. He can get sound and sweet sleep only in the lap of God. Separated from Him, he can only wail.

Manusia adalah Sathyam, Shivam dan Sundharam (Kebenaran, Kebajikan dan Keindahan). Itulah sebabnya ia tertarik kepada unsur-unsur kebenaran, keindahan dan kebajikan. Dia merasa benci jikalau disebut sebagai pembohong ataupun orang jelek atau yang memiliki karakter buruk! Adalah jauh lebih sulit untuk mempertahankan kebohongan daripada kebenaran. Apabila seseorang hidup dalam kebohongan dan kejahatan, maka itu berarti bahwa ia sedang menutupi nasib(baik)nya sendiri... Manusia terikat kepada Tuhan. Ia hanya bisa tertidur lelap dan nyenyak apabila berada di pangkuan-Nya. Jikalau ia terpisah dari Tuhan, maka ratap-tangis tidak akan jauh darinya.

- Divine Discourse, March 1st, 1968.



Sai Inspires - 26th November 2007 (What is the single most important facet that we must comprehend about this creation?)


Doubts are raised whether God exists or not. Those who affirm that God exists and those who deny are equally incompetent to say anything about God if they know nothing about the nature of God... God is Omnipresent. There is no need to search for Him anywhere. Everything that we see is a manifestation of God. Wherever we are, there is God. There can be no greater folly than to deny the existence of God when the whole cosmos bears witness to His handiwork. Everything in creation must be viewed as a manifestation of God. Only with this basic faith can one develop one's human personality.

Banyak pihak yang meragukan tentang eksistensi Tuhan. Baik bagi mereka yang percaya maupun tidak percaya – kedua-duanya sebenarnya sama-sama tidak berkompeten untuk mengatakan tentang hal tersebut, sebab toh mereka tidak tahu-menahu tentang nature of God (sifat alamiah Sang Divine).... Tuhan maha omnipresent. Engkaun tidak perlu terlalu repot mencari Beliau. Segala sesuatu yang kita lihat ini adalah manifestasi-Nya. Dimanapun kita berada, maka di situ Tuhan juga eksis. Sungguh bodoh sekali bila ada yang menyangkal eksistensi-Nya padahal seluruh alam semesta ini sudah merupakan bukti nyata sebagai hasil kreasi-Nya. Segala sesuatu di alam ciptaan ini merupakan manifestasi Tuhan. Dengan berbekal keyakinan dasar ini, barulah engkau bisa mengembangkan human personality (sifat kemanusiaan)-mu.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Sai Inspires - 25th November 2007 (if we cultivate virtue, we need to foster no other.)


Of all the virtues, love is the foremost. If love is fostered, all other qualifies flow from it. In every form of sadhana (spiritual practice), love has the first place. Love is the supreme mark of humanness. Love is God. Live in Love. Start the day with Love. Fill the day with Love. End the day with Love. You have to engage yourselves in Seva, eschewing every trace of Ahamkara (ego). Our degradation is the result of forgetting God. When we remember God, our life will be filled with peace and happiness.

Dari seluruh nilai-nilai luhur, maka cinta-kasih merupakan nilai luhur yang paling penting. Jikalau kita memelihara cinta-kasih, maka semua kualitas lainnya akan mengalir dengan sendirinya. Di dalam setiap bentuk sadhana (praktek spiritual), cinta-kasih mendapatkan prioritas pertama. Cinta-kasih adalah ciri utama kemanusiaan. Cinta-kasih adalah Tuhan, hiduplah dalam cinta-kasih. Mulailah harimu dengan cinta-kasih, isilah dengan cinta-kasih dan akhirilah dengan cinta-kasih juga. Berpartisipasilah dalam kegiatan Seva, sembari terus mengikis habis jejak-jejak Ahamkara (ego). Kemerosotan moral di tengah-tengah masyarakat dewasa ini adalah merupakan buah-akibat dilupakannya Tuhan. Apabila kita senantiasa ingat kepada-Nya, maka kehidupan kita akan menjadi damai dan bahagia.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Saturday, November 24, 2007

Sai Inspires - 24th November 2007 (How can we create the Society of our dreams?)



All men are kith and kin, one family, one aspiration, one attempt at one acquisition. They are all equally Divine; all form the Universal Body of the One God. All are heirs to the Aanandha (bliss) that this awareness can give. Of course, society does not happen when people gather by chance, or get together with no common goal of good. The many-faceted skills and intelligences that are contributed by the many must flow pure and clear, untarnished by egoistic desires along the channel of the spirit; then, they will feed the roots of truth and goodness; they will ensure peace, for, all ideas, of high and low will disappear. This is the criterion for a stable, strong and sweet society; not, mere numbers. Be conscious of the God in each and in all; then, inner equality will impress each so indelibly that the awareness will stay undisturbed. Peace will reign in each and all..

Manusia adalah bagaikan sanak-saudara satu sama lainnya, anggota satu keluarga yang memiliki satu aspirasi dan yang bersama-sama berupaya untuk mencapai satu hal. Mereka semuanya memiliki sifat Divinity dan bersama-sama membentuk Badan Universal dari Satu aspek ke-Tuhan-an. Masing-masing mempunyai hak yang sama dalam mewarisi Aanandha (Bliss) yang dapat diberikan oleh kesadaran (awareness). Memang society tidak serta-merta terbentuk dengan hanya berdasarkan adanya perkumpulan beberapa orang secara kebetulan dan tanpa adanya tujuan bersama yang jelas. Keaneka-ragaman ketrampilan dan kepintaran yang dikontribusikan oleh beberapa orang haruslah mengalir secara murni dan jernih serta tidak ternoda oleh keinginan-keinginan egoistik sepanjang perjalanan Spirit (jiwa). Bila hal itu tercapai, maka ia akan semakin memperkaya akar-akar kebenaran dan kebajikan; sehingga kelak akan membuahkan kedamaian (batin). Inilah kriteria-kriteria suatu society yang mantap, kuat dan indah. Society tidaklah semata-mata ditentukan oleh jumlah kuantitasnya saja. Sadarilah aspek ke-Tuhan-an yang ada di dalam diri setiap insan, sedemikian rupa sehingga kesadaran tersebut tidak akan terganggu (stabil) demi untuk tercapainya kedamaian batin bagi semuanya.

- Divine Discourse, October 1971.

Friday, November 23, 2007

Sai Inspires - 23rd November 2007 (How should we celebrate His Birthday?)

The message of the Avathaar must be born, must become alive, must grow in you, your heart - that is the birthday you have to celebrate... You need not travel long distances to where I am physically. Plant the seeds of Love in your hearts, let them grow into trees of service and shower the sweet fruits of Anandha (bliss). Share the bliss with all. That is the proper way to celebrate the Birthday.

Pesan dari Avathaar hendaknya dilahirkan, dihidupkan dan dibiarkan tumbuh-berkembang di dalam dirimu, di dalam hatimu – inilah cara yang benar untuk merayakan ulang-tahun-Ku.... engkau sebenarnya tidak perlu berpergian jauh ke tempat dimana Aku berada secara fisik. Tanamkanlah benih cinta-kasih di dalam hatimu, biarkanlah ia tumbuh besar menjadi pohon dalam wujud pelayanan dan menghasilkan buah-buahan manis dalam wujud Anandha (bliss). Bagikanlah bliss tersebut kepada semuanya. Inilah cara yang benar untuk merayakan ulang-tahun-Ku.

- Divine Discourse, November 23, 1972.

Thursday, November 22, 2007

Sai Inspires - 22nd November 2007 (What is real education? What should it confer on the students?)

In the educational system today, the spiritual element has no place. This cannot be true education. Education must proceed primarily from the Spirit to Nature. It must show that mankind constitutes one Divine family. The divinity that is present in society can be experienced only through individuals. Education today, however, ends with the acquisition of degrees. Real education should enable one to utilise the knowledge one has acquired to meet the challenges of life and to make all human beings happy as far as possible. Born in society, one has the duty to work for the welfare and progress of society.

Dalam sistem pendidikan dewasa sekarang ini, elemen spiritual tidak mendapatkan tempat atau perhatian yang sebagaimana mestinya. Pendidikan seperti ini bukanlah pendidikan yang sejati. Pendidikan seyogyanya mengajarkan tentang umat-manusia yang merupakan satu keluarga Divine. Divinity yang eksis di tengah-tengah society (masyarakat) hanya bisa dialami melalui masing-masing individu. Namun ironisnya, pendidikan di zaman modern ini hanya berakhir dengan tercapainya gelar kesarjanaan. Pendidikan hendaknya membekali setiap orang dengan kemampuan untuk mendaya-gunakan pengetahuannya demi untuk menghadapi tantangan hidup serta untuk membahagiakan sesama umat manusia. Sebagai insan yang terlahir di dalam society, engkau mempunyai kewajiban untuk bekerja demi kesejahteraan dan kemajuan society.

- Divine Discourse, November 22, 1987.

Wednesday, November 21, 2007

Sai Inspires - 21st November 2007 (What is our primary duty in life?)


Despite the striking progress in the fields of science and technology, there has been deterioration in morals and social behaviour because of the growth of selfishness. Self-interest is predominant in every action. If one's entire life is governed by selfishness, what happens to society? Every individual has a responsibility to society, from which he derives so many benefits. Society is based on the principle of mutual give and take. Your primary duty is to show your gratitude to your parents, your kith and kin, your friends, teachers and others who have helped you in various ways to make you what you are.

Walaupun telah tercapai kemajuan yang sedemikian pesat di bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi, namun oleh karena semakin merebaknya selfishness (sikap yang mementingkan diri sendiri), maka kemerosotan dalam bidang kemoralan dan perilaku sosial justru menjadi semakin dalam. Self-interest (ego) menjadi sedemikian dominan dalam setiap pola tindakan manusia. Jikalau sepanjang kehidupannya, manusia hanya didikte oleh selfishness, maka apa yang akan menjadi nasib suatu society (masyarakat)? Setiap orang atau individu mempunyai tanggung-jawabnya masing-masing terhadap society, darimana ia telah memetik sebegitu banyak manfaat. Society dilandasi oleh prinsip mutual take and give (saling memberi). Tugas atau kewajibanmu yang terutama adalah memperlihatkan rasa syukur dan terima-kasih kepada orang-tuamu, sanak saudara, teman, guru dan lainnya – yaitu orang-orang yang telah berjasa membantumu dalam berbagai caranya sehingga menjadikanmu seperti hari ini.

- Divine Discourse, June 24, 1989.

Tuesday, November 20, 2007

Sai Inspires - 20th November 2007 (How can we facilitate the blossoming of divinity within us?)

People today are totally immersed in self-interest, multiplying desires without limit. They are not content with having what they need for essential purposes. They wish to accumulate enormously for the future. They are filled with worries and discontent. Thereby they forfeit their happiness here and in the hereafter. Birds and beasts are content with what they can get. Man alone is afflicted with insatiable desires... He forgets his natural human qualities and behaves worse than animals. When these tendencies are given up, the inherent divinity in man will manifest itself.

Manusia di zaman sekarang pada umumnya hanya mementingkan dirinya sendiri, keinginannya dibiarkan merebak tanpa batas. Mereka tidak merasa puas dengan kebutuhan pokoknya semata. Ia ingin mengakumulasi harta yang lebih banyak lagi demi untuk masa depannya. Kekhawatiran dan ketidak-puasan senantiasa menghantuinya. Alhasil, mereka justru mengingkari kebahagiaan yang ada pada saat ini dan di masa yang akan datang. Kawanan burung dan hewan merasa puas dengan apa yang telah dipunyainya. Sebaliknya, manusia dijangkiti oleh keinginan yang tiada habis-habisnya... Ia telah melupakan karakternya yang sebenarnya sebagai manusia dan berpola tingkah-laku layaknya binatang. Apabila kecenderungan negatif seperti itu bisa ditinggalkan, maka divinity yang latent ada di dalam diri setiap manusia akan bersinar terang dan termanifestasikan kembali.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Monday, November 19, 2007

Sai Inspires - 18th November 2007 (How do we fill our lives with peace and love?)

Your lives are essentially of the nature of Shanti (Peace); your nature is essentially Love; your hearts are saturated with Truth. Rid yourselves of the impediments that prevent their manifestation; you do not make any attempt towards this, and so, there is no peace or love or truth in the home, the community, the nation and the world. The husband and the wife do not live in concord; the father and his sons are involved in factions; even friends do not see eye to eye! Twins take different paths. For, they live in a competitive waning world of passions and emotions. It is only when God is the Goal and Guide, that there can be real peace, love and truth. The Divine must be revered at all times and what pleases the Divine must be understood and followed.

Pada hakekatnya, kehidupanmu sebenarnya dilandasi oleh Shanti (kedamaian), sifat cinta-kasih dan hati yang bernafaskan kebenaran. Singkirkanlah rintangan yang membatasi manifestasi sifat-sifat luhur tersebut. Oleh karena ketidak-seriusanmu dalam hal ini, maka sebagai akibatnya, kedamaian atau cinta-kasih maupun kebenaran tidak terwujud di dalam rumah-tangga, lingkungan masyarakat, kehidupan berbangsa dan dunia! Pasangan suami-isteri saling cekcok; ayah dan anak saling berselisih paham; demikian pula di antara sesama teman! Bahkan pasangan kembar sekalipun masing-masing telah menempuh jalannya sendiri-sendiri. Inilah buah-akibat dari kehidupan di tengah-tengah dunia kompetitif yang mengalami degradasi moral. Kedamaian, cinta-kasih dan kebenaran hanya bisa terwujud apabila Tuhan dijadikan sebagai sasaran dan pedoman hidup. Divine haruslah dikuduskan setiap saat dan kita harus memahami dan mengikuti arahan-arahan yang akan menyenangkan Divine.

- Divine Discourse, February 21, 1974.

Sai Inspires - 19th November 2007 (Ladies Day)

A mother is ready to sacrifice everything, even her life, for the sake of her child...It is for this reason, that a woman is described as Thyagamurthi, an embodiment of sacrifice...In this world, all things are transient. Only righteousness and good name endure. How is one to acquire a good name? By revering the mother. Never go against the wishes of the mother. The child who causes pain to the mother can never be happy. Hence, earn the blessing of the mother.

Seorang ibu akan rela dan siap mengorbankan segala-galanya, termasuk kehidupanya sendiri demi untuk keselamatan anaknya... Untuk itulah, seorang wanita juga diberi gelar Thyagamurthi, yaitu perwujudan sikap yang siap untuk berkorban... Di dunia ini, segala sesuatunya bersifat sementara (transient). Hanya kebajikan dan nama baik sajalah yang bisa bertahan lama. Bagaimanakah cara untuk memperoleh nama baik? Yaitu dengan jalan menghormati ibunda. Janganlah pernah menentang keinginan ibu. Seorang anak yang mengakibatkan kesedihan dan penderitaan bagi ibunya, maka anak itu tidak akan pernah berbahagia dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, carilah blessing dari ibu.

- Divine Discourse, Novemer 19, 1995.

Saturday, November 17, 2007

Sai Inspires - 17th November 2007 (How should we go about achieving the objectives of our lives?)

There are four F's that you will have to fix before your attention. (1) Follow the Master, (2) Face the Devil, (3) Fight to the End and (4) Finish at the Goal. Follow the Master means, observe Dharma (Right Conduct). Face the Devil means, overcome the temptations that beset you when you try to earn Artha (wealth or the wherewithal to live in comfort). Fight to the End means, struggle ceaselessly; wage war against the six enemies that are led by kaama (lust). And, finally, Finish at the Goal means; do not stop until the goal of Moksha (Liberation from ignorance and delusion) is reached. The F's are fundamental for the pursuit of the four Purushaarthas (goals of man) - Dharma, Artha, Kaama and Moksha (Right Conduct, Wealth, Desire and Liberation).

Ada empat jenis ‘F’ yang harus menjadi pusat perhatianmu, yaitu: (1) Follow the Master, (2) Face the Devil, (3) Fight to the End dan (4) Finish the Goal. Yang dimaksud dengan Follow the Master adalah: mengikuti dan mematuhi ajaran Dharma (perilaku kebajikan). Face the Devils diartikan sebagai mengatasi dorongan-dorongan (nafsu duniawi) yang mengodamu ketika engkau mencari-nafkah dalam rangka untuk mencapai kesejahteraan hidup (Artha). Kemudian maksud dari Fight to the End adalah berjuanglah secara tanpa henti dalam memerangi ke-enam jenis musuh yang dimotori oleh kaama (hawa nafsu). Dan terakhir, Finish at the Goal yang berarti jangan berhenti sebelum tercapainya tujuan akhir, yakni: Moksha (kondisi terbebasnya manusia dari kekotoran batin dan delusi). Keempat F tersebut merupakan landasan fundamental bagi manusia untuk mencapai keempat Purushaarthas (tujuan hidup manusia), yaitu: Dharma, Artha, Kaama dan Moksa (kebajikan, kekayaan, keinginan dan pembebasan).

- Divine Discourse, July 6, 1975.

Friday, November 16, 2007

Sai Inspires - 16th November 2007 (How to tame our mind and turn it to God?)

Your mind is steady when it is engaged in other activities; but, when it is focused on God, it begins to waver. It does not like to stop its vagaries, which it will have to do, once God enters your heart. Tame it by Naamasmarana (Chanting the Divine name)... Have the Naamam (God's Name) on your tongue, the Rupa (Divine Form) in your eye, the Mahima (Divine Glory) in your heart, then thunderbolts will pass by you quietly.

Ketika sedang terlarut dalam berbagai jenis aktivitas, maka pada saat itu biasanya mind (pikiran)-mu akan steady (mantap); tetapi ketika dipergunakan untuk fokus kepada Tuhan, maka ia-pun mulai goyah. Sifat pikiran memang tidak suka berdiam-diri, yang mana memang itulah yang seharusnya dilakukan olehnya di kala Tuhan sudah memasuki hatimu. Jinakkanlah mind dengan melalui Naamasmarana (pengkidungan nama-nama Divine)... Milikilah Naamam (nama Tuhan) di lidahmu, Rupa (wujud Divine) di mata dan Mahima (kemuliaan Divine) di dalam hatimu; maka dengan demikian, bahkan suara gemuruh dan halilintar sekalipun tidak akan bisa mengusik ketenanganmu.

- Divine Discourse, December 6, 1963.

Thursday, November 15, 2007

Sai Inspires - 15th November 2007 (How can we live in peace, unperturbed by tragedies and triumphs?)

The mariner uses his compass to guide him aright amidst the dark storm clouds and raging waves. When a person is overwhelmed by the dark clouds of despair and the raging confusion of irrepressible desires, he, too, has a compass which will point to him the direction he has to take. That compass is a society that is dedicated to the propagation of spiritual discipline. So long as man is attracted by outer Nature, he cannot escape the blows of joy and grief, of profit and loss, of happiness and misery. But, if he is attracted by the Glory of God within him as well as within Nature, he can be above and beyond these dualities and in perfect peace.

Para pelaut mempergunakan kompas sebagai pedoman arah di tengah-tengah terjangan topan dan gelombang laut yang ganas. Apabila seseorang sedang digeluti oleh awan gelap dalam bentuk keputus-asaan dan kebimbangan akibat keinginan-keinginan yang bergejolak, maka dia juga membutuhkan kompas yang dapat memberikan petunjuk arah yang seharusnya ia tempuh. Kompas tersebut direpresentasikan oleh society (masyarakat) yang berdedikasi dalam hal propaganda disiplin spiritual. Selama seorang manusia masih tertarik oleh dunia luar (eksternal), maka dia tidak akan bisa lolos dari dualisme kehidupan, yaitu: rasa senang dan sedih, untung dan rugi, kebahagiaan dan penderitaan. Namun jikalau ia menjadi lebih tertarik kepada kemuliaan Tuhan yang ada di dalam dirinya, maka ia tidak akan lagi terpengaruh oleh dualisme tadi dan kehidupannya akan menjadi damai & tenteram.

- Divine Discourse, May 18, 1968.

Wednesday, November 14, 2007

Sai Inspires - 14th November 2007 ( How can we find fulfillment in our lives?)




All beings are manifestations of the Cosmic Divine. The forms are different but the spirit that animates them all is One, like the current that illumines bulbs of different colours and wattage. Cultivate this feeling of oneness and do not be critical of any faith or religion. Dedicate your lives to the service of your fellow-beings. Thereby you will be redeeming your lives.

Semua mahluk hidup adalah manifestasi Divine Cosmic. Walaupun wujud atau rupanya saling berbeda, namun spirit (jiwa) yang terdapat di dalamnya adalah sama., persis seperti arus listrik yang menerangi bola-bola lampu yang berbeda-beda warna dan daya kekuatannya. Yakinilah prinsip pemersatu ini dan janganlah engkau bersikap kritis terhadap agama atau aliran keyakinan lainnya. Dedikasikanlah kehidupanmu demi untuk pelayanan kepada sesamamu. Dengan demikian, maka kehidupanmu akan disucikan.

- Divine Discourse, July 9, 1995.

Tuesday, November 13, 2007

Sai Inspires - 13th November 2007 (How exactly is devotion?)

Devotion should be the unified expression of love for God, action in the service of God and total surrender to the will of God. These are intertwined like the braid of a woman's tresses. Bhakthi (devotion), Upaasana (worship) and Jnaana (awareness of the Self) together demonstrate the Oneness of the Divine. This truth is common to all religions.

Devotion (bhakti) adalah ekspresi terpadu dalam hal cinta-kasih kepada Tuhan, yang dikombinasikan dengan tindakan pelayanan kepada-Nya seta penyerahan diri secara total atas kehendak-Nya. Ketiga aspek tersebut saling terkait satu sama lainnya persis seperti kepang rambut wanita. Bhakti (devotion), Upaasana (ibadah) dan Jnaana (kesadaran Atmic) – ketiga-tiganya memperlihatkan kaidah Oneness of the Divine (prinsip persatuan/kemanunggalan Ilahiah). Kebenaran ini merupakan hal yang umum dijumpai di dalam semua ajaran agama.

- Divine Discourse, December 18, 1994.

Monday, November 12, 2007

Sai Inspires - 12th November 2007 (How can we tap the source of joy that is within us?)

Man has in him all the Bliss, as well as all the equipment needed to unravel it; but, he is caught in dire ignorance of his own inner resources. He can have supreme peace but, he does not strive to earn it; his attempts are weakened by doubt and indecision, and so, they are doomed to failure. Of course, there is the flow of water underneath the ground. But, how can we benefit by it unless efforts are made to dig down into that source? A good deal of 'desire-for-sense-satisfaction' has to be removed before that inner spring of peace and joy can be tapped.

Sumber bliss sebenarnya ada di dalam diri setiap orang, dan demikian pula, perkakas atau instrumen yang dibutuhkan untuk menggali sumber kebahagiaan itu juga sudah tersedia di dalam diri masing-masing. Namun oleh karena kebodohan batinnya, manusia tidak menyadari hal tersebut. Upaya-upaya manusia untuk mencapai kedamaian telah sedemikian rupa diperlemah oleh keragu-raguannya sendiri, dan itulah sebabnya, mereka akan berhadapan dengan kegagalan. Di bawah permukaan tanah ini terdapat aliran atau sumber mata air. Namun kita tidak akan bisa memanfaatkannya sebelum dilakukan tindakan pengeboran hingga mencapai titik sumbernya. Dengan analogi yang sama, engkau juga perlu menyingkirkan terlebih dahulu ‘keinginan untuk memperoleh kepuasan indriawi’ sebelum engkau bisa mencapai sumber kedamaian dan kebahagiaan yang ada di dalam dirimu sendiri.

- Divine Discourse, February 21, 1974

Sai Inspires - 11th November 2007 (Why should we do bhajans?)

You do bhajans and think that you are doing it in order to please God. But God does not need anything. You do bhajans for your own happiness. Share your happiness with others. God is the embodiment of bliss. Hence, He does not require anything from you. When He is the embodiment of eternal happiness, what else is required for Him? He is not interested in worldly and ephemeral happiness. When you do bhajans, your heart becomes purified. The worship and the bhajans that you sing are meant for your own happiness and not for the happiness of God.

Engkau melaksanakan bhajans sembari mengira bahwa tindakanmu tersebut adalah demi untuk menyenangkan Tuhan. Namun ketahuilah bahwa Tuhan tidak membutuhkan apapun juga. Bhajan bermanfaat demi untuk kebahagiaanmu sendiri. Berbagilah kebahagiaan itu dengan sesamamu. Tuhan adalah perwujudan bliss dan oleh sebab itu, Beliau tidak membutuhkan apapun juga darimu. Oleh karena Tuhan adalah perwujudan kebahagiaan abadi, lalu apa lagi yang Beliau butuhkan? Ia tidak tertarik dengan kesenangan duniawi yang serba temporer ini. Pada saat engkau menyanyikan bhajan, maka hatimu menjadi murni & suci. Ibadah dan bhajan yang engkau laksanakan adalah dimaksudkan demi untuk memberikan kebahagiaan bagimu dan bukan untuk Tuhan.

- Divine Discourse, March 16, 2003

Saturday, November 10, 2007

Sai Inspires - 10th November 2007 (Is there a relationship between our individual spiritual endeavour and society's development?)

There are questions raised: Of what relation is society and social ties with spirit and its glory? Of what relation is the spirit with society's tangles and trickeries? Such questions arise from erring minds. Spiritual endeavour must aim at individual illumination, social betterment and the divinization of the human community. This is extremely urgent and essential. While in society, the divinity inherent in man can blossom more quickly, more widely, more fragrantly. You recognize the world, but, not God who is immanent in it! So too, you see the individual but, not the corpus that is immanent in society.

Beberapa pertanyaan telah diajukan, yaitu yang mempertanyakan tentang keterkaitan antara society (masyarakat) dan hubungan sosial dengan spirit (jiwa) dan kemuliaannya. Apa yang menjadi benang penghubung antara spirit dengan segala kekusutan dan tipu-daya yang eksis di tengah-tengah masyarakat? Pertanyaan seperti ini muncul dari mind yang terjebak dalam kesesatan. Upaya-upaya spiritual hendaknya ditujukan demi untuk tercapainya iluminasi setiap individu, sehingga dapat menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi kehidupan sosial dan akhirnya untuk tercapainya divinization (divinisasi) komunitas umat manusia. Kebutuhan tersebut sudah sangat mendesak dan penting sekali. Divinity yang laten ada di dalam diri setiap insan dapat tumbuh dan berkembang secara cepat dan meluas, hanya apabila manusia berada di tengah-tengah society. Sayang sekali bahwa engkau hanya mengenali dunia ini, tetapi tidak menyadari Tuhan yang melingkupi segalanya! Dengan perkataan lain, engkau hanya melihat individu dari aspek luarnya saja, dan bukannya inti-sejati yang menjiwai segenap society.

- Divine Discourse, October 1971

Friday, November 9, 2007

Sai Inspires - 9th November 2007 (How to lighten and brighten our lives?)

The flame of a lamp has two significant qualities. One is to banish darkness; the other is a continuous upward movement. Even if a lamp is kept in a pit, the flame is directed upwards. The ancients have taught that the upward movement of the flame denotes the path to wisdom and the path to divinity. However, the external light can dispel only the external darkness, but not the darkness of ignorance in man...The Vedas declare, "Anthar Bahischa Tat Sarvam Vyapya Narayana Stithaha", God is present within and around. So one has to be pure both internally and externally. It is the water that helps to keep your body clean. But it is love that keeps your heart clean. You should celebrate the festivals in full realization of their inner significance.

Nyala lampu (atau api) mempunyai dua kualitas yang cukup penting. Yang pertama adalah kemampuannya untuk mengusir kegelapan; dan yang kedua adalah arah pergerakannya yang senantiasa menuju ke atas. Walaupun nyala api itu disimpan di dalam lubang, namun ia pasti akan selalu mengarah ke atas. Orang-orang di zaman dahulu sudah mengajarkan bahwa nyala api yang selalu menuju ke atas tersebut menandakan jalan kebijaksanaan dan divinity. Cahaya eksternal hanya bisa mengusir kegelapan yang ada di sisi luar saja, sebab ia tidak sanggup untuk mengusir kegelapan yang ditimbulkan oleh kebodohan batin... Kitab Veda menyatakan, “Anthar Bahischa Tat Sarvam Vyapya Narayana Stithaha”, Tuhan hadir di dalam dan juga di sekeliling (kita). Oleh sebab itu engkau perlu memupuk kemurnian baik di dalam maupun di luar. Air bisa membantumu untuk menjaga kebersihan badanmu. Tetapi untuk membersihkan hati, engkau membutuhkan cinta-kasih. Rayakanlah festival (Deepavali) ini dengan memahami maksud & arti yang terkandung di dalamnya.

- Divine Discourse, October 19, 1998.

Thursday, November 8, 2007

Sai Inspires - 8th November 2007 (Why do we get into this cycle of joy and sorrow?)

How can man realize the Truth? Only when he experiences the Adhvaithabhaava (non-dualism). As long as he is steeped in dualism (that he and the Divine are different), he is bound to be racked by the opposites: joy and sorrow, the real and the unreal. All that exists in the Cosmos belongs to God. But man imagines that he is the owner of various things and is a prisoner of the conception of "mine" and "thine." In reality, all are only trustees of the property belonging to the Divine. This means that everyone has to consider himself as a trustee for the world's goods. A bank cashier handles an enormous amount of money. None of it belongs to him. He cannot use it for himself, but has to ensure its safety and right use. Likewise, all are trustees responsible for the proper use of the goods entrusted to them. No one can claim ownership. Hence one's life should reflect the unity of thought, speech and action.

Bagaimanakah caranya agar manusia dapat menyadari kebenaran? Yaitu apabila ia dapat menyadari prinsip Adhvaithabhaava (non-dualisme). Selama ia masih berkutat dengan dualisme (yaitu paham bahwa dirinya dan Sang Divine adalah dua entitas yang saling berbeda), maka selama itu pula, ia masih akan diombang-ambingkan oleh faktor yang saling berlawanan, yakni: kesenangan dan kesedihan, realitas dan non-realitas, dan sebagainya. Segala sesuatu yang eksis di alam semesta ini adalah milik Tuhan, namun manusia justru membayangkan bahwa dirinyalah sang pemilik atas segala hal dan sebagai akibatnya, ia terperangkap dalam konsep “milikku” dan “milikmu”. Padahal dalam realitasnya, kita diberi tugas untuk mengawasi harta kekayaan yang sebenarnya adalah milik Divine. Dengan perkataan lain, setiap orang harus memperlakukan dirinya sebagai pengawas atas kekayaan dunia ini. Sebagaimana seorang teller atau kasir sebuah bank yang menangani uang dalam jumlah banyak, namun uang-uang tersebut bukanlah miliknya. Dia tidak boleh menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadinya, melainkan harus memastikan keamanannya. Nah, demikianlah, semua pengawas dalam kehidupan ini bertanggung-jawab untuk menjamin pemanfaatan yang benar atas harta kekayaan yang telah dititipkan kepada mereka. Tak ada seorangpun yang berhak mengklaim kepemilikannya. Untuk itu, engkau perlu memastikan adanya unity dalam pola pikirmu, ucapan dan perbuatanmu.

- Divine Discourse, December 18, 1994.

Wednesday, November 7, 2007

Sai Inspires - 7th November 2007 (How should we use our faculty of reasoning so as to reap maximum benefit?)

Like a drop of oil on water, every individual spreads; he reaches out and far. 'I' seeks other 'I's and seeks to become 'We'. Life is a march from 'I' to 'We'. But, it usually strays from 'I' to 'They'. And does not reach God, the 'We'. Intellect alone can direct man in the path of discrimination, between the true path and false, the proper step and the improper... The reasoning power of man is shaped, not only by the education he receives now, but more by the impact of past lives and the import of future events. If the power is used for self-aggrandizement, it feeds delusion; if it is used in service for others, it promotes the Revelation of Reality. Reason must examine the vagaries of the mind and make patent the Divinity that resides and shines in every individual.

Seperti tetesan minyak yang menyebar di permukaan air, maka demikianlah setiap individu (orang) juga menyebar dalam kehidupan ini; masing-masing berkelana ke tempat yang nun jauh. ‘Aku’ mencari ‘Aku’ yang lain dan selanjutnya bersama-sama membentuk ‘Kita’. Kehidupan ini adalah derap-langkah untuk bergerak dari tahap ‘Aku’ kepada ‘Kita’. Namun pada umumnya sering terjadi penyimpangan dalam arah perjalanan itu, yaitu dari ‘Aku’ menjadi ‘Mereka’. Sebagai akibatnya, kita tidak sampai ke tujuan kita, yaitu Tuhan (‘Kita’). Hanya intellect (buddhi) saja yang bisa membekali manusia arahan yang benar dalam hal membedakan antara langkah yang benar dan salah... Kemampuan diskriminatif ini terbentuk bukan hanya melalui proses pendidikan semata, tetapi ia dipengaruhi oleh dampak kehidupan yang lampau serta kepentingan-kepentingan di masa depan. Jikalau kekuatan itu dimanfaatkan untuk tindakan menyombongkan diri, maka akan timbullah delusi; sebaliknya jikalau ia dipergunakan untuk pelayanan kepada sesama, maka ia akan mendukung tercapainya pencerahan. Buddhi haruslah dimanfaatkan untuk menilai setiap pola tingkah-laku mind (batin) serta untuk memperjelas eksistensi Divinity yang berdiam dan bersinar di dalam diri setiap individu.

- Divine Discourse, November 23, 1972.

Tuesday, November 6, 2007

Sai Inspires - 6th November 2007 (What is it that we must do to make the world a heaven of peace and prosperity?)

If you want to transform the world, promote all-round prosperity in the country and make the prayer "all people should be happy" become a reality, develop faith in the Self. Never forget God. Without God there is no Universe. Let the non-believers have their way. But they have no right to question the beliefs of others. To ask for physical proofs of the existence of experience like bliss or love or for subtle things like the fragrance of a flower is impracticable. To deny the reality of love on the ground that it has no recognizable form is meaningless. Love may have no form. But the mother who exhibits love has a form.

Jikalau engkau ingin merubah dunia ini (menjadi lebih baik), maka dukunglah kegiatan ataupun usaha untuk memajukan kesejahteraan yang ada di negaramu dan usahakanlah agar doa “semoga semua mahluk berbahagia” menjadi kenyataan serta tumbuhkanlah keyakinanmu terhadap Self (Atma). Janganlah melupakan Tuhan. Tanpa eksistensi Tuhan, maka dunia dan alam semesta ini tidak akan pernah ada. Biarkan saja mereka yang tidak mempunyai keyakinan atas kebenaran ini bercerita semaunya; namun yang jelas adalah bahwa mereka tidak mempunyai hak untuk mempertanyakan kepercayaan orang lain. Sungguh tidak praktis bila ada yang meminta bukti atas eksistensi pengalaman-pengalaman real seperti bliss atau cinta-kasih maupun hal-hal lainnya seperti aroma sekuntum bunga. Sementara itu, bila ada yang menyangkal realitas cinta-kasih dengan alasan bahwa pengalaman tersebut tidak dapat dilihat dalam wujud tertentu, maka alasan seperti ini juga sungguh tidak masuk akal. Mungkin cinta-kasih tidak mempunyai wujud atau rupa, namun seorang ibu yang mencurahkan cinta-kasih jelas mempunyai sosok atau wujudnya.

- Divine Discourse, September 17, 1995.

Monday, November 5, 2007

Sai Inspires - 4th November 2007 (What is the inner significance behind chanting "Shanthi" three times at the end of every prayer session?)

The word Shanthi is pronounced three times at the end of every prayer, ritual or offering. What is the meaning behind this? The first Shanthi means: "May we enjoy peace for the body." It means that the body should not get heated by feelings of jealousy, hatred, attachments and the like. Whatever news you receive about any event, you should receive it with calmness and serenity...The second Shanthi pertains to the mind. You should not get worked up when someone says something about you which is not true....and the third Shanthi refers to peace of the soul. This peace has to be realized through love. This world has to be brought back on to the rails and it is love and peace alone which can achieve this. Fill your thoughts, actions, emotions with love, truth and peace. There may be people who may hate us but love them too.

Kata “Shanthi” diucapkan sebanyak tiga kali pada bagian akhir setiap doa, ritual ataupun persembahan. Apa arti kata-kata tersebut? “Shanti” yang pertama diartikan sebagai: “Semoga kita menikmati kedamaian untuk badan jasmani.” Artinya, semoga badan fisik kita tidak menjadi panas oleh karena perasaan cemburu, benci, kemelekatan dan sejenisnya. Apapun juga jenis berita yang kau terima dalam setiap kejadian, engkau harus menerimanya secara tenang dan damai.... “Shanti” yang kedua berkaitan dengan batin (mind). Artinya, engkau harus menjaga batin atau pikiranmu untuk tidak menjadi teragitasi sebagai akibat adanya ucapan-ucapan orang lain terhadap dirimu secara tidak benar.... dan “Shanti” yang ketiga berkaitan dengan ketenangan jiwa. Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan melalui cinta-kasih. Dunia ini harus dikembalikan ke jalannya yang benar dan hal itu hanya bisa tercapai melalui jalan cinta-kasih dan kedamaian. Isilah pikiranmu, tindakanmu dan emosimu dengan cinta-kasih, kebenaran dan kedamaian. Mungkin ada orang-orang yang membenci kita, namun kita tetap perlu mencintai mereka juga.

- Divine Discourse, December 9, 1985.

Sai Inspires - 5th November 2007 (What are the ornaments that can truly beautify us and confer peace?)

"Truth is the ornament for the neck." "Charity is the ornament for the hand." "Listening to sacred scriptures is the ornament for the ears." What other ornaments does a man need if he had these three? So says a Sanskrit saying. The ornaments which people wear today are a source of fear. But if the ornaments of truth, charity, and listening to sacred discourses are worn, there is no cause for fear. This is called Abhaya (fearlessness).

“Kebenaran adalah ornamen (perhiasan) bagi leher.” “Charity (sikap kedermawanan) adalah ornamen bagi tangan.” “Mendengarkan kitab-kitab suci adalah ornamen bagi telinga.” Apakah terdapat ornamen-ornamen lainnya yang dibutuhkan oleh manusia jikalau dia sudah memiliki ketiga-tiganya? Demikian bunyi salah-satu pepatah Sanskerta. Ornamen-ornamen yang dikenakan oleh manusia dewasa ini justru merupakan sumber ketakutan bagi dirinya sendiri. Seandainya saja mereka memakai ornamen kebenaran, kedermawanan dan mendengarkan wacana-wacana yang luhur, maka di dalam dirinya tiada lagi rasa takut. Inilah yang disebut sebagai Abhaya (tiadanya rasa takut/fearlessness).

- Divine Discourse, July 9, 1995.

Saturday, November 3, 2007

Sai Inspires - 3rd November 2007 (What should be the guiding force in our life?)

Whatever you do, deem it as God's work. This can be applied to every ordinary act in daily life, whether it is sweeping the floor or cutting vegetables. Every one of these acts can be turned into a spiritual exercise by the spirit in which you do it. To perform every act as an offering to the Divine is true devotion. The world today is suffering from disorder and violence because people have lost Aathma-Vishvaasa (faith in the Self). They are fostering attachment to the body and ignoring the Spirit. Man should not follow the senses which are wayward, the body which is perishable, or the mind which is fickle. He must follow the conscience, which tells him what is right or wrong.

Apapun juga yang engkau lakukan, anggaplah itu sebagai pekerjaan untuk Tuhan. Pemikiran seperti ini bisa diaplikasikan dalam setiap perbuatan rutin sehari-hari, baik itu berupa pekerjaan menyapu lantai ataupun memotong sayur. Setiap bentuk tindakan tersebut bisa ditransformasikan menjadi latihan-latihan spiritual berkat semangat yang melatar-belakanginya. Melaksanakan setiap tindakan/pekerjaan sebagai persembahan kepada Divine jelas merupakan devotion (bhakti) yang sebenarnya. Sebagai akibat manusia yang tidak lagi memiliki keyakinan terhadap jati-dirinya yang sebenarnya (baca: Atma) (Aathma Vishvaasa), maka alhasil, dunia dewasa ini sedang mengalami kekacauan dan berbagai tindakan kekerasanpun bermunculan. Janganlah engkau mengikuti panca-inderamu yang suka bertindak semaunya, jangan pula engkau mengiktui badan jasmani yang mengalami kelapukan dan juga janganlah tunduk kepada mind (pikiran) yang suka plin-plan (tidak mantap). Sebaliknya, ikutilah conscience (hati-nurani)-mu, yang akan memberitahukan mana yang baik dan mana yang salah.

- Divine Discourse, September 17, 1995.

Friday, November 2, 2007

Sai Inspires - 2nd November 2007 (What is the hallmark of a true spiritual aspirant?)

You must be like the sandalwood tree which transmits its fragrance even to the axe that is used to cut it. When an incense-stick is lighted, it is burning itself away, but it radiates its perfume all around. In the same manner, a true devotee, should see to it that he keeps his peace intact under all circumstances. He should radiate happiness all around. This is the primary sadhana (spiritual practice). Through Sadhana, try to get that peace. Peace cannot be obtained in the world outside. Our kith and kin, our material possessions or name or fame will not give us peace. Peace is something which swells from within you. It is not something which is gathered from outside. We desire peace, but we keep doing things, which, far from giving peace, cause anxiety and worry. Trifles are allowed to upset one's peace of mind. The true spiritual aspirant should remain unaffected by what others say about him.

Jadilah seperti pohon cendana yang tetap menyebarkan harum- semerbak bahkan terhadap kapak yang digunakan untuk memotongnya. Ketika sebatang dupa dibakar, maka secara perlahan dia akan terbakar habis, namun keharumannya tetap terpancarkan ke segenap penjuru. Demikianlah, dalam kondisi yang bagaimanapun juga, seorang bhakta sejati haruslah berupaya untuk mempertahankan kedamaian-batinnya. Hendaknya ia memancarkan kebahagiaan ke segala arah. Inilah sadhana utama. Cobalah untuk mendapatkan kedamaian melalui sadhana-mu. Kedamaian tidak akan bisa diperoleh dari dunia-luar. Sanak-saudara, harta kekayaan, ketenaran dan jabatan – semuanya itu tidak akan bisa memberikan kedamaian; sebab kedamaian adalah sesuatu yang bersumber dari dalam dirimu sendiri. Kita mendambakan kedamaian, akan tetapi kita justru melakukan banyak hal yang berlawanan, yang malahan menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran. Bahkan hal-hal yang sepele saja dibiarkan menganggu ketenangan batin. Seorang aspiran spiritual sejati tidak akan terpengaruh oleh ucapan-ucapan orang lain terhadap dirinya.

- Divine Discourse, December 9, 1985.

Thursday, November 1, 2007

Sai Inspires - 1st November 2007 (What is the difference between an ordinary man and an Avatar?)

Give away 'Love' to all; give up the ego; display heroism in service; with compassion to fellowmen, feel your intimate kinship with them. Visualize the Aathma (spirit) that illumines all; derive unending Bliss therefrom. All who come Embodied are Avatars, that is to say, advents of the Divine, manifestations of God. What, then, is the special feature of Rama, Krishna, Buddha, and Christ? Why do you celebrate their birthdays with such reverential enthusiasm? The specialty is this: they are aware; you are unaware of the Aathma which is the Truth. Awareness confers Grace, Glory, Majesty, Might, and Splendour. Awareness confers liberation from bounds, from time, space and causation; from sleep, dream and wakefulness. For you, sleep is fiction; dream is fantasy and wakefulness a many-directional storm. Avatars are ever alert, aware, and alight.

Curahkanlah cinta-kasihmu terhadap setiap orang; buanglah jauh-jauh sang ego; milikilah sikap patriotik dalam tindakan pelayanan dan rasakanlah kedekatanmu dengan setiap orang. Visualisasikanlah Aatma yang menerangi semuanya serta rasakanlah bliss dari hasil visualisasi tersebut. Setiap insan sebenarnya adalah avatar atau dengan perkataan lain, mereka sebenarnya adalah manifestasi Tuhan (Divine). Bila demikian, lalu apa yang menjadi keunikan Rama, Krishna, Buddha dan Kristus? Mengapa engkau merayakan hari-jadi tokoh-tokoh tersebut dengan antusias & rasa hormat yang mendalam? Keunikan Avatar-Avatar tersebut adalah bahwa mereka menyadari ke-Avataran-Nya; sedangkan engkau tidak menyadari Aathma yang merupakan kebenaran sejati. Kesadaran bahwa dirimu merupakan Aathma akan membekalimu dengan rahmat, kemuliaan, keagungan, kekuatan dan kecemerlangan. Kesadaran itu juga akan menganugerahimu pencerahan diri dari segala bentuk kemelekatan, bebas dari ikatan ruang dan waktu serta sebab-musabab yang saling bergantungan; ibarat engkau menjadi sadar dari tidurmu dan mimpi-mimpimu. Bagimu, keadaan tidur adalah bagaikan cerita fiksi dan mimpi adalah khayalan. Seorang Avatar senantiasa dalam kondisi terjaga, waspada dan tercerahkan.

- Divine Discourse, October 10, 1983.