Friday, February 18, 2011

Sai Inspires - December 15, 2010

If you tread the holy path of truth, righteousness, peace, and love, the Lord Himself will bestow on you, all that is needed and deserved! That will give you peace of mind. Offer everything to the Lord without any desire for the result; that indeed yields complete joy; that is indeed the easiest! While it is very difficult to speak untruth and act against Dharma, it is very easy to utter the truth and walk the path of Dharma (righteousness). It is a very pleasant task to speak out the thing just as it is; one need not spend a moment of thought upon it. To speak of what is not, one has to create the non-existent! It also plunges one into fear and fantasy, into an atmosphere of restlessness and worry. So, instead of following sensory actions (Vishaya Karma) which offer all these troubles and complications, follow actions that liberate (Shreyo Karma) - th e path of Atmic bliss which is true, eternal, and holy.

Jika engkau menapaki jalan suci kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan cinta-kasih, Tuhan sendiri akan memberikan berkat-Nya padamu, semua yang engkau perlukan, semua yang pantas engkau dapatkan! Yang akan memberikanmu ketenangan pikiran. Persembahkanlah segala sesuatu kepada Tuhan tanpa ada keinginan untuk mendapatkan hasil; ini akan memberikan kebahagiaan sempurna. Meskipun sangat sulit untuk mengatakan ketidakbenaran (kebohongan) dan sangat sulit untuk bertindak melawan Dharma, sangat mudah untuk mengucapkan kebenaran dan berjalan di jalan Dharma (kebajikan). Adalah sangat mudah berbicara apapun jika tanpa memikirkan akibatnya. Untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak ada, seseorang harus menciptakan sesuatu yang tidak ada tersebut menjadi ada! Hal inilah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam ketakutan dan khayalan, ke suasana gelisah dan khawatir. Jadi, daripada mengikuti indera (Vishaya Karma) yang memberikan semua masalah dan kesulitan, ikutilah tindakan yang membebaskan (Shreyo Karma), jalan kebahagiaan Atma, yang benar, kekal, dan suci.

- Dhyana Vahini, Ch. 1, "The Power of Meditation".

Sai Inspires - December 14, 2010

Reflect for a while how inspiring is the example of Lord Krishna while he underwent his education and how his conduct and earnestness contributed to the joy of the elders. Though all learning emanates from Him and is to be earned through His Grace, He plays the role of a pupil, as a representative of the ideal pupil, in order to show the world by His own example, the way in which a Guru is to be chosen and served, the quality of humility that education must instil, and the gratitude and respect that the pupil has to offer to the teacher. It is with the intention of guiding and prompting the students of today that Krishna Himself went through the educational process and lived the ideal. Notice how subtle is the mystery of God and His Leelas!

Refleksikanlah bagaimana saat Sri Krishna memberikan inspirasi memberikan contoh saat Beliau menjalani pendidikan dan bagaimana Beliau melakukannya serta dengan kesungguhan memberikan kebahagiaan pada para orang tua. Meskipun semua pelajaran berasal dari-Nya dan akan diperoleh melalui berkat-Nya, Beliau memainkan peran sebagai siswa, sebagai perwakilan dari siswa yang ideal, untuk menunjukkan pada dunia dengan contoh yang Beliau berikan sendiri, cara di mana Guru dipilih dan dilayani, bagaimana pendidikan dengan kualitas kerendahan hati harus ditanamkan, dan bagaimana siswa memberikan rasa syukur dan hormat pada guru. Hal ini dengan maksud membimbing dan mendorong siswa saat ini bahwa Sri Krishna sendiri menjalani proses pendidikan dan hidup secara ideal. Lihatlah bagaimana misteri Tuhan dan permainan Ilahinya-Nya!

- Bhagavatha Vahini, Ch 39, "The Omniscient as a Student"

Sai Inspires - December 13, 2010

A cart can move only when two bullocks are yoked to it. And it can move safely only when the animals are trained to walk on roads and pull carts. Instead, if they have never stepped out of their shed, or if they have always moved only round and round the post to which they have been tied, the bullock cart cannot proceed! So also, the cart of inner consciousness (anthahkarana) cannot move by itself; it must be attached to the bullocks of intelligence (buddhi) and mind (manas), and made to follow their tracks. But, prior to the journey, the bullocks - intelligence and mind - should be conversant with the road to the village that the inner consciousness is eager to reach. They must be trained to proceed in that direction. If this is done, the journey will be easy and safe.

Sebuah gerobak dapat berjalan hanya ketika dua ekor sapi dipasang pada gerobak tersebut. Dan gerobak dapat bergerak dengan aman hanya jika sapi-sapi tersebut dilatih untuk menarik gerobak dan mereka digunakan dijalan mana mereka harus berjalan. Sebaliknya, jika sapi-sapi itu tidak memahami bagaimana cara menarik gerobak, tidak bergerak di jalan, tidak pernah melangkah keluar dari kandangnya, atau hanya bergerak di sekitar tonggak yang telah mengikatnya, perjalanan tidak dapat dilanjutkan! Demikian juga, kesadaran batin (Anthah-karana) ‘gerobak’ tersebut tidak dapat bergerak dengan sendirinya, melainkan harus melekat pada ‘sapi’ kecerdasan (Buddhi) dan pikiran (Manas), dan dibuat untuk mengikuti jejak mereka. Tetapi, sebelum melakukan perjalanan, para ‘sapi’ - kecerdasan dan pikiran - harus mengenal dengan baik ‘jalan desa’ kesadaran batin (Anthah-karana) yang ingin dicapai. Mereka harus dilatih untuk melanjutkan ke arah itu. Jika hal ini dilakukan, perjalanan akan mudah dan aman.

- Dhyana Vahini, Ch 1, "The Power of Meditation"

Sai Inspires - December 12, 2010

Human beings have been endowed with the intelligence and discriminative faculty of heightened degree in order to enable them to visualise the Atma. This is the reason why men are acclaimed as the crown of creation, and why the scriptures proclaim that the chance of being born as man is a very rare piece of good fortune. Human beings have the qualifications, urge and the capacity needed to seek the cause of Creation. People should endeavour to promote peace, prosperity and safety. They should use the forces and things in nature for promoting happiness and pleasure. They are approved by the Vedas themselves.

Manusia telah diberkati dengan kecerdasan dan kemampuan diskriminatif dengan derajat tertinggi untuk memungkinkan mereka memvisualisasikan Atma. Inilah alasan mengapa manusia dinyatakan sebagai ciptaan yang sempurna, dan ini mengapa kitab suci menyatakan bahwa kesempatan terlahir sebagai manusia merupakan nasib baik dan sangat langka. Manusia memiliki kualifikasi, keinginan, dan kemampuan yang diperlukan untuk mencari penyebab Penciptaan. Orang-orang seharusnya berusaha untuk meningkatkan kedamaian, kemakmuran, dan keamanan. Mereka seharusnya menggunakan kekuatan dan sifat-sifat lainnya untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesenangan. Hal inilah yang tertuang dalam Weda.

- Satya Sai Vahini, Ch 1, "The Supreme Reality"

Sai Inspires - December 11, 2010

Balarama and Krishna studied under Guru Saandeepini, offering him the tribute of love and reverence. Giving joy to the teacher, studying well what has been taught, avoiding the pursuit of sensory pleasure and devoting oneself solely for the pursuit of knowledge - they lived by these guidelines. They never interrupted the discourse of the preceptor or interposed their will against his. They did not overstep his will or direction in any instance. They never challenged his authority or dared disobey his instructions. Though Balarama and Krishna were the repositories of Supreme Authority over Earth and Heaven, they gave their preceptor the respect and obedience that was due to his eminence and position. They were full of earnestness and devotion. They did not allow anything to distract them from their lesson. That is how a good student should be, that is what Balarama and Krishna were!

Balarama dan Krishna belajar di bawah bimbingan Guru Saandeepini, sebagai penghormatan mereka mempersembahkan cinta-kasih dan rasa hormat kepada gurunya. Untuk memberi sukacita bagi gurunya, Balarama dan Krishna hidup dengan panduan sbb: mereka belajar dengan baik apa yang telah diajarkan gurunya, menghindari mengejar kesenangan duniawi, dan mengabdikan diri semata-mata hanya untuk mengejar pengetahuan. Mereka tidak pernah menyela wacana-wacana suci yang diberikan oleh guru mereka atau melanggar perintahnya. Mereka tidak melampaui kehendaknya atau petunjuk-petunjuk yang telah diberikan. Mereka tidak pernah menantang kekuasaannya atau berani tidak mematuhi instruksinya. Meskipun Balarama & Krishna merupakan perwujudan Yang Agung atas bumi dan surga, mereka memberikan penghormatan dan taat pada guru mereka karena kedudukan dan keutamaan gurunya. Mereka penuh kesungguhan dan pengabdian. Mereka tidak mengizinkan apapun untuk mengalihkan perhatian mereka dari pelajaran mereka. Itulah seharusnya bagaimana menjadi siswa yang baik, seperti yang dilakukan oleh Balarama dan Krishna!

- Bhagavatha Vahini, Ch 39, "The Omniscient as Student".

Sai Inspires - December 10, 2010

The process of living has the attainment of the Supreme as its purpose and meaning. The "Supreme" means the Atma, the Divine Self who is present everywhere. Many great people have directed their intelligence towards the discovery of the omnipresent Atma and succeeded in visualising that Divine Principle. There is plenty of evidence of the successful realisation of the goals placed before themselves by preachers, pundits, aspirants and ascetics, when they tried earnestly to pursue them.

Proses hidup memiliki pencapaian Agung sebagai tujuan dan makna kehidupan. "Yang Agung" berarti Atma, Tuhan yang hadir di mana-mana. Banyak orang-orang hebat telah mengarahkan kecerdasan mereka menuju penemuan Atma dan berhasil memvisualisasikan Prinsip Ketuhanan. Ada banyak bukti-bukti pencapaian kesadaran yang berhasil dicapai oleh para pendeta, pundit, .pencari spiritual, dan pertapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk mengejarnya.

Sai Inspires - December 09, 2010

While engaged in the mundane activities and in sense objects, if you have no interest in the result or consequence, then not only can you be victorious over the feelings of “I” and “mine”, greed and lust, but you can be far away from all such traits. Liberating action is pure, faultless, unselfish, and unswerving. Its characteristic is the importance given to the idea of action without any desire of the fruits thereof (Nishkama Karma), which has been elaborated in the Bhagavad Gita. The practice of this discipline involves the development of Truth, Righteousness, Peace and Love (Sathya, Dharma, Shanti andPrema). While on this path, if one also takes up the discipline of remembering the name of the Lord, where else can one acquire more joy and bliss? It will give the full est satisfaction.

Saat disibukkan dalam kegiatan duniawi dan objek-objek indera, jika engkau tidak tertarik pada hasil atau akibatnya, maka engkau tidak hanya bisa menang atas perasaan "aku" dan "kepunyaanku", keserakahan dan nafsu, tetapi engkau bisa menjauhkan diri dari semua sifat-sifat tersebut. Membebaskan tindakan dari objek-objek duniawi adalah murni, sempurna, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak menyimpang. Sifat-sifat ini penting diberikan dengan maksud melakukan tindakan tanpa ada keinginan untuk mendapatkan hasil (Nishkama Karma), seperti diuraikan dalam Bhagavad Gita. Praktek disiplin ini melibatkan pengembangan Kebenaran, Kebajikan, Kedamaian, dan Cinta-kasih (Sathya, Dharma, Shanti, dan Prema). Selagi berada di jalan ini, jika seseorang menjalankan disiplin ini dan senantiasa mengingat nama Tuhan, dimana lagi seseorang bisa memperoleh sukacita dan kebahagiaan? Hal ini akan memberikan kepuasan sepenuhnya.

- Dhyana Vahini, Ch 1 "The Power of Meditation".

Sai Inspires - December 08, 2010

Those who seek to know or lay down the causes for the Lord willing one way and not another are really on an impertinent adventure; so too are those who assert and describe His power and His plans through different characteristics, qualifications and limits, and also those who claim to know that the Lord will act only in a particular mode, and that the Divine Principle is of a specific nature and not otherwise! There can be no limit or obstacle to His Will. There can be no bounds to the manifestation of His power and His glory. He fructifies all that He wills. He can manifest in whatever form He wills. He is unique, incomparable, and equal to Himself alone. He is His own measure, witness, and authority.

Mereka yang berusaha untuk mengetahui atau mencari penyebab dari Kehendak Tuhan sesungguhnya merupakan pencarian yang sia-sia, sama halnya dengan mereka yang menyatakan bahwa kuasa-Nya dan rencana-Nya memiliki karakteristik ini dan itu, memiliki batasan-batasan tertentu, dan mereka yang menyatakan mengetahui bahwa Tuhan akan bertindak hanya dalam modus tertentu, dan mereka yang menyatakan bahwa Prinsip Illahi adalah seperti sifat-sifat ini dan bukan sebaliknya! Tidak ada yang bisa membatasi atau menghalangi kehendak-Nya. Tidak ada batas untuk perwujudan kuasa-Nya dan kemuliaan-Nya. Beliau membuahi segalanya sesuai yang Beliau kehendaki. Beliau bisa memanifestasikan diri-Nya dalam wujud apapun yang Beliau kehendaki. Beliau itu unik, tiada bandingannya, dan hanya bisa menyamai diri-Nya sendiri. Beliau adalah ukuran, saksi, dan otoritas diri-Nya.

- Bhagavatha Vahini, Ch 32, Puranas and Incarnations.

Sai Inspires - December 07, 2010

Actions that bind include all activity in relation to exterior objects. Such acts are usually resorted to with a desire for the result. This craving for the results leads one to the morass of “I” and “mine” and the demons of lust and greed. If one follows this path, there will be sudden flares, as is seen when clarified butter (ghee) is poured in the sacrificial fire! Assigning priority to sense objects (Vishaya) is the same as assigning importance to poison (Visha)!

Tindakan yang mengikat meliputi semua kegiatan yang berhubungan dengan objek-objek luar. Tindakan-tindakan seperti ini biasanya digunakan untuk mencapai suatu keinginan sebagai hasil akhirnya. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu ini mengarahkan seseorang pada "aku" dan "kepunyaanku" dan setan-setan nafsu dan keserakahan. Jika kita mengikuti jalan ini, akan muncul nyala api, seperti ketika mentega (ghee) dituangkan dalam api pengorbanan! Memberikan prioritas untuk objek-objek indera (Vishaya) adalah sama pentingnya dengan memberikan racun (Visha)!

- Dhyana Vahini, Ch 1, "The Power of Meditation".

Sai Inspires - December 06, 2010

God is Omnipotent. He knows no distinction between the possible and the impossible. His wizardry and His sport, His play and His pranks cannot be described with the vocabulary that man commands. Though He has no Form, He can assume the Form of the Universal Person, embodying all Creation in His Form. He is One, but He makes Himself Many. Matsya, Koorma, Varaha, Narasimha,Vamana, Parasurama, Rama, Krishna,Buddha, Kalki - people usually relate God to these Divine Forms that He has assumed. But that does not describe Him as vast as His magnificence. We have to visualise all forms as His. The vitality of every being is His Breath. In short, every bit in Creation is He, it is the manifestation of His Will. There is nothing distinct or separate from Him.

Tuhan itu Mahakuasa. Beliau mengetahui tidak ada perbedaan antara yang mungkin dan yang tidak mungkin. Kemampuan-Nya, permainan-Nya, senda-gurau-Nya tidak bisa digambarkan dengan kosa kata manusia. Meskipun Beliau tidak memiliki Roopa atau Wujud, Beliau bisa mengambil Wujud yang Universal, me-wujud-kan semua Penciptaan dalam Wujud-Nya. Beliau adalah Satu, tetapi Beliau membuat Diri-Nya menjadi Banyak. Matsya, Koorma, Varaha, Narasimha, Wamana, Parasurama, Rama, Krishna, Buddha, Kalki – orang-orang menghubungkan bahwa ini merupakan Bentuk-bentuk Ilahi yang telah Beliau ambil. Tetapi sesungguhnya hal itu tidak dapat menggambarkan kecemerlangan Beliau yang amat luas. Kita harus memvisualisasikan semua wujud sebagai milik-Nya. Vitalitas setiap manusia adalah Nafas-Nya. Singkatnya, setiap bentuk dalam Penciptaan adalah Beliau, manifestasi dari kehendak-Nya. Tidak ada yang berbeda atau terpisah dari-Nya.

- Bhagavatha Vahini, Ch 32, "Puranas and Incarnations".

Sai Inspires - December 05, 2010

Everything has energy latent in it be it a piece of paper or a strip of cloth. When this latent energy is exhausted, it results in death; when energy fills, birth happens. Sath-Chith-Ananda is energy. In fact energy is all and this energy is derived from God - it is the very basis of man. These days we are building superstructures ignoring this basic and foundational Divine principle. We are fascinated by subjects and studies that promise to feed our stomachs and make us materially happy and powerful. But the hard truth is that the Divine underlies everything. Man must either know the supreme truth of the One Being behind all Becoming or at least know the practical truth of love and brotherhood.

Semua benda memiliki energi laten di dalamnya - sepotong kertas, sepotong kain memiliki energi laten didalamnya. Ketika energi laten tersebut habis, mengakibatkan kematian; tetapi ketika energi laten tersebut mengisi suatu benda, maka terjadilah kelahiran. Sath-Chith-Ananda adalah energi. Energi adalah segalanya dan semua energi berasal dari Tuhan. Inilah sesungguhnya dasar manusia. Saat ini, kita sedang membangun superstruktur entah dimana, tidak di atas dasar ini. Prinsip dasar Ilahi sedang diabaikan. Kita terpesona oleh subjek dan sesuatu yang menjanjikan untuk memberi makan perut kita dan membuat kita bahagia material serta membuat badan kita kuat. Tetapi kebenaran yang sesungguhnya adalah bahwa Tuhan-lah yang mendasarinya. Manusia harus mengetahui salah satu kebenaran tertinggi yaitu bahwa Tuhan-lah dibalik semuanya atau setidaknya mengetahui kebenaran dari cinta-kasih dan persaudaraan.

- Vidya Vahini, Chap 19.

Thursday, February 17, 2011

Sai Inspires - December 04, 2010

All things that are seen are transient and unreal. God alone is eternal and real. Attachment with objects ends in grief. God is your own Reality and this Reality, that is, the God in you, has no relationship with the changing transitory objective world. He is only Pure Consciousness. Even if you posit some relationship for it, it can only be the type that exists between the dreamer and the objects seen and experienced in dreams.

Segala sesuatu yang terlihat di dunia ini bersifat sementara, yaitu tidak nyata. Hanya Tuhan-lah yang abadi, yang nyata. Keterikatan terhadap objek-objek duniawi berakhir dalam kesedihan. Tuhan adalah Realitas itu sendiri. Realitas tersebut adalah Tuhan yang bersemayam dalam dirimu, yang tidak memiliki hubungan dengan dunia yang selalu mengalami perubahan. Beliau adalah Kesadaran Murni. Bahkan jika engkau menempatkan beberapa hubungan untuk hal tersebut, hubungan itu hanya didapat dari jenis hubungan yang ada antara pemimpi dan objek yang dilihat dan dialami dalam mimpi.

- Bhagavatha Vahini, Chap 31.

Sai Inspires - December 03, 2010

Among students today, we do not find the spirit of focus, singleness of purpose and fraternal co-operation. Sadbhava (good feelings) and Sathsanga (good company) have become rare; mutual love and yearning for good company have weakened. “As the ruler (Raja), so the ruled (Praja),” says the proverb. “As the teacher, so the pupil” seems to be equally true. Realizing this, teachers, therefore, have to be interested in high thinking and a life steeped in renunciation.

Di antara para siswa saat ini, kita tidak menemukan semangat, satu tujuan dan rasa persaudaraan. Sadbhava (perasaan yang baik) dan Sathsanga (pergaulan yang baik) sudah sangat jarang ditemukan, serta telah menurunnya rasa saling mengasihi dan menginginkan pergaulan yang baik. Pepatah mengatakan "sebagaimana penguasanya (Raja), demikianlah aturannya (Praja)." "Sebagaimana gurunya demikianlah muridnya" tampaknya sama-sama benar. Oleh karenanya, guru harus berpikir mulia dan menjalani kehidupan spiritual.

- Vidya Vahini, Chap 19.

Sai Inspires - December 02, 2010

You must exercise constant watchfulness over your feelings and reactions. You must keep out selfishness, envy, anger, greed and other such evil tendencies from entering your minds. These are nets which entrap you; these vices overwhelm and subdue your holiness, so that you cannot be influenced any longer. Then you forget yourself and behave like an individual caught in frenzy. You blabber as your tongue dictates without regard to the effect - good or evil and engage in those works which your hands favour. Be aware and keep them in control! If you carefully discriminate, you can be recognised by the good company you keep, the noble works you delight in and the good words you utter.

Engkau harus menjaga perasaan dan reaksimu secara terus-menerus. Engkau harus mencegah egoisme, iri hati, kemarahan, keserakahan dan kecenderungan buruk lainnya memasuki pikiranmu. Sifat-sifat buruk ini adalah jaring yang menjebakmu, yang dapat melemahkan kesucianmu, sehingga engkau tidak bisa dipengaruhi lagi. Kemudian engkau akan melupakan dirimu sendiri dan bersikap seperti seorang individu yang terjebak dalam hiruk-pikuk duniawi. Engkau akan berkata-kata dengan tanpa memperhatikan efek - baik atau buruk dan menggunakannya untuk mendukung pekerjaanmu. Kendalikanlah! Jika engkau dengan hati-hati menjalankan diskriminasi, engkau dapat dikenali dalam pergaulan yang baik, pekerjaan yang baik yang engkau senangi dan dari kata-kata yang engkau ucapkan.

- Vidya Vahini, Chap 27.

Sai Inspires - December 01, 2010

When viewed without the twin distortions of like and dislike, love and hate - all forms, all effects, and all causes are experienced only as Brahman (Divinity). When the vision is affected by love or hate, each form, effect and cause, appears different from the rest. When feelings are calm and balanced, the many is experienced as the one. An agitated mind can never have a single vision. It runs along contrary lines, so it experiences the world, nature, and the cosmos as separate from God. Such vision also creates division. Serene vision reveals unity. As is the vision, so is the impression, the view of the world.

Bila dilihat tanpa perasaan suka dan tidak suka, cinta-kasih dan kebencian, semua bentuk, semua efek, semua penyebab hanya dialami sebagai Brahman (Divinity). Ketika visi dipengaruhi oleh cinta-kasih atau kebencian, setiap bentuk, setiap efek dan setiap sebab, tampak berbeda dari yang lain. Ketika perasaan tenang dan seimbang, berbagai hal tersebut dialami sebagai satu tanpa perbedaan. Pikiran yang kacau tidak akan pernah memiliki visi tunggal. Hal ini berjalan secara berlawanan, sehingga pengalaman dunia, alam, dan kosmos nampak terpisah dari Tuhan. Visi tersebut juga menimbulkan divisi. Visi yang tenang akan mengungkapkan persatuan. Sebagaimana visi tersebut, demikian pula perasaannya, bagaimana memandang dunia ini.

- Sutra Vahini, Chap 12.

Sai Inspires - November 30, 2010

Every sense runs after external objects one after the other, one supporting the other, restlessly and miserably. One must bring under control the mind, the reasoning faculty and the senses which roam aimlessly behind objective pleasures. One must train them to take on the task of concentrating all attention on the glory and majesty of God to follow one systematic course of one-pointed discipline. Bring them all and lead them towards the Higher Path. Their unlicensed behaviour has to be curbed. They must be educated by means of japa (chanting God’s name), dhyana (meditation) or noble deeds, or some other dedicatory and elevating activity that purifies and ennobles.

Setiap indera satu sama lain saling mengejar objek-objek eksternal dengan kegelisahan dan sia-sia. Oleh karenanya, seseorang harus mengendalikan pikiran serta mempertimbangkan inderanya yang berkelana tanpa tujuan di balik kesenangan-kesenangan objektif. Seseorang harus melatih inderanya agar dapat memusatkan semua perhatiannya pada kemuliaan dan keagungan Tuhan dengan penuh disiplin. Bawalah mereka semua dan arahkanlah mereka menuju jalan yang lebih tinggi. Perilaku dari indera yang tidak sesuai harus diatasi, dengan cara Japa (mengucapkan nama Tuhan), Dhyana (meditasi) atau perbuatan mulia, atau kegiatan persembahan lainnya yang dapat memurnikan dan memuliakan.

- Bhagavatha Vahini, Chap 31.

Sai Inspires - November 29, 2010

The process of purifying the inner equipment of man in the crucible of single-pointed speech, feeling and activity, directed towards God is called thapas (penance). The inner consciousness will then be rid of all blemishes and defects. When the inner consciousness has been rendered pure and unsullied, God will reside therein. Finally, he will experience the vision of the Lord Himself, within him.

Proses untuk memurnikan batin manusia melalui perkataan, perasaan, dan tindakan, yang diarahkan pada Tuhan disebut dengan Thapas (penebusan dosa). Kesadaran batin kemudian akan menghilangkan semua cacat dan noda. Ketika kesadaran batin telah dimurnikan dan tidak ternoda, Tuhan akan bersemayam di dalamnya. Akhirnya, ia akan mengalami visi Tuhan, dalam dirinya.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 28, 2010

As a teacher, you must ask yourself, "Have the pupils grasped the lesson alright? Which subject has to be taught in which way, and through which method?” These problems should bother you as a teacher. Moreover you should conduct yourself just in the same manner as you advise and expect the students to behave. When they are taught the lessons through love, their reverence for the teacher will also deepen. Each teacher should strive to encourage the all-round development of the student. You must expand your heart through love, and not waste the years of your life in furthering your own interests.

Sebagai seorang guru, engkau harus bertanya pada dirimu sendiri, “Apakah para murid telah menangkap pelajaran dengan baik? Mata pelajaran apakah yang harus disampaikan dan dengan cara bagaimana, melalui metode seperti apa?” Persoalan seperti ini seharusnya menjadi perhatianmu sebagai seorang guru. Selain itu engkau harus bertingkah laku sebagaimana apa yang telah engkau nasehatkan dan harapkan dari para murid untuk berperilaku. Ketika mereka diajarkan pelajaran melalui kasih, rasa hormat mereka kepada guru juga akan semakin dalam. Setiap guru harus berusaha sekuat tenaga untuk mengembangkan murid dengan seutuhnya dan seluruhnya. Engkau harus mengembangkan hatimu melalui kasih, dan tidak menyia-nyiakan bertahun-tahun waktu kehidupanmu hanya demi untuk memajukan kepentinganmu semata.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 27, 2010

Of the instruments used by everyone, the body with its hands ready executes the thought which is expressed in words. The deed, the work, the labour that the hand of man is engaged in, is the source of all the happiness or misery for everyone. Man asserts that he is happy, or that he is anxious and afraid or that he is in trouble; and he attributes the cause of these conditions to some person other than himself. This belief rests on a wrong basis. Happiness and misery are due to one’s own actions. Whether one accepts this truth or not, one has to go through all the consequences of one’s actions. This is the Law of Nature.

Diantara anggota badan yang digunakan manusia, tubuh punya tangan yang siap mewujudkan buah pikiran yang dinyatakan melalui ucapan. Perbuatan, pekerjaan, tugas yang dilaksanakan tangan manusia, adalah sumber dari segala kebahagiaan atau penderitaan bagi setiap orang. Manusia berada pada suatu keadaan apakah ia bahagia, atau ia cemas dan takut atau ia sedang berada dalam kesulitan. Ia mengira orang lain dan bukan dirinya sendirilah sebagai penyebab keadaannya. Kecenderungan semacam ini adalah salah. Kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Tidak peduli apakah seseorang menerima atau menolak kebenaran ini, ia tetap harus menerima segala akibat dari perbuatannya. Ini adalah hukum alam.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 26, 2010

The teacher must come down to the level of the student. This process is called ‘descent.’ It does not mean stepping down from the top to the ground. It only means accepting the level of the person who is to be benefited. The baby on the floor cannot jump in to the arms of the mother, when she calls upon it to come up. Iif the mother feels “I am a great person, I will not stoop”, she cannot possess the child. Stooping does not make a person small. The teacher too, is not demeaning himself when he comes down to the level of the pupil in order to teach him. It is only a laudable sign of love.

Guru harus menyesuaikan dirinya ke tataran murid. Proses ini disebut ‘turun’. Hal ini bukan berarti merosotnya derajat sang guru dari puncak ke dasar. Ini artinya bahwa guru menerima sepenuhnya tingkatan dari seseorang yang akan diberinya ajaran. Bayi di lantai tidak bisa melompat ke tangan ibu, ketika sang ibu memanggil si bayi supaya bangun. “Saya adalah orang yang utama. Saya tidak akan membungkuk” – jika sang ibu memiliki perasaan seperti itu, ia tidak akan bisa mengasuh anak. Membungkuk tidak akan membuat seseorang menjadi kerdil. Demikian juga dengan guru, ia tidaklah merendahkan dirinya sendiri ketika ia turun untuk menyesuaikan diri ke tingkatan sang murid untuk memberinya pelajaran yang sesuai. Itu hanya suatu tanda rasa kasih guru yang terpuji.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 25, 2010

A person bound by objective desires will try in various ways to fulfil them. He becomes a slave to his senses and their pursuits. But if he withdraws the senses from the world and gets control over their master, the mind, and engages that mind in thapas (penance), then he can establish Swa-rajya or Self-mastery or independence over himself. Allowing the senses to attach themselves to objects is what causes bondage. When the mind that flows through the senses towards the outer world is turned inwards and is made to contemplate on the Atma, it attains liberation or Moksha.

Seseorang yang amat terikat dengan keinginan pada benda-benda duniawi akan mencoba berbagai macam cara untuk memenuhinya. Orang tersebut akan menjadi budak bagi indera dan keinginannya. Namun jika ia menarik kembali inderanya dari keduniawian dan menaklukkan penguasanya, yaitu pikiran, dan menyibukkan pikiran ke dalam Thapas (penebusan dosa), maka ia akan dapat menegakkan Swa-rajya atau penguasaan diri atau bebas dari keterikatan diri. Membiarkan indera untuk mengikatkan diri pada benda-benda duniawi – itulah yang menyebabkan orang diperbudak. Ketika pikiran yang menghambur keluar melalui indera menuju ke dunia luar diarahkan berbalik menuju ke dalam diri dan ditujukan untuk merenung pada Atma, maka akan tercapai pembebasan atau Moksha.

- Bhagavatha Vahini, "Doubts and Questions", Ch 31.

Sai Inspires - November 24, 2010

Hands are not the only limbs or agents that are involved in Karma or human activity. Whatever is done, seen or heard, one should be vigilant about its purity. Thought, word and deed must be free from pride, greed and hatred. The words that one utters must be free from these faults. Things that one yearns to hear must be free from these superficially attractive qualities; the pleasures that one seeks must not be polluted by evil. You must first assimilate these mental lessons and demonstrate their effect in your speech. You must translate this lesson taught by words into action.

Tangan bukanlah satu-satunya alat atau anggota badan yang terlibat di dalam Karma atau perbuatan manusia. Engkau harus waspada dan menjaga kemurnian apapun yang dilakukan, apapun yang dilihat, dan apapun yang didengar. Pikiran, perkataan dan perbuatan harus bebas dari kesombongan, keserakahan dan kebencian. Kata-kata yang diucapkan seseorang haruslah bersih dari sifat-sifat buruk tersebut. Kata-kata yang ingin didengar oleh seseorang haruslah bebas dari hal-hal yang menarik namun dangkal tanpa makna; kebahagiaan yang dicari seseorang haruslah tidak tercemar oleh kejahatan. Engkau pertama kali harus menyerap ajaran-ajaran rohani tersebut dan memperlihatkan pengaruh ajaran tersebut dalam ucapanmu. Engkau harus menerjemahkan pelajaran yang telah diajarkan lewat kata-kata menjadi tindakan.

- Vidya Vahini, Ch 19.

Sai Inspires - November 23, 2010

It is a matter of great bliss to be loved by many. To win over the hearts of so many is a sign of Divinity. I love everyone and all love Me. Do not hurt anyone by your harsh words and enter into any evil paths. Recognise the truth that God pervades everything from microcosm to macrocosm. With Shraddha and Vishwasa (sincerity of purpose and faith) and self-confidence, you can achieve anything in the world. Love God from the depths of your heart. Follow Swami’s commands and you will attain everything and be victorious in all your endeavours!

Adalah suatu kebahagiaan besar untuk dikasihi oleh banyak orang. Untuk memenangkan hati begitu banyak orang, itu adalah ciri-ciri Ketuhanan. Aku mengasihi setiap orang dan setiap orang mengasihiKu. Jangan menyakiti siapa pun dengan kata-kata yang kasar darimu dan jangan terjerumus ke jalan kejahatan apapun. Sadarilah kebenaran bahwa Tuhan hadir dan merasuk ke segala hal mulai dari mikrokosmos sampai dengan makrokosmos. Dengan Shraddha dan Vishwasa (maksud dan tujuan yang tulus serta keyakinan) dan kepercayaan diri, engkau akan dapat mencapai apapun di dunia. Kasihilah Tuhan dengan setulusnya dari relung lubuk hatimu yang terdalam. Ikutilah perintah-perintah Swami maka engkau akan mendapatkan semuanya dan akan meraih kemenangan dalam perjuanganmu!

- Divine Discourse, Nov 23, 2001.

Sai Inspires - November 22, 2010

Education should be used for promoting the welfare of the nation. Knowledge gained through education should be used selflessly for promoting the well-being of humanity. What we need today are Uttama-purushulu (noble and ideal men and women). The nation will prosper only when there are such persons. And people like these will emerge in society only when there is purity of mind and morality in society. Only a society with a moral foundation can foster such noble persons. Spirituality is the only means for redemption.

Pendidikan harus digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan seharusnya dimanfaatkan dengan tanpa pamrih untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Apa yang kita butuhkan saat ini adalah Uttama-purushulu (pria dan wanita yang berhati mulia dan berjiwa besar). Bangsa ini akan makmur hanya jika orang-orang seperti itu hadir dengan pikiran dan hati yang mulia. Orang semacam itu akan muncul di masyarakat hanya ketika ada kemurnian pikiran dan moralitas dalam masyarakat. Hanya masyarakat dengan dasar moral yang bisa memunculkan orang yang mulia seperti itu. Spiritualitas adalah satu-satunya cara untuk penebusan dosa.

Sai Inspires - November 21, 2010

The common man is drawn by external pomp and apparent motives. So he judges the leelas (Divine sport) as common and even low. The inner meaning and purpose are not easily patent to all. But the Lord can never engage Himself in purposeless and paltry activities. His advent is for the uplift of the world from the morass of wickedness and unrighteousness, for fulfilling the needs of those devoted to Him, for the reestablishment of righteousness and morality, and for the revival of the Vedas. He has to take into account the merit acquired by each in previous lives and shower His grace accordingly. His leelas or Divine activities are so shaped that they suit the time, the person, the aspiration and the compassion which cause each shower of grace!

Orang yang awam akan gampang terkesima dan tertarik oleh kemegahan duniawi dan mudah memahami hal-hal yang gamblang. Maka orang tersebut menganggap bahwa Leela (permainan Illahi) sebagai hal yang biasa dan bahkan menganggapnya sebagai hal yang sepele. Makna batiniah dan tujuan permainan Illahi tersebut tidak dapat dijelaskan dengan mudah kepada semua orang. Namun Tuhan tidak akan pernah menyibukkan DiriNya dengan pekerjaan yang tanpa tujuan dan remeh semata. KedatanganNya adalah untuk mengangkat dunia dari rawa-rawa kejahatan dan ketidakbenaran, untuk memenuhi kebutuhan mereka yang telah mengabdi sepenuh hati padaNya, untuk menegakkan kembali kebenaran dan budi pekerti, dan demi kebangkitan Veda. Beliau harus memperhitungkan karma pahala masing-masing orang yang diperoleh pada kehidupan yang sebelumnya dan memberikan anugerahNya yang sepadan. Permainan Illahi atau kegiatan-kegiatan Tuhan diwujudkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan waktu, orang yang menerima, cita-cita dan kasih sayang masing-masing yang menyebabkan setiap orang bermandikan anugerah sepatutnya!

- Bhagavatha Vahini, Chap 34.

Sai Inspires - November 20, 2010

For the protection of the world, for upholding Dharma (righteousness), for fulfilling the yearnings of devotees, He wills and assumes a special Form and moves in the world. He confers joy on the devotees by His Divine acts, which convince them of His Advent. They are thus confirmed in their faith and prompted to dedicate their activities to God and thus save themselves, and liberate themselves. On certain occasions, for resolving certain urgent crisis, God has incarnated with Forms embodying only a part of His Divinity, with some Divine powers and potentialities.

Untuk melindungi dunia, untuk menegakkan Dharma (kebenaran), untuk memenuhi kerinduan para pemujaNya, maka Tuhan berkehendak dan mengambil Wujud tertentu dan melangkah di dunia ini. Tuhan menganugerahkan kebahagiaan bagi para bhaktaNya melalui Permainan IllahiNya, yang meyakinkan mereka akan Kedatangan Tuhan. Dengan demikian maka para bhakta tersebut menjadi teguh dalam keyakinan dan bersedia untuk mempersembahkan segala kegiatan mereka untuk Tuhan, yang mana hal tersebut akan menyelamatkan diri mereka sendiri, dan pada akhirnya akan membebaskan diri mereka dari ikatan dunia. Pada saat-saat tertentu, untuk mengatasi keadaan yang mendesak, Tuhan telah menjelma kedalam Wujud tertentu yang mengambil hanya sebagian dari Aspek KetuhananNya, dengan beberapa kekuatan dan kemampuan Illahi.

- Bhagavatha Vahini, Chap 32.

Sai Inspires - November 19, 2010

From time immemorial, women of Bharat, by their adherence to ideals have bestowed joy on this land and hence occupy an exalted position, which is higher than that of men. Women of such exalted character have set great ideals of womanhood in Bharat. Only if the women come up in society, will the whole world turn sacred. There is nothing in this world that women cannot achieve. Recognising the nature of such women, we must encourage them and give them equal opportunities in society. However, in today's world, there is no encouragement for women to cultivate high ideals. In modern times, the ways of life have become so perverted that only evil thoughts, feelings and behaviour rule the roost.

Sejak dahulu kala, perempuan Bharat (bangsa India), berkat kepatuhan mereka pada suri teladan, telah memberikan kebahagiaan pada tanah ini dan karenanya mereka mendapatkan tempat yang mulia, lebih tinggi daripada laki-laki. Perempuan yang berkarakter mulia seperti itu telah menjadi contoh bagi kaum wanita di tanah Bharat. Hanya jika para perempuan mulia seperti itu muncul di tengah masyarakat, maka seluruh dunia akan berubah menjadi suci. Tiada satu pun di dunia ini yang tidak bisa dicapai oleh perempuan. Menyadari sifat-sifat perempuan yang mulia seperti itu, kita harus mendukung mereka sembari memberi kesempatan yang sama bagi mereka di masyarakat. Namun, dalam masyarakat yang telah tercemar seperti sekarang ini, tidak ada dukungan bagi para wanita untuk mengembangkan diri dan mencapai keteladanan yang utama. Di zaman modern ini, gaya hidup telah menjadi begitu menyimpang sedemikian rupa sehingga hanya pikiran yang jahat, perasaan yang jahat dan perilaku yang jahatlah yang berkuasa.

- Divine Discourse, 19 November 2001.