Monday, December 31, 2007

28th December 2007 (Should we adapt God to suit the changing times?)

Do not make God modern to suit your fancy. He is neither ancient nor modern; His countenance never changes, nor His Glory. Present Him if you must in a modern manner, in a modern style, so that He might be understood today. If a child is reluctant to swallow a pill, insert it in a plantain and offer him the fruit; he will swallow both fruit and pill. But do not change the pill itself to suit the whims and fancies of the child's taste. Then the illness cannot be cured!

Janganlah memodernisasi Tuhan agar disesuaikan dengan kesukaanmu. Beliau tidaklah kuno maupun modern; sejujurnya Beliau tidak pernah berubah, demikian pula halnya kemuliaan-Nya. Jikalau dirasakan perlu, cobalah tampilkan Beliau dengan cara atau gaya yang modern, dengan tujuan agar Ia dapat dipahami oleh masyarakat di zaman sekarang ini. Jikalau seorang anak menolak untuk menelan pil (obat), maka cobalah selipkan obat itu di dalam buah pisang(?) dan berikanlah kepadanya, dengan demikian maka ia akan menelan baik buah maupun obat tersebut. Janganlah merubah pil itu agar disesuaikan dengan kesukaan si anak, sebab apabila hal ini yang dilakukan, maka penyakitnya tak akan pernah sembuh!

- Divine Discourse, October 26, 1961.

Sai Inspires - 27th December 2007 (When will our service find fulfillment?)

You have to transform your life through service. You should give no room for arrogance or self-interest to the slightest extent in your service activities. Install in your heart the feeling that the service you render to anyone is service to God. Only then does service to man become service to God.

Transformasikanlah kehidupanmu melalui tindakan pelayanan. Jagalah agar sifat kesombongan maupun sikap mementingkan diri sendiri tidak menodai aktivitas pelayananmu. Tanamkanlah di dalam hatimu keyakinan bahwa pelayanan yang engkau berikan kepada orang lain pada prinsipnya adalah juga merupakan pelayanan kepada Tuhan. Barulah dengan demikian, maka pelayanan kepada sesama manusia akan menjelma menjadi pelayanan kepada Tuhan.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Sai Inspires - 26th December 2007 (How should we chant the name of the Lord?)

Not all realize the potency and efficacy of reciting the Lord's name. The first requisite is purity of thought, word and deed. The name that is uttered by the tongue should be meditated upon by the mind. What is uttered and dwelt upon should be hailed by clapping the hands. This threefold concentration on the Divine name - unity of mind, speech and action - purifies the heart and nourishes the feeling of devotion.

Belum semua orang menyadari betapa ampuh dan efektifnya praktek mengulang-ulang nama Tuhan. Persyaratan utamanya adalah pikiran, ucapan dan perbuatan yang murni. Nama yang diucapkan melalui lidah haruslah dijadikan sebagai obyek meditasi di dalam batin. Nama yang diucapkan serta yang direnungkan itu haruslah dipuji dengan melalui tepukan tangan. Ketiga bentuk tindakan konsentrasi atas nama Tuhan itu - yang mewakili unity of mind, speech dan action - akan memurnikan hati serta mendorong perasaan bhakti (devotion).

- Divine Discourse, November 8, 1986.

Sai Inspires - 25th December 2007 (What was the true message of Jesus?)

Love must bind all believers together; not only believers but non-believers too must be loved and served as His images. Love must be manifested as Service, Seva. Seva must take the form of food for the hungry, solace for the forlorn, consolation for the sick and the suffering. Jesus wore himself out in such Seva. The heart full of compassion is the temple of God. Jesus pleaded for Compassion. Compassion was His Message. He was sorely distressed at the sight of the poor... Develop Compassion. Live in Love. Be Good, do Good and see Good. This is the way to God.

Cinta-kasih merupakan tali-pengikat bagi mereka yang memiliki keyakinan yang sama. Bahkan mereka yang tidak percaya sekalipun haruslah kita cintai dan layani. Cinta-kasih harus termanifestasikan sebagai pelayanan (Seva), yaitu pelayanan kepada mereka yang lapar, hiburan bagi mereka yang sedang bersedih, sakit serta menderita. Yesus mengabdikan kehidupan-Nya dalam pelayanan. Hati yang penuh dengan welas-asih adalah merupakan kuil bagi Tuhan. Yesus mengajarkan kewelas-asihan. Beliau sangat iba terhadap kemiskinan .... Kembangkanlah sifat welas-asih dan hiduplah dalam cinta-kasih. Be Good, do Good and see Good. Inilah jalan untuk menuju kepada Tuhan.


- Divine Discourse, December 25, 1981.

Monday, December 24, 2007

Sai Inspires - 23rd December 2007 (How to sanctify our every second and cultivate a good heart?)

It is Love that creates, sustains and engulfs all. Without Love, no one can claim to have succeeded in deciphering God and His handiwork, the Universe. God is Love; live in Love - that is the direction indicated by the sages. Love can grow only in a well-ploughed heart, free from brambles. So, the heart has to be prepared by means of constant recital of the Name...Charge every second of time with the Divine current that emanates from the Name.

Cinta-kasih menciptakan, memelihara serta mencakupi segalanya. Tanpa adanya cinta-kasih, maka tiada seorangpun yang bisa menyatakan bahwa ia sudah berhasil memahami Tuhan serta hasil karya-karya-Nya, yaitu alam semesta ini. Tuhan adalah cinta-kasih; hiduplah dalam cinta-kasih – inilah petunjuk yang telah diberikan oleh para rishi. Cinta-kasih hanya bisa tumbuh subur di dalam hati yang telah dipersiapkan dengan baik, yaitu hati yang terbebas dari semak-belukar. Untuk mempersiapkannya, maka diperlukan praktek pengulangan nama-nama Tuhan... isilah setiap detik waktumu dengan kekuatan Divine yang dihasilkan melalui pengulangan nama-nama-Nya.

- Divine Discourse, March 1st, 1968.

Sai Inspires - 24th December 2007 (important lesson we need to imbibe from the life of Jesus)

Jesus was compassion come in human form. He spread the spirit of compassion and conferred solace on the distressed and the suffering. Noticing the torture of birds and beasts at the Temple in Jerusalem, he reprimanded the vendors and drove them out of the precincts. He drew upon himself the anger of the priests. Good works always provoke the wicked. But one should not falter or fear when opposition obstructs. The challenge gives joy; it evokes hidden sources of strength; it brings down Grace to reinforce the effort. Pleasure springs during the interval between two pains.

Yesus adalah pengejawantahan cinta-kasih yang terlahir dalam wujud sebagai manusia. Beliau mengajarkan semangat welas-asih serta memberikan hiburan kepada mereka yang menderita. Setelah melihat siksaan yang dialami oleh kawanan burung dan hewan di dalam kuil di Yerusalem, Beliau mencerca praktek-praktek penyiksaan seperti itu dan kemudian mengusir para penjualnya dari kuil tersebut. Tindakan pengusiran itu mengundang kemarahan dari para pendeta kuil. Di sini terlihat bahwa pekerjaan yang bajik selalu saja mengundang gangguan dari mereka yang jahat. Namun walaupun begitu, janganlah pantang menyerah ketika para oposan bermunculan. Tantangan memberikan kesenangan; ia membangkitkan kekuatan laten yang tersembunyi di dalam diri kita dan ia juga akan mendatangkan rahmat dari Tuhan yang akan semakin memperkuat usaha tersebut. Kesenangan akan muncul di antara dua interval penderitaan.

- Divine Discourse, December 25, 1981.

Saturday, December 22, 2007

Sai Inspires - 22nd December 2007 (a method by which we can lead a life of peace, with less worries)


When the Love Principle is known and practiced, man will be free from anxiety and fear. Imagine you’re visiting a friend in a city and planning to stay with him for ten days. You have some money with you, and you are afraid to carry it about with you. Now, if you have handed over the purse to your friend for safe-keeping, you can happily go round, to all the places in the city and suburbs you long to visit. You can roam through the busiest market, with no trace of fear. The purse you had is Love; give it all to God. He will liberate you from worry, anxiety and fear.

Apabila prinsip tentang cinta-kasih diketahui dan dipraktekkan, maka manusia akan terbebaskan dari rasa khawatir dan takut. Seandainya engkau mengunjungi temanmu di satu kota dan berencana untuk tinggal di sana selama sepuluh hari. Engkau mempunyai sejumlah uang dan takut untuk membawanya ketika berjalan-jalan di kota itu. Jikalau engkau menyerahkan dompetmu agar disimpan oleh temanmu, maka dengan demikian, engkau akan bisa bebas berkeliling ke mana saja tanpa rasa takut bahwa dompetmu akan dicopet ataupun hilang. Nah, dompet tersebut adalah simbolisasi dari cinta-kasih; serahkanlah cinta-kasihmu kepada Tuhan, maka Ia akan membebaskanmu dari rasa takut, khawatir ataupun kegelisahan lainnya.

- Divine Discourse, December 25, 1981.

Friday, December 21, 2007

Sai Inspires - 21st December 2007 (How can our trust in God help us in daily life?)


Trusting in God strengthens your faith in your fellow men. You will love them more, suffer their faults and failings with greater sympathy and you will share in activities that serve the poor and the disabled. You will come to know that God loves those who love His children and He will shower grace on those who serve the weak, the meek and the ignorant.

Dengan berbekal kepercayaan kepada Tuhan, maka engkau akan menjadi semakin yakin terhadap sesamamu. Engkau akan semakin saling mencintai, bertenggang-rasa atau saling bersimpatik atas penderitaan masing-masing dan engkau akan bersama-sama saling berpartisipasi dalam aktivitas pelayanan kepada mereka yang miskin dan tak berdaya. Engkau akan menyadari bahwa Tuhan mencintai semua anak-anak-Nya dan Ia akan mencurahkan rahmat-Nya bagi mereka yang lemah dan terabaikan.
- Divine Discourse, March 30, 1979.

Sai Inspires - 20th December 2007 (What is the best way to fulfill our lives?)


Action is spiritual practice, when it is done as seva. The service attitude is most beneficial to the person rendering it as well as to others. Service is the best use to which the body can be put. In fact, you are not doing service to others. You are doing it always to yourselves, to the God in you, the God who is equally present in others.

Action (tindakan/aksi) adalah salah-satu bentuk praktek spiritual, terutama apabila tindakan itu dilakukan demi untuk alasan seva. Semangat atau sikap melayani akan memberikan manfaat kepada orang yang melakukannya ataupun yang menerima pelayanan tersebut. Badan jasmani ini memang diperuntukkan bagi kegiatan pelayanan. Ingatlah bahwa tindakan pelayananmu itu bukanlah demi untuk orang yang engkau layani tersebut, melainkan ia adalah demi untuk dirimu sendiri, yaitu sebagai pelayanan terhadap Tuhan yang ada di dalam dirimu dan yang juga eksis di dalam diri orang lain.
- Divine Discourse, November 21, 1981.

Sai Inspires - 19th December 2007 (What is life, truly?)


Looking a little closer, we discover that life itself is Love. They are not two but one. Love is the very nature of life, as burning is the nature of fire, or wetness of water, or sweetness of sugar. We tend a plant only when the leaves are green; when they become dry and the plant becomes a life-less stick, we stop loving it. Love lasts as long as life exists. The mother is loved as long as there is life in her; when life departs, we bury her without the least compunction. Love is bound with life. In fact, Love is Life. The person with no Love to share is as bad as dead. This is the reason why love expands in an ever widening circle.
Bila diamati secara lebih dekat, kita akan menemukan bahwa kehidupan ini sendiri adalah cinta-kasih. Mereka (cinta-kasih dan kehidupan) bukanlah dua hal yang berbeda. Cinta-kasih adalah sifat alamiah dari kehidupan ini, seperti halnya sifat api adalah membakar, air yang membasahi ataupun manisnya gula. Kita merawat tanaman selama dedaunannya masih hijau; tetapi apabila daun-daun itu telah menjadi kering, berarti tanaman itu sudah mati, dan kita juga akan berhenti mencintainya. Jadi, cinta-kasih tetap akan bertahan selama kehidupan masih eksis. Seorang ibu dicintai selama kehidupan masih terdapat di dalam badannya; sebaliknya apabila nafas kehidupan sudah meninggalkannya, maka kita akan menguburkan jasadnya dengan tanpa penyesalan. Cinta-kasih sangat terpaut dengan kehidupan. Lebih tepatnya, cinta-kasih adalah kehidupan. Seseorang yang tidak membagikan cinta-kasihnya adalah bagaikan mayat hidup. Itulah sebabnya, cinta-kasih berekspansi dalam lingkaran yang semakin membesar.
- Divine Discourse, December 25, 1981.

Sai Inspires - 18th December 2007 (How can there be unity in this world?)


If you meditate every day on God as the inner core, the real flame of love, power and wisdom, in each individual - man, woman and child, high and low, rich and poor, learned and illiterate - then you will not emphasize the differences and quarrel. Then anger, envy and hatred cannot enter your broad heart. Love will be the only quality welcomed therein and emanating therefrom.
Apabila engkau bermeditasi setiap hari kepada Tuhan sebagai inti sejati dari cinta-kasih, kekuatan dan kebijaksanaan yang ada di dalam diri setiap individu; maka dengan demikian, engkau tidak akan lagi terseret dalam pertikaian maupun konflik. Dengan sendirinya, sifat-sifat jelek seperti kemarahan, keiri-hatian dan kebencian tidak akan sanggup mempengaruhimu. Cinta-kasih akan menjadi satu-satunya kualitas diri yang diterima dan bersinar dari dirimu.
- Divine Discourse, March 30, 1979.

Sai Inspires - 17th December 2007 (How should be our passion to follow the right path?)


Mohammed preached monotheism and was driven out of Mecca. Jesus preached mercy and charity, and he was charged with treason. King Harischandra refused to give up his allegiance to Truth and was driven to such straits that he had to sell his wife and son as slaves. So, when you stick to the path of Truth and Righteousness, pain and poverty haunt you. But they are only clouds passing through the sky hiding for a little time the splendour of the Sun.

Nabi Mohammad mengajarkan tentang monotheisme dan beliau diusir dari Mekkah. Yesus mengajarkan tentang welas-asih dan sikap dermawan, namun beliau dikhianati. Raja Harischandra menolak untuk berkompromi dengan ketidak-benaran, dan sebagai akibatnya, ia harus menjalani penderitaan dimana ia sampai harus menjual istri dan anaknya menjadi budak. Jadi, apabila engkau berpegang-erat kepada jalan kebenaran dan kebajikan, maka penderitaan dan kemiskinan akan menghantuimu. Namun ketahuilah bahwa itu semuanya adalah seperti awan yang berlalu di atas langit, yang sedang menyembunyikan kecemerlangan sinar mentari untuk sementara waktu.
- Divine Discourse, November 21, 1981.

Sai Inspires - 16th December 2007 ( Swami today gives us a solution that will solve most of our problems)


There must be sincerity and unity of thought, word and deed. Develop fraternal feelings towards all. Differences of opinion can be resolved by compromise. If egoistic pride is given up, all difficulties can be overcome. From today make a bonfire of your ignorance and egoism, and develop love in your hearts.
Diperlukan ketulusan dan kekompakan dalam pikiran, ucapan dan perbuatanmu. Tumbuh-kembangkanlah perasaan saling bersaudara dengan sesama. Perbedaan pendapat bisa diselesaikan secara kompromi. Jikalau kesombongan bisa diatasi, maka semua bentuk kesulitan (hidup) akan bisa diselesaikan. Mulai hari ini, bakarlah kebodohan batin dan perasaan egoismu, dan sebaliknya kembangkanlah cinta-kasih di dalam hatimu.
- Divine Discourse, October 2nd, 1987.

Saturday, December 15, 2007

Sai Inspires - 15th December 2007 (Swami reminds us today of the Source and the most potent force of this creation)

Love binds one person to another. Love attaches one thing to another. Without Love the Universe is naught. The highest Love makes us aware of the Lord in every one. The Lord is equally present in all. Life is Love; Love is Life. Without God, deprived of God, nothing and nobody can exist. We live on and through the Divine Will. It is His will that operates as Love, in each of us. It is He who prompts the prayer, "Let all the worlds be happy." For, He makes us aware that the God we adore, the God we love, the God we live by, is in every other being as Love. Thus Love expands and encompasses all creation.

Cinta-kasih menjadi tali pengikat antara manusia, ia merupakan benang pengikat antara yang satu dengan yang lainnya. Tanpa adanya cinta-kasih, alam semesta ini tak akan pernah ada. Cinta-kasih yang mulia membuat kita menyadari Tuhan yang ada di dalam diri setiap orang. Tuhan eksis di dimana-mana. Kehidupan ini adalah cinta-kasih; cinta-kasih adalah kehidupan. Tanpa adanya Tuhan, maka tak ada yang bisa eksis. Kehidupan kita ditopang oleh kehendak Ilahi. KehendakNya-lah yang bekerja sebagai cinta-kasih di dalam diri kita semuanya. Beliau-lah yang mendorong dikumandangkannya doa, “Semoga seisi dunia berbahagia” (Loka Samastha Sukhino Bhavantu). Sebab melalui-Nya, kita menjadi sadar bahwa Tuhan yang kita hormati dan cintai juga hadir di dalam diri setiap orang sebagai cinta-kasih. Oleh sebab itu, cinta-kasih bersifat ekspansif dan mencakupi setiap unsur di alam ciptaan ini.

- Divine Discourse, December 25, 1981.

Friday, December 14, 2007

Sai Inspires - 14th December 2007 (Why should we engage ourselves in activities of a spiritual nature?)

It is not easy for the mind of man immersed in worldly concerns to turn to God. Meditation, repetition of the names of the Lord, bhajans (group singing of devotional songs), reading of scriptures and other such activities are designed to purify the mind so that it can concentrate on God. As a field has to be properly ploughed and prepared for sowing so as to reap a good harvest, the field of our heart has to be rendered pure and sacred through good and holy actions, and sadhana (spiritual discipline) if it is to yield the fruit of Divine Wisdom.

Memang tidaklah mudah untuk memalingkan batin manusia dari hal-hal keduniawian agar menoleh kepada (jalan) ke-Tuhan-an. Berbagai bentuk kegiatan spiritual seperti meditasi, mengulang-ulang nama Tuhan (namasmarana), bhajan, membaca kitab-kitab suci dan lain-lain; semua akivitas tersebut dibuat sedemikian rupa untuk keperluan memurnikan mind (pikiran) agar ia dapat berkonsentrasi kepada Tuhan. Seperti halnya sebuah ladang atau sawah yang terlebih dahulu harus dibajak agar tanah di tempat itu siap untuk ditanami sehingga kelak membuahkan panen yang berlimpah. Nah, demikian pula halnya dengan hati manusia, yang perlu dimurnikan dan disucikan melalui tindakan-tindakan bajik dan suci serta melalui sadhana (disiplin spiritual), agar ia menghasilkan panen berupa buah kebijaksanaan Ilahi (Divine Wisdom).

- Divine Discourse, August 19, 1984.

Thursday, December 13, 2007

Sai Inspires - 13th December 2007 (What is the 'good company' that we must constantly seek?)


Have the Name of God on your tongue, in your breath, ever. That will evoke His Form, as the inner core of every thing, thought or turn of events. That will provide you with His company, contact with His unfailing energy and bliss. That is the Sathsanga (good association) that gives you maximum benefit. Converse with God who is in you; derive courage and consolation from Him. He is the Guru most interested in your progress. Do not seek the Guru outside you, in hermitages or holy places. The God in you is father, mother, preceptor, and friend.

Senantiasalah mengucapkan nama Tuhan dan jadikanlah ia sebagai nafas-kehidupanmu. Dengan demikian, maka wujud-Nya akan senantiasa terpatri di dalam batinmu. Dengan berbekal nama dan rupa Tuhan di dalam hatimu, maka engkau akan senantiasa bersinggungan dengan sumber energi dan kebahagiaan yang dicurahkan oleh-Nya. Inilah yang disebut sebagai Sathsanga (pergaulan yang saleh), yang akan memberimu manfaat yang luar biasa. Berbicaralah dengan Tuhan yang ada di dalam dirimu; darimana engkau akan mendapatkan keberanian dan juga pelipur lara. Tuhan adalah Guru yang paling berminat untuk mengikuti perkembangan (batinmu). Engkau tidak perlu mencari Guru di luar dari dirimu, seperti di tempat-tempat suci ataupun ashram-ashram. Tuhan yang ada di dalam dirimu merupakan bapak, ibu, guru dan juga sebagai sahabat sejati.

- Divine Discourse, March 1st, 1968.

Wednesday, December 12, 2007

Sai Inspires - 12th December 2007 (What should be the constant endeavour of our lives?)




There is a divine power that is inherent in every human being. You must strive to manifest it. Recognize that: all the knowledge you have been able to acquire is because of this divine power within you. You must cherish and foster that power. Most people make use of this power for selfish purposes to promote the well-being of themselves and their families. It should really be utilized for the good of the whole world. Recognize the divinity in you and share that experience with all. Use the divine power in you to cultivate virtues, which constitute the essence of education. Lead a life which will earn for you the love of the people more than their respect.

Di dalam diri setiap orang terdapat kekuatan divine. Engkau harus melakukan upaya-upaya untuk memanifestasikan kekuatan tersebut. Pengetahuan-pengetahuan yang berhasil engkau peroleh adalah berkat kekuatan divine yang ada di dalam dirimu itu. Peliharalah secara baik-baik kekuatan tersebut. Kebanyakan orang mendaya-gunakan kekuatan itu demi untuk tujuan pribadi yang menguntungkan dirinya sendiri ataupun keluarganya. Padahal seharusnya kekuatan tersebut dimanfaatkan demi untuk kesejahteraan orang banyak. Pengalaman atas aspek divinity yang engkau alami haruslah saling dibagikan dengan orang lain. Pergunakanlah kekuatan divine yang engkau miliki guna memupuk sifat-sifat luhur yang tiada lain merupakan esensi dari pendidikan. Jalanilah kehidupan yang akan memberimu rasa hormat dan cinta-kasih dari orang lain.

- Divine Discourse, June 24, 1989.

Tuesday, December 11, 2007

Sai Inspires - 11th December 2007 (How can we attain and sustain real bliss and peace?)

When the clouds that hide the face of the moon are wafted by the winds, the moon shines clear and cool; so too, when the clouds of egoism are wafted away, the mind of man shines - pure and full, with its own native light. That is the stage of Bliss... Where there is the lamp, darkness cannot exist. The lamp of wisdom once lit never dies, fades or flickers. Bliss and Peace too never fade, never flicker. But the happiness and peace that men seek from the objects of the world prompted by their senses flicker fast, fade and die. They satisfy for a moment a foolish craze. They are attained through lust, anger, hate and envy. And so, they are false and fickle. Control and conquer these, only then can you acquire real Bliss and Peace. You can not only acquire these, you can become these.

Ketika hembusan angin menyingkirkan gumpalan awan yang sedang menyembunyikan bulan, maka akan terlihatlah cahaya rembulan yang bersinar terang dan menyejukkan; demikian pula, ketika awan egoisme telah berhasil disingkirkan, maka mind (batin) manusia juga akan bersinar cemerlang. Inilah tahapan yang disebut sebagai Bliss (kebahagiaan)... Di suatu tempat dimana terdapat lentera, maka di sana tidak terdapat kegelapan. Apabila lampu kebijaksanaan berhasil dinyalakan, maka lampu tersebut tidak akan pernah menjadi redup maupun padam. Demikian pula halnya dengan kebahagiaan dan kedamaian. Namun oleh karena manusia mencari kebahagiaan dan kedamaian dari benda-benda duniawi melalui sensasi panca inderanya, maka jenis kebahagiaan dan kedamaian yang diperolehnya itu hanya bisa bertahan sebentar saja dan segera padam. Kesenangan yang dihasilkan melalui nafsu, kemarahan, kebencian dan sikap iri-hati bersifat temporer. Oleh sebab itu, ia merupakan kebahagiaan palsu. Kendalikan dan taklukkanlah sifat-sifat negatif itu, sebab tanpa itu, engkau tak akan bisa memperoleh kebahagiaan dan kedamaian sejati. Engkau bukan hanya bisa mencapai atau memperolehnya, bahkan engkau akan MENJADI kebahagiaan dan kedamaian itu sendiri.

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Monday, December 10, 2007

Sai Inspires - 7th December 2007 (When can human values blossom in our personalities?)

When students acquire spiritual values, human values will grow in them of their own accord. Human values are not things to be implanted from outside. They are within each individual. They have to be manifested from within. Human values are in everyone. What we need are persons who will provide the stimulus and the encouragement to bring them out. If the feeling that the Divinity that is present in everyone is one and the same is promoted among all, human values will sprout naturally in every person. To have this sense of spiritual oneness is the prelude to experiencing the highest bliss.

Apabila para siswa mempelajari nilai-nilai spiritual, maka dengan sendirinya, nilai-nilai kemanusiaan juga akan mulai tumbuh berkembang di dalam diri mereka. Nilai-nilai kemanusiaan bukanlah sesuatu yang harus dicari dari luar. Semuanya sudah ada di dalam diri setiap individu. Ia harus dipupuk dari dalam. Human values ada di dalam diri setiap orang. Yang kita butuhkan sekarang ini adalah orang yang bisa memancing serta mendorong pemekaran nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Jikalau perasaan bahwa Divinity – yang eksis dan sama di dalam diri setiap orang itu – dipromosikan, maka secara alamiah, nilai kemanusiaan juga akan timbul. Spiritual oneness (prinsip pemersatu spiritualitstik) ini merupakan langkah awal untuk merasakan kebahagiaan tertinggi.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Sai Inspires - 8th December 2007 (When can we perceive Divinity in us and everywhere around?)

Divinity is present in everyone in an unmanifested form. All human beings are sparks of the Divine like the waves of the ocean. Every man is the embodiment of the Divine Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss)... As God is the Embodiment of Love, man is also an embodiment of love. But man today does not manifest it fully and properly because of his selfishness and self-centredness. Though humanity has advanced considerably in the material and scientific spheres, it has gone down grievously morally and spiritually. Selfishness is predominant in every action. Behind every thought, every word, self-interest is prominent. It is only when this selfishness is eradicated can Divinity reveal itself.

Divinity hadir di dalam diri setiap orang dalam wujud yang tidak termanifestasi. Semua manusia adalah percikan Ilahi, persis seperti ombak samudera. Setiap orang adalah perwujudan Divine Sat-Chit-Ananda (Being-Awareness-Bliss/Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan).. Oleh karena Tuhan adalah perwujudan cinta-kasih, maka manusia juga adalah perwujudan cinta-kasih. Namun manusia tidak memanifestasikan sifat hakikinya tersebut secara utuh sebagai akibat dari kecongkakan dan sikapnya yang mementingkan dirinya sendiri. Walaupun umat manusia telah mencapai kemajuan yang signifikan di bidang ilmu pengetahuan, namun sikap moral dan spiritualnya justru mengalami degradasi. Sikap mementingkan diri sendiri sangat dominan dalam setiap tindakannya. Di balik setiap bentuk pikiran, ucapan terdapat self-interest (ada unsur kepentingan pribadinya). Divinity hanya bisa direalisasikan apabila sikap congkak tersebut telah dihapuskan.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Sai Inspires - 9th December 2007 (What kind of learning can truly fill us with fulfillment?)

Even when one’s entire life is spent in poring over books and thereby one becomes intellectually very talented, one cannot advance to the slightest extent in the cultivation of the spirit. It would be unwarranted to claim that a person who has reached the acme of intelligence has thereby progressed and succeeded in reaching the acme of spiritual wisdom. Scholarship and culture are not related as cause and effect. However learned one is in worldly knowledge, unless one’s mind is cultured, the learning is useless. The system of education which teaches culture and helps the culture to permeate and purify the learning that is gathered is the best and most fruitful.

Walaupun seseorang dalam sepanjang kehidupannya dihabiskan untuk belajar sehingga pada akhirnya ia menjadi sosok yang sangat terpelajar, semua hasil pencapaiannya itu tidak secara otomatis akan membuatnya maju secara spiritual. Kepintarannya secara intellektual tidak dengan sendirinya membuatnya maju dan sukses dalam mencapai puncak kebijaksanaan spiritual. Gelar kesarjanaan dan culture (nilai-nilai ahlak/kemoralan) tidaklah saling berkaitan sebagaimana halnya hukum sebab dan akibat. Apabila batin seseorang masih belum bermoral, maka semua hasil pendidikan kesarjanaannya menjadi tiada gunanya sama sekali. Sistem pendidikan yang terbaik dan bermanfaat adalah sistem yang mengajarkan nilai-nilai kemoralan serta membantu penyerapan unsur nilai-nilai tersebut dalam proses belajar dan mengajar.

- Vidya Vahini.

Sai Inspires - 10th December 2007 (What is the wealth that we must safeguard with our lives?)

Inside the room called Body, in the strong box called the Heart, the precious gem of jnaana (wisdom) exists; four wily thieves’ kaama, krodha, lobha and asuuya - lust, anger, greed and envy - are lying in wait to rob it. Awake to the danger before it is too late; reinforce yourself with the support of the Universal Guardian, the Lord, and keep the gem intact. That will make you rich in prema (love), rich in shanti (peace).

Di dalam kamar yang disebut sebagai badan jasmani ini, terdapat almari besi yang dinamakan hati nurani, dimana di dalamnya tersimpan permata berharga dalam bentuk jnaana (kebijaksanaan); sementara itu terdapat empat pencuri cerdik bernama: kaama, krodha, lobha dan asuuya – yakni: hawa nafsu, kemarahan, keserakahan dan keiri-hatian. Keempat-empatnya selalu stand-by dan bersiap-siap untuk mencuri permata berharga tadi. Oleh sebab itu, senantiasalah mawas-diri dan berwaspada sebelum semuanya menjadi terlambat; perkuat benteng pertahananmu melalui dukungan sang penjaga Universal (Tuhan) agar dapat mengamankan barang berharga itu. Dengan demikian, engkau akan senantiasa kaya dalam prema (cinta-kasih) dan shanti (kedamaian).

- Divine Discourse, November 23, 1966.

Thursday, December 6, 2007

Sai Inspires - 6th December 2007 (a dangerous trait that many times tarnishes our charatcer)

The truth can flash only in a mind clear of all blemishes. The first blemish that I would like to warn you against is the 'inability to bear the success of others'. Envy is the greatest of sins. Vanity, envy, and egoism - these three are kin. They cut at the root of man's real nature. To feel proud that you are a devotee is also a blot. Though you may be a mountain, you must feel you are a mound; though a mound, you should not pretend to be a mountain.

Kebenaran hanya akan bersinar terang di dalam batin yang terbebas dari noda-noda kekotoran. Noda yang pertama kali harus engkau bersihkan adalah sikap ke-iri-hatian (sikap yang tidak bisa menerima kesuksesan orang lain). Iri-hati merupakan ‘dosa’ yang paling besar. Sifat sombong, iri-hati dan egoisme – ketiga-tiganya saling berkaitan. Sifat-sifat negatif tersebut bukanlah sifat asli dari seorang manusia sejati. Di samping itu, terdapat noda lainnya yaitu apabila seseorang merasa dirinya adalah seorang bhakta yang hebat. Seandainyapun engkau benar adalah seorang bhakta yang luar biasa, namun engkau harus merasa bahwa dirimu seolah-olah hanyalah seperti gundukan tanah; sebaliknya, walaupun engkau masih di level yang rendah, janganlah berpura-pura seolah-olah engkau sudah sudah mencapai level setinggi gunung.

- Divine Discourse, December 12, 1964.

Wednesday, December 5, 2007

Sai Inspires - 5th December 2007 (What is the most significant knowledge we have to imbibe?)

What is the wisdom that you should achieve? It is the giving up of body (identification), the escape from the belief that 'you' are the 'body'. You say, 'my hand, 'my foot', just as you say, 'my watch', 'my shoe'; but, yet feel you are the body. Examine the reality of the body, and escape from this false identification - that is the hall-mark of Jnaana (wisdom). The 'I' that sees, experiences, feels, knows - that 'I' is the Paramaathma (Supreme Soul).

Apa jenis kebijaksanaan yang harus engkau capai atau peroleh? Yaitu kebijaksanaan dimana engkau melepaskan identifikasi atas badan jasmanimu. Dengan perkataan lain, bahwa engkau sebenarnya bukanlah badan jasmani ini. Orang-orang mengatakan bahwa ‘ini adalah tanganku’, ‘ini kakiku’ – persis seperti ketika mereka mengatakan bahwa ‘ini adalah jam tanganku’, ‘sepatuku’. Engkau merasa bahwa dirimu adalah badan jasmani ini. Engkau perlu melakukan eksaminasi (penilaian) atas realitas sebenarnya dari badan jasmani, agar dengan demikian, engkau dapat meloloskan dirimu dari identifikasi yang salah. Inilah tonggak sebenarnya dari Jnaana (kebijaksanaan). ‘Aku’ yang melihat, merasakan, mengalami dan mengetahui – sang Aku ini adalah Paramaathma (jiwa nan agung – supreme soul).

- Divine Discourse, December 12, 1964.

Tuesday, December 4, 2007

Sai Inspires - 4th December 2007 (Is it okay if we revere and respect our own diety zealously?)

One individual may elect to worship the Divine in the form of his favourite Goddess; another may worship God in a different form and derive bliss from such worship. Each one should note that the forms in which the Divine is worshipped by others are as important to them as his own chosen deity is to him. If, on the contrary, he criticizes or casts a slur on the deities worshipped by others, he is committing a grievous sin, however well he may be performing his own worship. Likewise, an individual should show equal regard and reverence for mothers of others as he/she shows for their own mother.

Seseorang boleh memilih untuk memuja atau beribadah kepada Divine sesuai dengan bentuk atau rupa yang disenanginya; sementara itu, orang lain juga boleh bersembahyang kepada Tuhan dalam wujud yang berbeda dan masing-masing memetik bliss dari ibadah tersebut. Engkau harus mencamkan bahwa wujud-wujud Divine yang dihormati oleh orang lain adalah sama pentingnya dengan wujud dewata yang dipilih & disukai oleh dirimu. Jikalau engkau mengkritik ataupun mencela dewata yang dihormati oleh orang lain, maka itu berarti bahwa walaupun engkau mungkin sangatlah taat beribadah, namun tindakanmu tersebut merupakan kesalahan yang serius. Dengan perumpamaan yang sama, engkau harus menunjukkan rasa hormat kepada ibunda orang lain seperti halnya engkau menghormati ibumu sendiri.

- Divine Discourse, October 14, 1988.

Monday, December 3, 2007

Sai Inspires - 3rd December 2007 (How should we integrate the five human values into our lives?)


Human values cannot be promoted merely by repeating the words - Truth, Righteousness, Peace, Love and Non-violence. In practicing righteousness, there should be no secret desires. Actions performed with such secret motives result in bondage. Truth and right conduct should be adhered to with pure intentions. Both of them are rooted in the Eternal. A righteous life leads to peace. Love is to be experienced in the depths of peace. Love should find expression in non-violence. Where love prevails, there is no room for doing harm or violence to others. All these basic values have to be demonstrated in action and not limited to preaching.

Nilai-nilai kemanusiaan (kebenaran, kebajikan, kedamaian, cinta-kasih dan tanpa-kekerasan) tidak bisa dipromosikan dalam bentuk wacana belaka. Keinginan yang bersifat rahasia tidak boleh terdapat dalam praktek kebajikan. Apabila suatu tindakan dilakukan dengan niat yang terselubung, maka hasil perbuatan tersebut akan menimbulkan kemelekatan. Kebenaran dan perilaku yang bajik haruslah dilandasi oleh niat yang suci & murni. Kehidupan yang bajik akan menghasilkan kedamaian. Cinta-kasih akan dialami di tengah-tengah kedamaian. Cinta-kasih diekspresikan sebagai tindakan tanpa kekerasan. Dimana terdapat cinta-kasih, maka di sana tidak akan terjadi tindakan kekerasan terhadap mahluk lain. Semua nilai-nilai kemanusiaan tersebut haruslah didemonstrasikan dalam bentuk tindakan nyata dan bukan hanya sekedar dalam bentuk wacana saja.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Sai Inspires - 2nd December 2007 (the spirit of true humanness and divineness today)


Strive for the happiness, the joy of all others, as earnestly as you strive for your own; strive for the peace of the world, as diligently as you strive for your own. That is true divinity, that is true humanity.

Sebagaimana engkau memperjuangkan kebahagiaan bagi dirimu sendiri, berjuanglah juga demi untuk kebahagiaan dan keceriaan orang banyak; lakukanlah upaya-upaya yang tekun untuk mencapai kedamaian dunia seperti halnya engkau juga menginginkan kedamaian bagi dirimu sendiri. Inilah yang disebut sebagai true divinity dan true humanity (keTuhanan dan kemanusiaan yang sejati).

- Divine Discourse, October 21, 1961.

Saturday, December 1, 2007

Sai Inspires - 1st December 2007 (How can we make our life a saga of love?)




Love is the fruit of life. The fruit has three components - the skin, the juicy kernel and the seed. To experience the fruit, we have first to remove the skin. The skin represents egoism, the 'I' feeling, the excluding, limiting, individualizing principle. The seed represents 'selfishness', the 'mine' feeling, the possessive, the greedy, desireful principle. This too has to be discarded. What remains is the sweet juice, the rasa, which the scriptures describe as Divine, the Love Supreme.

Cinta-kasih adalah bagaikan buah kehidupan. Buah-buahan memiliki tiga komponen atau bagian, yaitu: bagian kulit, sari buahnya (yang menghasilkan juice) serta bagian bijinya. Untuk dapat menikmati sepotong buah, maka terlebih dahulu kita harus membuang kulit-kulitnya. Nah kulit buah itu merupakan simbolisasi dari sifat egoisme, yaitu perasaan ‘I’ (aku) yang serba membatasi, eksklusivisme serta prinsip-prinsip individualisasi. Sedangkan bagian biji merupakan representasi dari ‘selfishness’ (sikap kecongkakan), perasaan ke-aku-an, memiliki, serakah serta penuh dengan desire (keinginan). Kedua bagian tersebut haruslah disingkirkan, sehingga hanya tersisa inti-sarinya yang manis atau yang disebut sebagai ‘rasa’. Kita-kitab suci menyebut rasa tersebut sebagai Divine, cinta-kasih nan mulia.

- Divine Discourse, December 25, 1981.



Friday, November 30, 2007

Sai Inspires - 30th November 2007 (What should be our attitude while engaged in our duties?)

While engaged as you are in seva karma (service activity) as sadhana (spiritual practice), you encounter many hurdles. But, that is the nature of the world in which you act. It is a world of dual characteristics - good and bad, joy and grief, progress and regress, light and shade. Do not pay heed to these; do what comes to you as a duty, as well as you can, with prayer to God. The rest is in His Hands.

Ketika sedang aktif dalam melaksanakan seva karma (aktivitas pelayanan) sebagai bagian dari sadhana (praktek spiritual), engkau mungkin akan menghadapi banyak rintangan. Kondisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia yang memiliki karakteristik dual – yaitu kebajikan dan kejahatan, kegembiraan dan kesedihan, kemajuan dan kemunduran, terang dan gelap. Engkau tidak perlu terlalu memperdulikan hal-hal tersebut; lakukanlah kewajibanmu dengan sebaik-baiknya disertai oleh doa kepada Tuhan. Selebihnya berada di tangan Dia.

- Divine Discourse, November 21, 1981.

Thursday, November 29, 2007

Sai Inspires - 29th November 2007 (the true path to eternal happiness)

Man is a bundle of bones clothed in muscle and fitted with communication nerves. As a base of this gross body, he has a subtle body too. It has its own hunger and thirst and life cannot be happy unless these too are fulfilled - the hunger to return to the Source, a thirst for the nectar that confers immortality. In the search for something to allay this hunger and this thirst, man meets with countless obstacles, for, he does not know the road and is easily misled by his own senses which profess to show him the road. It is only when some disaster or distress overpowers him that he becomes aware of the true path. The true path is the path that reveals the Aathma (self) within.

Manusia adalah sekumpulan tulang-belulang yang dibungkusi oleh otot-otot serta terpasang oleh jaringan komunikasi melalui urat-syaraf. Sebagai dasar dari badan jasmani ini, manusia masih memiliki badan halusnya yang memiliki rasa lapar dan hausnya tersendiri. Kehidupan ini tidak akan mencapai kebahagiaan selama rasa lapar dan haus tersebut belum terpenuhi, yakni rasa lapar untuk kembali bersatu kepada sumbernya (Tuhan) serta rasa haus untuk mencicipi nectar yang akan memberikan keabadian hidup (immortality). Dalam usahanya untuk memuaskan rasa lapar dan haus itu, manusia berhadapan dengan banyak rintangan-rintangan, sebab dia tidak tahu arah jalan yang benar dan sebaliknya dia malah disesatkan oleh panca-inderanya sendiri yang mengaku-ngaku sebagai penuntun perjalanan itu. Manusia baru akan menyadari arah perjalanan yang benar setelah ia mengalami kemalangan ataupun penderitaan. Arah perjalanan yang benar ditandai oleh jalan atau rute yang bakal mengungkapkan kebenaran Aatma (spirit/diri sejati) di dalam diri kita masing-masing.

- Divine Discourse, March 30, 1979.

Wednesday, November 28, 2007

Sai Inspires - 28th November 2007 (Can beauty confer on us the joy we aspire for?)


Man cannot derive joy merely from things that are beautiful or from individuals who are beautiful. Man derives joy from the objects he loves and not from other things. It is the love that lends beauty to the object. Hence joy is equated with beauty and the sweetness of honey. Anyone who seeks joy should not go after things of beauty. The fountain-source of joy is within himself. To bring forth that joy man should cultivate the inward vision.

Manusia tidak bisa mendapatkan joy (kesenangan/keceriaan) sekedar dari barang-barang ataupun individu yang tampak cantik. Manusia memetik joy dari obyek-obyek yang dicintainya dan bukan dari obyek lainnya. Cinta-kasih membuat obyek tersebut menjadi indah. Oleh sebab itu, joy sering dipersamakan dengan kecantikan dan rasa manisnya madu. Siapapun juga yang menginginkan joy hendaknya tidak mengejar barang-barang kecantikan (eksternal). Sumber utama joy ada di dalam diri kita masing-masing. Untuk dapat mengeluarkannya, maka kita harus memupuk inward vision (pandangan yang ditujukan ke dalam diri kita sendiri).

- Divine Discourse, June 24, 1989.



Sai Inspires - 27th November 2007 (What is our real nature and destiny?)


Man is Sathyam, Shivam and Sundharam (Truth, Goodness and Beauty). That is why he is drawn by the true, the beautiful and the good. He hates being labeled a liar or an ugly person or a bad character! Man has to go out of his way, take special pains, to tread the path of falsehood; it is more difficult for him to sustain a lie than support the truth. So, man is turning back on his destiny when he revels in falsehood, ugliness and wickedness...Man is bound to God, by the same destiny. He can get sound and sweet sleep only in the lap of God. Separated from Him, he can only wail.

Manusia adalah Sathyam, Shivam dan Sundharam (Kebenaran, Kebajikan dan Keindahan). Itulah sebabnya ia tertarik kepada unsur-unsur kebenaran, keindahan dan kebajikan. Dia merasa benci jikalau disebut sebagai pembohong ataupun orang jelek atau yang memiliki karakter buruk! Adalah jauh lebih sulit untuk mempertahankan kebohongan daripada kebenaran. Apabila seseorang hidup dalam kebohongan dan kejahatan, maka itu berarti bahwa ia sedang menutupi nasib(baik)nya sendiri... Manusia terikat kepada Tuhan. Ia hanya bisa tertidur lelap dan nyenyak apabila berada di pangkuan-Nya. Jikalau ia terpisah dari Tuhan, maka ratap-tangis tidak akan jauh darinya.

- Divine Discourse, March 1st, 1968.



Sai Inspires - 26th November 2007 (What is the single most important facet that we must comprehend about this creation?)


Doubts are raised whether God exists or not. Those who affirm that God exists and those who deny are equally incompetent to say anything about God if they know nothing about the nature of God... God is Omnipresent. There is no need to search for Him anywhere. Everything that we see is a manifestation of God. Wherever we are, there is God. There can be no greater folly than to deny the existence of God when the whole cosmos bears witness to His handiwork. Everything in creation must be viewed as a manifestation of God. Only with this basic faith can one develop one's human personality.

Banyak pihak yang meragukan tentang eksistensi Tuhan. Baik bagi mereka yang percaya maupun tidak percaya – kedua-duanya sebenarnya sama-sama tidak berkompeten untuk mengatakan tentang hal tersebut, sebab toh mereka tidak tahu-menahu tentang nature of God (sifat alamiah Sang Divine).... Tuhan maha omnipresent. Engkaun tidak perlu terlalu repot mencari Beliau. Segala sesuatu yang kita lihat ini adalah manifestasi-Nya. Dimanapun kita berada, maka di situ Tuhan juga eksis. Sungguh bodoh sekali bila ada yang menyangkal eksistensi-Nya padahal seluruh alam semesta ini sudah merupakan bukti nyata sebagai hasil kreasi-Nya. Segala sesuatu di alam ciptaan ini merupakan manifestasi Tuhan. Dengan berbekal keyakinan dasar ini, barulah engkau bisa mengembangkan human personality (sifat kemanusiaan)-mu.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Sai Inspires - 25th November 2007 (if we cultivate virtue, we need to foster no other.)


Of all the virtues, love is the foremost. If love is fostered, all other qualifies flow from it. In every form of sadhana (spiritual practice), love has the first place. Love is the supreme mark of humanness. Love is God. Live in Love. Start the day with Love. Fill the day with Love. End the day with Love. You have to engage yourselves in Seva, eschewing every trace of Ahamkara (ego). Our degradation is the result of forgetting God. When we remember God, our life will be filled with peace and happiness.

Dari seluruh nilai-nilai luhur, maka cinta-kasih merupakan nilai luhur yang paling penting. Jikalau kita memelihara cinta-kasih, maka semua kualitas lainnya akan mengalir dengan sendirinya. Di dalam setiap bentuk sadhana (praktek spiritual), cinta-kasih mendapatkan prioritas pertama. Cinta-kasih adalah ciri utama kemanusiaan. Cinta-kasih adalah Tuhan, hiduplah dalam cinta-kasih. Mulailah harimu dengan cinta-kasih, isilah dengan cinta-kasih dan akhirilah dengan cinta-kasih juga. Berpartisipasilah dalam kegiatan Seva, sembari terus mengikis habis jejak-jejak Ahamkara (ego). Kemerosotan moral di tengah-tengah masyarakat dewasa ini adalah merupakan buah-akibat dilupakannya Tuhan. Apabila kita senantiasa ingat kepada-Nya, maka kehidupan kita akan menjadi damai dan bahagia.

- Divine Discourse, March 23, 1989.

Saturday, November 24, 2007

Sai Inspires - 24th November 2007 (How can we create the Society of our dreams?)



All men are kith and kin, one family, one aspiration, one attempt at one acquisition. They are all equally Divine; all form the Universal Body of the One God. All are heirs to the Aanandha (bliss) that this awareness can give. Of course, society does not happen when people gather by chance, or get together with no common goal of good. The many-faceted skills and intelligences that are contributed by the many must flow pure and clear, untarnished by egoistic desires along the channel of the spirit; then, they will feed the roots of truth and goodness; they will ensure peace, for, all ideas, of high and low will disappear. This is the criterion for a stable, strong and sweet society; not, mere numbers. Be conscious of the God in each and in all; then, inner equality will impress each so indelibly that the awareness will stay undisturbed. Peace will reign in each and all..

Manusia adalah bagaikan sanak-saudara satu sama lainnya, anggota satu keluarga yang memiliki satu aspirasi dan yang bersama-sama berupaya untuk mencapai satu hal. Mereka semuanya memiliki sifat Divinity dan bersama-sama membentuk Badan Universal dari Satu aspek ke-Tuhan-an. Masing-masing mempunyai hak yang sama dalam mewarisi Aanandha (Bliss) yang dapat diberikan oleh kesadaran (awareness). Memang society tidak serta-merta terbentuk dengan hanya berdasarkan adanya perkumpulan beberapa orang secara kebetulan dan tanpa adanya tujuan bersama yang jelas. Keaneka-ragaman ketrampilan dan kepintaran yang dikontribusikan oleh beberapa orang haruslah mengalir secara murni dan jernih serta tidak ternoda oleh keinginan-keinginan egoistik sepanjang perjalanan Spirit (jiwa). Bila hal itu tercapai, maka ia akan semakin memperkaya akar-akar kebenaran dan kebajikan; sehingga kelak akan membuahkan kedamaian (batin). Inilah kriteria-kriteria suatu society yang mantap, kuat dan indah. Society tidaklah semata-mata ditentukan oleh jumlah kuantitasnya saja. Sadarilah aspek ke-Tuhan-an yang ada di dalam diri setiap insan, sedemikian rupa sehingga kesadaran tersebut tidak akan terganggu (stabil) demi untuk tercapainya kedamaian batin bagi semuanya.

- Divine Discourse, October 1971.

Friday, November 23, 2007

Sai Inspires - 23rd November 2007 (How should we celebrate His Birthday?)

The message of the Avathaar must be born, must become alive, must grow in you, your heart - that is the birthday you have to celebrate... You need not travel long distances to where I am physically. Plant the seeds of Love in your hearts, let them grow into trees of service and shower the sweet fruits of Anandha (bliss). Share the bliss with all. That is the proper way to celebrate the Birthday.

Pesan dari Avathaar hendaknya dilahirkan, dihidupkan dan dibiarkan tumbuh-berkembang di dalam dirimu, di dalam hatimu – inilah cara yang benar untuk merayakan ulang-tahun-Ku.... engkau sebenarnya tidak perlu berpergian jauh ke tempat dimana Aku berada secara fisik. Tanamkanlah benih cinta-kasih di dalam hatimu, biarkanlah ia tumbuh besar menjadi pohon dalam wujud pelayanan dan menghasilkan buah-buahan manis dalam wujud Anandha (bliss). Bagikanlah bliss tersebut kepada semuanya. Inilah cara yang benar untuk merayakan ulang-tahun-Ku.

- Divine Discourse, November 23, 1972.

Thursday, November 22, 2007

Sai Inspires - 22nd November 2007 (What is real education? What should it confer on the students?)

In the educational system today, the spiritual element has no place. This cannot be true education. Education must proceed primarily from the Spirit to Nature. It must show that mankind constitutes one Divine family. The divinity that is present in society can be experienced only through individuals. Education today, however, ends with the acquisition of degrees. Real education should enable one to utilise the knowledge one has acquired to meet the challenges of life and to make all human beings happy as far as possible. Born in society, one has the duty to work for the welfare and progress of society.

Dalam sistem pendidikan dewasa sekarang ini, elemen spiritual tidak mendapatkan tempat atau perhatian yang sebagaimana mestinya. Pendidikan seperti ini bukanlah pendidikan yang sejati. Pendidikan seyogyanya mengajarkan tentang umat-manusia yang merupakan satu keluarga Divine. Divinity yang eksis di tengah-tengah society (masyarakat) hanya bisa dialami melalui masing-masing individu. Namun ironisnya, pendidikan di zaman modern ini hanya berakhir dengan tercapainya gelar kesarjanaan. Pendidikan hendaknya membekali setiap orang dengan kemampuan untuk mendaya-gunakan pengetahuannya demi untuk menghadapi tantangan hidup serta untuk membahagiakan sesama umat manusia. Sebagai insan yang terlahir di dalam society, engkau mempunyai kewajiban untuk bekerja demi kesejahteraan dan kemajuan society.

- Divine Discourse, November 22, 1987.

Wednesday, November 21, 2007

Sai Inspires - 21st November 2007 (What is our primary duty in life?)


Despite the striking progress in the fields of science and technology, there has been deterioration in morals and social behaviour because of the growth of selfishness. Self-interest is predominant in every action. If one's entire life is governed by selfishness, what happens to society? Every individual has a responsibility to society, from which he derives so many benefits. Society is based on the principle of mutual give and take. Your primary duty is to show your gratitude to your parents, your kith and kin, your friends, teachers and others who have helped you in various ways to make you what you are.

Walaupun telah tercapai kemajuan yang sedemikian pesat di bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi, namun oleh karena semakin merebaknya selfishness (sikap yang mementingkan diri sendiri), maka kemerosotan dalam bidang kemoralan dan perilaku sosial justru menjadi semakin dalam. Self-interest (ego) menjadi sedemikian dominan dalam setiap pola tindakan manusia. Jikalau sepanjang kehidupannya, manusia hanya didikte oleh selfishness, maka apa yang akan menjadi nasib suatu society (masyarakat)? Setiap orang atau individu mempunyai tanggung-jawabnya masing-masing terhadap society, darimana ia telah memetik sebegitu banyak manfaat. Society dilandasi oleh prinsip mutual take and give (saling memberi). Tugas atau kewajibanmu yang terutama adalah memperlihatkan rasa syukur dan terima-kasih kepada orang-tuamu, sanak saudara, teman, guru dan lainnya – yaitu orang-orang yang telah berjasa membantumu dalam berbagai caranya sehingga menjadikanmu seperti hari ini.

- Divine Discourse, June 24, 1989.

Tuesday, November 20, 2007

Sai Inspires - 20th November 2007 (How can we facilitate the blossoming of divinity within us?)

People today are totally immersed in self-interest, multiplying desires without limit. They are not content with having what they need for essential purposes. They wish to accumulate enormously for the future. They are filled with worries and discontent. Thereby they forfeit their happiness here and in the hereafter. Birds and beasts are content with what they can get. Man alone is afflicted with insatiable desires... He forgets his natural human qualities and behaves worse than animals. When these tendencies are given up, the inherent divinity in man will manifest itself.

Manusia di zaman sekarang pada umumnya hanya mementingkan dirinya sendiri, keinginannya dibiarkan merebak tanpa batas. Mereka tidak merasa puas dengan kebutuhan pokoknya semata. Ia ingin mengakumulasi harta yang lebih banyak lagi demi untuk masa depannya. Kekhawatiran dan ketidak-puasan senantiasa menghantuinya. Alhasil, mereka justru mengingkari kebahagiaan yang ada pada saat ini dan di masa yang akan datang. Kawanan burung dan hewan merasa puas dengan apa yang telah dipunyainya. Sebaliknya, manusia dijangkiti oleh keinginan yang tiada habis-habisnya... Ia telah melupakan karakternya yang sebenarnya sebagai manusia dan berpola tingkah-laku layaknya binatang. Apabila kecenderungan negatif seperti itu bisa ditinggalkan, maka divinity yang latent ada di dalam diri setiap manusia akan bersinar terang dan termanifestasikan kembali.

- Divine Discourse, September 26, 1987.

Monday, November 19, 2007

Sai Inspires - 18th November 2007 (How do we fill our lives with peace and love?)

Your lives are essentially of the nature of Shanti (Peace); your nature is essentially Love; your hearts are saturated with Truth. Rid yourselves of the impediments that prevent their manifestation; you do not make any attempt towards this, and so, there is no peace or love or truth in the home, the community, the nation and the world. The husband and the wife do not live in concord; the father and his sons are involved in factions; even friends do not see eye to eye! Twins take different paths. For, they live in a competitive waning world of passions and emotions. It is only when God is the Goal and Guide, that there can be real peace, love and truth. The Divine must be revered at all times and what pleases the Divine must be understood and followed.

Pada hakekatnya, kehidupanmu sebenarnya dilandasi oleh Shanti (kedamaian), sifat cinta-kasih dan hati yang bernafaskan kebenaran. Singkirkanlah rintangan yang membatasi manifestasi sifat-sifat luhur tersebut. Oleh karena ketidak-seriusanmu dalam hal ini, maka sebagai akibatnya, kedamaian atau cinta-kasih maupun kebenaran tidak terwujud di dalam rumah-tangga, lingkungan masyarakat, kehidupan berbangsa dan dunia! Pasangan suami-isteri saling cekcok; ayah dan anak saling berselisih paham; demikian pula di antara sesama teman! Bahkan pasangan kembar sekalipun masing-masing telah menempuh jalannya sendiri-sendiri. Inilah buah-akibat dari kehidupan di tengah-tengah dunia kompetitif yang mengalami degradasi moral. Kedamaian, cinta-kasih dan kebenaran hanya bisa terwujud apabila Tuhan dijadikan sebagai sasaran dan pedoman hidup. Divine haruslah dikuduskan setiap saat dan kita harus memahami dan mengikuti arahan-arahan yang akan menyenangkan Divine.

- Divine Discourse, February 21, 1974.

Sai Inspires - 19th November 2007 (Ladies Day)

A mother is ready to sacrifice everything, even her life, for the sake of her child...It is for this reason, that a woman is described as Thyagamurthi, an embodiment of sacrifice...In this world, all things are transient. Only righteousness and good name endure. How is one to acquire a good name? By revering the mother. Never go against the wishes of the mother. The child who causes pain to the mother can never be happy. Hence, earn the blessing of the mother.

Seorang ibu akan rela dan siap mengorbankan segala-galanya, termasuk kehidupanya sendiri demi untuk keselamatan anaknya... Untuk itulah, seorang wanita juga diberi gelar Thyagamurthi, yaitu perwujudan sikap yang siap untuk berkorban... Di dunia ini, segala sesuatunya bersifat sementara (transient). Hanya kebajikan dan nama baik sajalah yang bisa bertahan lama. Bagaimanakah cara untuk memperoleh nama baik? Yaitu dengan jalan menghormati ibunda. Janganlah pernah menentang keinginan ibu. Seorang anak yang mengakibatkan kesedihan dan penderitaan bagi ibunya, maka anak itu tidak akan pernah berbahagia dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, carilah blessing dari ibu.

- Divine Discourse, Novemer 19, 1995.

Saturday, November 17, 2007

Sai Inspires - 17th November 2007 (How should we go about achieving the objectives of our lives?)

There are four F's that you will have to fix before your attention. (1) Follow the Master, (2) Face the Devil, (3) Fight to the End and (4) Finish at the Goal. Follow the Master means, observe Dharma (Right Conduct). Face the Devil means, overcome the temptations that beset you when you try to earn Artha (wealth or the wherewithal to live in comfort). Fight to the End means, struggle ceaselessly; wage war against the six enemies that are led by kaama (lust). And, finally, Finish at the Goal means; do not stop until the goal of Moksha (Liberation from ignorance and delusion) is reached. The F's are fundamental for the pursuit of the four Purushaarthas (goals of man) - Dharma, Artha, Kaama and Moksha (Right Conduct, Wealth, Desire and Liberation).

Ada empat jenis ‘F’ yang harus menjadi pusat perhatianmu, yaitu: (1) Follow the Master, (2) Face the Devil, (3) Fight to the End dan (4) Finish the Goal. Yang dimaksud dengan Follow the Master adalah: mengikuti dan mematuhi ajaran Dharma (perilaku kebajikan). Face the Devils diartikan sebagai mengatasi dorongan-dorongan (nafsu duniawi) yang mengodamu ketika engkau mencari-nafkah dalam rangka untuk mencapai kesejahteraan hidup (Artha). Kemudian maksud dari Fight to the End adalah berjuanglah secara tanpa henti dalam memerangi ke-enam jenis musuh yang dimotori oleh kaama (hawa nafsu). Dan terakhir, Finish at the Goal yang berarti jangan berhenti sebelum tercapainya tujuan akhir, yakni: Moksha (kondisi terbebasnya manusia dari kekotoran batin dan delusi). Keempat F tersebut merupakan landasan fundamental bagi manusia untuk mencapai keempat Purushaarthas (tujuan hidup manusia), yaitu: Dharma, Artha, Kaama dan Moksa (kebajikan, kekayaan, keinginan dan pembebasan).

- Divine Discourse, July 6, 1975.

Friday, November 16, 2007

Sai Inspires - 16th November 2007 (How to tame our mind and turn it to God?)

Your mind is steady when it is engaged in other activities; but, when it is focused on God, it begins to waver. It does not like to stop its vagaries, which it will have to do, once God enters your heart. Tame it by Naamasmarana (Chanting the Divine name)... Have the Naamam (God's Name) on your tongue, the Rupa (Divine Form) in your eye, the Mahima (Divine Glory) in your heart, then thunderbolts will pass by you quietly.

Ketika sedang terlarut dalam berbagai jenis aktivitas, maka pada saat itu biasanya mind (pikiran)-mu akan steady (mantap); tetapi ketika dipergunakan untuk fokus kepada Tuhan, maka ia-pun mulai goyah. Sifat pikiran memang tidak suka berdiam-diri, yang mana memang itulah yang seharusnya dilakukan olehnya di kala Tuhan sudah memasuki hatimu. Jinakkanlah mind dengan melalui Naamasmarana (pengkidungan nama-nama Divine)... Milikilah Naamam (nama Tuhan) di lidahmu, Rupa (wujud Divine) di mata dan Mahima (kemuliaan Divine) di dalam hatimu; maka dengan demikian, bahkan suara gemuruh dan halilintar sekalipun tidak akan bisa mengusik ketenanganmu.

- Divine Discourse, December 6, 1963.