Friday, August 31, 2007

Sai Inspires - 31st August 2007




Love is like the mariner's compass, which always points to the north. At any time, any place or in any circumstance love points only towards God. Hence, everyone should try to understand how the Love principle works. Love can be compared only with love. Prema (love) and Anuraga (affection) are one and the same. But affection, when it is directed towards worldly objects, gets tainted. Because of this pollution, joy and sorrow ensue. Man becomes a prey to desires and disappointments. However when Love is directed towards God, it becomes pure, selfless, enduring and Divine.



Cinta-kasih dapat diibaratkan seperti jarum kompas, yang senantiasa menunjuk ke arah Utara. Kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun juga, cinta-kasih selalu mengarah kepada Tuhan. Oleh sebab itu, setiap orang harus paham prinsip kerjanya. Cinta-kasih hanya bisa diperbandingkan dengan cinta-kasih. Prema (cinta-kasih) dan Anuraga (kasih-sayang) adalah satu dan sama adanya. Akan tetapi, apabila anuraga diarahkan kepada obyek-obyek duniawi, maka ia akan menjadi ternoda. Oleh karena adanya polusi ini, maka muncullah dualisme, yaitu rasa senang dan sedih. Alhasil, manusia menjadi bulan-bulanan keinginan dan kekecewaan. Sebaliknya, apabila cinta-kasih hanya diarahkan kepada Tuhan, maka ia akan menjelma menjadi sesuatu yang murni, tanpa diri, bertahan lama dan bersifat ke-Ilahi-an.



- Divine Discourse, November 24, 1990.

Thursday, August 30, 2007

Sai Inspires - 30th August 2007




Man is the highest object in creation. Man should not be a creature of instincts like the animals, which are subject to Nature, but should become a master of Nature. He should progress from the Nara (human) to the Narayana (Divine). An intelligent human being should not regard himself as bound by Samsara (worldly attachments). It is not the world that binds man. It has neither eyes to see nor hands to grasp. Man is a prisoner of his own thoughts and desires. In his attachment to the ephemeral and the perishable, man forgets his inherent Divinity and does not realize that everything in the Universe has come from the Divine and cannot exist without the power of the Divine.



Manusia merupakan obyek ciptaan yang tertinggi. Oleh sebab itu, seyogyanyalah manusia tidak berperilaku seperti mahluk yang mengikuti nalurinya seperti layaknya kaum hewani. Manusia harus menjadi penguasa alam, dan bukannya menjadi bulan-bulannya. Manusia harus memajukan dirinya dari Nara (manusia) menjadi Narayana (Divine/Ilahi). Manusia yang intelligent hendaknya tidak membiarkan dirinya terikat oleh Samsara (kemelekatan duniawi). Sebenarnya yang mengikat manusia bukanlah dunia yang tidak memiliki mata untuk melihat serta tangan untuk mengenggam. Manusia ‘dipenjarakan’ oleh pikiran dan keinginannya sendiri. Dalam kemelekatannya atas hal-hal yang bersifat sementara dan semu itu, manusia telah melupakan sifat Ilahi yang ada di dalam dirinya, sehingga akibatnya ia tidak menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berasal dari Sang Ilahi dan tidak akan bisa bertahan tanpa adanya kekuatan dari-Nya.



- Divine Discourse, December 25, 1987.

Wednesday, August 29, 2007

Sai Inspires - 29th August 2007





Men should concentrate on their natural spiritual tendencies rather than succumbing to the allurements of worldly objects. For this purpose, association with good people is essential. Eschew totally the company of bad people. Good company does not mean participating in bhajans and religious gatherings. Sathsang truly means cultivating the company of one's Sath (conscience). It means being immersed in the contemplation of God. Carry on your daily duties with your thoughts centered on God. Deem every action as an offering to God. That is the way to perfect one's human nature and sanctify one's life.

Daripada mengalah terhadap daya-pikat obyek-obyek duniawi, adalah lebih penting bagimu untuk lebih berkonsentrasi dalam usaha-usaha spiritual yang tiada lain adalah merupakan kecenderungan alamiahmu. Untuk itu, sangat dibutuhkan pergaulan dengan orang-orang yang saleh. Jauhilah pergaulan dengan mereka yang jahat. Pergaulan yang saleh bukan hanya sekedar diartikan sebagai mengikuti kegiatan bhajan dan persekutuan religius. Sathsang yang sebenarnya adalah memupuk pergaulan dengan Sath (conscience/hati nurani) masing-masing. Dengan perkataan lain, berkontemplasilah kepada-Nya. Jalankanlah tugas-tugasmu sehari-hari dengan pikiranmu yang senantiasa dipusatkan kepada-Nya. Persembahkanlah setiap perbuatanmu kepada-Nya. Inilah cara terbaik untuk menyempurnakan diri serta menyucikan kehidupanmu.



- Divine Discourse, December 18, 1994.

Tuesday, August 28, 2007

Sai Inspires - 28th August 2007





True spirituality emphasizes the truth that is common to all religions. One should not hate any religion or ridicule any form of worship. One must recognize the unifying truth in all religions. God is not separate from you. However, by regarding God as separate from him, man resorts to various kinds of worship. In the present day world, this type of Karmopaasana (worship through action) is necessary. But one should not be engaged all his life in this form of worship. Gradually one should reach a higher level. Only then humanness gets Divinized.

Spiritualitas sejati menekankan akan pentingnya kebenaran yang melandasi seluruh keyakinan/agama. Janganlah membenci ataupun mencemooh bentuk pemujaan apapun juga. Hendaknya engkau menyadari faktor kebenaran yang ada di dalam setiap agama. Tuhan tidaklah terpisah darimu. Namun oleh karena Sang Ilahi telah dianggap sebagai ‘entitas’ yang berada di luar darinya, manusia mencoba berbagai macam cara puja/ibadah. Dewasa sekarang ini, Karmopaasana (ibadah melalui tindakan nyata) menjadi sangat penting. Namun, janganlah engkau menghabiskan seluruh hidupmu dengan hanya berkutat di dalam bidang yang sama melulu. Secara perlahan engkau harus bisa melangkah naik ke level yang lebih tinggi. Sebab hanya dengan demikianlah, kemanusiaan akan menjelma menjadi ke-Ilahi-an.

- Divine Discourse, December 18, 1994.

Monday, August 27, 2007

Sai Inspires - 27th August 2007




If we wish to understand the Divinity that transcends the human understanding, we should seek to reach a level above the human. Till that is reached, we have to experience everything at the human level alone. Living as a human being, how can one recognize that which transcends the human capacity? Therefore, in the first instance, man must try to live as a human being. He has to recognize the divinity that dwells in the human form. Man has to cultivate faith in the truth and live accordingly. Leading a life of dedicated service, man must enjoy the fruit of Prema (Divine Love). The best way to love God is to love all and serve all.

Untuk memahami tentang Divinity (ke-Ilahi-an) yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia, terlebih dahulu engkau harus berupaya untuk mencapai level di atas manusia. Sebelum hal tersebut tercapai, engkau perlu berhadapan dengan segala aspek kehidupan di level sebagai manusia. Adalah tidak mungkin bagimu untuk memahami sesuatu yang berada di atas jangkauan kemampuan manusia awam. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal, engkau perlu benar-benar menjalani kehidupan sebagaimana layaknya seorang manusia. Engkau perlu menyadari & mengenali Divinity yang bersemayam di dalam wujud manusia. Engkau juga perlu memupuk keyakinan dan hidup sebagaimana mestinya. Dengan hidup yang didedikasikan untuk pelayanan, engkau akan menikmati curahan cinta-kasih Ilahi (Prema). Jalan/cara yang terbaik untuk mencintai Tuhan adalah dengan mencintai dan melayani semuanya.

- Divine Discourse, April 26, 1993.

Sai Inspires - 26th August 2007




What is important today is not what particular faith one professes, whether he is a Christian, a Buddhist, a Muslim or a Hindu. The real question is how far he is a true human being. Develop therefore, your human qualities. What constitutes humanness? It is good conduct alone. The Indian epics hail man as Manuja - one who belongs to the lineage of the sage Manu. As such every human being has the latent tendencies of a sage. Unfortunately, instead of these traits, only vicious tendencies are to the fore. Man must recover his spiritual heritage. He must cultivate sublime and Divine feelings.



Yang terpenting saat ini bukanlah jenis keyakinan/agama apa yang dianut oleh seseorang, dengan perkataan lain, ia boleh saja sebagai seorang Kristen, Buddhis, Muslim ataupun Hindu. Justru pertanyaan pokoknya yang lebih penting adalah sudah sejauh manakah yang bersangkutan menjadi manusia sejati? Oleh sebab itu, tumbuh-kembangkanlah kualitas kemanusiaanmu. Terdiri atas komponen apa sajakah perikemanusiaan tersebut? Tak lain adalah perilaku yang bajik. Legenda India menjuluki manusia sebagai Manuja – ia yang terlahir dalam silsilah rishi Manu. Dengan demikian, berarti setiap orang mempunyai talenta sebagaimana yang dimiliki oleh seorang rishi. Namun sayangnya, alih-alih meneruskan sifat bawaan tersebut, sebaliknya justru kencenderungan jahat yang malahan lebih menonjol. Oleh sebab itu, manusia perlu memulihkan warisan spiritualnya. Ia perlu memupuk kembali perasaan/karakternya yang suci-murni nan Ilahi.



- Divine Discourse, December 18, 1994.

Sai Inspires - 25th August 2007




Human life is precious, sublime and meaningful. But by involvement in purely worldly pursuits, the greatness of human birth is forgotten. Without values, life is meaningless. When there is purity in thought, word and deed, human values are practiced. The unity of the three H's is essential - Heart, Head and Hand. But today this unity is absent among people, with the result that men are becoming inhuman.



Kehidupan sebagai manusia sungguh sangat berharga, luhur dan bermakna. Namun oleh karena keterlibatannya dalam hal-hal duniawi, manusia telah melupakan hakekat kelahirannya yang sebenarnya. Tanpa adanya nilai-nilai (kemanusiaan), kehidupan ini menjadi tak ada gunanya. Nilai-nilai kemanusiaan dipraktekkan melalui adanya kemurnian pikiran, ucapan dan perbuatan. Persatuan (unity) dari ke-tiga ‘H’ sangatlah penting, yaitu: Heart (hati nurani), Head (otak/pikiran) dan Hand (tindakan). Yang patut disayangkan adalah bahwa dewasa ini, persatuan tersebut sudah tidak eksis lagi di antara manusia, dan sebagai akibatnya, manusia menjadi tidak berperikemanusiaan.



- Divine Discourse, December 18, 1994.

Friday, August 24, 2007

Sai Inspires - 24th August 2007




Pleasures which are experienced with a sense of detachment cease to be bhogas (enjoyment of material comforts) and become a form of Yoga. After enjoying all the pleasures and comforts we seek, what is it that remains? The body decomposes into five elements. What is basic is the Atma principle that sustains the body and all the senses. When the Atma leaves the body, neither the sense organs nor the mind can function. The Atma is Eternal and Omnipresent. It is self-existent. The spiritual quest is to understand and realize the nature of the Atma... Every individual should regard the enquiry into nature of the Atma as the primary purpose of life. Purity of thought, word and deed is essential for this enquiry.



Kenyamanan-kenyamanan yang dirasakan dengan pengertian yang benar (tanpa kemelekatan) tidak akan menjelma menjadi bhogas (kenikmatan atas kenyamanan materialistik), sebaliknya ia akan menjadi Yoga. Setelah menikmati kenyamanan-kenyamanan tersebut, lalu apa yang tersisa? Badan jasmani ini akan terurai menjadi lima unsur. Yang menjadi unsur dasarnya adalah prinsip Atma yang menyokong kehidupan badan jasmani dan panca indera. Ketika Sang Atma meninggalkan badan fisik ini, maka tiada indera maupun batin (pikiran) yang dapat berfungsi. Atma bersifat abadi dan omnipresent. Ia eksis dengan sendirinya. Perjalanan spiritual adalah dimaksudkan agar kita dapat memahami dan merealisasikan Atma.... Setiap orang individu seharusnya menganggap perjalanan untuk mencari-tahu Sang Atma sebagai tujuan kehidupannya. Pikiran, ucapan dan perbuatan yang murni sangatlah diperlukan dalam perjalanan tersebut.



- Divine Discourse, January 20, 1985.

Thursday, August 23, 2007

Sai Inspires - 23rd August 2007




Multiplicity is a characteristic of Prakriti (Nature). The Cosmos is a projection of the Divine. It is called Jagat - that in which things arise and disappear, come and go. Nothing seems permanent. But the spiritually realized person will recognize the permanent that subsumes the changing entity. Such a realization can come only when a person is pure in thought, word and deed. Purity must express itself in loving service.



Multiplisitas (kemajemukan) merupakan karakteristik Prakriti (alam). Alam semesta merupakan hasil proyeksi Sang Ilahi, ia dikenal dengan istilah Jagat – sesuatu yang merupakan tempat asal muasal dan meleburnya segala bentuk zat/materi. Kelihatannya seperti tiada sesuatupun yang permanen di alam semesta ini. Namun orang-orang yang telah tercerahkan secara spiritual, mereka mampu mengidentifikasi/mengenali aspek permanen yang mengayomi entitas-entitas yang menjalani perubahan tersebut. Realisasi seperti ini hanya bisa terbit di dalam diri seseorang yang memelihara kemurnian dalam pikiran, ucapan dan perbuatannya. Kemurnian (puritas) haruslah diekspresikan dalam bentuk pelayanan yang dilandasi oleh cinta-kasih.



- Divine Discourse, November 21, 1990.

Wednesday, August 22, 2007

Sai Inspires - 22nd August 2007




Few are qualified to declare the distinction between Spirit and matter and to determine the nature of Divinity and the truth about the phenomenal world. The reason is that all people in the world suffer from delusions of different kinds. Consequently they suffer from various fears and hallucinations and have no peace of mind. The only way to get rid of these delusions and fears is to practice love and realize the Divinity that is present in all beings. Once this spiritual unity of all beings is recognized, the relevance of this truth for every sphere of life - the physical, the social, the political, the economic, the ethical and the spiritual will become clear.



Hanya sedikit orang yang memiliki cukup kualifikasi untuk menyatakan perbedaan antara Spirit (jiwa) dan matter (benda materi), mengetahui sifat-sifat Sang Ilahi serta kebenaran tentang dunia fenomenal ini. Kelangkaan atas orang-orang yang berkualitas seperti ini adalah dikarenakan manusia sedang menderita berbagai macam delusi. Sebagai konsekuensinya, mereka mengalami berbagai macam rasa takut, halusinasi dan tiadanya ketenangan batin. Satu-satunya cara untuk menyingkirkan delusi dan ketakutan tersebut adalah melalui praktek cinta-kasih dan menyadari bahwa Divinity eksis di dalam diri setiap mahluk. Setelah prinsip persatuan spiritual dari seluruh mahluk ini dikenali, maka relevansi kebenaran tersebut untuk setiap aspek kehidupan-pun akan menjadi jelas, baik itu berupa kehidupan di bidang fisik, sosial, politik, ekonomi, etika dan spiritual.



- Divine Discourse, November 21, 1990.

Tuesday, August 21, 2007

Sai Inspires - 21st August 2007




To comprehend the unity of body, mind and Atma (spirit) is to realize a fundamental truth. The body is gross. The Atma is subtle. It is the mind that links the two. If the Atma is ignored, man is reduced to the level of the animal. When the body and the Atma are ignored and the mind alone is active, the humanness comes to the fore. When the body and the mind are kept out and the Atma alone is experienced, Divinity is attained. How is this to be achieved? An essential requisite is Thyaga, the spirit of sacrifice.



Agar kebenaran fundamental dapat terealisasikan, maka diperlukan pemahaman yang menyeluruh tentang prinsip kesatuan dari badan jasmani, batin dan atma (jiwa). Badan fisik/jasmani bersifat kotor/kasar, sedangkan Atma bersifat lembut/bersih/halus. Batin (mind) merupakan penghubung antara keduanya. Apabila Sang Atma diabaikan, maka manusia jatuh ke level animal (dengan perkataan lain: tidak ada bedanya dengan hewan – Red). Ketika badan jasmani serta Atma diabaikan, dan hanya mind (batin) saja yang aktif, maka di kala itu, unsur kemanusiaan-pun mengemuka. Sebaliknya, apabila badan jasmani dan batin dinon-aktifkan dan hanya Atma saja yang berperanan, maka di saat itu muncullah Divinity. Bagaimanakah caranya untuk mencapai keadaan tersebut? Persyaratan utamanya adalah Thyaga, semangat pengorbanan.


- Divine Discourse, January 20, 1985.

Monday, August 20, 2007

Sai Inspires - 20th August 2007




How is the mind to be purified? Through service to society with dedication and identification with everyone. You have to cultivate this feeling of Ekatmabhaava (oneness with all). By engaging yourselves in service, you develop this sense of oneness. In this context, the supreme importance of love should be recognized. Love is your true nature. But modern man, in his preoccupation with the world of external phenomena, is failing to discover his own true nature. Of what avail is all the knowledge about the physical world if a man does not know what he really is? Love is the basis for this self-discovery. Love is the means and love is the proof.



Bagaimanakah caranya yang tepat untuk memurnikan batin? Caranya adalah melalui pelayanan kepada sesama manusia dengan semangat dedikasi dan identifikasi dengan setiap orang. Hendaknya engkau mengembangkan perasaan Ekatmabhaava (prinsip kebersatuan) ini. Dengan melibatkan dirimu dalam tindakan pelayanan, maka engkau akan bisa mengembangkan semangat kemanunggalan tersebut. Dalam konteks ini, adalah menjadi penting bagimu untuk menyadari pentingnya nilai-nilai cinta-kasih, sebab cinta-kasih merupakan sifat aslimu. Ironisnya, manusia modern – di tengah-tengah kesibukannya bergulat dengan dunia luar – gagal untuk menemukan & menyadari sifat aslinya tersebut. Apa gunanya menguasai pengetahuan tentang dunia materi ini jikalau seandainya engkau tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Cinta-kasih adalah dasar untuk menuju kepada tercapainya pemahaman dirimu yang sebenarnya. Cinta-kasih berfungsi sebagai wahana dan juga sekaligus sebagai bukti nyatanya.



- Divine Discourse, November 21, 1990.

Sai Inspires - 19th August 2007




To realize God it is not necessary to have wealth, gold or other emblems of affluence. Nor is great scholarship necessary. All that is needed is pure, selfless devotion. Today men with selfish and impure minds attempt to worship God. Without purity of thought, speech and action, it is impossible to experience the Divine. God cannot be realized through ostentation and self-conceit. The basic-requisite is the shedding of selfishness and possessiveness so that one can engage oneself in actions in a disinterested spirit. Any person is entitled to embark on this quest without regard to sex, age, caste or community.

Untuk mencapai realisasi ke-Tuhan-an, engkau tidak membutuhkan kekayaan, emas ataupun pangkat dan pengaruh. Juga tidak dibutuhkan gelar kesarjanaan. Yang terpenting adalah bhakti yang murni dan tanpa ke-aku-an. Dewasa sekarang ini, manusia cenderung bersembahyang kepada Tuhan dengan dilandasi oleh motif-motif yang congkak dan batin yang tidak murni. Tanpa adanya kemurninan pikiran, ucapan dan perbuatan, adalah tidak mungkin bagimu untuk merasakan Divinity. Tuhan tidak bisa didekati dengan jalan show-off dan kesombongan. Persayaratan utama yang digariskan adalah pengikisan selfishness (ke-aku-an) dan possessiveness (rasa kepemilikan), sehingga dengan demikian, engkau akan dapat melakukan tindakan/aksi dengan jiwa yang tidak melekat (tanpa pamrih). Setiap orang berhak untuk berpartisipasi di dalamnya, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, usia, kasta maupun jenis komunitasnya.



- Divine Discourse, October 6, 1986

Saturday, August 18, 2007

Sai Inspires - 18th August 2007




Daya or compassion is not mere display of kindness or sympathy to someone in distress. It calls for complete identification with the suffering experienced by another and relieving that suffering as a means of relieving the agony experienced by oneself...When any service or help is rendered to anyone, this is the spirit in which it should be done. You must feel you are helping yourself when you are helping another.

Daya atau welas-asih bukanlah hanya sekedar diartikan sebagai memperlihatkan kebaikan atau simpatik kepada orang-orang yang sedang mengalami kesusahan. Pengertiannya yang benar adalah bahwa kita harus bersikap tenggang-rasa, seolah-olah bahwa kita sendirilah yang sedang merasakan penderitaan orang lain dan berupaya untuk menguranginya... Inilah semangat yang harus dimiliki pada saat kita memberikan pelayanan atau bantuan kepada siapapun juga. Ketika memberi bantuan kepada orang lain, engkau harus merasakan bahwa sebenarnya engkau sedang menolong dirimu sendiri.

- Divine Discourse, May 3, 1986.

Sai Inspires - 17th August 2007




When we practice Dharma or righteousness, the Divinity in us will manifest itself spontaneously. One should not limit Dharma to mere words. Man is regarded as the very embodiment of righteousness. But he will not be worthy of this appellation if he does not lead a life of Dharma. Everyone should realize that to attain oneness with Divinity is the goal of human life. Hence it is everyone's duty to develop faith in the Divine. With the growth of faith, if one leads a life devoted to Dharma, Sathya and Neethi (Righteousness, Truth and Justice), he will be achieving the purpose of life.

Apabila kita mempraktekkan Dharma atau kebajikan, maka Divinity (ke-Ilahi-an) yang ada di dalam diri kita akan termanifestasikan secara spontan. Janganlah engkau mempraktekkan Dharma hanya dalam tutur kata saja (‘omong doang’ – Red). Manusia dianggap sebagai perwujudan kebajikan, namun ia belum layak untuk menyandang ‘gelar’ tersebut sebelum ia betul-betul menjalani kehidupan yang sesuai dengan Dharma. Setiap orang harus menyadari bahwa tujuan kehidupan sebagai manusia adalah untuk mencapai kemanunggalan dengan Sang Ilahi. Oleh sebab itu, setiap orang wajib untuk mengembangkan keyakinan kepada-Nya. Berbarengan dengan pengembangan keyakinan, apabila yang bersangkutan juga membhaktikan dirinya sesuai dengan jalan Dharma, Sathya dan Neethi (kebajikan, kebenaran dan keadilan), maka niscaya ia akan berhasil mencapai sasaran/tujuan kehidupannya.

- Divine Discourse, January 19, 1984.

Thursday, August 16, 2007

Sai Inspires - 16th August 2007




Love and sacrifice are the two greatest qualities in life. It is on the basis of these qualities that our ancients dealt with the problems of society so that the individual, the family, the community and the nation may pursue the path of Dharma or righteousness.



Cinta-kasih dan pengorbanan merupakan dua kualitas mulia dalam kehidupan ini. Dengan berlandaskan kualitas-kualitas tersebut, para leluhur kita sanggup mengarungi persoalan-persoalan kehidupan sehingga para individu, keluarga, komunitas dan negara tetap bisa hidup di atas jalan Dharma (kebajikan).



- Divine Discourse, January 19, 1984.

Wednesday, August 15, 2007

Sai Inspires - 15th August 2007




Even if you cannot perform any other kind of worship or sadhana, service to society will help you to sanctify your life. Of the nine forms of devotion, Seva (service) is most important. Through service, complete surrender of the self can be achieved.



Seandainya engkau tidak bisa melaksanakan puja ataupun jenis sadhana lainnya, maka demi untuk penyucian kehidupanmu, engkau bisa memilih praktek pelayanan kepada masyarakat. Dari sembilan bentuk devotion (bhakti), Seva (pelayanan) menduduki peranan yang sangat penting. Melalui pelayanan, akan diperoleh penyerahan total (complete surrender).



- Divine Discourse, November 23, 1986.

Tuesday, August 14, 2007

Sai Inspires - 14th August 2007




To realize the Divine, Love is the easiest path. Just as you can see the moon only with the light of the moon, God, who is the Embodiment of Love, can be reached through Love. Regard Love as your life breath. Love was the first quality to emerge in the creative process. All other qualities came after it. Therefore, fill your hearts with love and base your life on it.



Untuk mencapai realisasi tentang Ke-Ilahi-an, maka cinta-kasih merupakan cara yang paling gampang. Seperti halnya engkau dapat melihat rembulan berkat bantuan cahaya bulan, maka demikianlah, Tuhan, yang merupakan pengejawantahan cinta-kasih, juga hanya bisa didekati melalui jalan cinta-kasih. Jadikanlah cinta-kasih sebagai nafas kehidupanmu. Cinta-kasih merupakan kualitas pertama yang muncul dalam proses kreasi (kelahiran). Kualitas-kualitas lainnya menyusul kemudian. Oleh sebab itu, isilah hatimu dengan cinta-kasih dan jadikanlah ia sebagai landasan kehidupanmu.



- Divine Discourse, November 23, 1986.

Sai Inspires - 13th August 2007




Faith is essential for devotion. Without faith man can never realize his true nature. Faith, however, has to be suffused with Love. Such love can make the Divine and the devotee dance in ecstasy oblivious to everything else. The nation is plunged in myriad troubles because it has forgotten the supreme principle of Love.



Dalam hal yang berkaitan dengan devotion (bhakti), keyakinan merupakan faktor utamanya. Tanpa adanya keyakinan, maka manusia tak akan pernah bisa merealisasikan jati dirinya yang sebenarnya. Akan tetapi, keyakinan juga perlu dijiwai dengan cinta-kasih, yang akan membuat Sang Ilahi dan bhakta terlarut dalam kebahagiaan tertinggi sehingga melupakan segala-galanya. Kondisi negara yang terpuruk dalam berbagai persoalan adalah disebabkan oleh karena prinsip utama cinta-kasih telah terlupakan.



- Divine Discourse, July 28, 1992.

Monday, August 13, 2007

Sai Inspires - 11th August 2007





The Truths proclaimed in the Upanishads - Sathya and Dharma (Truth and Righteousness) - have to be practiced by everyone irrespective of caste or community. The practice of good conduct is the natural duty of man. You should realize that the happiness of individuals is dependent on the welfare of the society as a whole. The transformation of the individual is a prerequisite for the transformation of the world. Together with changes in the political, social and economic spheres, we need transformation in the mental and spiritual spheres. Without such transformation all other changes are of no use. Therefore, make your actions pure. Only then can the human rise to the level of the Divine.

Ajaran-ajaran yang tercantum di dalam kitab suci Upanishad – Sathya dan Dharma (Kebenaran dan Kebajikan) – haruslah dipraktekkan oleh setiap orang dari setiap golongan yang ada. Perilaku bajik merupakan sifat alamiah dari setiap orang. Hendaknya engkau menyadari bahwa kebahagiaan seseorang individu adalah tergantung pada kesejahteraan masyarakat banyak. Untuk menghasilkan transformasi di tingkat dunia, maka haruslah dimulai dari transformasi masing-masing individu terlebih dahulu. Bersama-sama dengan perubahan yang sedang terjadi di bidang politik, sosial dan ekonomi, kita juga memerlukan transformasi di level mental dan spiritual. Tanpa adanya kombinasi transformasi seperti ini, maka transformasi di salah-satu bidang saja tak akan membawa manfaat. Oleh sebab itu, engkau perlu memurnikan tindakan-tindakanmu. Hanya dengan demikianlah, engkau baru akan mencapai level Divinity (ke-Ilahi-an).


- Divine Discourse, July 28, 1992.

Friday, August 10, 2007

Sai Inspires - 10th August 2007




Purity of the mind calls for total elimination of attachments and aversions from the mind. Hatred and envy should have no place...Today people are filled with hatred and envy. They cannot bear to see others happy or prosperous. This is a sign of a polluted mind. One should cultivate the large-heartedness to return good for evil and not to cause pain to anyone in any circumstance. This is a mark of a pure mind.



Untuk dapat memperoleh batin yang murni, maka diperlukan tindakan eliminasi kemelekatan dan hal-hal yang tidak diperlukan oleh batin kita, yaitu kebencian dan ke-iri-hatian.... Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang menyimpan kedua sifat buruk ini. Mereka tidak bisa merasa senang bila melihat orang lain berbahagia atau lebih makmur. Ini merupakan pertanda batin yang sudah terpolusi. Seyogyanyalah engkau memupuk hati yang lapang dengan mendoakan kebaikan dan tidak menyakiti orang lain dalam keadaan bagaimanapun juga. Hal ini merupakan pertanda batin yang murni.



- Divine Discourse, January 7, 1988.

Thursday, August 9, 2007

Sai Inspires - 9th August 2007




Man must be ever ready to sacrifice his selfish needs for the sake of the larger community. There is nothing as glorious as renunciation. Be honest, sbe proficient in detachment and with God installed in your hearts march forward to offer your talents and skills for the duties you have undertaken.



Engkau harus senantiasa siap untuk mengorbankan kepentingan pribadimu demi untuk manfaat orang banyak. Tak ada tindakan yang lebih mulia daripada renunciation (melepaskan keinginan-keinginan duniawi). Bersikaplah jujur, cakap dalam praktek ketidak-melekatan dan dengan Tuhan yang senantiasa ditanamkan di dalam hatimu, berjalanlah maju sembari mempersembahkan talenta dan ketrampilanmu dalam tugas-tugas yang telah engkau emban.



- Divine Discourse, March 29, 1979.

Sai Inspires - 8th August 2007




Men regard Dharma (right conduct) as merely ethical conduct in daily life. But this is not so. Dharma really means recognition of the Universal Consciousness that is in each individual and act on the basis of the unity of that Consciousness. When this Consciousness in man is enveloped in the ego, it assumes the form of three gunas or attributes (Satwa, Rajas, Tamas). When the Divine nature of this Consciousness is realized, it is transformed into Atma Dharma - the Dharma of the Self. True Dharma is the realization of the unity of the Omni-Self.



Banyak orang yang beranggapan bahwa Dharma (perbuatan bajik) hanyalah sekedar kode etik saja dalam kehidupan sehari-hari. Padahal sebenarnya tidaklah demikian halnya. Dharma mengandung makna yaitu mengenali kesadaran universal yang ada di dalam diri setiap individu dan melakukan tindakan berdasarkan prinsip persatuan (unity) dari kesadaran tersebut. Apabila kesadaran manusia masih terselimuti oleh ego, maka ia akan mewujudkan diri dalam tiga jenis guna atau atribut, yaitu: Satwa, Rajas dan Tamas. Namun, apabila engkau berhasil untuk merealisasikan kesadaran Ilahi, maka ia akan sukses ditransformasikan menjadi Atma Dharma. Dengan perkataan lain, Dharma dalam arti yang sebenarnya adalah tindakan-tindakan yang akan sanggup untuk membuahkan tercapainya kesadaran atas jati dirimu yang sebenarnya.



- Divine Discourse, November 23rd, 1986.

Tuesday, August 7, 2007

Sai Inspires - 7th August 2007




The Atma (Self) represents the pure, effulgent, eternal and unchanging Consciousness. It shines within man as illuminating flame. The Sastras (ancient scriptures) have characterized it as Divine. The Upanishads have declared that God dwells in the cave of the heart. The Bible has declared that the Divine can be experienced only through purity of the heart. The Quran also declares that purity of heart is essential for experiencing God.

Atma merepresentasikan kesadaran yang murni, mulia nan abadi. Ia bersinar di dalam diri setiap insan sebagai api ungun yang menerangi segalanya. Kitab suci kuno telah mengkategorikannya sebagai Divine (Ilahi). Kitab Upanishads telah menyatakan bahwa Tuhan bersemayam di dalam goa-hati manusia. Kitab Injil menyebutkan bahwa Tuhan hanya bisa direalisasikan melalui hati yang murni. Kitab Quran menyatakan tentang pentingnya memiliki hati yang murni & suci demi kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

- Divine Discourse, November 23rd, 1986.

Monday, August 6, 2007

Sai Inspires - 6th August 2007




It is only when the individual is prepared to sacrifice his selfish desires and toil for the welfare of society - that the nation will prosper. Then only will the world have peace. That is why the Vedas proclaim that man can have peace only when he renounces selfish desires. The Vedas express disapproval of persons who accumulate wealth and who are ever immersed in activities that can add to their physical comfort. The man who gives, receives even while he gives, more than what he gives.

Kesejahteraan suatu bangsa hanya akan bisa tercapai apabila para individunya rela dan siap untuk mengorbankan kepentingan pribadinya dan mau bekerja keras demi untuk kepentingan orang banyak. Hanya dengan demikianlah, kedamaian akan terwujudkan. Itulah sebabnya, di dalam kitab Veda dinyatakan bahwa manusia hanya bisa merealisasikan kedamaian apabila yang bersangkutan bisa meninggalkan keinginan-keinginannya yang bersifat mementingkan dirinya sendiri. Kitab Veda menyatakan ketidak-setujuannya atas tindakan orang-orang tertentu yang pekerjaannya hanya menumpuk harta-bendanya dan yang membiarkan dirinya dimanjakan oleh kenyamanan duniawi. Mereka yang memberi akan menerima jauh lebih banyak daripada yang ia berikan.

- Divine Discourse, March 29, 1979.

Sai Inspires - 5th August 2007




When sambar (lentil soup) is cooked in a copper vessel, however fresh and fine the ingredients, the result is a highly poisonous stuff. Similarly, though sadhana may be done with the most meticulous attention and care, if the intentions and attitudes are impure, no progress can be achieved. I wish to emphasize that purity of the heart, the mind and the consciousness is more important for progress than even meditation and prayer. Purity alone can convince you of the Divine within you, of the Kshethrajna (indweller) immanent in this kshethra (body). Love all, adore all, serve all. That is the sadhana of worship to win purity and earn Grace.

Ketika sambar (sup kacang-hijau) dimasak di dalam wajan yang terbuat dari tembaga, tanpa peduli apakah bahan-makanan tersebut terbuat dari mutu yang terbaik sekalipun, maka sudah bisa dipastikan bahwa makanan yang dihasilkan akan mengandung zat-zat yang beracun. Demikian pula, walaupun sadhana dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, namun apabila niat dan maksud yang melatar-belakanginya tidak baik/tidak murni, maka tiada kemajuan yang dapat tercapai. Aku sangat menekankan pentingnya hati, batin dan kesadaran yang murni; sebab kemurnian itu jauh lebih penting bagi kemajuanmu dibandingkan sekedar bermeditasi dan berdoa. Hanya kemurnian sajalah yang bisa meyakinkanmu tentang kehadiran Ilahi di dalam dirimu, Kshethrajana (sang penghuni) yang ada di dalam kshethra (badan jasmani). Cintailah semuanya, hormatilah semuanya, layanilah semuanya. Inilah jenis sadhana yang akan menghasilkan pemurnian diri dan mendatangkan rahmat Ilahi.

- Divine Discourse, April 2nd, 1984.

Saturday, August 4, 2007

Sai Inspires - 4th August 2007




There was a famous sculptor in Italy known as Michelangelo. A friend of his found him one day chiseling a big piece of rock. The friend told him: "Why are you working so hard with this rock? Why don't you go home and take some rest?" Michelangelo replied: "I am trying to release the Divine that is in the rock. I wish to bring out of this lifeless stone the living Divinity that is embedded in it." If that sculptor could create out of an inanimate piece of stone a living image of God, cannot human beings vibrant with life manifest the living Divinity that resides in them?



Ada seorang pemahat/pematung yang terkenal dari Italia yang bernama Michelangelo. Suatu hari, seorang sahabatnya melihatnya sedang memahat sebongkah batu. Sang sahabat bertanya: “Mengapa engkau bekerja sedemikian keras atas batu ini? Mengapa engkau tidak pulang dan istirahat saja?” Michelangelo menjawab, “Saya sedang mencoba untuk mengeluarkan Divine yang ada di dalam batu ini. Aku berharap untuk dapat mewujudkan Divinity yang ada di dalam batu yang tak bernyawa ini.” Jikalau sang pemahat saja bisa sanggup untuk menghasilkan wujud Tuhan dari benda mati, maka tiada alasan bagi manusia yang mempunyai semangat untuk tidak bisa memanifestasikan Divinity yang ada di dalam dirinya masing-masing.



- Divine Discourse, April 2nd, 1984.

Friday, August 3, 2007

Sai Inspires - 3rd August 2007




You should not be misled by the pleasures derived from possessions, position or prosperity. These are transient things, which come and go. Pain and pleasure are incidental to human existence like kith and kin. Man should endeavour to realize his true nature, experience his inherent Divinity, and not yield to the temptations of the moment. Both pain and pleasure are impostors. Man should not allow himself to be led astray by them.



Janganlah engkau terkecoh oleh kenikmatan yang diperoleh dari harta kepemilikan, posisi/jabatan serta kemakmuran. Semuanya itu bersifat sementara, datang silih berganti. Senang dan sedih mempunyai keterkaitan dengan eksistensi seorang manusia, ibaratnya seperti sanak-keluarga. Engkau harus berupaya untuk mencapai kesadaran atas jati dirimu yang sebenarnya, merasakan sifat Ke-Ilahi-an yang laten ada di dalam dirimu. Janganlah engkau menyerah kepada dorongan (nafsu) sesaat. Suka dan duka adalah penipu yang lihai. Pastikanlah agar perjalananmu tidak tersesat olehnya.



- Divine Discourse, November 23rd, 1986.

Thursday, August 2, 2007

Sai Inspires - 2nd August 2007



Man has demarcated two distinct goals before himself - material and spiritual. But such distinction is wrong and ruinous. It may be congenial and convenient on the surface; but if it is acted upon great harm will be caused to the blossoming of the soul. For they are both the same: one continuous pilgrimage towards the Divinization of man.

Manusia telah memberikan batas pemisah antara dua jenis sasaran (kehidupan) yang saling berbeda, yaitu: sasaran materialistik dan spiritualistik. Sebenarnya pembedaan ataupun pemisahan seperti ini adalah salah dan bersifat saling menghancurkan. Pada awalnya mungkin terlihat cukup menyenangkan dan nyaman; namun apabila diteruskan, ia justru akan berdampak merusak dan menghambat kemajuan jiwa. Hal ini disebabkan oleh karena pada hakekatnya kemajuan material dan spiritual adalah satu adanya, kedua-duanya akan membawamu menuju tercapainya kesadaran Ilahi.

- Divine Discourse, September 27, 1979.

Wednesday, August 1, 2007

Sai Inspires - 1st August 2007




Faith in an Omnipresent God will sustain you when you are overwhelmed by the ups and downs of life. Cultivate devotion and dedication and you can be ever at peace with yourself and the world. For, then, you can fulfill your duties with joy and with all your strength.



Keyakinan kepada-Nya akan membuatmu tangguh dalam menghadapi gelombang pasang-surut kehidupan. Kembangkalah devotion (bhakti) dan dedikasi, maka engkau akan senantiasa damai, baik di dalam dirimu sendiri maupun ketika berhadapan dengan dunia luar. Dengan demikian, maka engkau akan bisa menjalankan tugas & kewajibanmu secara senang hati dan dengan segenap kekuatanmu.



- Divine Discourse, March 29, 1979.

Sai Inspires - 31st July 2007





There is a Divinity, higher than humanity that is behind and beneath all man's activities. But, man is not aware of it and he fails to benefit by that awareness. His first task is to cognize this source of joy and peace. That Divinity is like the thread in which the flowers are strung; we see only the garland; we do not cognize that string that holds the flowers together and makes a garland out of a heap of blossoms. Mankind is strung together by this inherent Divinity.



Terdapat kekuatan Ilahi yang menjadi sumber energi di belakang setiap aktivitas manusia. Namun kebanyakan orang tidak menyadarinya dan sebagai akibatnya, ia tidak mampu memetik manfaat dari kesadaran itu. Tugasmu yang pertama adalah mencari & mengenali sumber kebahagiaan dan kedamaian tersebut. Divinity adalah seperti tali atau benang yang menjadi penyambung dari rangkaian bunga; dimana dari luar kita hanya dapat melihat bunga-bunga tersebut; dan kita tidak mengenali tali/benang yang berfungsi untuk memegang serta membuat kalungan bunga itu. Demikianlah, kemanusiaan dipersatukan satu dengan yang lainnya oleh Divinity yang latent ada di dalam diri setiap orang.




- Divine Discourse, March 29, 1979.

Sai Inspires - 30th July 2007




Just as one acquires wealth by the pursuit of agriculture, business or profession, one must acquire merit and Divine Grace by adhering to neethi (morality) and Dharma (righteousness). However, Dharma alone is not enough. While Dharma leads to right action, it is necessary also to acquire Jnaana. True knowledge consists in understanding the unity that underlies the Cosmos. All the sufferings and problems in life arise from the sense of duality. Once the feeling of 'I' and 'mine' is got rid of, Consciousness of the all-pervading Divinity will be realized.



Sebagaimana halnya engkau melakoni berbagai profesi demi untuk memupuk kekayaan, baik itu melalui bidang pertanian, bisnis ataupun profesi; maka demikian pula engkau harus berupaya untuk memupuk pahala dan rahmat Ilahi dengan jalan mematuhi kaidah moralitas (neethi) dan kebajikan (Dharma). Bila engkau hanya mengikuti Dharma, maka itu belumlah cukup. Setelah engkau dituntun ke jalan yang benar oleh Dharma, engkau masih membutuhkan Jnaana. Pengetahuan yang benar (Jnaana) meliputi pemahaman yang benar atas aspek unity yang melatar-belakangi seisi semesta. Segala bentuk penderitaan dan problema kehidupan ditimbulkan oleh sensasi dualisme. Sekali engkau behasil melenyapkan perasaan 'aku' dan 'milikku', maka engkau akan bisa merealisasikan kesadaran Ilahi.



- Divine Discourse, January 19th, 1984.

Sai Inspires - 29th July 2007





If you want to understand Divinity, you should have the firm faith that Divinity is everywhere. There is no place or object without Divinity. Guru Pournima means full moon without any defect or lacuna. Moon is nothing but mind. When the mind is completely perfect, it sheds light. Guru Pournima is not performed by circumambulation and offerings to the Guru. What is the real offering? It is the offering of one's love. To know that God exists everywhere is circumambulation. If you understand these terms, every day is Guru Pournima. There is only one Guru, that is God and there is no other Guru. Contemplate on that Guru.



Apabila engkau hendak memahami tentang Divinity, maka engkau haruslah terlebih dahulu memupuk keyakinan teguh bahwa Divinity terdapat dimana-mana. Tiada tempat ataupun obyek yang tanpa Divinity. Guru Pournima diartikan sebagai bulan purnama yang tanpa cacat. Bulan adalah simbolisasi dari mind. Ketika mind (batin) sedang dalam kondisi yang sempurna, maka ia akan menjadi sumber pelita. Guru Pournima bukanlah diartikan sebagai tindakan mengitari (pradaksina) dan memberi persembahan kepada Guru. Apa yang dimaksud dengan persembahan sejati? Yaitu tak lain persembahan cinta-kasihmu. Bila engkau menyadari bahwa Tuhan eksis dimana-mana, maka itu sudah merupakan tindakan pradaksina bagi-Nya. Dengan pemahaman & penghayatan ini, maka setiap hari akan merupakan Guru Pournima bagimu. Hanya ada satu guru dan tiada guru lain selain Tuhan. Berkontemplasilah kepada-Nya.



- Divine Discourse, July 14th, 1992.