Sunday, May 31, 2009

Sai Inspires 31st May 2009


A devotee is like a needle which is always drawn towards the magnet. But the needle has to be near enough and must be clean. If you stay far away and complain that Grace has not come, what can be done? You must scrape off the mud and rust by the process of repentance. Sometimes, you come near for some time and stray way.  I do not mean the physical distance. I do not measure distance in miles or meters. Realize that I am always with you, in you, beside you, ever. Only you have to be aware of Me and make use of My presence. 

Seorang bhakta adalah bagaikan sebuah jarum yang selalu tertarik ke arah magnet. Namun si jarum tersebut haruslah cukup dekat dengan magnet dan harus bersih. Jika engkau berada jauh dari Tuhan dan mengeluh bahwa AnugerahNya tak kunjung datang, apa lagi yang bisa dilakukan? Engkau harus menghilangkan lumpur dan karat dengan proses yang berulang-ulang. Sesekali, engkau mendekat untuk suatu waktu namun kadang kala menjauh dan tersesat. Yang Aku maksudkan bukanlah jauh dalam arti badaniah. Aku tidak mengukur jarak dalam mil atau meter. Sadarilah bahwa Aku selalu bersamamu, di dalam dirimu, disampingmu, selalu. Hanya saja engkau harus menyadari diriKu dan memanfaatkan kehadiranKu. 

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Sai Inspires 30th May 2009


You must make service a part and parcel of your life. Youth is an important stage when self-control, self-examination and self-effort are most needed. Channelize the courage, optimism and strength in constructive channels. You must act what you speak and speak what you think. That will give you inner joy and contentment. You have to dedicate yourself to service, that is saturated in selfless love. The service you render must give satisfaction and relief of those you serve.  The joy of the recipient must be your sole objective. 

Engkau harus menjadikan pelayanan tanpa pamrih sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidupmu. Masa muda adalah adalah tingkat yang penting dimana pengendalian diri, pengujian diri dan usaha secara mandiri adalah yang paling utama. Salurkanlah keberanian, optimisme dan kekuatan melalui  saluran-saluran yang membangun. Engkau harus melakukan apa yang engkau katakan dan mengatakan apa yang engkau pikirkan. Itu akan memberimu kebahagiaan dan kepuasan diri. Engkau harus mempersembahkan dirimu pada pelayanan, yang penuh dengan kasih tanpa mementingkan diri sendiri. Pelayanan yang engkau lakukan haruslah memberi kepuasan dan meringankan beban mereka yang engkau layani. Kebahagiaan si penerima haruslah menjadi tujuanmu satu-satunya. 

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Friday, May 29, 2009

Sai Inspires 29th May 2009


When the rain drop falls into the sea, it gets the name, form and nature of sea. So too, when the individual merges with the vast concourse of humanity and feels one with all, it is endowed with the name, form and nature of the Divine. Whatever you do as service, to whomsoever you offer the act, believe that it reaches the God in that person. This is the meaning of Ishwara sarva bhutaanaam (God is present in everyone)Dedicate all your actions to God. Do your actions as Ishwararpanam (Offering to God). 

Ketika rintik hujan jatuh ke laut, ia akan mendapatkan nama, bentuk dan sifat lautan. Demikian juga, ketika seseorang melebur dengan umat manusia seluruhnya dan merasa satu dengan semua, ia akan mendapatkan nama, bentuk dan sifat Ketuhanan. Apapun yang engkau lakukan sebagai tindakan pelayanan, kepada siapapun engkau haturkan pekerjaan itu, percayalah bahwa semua itu akan sampai pada Tuhan yang ada di dalam diri orang tersebut. Ini adalah arti yang sebenarnya tentang Ishwara sarva bhutaanaam (Tuhan hadir dalam diri setiap orang). Persembahkanlah semua pekerjaanmu kepada Tuhan. Laksanakanlah pekerjaanmu sebagai Ishwararpanam(Persembahan kepada Tuhan). 

- Divine Discourse, July 27, 1980

Thursday, May 28, 2009

Sai Inspires 28th May 2009


You must demonstrate that Love, Peace, Righteousness, Truth and acts of Loving Service, rendered in a spirit of humility and reverence, is what makes people happy.  We need not concentrate on production of more food or building of more houses or manufacturing more cloth. What is most needed today is a total effort to make human beings manifest more tolerance, more humility, more brotherliness, more compassion and deeper awareness of the springs of joy and peace that lie within the heart of each one. Be in the forefront of this spiritual adventure.  

Engkau harus menunjukkan bahwa Kasih, Kedamaian, Kebajikan, Kebenaran dan Pelayanan Kasih, dilakukan dengan rasa rendah hati dan penuh pengabdian, adalah yang akan membawa kebahagiaan pada manusia. Kita jangan terlalu memberi perhatian berlebih pada produksi makanan yang lebih banyak atau membangun lebih banyak rumah atau membuat lebih banyak pakaian. Apa yang paling diperlukan saat ini adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk membuat umat manusia mampu mewujudkan lebih banyak tenggang rasa, lebih berperikemanusiaan, meningkatkan rasa persaudaraan, lebih banyak rasa welas asih dan kesadaran yang lebih dalam akan mata air kegembiraan dan kebahagiaan yang sebenarnya telah ada di dalam hati setiap manusia. Jadilah yang terdepan dalam perjalanan spiritual ini. 

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Wednesday, May 27, 2009

Sai Inspires 27th May 2009


Service is prescribed as one of the nine steps to realize God. You must therefore be earnest and welcome all chances to serve the sick, disabled, diseased and the distressed. Holding a fruit in the hand is just a preliminary step. Without eating and digesting, you cannot he healthy and happy. Similarly, unless you serve, you will not attain joy and bliss. Your acts of service will be judged based on your mental attitude that is accompanying them. So, whatever work is allocated to you, do it with fervor, understanding of its importance and developing reverence towards it.  In service, there can be no high or low, for God is in all.  

Pelayanan tanpa pamrih adalah salah satu dari sembilan langkah untuk mencapai Tuhan. Dengan demikian engkau harus bersungguh-sungguh dan menyambut setiap kesempatan untuk melayani mereka yang sakit, cacat dan menderita. Memegang buah dalam genggaman tangan hanyalah satu langkah awal. Tanpa memakan dan mencernakannya, engkau tidak akan mendapatkan manfaat kesehatan dan kebahagiaan. Sama halnya, kalau engkau belum melakukan pelayanan tanpa pamrih, engkau tidak akan mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan. Kegiatan pelayananmu akan dinilai berdasarkan sikap mental yang menyertainya. Jadi, apapun tugas yang diserahkan kepadamu, lakukanlah dengan penuh semangat, penuh pemahaman akan pentingnya pelayanan dan kembangkanlah rasa hormat berkenaan dengan hal tersebut. Dalam kegiatan pelayanan, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, karena Tuhan ada dalam semuanya. 

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Tuesday, May 26, 2009

Sai Inspires 26th May 2009


Through service you realize that all beings are waves of the Ocean of Divinity. No other spiritual practice can bring you into the incessant contemplation of the Oneness of all living beings. You feel another's pain as your own; you share another's success as your own. To see everyone else as yourself and yourself in every one is the core of spiritual practice. This spirit makes you humble before the suffering of others. When you rush to render help, you do not calculate how high or low one's social or economic status is. Thus, the hardest heart is slowly softened into sweetness by the opportunities of service. 

Melalui kegiatan pelayanan engkau akan menyadari bahwa semua makhluk hidup adalah ombak gelombang dari Lautan Illahi. Tiada latihan spiritual lainnya yang mampu membawamu pada pemusatan pikiran yang tiada henti-hentinya akan Kesatuan semua makhluk hidup. Engkau akan merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaanmu; engkau akan menganggap kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaanmu juga. Melihat orang lain sebagai dirimu dan melihat dirimu dalam diri orang lain adalah inti dari latihan spiritual. Semangat ini membuatmu menjadi peka terhadap penderitaan orang lain. Ketika engkau bersemangat untuk menolong orang lain, jangan sampai menghitung-hitung seberapa tinggi atau rendah status sosial orang yang akan engkau tolong. Dengan demikian, hati yang paling keras pun akan secara perlahan-lahan menjadi lembut dengan cara melakukan pelayanan tanpa pamrih.

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Monday, May 25, 2009

Sai Inspires 25th May 2009


Doing something because it is being done elsewhere is a sign of ignorance. The service programs must satisfy a need, solve a local difficulty and must be adapted to local conditions. Do not think of the satisfaction of doing something concrete or about the name, fame or praise you will win. Do not crave for publicity... crave for the joy that shines in the face of the people whom you help. Selfless service brings you nearer to Me. The flower that is your heart gets the fragrance by means of your selfless service and becomes more acceptable to me. 

Melakukan sesuatu karena ikut-ikutan (sudah pernah dilakukan di tempat lain) adalah tanda ketidaktahuan. Kegiatan pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan, menyelesaikan kesulitan dan masalah setempat serta harus disesuaikan dengan keadaan setempat. Jangan sekali-kali berpikir akan kepuasan diri sendiri dalam mengerjakan sesuatu yang nyata atau demi reputasi, kemashyuran atau pujian yang akan engkau dapatkan. Jangan sampai mengejar supaya terkenal atau demi publisitas… kejarlah pancaran kebahagiaan dari raut wajah mereka yang telah engkau tolong. Pelayanan tanpa pamrih akan membawamu semakin dekat padaKu. Keharuman bunga akan didapat oleh hatimu dari pelayanan yang tanpa pamrih dan itulah yang lebih diterima olehKu. 

- Divine Discourse, Nov 14, 1975

Sunday, May 24, 2009

Sai Inspires 24th May 2009


Attachment, affection, interest... these will create prejudice, partiality, and illusion. They hide the truth and dull the intelligence. Attachment is a disease, as far as the path of enquiry is concerned. One has to be free from favorites, fancies and fondness. Once you attach yourself to a person or habit or mannerism, it will be difficult for you to shake them off.

Keterikatan, kecintaan, kepentingan… semua itu akan menciptakan prasangka, keberpihakan, dan khayalan. Mereka semua menyembunyikan kebenaran dan menumpulkan kecerdasan. Keterikatan adalah penyakit, sepanjang yang menyangkut jalan kerohanian. Manusia harus terbebas dari kesayangan, khayalan dan kecintaan yang berlebihan. Sekali engkau mengikatkan diri pada seseorang atau kebiasaan atau perangai seperti itu, akan menjadi sangat sulit bagimu untuk menghilangkan mereka.

- Divine Discourse, 10 July, 1980

Sai Inspires 23rd May 2009


Expansion is the key note of education. The first step for this expansion is the home, where you must revere and please your parents who gave you this chance to live and learn. If you ill-treat them or inflict grief on their minds, how can you ever gladden others by service and understanding? You know that when a balloon is blown, it bursts and the air inside it merges with the vast limitless expanse outside. So too your love must fill your home and your society, and finally burst even those bonds and become worldwide. A drop of water held in the palm evaporates soon; it is very alone. But drop it into the sea - it survives! It assumes the name, the majesty and the might of a sea! Cultivate the seeds of love in all hearts!

Perkembangan adalah inti sari dari pendidikan. Langkah pertama untuk perkembangan ini adalah berasal dari rumah, dimana engkau harus menghormati dan membahagiakan orang tuamu yang telah memberimu kesempatan untuk hidup dan belajar. Jika engkau memperlakukan mereka dengan tidak baik atau mengakibatkan pikiran mereka menderita, bagaimana mungkin engkau bisa membahagiakan orang lain melalui semua pelayanan dan pengertianmu? Engkau tahu bahwa ketika sebuah balon terus ditiup, ia akan meletus sehingga udara yang tadinya di dalam balon akan bersatu dengan udara di luar yang sangat banyak dan tak terhingga. Demikian juga dengan kasihmu yang harus memenuhi rumah dan lingkunganmu, dan pada akhirnya dia akan meledakkan semua ikatan dan menyebar ke seluruh dunia. Setetes air di telapak tangan akan dengan cepat hilang menguap; dia yang sendiri. Namun tuangkanlah setetes air tersebut di laut – maka ia akan bertahan! Setetes air tadi akan dianggap sama dengan nama, keagungan dan kekuatan lautan! Semaikan dan kembangkanlah bibit kasih dalam hati semua umat manusia!

- Divine Discourse, July 25, 1975

Friday, May 22, 2009

Sai Inspires 22nd May 2009


When you are true and brave, kind and compassionate, virtuous and pious, the world can have an era of peace and joy. Beware of the two evil sirens that entice you into futility and frivolity: Cinema and Novel. They contaminate young and innocent minds, and corrupts them; they destroy basic humanness and degrade a good individual. Do not get tempted into the wilderness of vice. Youth must grow into strong and straight spiritual aspirants who scale the heights of spiritual life. 

Ketika engkau benar dan berani, baik hati dan welas asih, berbudi baik dan saleh, dunia akan berada pada masa penuh kedamaian dan kebahagiaan. Waspadalah terhadap dua macam penggoda yang akan memikatmu pada kehampaan dan keteledoran yaitu: film bioskop dan novel roman yang tidak baik. Mereka mencemari  pikiran generasi muda yang masih belia dan belum berdosa, dan merusaknya; mereka menghancurkan dasar-dasar kemanusiaan dan menurunkan martabat orang baik. Jangan terbujuk untuk terjerumus pada rimba belantara kejahatan. Generasi muda harus tumbuh menjadi kuat dan menjadi murid spiritual yang lurus, yang akan menaikkan taraf kehidupan spiritual. 

- Divine Discourse, July 25, 1975

Sai Inspires 21st May 2009


The Universe is a University for those who care to watch and learn. Education has to tend to the body, mind and spirit in addition to the intelligence. Awareness is life. The farmer, the  carpenter, the smith, the sculptor, the merchant - all have the need to be aware of their duties and responsibilities. Education must foster and fix their skills and standards. It must also encourage the acceptance of the good and the rejection of the bad. Spiritual education should be part and parcel of all types and levels of education. Spiritual and secular education are like two halves in the seeds of pulses - the germs that sprout are in between the two.   

Alam semesta ini adalah Universitas untuk mereka yang mau mengamati dan belajar. Pendidikan dimaksudkan untuk memelihara badan, pikiran dan jiwa dan juga kecerdasan. Kesadaran adalah kehidupan. Petani, tukang kayu, pandai besi, pemahat patung, pedagang – mereka semua harus menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pendidikan harus membantu perkembangan dan menentukan keterampilan dan standar. Pendidikan harus diarahkan untuk menerima hal-hal yang baik dan menolak keburukan. Pendidikan kerohanian seharusnya juga menjadi bagian dan paket dalam semua bentuk dan tingkat pendidikan. Pendidikan kerohanian dan keduniawian adalah bagaikan dua bagian dalam rambatan gelombang – benih yang bersemai berada diantara kedua bagian tersebut. 

- Divine Discourse, Jul 25, 1975

Thursday, May 21, 2009

Sai Inspires 20th May 2009


Treat mercifully those who struggle to survive. Help them as much as you can. Realize your responsibilities. Move reverentially with others. Win the blessings of God and earn good fame amongst your fellow brothers and sisters. Examine your daily activities on the touchstone of righteousness. May you become individuals shining in virtue.    

Perlakukanlah mereka yang telah berusaha keras untuk bertahan hidup dengan penuh belas kasihan. Bantulah mereka sepenuh kemampuanmu. Sadarilah tanggung jawabmu. Berlakulah lebih hormat kepada orang lain. Menangkanlah anugerah Tuhan dan raihlah keharuman nama diantara saudara-saudarimu. Ujilah kegiatanmu sehari-hari dengan batu ujian kebajikan. Semoga engkau menjadi orang yang bersinar dalam kebaikan. 

- Divine Discourse, Sep 21, 1980

Tuesday, May 19, 2009

Sai Inspires 19th May 2009


To presume that peace comes either from wealth, or from kith or kin is a great error. Peace comes only from God. In fact, there is no strength superior to Love. Where Love is, there everything is. You must Love God and live in love. Everything shall be alright. You must make others also live in love .

Jika kita mengira bahwa kedamaian berasal dari kekayaan, atau dari kenalan atau sanak saudara adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Padahal sebenarnya, tiada kekuatan yang melebihi Kasih. Dimana ada Kasih, disanalah ada segalanya. Engkau harus mengasihi Tuhan dan hidup dalam kasih. Maka semuanya akan baik-baik saja. Engkau juga harus membuat orang lain hidup dalam kasih juga.

- Divine Discourse, Sep 21, 1980

Monday, May 18, 2009

Sai Inspires 18th May 2009


Liberation is giving up of the unreal. Let us suppose you want a cup of fruit juice. Unless you throw away the water already in the cup, you cannot pour the juice in the cup. Similarly, unless you give up materialism, Atma bhava (spiritual attitude) cannot come to you. Moksha (Liberation) is not a distinct and different spiritual discipline. It is only giving up unnecessary desires. Ignorance is the cause of jealousy, and jealousy is the cause of disharmony. And disharmony is the cause of anger. Through anger, wisdom is lost. The real spiritual wisdom is seeing "One in All" at all times. If there is duality or differences, wisdom declines.

Kebebasan diperoleh dengan menghilangkan khayalan. Andaikan engkau ingin segelas jus buah. Selama engkau belum membuang air yang telah memenuhi gelas itu sebelumnya, engkau tidak akan dapat menuangkan jus tersebut kedalamnya. Demikian halnya, sebelum engkau menghilangkan keterikatan pada benda-benda duniawi, Atma bhava (sikap tingkah laku spiritual) tidak akan bisa masuk ke dalam dirimu. Moksha (Kebebasan) bukanlah merupakan disiplin spiritual yang berbeda dan terpisah. Semua itu hanyalah tentang bagaimana kita melepaskan diri dari segala keinginan yang tidak perlu. Kebodohan adalah penyebab dari iri hati, dan iri hati menyebabkan ketidakharmonisan. Dan ketidakharmonisan adalah penyebab kemarahan. Karena amarah, lenyaplah kebijaksanaan. Kebijaksanaan spiritual sejati adalah melihat “Tuhan dalam Diri Semua Makhluk” setiap waktu. Jika masih ada dualitas atau perbedaan, maka terbenamlah kebijaksanaan.

- Divine Discourse, Sep 21, 1980

Sunday, May 17, 2009

Sai Inspires 17th May 2009


Just as you prescribe minimum qualifications for every profession, the minimum qualification for Grace is surrender of egoism, control over senses, and regulated food and recreation. The body is the boat on which we voyage across the ocean of our worldly lives. It has to be kept trim and sea-worthy.  The atmosphere we breathe in, the water we take in, the ground we live in, the animals and plants that surround us - all have to be maintained clean. Exercise, bathing, washing and cleaning activities are prescribed for this purpose. So also, the voyager too, must be strong, confident and courageous. 

Sebagaimana engkau harus memenuhi syarat tertentu untuk setiap profesi pekerjaan, syarat minimun untuk mendapatkan Anugerah Tuhan adalah melepaskan rasa keakuan, mengendalikan indera, dan mengatur makanan serta tamasya. Badan ini adalah kapal yang kita gunakan untuk mengarungi lautan kehidupan duniawi. Kapal tersebut harus selalu dijaga kondisinya dan layak untuk berlayar. Atmosfer tempat kita bernafas, air yang kita minum dan gunakan, bumi tempat kita berpijak dan hidup, binatang dan tumbuhan di sekitar kita – semua harus dijaga kebersihannya. Kegiatan olahraga, mandi, mencuci dan mencuci adalah hal-hal yang harus dilakukan untuk menjalani kehidupan. Namun juga, sang penjelajah kehidupan, haruslah kuat, percaya diri dan berani. 

- Divine Discourse, Sep 1980

Sai Inspires 16th May 2009


Virtue can be cultivated through voluntary, selfless service to the living beings. A virtuous person can be both healthy and happy. Virtue must flow through the triple channels of love, mercy and detachment, if it has to feed the roots of Service. Human beings are endowed with the instinct of gregariousness, in order to tread the path of mutual sympathy, continuous compassion and concrete service. Virtue is the panacea to lead a healthy and happy life.  

Kebajikan dapat ditingkatkan dengan cara melakukan perkerjaan secara sukarela, pelayanan tanpa pamrih kepada umat manusia dan semua makhluk. Seseorang yang berbudi pekerti luhur bisa memiliki kesehatan dan kebahagiaan sekaligus. Kebajikan harus mengalir melalui tiga saluran yaitu kasih, kemurahan hati dan ketidakterikatan, jika kebajikan tersebut harus menjadi sumber bagi Pelayanan. Umat manusia diberkahi dengan naluri untuk hidup berkelompok, untuk melangkah di jalan simpati yang saling timbal balik, rasa welas asih yang terus mengalir dan pelayanan yang nyata. Kebajikan adalah obat mujarab untuk bisa menuju pada hidup yang sehat dan bahagia. 

- Divine Discourse, Sep, 1980

Friday, May 15, 2009

Sai Inspires 15th May 2009


A person is made or marred by the company he/she keeps. A bad man who falls into good company is able to shed his evil habits quickly and shine forth in virtue. A good person falling into evil company is overcome by the subtle influence and slides down into doing evil. The lesser is overpowered by the greater, hence be watchful at all times. 

Seseorang bisa dibentuk atau dirusak tergantung dari lingkungan pergaulannya. Orang jahat yang berada dalam lingkungan pergaulan orang-orang yang baik bisa dengan perlahan-lahan menghilangkan kebiasaan buruknya dan kemudian bersinar dalam kebajikan. Orang yang baik jika tergelincir dalam pergaulan yang buruk bisa terkena pengaruh buruk mereka sehingga bisa terjerumus menjadi orang jahat. Orang yang lemah akan dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih kuat, maka dari itu waspadalah selalu setiap waktu. 

- Divine Discourse, July 27, 1980

Thursday, May 14, 2009

Sai Inspires 14th May 2009


To have the vision of God, one should become the master, for the Master alone can have access to the treasure-chest. You have to master the senses and all other faculties. One should not be the servant of the senses, and of the whims and fancies of the emotions and passions. The servant has access only to the cheap and perishable junk of the house-hold. The treasure-chest of life, therefore, cannot be viewed by eyes blinded or befogged by egoism, greed and envy. Therefore, engage yourselves in sadhana (spiritual practice), without any delay. Cultivate virtues, free yourself from evil habits, thoughts, words and deeds. Grow in love and greet Nature with Love. This is the way to Joy, Ananda. 

Untuk mendapatkan penampakan Tuhan, seseorang harus menjadi tuan penguasa indera, karena hanya tuanlah yang memiliki jalan masuk ke tempat penyimpanan harta karun. Engkau harus mampu menguasai semua indera dan bakatmu yang lain. Seseorang jangan sampai menjadi budak dari inderanya, dan segala tingkah serta khayalan dari perasaan dan nafsu. Sang budak hanya bisa memiliki jalan ke sampah rumah tangga yang tidak berguna dan rusak. Tempat penyimpanan harta karun kehidupan, oleh sebab itu, tidak dapat dilihat oleh mata yang dibutakan oleh rasa keakuan, ketamakan dan iri hati yang membuat kabur penglihatan. Maka, sibukkanlah dirimu dalam sadhana (latihan spiritual), sekarang juga tanpa membuang-buang waktu. Kembangkanlah kebajikan, bebaskanlah dirimu dari kebiasaan, pikiran, perkataan dan perbuatan yang buruk. Tumbuhlah dalam kasih dan sambutlah Alam dengan penuh Kasih. Inilah jalan menuju Kebahagiaan, Ananda. 

- Divine Discourse, July 27, 1980

Wednesday, May 13, 2009

Sai Inspires 13th May 2009


Divinity is deep in the core of the consciousness of everyone. We do not keep gold, jewels and valuables in the verandahs and the quadrangles of our homes; we keep only pots and baskets there. We place our jewels in an iron safe or secure enclosure, in an inner room, away from public gaze. The body is liable to fall, rot and get burnt. When one ages, we say that one is nearing their end faster and faster. In the box called 'body' is the treasure'Atma'. The sea keeps its valuable pearls deep down, close to the bed. It scatters cheap shells on the shore, where people can pick them. So, to get the treasure from the body, that is, to perceive the Atma, your inquiry must turn inward.  

Sifat Ketuhanan bersemayam jauh di dalam pusat kesadaran setiap orang. Kita tidak mungkin menaruh emas, perhiasan dan barang-barang berharga semacamnya di beranda atau halaman rumah; yang kita taruh di sana hanyalah pot bunga dan wadah keranjang. Kita menyimpan perhiasan kita di dalam brankas besi atau tempat pengaman yang lain, di dalam suatu ruangan, jauh dari pandangan orang. Badan ini akan pasti pernah jatuh, menjadi semakin tua dan terbakar. Ketika seseorang menjadi semakin tua, kita katakan bahwa orang tersebut semakin mendekati akhir dengan cepat dan semakin cepat. Di dalam bungkus bernama ‘badan’ terdapatlah harta karun yang disebut ‘Atma’. Sang samudera menjaga mutiara jauh di dalam lautan, dekat dengan dasarnya. Lautan menebarkan kerang-kerang murahan di pantai, dimana orang-orang bisa mengambilnya dengan mudah. Jadi, untuk memperoleh harta karun dari badan kita, yaitu untuk melihat dan memahami Atma, pencarianmu harus diarahkan ke dalam diri sendiri. 

- Divine Discourse, 28 April 1975

Sai Inspires 12th May 2009


A sense of elation and exultation keeps the body free from ill-health. Evil habits that one indulges in is the chief cause of the mental and physical diseases. Greed affects the mind, disappointment makes one depressed. Each one can justify their existence only by cultivation of the virtues. Once you have virtues, you become a worthy candidate for Godhood. It is progress in virtue that announces the progress of a person towards Divinity. Virtue also confers skill, freshness and long years of youthfulness. Start cultivating and growing virtues that are divine in you, today. 

Perasaan ceria dan gembira bisa menjaga badan supaya terbebas dari penyakit. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan seseoranglah yang menjadi penyebab utama dari penyakit, baik itu penyakit jasmaniah maupun mental. Ketamakan mencemari pikiran, kekecewaan membuat seseorang menjadi tertekan. Seseorang bisa diakui keberadaannya sebagai manusia hanya dengan cara menumbuhkan kebajikan. Setelah engkau memiliki kebajikan, maka engkau akan menjadi calon yang layak untuk mendapat anugerah Tuhan. Adalah peningkatan kebajikan yang menjadi tanda kemajuan seseorang ke arah Ketuhanan. Kebajikan juga memberimu keterampilan, kesegaran dan panjang umur. Mulailah menumbuhkan dan mengembangkan kebajikan yang sebenarnya telah bersemayam di dalam dirimu, sekarang juga. 

- Divine Discourse, July 13, 1980

Monday, May 11, 2009

Sai Inspires 11th May 2009


Sorrow is caused by the human body, which is the home of countless microbes and other parasitic beings. No one can be free from this disease inducing causes. But, one can easily overcome this sorrow by developing feelings of compassion towards all beings, and developing thoughts which thrive on Love and spread Love. Illness, both physical and mental, is a reaction caused by the poison in the mind. Vice breeds diseases. Bad thoughts and habits, bad company and bad food, are fertile grounds where disease thrives. Arogya, good health and Ananda, bliss go hand in hand. 

Penderitaan disebabkan oleh badan manusia, yang mana menjadi tempat bagi mikroba dan makhluk parasit lain yang tak terhitung jumlahnya. Tak seorang pun yang bisa terbebas dari penyakit yang disebabkan oleh mereka. Namun seeorang bisa dengan mudah menghadapi penderitaan ini dengan mengembangkan perasaan welas asih kepada semua makhluk, dan mengembangkan pikiran yang menumbuhkan dan menyebarkan Kasih. Penyakit, baik itu jasmaniah atau mental, adalah reaksi akibat teracuninya pikiran. Kejahatan mengakibatkan penyakit. Pikiran dan kebiasaan yang buruk, makanan dan lingkungan yang buruk, adalah merupakan ladang yang subur untuk pertumbuhan penyakit. Arogya, kesehatan yang terjaga dengan baik dan Ananda, kebahagiaan, selalu hadir bersama-sama. 

- Divine Discourse, July 13, 1980

Sunday, May 10, 2009

Sai Inspires 10th May 2009


You must endeavor to become Divine, from where you have come. Lessen the attachment to the world, not by cutting yourself off, but by being in it as an instrument in God's Hands. Subdue all tendencies towards egoism that raise their heads in you through single-minded attention to the dictates of God called Dharma (Righteousness) . Edison, the scientist concentrated so much on the solution of the problems that worried him, such that he left untouched, for days together, the food and drink that was pushed in through the doors of his laboratory. You must have the same concentration and shraddha (steady dedication) while engaged in sadhana (spiritual discipline). 

Engkau harus berusaha keras untuk menjadi Illahi, dari manapun engkau berasal. Kurangilah keterikatan duniawi, tidak dengan mengasingkan dirimu, namun dengan menjadi alat bagi Tangan Tuhan. Kurangilah semua kecenderungan ke arah egoisme yang muncul dalam dirimu dengan memusatkan perhatian sepenuhnya pada perintah Tuhan yang disebut dengan Dharma (Kebenaran). Edison , adalah seorang ilmuwan yang berkonsentrasi dengan keras untuk menemukan pemecahan masalah yang ia hadapi, sedemikian kerasnya sehingga ia tidak bisa diganggu, selama berhari-hari berturut-turut, bahkan makanan dan minuman untuknya sampai harus diantarkan dengan mendorongnya melalui bawah pintu laboratoriumnya. Engkau harus memiliki konsentrasi dan shraddha (rasa bakti yang mantap dan tetap) yang sama seperti itu ketika engkau melakukan sadhana(latihan spiritual). 

- Divine Discourse, 10 July 1980

Saturday, May 9, 2009

Sai Inspires 9th May 2009


Life is a game of football. You are the ball and you are bound to be thrown and kicked about.  How long have you to bear this treatment?  Until the air is full in the ball.  Deflate it, and no one will kick it again!  The air that inflates is the ego.  When the ego is out, Bliss comes in. Remove the ego in you and make yourself useful to your parents and society. Do not belittle others or your parents as illiterate or ignorant. They are far more knowledgeable than you are. Never cause tears to fill the eyes of your parents. Love them, revere them and serve them. Be humble and loving, and in the company of good and Godly.  Remember the Name of God indicating His Glory, His Mercy, His Love... All egoistic feelings will flee away from you. 

Hidup adalah bagaikan permainan sepak bola. Engkau ibarat bola yang harus dilempar dan ditendang. Sampai berapa lama engkau bisa memikul beban seperti ini? Selama udara masih penuh ada di dalam bola. Kempeskanlah bola itu, dan tak seorang pun akan menendangnya! Udara yang dipompakan adalah keakuan. Ketika rasa keakuan tersebut keluar, Kebahagiaan akan mengalir memasukinya. Hilangkanlah keakuan dalam dirimu dan buatlah dirimu menjadi berguna bagi orang tua dan masyarakat. Jangan meremehkan orang lain atau orang tuamu karena mereka dianggap buta huruf atau bodoh. Mereka semua lebih berpengetahuan dibandingkan dirimu. Jangan sampai membuat orang tuamu menitikkan air mata kesedihan. Kasihi mereka, hormati mereka dan layani mereka. Jadilah sederhana dan penuh kasih, dan pilihlah lingkungan yang baik dan Bertuhan. Ingatlah selalu akan Nama Tuhan yang menunjukkan KeagunganNya, KemurahanNya, KasihNya… Semua rasa keakuan akan terbang pergi menjauh darimu. 

- Divine Discourse, July 10, 1980

Sai Inspires 8th May 2009


We have to treat others suffering as our own. We have to treat others difficulties as our own. We have to be amicable with one and all. We must develop faith in the maxim that we are Ekatmaswarupas (Embodiments of One Divine Self). We must develop a sense of discrimination between good and bad, and take only the good present in all human beings. The same principle has to be followed in society too. We have to do good even to those who harm us. 

Kita harus menganggap penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita. Kita harus menganggap kesulitan orang lain adalah kesulitan kita juga. Kita harus bersikap ramah kepada setiap dan semua orang. Kita harus meningkatkan keyakinan sebagaimana ungkapan bahwa kita semua adalahEkatmaswarupas (Perwujudan Tuhan Yang Maha Esa). Kita harus mengembangkan kemampuan untuk membedakan hal-hal yang baik dan buruk, dan hanya mengambil kebaikan dari seluruh umat manusia. Asas dasar yang sama harus diterapkan di masyarakat juga. Kita harus berbuat baik bahkan kepada mereka yang telah menyakiti kita. 

-Divine Discourse, July 10, 1980

Thursday, May 7, 2009

Sai Inspires 7th May 2009


The  game of life is worth playing and becomes an interesting tonic, only when there are bounds for field, and rules and restrictions for the players. Imagine a game of football or cricket where there are no rules or boundaries or umpires.  The game will be chaotic, it will soon degenerate into a riot, a free fight. Dharma (Right conduct) is what makes the game of life interesting, decent and desirable.  

Permainan kehidupan akan patut dimainkan dan akan menjadi hiburan yang menarik, hanya jika ada batas-batas lapangan, dan peraturan serta pembatasan untuk para pemainnya. Bayangkanlah suatu permainan sepak bola atau kriket yang tidak memiliki aturan atau batasan atau wasit. Permainan tersebut akan kacau, dengan cepat akan menuju pada kerusuhan, pertarungan bebas. Dharma (aturan tingkah laku yang benar) adalah hal yang membuat permainan menjadi menyenangkan, memuaskan dan menarik. 

- Divine Discourse, July 23, 1975

Wednesday, May 6, 2009

Sai Inspires 6th May 2009


The "Vedas" (ancient scriptures) say "Matru Devo Bhava," Revere your Mother as God.  You must revere your mother, who has brought you up with love, care and sacrifice. However famous one may be, if he/she does not revere their mother, they do not deserve respect. A person whose heart is so hard that it does not melt at the pleadings of their mother deserves nothing but ridicule. This principle of adoration applies to the country which gave birth to you too. You must revere the country and follow its culture. 

“Veda” (kitab suci yang sudah sangat tua) menyebutkan “Matru Devo Bhava,” Hormatilah Ibumu sebagai Tuhan. Engkau harus menghormati ibumu, yang telah melahirkan dan merawatmu dengan kasih, perhatian dan pengorbanan. Bagaimanapun terkenalnya seseorang, jika ia tidak menghormati ibunya, mereka tidak layak mendapatkan penghormatan. Seseorang yang keras hati sampai-sampai ia tidak luluh oleh permintaan dari ibunya maka ia tidak layak mendapatkan apapun kecuali cemoohan. Prinsip ini juga berlaku terhadap negara yang telah memberimu hidup. Engkau harus menghormati negaramu dan menganut kebudayaannya. 

- Divine Discourse, March 25, 1980

Tuesday, May 5, 2009

Sai Inspires 5th May 2009


Cultivate the attitude of detachment, of indifference, of bypassing of the urges (of desire) through prayer and systematic practice. This will lead you to Truth and Righteous behavior. Thus, you can lead a life prescribed by scriptures. Running away from home and company of people, and escaping into solitude will not help you. Home is certain to haunt you, wherever you may take refuge. Recognize this and dedicate all your thoughts, words and deeds to the Divine. Then, you will achieve the Divine Vision, wherever you are.   

Kembangkanlah sifat ketidakterikatan, ketidakpedulian, pengabaian desakan (dari keinginan duniawi) melalui doa dan latihan yang teratur. Ini akan membimbingmu pada tingkah laku yang berdasarkan Kebenaran dan Kebajikan. Dengan demikian, engkau akan bisa menjalani kehidupan dengan tuntunan kitab suci. Melarikan diri dari rumah dan lingkungan masyarakat, dan menghilang di kesunyian tidak akan menolong dirimu. Rumah tentu saja adalah tempat dimana engkau akan kembali, kemana pun engkau pergi mengembara. Sadarilah hal ini dan persembahkanlah seluruh pikiran, perkataan dan perbuatanmu kepada Tuhan. Maka engkau akan mendapatkan Penampakan Tuhan, dimanapun engkau berada. 

- Divine Discourse, July 23, 1975

Monday, May 4, 2009

Sai Inspires 4th May 2009


It is always preferable to approach God for the fulfillment of wants, rather than cringe before men, who themselves are but tools in the hands of God. In His own silent way, God will transform the mind and turn it towards sadhana (spiritual practice) and successful spiritual pilgrimage. He cannot and will not allow His children to lose their way and suffer in the jungle. When you approach God and seek His help and guidance, you have taken the first step to save yourself. You are then led to accept His Will as your own. Thus, you achieve shanthi (absolute peace) .  

Adalah selalu lebih baik untuk datang kepada Tuhan demi pemenuhan keinginan, dibandingkan dengan menunduk di hadapan manusia, yang mana mereka sendiri juga hanya alat di tangan Tuhan. Dengan melalui caraNya dalam keheningan, Tuhan akan mengubah pikiran dan membuatnya menujusadhana (latihan spiritual) dan perjalanan suci spiritual yang berhasil. Tuhan tidak bisa dan tidak akan membiarkan anakNya untuk tersesat dan menderita di dalam hutan. Ketika engkau mendekati Tuhan untuk mencari pertolongan dan bimbinganNya, engkau telah mengambil satu langkah awal untuk menolong dirimu sendiri. Engkau kemudian akan dibimbing untuk menerima kehendakNya sebagai milikmu. Dengan demikian, engkau akan mencapai shanti (kedamaian abadi). 

- Divine Discourse, April 4, 1975

Sai Inspires 3rd May 2009


Service is best built on the strong foundation of Tath-Thwam-Asi.  (That and This are the same) - there is no other. There is only One.  Kites fly high, but all are lifted and kept high by the same air, the same wind. The kites have no separate will. The pots of water in which the Sun is reflected may be many, but the Sun is One. When another is poor, you cannot be rich. When another is in distress, you cannot have joy. The same current runs through and activates all. All help you give is therefore help given to yourself, all service is to the Self alone.   

Pelayanan akan menjadi yang terbaik jika ia berlandaskan pada That-Thwam-Asi. (Engkau dan Aku adalah sama) – tiada yang berbeda. Hanya ada Satu. Layang-layang terbang tinggi, namun semua diterbangkan dan tetap dijaga di ketinggian oleh udara yang sama, angin yang sama. Layang-layang itu semua tidak memiliki penggerak yang terpisah. Panci-panci air yang memantulkan Sang Surya membuatnya tampak ada banyak, namun Matahari tetaplah hanya satu. Ketika orang lain miskin, engkau tidak bisa menjadi  kaya. Ketika orang lain menderita, engkau tidak bisa bersenang-senang. Arus yang sama mengalir melalui dan menggerakkan semuanya. Semua pertolongan yang engkau berikan dengan demikian merupakan pertolongan yang diberikan kepada dirimu sendiri, semua pelayanan adalah demi Sang Diri semata. 

- Divine Discourse, March 7, 1980

Saturday, May 2, 2009

Sai Inspires 2nd May 2009


"The Divine is Full. The Creation is Full, as it came from the Divine. When Full is taken away from the Full, Full remains." How is this quote from the scripture true? You go to the market to buy one unit of Jaggery (Sugar). The shopkeeper brings from his store a big lump and slices off a portion, weighs it, and gives to you a piece, in return for a price. You go home and make a sweet drink using the jaggery. The drink is sweet, the jaggery at home and the mother lump in the store, are all equally sweet. Fullness is the quality of divine.  It is found in all parts - whole or in the divided units. Quantity is not the criterion - Quality is!  Do not consider the world as anything less than God. Divinity/Fullness is the nature of the Supreme, and cannot be diminished in the process of creation.  

“Tuhan adalah Sempurna. CiptaanNya adalah Sempurna, karena ia berasal dari Tuhan. Ketika sebagian Kesempurnaan diambil dari Sang Sempurna, Ia akan tetap Sempurna. “ Bagaimanakah makna kebenaran petikan ayat dari kitab suci ini? Engkau pergi ke pasar untuk membeli sepotong gula batu. Penjaga toko mengambil dari tokonya sepotong gula batu yang besar dan kemudian membelahnya sedikit menjadi satu bagian kecil, menimbangnya, dan memberikannya kepadamu setelah engkau membayarnya. Engkau pulang ke rumah dan membuat minuman manis dari potongan gula batu tersebut. Minuman buatanmu rasanya manis, potongan gula batu di rumah dan induk potongan yang ada di toko, semua sama manisnya. Kesempurnaan adalah sifat dari Ketuhanan. Kesempurnaan itu akan ditemui dalam setiap bagian – baik itu bagian induknya atau potongan-potongan kecilnya. Kuantitas bukanlah patokan – namun Kualitaslah yang menjadi patokan! Jangan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak sesempurna Tuhan. Ketuhanan/Kesempurn aan adalah sifat dasar dari Tuhan Yang Maha Sempurna, dan tidak akan berkurang dalam proses penciptaan. 

- Divine Discourse, July 23, 1975