Tuesday, March 31, 2009

Sai Inspires 31st March 2009


Instead of saying a hundred things, it is better to do one thing properly. Sanctify your life by doing selfless work. For the person who talks a lot, there is no time for work. For the person who is engaged in work, there is no time to talk. Instead of wasting time in your words, use your time in service to mankind, which is service to God, all the while repeating the name of the Lord.

Daripada berwacana saja ratusan kali, masih jauh lebih baik jika melakukan satu hal dengan benar. Sucikanlah hidupmu dengan cara melakukan pekerjaan tanpa mementingkan diri sendiri. Bagi orang-orang yang banyak bicara, mereka tidak memiliki waktu untuk bekerja. Bagi mereka yang sibuk dalam pekerjaannya, tiada waktu untuk ngobrol. Daripada menyia-nyiakan waktumu dengan ngobrol, lebih baik gunakanlah waktumu untuk melayani umat manusia, yang mana berarti melayani Tuhan, diiringi dengan pengulangan nama Tuhan.

- Divine Discours, March 31, 1975.

Monday, March 30, 2009

Sai Inspires 30th March 2009


To cultivate devotion to God, always endeavor to mix with good persons, engage yourselves in chanting the Names of the Lord, and be thrilled with the joy that wells up in you. Why do you waste time or even pollute it by talking ill of others? The eye, the hands, the nose, the head, the stomach, etc. each look different. Each does one special task, and has a different name and function. But they subserve the interest of one body to which they belong; they do not work at cross-purposes, do they? So too, each of you is a limb in the body called society. Do your work without a murmur, work in co-operation with all. Then the society will be healthy and happy. Love, Love alone can bind you to others and to God. God is the very embodiment of Love.

Untuk mengembangkan pengabdian kepada Tuhan, selalulah berusaha dengan keras untuk bergaul dengan orang baik, menyibukkan diri dalam pengulangan Nama Tuhan, dan tergetarkan oleh kebahagiaan yang mengalir di dalam dirimu. Mengapa engkau membuang-buang waktu atau bahkan mencemarkannya dengan membicarakan keburukan orang lain? Mata, tangan, hidung, kepata, perut, dan lain-lain masing-masing terlihat berbeda. Masing-masing menjalankan satu tugas khusus, dan memiliki nama serta kegunaan yang berbeda-beda. Namun mereka semua melayani keinginan dari satu badan dimana mereka melekat; mereka tidak bekerja secara bertolak belakang, bukan begitu? Demikian juga, masing-masing dari dirimu merupakan anggota badan dari tubuh yang bernama masyarakat. Kerjakanlah tugasmu tanpa menggerutu, bekerja samalah dengan orang lain. Maka masyarakat akan menjadi sehat dan bahagia. Kasih, hanya kasih sajalah yang dapat mengikatmu dengan orang lain dan dengan Tuhan. Tuhan adalah perwujudan Kasih itu sendiri.

- Divine Discourse, Jan 28, 1975.

Sai Inspires 29th March 2009


Life is like a train journey. In the journey of life, children and young adults have a long way to go and the elders have to alight from the train pretty soon. Whichever stage you are in your life, you must learn to make your journey comfortable and happy. Do not carry heavy unwanted luggage with you; that will make your journey miserable. Do not indulge in fault-finding and in picking quarrels with others. Anger, hatred, envy, jealousy - these are the heavy luggage you should avoid taking with you on your journey. Don't desire to have the best things only for yourselves. Share with others around the good things you are given. Be truthful, just and calm under provocation, and be full of love in your dealings with others. These will make your journey a pleasure.

Kehidupan itu bagaikan perjalanan berkereta api. Dalam perjalanan hidup, anak-anak dan remaja masih punya banyak waktu untuk dilalui sedangkan orang dewasa harus turun dari kereta sebentar lagi. Bagian manapun dalam hidupmu, engkau harus belajar membuat perjalananmu menjadi nyaman dan bahagia. Jangan membawa barang bawaan yang berat dan tak berguna bersamamu; itu hanya akan membuat perjalanmu menjadi tidak menyenangkan. Jangan terlibat dalam kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain dan bertengkar dengan orang lain. Kemarahan, kebencian, kecemburuan, iri hati – itu semua adalah beban bawaan yang berat dan harus engkau hindari supaya tidak engkau bawa dalam perjalanmu. Jangan berharap untuk memiliki semua hal yang terbaik hanya untuk dirimu sendiri. Berbagilah dengan orang lain di sekelilingmu untuk hal-hal terbaik yang telah dianugerahkan kepadamu. Selalulah berlaku jujur, adil dan tenang jika berada di bawah hasutan, dan selalulah penuh kasih saat sedang menghadapi orang lain. Semua hal ini akan membuat perjalananmu menjadi menyenangkan.

-Divine Discourse, Vol 13, Ch 3, Jan 6, 1975 .

Saturday, March 28, 2009

Sai Inspires - 28th March 2009


The supreme message of the life of the Avatars is the uniqueness of the Love Principle. This message is all the world needs. Lord Krishna is an embodiment of love. It is strong, brilliant and unbreakable like diamond. It is extremely precious. This love can only be understood through love. If you want to secure such divine love, your love for God must be equally strong. You can cut diamond only with diamond. Likewise, Love begets Love. Hatred begets hatred, jealousy begets jealousy, Anger begets anger. If you want to foster love, you must get rid of hatred, jealousy and anger.

Pesan tertinggi kehidupan Awatara adalah keunikan dari Asas Dasar Kasih. Warta suci inilah yang dibutuhkan oleh seluruh dunia. Krishna adalah perwujudan kasih. Ia kuat, cemerlang dan tak terhancurkan bagai berlian. Ia adalah sangat berharga. Kasih ini hanya bisa dipahami melalui kasih. Jika engkau ingin mendapatkan kasih ilahi seperti itu, kasihmu kepada Tuhan haruslah sepadan kuatnya. Engkau hanya bisa memotong berlian dengan berlian. Demikian juga, kasih memberikan kasih. Kebencian menghasilkan kebencian, iri hati menghasilkan iri hati, kemarahan menurunkan kemarahan. Jika engkau ingin menumbuhkan kasih, engkau harus menghilangkan kebencian, iri hati dan kemarahan.

-Divine Discourse, Vol 13 Ch 2, Jan 6, 1975

Friday, March 27, 2009

Sai Inspires 27th March 2009


Wherever you go, whether it is America, Japan, Germany, Pakistan or India, there is only one Sun that illuminates the entire world. If it is daytime for us now, it will be night in America. Does that mean that there is no Sun in America? No. The Sun is here, there and everywhere, illuminating the entire world. Since the Earth rotates round the Sun, it is night in America when it is day in India. Similarly, God is everywhere; He is omnipresent. He is immanent in us. We should always develop a feeling that God is with us, in us, above us and below us. One should develop such firm faith. Then, one can see Him at any place of one's choice.

Kemana pun engkau pergi, apakah itu ke Amerika, Jepang, Jerman, Pakistan atau India, hanya ada satu Matahari yang menyinari seluruh dunia. Kalau sekarang adalah siang hari bagi kita, maka saat ini adalah malam hari di Amerika. Apakah itu berarti tidak ada Matahari di Amerika? Tidak. Matahari ada di sini, di sana, di semua tempat, menyinari seluruh dunia. Karena Bumi mengitari Matahari, adalah malam hari di Amerika saat siang hari di India. Demikian juga, Tuhan ada dimana-mana; Beliau hadir dimana-mana. Beliau tetap ada di dalam diri kita. Kita harus selalu mengembangkan perasaan bahwa Tuhan selalu ada bersama kita, di dalam diri kita, di atas kita dan di bawah kita. Orang seharusnya mengembangkan keyakinan yang kokoh seperti itu. Maka, ia bisa melihat kehadiran Tuhan di setiap tempat yang ia pilih.

-Divine Discourse, Aug 6, 2008.

Sai Inspires 26th March 2009


Everything is God. It is God that protects or punishes. Do not be under the impression that someone is punishing you. It is God's will that works through that person. Whoever hurts you or causes suffering to you, always think that other person actually belongs to you. Never entertain an ill feeling against that person. The bodies and thoughts may be different, but the atmic Principle (principle of the spirit) in all is only One. Wherever you go, remember the atmic Principle. All are One, be alike to everyone.

Segalanya adalah Tuhan. Adalah Tuhan yang melindungi atau menghukum. Jangan salah sangka bahwa seseorang menghukum dirimu. Adalah kehendak Tuhan yang bekerja melalui orang tersebut. Siapa pun yang menyakitimu atau menyebabkan penderitaan padamu, selalulah berpikir bahwa orang lain sebenarnya juga termasuk dirimu. Jangan mempunyai perasaan yang tidak baik terhadap orang itu. Badan dan pikiran mungkin berlainan, namun Asas Dasar atmic (asas dasar dari jiwa) dalam semua makhluk adalah hanya Satu. Kemana pun engkau pergi, ingatlah selalu tentang Asas Dasar atmic. Semua adalah Satu, jadilah sama bagi semua orang.

-Divine Discourse, August 6, 2008.

Sai Inspires 25th March 2009


Very few people can realise Truth and conduct themselves accordingly. Only those who realise the path of Truth will be able to follow it. When people develop anger or hatred against Truth, they keep themselves away from it. Regardless of their love or hatred, we should always love them. In fact, you are not different from others. Today they may appear to be different, but tomorrow they may come close to you. All are brothers and sisters! When a tree bears fruit, not all the fruits in a bunch ripen at the same time. Similarly , when a plant bears flowers, not all the flowers blossom at the same time. Some are in the process of blossoming, others are fully blossomed, yet a few remain as buds. Only the fully blossomed flower spreads its fragrance. Similarly, people too are in different stages of evolution ---some are at a blossoming stage and some others are like the fully blossomed flower, spreading their fragrance. We have to wait patiently they reach the 'fragrance stage'. We should all live like brothers and sisters with love and unity.

Sangat sedikit orang yang menyadari Kebenaran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Hanya mereka yang menyadari jalan Kebenaran yang akan mampu mengikutinya. Ketika orang mengembangkan kemarahan atau kebencian terhadap Kebenaran, mereka menjauhkan diri mereka dari Kebenaran. Terlepas dari kasih atau kebencian mereka, kita harus tetap selalu mengasihi mereka. Sebenarnya, engkau tiada berbeda dari yang lain. Hari ini mereka mungkin terlihat berbeda, namun mungkin besok mereka mirip denganmu! Semua adalah saudara! Ketika sebuah pohon menghasilkan buah, tidak semua buah dalam satu tandan akan matang dalam waktu yang bersamaan. Demikian juga, ketika tanaman menghasilkan bunga, tidak semua bunga akan mekar pada waktu yang sama. Beberapa dari mereka masih dalam proses mekar, yang lainnya sudah mekar, bahkan beberapa masih tetap kuncup. Hanya bunga yang mekar sempurnalah yang menebarkan aroma wangi semerbak. Begitu juga, orang-orang berada dalam tahap yang perkembangan yang berbeda --- beberapa masih dalam tahap mekar dan yang lainnya bagaikan bunga yang telah mekar dengan sempurna, menebarkan wangi bunga. Kita harus menunggu dengan sabar bagi mereka untuk mencapai ‘tahap keharuman’. Kita harus hidup bersama bagaikan saudara dengan penuh kasih dan kesatuan.

- Divine Discourse, Oct 9, 2008.

Tuesday, March 24, 2009

Sai Inspires 24th March 2009


In earlier times, several people used to live together under one roof, with peace and happiness. Today, the fear complex is pervading everywhere. Where did this fear complex come from? It is due to lack of self-confidence, and lack of faith in their inner self. Where there is self-confidence, there will be self-satisfaction. Where there is self-satisfaction, there will be self-sacrifice. And where there is self-sacrifice, there will be self-realization. It is common knowledge that where the foundation is strong, the walls will be safe. Where the walls are safe, the roof will be secure. It is only in such a house, can one live safely. Self-confidence is the foundation for a human being. Self-satisfaction represents the walls, self-sacrifice is the roof, and self-realization is life. Hence, there should be perfection amongst these four.

Pada jaman dahulu, beberapa orang biasa hidup bersama dibawah satu atap, dengan damai dan bahagia. Saat ini, masalah ketakutan tanpa dasar telah menyebar kemana-mana. Dari manakah masalah ketakutan ini berasal? Hal itu terjadi karena kurangnya rasa percaya diri, dan kurangnya keyakinan terhadap diri sejati mereka sendiri. Ketika ada kepercayaan diri, maka akan ada kepuasan diri. Jika ada kepuasan diri maka akan ada pengorbanan diri. Dan saat ada pengorbanan diri, maka akan ada kesadaran diri. Adalah suatu hal yang umum diketahui bahwa jika suatu bangunan landasannya kokoh, maka dinding akan aman. Jika dinding tersebut aman, maka atap juga akan aman. Hanya didalam rumah seperti itulah orang bisa hidup dengan aman. Kepercayaan diri adalah dasar bagi umat manusia. Kepuasan diri ibaratkan dinding, pengorbanan diri adalah atap, dan kesadaran diri adalah kehidupannya. Oleh sebab itu, harus ada kesempurnaan diantara keempat hal tersebut.

- Divine Discourse, 22nd Nov 2008 .

Monday, March 23, 2009

Sai Inspires 23rd March 2009


Even if we don't have any property, we can lead a happy life only if the property of love is with us. This love should be supported with self-confidence. God is the only source and sustenance for the entire universe. Everything else is an illusion. Sorrows and difficulties, loss and gain, diseases and sickness - treat them all as Divine Will. Then everything will turn out to be good for you. You are God verily, just get rid of "I", the ego, and "the 'my' attachment". Rise above these. Let us all move together; Let us all grow together; Let us all stay together and grow in intelligence together. Let us live together with friendship and harmony. Lead a contended life, you will derive great happiness.

Meskipun kita tidak memiliki kekayaan, kita bisa menuju hidup yang bahagia hanya jika kekayaan kasih ada bersama kita. Kasih ini harus digalang dengan percaya diri. Tuhan adalah satu-satunya sumber dan sari pati untuk seluruh alam semesta. Selain dari pada itu semua adalah khayalan. Penderitaan dan kesulitan, kerugian dan keuntungan, wabah dan penyakit – anggaplah semua itu sebagai kehendakNya. Maka semua akan berubah menjadi baik untukmu. Engkau sebenarnya adalah Tuhan, hanya saja hilangkanlah “Aku”, sang ego, dan “keterikatan pada ‘milikku’”. Jadilah lebih tinggi di atas itu semua. Marilah kita bergerak bersama; marilah kita tumbuh bersama; marilah kita selalu bersama dan memelihara kecerdasan bersama. Marilah kita hidup berdampingan dalam persaudaraan dan keselarasan. Jalanilah kehidupan yang menantang, engkau akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa.

- Divine Discourse, Nov 23, 2008.

Sai Inspires 22nd March 2009


The wave dances with the wind, basks in the Sun, and frisks in the rain, imagining it is playing on the breast of the sea. It does not know it is the sea itself. Until it realizes this truth, it will be tossed up and down; when it knows it, it can be calm and collected, and at peace with itself. Man has been sent into the world for a purpose: In order that he may use the time and opportunity to realize the truth that he is not man but God.

Ombak menari-nari bersama dengan tiupan angin, berjemur di terik matahari, dan bergerak lincah dalam hujan, membayangkan dirinya berlayar menyongsong gelombang lautan. Ia tidak menyadari bahwa dirinya adalah lautan itu sendiri. Sampai ia menyadari kebenaran tersebut, ia akan terlempar ke atas dan ke bawah; ketika ia menyadarinya, ia akan menjadi reda dan tenang, dan berdamai dengan dirinya sendiri. Umat manusia telah dikirimkan ke dunia untuk suatu tujuan: Supaya dia bisa menggunakan waktu dan kesempatan untuk menyadari kebenaran bahwa dia bukanlah manusia melainkan Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, vol. 9, Pg. 64

Sai Inspires 21st March 2009


As we go on talking for hours together, we tend to forget what we really intend to communicate. So, many deviations and distortions creep into our speech. Today, the entire world is filled with negative feelings. Whoever you come across, whatever you see, negativity is widespread. All are reflections of your inner thoughts and feelings. But beyond all these, there is one entity, called Atma, that is the Embodiment of the divine Self. There is only one Atma, which dwells in every individual, nay, every living being... There is one Divinity which expresses itself through millions of individuals. We tend to forget this great truth and consider each individual as separate from the other. Along with unity, there should be purity. Where unity and purity go together, there Divinity is.

Selama kita terlibat dalam obrolan berjam-jam lamanya bersama-sama, kita cenderung melupakan apa yang sebenarnya kita ingin sampaikan. Jadi, ada demikian banyak penyimpangan dan perubahan yang merambat secara pelan-pelan pada pembicaraan kita. Saat ini, seluruh dunia sudah dipenuhi dengan perasaan-perasaan negatif. Siapa pun yang engkau temui, apa pun yang engkau lihat, hal-hal negatif sudah menyebar luas. Semua adalah pantulan dari pikiran dan perasaan dari dalam dirimu sendiri. Namun, diluar semua itu, hanya ada satu yang sungguh-sungguh ada, disebut dengan Atma, yaitu adalah Perwujudan dari Diri Sejati yang Ilahi. Hanya ada satu Atma, yang bersemayam dalam diri setiap insan, dan juga, setiap makhluk hidup... Hanya ada satu Ketuhanan yang memperlihatkan diriNya melalui jutaan insan. Kita cenderung melupakan kebenaran utama ini dan menganggap setiap orang adalah terpisah dari orang lain. Seiring dengan kesatuan, harus ada kemurnian. Saat kesatuan dan kemurnian melangkah bersama, maka akan ada Ketuhanan.

- Divine Discourse, February 21, 2009

Sai Inspires 20th March 2009


There is reaction, resound, and reflection for everything in this world. Only when you develop the quality of hatred in yourself do you see hatred in others. Whatever you do to others, you will surely experience the result of that action. Whatever you hear or experience is all due to the reaction, reflection, and resound of your own actions and feelings; others are not responsible for it. No one is responsible for either your good or bad actions. Neither is it God's creation, for God is attributeless, unsullied, eternal, pure, enlightened, and the embodiment of sacredness. Always help others, never hurt anyone. When you accuse or make fun of the other, it is an illusion to think that you are hurting the other person. In fact, you are hurting yourself. If you wish to enjoy good things in life, do good to others in the first instance.

Ada reaksi, gema, dan pantulan dari segala hal yang ada di dunia ini. Hanya jika engkau mengembangkan sifat kebencian dalam dirimu maka engkau akan melihat kebencian dari orang lain. Apapun yang engkau lakukan kepada orang lain, engkau pasti akan mengalami akibat dari perbuatan tersebut. Apapun yang engkau dengar atau alami adalah merupakan reaksi, gema, dan pantulan dari perbuatan dan perasaanmu sendiri; orang lain tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tidak seorang pun yang bertanggung jawab atas kelakuan baik atau burukmu. Tidak juga termasuk semua makhluk ciptaan Tuhan, karena Tuhan adalah tanpa sifat, tidak ternodai, kekal abadi, murni, pemberi penerangan, dan perwujudan kesucian. Selalulah menolong orang lain, jangan pernah menyakiti siapa pun. Ketika engkau menyalahkan atau mempermainkan orang lain, adalah hanya khayalan belaka jika engkau mengira engkau telah menyakiti orang lain. Sebenarnya adalah, engkau menyakiti dirimu sendiri. Jika engkau ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupmu, berlakulah baik kepada orang lain terlebih dahulu.

- Divine Discourse, January 1, 2009

Sai Inspires 19th March 2009


Your nature is divine. What happened along life's way was that delusion covered it up with dust. When your dirty laundry goes to the washerman, he doesn't make your clothes white. They are actually white to begin with; only dirt has hidden the whiteness. All he does is to bring out the brightness of the clothes. To do this, he needs two pure items - soap and water. He cannot manage without either of these. Similarly, in the case of the mind and the dirt covering its purity, there are two cleansing items needed - the soap of Principle and the water of Practice.

Sifat alami dari dirimu adalah keilahian. Apa yang terjadi selama ini dalam kehidupanmu adalah bahwa khayalan telah menutupinya dengan debu. Ketika pakaian kotormu engkau bawa ke tukang cuci, dia tidak membuat pakaianmu menjadi putih. Pakaianmu sebenarnya telah putih sejak awal; hanya saja debu telah menyembunyikan warna putihnya. Apa yang tukang cuci tersebut lakukan adalah mengembalikan kecemerlangan pakaian tersebut. Untuk melakukannya, si tukang cuci memerlukan dua macam benda yang murni – sabun dan air. Ia tidak akan dapat melaksanakannya tanpa salah satu atau kedua buah benda tersebut. Demikian juga, dalam hal pikiran dan debu yang menutupi kesuciannya, ada dua buah barang pembersih yang diperlukan – sabun Prinsip dan air Latihan.

- Sathya Sai Speaks, Vol. 7, Pg. 208

Sai Inspires 18th March 2009


Install God in the altar of your heart and meditate on Him constantly. In spite of sorrow, difficulties and calamities that you may encounter, hold on to him firmly. They trouble your body, not you - for, you are separate from your body. We cultivate qualities like anger, jealousy, envy, pride due to our contact with the outside world. Only when we get rid of these qualities, we enjoy peace. Therefore we have to start our spiritual journey with truth and righteousness. When truth and righteousness go together, peace will reign. Peace brings love. Where there is peace, there hatred cannot be. When we develop hatred against someone, it means the spring of love has dried up in our heart. When there is love in our heart, we do not get angry, even if someone accuses us. Hence always follow the motto, "Love All, Serve All."

Semayamkanlah Tuhan di kuil dalam hatimu dan pusatkanlah pikiran secara terus-menerus kepadaNya. Meskipun engkau menemui penderitaan, kesulitan dan bencana, berpeganglah dengan teguh kepadaNya. Mereka mengganggu badanmu, bukan engkau – karena, engkau terpisah dari badanmu. Kita mengembangkan sifat-sifat kemarahan, iri hati, cemburu, sombong disebabkan oleh hubungan kita dengan dunia luar. Hanya ketika kita menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut, maka kita akan menikmati kedamaian. Dengan demikian kita harus memulai perjalanan spiritual kita dengan kebenaran dan kebajikan. Ketika kebenaran dan kebajikan berjalan beriringan, kedamaian akan merasuk. Kedamaian membawa kasih. Dimana ada kedamaian, maka tidak akan ada kebencian. Saat kita mengembangkan kebencian kepada seseorang, hal ini berarti sumber mata air kasih dalam hati kita telah mengering. Saat ada kasih dalam hati kita, kita tidak akan marah, bahkan jika seseorang menyalahkan kita. Maka ikutilah selalu semboyan, “Kasihi Semua, Layani Semua.”

- Divine Discourse, Feb 23, 2009

Tuesday, March 17, 2009

Sai Inspires 17th March 2009


Society can be set right only by those who have firm faith in God. Sacred teachings should be imparted to the students and they should be encouraged in the service of the society. Only then can there be peace in the world. It is not enough if you merely pray "May all the beings in all the worlds be happy." You should serve the world; you should serve all. You should develop the spirit of selfless service.

Masyarakat dapat diarahkan menuju kebaikan hanya oleh mereka yang memiliki keyakinan yang kokoh kepada Tuhan. Ajaran-ajaran suci seharusnya ditanamkan kepada siswa-siswi dan mereka seharusnya didorong untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat. Hanya dengan begitulah maka akan ada kedamaian di dunia. Tidaklah cukup jika engkau hanya berdoa “Semoga semua makhluk di dunia menjadi bahagia.” Engkau seharusnya melayani dunia; engkau seharusnya melayani semuanya. Engkau harus mengembangkan semangat pelayanan tanpa pamrih.

- Divine Discourse, Feb 14, 2009.

Sai Inspires 16th March 2009


In order to deserve the sacred name, seva (service), the activity must be freed from all attachment to the self, and based on firm faith in the Divine resident in every being. Seva has to be considered as worshipping the form that God has assumed to give the sevak (volunteer) the chance of worship. When a hungry nara (person) is served a hearty meal, what is being done is Narayana Seva (service to God) , for, nara (man) is only 'a form and a name' projected by maya (human ignorance) on Narayana (God).

Supaya patut menyandang nama yang suci, yaitu seva (pelayanan), kegiatan yang dilakukan haruslah terbebas dari segala macam keterikatan kepada diri sendiri, dan berlandaskan pada keyakinan yang kokoh pada Tuhan yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk hidup. Seva harus dianggap sebagai pemujaan pada wujud yang telah diberikan oleh Tuhan kepada sevak (sukarelawan) yang mendapat kesempatan untuk melakukan pemujaan. Ketika kepada nara (orang) yang lapar dihidangkan makanan dengan sepenuh hati, sebenarnya apa yang terjadi adalah Narayana Seva (pelayanan kepada Tuhan), karena, nara (manusia) hanyalah ‘suatu wujud dan sebuah nama’ yang dibangun oleh maya (ketidaktahuan manusia) akan Narayana (Tuhan).

- Divine Discourse, Nov 21, 1986.

Monday, March 16, 2009

Sai Inspires 15th March 2009


You perform various tasks, you participate in sports and games. In each task you perform, you should give up selfishness, and consider selflessness as the basis for your actions. Develop faith in God. Divinity is One. God is the support for everything. The names and forms may vary, but the inherent divine principle is the one and the same. A hall may be decorated with many number of bulbs. But the electric current that flows through all the bulbs is the same. Similarly, sweets may be many. But the essential ingredient in them, that imparts sweetness is the sugar, which is the same in every sweet. Do not merely go by the forms, forgetting the reality.

Engkau melakukan bermacam kegiatan, engkau ikut serta dalam olahraga dan permainan. Dalam setiap kegiatan yang engkau lakukan, engkau harus melenyapkan sikap mementingkan diri sendiri, dan membuat sikap tidak mementingkan diri sendiri sebagai dasar tindakanmu. Kembangkanlah keyakinan pada Tuhan. Keilahian adalah Tuhan. Tuhan adalah pendukung segalanya. Nama dan wujud boleh berbeda-beda, namun intisari ketuhanan yang menjadi sifat dasar adalah satu dan sama. Sebuah aula mungkin dihiasi dengan sejumlah lampu pijar. Namun arus listrik yang mengalir melalui semua lampu pijar tersebut adalah sama. Demikian juga, permen mungkin beraneka ragam. Namun unsur dasar didalamnya, yang tertanam di dalam permen tersebut adalah gula, yang sama rasanya dalam setiap permen. Jangan hanya mengikuti wujud saja, namun malah melupakan kesejatian.

- Divine Discourse, Jan 14, 2006.

Saturday, March 14, 2009

Sai Inspires 14th March 2009


He who aspires to be a Leader of people, must free himself of selfish propensities, of hate and malice. His words must be sweet to the ear and food to the spirit. They must be valued by all men as the panacea they need. When the swelling of the head (ego) disappears, he/she deserves the coveted honor.

Barang siapa yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin di masyarakat, haruslah membebaskan dirinya dari kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, juga dari kebencian dan kedengkian. Kata-katanya haruslah terdengar lembut di telinga dan seakan mejadi makanan bagi jiwa. Ia harus dinilai oleh semua orang sebagai obat mujarab yang mereka perlukan. Saat gelombang besar dari kepala (keakuan) menghilang, ia layak mendapatkan kehormatan yang didambakan.

- Divine Discourse, October 6, 1965.

Friday, March 13, 2009

Sai Inspires 13th March 2009


"Dharmo Rakshathi Rakshithah" - Dharma, the spirit, protects those who practices righteousness. Dharma (Righteousness) means certain obligations and duties, and regulations over actions, words and behavior. Elders have certain obligations towards young people as the young have towards the elders. Similarly, neighbors have mutual duties and rights. The mighty should not grab the possessions of the weak; the pledged word has to be honored. Righteousness alone will serve as an effective armor against all foes.

”Dharmo Rakshathi Rakshithah”Dharma, sang jiwa, melindungi mereka yang melaksanakan kebajikan. Dharma (Kebajikan) berarti kewajiban dan tugas tertentu, dan aturan mengenai tindakan, ucapan dan tingkah laku. Orang-orang yang lebih tua memiliki kewajiban tertentu terhadap mereka yang lebih muda sebagaimana juga sebaliknya dari mereka yang muda ke orang yang lebih tua. Begitu juga, di dalam lingkungan tempat tinggal terdapat kewajiban dan hak yang saling timbal-balik. Mereka yang berkuasa tidak boleh merampas hak milik orang-orang yang lemah, kata-kata yang diucapkan haruslah dihormati. Kebajikan itu sendiri akan berlaku sebagai baju baja pelindung dari semua musuh.

- Divine Discourse, October 5, 1965.

Sai Inspires 12th March 2009


The body is the temple of God, He is resident in the heart. The intelligence is the lamp lit in that altar. Any gust of wind that blows through the windows of the senses affects the flame of the lamp and dulls it light, threatening even to put it out. So, close the windows, do not keep them open for dire attraction from objects. Discrimination is an important instrument of spiritual progress. Keep the intelligence sharp, so that it may cut the mind like a diamond and convert it into a blaze of light, instead of being a dull pebble. That is its legitimate use.

Badan ini adalah kuil Tuhan. Beliau bersemayam di dalam hati. Kecerdasan adalah lampu minyak yang menyala di altar kuil tersebut. Tiupan angin yang berhembus melalui jendela indera mempengaruhi nyala lampu tersebut dan meredupkan cahaya, bahkan bisa terancam menjadi padam. Jadi, tutuplah jendela, jangan biarkan ia terbuka terhadap daya tarik benda-benda duniawi yang menakutkan. Kemampuan membedakan baik dan buruk adalah alat yang sangat penting dalam mencapai kemajuan spiritual. Jagalah supaya kecerdasanmu tetap tajam, sehingga bisa memotong pikiran menjadi bagaikan intan dan mengubahnya menjadi berkilauan cahaya, bukannya malah menjadi batu kerikil yang suram. Itulah kegunaan yang sesungguhnya.

-Divine Discourse, Vol 5, Ch 45, Oct 3, 1965.

Wednesday, March 11, 2009

Sai Inspires 11th March 2009


Love your religion, so that you may practice it with greater faith. When each one practices his religion with faith, there can be no hatred in the world, for all religions are based on universal love. Love your country, so that it may become strong, happy and prosperous, and an arena for the exercise of all the higher faculties of the human beings. Prayer has great efficacy. Pray for even those who invade out of greed or hate; sympathize with their ignorance and pray that their steps may be directed towards truth, justice and love. Cultivate the universal vision of peace and happiness of all mankind, of all animate and inanimate objects.

Cintailah agamamu, sehingga engkau bisa mengamalkannya dengan keyakinan yang lebih besar. Ketika setiap orang mengamalkan ajaran agamanya dengan keyakinan, maka tidak akan ada kebencian di dunia ini, karena semua agama adalah berdasarkan cinta kasih semesta. Cintailah negerimu, sehingga ia menjadi lebih kuat, bahagia dan sejahtera, dan menjadi gelanggang latihan pengembangan bakat dari semua umat manusia. Doa adalah sangat mujarab. Berdoalah bahkan untuk mereka yang mengumbar ketamakan atau kebencian; belas kasihanilah ketidaktahuan mereka dan berdoalah sehingga langkah-langkah mereka dibimbing menuju kebenaran, keadilan dan cinta kasih. Kembangkanlah pandangan semesta tentang kedamaian dan kebahagiaan untuk semua umat manusia, untuk semua benda baik yang bernyawa maupun yang tidak berjiwa.

- Divine Discourse, October 2, 1965.

Sai Inspires 10th March 2009


Hunger is the disease for which food is the medicine; thirst is the illness for which drink is the medicine. Food and drink, housing and clothing, must be subsidiary to the needs of the spirit, and the education of our emotions, passions and impulses. You cannot have more salt than the quantity of dal (a side dish), not even the same proportion. So too, efforts to achieve health, comfort, etc. must be just enough for the purpose of sustaining the sadhana (spiritual practice), not more, not less.

Rasa lapar adalah penyakit dimana obatnya adalah makanan; rasa dahaga diobati dengan air minum. Makanan dan minuman, rumah dan pakaian, haruslah hanya sebagai tambahan saja atas kebutuhan jiwa, dan sebagai pendidikan dari perasaan, keinginan dan dorongan hati kita. Engkau tidak memerlukan garam lebih banyak dari dal (suatu makanan tambahan), bahkan tidak akan sama bagiannya. Demikian juga halnya, usaha-usaha untuk mendapatkan kesehatan, kenyamanan, dan sebagainya harus secukupnya untuk menopang sadhana (latihan spiritual), tidak lebih, tidak kurang.

- Divine Discourse, October 2, 1965.

Tuesday, March 10, 2009

Sai Inspires 9th March 2009


Establish the status of the mother in the home as the upholder of spiritual ideals, and therefore, the Guru of the children. Every mother must share in this effort - the expansion and steady manifestation of God Consciousness, latent in every child.

Buatlah kedudukan seorang ibu di dalam rumah tangga sebagai penegak teladan spiritual, dan oleh karena itu, sebagai Guru dari anak-anak. Setiap ibu harus sama-sama menanggung upaya ini – pengembangan dan pewujudan Kesadaran Tuhan yang terus-menerus, yang terpendam dalam diri setiap anak.

- Divine Discourse, September 30, 1965.

Sai Inspires 8th March 2009


A person may think he is enjoying the pleasures; but really speaking, it is the pleasures that are enjoying man, for they sap his energies, dry up his discrimination, eat up his allotted years and worm into his mind, infesting it with egoism, envy, malice, hate, greed and lust. You should not plunge into action spurred by momentary impulse; ponder deeply over the pros and cons; weigh the expected benefits against the likely harm; then act so that you escape pain and you do not inflict pain. This is true in worldly matters as well as in the spiritual field.

Seseorang mungkin mengira bahwa ia menikmati kesenangan; namun ketahuilah bahwa sebenarnya kesenanganlah yang menikmati umat manusia, karena kesenangan tersebut melemahkan kekuatan manusia, menghentikan kemampuannya untuk membedakan baik dan buruk, menghabiskan jatah umur yang telah dibagikan dan menyelinap masuk ke dalam pikirannya, menyerbunya dengan keakuan, iri hati, kedengkian, rasa benci, ketamakan dan hawa nafsu. Engkau seharusnya tidak terjerumus ke dalam tindakan yang dipacu oleh dorongan hati yang sesaat; renungkanlah dalam-dalam setuju atau tidak; pertimbangkan manfaat yang diharapkan dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan; kemudian bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau terhindar dari kesedihan dan engkau tidak menimbulkan kesedihan bagi orang lain. Hal ini adalah kebenaran dalam hal-hal duniawi sebagaimana juga dalam bidang spiritual.

- Divine Discourse, September 28, 1965.

Saturday, March 7, 2009

Sai Inspires 7th March 2009


Your nature is revealed by your acts, gestures, looks, speech, feeding habits, dress, gait, etc. Therefore, pay attention to ensure that your speech, movements, thoughts, and behaviour are right and full of love, devoid of wildness and waywardness. You have to develop the humility to believe that you have much good to learn from others. Your enthusiasm, strong ambition, resolution, capacity to work, store of knowledge, wisdom - all these have to be related to all others and not utilised for you alone. Your heart should take all others in. Your thoughts too should be patterned on those broad lines.

Sifat dasar dirimu ditunjukkan melalui tindakan, gerak-gerik, penampilan, ucapan, kebiasaan makan, pakaian, gaya berjalan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, perlu perhatian untuk memastikan bahwa ucapan, tindakan, pikiran dan tingkah-lakumu adalah benar dan penuh kasih, sama sekali tanpa sifat liar dan ketidakpatuhan. Engkau harus mengembangkan kerendahan hati untuk percaya bahwa engkau mendapat banyak manfaat dengan belajar dari orang lain. Semangat besarmu, cita-cita yang kuat, keteguhan hati, kecakapan untuk bekerja, bekal ilmu pengetahuanmu, kebijaksanaan – semua itu harus dikaitkan dengan orang lain dan bukan hanya digunakan untuk dirimu sendiri. Hatimu haruslah melibatkan orang lain. Pikiranmu juga harus mencontoh pola tersebut.

- Vidya Vahini.

Friday, March 6, 2009

Sai Inspires 6th March 2009


We must develop a thirst for the Lord. The thirst for worldly goods can never be allayed; trying to satisfy it makes it only more acute! Thirst can never be quenched by drinking salt water - that is the objective world! Human desires do not have limits. They make you pursue the mirage in the desert, they make you build castles in the air. It breeds discontent and despair once you succumb to it. But develop the thirst for the Lord. You will discover the cool spring of ananda (Joy) within you. The Lord's Name makes you strong and steady, it is sweet and sustaining.

Kita harus mengembangkan rasa dahaga akan Tuhan. Rasa haus akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dihilangkan; mencoba memuaskan rasa itu hanya akan membuatnya lebih parah. Dahaga tidak akan pernah bisa dihilangkan dengan minum air asin – itulah kenyataan di dunia! Keinginan-keinginan manusia tidak ada batasnya. Mereka membuatmu bagaikan mengejar fatamorgana di gurun pasir, mereka membuatmu seperti membangun istana di atas angin. Hal itu hanya akan menyebabkan rasa tidak puas dan putus asa begitu engkau mengalah kepada mereka. Namun sebaliknya kembangkanlah rasa dahaga akan Tuhan. Engkau akan menemukan sumber mata air Ananda (Kebahagiaan) di dalam dirimu. Nama Tuhan membuatmu menjadi kuat dan kokoh, Nama Tuhan itu manis dan membuatmu bertahan.

- Divine Discourse, August 14, 1964.

Thursday, March 5, 2009

Sai Inspires 5th March 2009


So long as you have a trace of ego in you, you cannot see the Lord clearly. Egoism will be destroyed if you constantly tell yourself, "It is He, not I." He is the Force, I am but the Instrument. Keep His Name always on the tongue. Contemplate His Glory whenever you see or hear anything beautiful or grand. See in everyone, the Lord Himself moving in that form. Be humble, do not become proud of your wealth, status, authority, learning or caste. Dedicate all your physical possessions, mental skills, intellectual attainments, to the service of the Lord and to the Lord's many manifestations.

Selama engkau masih memiliki jejak keakuan dalam dirimu, engkau tidak akan bisa melihat Tuhan dengan jelas. Keakuan akan termusnahkan jika engkau secara terus-menerus berkata kepada dirimu sendiri, ”Ini adalah Tuhan, bukan aku.” Tuhan adalah Sang Penggerak, aku bukanlah apa-apa namun hanya alatNya. Jagalah agar Nama Tuhan selalu ada di lidahmu. Pusatkanlah pada Keagungan Tuhan saat engkau melihat atau mendengar sesuatu yang cantik atau sangat indah. Pandanglah di dalam diri setiap orang, ada Tuhan disana yang bergerak dalam wujud manusia. Jadilah orang yang sederhana, jangan menyombongkan kekayaan, gengsi, kekuasaan, ilmu pengetahuan atau kasta. Persembahkanlah semua kepemilikan lahiriah, keterampilan pikiran, pencapaian kecerdasanmu, sebagai pelayanan kepada Tuhan dan kepada banyak perwujudan Tuhan.

- Divine Discourse,, Aug 13, 1964.

Wednesday, March 4, 2009

Sai Inspires 4th March 2009


Discard all low desires. There is no need to feel unduly depressed. One has only to recognize ignorance, in order to make it vanish. Reduce all desires for a few acres of land, or a fat account in the bank, or a few more bungalows or cars or radios; desire rather the joy that will never fade, that will never cloy, that will be deep, steady and giving you strength all the time. Discover the joy of Divine Realization. Discover your holiness, your divinity, your truth.

Abaikanlah semua keinginan yang rendah. Tidak perlu merasa muram dengan berlebihan. Engkau hanya perlu mengenali kebodohan, untuk dapat melenyapkannya. Kurangilah semua keinginan untuk mendapatkan beberapa petak tanah, atau pundi-pundi tabungan di bank, atau lebih banyak bungalow atau mobil atau penerima radio; lebih baik meminta kebahagiaan yang tidak akan pudar, yang tidak akan membosankan, yang akan begitu dalam, mantap dan memberimu kekuatan sepanjang waktu. Temukanlah kebahagiaan dari Kesadaran Illahi. Temukanlah kesucianmu, ketuhananmu, kebenaranmu.

- Divine Discourse, August 13, 1964.

Tuesday, March 3, 2009

Sai Inspires 3rd March 2009


Speak so that your language is as sweet as your feelings. Make the words, true and pleasing. (Sathyam Brooyath, Priyam Brooyath) But, for the art of pleasing another, do not speak falsehood or exaggerate. Cynicism, which leads you to speak about a thing in a carping manner and in order to bring it into disrepute is as bad as flattery which makes you exaggerate and cross the boundaries of truth.

Berbicaralah sedemikian rupa sehingga bahasamu menjadi selembut perasaanmu. Jadikanlah kata-katamu, benar dan menyenangkan (Sathyam Brooyath, Priyam Brooyath). Namun, jika hanya untuk menyenangkan hati orang lain, janganlah berkata bohong atau melebih-lebihkan. Sinisme, yang membuatmu berbicara tentang sesuatu dengan nada mencela dan berusaha mempermalukan orang lain adalah sama buruknya dengan pujian yang berlebih-lebihan yang membuatmu membesar-besarkan sesuatu hal dan malah akan melampaui batas-batas kebenaran.

-Divine Discourse, Vol 4, Ch 21, July 29, 1964.

Monday, March 2, 2009

Sai Inspires 2nd March 2009


The tongue must be sanctified by the repetition of the Names of the Lord. It must also be used to use sweet expressions which will spread contentment and joy. Be very careful about your speech. Animals have horns, insects have stings, beasts have claws and fangs, but man's biggest weapon of offence is his tongue. The wounds that the tongue can inflict can scarcely be healed; they fester in the heart for long. They are more capable of damage than even an atom bomb. The name has much efficacy. Use the tongue to repeat the Name of the Lord and His attributes.

Lidah harus disucikan dengan mengulang-ulang Nama Tuhan. Lidah juga harus dibiasakan untuk mengungkapkan sesuatu hal dengan manis dan lembut sehingga akan menyebarkan kegembiraan dan suka cita. Sangat berhati-hatilah dengan ucapanmu. Binatang memiliki tanduk, serangga memiliki sengat, binatang buas memiliki cakar dan taring, namun senjata utama manusia untuk menyerang adalah lidahnya. Luka yang diakibatkan oleh lidah bisa jadi hampir tidak dapat disembuhkan; luka-luka itu tertanam dalam hati untuk waktu yang lama. Mereka bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih parah bahkan jika dibandingkan dengan bom atom. Nama Tuhan sangatlah manjur. Gunakanlah lidah untuk mengulang-ulang Nama Tuhan dan Sifat-sifat Beliau.
- Divine Discourse, July 29, 1964.

Sai Inspires 1st March 2009


To realise God, it is not necessary to have wealth, gold or other emblem of affluence or even great scholarship. All that is needed is pure, selfless devotion. Today men with selfish and impure minds attempt to worship God. Without purity of thought, word and action, it is impossible to experience the Divine.

Rata Penuh

Untuk bisa mencapai Tuhan, tidak perlu memiliki harta, emas atau lambang kemakmuran lainnya atau bahkan gelar kesarjanaan yang hebat. Semua yang kita perlukan adalah pengabdian yang murni, tanpa mementingkan diri sendiri. Saat ini umat manusia dengan sifat mementingkan diri sendiri dan pikiran yang tidak murni berusaha untuk memuja Tuhan. Tanpa kemurnian dalam pikiran, ucapan dan tindakan, tidaklah mungkin untuk mencapai Tuhan.

- Sathya Sai Speaks, Vol. XIX, page 161.

Sunday, March 1, 2009

Sai Inspires 28th February 2009


People, today, are making every attempt to be happy, blissful. Where do you get bliss? Is it from the material things of the world, from people, or books? Not at all. Bliss is within one’s own self. You have forgotten your true Self, the source of bliss, and are struggling hard for artificial happiness outside. You are not aware of the reality that lies in the heart. In fact, all the bliss is there. The principle of love originates from the heart, not from the world. Everyone should develop love, more and more. But, today, there is hatred and anger everywhere. Light the lamp of love within, then fear and illusion can be removed, and you can have a vision of the Self. Otherwise, you are bound to suffer.

Umat manusia, saat ini, berusaha keras supaya bisa mendapat kesenangan, penuh kebahagiaan. Dimana engkau bisa mendapatkan kebahagiaan? Apakah dari dari benda-benda duniawi, dari orang-orang, atau dari buku-buku? Tidak sama sekali. Kebahagiaan ada di dalam diri masing-masing orang. Engkau telah melupakan Dirimu yang sejati, sumber kebahagiaan, dan berusaha keras untuk mendapatkan kebahagiaan semu di luar sana. Engkau tidak menyadari kenyataan yang ada di dalam hati. Sebenarnya, semua kebahagiaan ada di sana. Pada prinsipnya, kasih berasal dari dalam hati, bukan dari dunia luar. Setiap orang seharusnya mengembangkan kasih, lebih dan lebih banyak lagi. Namun, saat ini, terdapat kebencian dan kemarahan di setiap tempat. Nyalakanlah lampu kasih di dalam diri, maka ketakutan dan khayalan dapat dihilangkan, dan engkau akan bisa mendapatkan penampakan dari Diri. Jika tidak, engkau akan terlingkupi oleh penderitaan.

- Divine Discourse, March 14, 1999.