Thursday, July 31, 2008

Sai Inspires 31st July 2008 ( How can we develop Universal Brotherhood?)

Although the sweets which we prepare and eat have many different forms and names, the fact is, that all of them contain one common thing, that is..sugar. Just as we must realize this truth, we must also realize that, in this world, while there are so many individuals with different forms and names, the one common thing that is present in all of them is the Vishnu Thathwa or the Omnipresent Atma. This realization will enable you to develop love for the entire humanity.

Walaupun manisan yang kita persiapkan dan makan mempunyai berbagai macam nama dan wujud, namun fakta utamanya adalah bahwa semua manisan itu mengandung bahan dasar yang sama, yaitu gula. Demikian pula, hendaknya kita menyadari bahwa di dunia ini, walaupun terdapat begitu banyak individu/manusia dengan beragam nama dan rupa, namun satu hal yang mendasari semua keaneka-ragaman itu adalah bahwa di dalam diri setiap insan terdapat Vishnu Thathwa atau Atma yang omnipresent. Realisasi/kesadaran seperti ini akan memungkinkanmu untuk mengembangkan cinta-kasih bagi seluruh umat manusia.

- Divine Discourse, December, 1973.

Wednesday, July 30, 2008

Sai Inspires 30th July 2008 (What can we do today to experience Anandha?)

Do not exaggerate the importance of things that have material utility; they fade even as you grasp them by the hand.  Search for  "Sath" - that which suffers no changeSearch for "Chith" - the state of consciousness, Search for"Anandha" - the bliss that emanates from Prema, Divine Love. This love has no blemish of attachmentis unaffected by gusts of passion, is pure, and free from egoism or the desire to possess.  Then alone can you experience the Light, and illumine the path for others. Be like bees hovering on the Glory of the Lord, sucking the nectar of Grace, silently and joyfully.

Janganlah terlalu mementingkan hal-hal yang hanya memiliki unsur materialitas (keduniawian); sebab mereka pasti akan lapuk (oleh waktu), bahkan ketika mereka berada di dalam genggamanmu sekalipun. Sebaiknya carilah Sath - sesuatu yang tidak mengalami perubahan. Carilah Chith - keadaan kesadaran yang tidak terpengaruh oleh letupan emosi, kesadaran yang terbebas dari unsur egoisme maupun keinginan untuk memiliki. Hanya dengan demikian, barulah engkau bisa mengalami sendiri 'the Light' (cahaya Keilahian) yang akan menerangi jalan bagi orang lain juga. Carilah Aanandha, kebahagiaan (bliss) yang bersumber dari Prema; cinta-kasih tanpa noda kemelekatan. Jadilah seperti kawanan lebah yang berkerumun di bunga-bunga kemuliaan Tuhan, menghisap nectar manis Rahmat Ilahi.

Divine Discourse, 25 April 1961.

Tuesday, July 29, 2008

Sai Inspires 29th July 2008 ( How can the journey of life be a pleasure?)

Life is like a train journey. You have a long way to go. You must learn to make your journey comfortable. Do not carry heavy and unwanted luggage with you. That will make the journey miserable. Similarly, do not indulge in fault-finding and picking quarrels with others. Don't desire to have the best things for yourselves only. Share with others around, the good things you are given. Anger, hatred, envy, jealousy, these are the heavy luggage I ask you avoid taking with you in the journey.

Kehidupan ini bagaikan perjalanan dengan kereta-api. Engkau harus menempuh jarak yang cukup jauh. Untuk itu, engkau harus belajar cara-cara untuk membuat agar perjalananmu menjadi cukup nyaman. Janganlah membawa barang bawaan yang terlalu banyak, sebab hal itu justru akan merepotkan. Demikian pula, janganlah engkau mencari-cari kesalahan maupun memicu pertengkaran dengan pihak lain. Disamping itu, jangan pula engkau hanya mau mementingkan diri sendiri. Berbagilah dengan sesama berkah & anugerah yang telah engkau terima. Kemarahan, kebencian, keiri-hatian, kecemburuan - semuanya ini adalah koper-koper berat yang hanya akan membebani perjalananmu. Aku menyarankan agar engkau menghindarinya dalam perjalanan kehidupanmu.

- Divine Discourse, January 6, 1975.

Monday, July 28, 2008

Sai Inspires 28th July 2008 (What is the true goal of all human endeavour and how can we attain it?)

Without firm faith in the omnipresence of the Divine, devotion has no meaning. By developing faith, devotion is nourished and devotion enables one to face all the vicissitudes of life with fortitude and serenity, regarding them as dispensations of Providence. Finally, one-pointed devotion for God leads to union with the Divine...Self-realization is the goal. Love is the means. It is through the cultivation of Love that life can find fulfillment. Everyone must strive to achieve this fulfillment by filling this human adventure with the sweetness of love and transforming it into an expression of Divinity.

Tanpa dilandasi oleh keyakinan yang kuat terhadap aspek omnipresence-Nya, maka devotion (bhakti) sama sekali tak ada artinya. Dengan memupuk keyakinan, maka bhakti akan terpelihara dan selanjutnya ia akan membekalimu kekuatan dalam menghadapi pasang-surut kehidupan ini dengan penuh ketabahan dan ketenangan. Di samping itu, devotion yang sepenuh hati terhadap Tuhan akan menuntunmu menuju kepada persatuan dengan Divine... Self-realization (pencerahan diri) adalah tujuan utamanya, sedangkan cara untuk mencapainya adalah melalui cinta-kasih. Kehidupanmu akan memperoleh manfaatnya apabila engkau mengembangkan cinta-kasih. Setiap orang hendaknya berjuang untuk mencapai tujuan itu melalui petualangan kehidupannya yang penuh dengan cinta-kasih serta mentransformasikannya sebagai ekspresi Sang Ilahi.

- Divine Discourse, January 19, 1986.

Sunday, July 27, 2008

Sai Inspires 27th July 2008 (When can our prayers reach God surely and effectively?)

You are calling out but you are not answered often. Why? You address someone other than God. The call does not arise from your heart. The yearning is not total. The motive is selfish and impure. You are knocking at the door and complaining that it is not opened. God is residing in your own heart but you have locked that heart so that love cannot enter. So, He is silent and unresponsive. The door need not be opened, for you to become aware of the God within. It is ever open for Love; knocking is unnecessary. Love will automatically make the heart bright with light and delight.

Engkau meminta/memanggil, namun sering kali tiada jawaban. Mengapa hal ini terjadi? Itu disebabkan oleh karena engkau memanggil seseorang selain dari Tuhan. Panggilan itu tidak muncul dari dalam hatimu. Doa yang engkau panjatkan itu tidaklah murni, motivasinya sering kali didorong oleh selfishness (mementingkan diri sendiri). Engkau mengetuk dan mengeluh bahwa pintunya tidak dibuka. Padahal Tuhan berdiam di dalam hatimu. Penyebabnya adalah karena engkau telah mengunci hatimu sendiri sehingga mengakibatkan cinta-kasih tidak bisa memasukinya. Itulah sebabnya, Tuhan hanya diam saja dan tidak menanggapi (doa/panggilanmu). Agar engkau menyadari Tuhan yang ada di dalam hatimu, sebenarnya engkau tidak perlu bersusah-payah. Pintu (hati) senantiasa terbuka bagi cinta-kasih; sehingga engkau tidak perlu harus mengetuknya segala. Cinta-kasih secara otomatis akan membuat hatimu bersinar terang dan ceria.

Divine Discourse, October 21, 1982

Saturday, July 26, 2008

Sai Inspires 26th July 2008 (the ultimate purpose of life and what should we do to attain it? )

Convince yourselves that life cannot continue long without others serving you and you serving others. Master-servant, ruler-ruled, guru-disciple, employer-employee, parents-children, all these are bound by mutual service. Every one is a servitor. The farmer and labourer whom you serve produce by their toil your food and clothing as their service to you. Remember that the body, with its senses-mind-brain complex has been awarded to you to be used for helping the helpless.Service is the highest of path of devotion which wins the Grace of God. It promotes mental purity, diminishes egoism, andthrough sympathetic understanding, enables one to experience the unity of mankind.

Yakinkanlah dirimu bahwa kehidupan ini tidak bisa berjalan tanpa adanya (proses) saling melayani antara dirimu dengan orang laiin. Hubungan tuan-pelayan, yang memerintah dan yang diperintah, guru-murid, pemilik (perusahaan) dan karyawan, orang-tua dan anak; semuanya ini terikat dalam suatu hubungan mutual service. Setiap orang adalah pelayan. Kaum petani dan buruh (yang engkau layani) juga menghasilkan makanan dan pakaian melalui kerja-kerasnya sebagai bentuk pelayanannya kepadamu. Ingatlah bahwa badan jasmani (bersama-sama dengan panca-indera, mind dan otak) telah diberikan kepadamu agar dapat digunakan untuk memberikan bantuan bagi mereka yang tak berdaya. Service (pelayanan) merupakan jalur bhakti yang paling mulia dan disenangi oleh-Nya. Pelayanan akan membekalimu kemurnian mental, menghilangkan egoisme serta melalui tenggang-rasa, pelayanan akan memberimu pengalaman tentang unsur persatuan dari seluruh umat manusia.

Divine Discourse, November 21st, 1986.

Friday, July 25, 2008

Sai Inspires 25th July 2008 (the best and most practical approach to achieve equality, harmony and peace in present society)

When individuals change, society will change. And when society changes, the whole world will transform. Unity is the secret of social progress, and service to society is the means to promote it. Every person therefore should devote oneself to such service in a spirit of dedication. It should be realized that material comfort is not the sole aim of social living. A society in which the individuals are concerned only about material welfare will not be able to achieve harmony and peace. Even if it is achieved, it will only be a patched-up harmony for, in such a society, the strong will oppress the weak. Nor will an equal distribution of the bounties of nature ensure anything but a nominal equality. How will the equal distribution of material goods achieve equality with reference to desires and abilities? Desires have, therefore , to be controlled by developing the spiritual approach and diverting the mind from material objects to the Divine seated in each one’s heart.


Ketika individu berubah, maka lingkungan masyarakatnya juga akan mengalami perubahan. Dan apabila society (masyarakat) berubah, maka seluruh dunia juga akan mengalami transformasi. Unity (persatuan) adalah kunci untuk berkembangnya society, dan pelayanan adalah cara untuk mendukung perkembangan bagi society. Oleh sebab itu, setiap orang hendaknya membaktikan dirinya bagi pelayannan penuh semangat dedikatif. Hendaknya engkau menyadari bahwa kenyamanan materi bukanlah satu-satunya tujuan hidup. Masyarakat yang individu-individunya hanya peduli atas kesejahteraan materi tidak akan mencapai keharmonisan dan kedamaian. Seandainyapun jikalau keharmonisan dan kedamaian itu tercapai, maka ia hanyalah keharmonisan yang tidak utuh oleh sebab yang kuat akan menekan yang lemah. Keadilan sosial juga tidak akan tercapai. Lalu bagaimanakah caranya memperoleh kesejahteraan sosial? Yatiu dengan jalan mengendalikan keinginan melalui pendekatan spiritual dan mengalihkan mind dari obyek-obyek materi kepada Divine yang ada di dalam hati masing-masing.

25th July

"Constant contemplation on the form of the Lord and frequent repetition of the Lord's name are the means by which the heart is filled with love of God."

"Kontemplasi yang dilakukan secara rutin terhadap wujud Tuhan serta pengulangan nama-nama-Nya merupakan cara/metode dimana hatimu bisa senantiasa terisi oleh cinta-kasih Ilahiah."

Thursday, July 24, 2008

Sai Inspires 24th July 2008 ( How can we easily transform our lives into instances of happiness and peace?)

When you spend your hours in thoughts about God, you are also free from evil ways. You will not be tempted to abuse others or harm them in any way. You live in Love, accepting all the events of life as His Gifts. Homes, where people live in such a manner, really speaking, are heavens on earth... Hearts dedicated to these noble ideals are indeed 'golden.' They cannot be tarnished by the ups and downs of life; they can remain unaffected and pure.

Apabila engkau menghabiskan waktumu dengan senantiasa merenung/mengingat Tuhan, maka engkau akan terhindar dari perbuatan yang tidak benar. Engkau tidak akan terpancing untuk berbuat hal-hal yang tidak baik terhadap orang lain. Engkau hidup dalam cinta-kasih sembari menerima semua kejadian dalam kehidupan ini sebagai anugerah/pemberian-Nya. Rumah-tangga orang-orang yang berperilaku demikian sungguh bagaikan surga di muka bumi.... Hati (manusia) yang didedikasikan bagi idealisme-idealisme yang luhur itu bagaikan 'emas'. Mereka tidak mudah ternoda oleh pasang-surut kehidupan; mereka tidak akan terpengaruh dan senantiasa murni.

- Divine Discourse, March 9, 1974.

Wednesday, July 23, 2008

Sai Inspires 23rd July 2008 ( How can education lead us ultimately to happiness?)

Good education must be such that it covers both worldly and spiritual matters. Out of education comes humility, and out of such humility comes the right to acquire good qualities. From such a right, you will be able to acquire wealth. Once you acquire wealth, you will be able to follow the path of dharma (right action) ; and once you follow the path of righteousness, you will be happy in this world as well as in the spiritual world.

Pendidikan yang benar seharusnya mencakup baik aspek duniawi maupun spiritual. Pendidikan menghasilkan humility (kerendahan-hati) dan dari humility, engkau akan memperoleh kualitas (diri) yang baik. Dengan berbekal kualitas (diri) yang positif itu, maka engkau akan mendapatkan kesejahteraan. Selanjutnya, dengan kesejahteraan yang engkau miliki, maka engkau bisa mengikuti jalan dharma; dan apabila engkau mengikuti jalan kebenaran (dharma), maka engkau akan berbahagia baik di dunia ini maupun di dunia spiritual.

- Summer Showers, 1976.

Tuesday, July 22, 2008

Sai Inspires 22nd July 2008 ( What is the greatest possession that we must acquire?)

You must cultivate charity, which does not mean giving some money to a person in need or to an organization. Charity calls for the removal of all evil thoughts that are within you and development of a largeness of spirit....When you look around today you find that there is little evidence of sacrifice for the sake of society. A person may call oneself a great devotee, or spiritual aspirant or a scientist, but without a spirit of sacrifice there is nothing great in the person. Seva (service) is the salt which lends savour to life. The spirit of sacrifice imparts fragrance to living. One may live for 60, 70, or 80 years but it will have no meaning unless his/her life has been devoted to the ennobling of one's character and rendering devoted service to others. What you must aspire for are not buildings, positions or factories and industries; a good character is the greatest wealth you can acquire.

Hendaknya engkau mengembangkan sikap kedermawanan. Yang dimaksud dengan kedermawanan (charity) bukanlah hanya sekedar memberikan uang kepada mereka yang membutuhkannya (baik individu maupun organisasi). Pengertian charity yang sebenarnya adalah penghapusan pikiran-pikiran jahat yang ada di dalam dirimu dan pengembangan semangat/jiwa yang lapang... Kalau engkau lihat kondisi sekarang ini, maka engkau sulit untuk menemukan adanya bukti pengorbanan bagi kepentingan masyarakat luas. Seseorang mungkin menyebut dirinya sebagai bhakta yang hebat atau seorang aspiran spiritual maupun ilmuwan, namun apabila jiwa mereka tidak memiliki semangat pengorbanan, maka kehebatannya sama sekali tiada artinya. Seva adalah garam yang memberikan bumbu bagi kehidupanmu. Semangat pengorbanan akan menambah keharuman bagimu. Seseorang mungkin hidup hingga mencapai usia 60, 70 atau bahkan 80 tahun, tetapi usia panjang itu sama sekali tak ada artinya jikalau kehidupan orang yang bersangkutan tidak didedikasikan bagi perbaikan karakternya serta memberikan pelayanan kepada orang lain. Yang perlu engkau aspirasikan bukanlah gedung megah, jabatan, pabrik maupun industri; karakter yang saleh adalah kekayaan yang paling berharga yang harus engkau pupuk.

- Divine Discourse, December 11, 1985.

Monday, July 21, 2008

Sai Inspires 21st July 2008 ( What is our role, if any, in this wide world?)

The world is comparable to a big machine. Each individual is a cog in this big machine. We may feel the futility of our lives when we are compared to a small pin, a bolt or a screw in this huge machine. However, imagine a train running at a great speed. This train cannot be brought to a halt even if hundreds try to stop it. But if the driver puts on the brake, with the help of a small pin, it will instantly stop. In the same manner, when an individual uses their mind, ideals, intelligence and faces trouble and untruth in this world, he/she has the capacity to counter the sorrow in this world. This is so, in spite of his/her being only a small pin or a bolt in this big machine of the world. Therefore, each one must regard oneself as a good and useful person in the context of the prosperity of the world.

Dunia ini dapat diibaratkan sebagai sebuah mesin yang besar, dimana setiap orang/individu adalah bagian dari onderdil mesin maha besar ini. Dalam kaitannya dengan perumpamaan itu, maka kita bisa merasakan betapa futile (kecilnya) kehidupan kita apabila dibandingkan dengan sebuah pin kecil ataupun sekrup yang ada di dalam mesin besar tersebut. Namun walaupun begitu, sekarang cobalah kita bayangkan sebuah kereta-api yang sedang melaju dengan kencang. Kereta api (yang sedang melaju kecang) tak akan bisa diberhentikan walaupun ratusan orang bersama-sama mencoba melakukannya. Tetapi ketika sang masinis melakukan pengereman, maka berkat bantuan sebuah onderdil kecil (pin), kereta itu langsung akan berhenti. Nah, analogi ini menjelaskan bahwa apabila seorang individu mendaya-gunakan mind, idealisme serta kepintarannya dalam menghadapi problema dan ketidak-benaran yang terjadi di dunia ini, maka ia akan memiliki kemampuan untuk mengatasi kemelut yang sedang melanda di sekitarnya. Demikianlah kemampuan yang dimiliki setiap orang, walaupun ia hanyalah sebuah pin atau sekrup kecil di dunia maha luas ini. Oleh sebab itu, engkau harus berupaya untuk menjadi manusia bajik dan berguna bagi kesejahteraan semuanya.

- Summer Showers 1973.

Sunday, July 20, 2008

Sai Inspires 20th July 2008 (What is true friendship?)

Friendship should not be based on considerations of fear and favour. You try to be friendly with a person who is in authority and power out of fear; or with an affluent and wealthy person in the hope of gaining some personal benefits. Wealth and status being temporary, our friendships will also turn out to be of a transitory nature. If a person is adopting wrong ways, a true friend should not be afraid of pointing out the errors of their freind, with a view to improving them. It is not enough to merely share joy with each other; but it is more important to share the sorrow with each other. Sacred friendship is that which enables one to help others, at all times, and in all circumstances.

Persahabatan janganlah didasari semata-mata oleh pertimbangan rasa takut ataupun demi untuk memperoleh manfaat tertentu. Oleh karena didorong oleh rasa takut, engkau mencoba untuk bersahabat dengan orang yang sedang memegang tampuk kekuasaan; atau engkau juga menjalin persahabatan dengan orang yang berpengaruh dan kaya dengan harapan agar engkau dapat memetik manfaat pribadi darinya. Ketahuilah bahwa kekayaan dan status/jabatan bersifat sementara, dan persahabatanmu itu juga tidak kekal adanya. Apabila engkau melihat seseorang menempuh jalan yang tidak benar, maka sebagai sahabat sejati serta dengan tujuan untuk mengoreksinya, janganlah engkau ragu-ragu atau takut untuk menunjukkan kesalahannya. Tidaklah cukup bila engkau hanya berbagi kesenangan saja; tetapi jauh lebih penting adalah engkau juga saling berbagi kesedihan satu sama lainnya. Persahabatan yang terjalin secara suci dan murni memungkinkanmu untuk saling membantu setiap saat dan dalam setiap kondisi.

Divine Discourse, January 19, 1986.

Saturday, July 19, 2008

Sai Inspires 19th July 2008 (What is the form of God that everybody understands and appreciates?)

Love must expand from the individual to the whole universe. We must regard Love as God. The different forms attributed to God are products of fancy. But Love can be directly experienced. Whether one is a theist or an atheist, a hedonist or a recluse, a yogi or a materialist, he has high regard for love. Love is the one form in which everybody is ready to accept God. The cultivation of love and achieving universal Love through Love is the sublime path of Love - that is the path of Devotion.

Cinta-kasih haruslah dikembangkan mulai dari seorang individu hingga mencakup seluruh alam semesta. Kita harus memperlakukan cinta-kasih sebagai Tuhan. Adapun berbagai macam bentuk atribut yang selama itu diberikan kepada-Nya adalah merupakan hasil kreasi manusia sendiri. Sementara itu, cinta-kasih adalah merupakan atribut yang bisa langsung dialami oleh kita masing-masing, baik apakah engkau adalah seorang theist maupun atheist, seorang hedonist maupun sanyasi, seorang yogi maupun materialist. Semuanya menghargai cinta-kasih; yang merupakan perwujudan Ilahi yang mudah diterima oleh setiap orang. Pengembangan cinta-kasih untuk pencapaian universal Love merupakan jalan Bhakti (devotion). 

Divine Discourse, January 19, 1986.

Friday, July 18, 2008

Sai Inspires 18th July 2008 ( How can we find peace and grow in the spiritual path living in this world of pain and pleasure?)

Try to reduce your attachment to the world to the extent possible. Be happy and make others happy. Do not hurt anybody. Consider difficulties as passing clouds. You have developed family relationships and there are bound to be some worries. But do not be perturbed by them. When you look at the vast sky, you find many clouds. Likewise, in the sky of your heart there are clouds of attachment. They just come and go. Do not worry about them. What is the shape of worry? It is a mentally created fear. It is the result of your imagination. Every man is bound to encounter difficulties and losses. We should face them with courage... From this day of Guru Purnima, make your hearts sacred. Just as you wave away the mosquitoes that bite you, brush aside any difficulties that assail you. Do not be depressed by sorrow nor be elated by happiness. Develop equanimity and strive to attain Divinity.

Cobalah semaksimal untuk mengurangi kemelekatanmu terhadap dunia ini. Be happy dan berusahalah untuk membuat orang lain juga happy. Janganlah melukai siapapun juga. Anggaplah semua kesulitan-kesulitan yang engkau hadapi itu sebagai awan yang berlalu. Oleh karena engkau telah memiliki hubungan keluarga, maka sudah barang tentu engkau akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan (kekhawatiran). Engkau tidak perlu terganggu oleh hal-hal itu. Ketika engkau melihat ke angkasa, maka di sana terlihat banyak kumpulan awan. Demikianlah, di dalam ruang hatimu juga terdapat awan-awan kemelekatan. Mereka datang dan pergi. Engkau tidak usah mengkhawatirkannya. Apa sih bentuk dari worry (kekhawatiran) itu? Ia merupakan ketakutan yang diciptakan oleh batin atau imajinasimu sendiri. Setiap orang pasti akan berhadapan dengan berbagai macam kesulitan. Hendaknya semuanya itu dihadapi dengan keberanian... Mulai sejak hari Guru Purnima ini, sucikanlah hatimu. Sebagaimana halnya engkau mengibas-ngibas tanganmu untuk mengusir nyamuk, maka janganlah engkau membiarkan dirimu merasa terlalu tertekan oleh kesulitan-kesulitan yang menghampirimu. Janganlah engkau menjadi berputus-asa bila mengalami hambatan dan sebaliknya jangan pula menjadi lupa daratan di kala sedang senang. Tumbuh-kembangkanlah keseimbangan batin dan berjuanglah untuk mencapai Divinity.

- Divine Discourse, July 24, 2002.

Thursday, July 17, 2008

Sai Inspires 17th July 2008 ( What should we do to ensure that our lives are filled with goodness?)

We hear that this is Kali Yuga, an era of unpleasant times. Actually, we must try to make the best of our present age, and try to do good and live happily. Past is past, it will never come again, and we are not sure of the future. Present is not permanent; it is always changing and moving. That is why we say, “Be good, do good, see good - that is the way to God.” Try to be good, fill your heart with goodness and lead a good life, and the result too then will be good. When one falls sick, it is not in any way useful to just feel sorry about it. It is necessary that we should somehow try to take proper medicine, and get over the sickness. So also instead of feeling sorry for the unpleasant acts happening around us, we must try always to be good and remove the bad from this world.

Kita mengetahui bahwa zaman ini dinamakan sebagai Kali Yuga, yaitu suatu era yang dipenuhi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Namun walaupun begitu, kita tetap harus melakukan upaya sebaik mungkin di zaman seperti ini, dan berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat bajik dan hidup happily. Past is past (masa lalu sudah lewat), ia tak akan kembali lagi dan juga kita belum tahu secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Masa sekarang ini tidak permanen, ia senantiasa mengalami perubahan. Itulah sebabnya kita mengatakan, Be good, do good, see good - inilah jalan menuju kepada Tuhan. Berusahalah untuk menjadi baik, isilah hatimu dengan kebaikan serta jalanilah kehidupan yang saleh; maka niscaya hasil yang engkau peroleh juga akan baik adanya. Ketika engkau jatuh sakit, maka tidak ada gunanya bila engkau hanya menyesalinya saja. Yang terpenting adalah bahwa engkau melakukan upaya untuk meminum obat yang tepat dan singkirkan penyakit itu dari badanmu. Demikian pula, alih-alih menyesali kebobrokan mental yang ada di sekeliling kita, justru kita sendirilah yang harus berusaha untuk senantiasa berbuat baik dan menyingkirkan sifat-sifat jahat dari dunia ini.

- Summer Showers, 1972.

Wednesday, July 16, 2008

Sai Inspires 16th July 2008 (the meaning of the word dharma, which is often translated as righteousness)

We must recognize the meaning of the word dharma. We think our duty is our dharma. This is not so. To do something which will give pleasure and happiness to others is our real dharma. Whatever we do should not cause any curtailment of the freedom which others enjoy. We should ensure that we do not do those acts which we consider as bad in others. We should also see how others are being respected, and do only such acts which are regarded as respectful.

Kita harus memahami betul pengertian dharma yang sebenarnya. Selama ini kita mengira bahwa dharma diartikan sebagai tugas atau kewajiban kita, padahal sebenarnya tidaklah demikian halnya. Yang dimaksud dengan dharma adalah melakukan sesuatu yang bisa memberikan kesenangan dan kebahagiaan bagi orang lain. Apapun juga yang kita lakukan, pastikanlah bahwa kita tidak menyebabkan terkekangnya kebebasan orang lain (dalam menikmati kesenangannya). Kita harus memastikan bahwa kita tidak melakukan hal-hal yang dianggap buruk/tidak baik oleh orang lain. Kita juga harus memastikan bahwa orang lain dihormati dan melakukan hal-hal yang terhormat.

- Summer Showers, 1977.

Tuesday, July 15, 2008

Sai Inspires 15th July 2008 ( How should we broaden our attitude and what should be the firm belief behind all our actions?)

Develop largeness of heart. The heart is not a physical organ. It derives its name "Hridaya" (in many Indian languages) from the fact that it is a seat of daya (compassion). Develop compassion for all. Go forward from the narrow feelings of "I" and "mine" to "We" and "Ours". It is not easy to comprehend the formless, attributeless, infinite Divine. The truth of the Divine has to be discovered and experienced by each one. The Divine is Omnipresent. You must lead a life of truth and godliness based on this conviction.

Lapangkanlah hatimu. Yang dimaksud dengan hati di sini bukanlah organ fisik (jantung), melainkan "Hridaya" yang merupakan tempat kedudukan daya (welas-asih). Artinya: berwelas-asihlah terhadap semuanya. Transformasikanlah perasaan "ke-aku-an" menjadi "we" dan "ours" (kebersamaan). Memang tidaklah mudah bagimu untuk memahami tentang Divine yang tak berwujud, yang tak beratribut serta yang serba infinite (tak terbatas). Kebenaran tentang Divine harus ditemukan serta dialami oleh setiap orang. Divine bersifat Omnipresent. Engkau harus menjalani kehidupan kebenaran dan berke-Tuhan-an berdasarkan atas keyakinan tersebut.

- Divine Discourse, June 22, 1987.

Monday, July 14, 2008

Sai Inspires 14th July 2008 ( What can bestow on us lasting joy?)

When people do not place faith in the Self but pursue the senses only, the danger signal is up...The world is building itself up on the sandy foundation of the sensory world...Like the monkey which could not pull its hand from out of the narrow-necked pot, because it first held in its grasp a handful of doughnuts which the pot contained, people too are suffering today, since they are unwilling to release their hold on the handful of pleasurable things they have grasped from the world. They are led into the wrong belief that the accumulation of material possessions will endow them with joy and calm. But Divine Love (Prema) alone can give that everlasting joy. Prema alone will remove anger, envy and hatred... You must realise the Omnipresence of God, and the Oneness of Humanity. You must learn tolerance and patience, charity and service.

Apabila manusia tidak memiliki keyakinan terhadap diri sejatinya (Atma) dan jikalau ia malahan mengejar hal-hal yang bersifat indriawi (duniawi), maka itu merupakan pertanda mara-bahaya... Bila hal demikian terjadi, maka itu berarti dunia sedang dibangun di atas landasan indriawi yang serba tidak kokoh... Seperti halnya seekor monyet yang tidak bisa menarik tangannya keluar dari sebuah botol sebagai akibat keserakahannya sendiri (yang mengenggam kacang-kacangan yang ada di dalam botol itu). Analogi seperti ini persis seperti kondisi yang dialami oleh manusia dewasa sekarang ini, yang mana mereka enggan melepaskan genggamannya atas benda-benda duniawi yang mereka miliki. Manusia beranggapan bahwa kebahagiaan dan ketenangan batin bakal diperoleh melalui akumulasi harta duniawi. Padahal pandangan seperti itu salah sama sekali, sebab hanya Prema sajalah yang bisa memberikan kebahagiaan itu. Kemarahan, keiri-hatian dan kebencian hanya bisa disingkirkan melalui prema... Engkau harus menyadari tentang sifat ke-Omnipresense-nya Tuhan serta Unity dari seluruh umat manusia. Engkau harus belajar untuk mengembangkan sikap toleransi dan kesabaran, kedermawanan dan pelayanan.

- Divine Discourse, February 28, 1964.

Sunday, July 13, 2008

Sai Inspires 13th July 2008 (What is it that we need in ample measure in our journey to God?)

Do not tarry on your journey to God. You fill up the petrol tank with fuel for the journey that lies ahead, is it not? When you propose to keep the car in the garage for long, you do not fill the tank. Well, the body too is fed with fuel so that it may go on a journey - journey to God. That journey is through karma (action), good and selfless action...The correct discipline to acquire this selfless (nishkaama)attitude is dedication; and dedication is possible only when you have intense faith in God. That faith becomes steady through spiritual effort.

Janganlah engkau menunda-nunda perjalananmu menuju kepada Tuhan. Engkau mengisi penuh tangki bensin mobilmu ketika hendak menempuh perjalanan bukan? Jikalau seandainya engkau hanya hendak menyimpan mobil di garasi untuk jangka waktu yang lama, maka tentunya engkau tidak perlu mengisi penuh bensinnya. Demikianlah, badan jasmani kita diisi dengan makanan dalam rangka untuk menempuh perjalanan, yaitu perjalanan menuju Tuhan melalui karma (tindakan), yakni tindakan yang bajik dan tanpa pamrih.... Disiplin yang benar untuk memperoleh sikap tanpa pamrih (nishkaama) adalah melalui dedikasi; dan dedikasi ini hanya dimungkinkan jikalau engkau memiliki keyakinan yang kuat kepada-Nya. Keyakinan yang mantap diperoleh melalui upaya spiritual (sadhana).

- Divine Discourse, September 15, 1963.

Saturday, July 12, 2008

Sai Inspires 12th July 2008 (What is our natural self and how can we strengthen it?)

Chant the name of the Lord with full faith and pure heart. You forget your nature in the complex tangle of artificiality; you miss the sahaja (natural) when you are caught in the net of a-sahaja (artificial). The natural is prema (Love), shaanthi (Peace), sathya (Truth) and aanandha (Bliss). The artificial is hate, falsehood, war, grief and greed. You must discover the spring of your own truth; you cannot play truant for long; after many a birth, even if their number is a hundred, you have to reach the source from where you strayed...If you strengthen your moral qualities, and develop faith in God, calamity can never visit you.

Ucapkanlah nama Tuhan dengan penuh keyakinan dan hati yang murni. Di tengah-tengah gempuran kehidupan yang artifisial, engkau telah melupakan jati dirimu yang sebenarnya; engkau telah kehilangan (sifat-sifat) alamiah (sahaja) sebagai akibat jeratan a-sahaja (artifisial). Sifat yang alami mencakup: prema (cinta-kasih), shaanthi (kedamaian), sathya (kebenaran) dan aanandha (bliss). Sedangkan yang artifisial meliputi: kebencian, kebohongan, peperangan, penderitaan dan keserakahan. Cepat atau lambat, engkau harus menyadari jati-dirimu yang sebenarnya; engkau tidak bisa bolos untuk waktu yang terlalu lama; setelah melalui serangkaian banyak kelahiran, engkau harus sampai ke tujuan asal darimana engkau telah melenceng/tersesat... Jikalau engkau memperkuat dirimu dalam kualitas-kualitas moral serta mengembangkan keyakinan kepada-Nya, maka malapetaka tidak akan pernah menghampirimu.

- Divine Discourse, December 6, 1963.

Friday, July 11, 2008

Sai Inspires 11th July 2008 ( How do we know if our acts are non-violent and holy?)

The first step in spiritual training is to curb the Icchaa shakthi (power of desires), which prompts the senses to pursue objects. If the iccha (wish) is for God, it is good; if, on the other hand, it is for objective pleasure, then it harms the individual... If a dacoit cuts off your hand, it is himsa (injury); if the doctor amputates it, he saves your life and so, it is ahimsa (non-injury). Vishaya vaasana (attachment to sense objects) makes an act low; Bhagavath vaasana (attachment to God) makes it sacrosanct.

Langkah pertama dalam latihan spiritual adalah mengendalikan Icchaa Shakthi (power of desires/dorongan keinginan), yang memancing panca indera kita dalam mengejar obyek-obyek (duniawi). Namun apabila iccha (dorongan) itu ditujukan kepada Tuhan, maka hal itu sungguh sangat baik; sebaliknya bila ditujukan kepada kenikmatan duniawi, maka tentu hal itu hanya akan menghasilkan dampak negatif kepada individu bersangkutan... Jikalau seorang penjahat memotong tanganmu, maka perbuatannya itu dikategorikan sebagai himsa (kekerasan); tetapi jikalau seorang dokter yang mengamputasi tanganmu, maka tindakannya adalah demi untuk menyelamatkan nyawamu dan oleh sebab itu, tindakan sang dokter dikategorikan sebagai ahimsa (tanpa kekerasan). Vishaya vaasana (kemelekatan atas obyek-obyek indriawi) akan membuat tindakanmu menjadi nista; sebaliknya Bhagavath vaasana (kemelekatan kepada Tuhan) akan membuat hasil tindakanmu menjadi suci.

- Divine Discourse, December 6, 1963.

Thursday, July 10, 2008

Sai Inspires 10th July 2008 ( What should our lives be based on?)

You must learn to distinguish between good and bad, truth and untruth. You must use your education for the purpose of developing faith in God and respect for your parents. Your life should rest on morality and truth. Your life may or may not go on well but you must base it on correct foundations... Money comes and goes but morality comes and grows. It is a matter of great satisfaction if you are educated on the right lines, become an example to others and accept positions of responsibility. In all these things, always keep your heart straight and clear. Then you will get the Grace of God.

Engkau harus belajar untuk dapat membedakan antara yang baik dan tidak baik, antara kebenaran dan ketidak-benaran. Engkau harus mendaya-gunakan pendidikanmu untuk tujuan mengembangkan keyakinan kepada Tuhan serta penghormatan terhadap orang-tuamu. Kehidupanmu (baik sesuai maupun tidak sesuai dengan impianmu) haruslah dilandaskan kepada nilai moralitas dan kebenaran.... Money comes and goes, but morality comes and grows. Engkau tentu akan merasa puas apabila engkau dididik secara benar serta menjadi contoh teladan bagi orang lain serta dipercaya untuk suatu tanggung-jawab. Di atas segalanya, engkau harus senantiasa menjaga agar hatimu selalu lurus dan bersih, dengan demikian maka engkau akan mendapatkan Rahmat-Nya.

- Summer Showers, 1973.

Wednesday, July 9, 2008

Sai Inspires 9th July 2008 ( How to discipline our mind?)

The mind is the mischief-maker; it jumps from doubt to doubt; it puts obstacles in the way. It weaves a net and gets entangled in it. It is ever discontented; it runs after a hundred things and away from another hundred. It is like a driver who drives the car with the master in it, wherever his fancy takes him. So take up the task of training it into an obedient servant; it is educable, if only you know how to do it. Place before it things more tasty and it will hanker only for those. Once it realizes the value of Naamasmarana (chanting His name), it will adhere to that method of getting peace and joy. So, start it now.

Mind (pikiran) adalah biang-keroknya; ia selalu menyangsikan segala-galanya; ia menciptakan hambatan bagi dirinya sendiri. Ia membentuk jaring-jaring dan mengakibatkan dirinya terjebak di dalamnya. Ia tak pernah merasa puas; ia selalu menginginkan banyak hal. Mind adalah bagaikan seorang supir yang mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh pemiliknya, dimana ia menyetir sesuka-sukanya. Oleh sebab itu, mulai lakukanlah upaya untuk melatih mind agar ia menjadi seorang pelayan yang lebih patuh dan jikalau engkau mengetahui caranya, engkau juga bisa mendidiknya. Coba berikan kepadanya sesuatu yang menyenangkan, maka ia akan terus mengejarnya. Ketika ia menyadari betapa bernilainya praktek Naamasmarana, maka ia akan melekat kepada metode itu yang bakal memberikannya kedamaian dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, mulailah dari sekarang ini juga.

- Divine Discourse, February 27, 1961.

Tuesday, July 8, 2008

Sai Inspires 8th July 2008 ( What is it that we should truly strive for in this world?)

Do not exaggerate the importance of things that have but material utility; they fade, even while you grasp them by the hand. Search for the Sath - that which suffers no change. Search for the Chith - the state of consciousness, which is unaffected by gusts of passion, which is pure, which is free from egoism or the desire to possess. Then alone can you experience the Light, and illumine the Path for others. Search for Aanandha, the bliss that emanates from Prema; Love with no blemish of attachment. Be like bees hovering on the flower of the Glory of the Lord, sucking the sweet nectar of Grace, silently and joyfully.

Janganlah terlalu mementingkan hal-hal yang hanya memiliki unsur materialitas (keduniawian); sebab mereka pasti akan lapuk (oleh waktu), bahkan ketika mereka berada di dalam genggamanmu sekalipun. Sebaiknya carilah Sath - sesuatu yang tidak mengalami perubahan. Carilah Chith - keadaan kesadaran yang tidak terpengaruh oleh letupan emosi, kesadaran yang terbebas dari unsur egoisme maupun keinginan untuk memiliki. Hanya dengan demikian, barulah engkau bisa mengalami sendiri 'the Light' (cahaya Keilahian) yang akan menerangi jalan bagi orang lain juga. Carilah Aanandha, kebahagiaan (bliss) yang bersumber dari Prema; cinta-kasih tanpa noda kemelekatan. Jadilah seperti kawanan lebah yang berkerumun di bunga-bunga kemuliaan Tuhan, menghisap nectar manis Rahmat Ilahi.

- Divine Discourse, April 25, 1961.

Monday, July 7, 2008

Sai Inspires 7th July 2008 (What is the awareness that can confer on us lasting bliss?)

What is darkness and what is light? Light alone exists. Darkness is only the absence of light. Discovering the light leads to the elimination of darkness... Birth and death are incidental to the body alone. Your Self has neither birth nor death. What is born (the body) dies. Death relates to the body and not to the aathma (spirit) . The aathma is eternal. It is the truth. You have to acquire this awareness to experience lasting bliss. To experience permanent bliss one has to develop firm faith in God.

Apakah yang dimaksud dengan kegelapan dan apa pula yang dinamakan sebagai terang? Ketahuilah bahwa satu-satunya yang eksis hanyalah terang (cahaya) saja. Kegelapan terjadi oleh karena tiadanya terang. Menemukan cahaya/terang akan menuntun kepada eliminasi kegelapan (batin).... Kelahiran dan kematian adalah peristiwa insidentil yang hanya terjadi pada badan jasmani saja. Dirimu yang sejati tak mengenal kelahiran maupun kematian. Yang terlahir (badan jasmani) akan mengalami kematian, sedangkan Aathma (spirit) tak terpengaruh olehnya. Aathma bersifat abadi, inilah kebenaran. Engkau harus mengembangkan kesadaran ini untuk memiliki everlasting bliss. Dan untuk itu, terlebih dahulu engkau harus memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhan.

- Divine Discourse, September 4, 1996.

Sunday, July 6, 2008

Sai Inspires 6th July 2008 (How should we proceed towards our life's goal?)

Life is like a flight of steps towards the Godhead. You have your foot on the first step when you are born; each day is a step that must be climbed; so, be steady, watchful and earnest. Do not count the steps ahead or exult over the steps behind. One step at a time and that well climbed, is enough success to be satisfied with and to give you encouragement for the next one. Do not slide from the step you have got up on. Every step is a victory to be cherished; every day wasted is a defeat to be ashamed of. Slow and steady - let that be your maxim! Adhere to a regular routine. Maintain discipline of time.

Kehidupan ini ibaratnya seperti perjalanan menaiki tangga menuju Godhead (Tuhan). Ketika engkau terlahir, maka itulah anak-tangga yang pertama bagimu; setiap hari adalah anak-tangga baru yang harus ditapaki; oleh sebab itu, engkau perlu memiliki kemantapan hati, senantiasa waspada dan tekun. Janganlah menghitung sisa anak-tangga yang masih ada di depan dan juga janganlah engkau menoleh balik ke anak-tangga yang sudah ditapaki dibelakang. Melangkahlah satu per satu, dan bila itu dilakukan dengan baik, maka ia akan memberikan kepuasan tersendiri dan merupakan bekal dorongan untuk melangkah selanjutnya! Janganlah terjatuh dari anak-tangga yang sudah engkau naiki. Setiap langkah adalah kemenangan yang patut disyukuri; sebaliknya, bila engkau menyia-nyiakan satu hari saja, maka engkau perlu merasa malu. SLOW and STEADY - inilah motto yang patut engkau junjung tinggi! Ikutilah suatu pola rutinitas yang teratur, pertahankanlah kedisiplinan waktu.

- Divine Discourse, March 17, 1961.

Saturday, July 5, 2008

Sai Inspires 5th July 2008 (Is it alright to be mad after God?)

To a worldly man, a God-intoxicated person will appear mad and he will laugh at him for it. But to the God-intoxicated man, the worldly appear insane, foolish, misled and blind. Of all the insanities that harass man, God-madness is the least harmful, the most beneficial. The world has suffered untold damage due to its "mad" rulers and "mad" guides; but nothing but harmony, peace, brotherliness and love have come out of the 'God-madness' of man!

Bagi manusia duniawi, mungkin orang yang 'tergila-gila' dengan Tuhan akan tampak seperti orang yang kurang waras dan ia akan ditertawakan oleh mereka. Namun sebaliknya, bagi orang yang God-intoxicated, justru manusia duniawi akan terlihat sebagai orang yang sakit pikiran, bodoh, tersesat serta buta. Dari sekian banyak 'kegilaan' yang menghantui manusia, hanya God-madness sajalah yang paling tidak berbahaya, bahkan boleh dikatakan yang paling bermanfaat. Dunia ini telah menderita begitu banyak kerusakan akibat ulah pemimpin-pemimpin yang 'gila'. Sementara itu, manusia yang dikatakan menderita 'God-madness' justru membuahkan keharmonisan, kedamaian, persaudaraan dan cinta-kasih.

- Divine Discourse, Shivarathri, 1955.

Friday, July 4, 2008

Sai Inspires 4th July 2008 ( What is the surest way to win the Lord's Grace?)

There are three types of devotion: the vihanga method, where like a bird swooping down upon the ripe fruit on the tree, the devotee is too impatient and by the very impatience he exhibits, he loses the fruit, which falls from his hold; the markata method where like a monkey which pulls towards it one fruit after another and by sheer unsteadiness is not able to decide which fruit it wants, the devotee too hesitates and changes his aim much too often and thus loses all chances of success; and the pipeelika method, where like the ant which slowly but steadily proceeds towards the sweetness, the devotee also moves direct, with undivided attention towards the Lord and wins His Grace!

Devotion (bhakti) terdiri atas tiga macam jenis, yaitu: jenis vihanga, yang ibaratnya seperti seekor burung yang terbang kesana-kemari untuk mencicipi buah-buahan yang sudah matang di atas pohon, dimana sang bhakta dari golongan ini cenderung tidak sabaran dan sebagai akibat ketidak-sabarannya itu, ia justru kehilangan buah yang hendak dicicipinya oleh karena terjatuh dari pohon. Kemudian jenis bhakti yang kedua adalah jenis markata, yang diperumpamakan sebagai seekor monyet yang begitu serakah mengambil buah sebanyak-banyaknya dan sebagai akibat ketidak-mantapan (hatinya), sang bhakta dari golongan ini cenderung suka ragu dan kerap berubah pikiran sehingga alhasil, kesempatan baginya untuk sukses juga semakin kecil. Dan yang terakhir adalah devotion jenis pipeelika, yang mirip dengan kawanan semut yang bergerak perlahan namun mantap menuju ke sumber manis; nah bhakta dari tipe ini juga bergerak maju secara yakin dan penuh perhatian kepada Tuhan guna memenangkan rahmat-Nya!

- Divine Discourse, Shivarathri, 1955.

Thursday, July 3, 2008

Sai Inspires 3rd July 2008 (How can we sublimate every we element of our existence?)

People encased in rockets takes pride in zooming round the world at terrible speeds and even racing to the moon; but they have not succeeded in penetrating even an inch into the innermost recess of their own minds and controlling the vagaries rampant there. To save yourself from being carded away by the current of change, you must swim up the river, which is a hard enterprising process, indeed. Hold all your property and wealth in trust for the Lord who gave them to you; even your family, you must treat as a sacred trust, as persons given to you by the Lord to love, foster and guide. Thus, you must elevate your attachment into worship and make it an instrument for spiritual progress.

Manusia membanggakan dirinya oleh karena telah berhasil terbang dengan kecepatan tinggi mengelilingi dunia dan bahkan berlomba-lomba untuk bisa melesat ke bulan. Akan tetapi, yang justru disayangkan adalah bahwa mereka belum juga berhasil untuk melakukan penetrasi bahkan satu inci sekalipun ke dalam batinnya sendiri serta mengendalikan gejolak-gejolak yang terdapat di dalamnya. Agar engkau dapat selamat dari terjangan arus perubahan, maka engkau harus sanggup berenang melawan arus tersebut; yang mana hal ini memang merupakan pekerjaan yang cukup berat. Perlakukanlah semua harta dan kekayaanmu sebagai benda yang dipercayakan kepadamu oleh Tuhan; demikian pula halnya dengan keluargamu, perlakukanlah mereka sebagai orang-orang yang dikirim oleh Tuhan agar dicintai, dipelihara serta dituntun. Dengan demikian, maka engkau akan mentransformasikan kemelekatan menjadi ibadah dan menjadikannya sebagai instrumen demi untuk kemajuan spiritualmu.

- Divine Discourse, December 14, 1964.

Wednesday, July 2, 2008

Sai Inspires 2nd June 2008 (Can we escape the consequence of our actions?)

If we think that the effect of the prarabhda karma (past actions) is inescapable, then what is the use of worshipping God? Even though prarabhda is there, the Grace of God will certainly remove, to a large extent, the bad effects from such actions. Here is a small example: There is an injection bottle. The expiry date written on it is 1970. In the year 1972, both, the medicine and the bottle, are still there, but the medicine has no power. In the same way, in our destiny there may be the medicine or prarabhda; but by the Grace of God we can weaken or blunt its effect. If God is pleased, He will certainly annul the bad effects of past actions. Therefore, the most important thing we have to try is to earn the Grace of God.

Jikalau kita beranggapan bahwa dampak dari prarabhda karma (karma buruk dari masa lampau) adalah sesuatu yang tidak bisa terhindari, lalu apa gunanya beribadah kepada-Nya? Ketahuilah bahwa walaupun terdapat prarabhda, namun berkat Rahmat Ilahi,efek negatifnya akan dapat disingkirkan sedikit atau banyak. Berikut ada satu contoh sederhana: di depan sebuah botol (obat) tertera tahun kadaluarsa 1970. Pada tahun 1972, baik botol maupun obat itu masih ada di sana, namun obat itu sudah tidak ampuh lagi. Dengan analogi yang sama, takdir kita mirip dengan obat atau prarabhda itu; namun berkat Rahmat Ilahi, kita akan bisa memperlemah dampak negatifnya. Jikalau Tuhan berkehendak, Ia akan sanggup menganulir atau bahkan meniadakan efek-efek negatif dari perbuatan lampau kita. Yang terpenting adalah bahwa kita harus mencoba untuk memperoleh Rahmat Tuhan.

- Summer Course, 1972.

Tuesday, July 1, 2008

Sai Inspires 1st July 2008 ( What is true religion and when can we say that we are followers of a particular faith?)

What is the meaning of the call "know thyself"? You have to get a vision of God. You have to experience the Divine. You have to converse with God. Man must realize God; see God; feel God; talk to God. This is religion. Without understanding this true meaning of religion, people regard various forms of worship and prayers as religion. "Realise is Religion." This means that to realize the eternal reality is true religion.

Apakah yang dimaksud dengan "mengenali dirimu sendiri"? Artinya adalah bahwa engkau harus memperoleh vision of God, engkau harus experience the Divine (merasakan-Nya), engkau harus bisa berkomunikasi dengan-Nya. Manusia harus sanggup untuk merealisasikan-Nya; melihat-Nya; merasakan-Nya; serta berbicara dengan-Nya. Inilah pengertian agama yang sebenarnya. Tanpa memahami arti sebenarnya dari religion (agama), manusia beranggapan bahwa agama hanya sekedar ibadah dan doa-doa saja. "Realisasi adalah Agama", dengan perkataan lain: merealisasikan realitas absolut nan abadi adalah agama dalam konteks yang sebenarnya.

- Divine Discourse, October 22, 1995.