Saturday, May 31, 2008

Sai Inspires 31st May 2008 (Who is our true friend?)

God alone can be within; no one else can. There is a person who claims to be your friend; can this friend of yours be within you? Worldly friends are external, but your true friend is inside; that is God! He alone can be both inside as well as outside, and He has the right to be so! Your heart is a single-seat sofa, and there is place for only one. That one seat must be reserved for God. If you lead your life filled with this feeling, not only would your life be always happy but, in addition, you would be able to spread that happiness all around you.

Selain Tuhan, tiada orang yang memiliki kemampuan untuk 'berdiam' di dalam dirimu. Mungkin terdapat segelintir orang yang mengatakan bahwa mereka adalah teman/sahabat sejatimu; namun cobalah renungkan apakah mereka ini bisa 'tinggal' di dalam dirimu? Ketahuilah bahwa sahabat-sahabat duniawi bersifat eksternal, sedangkan sahabat sejatimu ada di dalam dirimu; dan Ia adalah Tuhan! Beliau bisa berada di dalam maupun di luar, dan Beliau sajalah yang memiliki hak untuk itu! Hatimu adalah bagaikan sebuah sofa single-seat (satu tempat duduk saja), dan ia haruslah diperuntukkan bagi-Nya. Seandainya saja engkau menjalani kehidupanmu dengan perasaan seperti ini, maka bukan hanya kehidupanmu akan senantiasa berbahagia, namun di samping itu, engkau juga akan sanggup untuk menyebarkan kebahagiaan di sekelilingmu.

- Divine Discourse, May 22, 2000 .

Friday, May 30, 2008

Sai Inspires 30th May 2008 (Words of encouragement, on what should be our only goal)

If you immerse a pot in water, there is water in the pot and also around the pot. The water inside is not different from the water outside. The same is true of God. The scriptures say: Antarbahisca Tat Sarvam Vyapya Narayanah Sthitah - ‘God is present inside, outside, everywhere’. It is the same God who is within as well as without. You must have unshakeable faith in this truth, in this basic fact concerning the Divine. Neverforget God, no matter what the problems or difficulties. Don't you have a mind? Don't you have aspirations and goals? Be firm; be resolute. God must be your goal, and you must pursue it with steadfast determination. Today, man is not doing that; he is following goals set by others, by foolish and thoughtless people. What do you achieve by this? Nothing! On the other hand, you lose even what you have.

Jikalau engkau mencelupkan sebuat pot ke dalam air, maka baik di dalam maupun di luar pot tersebut tentunya akan terdapat air. Air yang terdapat di bagian dalam tidaklah berbeda dengan air yang ada di bagian luarnya. Analogi yang sama juga berlaku untuk Tuhan. Kitab suci menyatakan bahwa: Antarbahisca Tat Sarvam Vyapya Narayanah Sthitah - 'Tuhan eksis di dalam, di luar dan dimana-mana.' Tuhan yang sama terdapat di dalam dan juga di luar. Engkau harus memiliki keyakinan yang mantap tentang kebenaran ini yang menyangkut fakta mendasar tentang Sang Ilahi. Apapun dan bagaimanapun juga bentuk kesulitan yang engkau hadapi, janganlah engkau melupakan Tuhan. Apakah engkau tak mempunyai mind? Apakah engkau tak memiliki aspirasi maupun tujuan (hidup)? Milikilah kemantapan hati. Tuhan harus dijadikan sebagai tujuan (hidupmu), dan engkau harus mengupayakan tercapainya tujuan itu dengan tekad yang bulat. Ironisnya, tiada manusia yang melakukan hal seperti itu sekarang, mereka malah justru mengikuti sasaran/tujuan yang ditetapkan oleh orang lain (istilahnya mengekor) yang notabene bodoh secara batiniah. Apa yang engkau harapkan dari tindakan seperti itu? Tidak ada sama sekali! Sebaliknya engkau justru akan kehilangan hal-hal (positif) yang telah engkau capai.

- Divine Discourse, May 22, 2000 .

Sai Inspires 29th May 2008 (How can we go beyond the opposites we find ourselves in everyday?)

The mind steeped in the Love of God is beyond any shock and strain like the chloroformed patient who is oblivious of the incisions made by the surgical instruments. Love, only of this kind, can ultimately be victorious. Pain is a part of life, and must be accepted at any cost. Pleasure is an interval between two pains. But today, the devotion of people wavers with every trying circumstance. When our wishes are fulfilled, we install many photographs for worship; and when they are unfulfilled, we throw out all the photographs. We must cultivate the temperament that makes us view pleasure and pain alike. Both pain and pleasure are gifts of God, for there is no pleasure without pain, and no pain without pleasure. Culture lies in seeing this unity of pain and pleasure.

Batin yang dilandasi oleh cinta-kasih terhadap Sang Khalik tidak akan terpengaruh oleh gelombang pasang-surut kehidupan ini, persis seperti seorang pasien yang telah dibius tidak akan merasakan sakit akibat sayatan pisau ahli bedah. Cinta-kasih seperti ini pasti akan mencapai kemenangannya. Penderitaan sudah merupakan bagian dari kehidupan ini, dan engkau harus siap untuk menerimanya. Kesenangan adalah interval di antara dua penderitaan. Dewasa ini, kebanyakan orang memiliki bhakti yang tidak mantap. Ketika doa-doa atau harapanmu dikabulkan, maka engkau akan memasang foto-foto dewatamu untuk dihormati; namun apabila harapanmu tidak terpenuhi, maka engkau akan membuang semua foto-foto itu. Milikilah temperamen yang memungkinkanmu untuk menerima kesenangan maupun penderitaan secara seimbang. Semuanya itu adalah anugerah Tuhan, sebab tiada kesenangan bila tiada penderitaan, dan sebaliknya.

- Summer Showers, 1996.

Wednesday, May 28, 2008

Sai Inspires 28th May 2008 (a beautiful meditation on ‘Love’)

True learning is like an X-ray camera, which lays bare the innermost details with perfect fidelity. Our mind should be like an X-ray with Love as the film, so that it can capture the entire personality of a being with total fidelity. An X-ray machine without film is of no use, as nothing can be captured without a film. Similarly, a mind devoid of Love is of no use. Love does not change with time. It is abiding and eternal. But the love of people today is transient and ephemeral, and may expire at any time. Such a love is not at all worthy of being called Love. True Love endures trial and turbulence, loss, and pain, and it transcends every trying circumstance. We should not forget God under any circumstance, however difficult it might be. Our Love for God should survive every onslaught. We should resist all the ravages of time and the vicissitudes of life. Our Love should not change and float with every passing wind .

Proses pembelajaran yang sejati adalah bagaikan kamera X-ray, yang berhasil merekam detil yang jelas & akurat dari bagian dalam (tubuh). Seyogyanya batin/pikiran kita juga seperti X-ray dengan cinta-kasih sebagai film-nya, agar mind tersebut dapat dimanfaatkan untuk merekam keseluruhan personalitas kita dengan kejelasan & keakuratan yang total. Sebuah mesin X-ray yang tidak dilengkapi dengan film sama sekali tak ada gunanya. Cinta-kasih tak mengalami perubahan oleh waktu, ia bersifat kontinu dan abadi. Namun walaupun begitu, cinta-kasih manusia dewasa sekarang ini bersifat transien yang bisa kadaluarsa kapan saja. Cinta-kasih seperti ini sama sekali tidak dapat diartikan sebagai cinta-kasih yang sebenarnya. Cinta-kasih sejati tahan terhadap ujian dan cobaan serta sanggup melewati setiap bentuk keadaan. Dalam kondisi bagaimanapun juga sulitnya, janganlah kita melupakan Tuhan. Cinta-kasih kita terhadap-Nya harus sanggup bertahan. Kita harus sanggup bertahan di tengah-tengah pasang-surung kehidupan. Cinta-kasih kita tidak boleh berubah ataupun sirna di tengah tiupan angin yang lewat.

- Summer Showers, 1996.

Tuesday, May 27, 2008

Sai Inspires 27th May 2008 ( Have you ever wondered what God wants from us? It is something very simple and sweet)


We pay tax for all the facilities provided to us. We pay water-tax to the Municipality, which provides us with water. We pay tax to the Electricity Department for providing power. But what taxes are we paying to the great Lord who provides us with endless power, light and wind? When we pay tax to the different departments for services provided, is it not our duty to pay the tax of gratitude to God? We do not show any gratitude to God who has gifted us the five elements, which never get depleted. In fact, it should be our foremost duty to show our gratitude to God, who gives us so much in endless abundance. It is the absence of such gratitude that is the cause of agitation and confusion in the world today. We have to face the consequences of our misdeeds because every action has a reaction, resound and reflection.The awareness of this fact on the part of one and all will bring abundant peace and harmony.

Kita membayar pajak atas semua jenis fasilitas yang diberikan kepada kita. Sebagai contoh, kita membayar pajak air, listrik, dan sebagainya. Tetapi apakah kita membayar pajak kepada Tuhan Maha Besar yang telah memberikan kita sumber daya yang tiada habisnya (secara cuma-cuma) dalam wujud cahaya mentari dan angin (dan sebagainya)? Kalau kita membayar pajak kepada berbagai departemen untuk pelayanan yang diterima, lalu bukankah kita juga berkewajiban untuk membayar pajak sebagai ungkapan syukur dari kita kepada-Nya? Sumber penyebab utama dari berbagai macam bentuk agitasi dan kebingungan dewasa sekarang ini adalah dikarenakan kita tidak mempunyai rasa bersyukur atas karunia-Nya. Sebagai akibatnya, kita harus berhadapan dengan konsekuensi dari setiap perbuatan kita yang tidak baik; sebab setiap bentuk tindakan pasti mempunyai reaction, resound dan reflection. Bila kita menyadari tentang hal ini, maka kita akan memiliki rasa damai dan keharmonisan.

- Summer Showers, 1996.

Monday, May 26, 2008

Sai Inspires 26th May 2008 ( What are the two forces acting on us constantly? And how can we win His Grace?)

There are two competing factors at work in this world. The first is preyo shakti (the force that promotes a material outlook or tendency) and the other is sreyo shakti (the force that promotes a spiritual outlook or tendency). The former is what motivates people in the various stages of life, from childhood to old age, driving them to sensual pleasures. Sreyo shakti, on the other hand, manifests as the noble virtues daya (compassion), prema (Love), sahana (patience), sahanubhuti (empathy), tyaga (spirit of sacrifice), etc., in the individual.... While preyo shakti can secure fleeting pleasures, sreyo shakti alone can earn God's Grace for you.

Terdapat dua faktor utama yang saling berkompetisi dalam kehidupan di dunia ini. Yang pertama dinamakan preyo shakti (kekuatan yang mendorong kecenderungan duniawi) dan yang lainnya adalah sreyo shakti (kekuatan yang mempromosikan kecenderungan batiniah/spiritualitas). Preyo Shakti adalah dorongan yang memotivasi orang di dalam berbagai tahap kehidupannya - dari sejak kecil hingga tua - untuk selalu menginginkan kenikmatan sensual. Sedangkan Sreyo Shakti adalah jenis dorongan yang termanifestasikan dalam berbagai sifat-sifat luhur seperti daya (welas-asih), prema (cinta-kasih), sahana (kesabaran), sahanubhuti (perasaan empati), tyaga (semangat pengorbanan), dan sebagainya.... Apabila sreyo shakti mungkin bisa memberikanmu kenikmatan yang bakal berlalu, maka sreyo shakti sajalah yang bisa memberikan rahmat Tuhan bagimu.

- Divine Discourse, May 22, 2000.

Sunday, May 25, 2008

Sai Inspires 25th May 2008 ( What is the relationship between worldly enjoyment, happiness and sacrifice?)

The effulgence of Divinity can be seen when the six qualities of enthusiasm, dynamism, intellect, energy, courage, and valour shine in a person. Bhoga (craving for sensual pleasures) and tyaga (the spirit of sacrifice) cannot ever co-exist. Bhoga will not allow tyaga to come anywhere near, while tyaga would strongly resist bhoga. One might wonder, "Is it possible to sacrifice, and yet be happy?" The answer is, "Yes, it is possible". If ego is effaced and there are no expectations of reward for the actions performed, sacrifice itself becomes a joyous experience; happiness and sacrifice then merge into one. Happiness is not the property of any particular individual; all are entitled to it, and everyone has the right to enjoy it. To receive your share, you must sanctify your life by serving society, using the gifts God has endowed you with.

Kecemerlangan Ilahi hanya bisa terlihat ketika engkau memiliki keenam kualitas berikut ini di dalam dirimu, yaitu: antusias, dinamis, intellect (buddhi), energi, keberanian serta keteguhan hati. Bhoga (sifat mencari-cari kenikmatan sensual) dan tyaga (semangat pengorbanan) - kedua-duanya tidak akan bisa mentolerir eksistensi masing-masing. Bila demikian halnya, engkau mungkin bertanya-tanya: "Apakah mungkin untuk berkorban namun tetap happy-happy saja?" Jawabannya adalah, "Yes, hal itu memang dimungkinkan." Ketika sang ego sudah berhasil ditaklukkan dan tiada lagi harapan/impian untuk menerima penghargaan atas tindakan/usaha yang dilakukan; maka pada saat itulah kebahagiaan dan pengorbanan merging menjadi satu. Happiness (kebahagiaan) bukanlah milik eksklusif orang-orang tertentu; seluruh manusia berhak untuk mendapatkannya dan menikmatinya. Untuk memperoleh bagian yang merupakan hakmu, maka engkau harus terlebih dahulu mengabdikan kehidupanmu dengan jalan memberikan pelayanan kepada society sembari mendaya-gunakan pemberian Tuhan yang telah diberikan kepadamu (jiwa dan raga).

- Divine Discourse, May 22, 2000.

Saturday, May 24, 2008

Sai Inspires 24th May 2008 ( What is true peace? )

Absence of mere anger cannot be taken as peace. The winning of a desired object and the satisfaction one gets then, should not be confused with peace. The peace that has pervaded the heart must not be shaken subsequently for any reason. That type of peace alone deserves to be called Prashanti (supreme peace). Prashanti has no ups and downs, it cannot be partial in adversity and complete in prosperity. It cannot be one thing today and another tomorrow. Maintaining the same even flow of ananda (bliss, joy) always, that is Prashanti.

Yang dimaksud dengan damai bukanlah hanya sekedar diartikan sebagai tiadanya kemarahan. Demikian pula, keberhasilan dalam mencapai obyek yang diinginkan dan kepuasan yang diperolehnya juga bukan arti yang sebenarnya dari kedamaian. Jenis kedamaian yang ada di dalam hatimu tidak boleh terpengaruh oleh alasan apapun juga. Nah, kedamaian seperti inilah yang baru layak untuk disebut sebagai Prashanti (kedamaian tertinggi). Prashanti tak mempunyai ups and downs, ia tidak bersifat parsial dikala sedang dirundung masalah dan bersifat sebaliknya pada saat sedang bergelimang dalam posisi serba berkecukupan. Ia tidak mengalami perubahan dari hari-ke-hari. Bila engkau sanggup untuk selalu mempertahankan aliran ananda (bliss) ini, maka itu berarti engkau sudah berada dalam keadaan Prashanti.

- Prasanthi Vahini

Friday, May 23, 2008

Sai Inspires 23rd May 2008 ( What is our unique quality and how can we preserve it?)

Every object in the world has got certain unique qualities. The quality that is the vital essence of the object reveals its Dharma. For instance, it is the basic quality of fire to burn - burning is its Dharma. When the fire loses its capacity to burn, it ceases to be fire and becomes mere charcoal. Sweetness is the inherent quality of sugar....A rose flower has the natural quality of exuding fragrance... In the same manner, for man, the quality of Ananda (bliss) that flows from his heart is his inherent Dharma. But man today, for the sake of external achievements, forgets this inherent nature. For all, whether they are educated or not, there is one common Dharma: They should extend to others the same honour and regard which they expect others to show towards them so that they may feel happy. We should not do to others anything which if others do to us will cause pain and unhappiness to us.

Setiap obyek di dunia ini mempunyai ciri-khas kualitasnya masing-masing. Jenis kualitas yang merupakan esensi vital dari obyek bersangkutan merupakan Dharma baginya. Sebagai contoh, kualitas dasar dari api adalah membakar, oleh sebab itu burning (pembakaran) merupakan Dharma bagi sang api. Ketika sang api kehilangan kemampuannya untuk membakar, maka ia hanyalah berupa charcoal (kayu-arang). Contoh lainnya, rasa manis adalah kualitas mendasar dari gula... Bunga mawar mempunyai kualitas dasar untuk menyebarkan rasa harum.... Demikian pula, bagi manusia, kualitas dasarnya adalah Ananda (bliss) yang mengalir dari hatinya. Namun sayangnya, manusia dewasa ini telah melupakan sifat-sifat dasarnya sebagai akibat terlalu mengejar-ngejar pencapaian eksternal. Bagi setiap orang - baik yang terpelajar maupun tidak - terdapat satu Dharma yang umum, yaitu: mereka harus memberikan penghormatan kepada orang lain sebagaimana mereka ingin dihormati oleh orang lain. Janganlah kita melakukan sesuatu hal yang melukai maupun yang menimbulkan ketidak-senangan bagi orang lain.

- Divine Discourse, March 26, 1988

Thursday, May 22, 2008

Sai Inspires 22nd May 2008 ( What should we do when troubles torment us?)

The tree might appear to be dry; but, it will bloom, it will bear fruit; do not despair. God will make it sprout, provided the sap of repentance is still running. Come just one step forward, God and shall take a hundred towards you. Shed just one tear, He will wipe a hundred from your eyes... When the night grows chill, you draw the rug tighter around you, is it not? So too, when grief assails you, draw the warmth of the Name of the Lord closer round your mind.

Sebatang pohon mungkin saja terlihat kering; namun yakinlah bahwa pohon itu akan berkembang dan menghasilkan buah, janganlah berputus-asa. Tuhan akan membuat (kehidupan kita) semakin bermakna/berbuah, dengan catatan bahwa kita menyesali perbuatan salah yang telah dilakukan. Ambillah satu langkah kepada-Nya, maka Tuhan akan mengambil seratus langkah mendekatimu. Teteskanlah satu air mata, maka Beliau akan menyeka ratusan tetes dari matamu... Ketika malam semakin dingin, tentunya engkau akan menarik selimut menutupi badanmu bukan? Demikianlah, ketika penderitaan menggerogotimu, maka jadikanlah nama Tuhan sebagai selimut yang akan menghangatkan batinmu.

- Divine Discourse, February 6, 1963

Wednesday, May 21, 2008

Sai Inspires 21st May 2008 ( How can we make every act of our worldly life divine?)

The man who leads a righteous life is bound to find peace. When you go into towns and villages for propagating Dharma, you have to tell the people: "Do not cause harm to anyone. Do not abuse anybody. Perform your duties with devotion. Make your heart pure." Realization of the Divine is the goal. But most of our actions are related to worldly concerns. The only way to sanctify all actions is to do them as acts of worship, as an offering to the Divine. Thereby life itself becomes sacred. You must shed the feeling of "mine" and "thine." You have to realize the Truth that the Divine dwells in every human being. You must develop this sense of Oneness and share it with others.

Mereka yang menjalankan kehidupannya secara bajik pasti akan memperoleh kedamaian. Apabila engkau pergi ke kota-kota dan desa-desa untuk menyebar-luaskan ajaran Dharma, maka engkau harus memberitahukan kepada para penduduknya agar "tidak melukai siapapun juga, jangan melecehkan siapapun juga dan lakukanlah tugas-tugasmu secara penuh bhakti. Buatlah agar hatimu menjadi suci & murni." Realisasi Divine adalah tujuan utama kita. Hanya saja sayangnya, banyak sekali tindakan-tindakan yang kita lakukan masih berbau keduniawian. Satu-satunya jalan untuk memurnikan perbuatan/tindakan kita adalah dengan cara melaksanakannya sebagai tindakan ibadah, artinya semua hasil perbuatan tersebut dipersembahkan kepada Divine. Dengan demikian maka kehidupanmu menjadi suci. Tinggalkanlah perasaan bahwa ini adalah milikku dan itu adalah milikmu. Sadarilah kebenaran bahwa Divine bersemayam di dalam diri setiap manusia. Kembangkanlah semangat persatuan ini dan berbagilah dengan sesamamu.

- Divine Discourse, January 7, 1988

Tuesday, May 20, 2008

Sai Inspires 20th May 2008 ( How can there be peace in society?)

Peace in the world depends upon peace among individuals. The individual, the community and the world are intimately interrelated. The individual has to discover within himself the secret of peace and joy. This joy must be extended to the community in which he lives. From the community, it should spread to the world...Offering to the Lord what He has given to man is a basic duty of the spiritual seeker. The offering is to be regarded not as sacrificing something but as an act of love and gratitude in which one rejoices. The individual should cultivate broad mindedness and serve society regarding it as a Manifestation of the Divine.

Kedamaian dunia tergantung pada kedamaian yang terbentuk di antara individu. Dunia ini, komunitasnya serta individu saling terkait secara erat. Engkau harus menemukan sendiri rahasia kedamaian dan kebahagiaan, selanjutnya kebahagiaan itu haruslah diteruskan kepada masyarakat di sekitarmu. Terakhir, dari lingkungan masyarakat, kedamaian dan kebahagiaan perlu diserbar ke seluruh dunia.... Tugas dasar dari seorang spiritual seeker (pencari jalan spiritual) adalah mempersembahkan kembali kepada Tuhan hal-hal yang sudah diberikan oleh-Nya. Persembahan itu janganlah dianggap sebagai pengorbanan, melainkan sebagai tindakan cinta-kasih dan ungkapan syukur. Engkau harus memiliki pandangan yang luas dan layanilah masyarakat sebagai manifestasi Ilahi.

- Divine Discourse, October 6, 1986

Monday, May 19, 2008

Sai Inspires 19th May 2008 (the most powerful force of this world)

The word bhakti (devotion) is derived from the root word bhaj, which means pure, unsullied and selfless love toward God. In this world, no other virtue is greater than love. Love is truth, love is righteousness, and love is wealth. This world originated from love, is sustained by love, and ultimately merges in love. Every atom has its origin in love. There are innumerable powers such as atomic power, magnetic power, etc., in this world, but the power of love surpasses them all. Life bereft of faith and love is meaningless and useless.

Istilah bhakti (devotion) berasal dari suku-kata 'bhaj', yang artinya adalah cinta-kasih yang suci, murni dan tanpa pamrih terhadap Tuhan. Di dunia ini, tiada sifat luhur yang lebih tinggi daripada cinta-kasih. Cinta-kasih adalah kebenaran, kebajikan dan kesejahteraan. Dunia ini berasal-mula dari cinta-kasih, ditopang oleh cinta-kasih dan pada akhirnya akan bersatu kembali dalam cinta-kasih. Setiap atom cikal-bakalnya adalah cinta-kasih. Terdapat berbagai macam sumber daya/kekuatan seperti sumber-daya atomik, magnetik dan sebagainya, namun semua sumber-sumber daya itu tak bisa diperbandingkan dengan kekuatan cinta-kasih. Kehidupan tanpa keyakinan dan cinta-kasih sama sekali tak ada artinya dan tak ada gunanya.

- Divine Discourse, March 24, 1965.

Sunday, May 18, 2008

Sai Inspires 18th May 2008 ( How should we self-analyse and self-correct ourselves?)

Individual reconstruction is much more important than the construction of temples. Multiply virtues, not buildings; practice what you preach, that is the real pilgrimage; cleanse your minds of envy and malice, that is the real bath in holy waters. Of what avail is the name of the Lord on the tongue, if the heart within is impure? Injustice and discontent are spreading everywhere due to this one fault in man: saying one thing and doing the opposite, the tongue and the hand going in different directions. People have to set themselves right and correct their food, recreation, method of spending their leisure as well as their habits of thought.

Rekonstruksi (sikap/perilaku) masing-masing individu adalah jauh lebih penting daripada pembangunan (konstruksi) kuil maupun pura. Yang perlu diperbanyak adalah virtues (perilaku yang bajik dan luhur) dan bukannya bangunan-bangunan; praktekkanlah hal-hal yang telah engkau ucapkan, sebab inilah ziarah yang sebenarnya; bersihkanlah batin/pikiranmu dari kejahatan, sebab praktek ini sama seperti engkau mandi di air/sungai yang suci. Apalah gunanya mengulang-ulang nama-nama Tuhan tetapi hatimu tidak murni? Ketidak-adilan dan ketidak-puasan sudah menyebar kemana-mana sebagai akibat hati manusia yang tidak murni: antara ucapan dan perbuatan sama sekali tidak sesuai, lidah dan tangan tidak melakukan hal yang sama. Manusia harus mengoreksi dirinya terlebih dahulu dan juga memperbaiki dalam hal makanan, rekreasi, cara-cara memanfaatkan waktu luangnya serta juga kebiasaan (cara) berpikirnya.

- Divine Discourse, March 24, 1965.

Saturday, May 17, 2008

Sai Inspires 17th May 2008 (the sure way to win God's Grace)

God is Love and can be won only through the cultivation and exercise of Love. He cannot be trapped by any trick; He yields Grace only when His commands are followed - commands to love all, to serve all. When you love all and serve all, you are serving yourself most, yourself whom you love most! God's Grace envelops you then, and you are strengthened beyond all previous experience.

Tuhan adalah cinta-kasih dan hanya bisa didekati melalui pelaksanaan cinta-kasih (dalam kehidupan sehari-hari). Beliau tidak akan bisa dikibuli dengan aneka bentuk tipu muslihat; Rahmat Ilahi hanya bisa diiperoleh dengan jalan kita mematuhi arahan dan perintah-Nya, yaitu love all and serve all. Apabila engkau mencintai dan melayani semuanya, maka itu sebenarnya engkau sedang melayani dirimu sendiri, yaitu diri yang paling anda cintai ini! Dengan demikian, maka karunia Tuhan akan menyertaimu sehingga engkau akan diperkuat melebihi semua jenis pengalamanmu sebelumnya.

- Divine Discourse, June 26, 1969.

Friday, May 16, 2008

Sai Inspires 16th May 2008 ( How can we be successful in life and find peace?)

You must cultivate self-confidence. Otherwise, there will be utter confusion. Take, for example, this very building. It stands on its foundation. The building cannot exist without the foundation. Similarly, self-confidence is the foundation for everything in life. You can achieve everything with self-confidence. Perform your duty with sincerity and self-confidence. Buddha had all the luxuries at his command. But he renounced everything. Bliss lies only in thyaga (sacrifice) and not in bhoga (sensual pleasures). Once you take to the path of sacrifice, you will attain bliss.

Engkau harus memiliki kepercayaan diri (self-confidence). Sebab jikalau tidak, maka akan terdapat kebimbangan. Sebagai contoh, lihatlah bangunan ini. Ia berdiri di atas fondasinya yang kokoh. Bangunan tersebut tidak mungkin eksis bila tidak ada fondasi. Demikian pula, self-confidence merupakan fondasi/landasan bagi segalanya dalam kehidupan ini. Engkau akan dapat mencapai segala hal dalam kehidupan ini berkat self-confidence. Laksanakanlah tugas & tanggung-jawabmu dengan ketulusan hati serta self-confidence. Sang Buddha memiliki kemewahan (dalam kapasitasnya sebagai pangeran), namun Beliau justru melepaskan segala-galanya. Bliss akan tercapai bilamana engkau mempraktekkan thyaga (pengorbanan) dan bukannya bhoga (kenikmatan sensual). Apabila engkau menelusuri jalan pengorbanan, maka niscaya engkau akan mencapai bliss.

- Divine Discourse, May 26, 2002.

Thursday, May 15, 2008

Sai Inspires 15th May 2008 ( What is our goal and how should we progress towards it?)

When you feed the cow with fermented gruel so that it may yield more milk, the milk emits an unpleasant smell. When people engross themselves too much with the trifles of the world, their conduct and character become unpleasant. It is indeed tragic to witness the downfall of the 'child of immortality' (man), struggling in despair and distress. If only every one examines these: What are my qualifications? What is my position? They can soon realize their downfall. Will a tiger, however hungry, eat popcorn or monkey nuts? Aim at the goal which your lineage entitles you; how can the parrot taste the sweetness of the mango if it pecks at the fruit of the cotton-tree? Let your effort be in-keeping with the dignity of the goal. Never slacken effort, whatever the obstacle, however long the journey.

Ketika engkau memberi makan hewan lembu dengan fermented gruel (sejenis bubur - makanan hewan) agar ia menghasilkan lebih banyak susu, maka susu yang dihasilkan olehnya akan menebar aroma yang kurang sedap. Nah, demikian pula, ketika manusia melibatkan dirinya terlalu banyak dalam hal-hal keduniawian, maka perilaku dan karakternya juga menjadi kurang menyenangkan. Sungguh tragis melihat runtuhnya (martabat) 'anak-anak Tuhan' (manusia) ini, yang berjuang dalam keputus-asaan. Seandainya setiap orang melakukan evaluasi terhadap pertanyaan berikut ini: Apa kualifikasi-ku? Apa kedudukan-ku? Maka segera mereka akan menyadari hal-ihwal yang menyebabkan kejatuhannya. Apakah seekor harimau yang lapar akan memakan popcorn atau kacang monyet? Tidak bukan!? Untuk itu, engkau harus mempunyai ancang-ancang terhadap tujuan yang lebih tinggi yang memang merupakan jatahmu. Bagaimanalah mungkin seekor burung parrot (kakak-tua) menikmati manisnya buah mangga jikalau buah yang sedang dipatoknya itu adalah buah pohon kapas? Pastikanlah usaha-usaha yang engkau lakukan memang sejalan dengan tujuan utamamu. Entah seberapapun panjangnya & beratnya perjuangan dan perjalananmu, yang terpenting adalah engkau tidak boleh lengah & mengendurkan upayamu sama sekali.

- Divine Discourse, September 7, 1966.

Wednesday, May 14, 2008

Sai Inspires 14th May 2008 ( What is the true devotion and the soul of education?)

God can be realized only through love. Your devotion must be such that God seeks you. Like a child crying ceaselessly till the mother rushes to pacify it, like a calf calling for its mother-cow, like a forlorn wife praying for the return of her husband, the devotee should feel the yearning for His coming. Bhajans and japas (chanting His name) do not constitute Bhakti (devotion). You must yearn for the love of the Lord. Along with your studies, cultivate devotion and spiritual discipline. Spirituality is the summum bonum of education.

Tuhan hanya bisa direalisasikan melalui jalan cinta-kasih. Devotion (bhakti)mu haruslah sedemikian rupa sehingga Tuhan yang akan turun untuk mencari keberadaanmu (dan bukan sebaliknya). Seperti halnya seorang anak yang menangis tak berkesudahan hingga akhirnya sang ibu datang untuk menenangkannya, atau seperti seekor anak lembu yang memanggil-manggil induknya, atau seperti seorang isteri yang berdoa agar suaminya kembali ke rumah dengan selamat... demikianlah hendaknya seorang bhakta mendambakan kedatanganNya. Praktek-praktek bhajans dan japas bukanlah bhakti (devotion) dalam arti yang sebenarnya. (Devotion yang sebenarnya adalah) rasa rindu atas cinta-kasih Tuhan. Sejalan dengan proses pembelajaranmu, kembangkanlah devotion serta disiplin spiritual. Spiritualitas adalah inti-sari dari semua bentuk pendidikan.

- Divine Discourse, June 25, 1989.

Tuesday, May 13, 2008

Sai Inspires 13th May 2008 ( What is the blissful and self-fulfilling state that we have to reach?)

In the beginning, the Adored and the Adorer are distant and different; but, as the Sadhana (spiritual practice) becomes more confirmed and consolidated, they commingle and become more composite. For, the individual and the Universal are one; the wave in the sea. Merging fulfils. When merged, the ego is dissolved; all symbols and signs of the particular like name, form, caste, colour, creed, nationality, sect and the rights and duties consequent thereon, fades. For such individuals, who have liberated themselves from the narrowness of individuality, the only task is the uplift of humanity, the welfare of the world and the showering of love. Even if they are quiet, the state of Bliss in which they are, will shower bliss on the world. Love is in all, Love is of all, Love is all.

Pada awalnya, the Adored (Tuhan) dan the Adorer (manusia) saling berbeda dan saling berjauhan. Namun setelah melalui serangkaian proses Sadhana, kedua-duanya semakin terkonsolidasikan satu sama lainnya. Sebab pada hakekatnya, sang individu dan universal adalah satu adanya; bagaikan riak-riak gelombang samudera. Ketika keduanya telah bersatu (merging), maka tiada lagi sang ego; demikian pula tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dalam hal nama, rupa, kasta, warna kulit, suku/ras, kebangsaan, sekte dan lain-lain. Bagi sang individu yang telah berhasil membebaskan dirinya dari kepicikan individualitas seperti ini, maka satu-satunya tugas yang diembannya adalah mengangkat harkat & martabat kemanusiaan, mengupayakan kesejahteraan dunia dan mencurahkan cinta-kasih. Seandainyapun mereka tidak melakukan apa-apa, kondisi blissful yang dimilikinya sudah cukup mencurahkan bliss kepada dunia ini. Cinta-kasih ada di dalam segala-galanya, cinta-kasih adalah milik semuanya, cinta-kasih adalah segala-galanya.

- Divine Discourse, December 21, 1967.

Monday, May 12, 2008

Sai Inspires 12th May 2008 ( How should we spend our spare time?)

Being engaged in any work, which has no specific purpose or use in daily life, means wasting time. If you have no specific work to do, make it a habit to read sacred books concerning our sacred culture.... Your mind is like a lens. If you read impure thoughts, then that impurity will get imprinted on the plate of your heart through the lens of your mind. Therefore, make an attempt to do good, be good and see good; and thus, turn your mind in the right direction.

Apabila engkau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada maksud atau kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, maka itu sama artinya dengan membuang waktu secara sia-sia. Ketika engkau sedang tidak ada kerjaan tertentu, maka biasakanlah untuk membaca buku-buku suci yang mengandung makna tentang kebudayaan kita yang luhur.... Batin atau pikiranmu adalah ibarat sebuah lensa. Apabila engkau membaca (karya-karya) yang tidak suci, maka ketidak-sucian (impuritas) itu akan tercetak di pelat hatimu melalui lensa pikiran/batinmu. Oleh sebab itu, lakukanlah daya-upaya untuk do good, be good and see good (melakukan kebajikan, memiliki karakter yang baik dan hanya melihat yang baik saja); dan selanjutnya palingkanlah mind ke arah yang benar.

- Divine Discourse, October, 1973.


Sunday, May 11, 2008

Sai Inspires 11th May 2008 ( What is most crucial to achieve nearness of the Divine?)

Pathram, pushpam, phalam, thoyam (leaf, flower, fruit, water) are all primers for the initial stages (of worship) when children join schools. Clean the mind of all the animal and primitive impulses which has shaped it from birth to birth. Otherwise, just as milk poured into a pot used for keeping buttermilk curdles quickly, all the finer experiences of truth, beauty and goodness will get tarnished beyond recognition. Do not postpone this duty to yourself...Reduce your wants; minimize your desires. Become rich rather in virtue, in the spirit of service, in devotion to the Higher Power.

Pathram, pushpam, phalam, thoyam (daun, bunga, buah dan air) merupakan bahan-bahan pokok dalam tahap pertama (upacara ibadah) ketika seorang anak masuk ke sekolah (Tradisi India). Bersihkanlah pikiranmu dari segala bentuk impuls/dorongan rendah dan primitif yang telah terakumulasi dari serangkaian kehidupan (kelahiran & kematian). Ibaratnya seperti susu yang begitu cepat mengental ketika dituangkan ke dalam pot yang biasanya dipergunakan untuk menyimpan buttermilk, maka demikian pula halnya dengan pengalaman-pengalaman berharga (kebenaran, keindahan dan kebajikan) berpotensi untuk menjadi ternoda. Janganlah menunda-nunda tugas ini bagi dirimu sendiri... kurangilah keinginanmu. Jadilah kaya dalam sifat-sifat luhur, dalam semangat pelayanan serta dalam bhakti kepada-Nya.

- Divine Discourse, October 26, 1961.

sai

Friday, May 9, 2008

Sai Inspires 9th May 2008 ( What should we offer to God to win His Grace?)

Devotees bargain with God. They try to use the Lord to solve their problems and promise to adore Him when He brings them prosperity. They believe they can tempt Him with gifts of money, coconuts or cranial hair, as if they possess them by their own unaided skill! No. Offer Him steadfast faith, pure unselfish Love. Man has not tried to understand the magnificence of Love, its precious possibilities. It is far more valuable than tons and tons of erudition and miles-long titles before one's name. Place these on one pan of the balance called 'Life', and place one single drop of Love Divine in the other. The drop will outweigh the others.

Para bhakta suka melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Mereka mencoba untuk mendaya-gunakan Tuhan demi untuk tujuan agar persoalan mereka dapat terselesaikan sembari berjanji bahwa ia akan memuja-Nya jikalau diberikan kesejahteraan. Mereka beranggapan bahwa seolah-olah Tuhan bisa 'disogok' dengan pemberian berupa uang, kelapa ataupun rambut sekalipun! Janganlah berpandangan seperti itu! Persembahkanlah kepada-Nya keyakinanmu yang mantap serta cinta-kasih yang tanpa pamrih. Manusia belum mencoba untuk memahami kebesaran cinta-kasih yang jauh lebih berharga daripada berton-ton gelar kesarjanaan yang menempel di depan namamu. Cobalah letakkan gelar-gelar itu di satu sisi timbangan yang dinamakan 'kehidupan' ini, lalu di sisi yang lain letakkanlah satu tetes cinta-kasih Ilahi, maka setetes Divine Love akan jauh lebih berat daripada yang lainnya.

- Divine Discourse, February 29, 1984.

Thursday, May 8, 2008

Sai Inspires 8th May 2008 ( What is it that truly sustains this world?)

The whole world is one vast mansion. It contains many rooms. Each country constitutes one room in this mansion. Hence, the whole world should be considered as one home. When you regard all the limbs as parts of a body, you should consider the function of the heart in it. It is the heart that supplies blood to every part of the body. Likewise, Sathya and Dharma (truth and righteousness) constitute the blood sustaining all countries.

Seluruh dunia ini adalah bagaikan satu bangunan yang sangat besar dengan berbagai kamar di dalamnya. Setiap negara menempati satu kamar di dalam bangunan ini. Ketika engkau menganggap semua organ-organ tubuhmu sebagai bagian dari satu badan fisik, maka tentunya engkau akan mengerti tentang betapa pentingnya fungsi jantung bagi badan jasmanimu. Organ jantung merupakan organ yang bertanggung-jawab untuk mengedarkan darah ke seluruh bagian dari badan ini. Demikian pula, Sathya dan Dharma (kebenaran dan kebajikan) merupakan darah yang menjaga kelangsungan hidup semua negara.

- Divine Discourse, February 13, 1997.

Wednesday, May 7, 2008

Sai Inspires 7th May 2008 (the surest and simplest way to attain peace)

Everything is possible by the power of love. Love is everything in this world. The world cannot exist without love. Do not entertain bad desires. They will bring about your ruin... We must keep the mind peaceful and sacred. We can acquire peace of mind only by love for God.

Segala sesuatunya menjadi mungkin (terjadi) berkat kekuatan cinta-kasih, sebab cinta-kasih adalah segala-galanya di dunia ini. Eksistensi dunia ini tidak mungkin terjadi bilamana tanpa disertai dengan cinta-kasih. Janganlah mempunyai keinginan-keinginan yang jahat (negatif), sebab hal itu hanya akan membawa kehancuran bagimu.... Jagalah agar batin (pikiran)mu senantiasa damai dan suci. Batin yang damai hanya mungkin tercapai melalui cinta-kasih terhadap Tuhan.

- Divine Discourse, May 26, 2002.

Tuesday, May 6, 2008

Sai Inspires 6th May 2008 (Who are our two mothers? And how should we take care of them?)

Remember that you have two mothers: the Dhesha-maatha (the mother country) and Dheha-maatha (the mother who gave the body). If you do not have a sterling character, the mother country is thrown into grief. If you do not have love and gratitude, the mother is thrown into grief. When both are happy through you...Your life is then indeed blessed.

Ingatlah bahwa engkau mempunyai dua ibu, yaitu: Dhesha-maatha (ibu pertiwi) dan Dheha-maatha (sang ibu yang memberimu badan jasmani). Jikalu engkau tak memiliki karakter yang mulia, maka ibu pertiwimu akan terperosok dalam penderitaan. Jikalau engkau tak memiliki cinta-kasih dan perasaan bersyukur, maka ibumu juga akan mengalami penderitaan. Apabila kedua ibumu berbahagia oleh karena perbuatanmu.... maka kehidupanmu betul-betul sangat diberkati.

- Divine Discourse, May 13, 1968.

Monday, May 5, 2008

Sai Inspires 5th May 2008 ( What is the most important process we have to start if we wish to attain Divinity?)


When the heart is purified, the entire life becomes sanctified. There will be no need for elaborate social reconstruction if people develop good qualities and act righteously. Young people should get rid of bad thoughts and habits. The spiritual quest cannot be put off to old age. The time to start seeking the Divine is now itself. Strive from now on to purify your thoughts and actions.

Ketika hatimu sudah dimurnikan, maka seluruh kehidupanmu menjadi suci. Kita tidak perlu lagi mewacanakan tentang rekonstruksi sosial jikalau orang-orang sudah mengembangkan kualitas diri yang baik serta bertindak secara bajik. Kaum muda harus bisa menyingkirkan pikiran-pikiran serta kebiasaan yang negatif. Pencarian spiritual tidak boleh ditunda hingga usia senja. Waktu untuk memulai pencarian Divine adalah saat ini juga. Untuk itu berjuanglah mulai dari sekarang untuk memurnikan pikiran dan perbuatanmu.

- Divine Discourse, February 13, 1991.

Sunday, May 4, 2008

Sai Inspires 4th May 2008 ( How can we understand God through Nature?)

Look at the modern attempts to understand God by concentrating on exploring the secrets of Nature. This is a wrong approach. The effort should be to realize that Nature has come from God. Only then God can be experienced. You have to turn your mind from the mundane to the Divine, from Nature to Nature's God. By getting immersed in evanescent and impermanent worldly concerns, people are polluting their lives. Admittedly the phenomenal world presented by Nature is true. The Spirit is also truth. Man's journey is not from untruth to Truth but from a lesser truth to a higher Truth. Truth is only one. That truth is God.

Cobalah lihat upaya-upaya yang dilakukan oleh kaum modernis dalam hal untuk memahami tentang ke-Tuhan-an, yang mana mereka menkonsentrasikannya dalam bentuk tindakan eksplorasi terhadap rahasia-rahasia alam. Pendekatan seperti ini sebenarnya tidaklah tepat. Yang harus dilakukan adalah melakukan upaya untuk menyadari bahwa alam berasal dari Tuhan, sebab hanya dengan demikianlah, barulah kita bisa merasakan kemuliaan Tuhan. Arahkanlah pandangan batinmu kepada Divine, dari alam kepada Sang Khalik. Bila engkau hanya berkutat sekitar hal-hal yang bersifat duniawi, maka itu sebenarnya engkau sedang menimbulkan polusi dalam kehidupanmu. Memang tidak disangkal bahwa fenomena-fenomena yang direpresentasikan oleh alam semesta adalah kebenaran, demikian pula halnya dengan The Spirit (Atma). Perjalanan manusia bukanlah dari ketidak-benaran menuju kepada kebenaran, melainkan ia merupakan perjalanan dari yang sedikit benar menuju kepada kebenaran tertinggi. Kebenaran hanya ada satu adanya, dan kebenaran itu adalah Tuhan.

- Divine Discourse, June 25, 1989.

Saturday, May 3, 2008

Sai Inspires 3rd May 2008 ( How to be a true devotee in real life?)

How should devotion to God express itself? Not in ostentatious external forms like smearing vibhuti, wearing a special dress or flaunting a rosary. Devotees make a distinction between personal duties and service to the Divine. They look upon worship, meditation and the like as Divine service and what they do for their families and friends as personal duties. This kind of division amounts to practicing a deception on God. God is Omnipresent and subsumes all things. Hence, there is no meaning in making a distinction between one kind of work and another.

Bagaimanakah caranya mengkespresikan devotion (bhakti) kepada Tuhan? Bhakti bukanlah diartikan sebagai tindakan mengoleskan badan kita dengan lapisan vibhuti, juga bukan berarti harus memakai gaun/pakaian yang khusus maupun menggunakan japamala (tasbeh). Para bhakta membuat garis perbedaan antara tugas/tanggung-jawab pribadi dan pelayanan kepada Divine. Mereka menganggap bahwa ibadah, meditasi dan sejenisnya adalah pelayanan kepada Divine, sedangkan tugas/tanggung-jawabnya kepada keluarga dan teman-temannya sebagai urusan pribadinya. Pembagian-pembagian seperti ini sebenarnya merupakan praktek penipuan bagi Tuhan, sebab Beliau adalah Omnipresent dan mencakupi segala-galanya. Jadi, tak ada gunanya melakukan pembagian-pembagian seperti itu.

- Divine Discourse, June 25, 1989.

Friday, May 2, 2008

Sai Inspires 2nd May 2008 ( How vital is it to be conscious of our speech?)

Speech is produced cheap, but it has high value. It can elevate as well as demean man. Listening to a speech, a zero can rise into a hero or a hero can collapse into a zero. It can inspire or plant despair. It must be true and sweet, not false and pleasant. Man must endeavour to acquire speech untouched by subterfuge, limbs untouched by cruelty, hands free from violence and thoughts free from vengefulness. Frenzy, fanaticism and gusts of anger have to be controlled, for they lead to disasters whose range is beyond calculation...Be conscious that every word we utter or hear will leave an impression on our consciousness, and provoke reactions which may or may not be beneficial. This is the reason why the company of God and godly people is to be sought.

Ucapan sangat mudah sekali diutarakan, tetapi ia mengandung makna/nilai yang sangat tinggi. Ucapan kita bisa memuji dan bisa juga menghina sesama manusia. Dengan mendengarkan suatu wacana, seseorang yang mengalami keterbelakangan akan bisa bangkit dan menjadi seseorang yang terhormat atau sebaliknya. Ucapan kita bisa memberikan inspirasi dan bisa juga menanamkan rasa putus-asa. Oleh sebab itu, engkau perlu memastikan bahwa ucapanmu santun dan benar, tidak mengucapkan yang tidak benar atau sekedar enak didengar saja. Engkau harus berupaya untuk memiliki ucapan-ucapan yang tidak ternoda oleh tipu-muslihat, pastikanlah agar anggota-anggota badanmu tidk tersentuh oleh kekejaman, tanganmu terbebaskan dari kekejian serta pikiran yang tidak dinodai oleh perasaan ingin membalas-dendam. Agitasi emosional, fanatisme dan kemarahan haruslah dapat engkau kendalikan, sebab mereka akan membawamu menuju malapetaka apabila dibiarkan secara liar (tidak terkendali).... Sadarilah setiap ucapan yang akan engkau ucapkan maupun dengar, sebab ucapan-ucapan itu akan meninggalkan impresi di dalam kesadaran kita serta mencetuskan reaksi-reaksi yang mungkin berimplikasi negatif terhadapmu. Itulah sebabnya pergaulan dengan mereka yang saleh dan Tuhan (Sathsang) sangatlah diperlukan.

- Divine Discourse, May 20, 1982.

Thursday, May 1, 2008

Sai Inspires 1st May 2008 (the highest ideals we need to practice in our daily life)

The mind can act as a bridge leading man from the tangible to the intangible, from the personal to the impersonal. Cleanse the mind and mould it into an instrument for loving thoughts, for expansive ideas. Cleanse the tongue and use it for fostering fearlessness and friendship. Cleanse the hands; let them desist from injury and violence. Let them help and lead, heal and guide. This is the highest spiritual practice.

Mind dapat bertindak sebagai jembatan yang menuntun manusia dari sesuatu yang tangible (nyata) menuju kepada yang intangible (yang tidak dapat dinyatakan secara jelas), dari sesuatu yang personal kepada yang bersifat impersonal. Bersihkanlah batinmu dan bentuklah ia sedemikian rupa agar dapat menjadi instrumen yang penuh dengan buah-buah pikiran yang bernafaskan cinta-kasih serta ekspansif. Bersihkan juga lidahmu dan pergunakanlah ia sebagai instrumen untuk menghasilkan keberanian dan persahabatan. Bersihkan pula tangan-tanganmu; dan janganlah membiarkannya terlibat dalam tindakan kekerasan. Gunakanlah semua instrumen itu untuk keperluan membantu dan menuntun, menyembuhkan serta mengarahkan. Inilah praktek spiritual yang tertinggi.

- Divine Discourse, May 20, 1982.