Thursday, April 30, 2009

Sai Inspires 30th April 2009


The scriptures (Upanishads and Bhagavad Gita) declare, "All Nature is God" and "The Lord is in all beings". When learning about the sublime secrets of the trees, appreciate the Creator and strive to understand the principles behind creation. Life is a tree. The mutual relationship we cultivate and cherish are symbolized by the branches, twigs and leaves; the thoughts arising in the mind are the flowers; Ananda (Joy) is in the fruit, Dharma is the sweet juice it contains. The tree is held firm by the very roots which fed it...roots that symbolize faith and self-confidence.  Nurture the roots well. 

Kitab-kitab suci (Upanishads dan Bhagavad Gita) menyatakan, “Seluruh Alam Semesta adalah Tuhan” dan “Tuhan ada dalam diri semua makhluk”. Ketika kita mempelajari rahasia keagungan pepohonan, hargailah Sang Pencipta dan berusahalah untuk memahami kaidah-kaidah dibalik penciptaan. Hidup bagaikan suatu pohon. Hubungan timbal-balik yang kita kembangkan dan pelihara dilambangkan dengan dahan-dahan, ranting dan dedaunan; pikiran yang muncul adalah bunga; Ananda(Kebahagiaan) ada di dalam buah, Dharma adalah rasa manis yang terkandung di dalamnya. Sang pohon ditopang dengan kokoh oleh akar-akar yang mengalirkan makanan ke pohon.. akar-akar yang melambangkan keyakinan yang teguh dan rasa percaya diri. Peliharalah sang akar dengan sebaik-baiknya. 

- Divine Discourse, February 18, 1980

Sai Inspires 29th April 2009


Riches beyond reasonable limits will result only in disaster. Unity of minds, mutual love and co-operation - these are the qualities we must develop continuously. One must not learn to live like a drop of oil on a pond, spreading all over the surface and refusing to merge with the water. One must join others in common tasks and contribute one's strength and skill to the common pool. A single thin string cannot stop even an ant, but hundreds of them twisted into a rope can hold back an elephant. This is the effect of united effort. It is a very desirable trait to work for a common cause with others in co-operation; do not believe in mere operation tasks. 

Harta benda yang melebihi batas hanya akan mengakibatkan malapetaka. Kesatuan dari pikiran, saling mengasihi dan kerja sama – itu semua adalah sifat-sifat yang harus kita kembangkan secara terus-menerus. Seseorang jangan belajar untuk hidup bagaikan setetes minyak dalam kolam air, yang menyebar ke seluruh permukaan tanpa mau berbaur menjadi satu dengan air. Seseorang harus bergabung dengan orang lain dalam menunaikan kewajiban bersama dan menyumbangkan kekuatan dan keterampilan seseorang demi kepentingan bersama. Seutas benang tidak dapat menghentikan bahkan seeekor semut, namun ratusan helai  benang yang terjalin bersama menjadi seutas tali akan mampu menahan seekor gajah sekalipun. Ini adalah hasil dari usaha bersama dalam kesatuan. Adalah hal yang sangat menguntungkan jika bekerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama. 

-Divine Discourse, Vol 14 Ch 20, Feb 18, 1980

Tuesday, April 28, 2009

Sai Inspires 28th April 2009


Living becomes a glorious experience only when it is sweetened by tolerance and love. Willingness to compromise with others' ways of living, and co-operation in common tasks - these make living happy and fruitful. Develop the Atmic awareness, the consciousness of the Divine and the acquisition of Divine attributes. Expand love and understanding.  When one consciously and steadily strives to develop these distinct human qualities, one gains valuable experience and feels equipped to transform the society. When this happens, the nation and the entire human race benefits. 

Hidup ini akan menjadi pengalaman yang menakjubkan hanya saat ia dipermanis dengan tenggang rasa dan kasih. Kemauan untuk hidup bertenggang rasa dengan gaya hidup orang lain, dan saling bekerja sama dalam menunaikan kewajiban bersama – itulah yang membuat hidup ini menyenangkan dan penuh keberhasilan. Kembangkanlah kesadaran Atmic, kesadaran Illahi dan perolehlah sifat-sifat Ketuhanan. Sebarkanlah kasih dan pengertian. Ketika seseorang dengan penuh kesadaran dan keteguhan berusaha untuk mengembangkan sifat-sifat manusia utama, ia akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga dan ia akan merasa memiliki bekal untuk mengubah masyarakat. Ketika hal ini terjadi, seluruh bangsa dan umat manusia akan memperoleh manfaatnya. 

- Divine Discourse, February 17, 1980

Sai Inspires 27th April 2009


The key discipline you must cultivate is Ahimsa (Absence of Violence)It does not merely mean not injuring a living being. You should not cause hurt even by a word, a look or a gesture. Tolerance, fortitude, equanimity - these help you to be steady in Ahimsa. They will remove all chance of your causing pain to others. This is called Sahana (Forbearance) or Kshama(Forgiveness). Assess the worth of whatever others do to you or say about you, and cultivate fortitude and the understanding to appreciate their behavior and pardon their faults. This capacity is as invaluable as truth, righteousness, renunciation and compassion. This is all that one need to possess for spiritual advancement.

Latihan spiritual pokok yang harus engkau kembangkan adalahAhimsa (Tanpa Kekerasan). Ahimsa bukan hanya berarti tidak menyakiti makhluk hidup secara fisik saja. Engkau jangan sampai menyebabkan penderitaan pada orang lain bahkan karena ucapan, tatapan atau isyarat badanmu. Tenggang rasa, keteguhan hati, ketenangan hati – hal-hal itu akan membantumu untuk tetap kukuh dalam pelaksanaan Ahimsa. Hal-hal tersebut akan menghilangkan kesempatanmu untuk mengakibatkan penderitaan pada orang lain. Itulah yang disebut dengan Sahana(Kesabaran) atau Kshama (Pengampunan). Kajilah manfaat perbuatan  orang lain terhadapmu atau ucapan orang lain tentangmu, dan kembangkanlah keteguhan hati dan pengertian untuk menghargai tingkah laku orang lain dan memaafkan kesalahan mereka. Kemampuan melakukan hal ini sama berharganya dengan kebenaran, kebajikan, tidak mementingkan diri sendiri dan rasa welas asih. Hal itulah yang diperlukan oleh seseorang untuk bisa mendapatkan kemajuan dalam spiritual. 

-Divine Discourse,  February 17, 1980

Sunday, April 26, 2009

Sai Inspires 26th April 2009


Without an ever-present faith in an all-knowing God, life is dry and drab, shadowed by despair and doom. Love for God and fear of sin are the two primary needs for a happy life. Without these two, one becomes a monster. You must be ever ready to sacrifice your selfish needs for the sake of a larger community. Be honest and be proficient in detachment, and with God installed in your hearts, march forward to offer your skills and duties steadfastly. 

Tanpa hadirnya keyakinan yang abadi pada Tuhan Yang Maha Mengetahui, hidup akan kering dan membosankan, dibayangi oleh keputusasaan dan malapetaka. Kasih untuk Tuhan dan takut akan dosa adalah dua syarat dasar demi mencapai kebahagiaan hidup. Tanpa kedua hal tersebut, seseorang akan menjadi raksasa. Engkau harus siap untuk mengorbankan sikap mementingkan diri sendiri demi kepentingan masyarakat yang lebih luas. Berlakulah jujur dan pandai dalam semangat ketidakterikatan, dan dengan Tuhan yang bersemayam di dalam hatimu, majulah dalam pengabdian untuk memberikan semua kemampuan dan melaksanakan kewajibanmu dengan penuh ketabahan. 

-Divine Discourse, March 29 , 1979

Sai Inspires 25th April 2009


Today, our lives are tainted by a desire for wealth. Wealth makes a man intoxicated. Money is necessary, but it must have a limit.  Excessive money can be harmful to the mind. It is more difficult to spend money than to earn it. It is even more difficult to take care of money earned. This difficulty has an advantage. Put the money to good use by spending it for the rural folks, and for the people in distress. Money is not the basis of this mundane world (It is not Dhana moolam idham Jagath), but it is (Dharma moolam idham jagath). Righteousness is the foundation of this world. If money grows, unrest also grows, and money brings sorrows with it. Give your money in charity and make it purposeful.   

Dewasa ini, hidup kita dicemari oleh hasrat akan kekayaan. Kekayaan meracuni manusia. Uang memang diperlukan, namun ada batasnya. Uang yang berlebihan bisa membahayakan pikiran. Adalah lebih sulit untuk memanfaatkan uang dengan baik dibandingkan dengan mencarinya.  Bahkan jauh lebih sulit untuk menjaga uang yang telah kita dapatkan. Namun kesulitan ini ada hikmahnya. Gunakanlah uang sebaik-baiknya dengan cara menyumbangkannya pada masyarakat yang tertinggal, dan pada orang-orang yang mengalami penderitaan. Uang bukan dasar dari dunia ini (bukannya Dhana moolam idham Jagath, namun sebenarnya adalah Dharma moolam idham jagath). Kebajikan adalah dasar dari dunia ini. Jika uang semakin banyak, kegelisahan juga bertambah, dan uang akan mendatangkan penderitaan bersamanya. Berikanlah uangmu untuk berderma dan buatlah uangmu menjadi bermanfaat. 

- Divine Discourse, March 28, 1979

Friday, April 24, 2009

Sai Inspires 24th April 2009


Talkative persons easily slip into scandal mongering. Too much talk and a tongue addicted to scandal are twins; for they work together in unison. A poet addressed his tongue thus, "Oh tongue, knower of taste, relisher of sweetness, always prefer the Truth and God." Even when speaking the truth, one should not inflame passion, diminish enthusiasm, or inflict injury. Follow this tenet in your life: Speak the truth,  and say it pleasantly (Sathyam Bruyath, Priyam Bruyath). If it is unpleasant, do not speak the truth. (Na bruyath, sathyam apriyam). Even if it is pleasant, do not speak falsehood. (Priyam cha na anritham bruyath) 

Orang-orang yang suka ngobrol akan dengan mudah akan terjerumus menjadi penyebar gosip. Terlalu banyak berbicara dan lidah yang kecanduan terhadap gosip adalah hal yang sama; karena mereka berdua berkerja sama secara serentak. Sebuah puisi menyebut tentang lidah sebagai berikut, “Oh lidah, sang pengenal rasa, yang menikmati rasa manis, selalu memilih Kebenaran dan Tuhan. “ Bahkan ketika berbicara mengenai kebenaran, seseorang tidaklah boleh sampai menyebabkan penderitaan, mematahkan semangat, atau menyebabkan kerugian. Patuhilah ajaran ini dalam hidupmu: Berbicaralah yang benar, dan sampaikanlah kebenaran itu secara menyenangkan (Sathyam Bruyath, Priyam Bruyath). Jika memang menyakitkan, jangan sampaikan kebenaran itu (Na bruyath, sathyam apriyam). Tetapi sebaliknya, meskipun akan menyenangkan, janganlah berbicara bohong (Priyam cha na anritham bruyath). 

-Divine Discourse, Feb 17, 1980

Thursday, April 23, 2009

Sai Inspires 23rd April 2009


Whenever any person is ill-treated or harmed, it is God who is the target of that sacrilege. Resorting to falsehood is a demon that possesses and overpowers the weak. Indulging in unnecessary talk, talk for its own sake, is a morbid habit. It is also a waste of energy. It disperses company, for no one likes to listen to a bore. If a talkative person is tolerated for a minute, he will stick to you for days. There are also others, who spread rumors and gossip, and spoil your peace of mind and poison the spring of love. You must stay away from these habits, weed the bad in you, and be engaged in developing the good in you, heightening your purity and holiness. 

Ketika seseorang diperlakukan dengan tidak baik atau disakiti, sebenarnya adalah Tuhan yang menjadi sasaran serangan tersebut. Kebohongan adalah iblis yang mempengaruhi dan menundukkan orang yang lemah. Menyibukkan diri dalam obrolan yang tidak perlu, berbicara hanya untuk kepentingan dirinya, adalah merupakan kebiasaan yang tidak baik. Hal itu juga merupakan pemborosan tenaga. Kelakuan seperti itu menghancurkan persahabatan, sebab tidak ada seorang pun yang suka mendengar hal-hal yang membosankan. Jika seseorang yang cerewet diberi waktu untuk ngobrol satu menit saja, ia akan mengikatmu berhari-hari. Juga ada orang-orang yang suka menyebarkan kebohongan dan gosip, dan menghancurkan kedamaian pikiranmu serta meracuni mata air kasihmu. Engkau harus menjauhkan diri dari kebiasaan seperti itu, hilangkanlah kebiasaan burukmu, dan sibukkanlah dirimu dalam peningkatan sifat-sifat baik dalam dirimu, mempertinggi kemurnian dan kesucianmu.

-Divine Discourse, February 17, 1980 

Sai Inspires 22nd April 2009


The body is cleansed by soap and water, but true cleanliness can be achieved only from within. The cleansing of the body may keep physical illness away, but the disease of the mind requires inner cleanliness. A perfume applied to the body might please the company around, but good thoughts and sweet conversation will please them more for a long time. As the soap is for the body, truth is for the speech, both have a high cleansing effort. The mind has to be cleansed by proper education in the crucible of renunciation. Education is the process of gaining illumination - it is the light that dispels the darkness of ignorance and doubt. It confers humility and discipline.  

Badan ini dibersihkan dengan cara mandi memakai sabun dan air, namun kebersihan yang utama hanya dapat diperoleh dari dalam diri sendiri. Pembersihan badan memang akan menjaga kita dari penyakit jasmaniah, namun untuk menjaga pikiran dari penyakit maka perlu dijaga kebersihan di dalam diri. Parfum yang disemprotkan ke badan mungkin akan menyenangkan orang-orang di sekeliling kita, namun pikiran yang baik dan perkataan yang manis akan menyenangkan orang lain untuk jangka waktu yang lama. Sebagaimana sabun untuk membersihkan badan, begitu pula kebenaran untuk membersihkan perkataan, keduanya memiliki kemampuan membersihkan yang sangat baik. Pikiran harus dibersihkan dengan pendidikan yang tepat. Pendidikan adalah proses untuk memperoleh pencerahan – pendidikan adalah cahaya yang menghilangkan gelapnya kebodohan dan keraguan. Pendidikan yang tepat akan memberikan kerendahan hati dan kepatuhan.
-Divine Discourse, February 17, 1980

Sai Inspires 21st April 2009


Cultivate not riches, or comfort, or luxuries, but Divine virtues. Speak sweetly, shed comfort with every glance of yours. Do not be slaves to your sensual desires. You should conquer lust and vanquish anger. Exile from your mind greed, hate and jealousy. Dedicate your hand to the service of the fellow human beings. To resurrect infinite love and compassion, you must kill jealousy and selfishness, and purify your hearts. Earn the true mercy of the Divine. Follow the path shown by the Lord and reach the position He holds for you.  

Tingkatkanlah kebajikan Illahi, bukannya kekayaan, atau kesenangan, atau kemewahan. Berbicaralah dengan lembut, tebarkanlah penghiburan pada setiap kehadiranmu. Jangan menjadi budak hawa nafsumu. Engkau harus mengalahkan nafsu dan menaklukkan kemarahan. Jauhkanlah dirimu dari ketamakan pikiran, kebencian dan iri hati. Persembahkanlah tanganmu untuk melakukan pelayanan kepada sesama umat manusia. Untuk bisa membangkitkan kembali kasih dan perasaan iba yang tidak terbatas, engkau harus menyingkirkan rasa iri hati dan keakuan, dan engkau harus menyucikan hatimu. Dapatkanlah kemurahan hati yang sebenarnya dari Tuhan. Ikutilah jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan dan raihlah tempat yang telah Beliau siapkan untukmu. 
-Divine Discourse, December 25, 1979

Tuesday, April 21, 2009

Sai Inspires 20th April 2009


God incarnates to inspire human beings to follow higher ideals in the Universe. Human beings may have different languages and life styles, but God is One and He is present everywhere. All religions speak of Him as Love and as attainable through love. Forms of worshipping God differ, for they are shaped by time and place, but love is the basic content of all the forms. The language of love is understood and spoken by all hearts. There is only one race, the race of mankind. One must not consider petty distinctions of nationality, race, religion and language, and withhold love. Love must flow to everyone from the heart.  Nurture this love in your hearts and experience the Divine. 

Tuhan menjelma ke dunia ini untuk mengilhami umat manusia supaya mengikuti teladan yang lebih tinggi di Alam Semesta. Umat manusia mungkin memiliki perbedaan bahasa dan gaya hidup, namun Tuhan adalah satu dan Ia ada dimana-mana. Semua agama mewacanakan Beliau sebagai Kasih dan dapat dicapai melalui kasih. Cara memuja Tuhan bisa saja berbeda-beda, karena cara-cara tersebut dibuat sesuai dengan waktu dan tempat yang berbeda, namun kasih adalah pondasi yang mendasari semua cara pemujaan tersebut. Bahasa kasih bisa dipahami dan disampaikan oleh semua hati nurani. Hanya ada satu ras yaitu umat manusia. Seseorang jangan sampai membeda-bedakan berdasar kebangsaan, ras, agama dan bahasa, namun mengesampingkan kasih. Kasih haruslah mengalir dari dalam hati kepada setiap orang. Peliharalah kasih ini dalam hatimu dan hayatilah keberadaan Tuhan. 

- Divine Discourse, December 25, 1979

Monday, April 20, 2009

Sai Inspires 19th April 2009


Develop knowledge about the higher levels of consciousness and the higher planes of existence. Knowledge leads to skill. From skill in using such knowledge, one acquires balance. You must recognize that this life is a stage in the long pilgrimage, and that we are now at a hotel, a temporary resting place. There is a watchman to the hotel, which is your mind. Do not feel permanently attached to the mind or the body. This "negative" body has the "positive" Divinity within it. When you become all embracing infinite Love, the Divine will manifest in and through you.  Try to be like the Divine. 

Kembangkanlah pengetahuan mengenai tingkat kesadaran yang lebih tinggi dan taraf kehidupan yang lebih tinggi. Pengetahuan akan mengarahkanmu pada keterampilan. Dari keterampilan dalam memanfaatkan pengetahuan tersebut, seseorang akan memperoleh keseimbangan. Engkau harus menyadari bahwa kehidupan ini adalah bagian satu babak dalam drama perjalanan suci yang panjang, dan saat ini kita ada dalam suatu tempat penginapan, suatu tempat peristirahatan yang sementara. Ada sang pengawas di tempat penginapan tersebut, yang tidak lain adalah pikiranmu. Jangan terikat selama-lamanya pada pikiran atau badan. Badan “negatif” ini memiliki Ketuhanan “positif” di dalamnya. Saat engkau semua merangkul Kasih abadi, Tuhan akan mewujud di dalam dan melalui dirimu. Cobalah untuk bisa menjadi seperti Sang Illahi. 

- Divine Discourse, December 25, 1979

Saturday, April 18, 2009

Sai Inspires 18th April 2009


Every living being is on a pilgrimage - whether he/she or it is aware or not. The Sun causes clouds in the sky by raising water from the sea as vapour; the waters of the sea fall as rain, the rain water accumulates and flows as streams and rivers, until it merges with the source, the sea.  It is faithful to its destiny; it confronts bravely all the hurdles and obstacles on the pilgrim path. Every human being has come into this world as a Messenger of God.    

Setiap makhluk hidup di dunia ini sedang berada dalam suatu perjalanan suci – entah ia menyadarinya atau tidak. Sang Mentari menimbulkan gumpalan awan di langit dengan menguapkan air dari lautan berwujud uap air; air dari lautan tersebut turun kembali ke bumi sebagai hujan, air hujan terkumpul dan mengalir bersama-sama sebagai air sungai, sampai semuanya bersatu kembali pada tujuannya, di lautan. Air tersebut dengan  penuh keteguhan menuju tujuannya; mereka menghadapi semua rintangan dan hambatan sepanjang perjalanan suci mereka dengan penuh keberanian. Setiap umat manusia datang ke dunia ini sebagai Utusan Tuhan. 

-Divine Discourse, December 25, 1979

Friday, April 17, 2009

Sai Inspires 17th April 2009



Flowers scatter fragrance, trees offer fruits in plenty. No one brings wealth when he is born or takes it with him when he dies. Whatever riches one has accumulated have to be freely shared with others. Instead of learning the lessons they teach, man pursues his own sense-cravings and his urge for fame and authority over others. Contentment is the most precious wealth. Greed brings misery in return. Contentment alone can lead man towards the goal of Divinity. 

Bunga-bunga menebarkan aroma harum semerbak, pepohonan memberikan banyak buah-buahan. Tidak seorang pun yang membawa kekayaannya saat ia lahir atau saat ia meninggal. Semua kekayaan yang diperoleh seseorang akhirnya harus dibagikan secara cuma-cuma kepada orang lain. Bukannya mempelajari pelajaran yang mereka ajarkan, manusia malah berusaha memenuhi kecanduan inderawinya dan dorongan hatinya demi ketenaran dan kekuasaan atas orang lain. Kepuasan rohani adalah kekayaan yang paling berharga. Keserakahan akan membawamu pada penderitaan. Hanya kepuasan rohanilah yang akan membawa manusia menuju pada Ketuhanan. 

- Divine Discourse,  ,December 25, 1979

Thursday, April 16, 2009

Sai Inspires 16th April 2009


Protect your mother tongue and Motherland with all your energy. Make yourselves fit for this, by making the best use of the opportunities. Progress as much as you can, without any hesitation. Develop character as well as intelligence and health. The most reliable source of strength is in you, not in money, or kinsmen or physical acumen, but in the Divinity within you. Know it, delve into it, and draw sustenance from it. See it in all, serve it in all.  

Lindungilah bahasa ibumu dan tanah airmu dengan sekuat tenagamu. Buatlah dirimu menjadi sehat untuk melaksanakan tugas ini, dengan memanfaatkan semua peluang yang ada. Majulah sejauh yang engkau bisa, tanpa keraguan sedikitpun. Kembangkanlah watak yang baik demikian juga dengan kecerdasan dan kesehatanmu. Sumber kekuatan yang paling terpercaya adalah dari dalam dirimu, bukan uang, sanak-saudara, atau ketangkasan fisik, namun ada pada Ketuhanan di dalam dirimu. Sadarilah hal ini, selidikilah sedalam-dalamnya, dan seraplah inti sari darinya. Sadarilah Ketuhanan dalam diri semua makhluk, layanilah Ketuhanan dalam semua makhluk. 

-Divine Discourse, December 8, 1979

Wednesday, April 15, 2009

Sai Inspires 15th April 2009


Have high ideals. Strive to elevate yourselves. Work to attain the highest goal, God Himself.  Whatever the obstacle or the opposition, do not be disheartened. Give up the animal in you, stabilize yourselves in human virtues, and proceed boldly towards the achievement of Divinity. Do not waver - having devotion today, tomorrow seeking sensual gratification, and then the day after, back to devotion again. When something goes wrong, you are filled with despair. When discipline is enforced, you start holding back, and when love is showered, you are first again. This dual attitude must be given up. 

Milikilah pedoman hidup yang tinggi. Berusahalah untuk meningkatkan dirimu. Bekerjalah untuk mencapai tujuan tertinggi, yaitu Tuhan itu sendiri. Apa pun hambatan atau tentangan yang muncul, jangan sampai melemahkan semangatmu. Musnahkanlah kebinatangan dalam dirimu, tetapkanlah dirimu dalam kebajikan umat manusia, dan berjalanlah terus dengan gagah berani demi mencapai Ketuhanan. Janganlah terombang-ambing – sekarang memuja dengan penuh pengabdian, esok hari mencari kepuasan hawa nafsu, dan esok lusa, kembali pada pemujaan lagi. Ketika keadaan menjadi buruk, engkau tenggelam dalam keputusasaan. Ketika disiplin dilaksanakan, engkau tersentak dan memulai lagi, dan ketika kasih itu disiramkan, engkau menjadi yang terdepan lagi untuk menerimanya. Kebiasaan yang mendua ini harus dihentikan.

-Divine Discourse, March 7, 1978

Tuesday, April 14, 2009

Sai Inspires 14th April 2009


We become what we contemplate. By constant thought an ideal gets imprinted on our hearts. When we fix our thoughts all the time of the evil that others do, our mind gets polluted by evil. On the contrary, if we fix our mind on the virtues or well-being of the others, our mind is cleansed of wrong and entertains only good thoughts. No evil thought can penetrate the mind of a person wholly given to love and compassion. 

Kita akan menjadi apa yang kita pikirkan. Dengan pemikiran yang terus-menerus maka suatu pedoman akan tercetak pada hati kita. Ketika kita memusatkan pikiran kita setiap waktu pada keburukan yang telah dilakukan orang lain kepada kita, maka pikiran kita akan tercemari oleh keburukan. Sebaliknya, jika memusatkan pikiran kita pada kebaikan atau kesejahteraan orang lain, maka pikiran kita akan dibersihkan dari kesalahan dan hanya akan mempertimbangkan pikiran-pikiran yang baik saja. Tidak ada pikiran buruk yang bisa menembus pikiran seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya pada kasih dan perasaan iba. 

-Divine Discourse, March 7, 1978

Monday, April 13, 2009

Sai Inspires 13th April 2009


You must realize that bhajan, namasmaran and puja (chanting the Name and worshipping God) are not for pleasing or making God happy, but for our own spiritual progress. Frequently, people flatter the rich and the powerful - especially when they are in their employment or are beholden to them for some precious help - in order to induce them to shower gifts on them. But God does not shower Grace on people because they sing His praises. Nor does He come down upon them because they do not worship Him. Recitation of the Divine attributes only enable us to dwell on elevating ideals and approximate ourselves more and more to the Divinity that is our true nature. 

Engkau harus menyadari bahwa bhajan, namasmaran dan puja(menyanyikan Nama Tuhan dan memuja Tuhan) bukanlah untuk menyenangkan atau membahagiakan Tuhan, namun demi kemajuan spiritual kita. Seringkali, orang-orang menyanjung mereka yang kaya dan berkuasa – apalagi jika mereka adalah yang memberi pekerjaan atau kita pernah berhutang budi atas pertolongan mereka yang sangat berharga – untuk merayu mereka supaya mau membagikan pemberian mereka. Namun Tuhan tidak menyiramkan Anugerah pada orang-orang karena mereka menyanyikan lagu pujaan untukNya. Tuhan juga tidak akan turun menemui mereka yang tidak memujaNya. Pengulang-ulangan nama dan sifat Tuhan hanyalah demi memungkinkan kita untuk merenungkan pedoman hidup yang semakin baik dan lebih mendekatkan diri kita pada Keilahian yang merupakan jati diri kita yang sebenarnya. 

-Divine Discourse, March 7, 1978

Sunday, April 12, 2009

Sai Inspires 12th April 2009


Do not develop much attachment with others and get entangled through the silken bonds of friendship or iron chain of hatred. It is good and helpful to have an enemy, for they are ever eager to criticize you for your faults than a friend who will cast a blind eye on them. The enemy takes delight in abusing you, and as a consequence, he goes on diminishing and wiping off from your account the demerits you have to live out in misery. The person displaying enmity absorbs your sins and effects. Moreover, this person makes you alert not to give him any reason to point a finger of scorn at you. He is your censor, corrector and conscience. Be thankful to him who talks ill of you, for he is doing you very great service by examining your every act on the touchstone of morality, truth and righteousness. 

Jangan membuat terlalu banyak keterikatan dengan orang lain dan terjerat dalam tali sutera persahabatan atau rantai besi permusuhan. Memang bagus dan berguna jika memiliki lawan, karena mereka berani mengkritik kesalahanmu dibandingkan dengan memiliki seorang sahabat karib yang buta akan kesalahanmu. Sang lawan senang sekali berlaku kejam terhadapmu, dan sebagai akibatnya, ia mulai mengurangi dan menghapus hutang dosa yang engkau miliki yang harus engkau jalani dalam hidup penuh kesengsaraan. Orang yang memperlihatkan permusuhan akan menyerap dosamu dan segala pengaruhnya. Lebih jauh lagi, orang ini membuatmu waspada untuk tidak lagi memberinya alasan untuk mencemoohmu. Ia adalah pengawas, pemeriksa dan kata hatimu. Berterimakasihlah pada mereka yang berkata buruk kepadamu, karena mereka melakukan pelayanan yang luar biasa dengan memeriksa segala tingkah lakumu dengan batu ujian tentang kesusilaan, kebenaran dan kebajikan. 

- Divine Discourse, May 11, 1975


 


Sai Inspires 11th April 2009


Ignoring the unity of all mankind in the Divine Soul, one relishes in quarrels and factions. He classifies some among his contemporaries as friends and some as his foes. Duality is the making of an individual. It is their own likes and dislikes, prejudices and passions that is reflected, and that creates all these reactions of love and hatred - it is the resounding echo of faction and friction. Friendship and enmity arise from your heart; they are labels fixed by you, not marks which other people are born with. The same person is the thickest friend of one and the mortal enemy of another - both because of his one act or word. Realize this truth and live in unity. 

Begitu mengabaikan kesatuan diantara seluruh umat manusia dalam Jiwa Ketuhanan, seseorang mulai gemar bertengkar dan berkelompok. Ia menggolong-golongkan beberapa orang sebaya sebagai teman dan beberapa lainnya sebagai musuh. Seseorang jadi makin terbiasa dengan sikap mendua. Adalah rasa suka dan benci mereka sendiri, prasangka dan nafsu keinginan yang tercermin, dan yang membuat semua reaksi berupa cinta dan benci – itu adalah gema yang terdengar berulang-ulang dari kelompok dan perselisihan diantara mereka. Pertemanan dan permusuhan berasal dari dalam hatimu; mereka adalah nama yang ditentukan olehmu, bukan tanda yang dimiliki orang lain sedari lahir. Seseorang engkau anggap sebagai sahabat yang paling erat sementara orang lain adalah musuh besarmu – keduanya karena kelakuan atau kata-katanya. Sadarilah kebenaran ini dan hiduplah dalam kesatuan. 

- Divine Discourse, May 11, 1975

Friday, April 10, 2009

Sai Inspires 10th April 2009


Illness is caused by the malnutrition of the mind than of body. Doctors speak of vitamin deficiency; I will call it the deficiency of 'Vitamin G' and I will recommend the repetition of the Name of God with accompanying contemplation of the glory and grace of God. That is the 'Vitamin G'.  That is the medicine. Regulated life and habits are two-thirds of the treatment, while the medicine is only one-third. 

Penyakit lebih disebabkan oleh kekurangan gizi untuk pikiran dibandingkan dengan untuk badan. Para dokter berbicara mengenai kekurangan vitamin; Aku akan menyebutnya sebagai kekurangan ‘Vitamin G’ dan Aku meresepkan pengulangan Nama Tuhan sembari memusatkan pikiran pada keagungan dan anugerah Tuhan. Itu adalah ‘Vitamin G’. Itu adalah obatnya. Hidup dan kebiasaan yang teratur adalah dua per tiga bagian dari penyembuhan, sementara obat hanyalah sepertiga bagian. 

- Divine Discourse, April 28, 1975

Thursday, April 9, 2009

Sai Inspires 9th April 2009


Cultivate unity and brotherhood. A single fiber of hemp cannot bind even an ant. Thousands rolled into a rope can tame a wild elephant into quiet submission. In unity lies strength, joy and prosperity of the entire society. 

Kembangkanlah persatuan dan persaudaraan. Seutas benang tidak akan bisa mengikat bahkan seekor semut. Ribuan utas benang yang digulung menjadi seutas tali dapat menjinakkan seekor gajah liar menjadi patuh dan tenang. Dalam kesatuan terdapat kekuatan, kebahagiaan dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat. 

- Divine Discourse, Feb 23, 2009

Wednesday, April 8, 2009

Sai Inspires 8th April 2009


You have it in your power to make your days on earth a path of flowers, instead of a path of thorns. Recognize the Lord present in every heart, and all will be smoothness, softness and sweetness for you. The Lord will be the fountain of Love in your heart, and in the hearts of all with whom you come in contact.  Know that the Lord is Omnipresent in You, and in every other being. Adore everyone as you adore the Lord. Allow the others as much freedom as you like to enjoy, and do unto him just as you would like to be done to you. Don't do unto him anything you don't like to be done unto you. This is the sum and substance of your spiritual effort.

Engkau memiliki kekuatan untuk memilih jalan bunga, bukannya jalan penuh semak berduri. Lihatlah keberadaan Tuhan dalam hati setiap makhluk, dan semua akan menjadi halus, lembut dan menyenangkan bagimu. Tuhan akan menjadi mata air Kasih dalam hatimu, dan dalam hati setiap orang yang bertemu denganmu. Ketahuilah bahwa Tuhan ada di dalam dirimu, dan di setiap makhluk lain. Perlakukanlah setiap orang sebagaimana engkau memperlakukan Tuhan. Berikanlah kebebasan kepada orang lain sebanyak yang engkau ingin dapatkan, dan perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan oleh orang lain. Jangan melakukan sesuatu hal yang tidak ingin engkau terima terhadap orang lain. Semua akan terkumpul dan menjadi wujud dari usaha spiritualmu

- Divine Discourse, May 11, 1975.

Tuesday, April 7, 2009

Sai Inspires 7th April 2009


The body that man bears is essentially the receptacle of God. It is a temple, where God is installed and where God is the Master. It does not deserve all the attention you now pay to fulfill its urges, needs and whims. The Divine is the core, the essence of your being. God is everywhere; when He is recognized and adored as the Indweller of your body, it becomes a Temple and it is no more a burden. God is shining, announcing Himself through you. He is expressing Himself through every thought, word and deed that emanates from you. 

Badan yang dimiliki manusia pada dasarnya adalah tempat tinggal Tuhan. Badan adalah kuil, dimana Tuhan bersemayam dan dimana Tuhan adalah Pemiliknya. Badan tidak memerlukan semua berhatian sebagaimana yang engkau berikan sekarang ini untuk memenuhi desakannya, keinginannya dan tingkahnya. Ketuhanan adalah intinya, sari pati dari keberadaanmu. Tuhan ada dimana-mana; saat Tuhan diakui dan disembah sebagai penghuni badanmu, maka badanmu akan menjadi sebuah Kuil dan bukan lagi sebagai beban. Tuhan memancarkan cahaya, memberitahukan kehadiranNya melalui dirimu. Tuhan menyatakan diriNya melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yang muncul dari dalam dirimu. 

- Divine Discourse, April 28, 2009.

Monday, April 6, 2009

Sai Inspires 6th April 2009


Rig Veda teaches the lesson of serenity. Peace is like rose water scent; when it is sprinkled on you, smell it but don't drink it - that is to say, accept it and thrive on it. Blame is like a medicine. Examine yourselves whether you have the illness and if you have, accept the blame and benefit by it. 

Rig Veda mengajarkan kedamaian. Kedamaian itu bagaikan keharuman air bunga mawar; saat dipercikkan kepadamu, ciumlah wanginya namun jangan minum airnya – dengan kata lain, terimalah dan berkembanglah dengan baik. Kesalahan adalah bagaikan obat. Periksalah dirimu apakah dirimu menderita sakit dan jika ya, maka akuilah kesalahanmu dan ambillah makna yang diberikan olehnya. 

-Divine Discourse, April 20, 1975

Sai Inspires 5th April 2009


Body is an assembly of various organs. No single organ can constitute a body. When the various organs get separated, the human body gets weakened and even loses its existence. One should find God in every object. Bulbs of different colors and voltages glow when the same current passes through them. Similarly, we should develop the habit of visualizing unity in diversity, and not diversity in the unity that is divine. God is everywhere and in everyone. The whole universe is inhabited by Him.

Badan ini adalah gabungan dari bermacam anggota badan. Tidak ada satu anggota badan pun yang dapat mewakili badan. Ketika bermacam anggota badan tersebut dipisahkan, badan manusia akan menjadi lemah bahkan akan kehilangan kehidupannya. Orang harus menemukan Tuhan dalam setiap makhluk. Bola lampu pijar dengan warna dan voltase yang berbeda akan bersinar ketika arus listrik yang sama mengalir melalui mereka. Demikian juga, kita harus mengembangkan kebiasaan untuk menyatakan kesatuan di dalam perbedaan, dan bukannya perbedaan dalam kesatuan yang illahi. Tuhan ada dimana-mana dan di dalam diri setiap orang. Seluruh alam semesta didiami oleh Tuhan.

- Divine Discourse, April 10, 1975.

Saturday, April 4, 2009

Sai Inspires 4th April 2009


When you win the Love of God, His compassion will flow unto you. Love gives and forgives. Ego gets and forgets. Live without hating others, condemning others, or seeking faults in others. Doing good to others is the only meritorious act. Doing evil is the most heinous sin. When you feel you cannot do good, at least desist from doing evil; that itself is a meritorious service. Do not try to discover the differences, discover unity.

Ketika engkau memenangkan Kasih Tuhan, rasa kasih Tuhan akan mengalir ke dalam dirimu. Kasih itu memberi dan memaafkan. Keakuan itu menerima dan melupakan. Hiduplah tanpa membenci orang lain, menyalahkan orang lain, atau mencari-cari kesalahan orang lain. Berlaku baik terhadap orang lain adalah kelakuan yang patut dipuji. Berlaku jahat kepada orang lain dosa yang paling mengerikan. Ketika engkau merasa belum mampu melakukan perbuatan baik, paling tidak berpantanglah untuk melakukan perbuatan jahat; melakukan hal yang seperti itu saja sudah merupakan pelayanan yang terpuji. Jangan pernah berusaha untuk mencari-cari perbedaan, temukanlah kesatuan.

 - Divine Discourse, April 4, 1975