Monday, August 31, 2009

Sai Inspires 31st August 2009


Each one should observe three principles in life - Love for God, Fear of Sin and Morality in Society. You should realize that the soul, the Divine and the Society are all aspects of the Divine. Lack of fear of sin in human beings is the root cause of the absence of morality in society. One bereft of morality is not a human being at all. For everything, morality is important. God loves all. If one has love for God, there will certainly be unity in society. People indulge in sinful deeds despite knowing that God can give them punishment. They have no fear of sin. If one lacks fear of sin, there can be no morality in the society. If everybody has fear of sin, then there will be morality in the society.

Setiap orang harus mencamkan tiga prinsip dalam hidup – Kasih untuk Tuhan, Takut akan Dosa dan Kesusilaan dalam Masyarakat. Engkau harus menyadari bahwa jiwa, keillahian dan masyarakat semuanya adalah aspek dari Tuhan. Tiadanya rasa takut akan dosa diantara umat manusia adalah penyebab dasar dari sirnanya norma kesusilaan dalam masyarakat. Terampasnya kesusilaan menjadikan seseorang bukan manusia sama sekali. Dalam segala hal, kesusilaan adalah sangat penting. Tuhan mengasihi semuanya. Jika seseorang memiliki kasih untuk Tuhan, maka pasti akan ada kesatuan dalam masyarakat. Orang-orang tetap berkubang dalam perbuatan yang penuh dosa walaupun tahu bahwa Tuhan bisa menghukum mereka. Mereka tidak memiliki rasa takut akan dosa. Jika seseorang tidak memiliki rasa takut akan dosa, maka tidak akan ada kesusilaan dalam masyarakat. Jika setiap orang takut berbuat dosa, maka akan ada kesusilaan dalam masyarakat.

-Divine Discourse, July 6, 2009

Sai Inspires 30th August 2009


Alertness is a key quality that a devotee should cultivate. To attach oneself to the flimsy, paltry, foolishness of the world and to run after them and worry when they slip out of the hands or jump in glee when you get them, is avidya (Ignorance). On the other hand, if you are awaiting a chance to commune with the Divine, keeping awake for the opportunity of hearing the words of the Lord, imbibing their essence, that is called Vidyamaya (Internal Illusion). If a devotee gets this, they are fortunate. Develop this quality of alertness and dwell on the thoughts of God. Do not give it up or reduce for any reason to any extent. The thoughts will illuminate you and you will become holy without fail and attain the goal.

Kewaspadaan adalah sifat utama yang harus dikembangkan oleh seorang pengikut spiritual. Mengikatkan diri pada hal-hal duniawi yang bukan-bukan, tak berharga, dan mengejar semua itu dan khawatir ketika semua itu terlepas dari tangan atau bersorak kegirangan saat mendapatkan semua itu, adalah merupakan avidya (Kebodohan). Namun sebaliknya, jika engkau menanti kesempatan untuk bisa bercakap-cakap dengan Sang Illahi, tetap terjaga demi kesempatan untuk mendengarkan wacana Tuhan, menyerap semua inti sarinya, itulah yang disebut dengan Vidyamaya (Penampakan Dalam Diri). Jika seorang pengikut spiritual mendapatkan hal ini, ia sangatlah beruntung. Kembangkanlah sifat kewaspadaan ini dan pusatkanlah pikiranmu kepada Tuhan sepanjang waktu. Jangan pernah menyerah atau mengendurkan semangat ini dengan alasan dan tingkat apa pun. Pikiran-pikiran akan menerangimu dan engkau akan mencapai kesucian tanpa kegagalan dan engkau akan mencapai tujuanmu.

- Sandeha Nivarini

Sunday, August 30, 2009

Sai Inspires 29th August 2009


If all is eaten at the same time, the food will not be digested. It would lead to bad health. What we eat requires time to get digested and assimilated. Similarly, what is heard should be understood and put in practice. Take time to digest and practice what you internalized. Placing your burden on Destiny and keeping quiet means diminution of effort. Without effort and prayer, Destiny and Grace cannot be attained. Start the effort! With effort and prayer, Destiny can be attained.

Jika semua makanan dimakan pada waktu yang bersamaan, makanan tersebut tidak akan dapat dicerna dengan baik. Hal itu akan berakibat buruk bagi kesehatan. Apa yang kita makan memerlukan waktu untuk dicerna dan diserap oleh tubuh. Demikian juga, apa yang kita dengar haruslah dipahami terlebih dahulu dan kemudian dilaksanakan. Luangkanlah waktu untuk mencerna dan melaksanakan apa yang engkau telah dapatkan. Meyerahkan semua bebanmu pada Takdir dan kemudian berdiam diri berarti meremehkan nilai dari usaha. Tanpa usaha dan doa, Takdir dan Anugerah tidak akan bisa didapatkan. Mulailah berusaha! Melalui usaha dan doa, Takdir bisa dicapai.

- Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Friday, August 28, 2009

Sai Inspires 28th August 2009


During the little time available, if you don't think of some good subject, but merely recollect the ignorant prattle of others, it is as if you too joined in the blame game. This is harmful to a devotee. One word following another produces anger and pain. The path of devotion is designed for suppressing, not developing these qualities. The talk of the fault finders is like the sound of bronze. Cheap metals make more sound. Gold which does not make sound is very valuable. So too, true devotees will remain mute, following the path of silence. Their tongue will be fully engaged in the repetition of the essential greatness of the Lord's Name. It is best that they have no respite for any other word. So do not permit the words of the bronze-voiced persons to enter your ears, instead fill them with the Name of the Lord.

Di dalam sedikit waktu luangmu, jika engkau tidak memikirkan hal-hal yang baik, namun hanya mengingat-ingat kembali perkataan orang lain yang sebenarnya tidak perlu, hal itu bagaikan memasuki permainan saling menyalahkan. Hal ini berbahaya bagi seorang pengikut spiritual. Rentetan satu kata mengikuti kata yang lain akan menimbulkan kemarahan dan rasa sakit hati. Jalan pencari spiritual sejati dibuat untuk mengurangi, bukannya meningkatkan sifat-sifat buruk tadi. Obrolan untuk mencari-cari kesalahan orang lain adalah bagaikan ributnya suara logam perunggu. Logam murahan akan menghasilkan suara lebih ribut. Emas, yang mana tidak menimbulkan keributan suara, adalah logam yang sangat berharga. Demikian juga, pengikut spiritual sejati akan tetap tenang, mengikuti jalan keheningan. Lidah mereka akan selalu sibuk dalam mengulang-ulang Nama Tuhan. Itu adalah jalan yang terbaik karena tidak akan ada jeda untuk kata yang lain selain Nama Tuhan. Jadi, jangan biarkan kata-kata dari orang lain yang bagaikan suara logam murahan masuk ke telingamu, sebaliknya penuhilah telingamu dengan Nama Tuhan.

-Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Sai Inspires 27th August 2009


It is not good to spend time in conversations which are fault finding and abusive in nature. These are natural and common with many people. Knowing this, those who aspire to become true devotees should search only for bases on which they should build their joy. All the available time should be used for holy purposes, it should not be wasted. You have nothing to do with the good and the bad in the others. Instead of wasting the time, it should be utilized to discard the bad and develop the good in you.

Tidaklah baik jika menghabiskan waktu dalam perbincangan untuk mencari-cari kesalahan dan meyerang orang lain. Hal ini biasa terjadi pada banyak orang. Sadar akan hal ini, mereka yang berharap untuk bisa menjadi pengikut spiritual sejati seharusnya hanya mencari hal-hal yang bisa membangun kebahagiaan sejati mereka sendiri. Semua waktu yang berharga seharusnya digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang suci, jangan menyia-nyiakan waktu. Engkau tidak memiliki urusan dengan kebaikan atau keburukan dalam diri orang lain. Jadi, daripada membuang-buang waktumu dengan percuma, pergunakanlah waktumu untuk membuang segala keburukan dan mengembangkan segala kebaikan yang ada di dalam dirimu.

-Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Sai Inspires 26th August 2009


No effect can take place without a cause. You do certainly know the cause of your present condition. Given the scenario, when you experience a mental pain, do namasmarana (repeat the Name of God) for a while sitting in a lonely place. Or sing bhajans(Devotional Songs) loudly in a raised voice. Or if that is not possible, spread the bed and sleep for some time. Thereafter your worries will disappear and you'll find solutions.

Tidak ada sesuatu hal bisa terjadi tanpa penyebab. Engkau harus bisa memahami dengan pasti penyebab dari semua keadaanmu saat ini. Jadi misalkan saja, ketika engkau merasakan sakit secara mental, lakukanlah namasmarana (mengulang-ulang Nama Tuhan) selama beberapa saat dengan duduk menyendiri di tempat yang sepi. Atau nyanyikanlahbhajans (Lagu-lagu Persembahan kepada Tuhan) secara mantap dengan suara yang nyaring. Atau jika hal-hal tersebut tidak memungkinkan, berbaringlah di tempat tidur dan istirahatlah sejenak. Dengan demikian semua kekhawatiranmu akan lenyap dan engkau akan menemukan pemecahan masalah.

- Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Sai Inspires 25th August 2009


Believe in yourself first. Then believe in the Omnipresent Lord. When you have faith in these two, neither the good nor the bad will affect you. When one is deluded by the mere external world and when one does not attain success in external desires, the faith in the Lord diminishes. So, give up such desires. Desire only for the spiritual relationship. Then you will not become the target of doubts and difficulties. The important thing for this is faith in the Lord. Without Faith, you start doubting everything - big and small.

Percayalah pada dirimu sendiri terlebih dahulu. Baru kemudian percaya pada Kemahaesaan Tuhan. Ketika engkau telah memiliki keyakinan yang mendalam terhadap dua hal tersebut, tidak akan ada kebaikan atau keburukan yang bisa mempengaruhimu. Saat seseorang terperdaya oleh hal-hal duniawi semata dan saat ia tidak bisa memenuhi nafsu keinginan duniawinya, keyakinan pada Tuhan jadi mengendur. Maka, lenyapkanlah nafsu keinginan semacam itu. Dambakanlah hanya hal-hal yang berhubungan dengan spiritual. Dengan demikian engkau tidak akan menjadi sasaran keragu-raguan dan kesulitan. Hal terpenting dalam hal ini adalah percaya sepenuhnya pada Tuhan. Tanpa Kepercayaan, engkau akan mulai meragukan apa pun – hal yang besar dan kecil.

- Divine Discourse, Sandeha Nivarini

Monday, August 24, 2009

Sai Inspires 24th August 2009


One cannot partake of paddy in its raw form. It has to be dehusked and refined into rice and cooked well; only then will it be fit for consumption. When paddy undergoes refinement and becomes rice, its value is enhanced several fold. The process of refinement involves grinding, separating the husk, removing the dust and polishing. In the same way, one cannot get happiness for the mere asking. One has to work for it. The more one engages in good work, the greater will be the reward. The process of refinement lies in accepting all that is good and rejecting all that is bad. You should be prepared to work hard and get refined.

Seseorang tidak bisa begitu saja makan padi. Padi harus dirontokkan dan dibersihkan untuk mendapatkan beras yang kemudian dimasak dengan semestinya; hanya dengan demikianlah maka ia akan layak untuk dimakan. Ketika padi mengalami proses pembersihan dan menjadi beras, nilainya akan meningkat berkali-kali lipat. Proses pembersihan meliputi penggilingan, memisahkannya dari sekam, membersihkannya dari debu. Dengan perumpamaan yang sama, seseorang tidak akan bisa mencapai kebahagiaan hanya dengan memintanya. Ia harus bekerja untuk mendapatkannya. Semakin banyak orang melibatkan diri pada perbuatan yang baik, hasil yang didapat akan semakin besar. Proses pembersihan pada dasarnya adalah mengambil semua hal yang baik dan membuang semua hal yang buruk. Engkau harus mempersiapkan diri untuk bekerja keras dan menjadi bersih.

-Divine Discourse, Oct 13, 2002

Sai Inspires 23rd August 2009


If you enquire deeply, you can visualize God in every human being and in every material. Any padartha (matter) should not be looked upon as mere padartha, but considered asparartha (essence of Divinity). There is a gulf of difference between padartha and parartha. Since padartha is viewed as mere matter and not Divine, its value is demeaned. You should consider everything as Divine. Every drop of blood in your body is suffused with Divinity. This Divine Energy has to be properly utilized by entertaining Divine thoughts.

Jika engkau menyelidiki secara sunguh-sungguh dan mendalam, engkau bisa mendapatkan gambaran Tuhan dalam diri setiap makhluk hidup dan semua benda. Apa punpadartha (benda) itu janganlah hanya dipandang sebagaipadartha semata, namun pandanglah ia sebagai parartha (inti sari Ketuhanan). Ada jurang pemisah yang membedakanpadartha dan parartha. Karena padartha dipandang hanya sekedar benda dan bukannya Ketuhanan, maka nilainya akan merosot. Engkau harus memandang semuanya sebagai Tuhan. Setiap tetes darah dalam tubuhmu diliputi oleh Ketuhanan. Energi Ketuhanan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan tetap memelihara pikiran-pikiran yang Illahi.

- Divine Discourse, Oct 13, 2002

Sunday, August 23, 2009

Sai Inspires 22nd August 2009


A potter collects clay from the river bank, mixes water in it, puts it on a wheel and makes pots. The pot cannot hold water unless it undergoes refinement through fire. Just as a pot becomes strong when it is processed in fire, man becomes God when he undergoes refinement in the fire of wisdom. Clay gains value when it is refined and made into a pot. The metal gold gains added value and strength when it is made into a beautiful ornament. Likewise, refinement manifests the latent power in man and increases his value.

Seorang pembuat tembikar mengumpulkan tanah liat dari tepi sungai, menambahkan air pada tanah liat tersebut, meletakkannya di alat pemutar dan mulai membuat guci. Guci tersebut belum bisa dipakai untuk menampung air sebelum diperkeras dengan membakarnya pada api. Sebagaimana sebuah guci tanah liat menjadi semakin kuat ketika telah diproses dalam api, begitu juga dengan manusia akan menjadi Tuhan ketika ia telah mengalami pembersihan melalui api kebijaksanaan. Tanah liat memiliki nilai ketika ia diolah dan dibentuk menjadi suatu guci. Logam emas memiliki nilai tambah dan kekuatannya ketika ia diolah menjadi hiasan yang cantik. Demikian juga, proses pengolahan akan memunculkan kekuatan yang terpendam di dalam diri manusia dan meningkatkan nilai manusia tersebut.

- Divine Discourse, Oct 12, 2002

Friday, August 21, 2009

Sai Inspires 21st August 2009


In my view, difficulties are better than pleasure and comforts. It is not prudent to pray for happiness and comfort. The wisdom you gain in times of difficulty is not available in happy times. You ask any realized soul or saintly person as to how he acquired great wisdom. He will tell you that he underwent several sorrows and difficulties and then only he could get wisdom. Today, people desire to have liberation without undergoing any difficulty or without spending a single pie. How is it possible? You must work hard. Just by sitting somewhere and happily enjoying things, you will find difficulties painful. It is only after undergoing challenges that you must enjoy happiness.

MenurutKu, kesulitan adalah lebih baik daripada kesenangan dan kenyamanan. Tidaklah bijaksana jika berdoa hanya demi kebahagiaan dan kenyamanan. Kebijaksanaan yang engkau bisa peroleh saat mengalami kesulitan tidaklah bisa didapatkan pada saat bahagia. Tanyakanlah kepada orang-orang dengan jiwa yang telah tercerahkan atau orang suci tentang bagaimana caranya mereka mencapai kebijaksanaan yang agung. Ia akan mengatakan padamu tentang bagaimana ia melewati berbagai macam penderitaan dan kesulitan dan hanya dengan demikianlah ia bisa mendapatkan kebijaksanaan. Dewasa ini, orang-orang ingin mendapatkan kebebasan abadi tanpa mau mengalami sedikit pun kesulitan atau tanpa mau berkorban sedikit pun. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Engkau harus bekerja keras. Jika hanya duduk di suatu tempat sembari menikmati benda-benda duniawi, engkau pada akhirnya akan mendapatkan kesulitan yang membuatmu menderita. Hanya jika setelah melewati berbagai macam tantangan yang harus engkau hadapilah, maka kemudian engkau bisa menikmati kebahagiaan sejati.

- Divine Discourse, 12 Oct, 2002

Sai Inspires 20th August 2009


Do not waste time. At present, you are wasting a lot of time in vain pursuits. In fact, time is our life. Time is everything - "Kaalaya Namaha, Kaala Kaalaya Namaha" (Worship time, Worship the Lord of Time). If you spend such a valuable time, indulging in vain and unsacred things, how can you get it back? It is only to sanctify this life, God has given you your span of time. If you channelize your thoughts in the right path, your actions will be timely. The time, the action, the cause and the duty should be harmonized. Do not ever leave the sacred path; the path will help you lead a sacred life. You can definitely achieve this.

Jangan menyia-nyiakan waktu. Sekarang ini, engkau membuang banyak sekali waktumu hanya untuk mengejar hal yang percuma. Sebenarnya, waktu adalah hidup kita. Waktu adalah segalanya –“Kaalaya Namaha, Kaala Kaalaya Namaha” (Pujalah waktu, pujalah Sang Penguasa Waktu). Jika engkau menghabiskan waktumu yang sangat berharga, sibuk dalam kesia-siaan dan hal-hal yang tidak baik, bagaimana engkau bisa mendapatkan kembali waktumu? Hanya untuk menyucikan kehidupanmu saat inilah, Tuhan memberimu rentang waktu. Jika engkau mengarahkan pikiranmu pada jalan yang benar, tindakanmu akan selalu tepat pada waktunya. Waktu, tindakan, penggerak dan tugas haruslah diselaraskan. Jangan pernah meninggalkan jalan kebenaran; jalan yang akan menuntunmu menuju pada kehidupan yang suci. Engkau pasti akan bisa mewujudkan semua ini.

- Divine Discourse, 12 Oct 2002

Sai Inspires 19th August 2009


Having grasped what ought to be grasped, do not let go of the grip till you succeed. Having desired what ought to be desired, hold on till your desire is fulfilled. Having asked what ought to be asked, hold on till your request is answered. Having thought what ought to be thought, hold on till you succeed. Either God should yield to your prayer or you should ask with wholehearted intensity. That is the path a true devotee should pursue.

Saat masih berusaha untuk menggapai apa yang harus engkau raih, jangan kau lepaskan peganganmu sampai keberhasilan engkau dapatkan. Ketika menginginkan apa yang patut engkau inginkan, bertahanlah sampai keingianmu terpenuhi. Saat masih memiliki berbagai macam permintaan yang engkau benar-benar perlukan, berusahalah terus sampai semua permintaanmu terjawab. Saat masih memikirkan apa yang perlu dipikirkan, berusahalah terus sampai berhasil. Pada saatnya nanti, Tuhan memberi jawaban akan semua doa-doamu, sementara itu engkau harus terus memintanya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Itu adalah jalan yang harus ditempuh oleh pemuja sejati.

-Divine Discourse, 12 Oct 2002

Tuesday, August 18, 2009

Sai Inspires 18th August 2009


If you talk while taking food, the digestive system will be spoiled. Once the digestive system is spoiled, several diseases will confront you. Before partaking your food, pray to God silently keeping your eyes closed. Take your food in silence in a calm environment. Do not howl, talk and chit chat while taking food. Do not cry or laugh too. Do not entertain worry before or while taking food. These are some of the precautions to be taken to lead a happy life.

Jika engkau berbicara sembari makan, sistem pencernaan akan rusak. Begitu sistem pencernaan rusak, berbagai macam penyakit akan timbul. Sebelum mulai menikmati makanan, berdoalah terlebih dahulu kepada Tuhan dengan hening dan mata terpejam. Nikmatilah makananmu dalam keheningan dan suasana yang tenang. Jangan berisik, berbicara atau bertingkah seperti anak kecil ketika menikmati makanan. Jangan pula menangis atau tertawa. Jangan biarkan ada kekhawatiran sebelum atau saat menikmati makanan. Itu adalah beberapa resep yang bisa diambil untuk mencapai hidup yang bahagia.

- Divine Discourse. Oct 12, 2002

Monday, August 17, 2009

Sai Inspires 17th August 2009


When you respect and love an individual, they will respect you and love you in return. But, when you love and respect everyone, God Himself will respect and love you. You should make efforts to become recipients of God's Love. One should not pray for temporary results. Instead, one should pray for Divine Grace with pure, steady and selfless devotion. Once you have Divine Grace, you can achieve anything. If you aspire to attain God, you have to make efforts to acquire the necessary eligibility. That is the essence of true spirituality.

Ketika engkau menghormati dan mengasihi seseorang, ia akan menghormati dan mengasihimu. Namun, jika engkau mengasihi dan menghormati semua orang, Tuhan sendirilah yang akan menghormati dan mengasihimu. Engkau harus berusaha keras supaya layak menjadi penerima Kasih Tuhan. Seseorang jangan berdoa hanya demi hasil yang sementara. Namun, seseorang harus berdoa memohon Anugerah Tuhan melalui pengabdian yang murni, terus-menerus dan tanpa pamrih. Sekali engkau telah memiliki Anugerah Tuhan, engkau akan bisa mendapatkan apa pun. Jika engkau ingin mencapai Tuhan, engkau harus berusaha untuk mencapai kelayakan yang disyaratkan. Itu adalah inti sari dari spiritualitas sejati.

-Divine Discourse, Oct 11, 2002

Sunday, August 16, 2009

Sai Inspires 16th August 2009


Any number of examples can be given to prove the existence of Divinity. Who made the chillies hot and spicy? Who is the cause of bitterness in Neem and fragrance in flowers? These are simple examples for the manifestation and expression of Divinity. Every object in the world has a unique attribute which proves the existence of Divinity as its very life principle. You do not need to undertake any particular Sadhana (Spiritual Practice) in order to visualize Divinity. When you understand the Divine Principle in full, you can worship God in true sense. You can worship God in each and every atom and in each cell of the creation. Purify your heart and try to know your own Divine Nature. Make efforts to visualize and experience this oneness.

Beberapa contoh bisa diambil untuk membuktikan hadirnya Ketuhanan. Siapakah yang membuat cabe rawit berasa panas dan pedas? Siapakah yang membuat rasa pahit pada Neem (sejenis tanaman obat khas India) dan keharuman pada bunga? Itu semua adalah contoh sederhana akan perwujudan dan hadirnya Ketuhanan. Setiap benda di dunia ini memiliki sifat unik yang membuktikan hadirnya Ketuhanan sebagai inti sari kehidupan. Engkau tidak harus mempelajari Sadhana (Latihan Spiritual) tertentu untuk bisa menyadari kehadiran Tuhan. Ketika engkau telah memahami Prinsip Ketuhanan sepenuhnya, engkau akan bisa memuja Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Engkau bisa memuja Tuhan dalam setiap atom dan setiap sel makhluk hidup ciptaan Tuhan. Murnikanlah hatimu dan berusahalah untuk memahami Sifat Alami Ketuhanan yang ada dalam dirimu. Berusahalah untuk menyaksikan dan mengalami kesatuan ini.

-Divine Discourse, Oct 11, 2002

Saturday, August 15, 2009

Sai Inspires 15th August 2009


The arishadvargas (six inner enemies - desire, anger, greed, infatuation, pride and jealousy) are responsible for one's misconduct and suffering. If one behaves in the same way as animals, in what way is one superior to them? When one makes proper use of intellect, one will not suffer. All matters relating to the world are like passing clouds. When God is present in everyone and everywhere, how is that one faces hardship and misery? The reason is that one has filled their heart with bestial tendencies. One has to drive them out and cleanse the heart. For instance, in a tumbler filled with water, if you want to fill it with milk, the water has to be poured out. Similarly in order to fill your heart with noble feelings, you have to get rid of the evil qualities.

Arishadvargas (enam musuh dalam diri – hawa nafsu, kemarahan, keserakahan, tergila-gila, kesombongan dan iri hati) adalah penyebab tingkah laku seseorang menjadi tidak benar dan mengakibatkan penderitaan. Jika seseorang bertingkah laku layaknya binatang, apa yang membuat orang tersebut menjadi lebih tinggi tingkatannya dari binatang? Ketika seseorang mempergunakan kecerdasannya dengan tepat, tidak akan ada yang akan menderita. Semua benda duniawi adalah bagaikan awan yang melintas berlalu. Ketika Tuhan selalu hadir dalam diri setiap orang dan setiap tempat, bagaimana mungkin manusia bisa menghadapi kesulitan dan penderitaan? Penyebabnya adalah manusia mengisi hatinya dengan kecenderungan hewani. Manusia harus melenyapkan kecenderungan hewani tersebut dan membersihkan hatinya. Sebagai contoh, di dalam sebuah gelas minuman yang penuh dengan air putih, jika engkau ingin mengisinya dengan susu, maka air tersebut harus dikeluarkan terlebih dahulu. Demikian halnya jika engkau ingin mengisi hatimu dengan kebaikan, maka engkau harus melenyapkan keburukan terlebih dahulu.

-Divine Discourse, Oct 10, 2002

Sai Inspires 14th August 2009


Undertake spiritual practices that help you know your Self. There are a number of bulbs glowing in an auditorium. Bulbs are different, but the current is the same. Similarly, it is the oneAtmic Principle, that makes different bodies shine. Awareness of this principle will help you appreciate the Divinity in all beings. Divinity is not confined to a particular place. It neither comes nor goes. It is present everywhere at all times. Turn your mind inward, develop Divine Vision. Realize the Divine Light present in one and all.

Lakukanlah latihan spiritual yang bisa membantumu memahami Dirimu yang Sejati. Ada berbagai macam lampu yang menyala di sebuah aula. Lampu-lampu tersebut berbeda, namun arus listrik yang mengalirinya adalah sama. Demikian juga, adalah KaidahAtmic yang tunggal, yang membuat badan yang berbeda mampu hidup bersinar. Pemahaman akan kaidah ini akan membantumu untuk menghargai Ketuhanan yang hadir di dalam diri setiap makhluk hidup. Ketuhanan tidak dibatasi oleh ruang. Ketuhanan tidaklah datang atau pergi. Ia hadir dimana-mana sepanjang waktu. Arahkanlah pikiranmu ke dalam diri, kembangkanlah Pandangan Ketuhanan. Sadarilah bahwa Cahaya Ketuhanan hadir dalam diri setiap manusia dan semua makhluk.

-Divine Discourse, Oct 10, 2002

Thursday, August 13, 2009

Sai Inspires 13th August 2009


Whatever you seek in the external world is present within you. There is nothing outside that is not within. Love is your true nature. Nothing can really exist in this world without love. You are an embodiment of love. Forgetting this reality, you are craving for mundane things. What you have to aspire for, what you have to experience and enjoy in this world is love and love alone. Other than love, nothing is permanent. Love is present in all names and all forms. It is eternal, non-dual and blissful. You should not be selective in sharing your love...lavishing it on the near and dear ones and being indifferent to others. If you are immersed in a dualistic feeling, you cannot experience non-dual bliss. A man with a dual mind is half blind. You should identify yourself with others and experience unity.

Apapun yang engkau cari di dunia luar sebenarnya telah ada di dalam dirimu sendiri. Tidak ada sesuatu di dunia luar yang tidak ada di dalam dirimu. Kasih adalah sifat alami dirimu yang sebenarnya. Tidak ada yang bisa hadir di dunia ini tanpa kasih. Engkau adalah perwujudan kasih. Jika melupakan kenyataan ini, engkau akan sangat tergantung pada hal-hal duniawi. Apa yang seharusnya engkau dambakan, apa yang seharusnya engkau alami dan nikmati di dunia ini adalah kasih dan hanya kasih semata. Selain kasih, tidak ada yang abadi. Kasih hadir dalam semua nama dan wujud. Kasih adalah abadi, tiada mendua dan penuh kebahagiaan. Engkau jangan sampai membeda-bedakan dalam berbagi kasih… berlebihan untuk mereka yang dekat denganmu namun tidak bagi mereka yang lain. Jika engkau tenggelam dalam rasa yang mendua, engkau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang tunggal. Seseorang dengan pikiran yang mendua adalah setengah buta. Engkau harus mengambil kesamaan ciri dengan orang lain dan merasakan kesatuan.
-Divine Discourse, Oct 10, 2002

Wednesday, August 12, 2009

Sai Inspires 12th August 2009


Unity is indispensable, be it for the wealth and prosperity of a nation or the peace and happiness in a family. The whole world will be plunged into unrest and chaos in the absence of unity. Unity confers peace and bliss. Disunity leads to discontent and restlessness, and makes one forget divinity. Peace is what one has to aspire and pray for. In fact, you do not need to go anywhere in search of peace. Each one of you is the embodiment of peace. Sarva Rupa Dharam Shantham, Sarva Nama Dharam Shivam. Every human being is a personification of peace, all Names of God are equally auspicious. Searching for Peace outside yourself is like acting like a foolish person who searches for his spectacles, while wearing them right over his nose.

Kesatuan adalah hal yang sangat diperlukan, baik itu untuk kesejahteraan dan kemakmuran suatu negara atau demi kedamaian dan kebahagiaan keluarga. Seluruh dunia akan jatuh pada situasi yang kacau dan tidak pernah tenang jika kesatuan itu hilang. Kesatuan akan memberi kedamaian dan kebahagiaan. Perpecahan mengakibatkan ketidakpuasan dan kegelisahan, dan membuat seseorang melupakan ketuhanan. Kedamaian harus diidamkan dan didoakan supaya terwujud. Sebenarnya, engkau tidak harus pergi kemana pun untuk mencari kedamaian. Setiap orang adalah perwujudan kedamaian. Sarva Rupa Dharam Shantham, Sarva Nama Dharam Shivam. Setiap manusia adalah perwujudan dari kedamaian, semua Nama Tuhan adalah sama-sama memberi harapan baik. Mencari Kedamaian di luar dirimu adalah bagaikan orang aneh yang mencari kacamatanya, sedangkan kacamata tersebut masih dikenakan tepat di atas hidungnya.

-Divine Discourse, Oct 10, 2002

Sai Inspires 11th August 2009


Love even those whom you consider wicked. In fact, there is nobody who is wicked in this world. It is because of delusion that you consider some as good and a few others wicked. Develop noble feelings and follow the path of truth. Do not indulge in vain gossip. Do not entertain bad feelings or use bad words. Do not hurt others. Instead, sanctify your time by chanting the Divine Name. There is nothing sweeter in this world than the Divine Name. The Divine Names that you chant purifies the hearts of many. Use only sacred words and sing the glory of God. In doing so, you would have rendered a great help to the whole world. Make proper use of your time. Help everybody. When you help others, you will certainly achieve positive results.

Kasihilah semua orang bahkan pada mereka yang engkau anggap jahat. Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang jahat di dunia ini. Semua itu hanya karena anggapanmu bahwa ada orang yang baik dan ada orang yang jahat. Kembangkanlah perasaan yang baik dan ikutilah jalan kebenaran. Jangan terlibat dalam pergunjingan yang tidak ada gunanya. Jangan memberi ruang bagi perasaan yang buruk atau menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Jangan menyakiti orang lain. Sebaliknya, sucikanlah waktumu dengan melantunkan Nama Tuhan. Tidak ada yang lebih manis di dunia ini selain Nama Tuhan. Nama Tuhan yang engkau kidungkan akan menyucikan banyak hati. Gunakanlah hanya kata-kata yang suci dan nyanyikanlah lagu tentang Kebesaran Tuhan. Dengan melakukan hal tersebut, engkau telah melakukan hal-hal hebat yang bisa menolong seluruh dunia. Gunakanlah waktumu dengan sebaik-baiknya. Bantulah setiap orang. Ketika engkau menolong orang lain, engkau pasti akan memperoleh hasil yang positif.

-Divine Discourse, Oct 9, 2002

Monday, August 10, 2009

Sai Inspires 10th August 2009


Control your emotions. Develop Love. Do not entertain evil thoughts. Nothing can confer the experience of bliss that the proximity of God gives. Love all and all will love you. Share your love even with your pet animals and you can see how they reciprocate your love. Yad Bhavam, Tadh Bhavathi. (As you think, so you become). You are bound to experience the reflection, reaction and resound of your feelings, be they good or bad. If you see bad in others, it is a reflection of your own bad feelings. It is a mistake to blame others ignoring your own faults. Purify your feelings as a first step as quickly as you can.

Kendalikanlah perasaanmu. Kembangkanlah Kasih. Jangan memberi ruang bagi pikiran jahat. Tidak ada yang bisa memberikan pengalaman kebahagiaan sebaik yang bisa diberikan oleh Tuhan. Kasihi semua maka semua akan mengasihimu. Bagilah kasihmu bahkan kepada hewan peliharaanmu dan engkau akan melihat bagaimana mereka membalas kasihmu. Yad Bhavam, Tadh Bhavathi. (Sebagaimana yang engkau pikirkan, begitu jugalah jadinya engkau). Engkau sebenarnya adalah pantulan, reaksi dan gema pengalaman dari perasaanmu, perasaan yang baik ataupun yang buruk. Jika engkau melihat keburukan orang lain, itu sebenarnya adalah pantulan perasaan burukmu sendiri. Adalah keliru jika kita menyalahkan orang lain dan melupakan kesalahan kita sendiri. Murnikanlah perasaanmu sebagai langkah pertama secepatnya.

-Divine Discourse, Oct 9, 2002

Sai Inspires 9th August 2009


You must endeavor to understand the principle of Divinity. Nobody in this world can help you in the ways God rushes to your help. Hence surrender yourself to God, and pray for His help. Also devotion to God safeguards your ancient culture. People get haunted by misery and grief when they forget God. Control your emotions. Do not entertain evil thoughts. Develop Love. Love all and all will love you. Sing the glory of God. In doing so, you would have rendered a great help to the whole world. Chant God's Name and make your heart sacred.

Engkau harus berusaha sekuat tenaga untuk memahami prinsip Ketuhanan. Tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu menolongmu lebih cepat daripada Tuhan. Maka dari itu pasrahkanlah dirimu kepada Tuhan, dan berdoalah memohon bantuannya. Pengabdian kepada Tuhan juga akan melestarikan budaya leluhurmu. Manusia dihantui oleh duka dan derita ketika mereka melupakan Tuhan. Kendalikanlah perasaanmu. Jangan memberi tempat pada pikiran-pikiran jahat. Kembangkanlah rasa Kasih. Kasihilah semua maka semua akan mengasihimu. Nyanyikanlah lagu-lagu kemuliaan Tuhan. Dengan melakukan hal tersebut, engkau telah memberi bantuan yang luar biasa bagi seluruh dunia. Kidungkanlah Nama Tuhan dan buatlah hatimu menjadi suci.

- Divine Discourse, Oct 9 2002

Saturday, August 8, 2009

Sai Inspires 8th August 2009


What you need today is unwavering faith in God. Faith in God alone can protect you. Under all circumstances, at all times, consider God as the basis of your life. Give up evil qualities like anger, greed, jealousy, etc. Anger is a fire that always keeps burning. Desire is the cause of one's downfall. Hence, eradicate desire and anger within you. Develop Love for the Divine, learn the language of the heart.

Apa yang engkau butuhkan sekarang adalah keyakinan yang tak tergoyahkan pada Tuhan. Hanya keyakinan sepenuhnya kepada Tuhan sajalah yang akan bisa melindungimu. Dalam keadaan apapun juga, sepanjang waktu, jadikanlah Tuhan sebagai dasar penunjang hidupmu. Lenyapkanlah semua sifat-sifat burukmu seperti kemarahan, keserakahan, iri hati, dan sebagainya. Kemarahan adalah api yang terus berkobar. Hawa nafsu keinginan adalah penyebab kejatuhan seseorang. Maka dari itu, berantaslah hawa nafsu keinginan dan kemarahan dalam dirimu. Kembangkanlah Kasih untuk Ketuhanan, pelajarilah bahasa kalbu.

-Divine Discourse, , Oct 9, 2002

Friday, August 7, 2009

Sai Inspires 7th August 2009


Human being is the repository of Divine energy. You are not poor in any sense. You are not weak or forlorn. You have all the capacity to experience divine bliss. Despite these, sometimes one exhibits weakness. You should not take it amiss; modern life is giving rise to agitation, instead of elevation. Do not give rise to evil qualities like anger, greed, desire or jealousy. Never hurt others. Sacred feelings are within you. Do not forget them. Do not commit sin by hurting others. Attain merit by serving others. Cultivate the virtues of humility, obedience, love and peace.

Umat manusia adalah tempat penyimpanan energi Ketuhanan. Engkaubukanlah orang yang tidak berpunya sama sekali. Engkau tidaklah lemah atau kesepian. Engkau memiliki semua kemampuan untuk bisa mengalami kebahagiaan sejati. Walaupun begitu, kadang kala seseorang memperlihatkan kelemahannya. Engkau jangan berkecil hati karenanya; kehidupan modern meningkatkan kegelisahan, bukannya memberi ketenangan. Jangan memberi ruang untuk berkembangnya sifat-sifat seperti kemarahan, keserakahan, hawa nafsu atau iri hati. Jangan pernah menyakiti orang lain. Perasaan yang suci bersih ada di dalam dirimu. Jangan lupakan mereka. Jangan berbuat dosa dengan menyakiti orang lain. Raihlah kebahagiaan dengan cara melayani orang lain dengan tulus. Kembangkanlah nilai-nilai kebajikan akan kerendahan hati, kepatuhan, kasih dan kedamaian.

-Divine Discourse, 9 Oct 2002

Sai Inspires 6th August 2009


One's character gets transformed into good or bad depending upon his/her company. Noble company bestows noble feelings and bad company gives rise to evil traits. Your speech and conduct are based on your feelings. Form alone does not constitute a human being. A true human being is one who embodies good habits. You deserve to be called a human being only when you develop good feelings in you. Let your thoughts, words and deeds be suffused with sacred feelings.

Karakter seseorang berubah menjadi baik atau buruk tergantung pada lingkungan pergaulannya. Lingkungan pergaulan yang baik menghasilkan perasaan yang baik sedangkan lingkungan yang buruk menumbuhkan sifat-sifat buruk. Kata-kata dan tindakanmu bersumber dari perasaanmu. Badan semata tidak akan dapat membentuk manusia. Manusia yang sejati adalah ia yang memiliki kebiasaan hidup yang baik. Engkau berhak disebut sebagai manusia hanya jika telah mengembangkan perasaan yang baik dalam dirimu. Jadikanlah pikiran, perkataan dan perbuatanmu penuh dengan perasaan yang suci bersih.

- Divine Discourse, 9 Oct 2002

Wednesday, August 5, 2009

Sai Inspires 5th August 2009


Love develops divine power in you. There is nothing that love cannot conquer in this world. Sages performed penance in dense forests infested with wild animals. They did not possess any weapon for self- protection. The weapon that protects them is their intense love and yearning for God. They tame the wild beasts with their power of love and transform them into docile beings. You should not merely exist as a human being in form. Speak good, see good, do good and be good. Divinity will manifest in you only when your conduct is good.

Kasih meningkatkan kekuatan illahi di dalam dirimu. Di dunia ini tiada yang tidak dapat ditaklukkan oleh kasih. Orang-orang suci melakukan tapa brata di dalam hutan belantara yang penuh dengan binatang buas. Mereka tidak membawa senjata apapun untuk melindungi diri. Senjata yang melindungi mereka adalah kasih yang mendalam dan pengharapan akan Tuhan. Mereka menjinakkan hewan buas dengan kekuatan kasih mereka dan mengubah hewan buas tersebut menjadi hewan yang jinak. Engkau jangan hanya memiliki wujud sebagai manusia. Berbicaralah dengan baik, lihatlah hal-hal yang baik, bertingkah-lakulah yang baik dan jadilah orang yang baik. Ketuhanan akan mewujud dalam dirimu hanya ketika engkau bertingkah-laku baik.

- Divine Discourse, Sep 9, 2002

Sai Inspires 4th August 2009


Some people say that they are facing hardships and are leading a miserable life. It is foolish on their part to say so. God, the indweller has absolutely no sorrow and worries. He is the embodiment of supreme bliss. God Himself says, "I am present in you. You are but a spark of my Divinity." Such being the case, how can one be affected by difficulties and sorrows? When you enquire on these lines, you will realize that the demonic and bestial tendencies in you are responsible for these feelings. You will not be able to experience the truth that God is all-pervasive unless you give up evil qualities. God is present in all elements and in all beings in the form of radiance.

Beberapa orang berkata bahwa mereka menghadapi berbagai kesulitan dan menuju pada kehidupan yang menderita. Sebenarnya adalah aneh jika mereka berpendapat seperti itu. Tuhan, yang bersemayam dalam diri sama sekali tidak mengalami penderitaan atau kekhawatiran. Ia adalah perwujudan kebahagiaan yang tertinggi. Tuhan sendiri bersabda, “Aku hadir dalam dirimu. Engkau tiada lain adalah percikan KetuhananKu.” Dengan demikian, bagaimana mungkin seseorang bisa terpengaruh oleh segala macam kesulitan dan penderitaan? Ketika engkau mencermati hal ini, engkau akan menyadari bahwa kecenderungan sifat jahat dan buaslah yang menjadi penyebab perasaan tersebut. Engkau tidak akan bisa memahami kebenaran bahwa Tuhan ada di semua tempat sampai engkau bisa menghilangkan sifat-sifat burukmu. Tuhan hadir di dalam setiap unsur dan semua makhluk hidup dalam wujud pancaran keillahian.

-Divine Discourse, 9 Oct, 2002

Tuesday, August 4, 2009

Sai Inspires 3rd August 2009


Man needs primarily two qualities: Devotion to God and the spirit of sacrifice. Without sacrifice there can be no devotion. Sacrifice is the key to immortality. Man is caught up in the coils of selfishness and self-centredness. How long will these attachments last? Why sacrifice the lasting bliss of a divinely oriented life for the petty tinsel of worldly possessions? Devote yourselves to the service of mankind in a spirit of dedication and sublimate your lives.

Umat manusia memerlukan dua hal utama: Pengabdian kepada Tuhan dan semangat berkorban. Tanpa pengorbanan maka tidak akan ada pengabdian. Pengorbanan adalah kunci untuk mencapai keabadian. Manusia terjebak dalam lingkaran keakuan dan mementingkan diri sendiri. Bagaimana mungkin keterikatan semacam ini bisa bertahan lama? Mengapa harus mengorbankan kebahagiaan abadi yang didapat dari hidup yang berorientasi pada ketuhanan hanya demi hal-hal yang remeh dan tidak berharga akan hasrat duniawi? Abdikanlah dirimu dalam pelayanan kepada umat manusia dengan semangat pengabdian dan ubahlah hidupmu.

- Divine Discourse, October 1st, 1987