Thursday, May 27, 2010

Sai Inspires 27th May 2010


Everyone should lead their life so that no pain is caused by them to any living being. That is the supreme duty. Also, it is the duty of everyone who has had the chance of this human birth to spare a part of their energies occasionally for prayer and repetition of the Lord's Name. One must devote oneself to a life of truth, righteousness, peace and good works which are of service to others. One must be afraid of doing acts that are harmful to others or deeds that are sinful, just as one is afraid to touch fire or disturb a cobra. One must have as much attachment and steadfastness in carrying out good works, in making others happy and in worshipping the Lord, as one now has in accumulating gold and riches. This is the Dharma (duty) of every being.

Setiap orang seharusnya menjalani hidup mereka sehingga tidak ada penderitaan yang disebabkannya pada setiap makhluk hidup. Hal itu adalah kewajiban yang tertinggi. Selain itu, adalah kewajiban setiap orang yang telah diberikan kesempatan dari kelahiran manusia ini untuk meluangkan waktunya untuk berdoa, serta mengulang-ulang Nama Tuhan. Seseorang harus mengabdikan dirinya hidup dalam kebenaran, kebajikan, kedamaian, dan melakukan perbuatan baik yaitu melayani orang lain. Mereka harus takut melakukan tindakan yang berbahaya bagi orang lain atau perbuatan yang berdosa, sama halnya seperti mereka takut untuk menyentuh api atau mengganggu ular kobra. Mereka harus memiliki keterikatan dan ketabahan dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang baik, dalam membuat orang lain berbahagia, dan memuja Tuhan, sebagaimana saat ini mereka mengumpulkan emas dan kekayaan. Ini adalah Dharma dari setiap makhluk.

-Prema Vahini, Chap "The harvest of a Sadhaka"

Sai Inspires 26th May 2010


veryone in the world desires victory. No one desires defeat. All crave for wealth, no one craves for poverty. But, how should one achieve victory and wealth? There is no need to undergo threefold struggle - physical, mental, intellectual - to achieve victory. Nor one need get perturbed or anxious or pine for wealth and prosperity. Take refuge in the Lord. Wield the bow of courage by holding your heart pure. That is enough. Victory and wealth will be yours. As you pursue victory and wealth, remind yourself that they are like your shadows, not substantial things in themselves. You cannot attain your shadow, even if you pursue it for a million years.

Semua orang di dunia ini menginginkan kemenangan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan kekalahan. Semua orang mendambakan kekayaan, tidak ada seorangpun yang mengharapkan kemiskinan. Tetapi, bagaimana seharusnya seseorang mencapai kemenangan dan kekayaan? Tidak perlu melalui usaha tiga kali lipat - fisik, mental, intelektual - untuk mencapai kemenangan. Tidak juga perlu gelisah atau cemas atau merana untuk mendapatkan kekayaan dan kesejahteraan. Berlindunglah pada Tuhan. Gunakanlah busur keberanian dengan berpegang pada hati yang murni. Hal itu sudah cukup. Kemenangan dan kekayaan akan menjadi milikmu. Ketika engkau mengejar kemenangan dan kekayaan, ingatkanlah dirimu sendiri bahwa hal tersebut seperti bayanganmu, bukan merupakan hal yang substansial. Engkau tidak dapat mencapai bayanganmu, bahkan jika engkau mengejarnya selama satu juta tahun.

-Vidya Vahini, Chapter IX

Tuesday, May 25, 2010

Sai Inspires 25th May 2010


One has to be careful in matters relating to realization of God. Whatever inconveniences one may encounter, one must try to carry on one's Sadhana (spiritual practice) without any break or modification in the discipline. One single name that does not give any slightest feeling of dislike or disaffection should be selected for meditation and repetition. One should not constantly change the Name and the Form that one has loved and cherished, and selected for repetition. Concentration is impossible if the Name is changed; the mind will not attain one-pointedness.

Seseorang harus berhati-hati dalam hal-hal yang berkaitan dengan kesadaran Tuhan. Apa pun gangguan yang mungkin dihadapi, seseorang harus mencoba untuk melanjutkan Sadhana (praktek spiritual) tanpa henti atau merubah disiplin spiritualnya. Salah satu nama yang disukai seharusnya dipilih untuk meditasi dan pengulangan Nama Tuhan. Seseorang seharusnya tidak mengubah Nama dan Wujud Tuhan yang dikasihinya dan yang telah dipilih untuk pengulangan Nama Tuhan. Pikiran tidak akan mencapai satu tujuan, serta konsentrasi tidak mungkin didapatkan dengan baik jika Nama Tuhan ini diubah-ubah.

-Prema Vahini, Chap.“The Qualities a Sadhaka should cultivate”.

Monday, May 24, 2010

Sai Inspires 24th May 2010


Faith is very important. When lust, anger and other evil qualities diminish and disappear, faith in the Eternal Self and in the rightness of spiritual inquiry will grow and get confirmed. Non-attachment is the very foundation for attaining the Universal Absolute. Even for a small structure, the foundation has to be stable and strong; else, it would fall in a heap pretty soon. To make a garland, we require a string, a needle and flowers; so too, when Jnana (wisdom) has to be won, the string of devotion, the needle of non-attachment and the flowers of steady, single-pointed focus are essential.

Keyakinan pada Tuhan sangatlah penting. Ketika nafsu, amarah dan sifat-sifat buruk lainnya berkurang dan lenyap, keyakinan dalam diri akan kekal dan kebenaran penyelidikan rohani akan tumbuh dan dikuatkan. Tanpa keterikatan adalah dasar untuk mencapai Universal Absolut. Bahkan untuk bangunan yang kecilpun, pondasinya haruslah stabil dan kuat, kalau tidak demikian, bangunan tersebut akan segera runtuh. Untuk membuat sebuah garland, kita memerlukan benang, jarum dan bunga; demikian juga, ketika Jnana (kebijaksanaan) harus didapatkan, benangnya adalah pengabdian (bhakti), jarumnya adalah tanpa keterikatan dan bunganya adalah kemantapan hati, serta fokus pada satu tujuan sangatlah penting.

-Vidya Vahini, Chap 9 .

Sunday, May 23, 2010

Sai Inspires 23rd May 2010


As an aspirant, you should always seek the truthful and joyful, and avoid all thoughts that are sad and depressing. When your devotion is well-established, even if depression, doubt or conceit appears, you can easily discard them. It is best that as an aspirant, you are joyful, smiling and enthusiastic under all circumstances. This pure attitude is more desirable than even devotion and wisdom. If you are worried, depressed or doubting, you can never attain Bliss, no matter what spiritual practice you perform. Hence, the first task of an aspirant is the cultivation of enthusiasm. Never get inflated when you are praised, never get deflated when you are blamed. You must analyze yourself and correct your faults. Be a spiritual Lion.

Sebagai seorang pencari spiritual, engkau seharusnya selalu mencari kejujuran dan kebahagiaan, serta menghindari segala pikiran yang menimbulkan kesedihan dan depresi. Ketika pengabdianmu mantap, bahkan jika depresi, keraguan atau kesombongan muncul, engkau dapat dengan mudah menepisnya. Cara terbaik yang dapat dilakukan sebagai pencari spiritual adalah engkau harus bergembira, tersenyum dan bersemangat dalam semua keadaan. Sikap murni ini lebih diperlukan bahkan daripada pengabdian dan kebijaksanaan. Jika engkau merasa khawatir, tertekan, atau ragu-ragu, engkau tidak pernah bisa mencapai Bliss (suka cita), tidak peduli praktek spiritual apa yang telah engkau lakukan. Oleh karena itu, tugas pertama seorang pencari spiritual adalah menanamkan antusiasme. Janganlah merasa bangga ketika engkau dipuji ataupun rendah diri ketika engkau disalahkan. Engkau harus menganalisa dirimu dan mengoreksi kesalahanmu. Jadilah Singa Spiritual.

- Prema Vahini, "The Harvest of a Sadhaka"

Saturday, May 22, 2010

Sai Inspires 22nd May 2010


These days, listening to lectures and discourses has become just a fad, a craze. When they have been heard once, people imagine they have known all. Do not rest content with mere listening to advice. What you have listened to must later be contemplated upon and what has thus been imprinted on the mind has later to be experienced and expressed in thought, word and deed. Only thus can the Truth be a treasure in the heart; only then can it flow through the veins and manifest in full splendour through you.

Dewasa ini, mendengarkan ceramah dan wacana-wacana hanya menjadi sebuah trend, atau suatu kegemaran. Ketika mereka telah mendengarkannya sekali, orang-orang membayangkan bahwa mereka sudah mengetahui segalanya. Janganlah merasa puas hanya dengan mendengarkan wacana-wacana tersebut. Apa yang telah engkau dengar selanjutnya harus direnungkan dan apa yang telah ditanamkan pada mind (pikiran) selanjutnya harus dirasakan dan diekspresikan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hanya dengan demikian Kebenaran dapat menjadi harta karun di dalam hati, hanya setelah itulah dapat mengalir melalui pembuluh darah dan terwujud dalam kemuliaan penuh melaluimu.

- Vidya Vahini, Chap 9.

Sai Inspires 21st May 2010


If Vedanta (Vedic Philosophy) is spoken parrot-like to others without any attempt to put it into practice in one's own conduct, it is not just deceiving others but deceiving oneself, which is even worse. Therefore, you must be as you want others to be. It is not the nature of a sadhaka (spiritual aspirant) to search for faults in others and hide his/her own. If your faults are pointed out to you by anyone, do not argue and try to prove that it is right or do not bear a grudge against him/her for it. Reason out within yourself how you are at fault and set right your behaviour. Instead, rationalizing for one's own satisfaction or wreaking vengeance on the person who pointed it out - these are certainly not the traits of a sadhaka or bhaktha (devotee).

Jika Vedanta (Filsafat Weda) diucapkan seperti burung beo kepada orang lain tanpa berusaha untuk melaksanakannya sendiri, bukan hanya menipu orang lain tetapi yang terburuk bahkan menipu dirimu sendiri. Oleh karenanya, engkau harus mempraktekkan dulu apa yang akan engkau ajarkan pada orang lain. Bukanlah sifat seorang Sadhaka (pencari spiritual) untuk mencari kesalahan orang lain dan menyembunyikan kesalahannya sendiri. Jika kesalahanmu ditunjukkan, janganlah membantah atau mencoba membuktikan bahwa hal itu benar dan janganlah mendendam kepada orang tersebut karenanya. Carilah alasanmu dalam dirimu sendiri mengapa engkau salah dan berlakulah yang benar. Sebaliknya, mencoba mencari-cari alasan atau membalas dendam kepada orang yang menemukan kesalahanmu - ini tentu bukan sifat-sifat seorang Sadhaka atau Bhaktha.

- Prema Vahini, Chap "The Harvest of a Sadhaka".

Thursday, May 20, 2010

Sai Inspires 20th May 2010


The consciousness (chittha) must first be withdrawn from the objective world and turned inwards towards the awareness of the Eternal Self, Atma. Seeds can sprout fast only when planted in a well-ploughed land. So too, the seed of Atma Vidya (Self-Knowledge) can sprout in the field of heart only when it has undergone the necessary samskaras (refinement process).

Kesadaran (Chittha) pertama-tama harus ditarik dari dunia objektif dan berbalik arah ke dalam kesadaran diri yang abadi, yaitu Atma. Benih hanya dapat tumbuh dengan cepat bila ditanam di tanah yang dibajak dengan baik. Demikian juga, benih Atma Vidya (Pengetahuan Atma) dapat tumbuh di ladang hati hanya bila sudah melalui samskaras (proses kemurnian) yang diperlukan.

- Vidya Vahini, Chap 9.

Wednesday, May 19, 2010

Sai Inspires 19th May 2010


Every person is prone to commit mistakes without being aware of it. However light the fire maybe, some smoke is bound to emanate from it. So also, whatever good deed one might do, there is likely to be a trace of evil in it. However, efforts should be made to ensure that evil is minimized so that the good is more and the bad is less in due course of time. You must also carefully think over the consequences of what you do, talk or execute. In whatever way you want others to honour you, or to behave with you, in the same way, you should first behave with others, love and honour them. Only then will they honour you. Instead, if you don’t love and honour others, and complain that they are not treating you properly, it is surely a wrong conclusion.

Setiap orang cenderung melakukan kesalahan tanpa disadarinya. Bagaimanapun terangnya api, asap pasti berasal dari situ. Demikian juga, apa pun perbuatan baik yang mungkin dilakukan, ada kemungkinan terdapat jejak kejahatan di dalamnya. Namun, upaya-upaya seharusnya dilakukan untuk memastikan kejahatan dikurangi sehingga kebaikan bertambah dan keburukan berkurang tepat pada waktunya. Engkau juga harus hati-hati memikirkan konsekuensi dari apa yang engkau lakukan, berbicara ataupun melakukan sesuatu. Dalam cara apa pun yang engkau inginkan orang lain menghormatimu, atau untuk berperilaku dengan cara yang sama, terlebih dahulu engkau harus bersikap mengasihi dan menghormati mereka. Maka mereka akan menghormatimu. Sebaliknya, jika engkau tidak mengasihi dan menghormati orang lain, dan mengeluh bahwa mereka tidak memperlakukanmu dengan benar, tentunya ini adalah kesimpulan yang salah.

-Prema Vahini, Chap "The Harvest of a Sadhaka".

Tuesday, May 18, 2010

Sai Inspires 18th May 2010


The benefit we can derive from anything is proportional to the faith we place in it. From adoration of Gods, pilgrimages to holy places, uttering of mantras (hymns) to resorting to doctors, we derive benefits only according to the measure of our faith. When someone gives a discourse, the more faith we have in the individual as a scholar and expert, the more clearly and directly we can draw the subject into our hearts and understand it deeply. For the growth of faith and the fostering of clear understanding, the most essential requirement is the purity of the heart.

Manfaat yang dapat kita peroleh dari sesuatu hal adalah sebanding dengan keyakinan kita. Dari pemujaan Dewata, ziarah ke tempat-tempat suci, mengucapkan mantra atau mengunjungi dokter, kita hanya mendapatkan manfaat sesuai dengan keyakinan kita. Ketika seseorang memberikan wacana, keyakinan yang kita miliki dalam individu sebagai seorang sarjana dan ahli, lebih jelas dan kita langsung dapat menarik subjek ke dalam hati kita dan memahaminya secara mendalam. Untuk mengembangkan keyakinan dan meningkatkan pemahaman yang lebih jelas, hal yang paling penting adalah kemurnian hati.

- Vidya Vahini, Chapter 9.

Monday, May 17, 2010

Sai Inspires 17th May 2010


Miserliness is like the behavior of a dog. It has to be transformed. Anger is the first enemy of every aspirant. And untruth - it is even more disgusting! Through untruth, all the vital powers are destroyed! Thievery ruins life; it makes the priceless human life cheaper than a pie. Moderate food, moderate sleep, love and fortitude - these will help in the upkeep of the health of both body and mind. Whoever you are, whatever condition you may be in, if you give no room for dispiritedness and fear, and remember the Lord with unshaken faith, without any ulterior motive, all suffering and sorrow will fall away from you!

Sifat kikir adalah seperti perilaku anjing. Hal ini harus diubah. Kemarahan adalah musuh pertama dari setiap peminat spiritual. Dan ketidakbenaran – hal ini bahkan lebih menjijikkan! Melalui ketidakbenaran, semua kekuatan yang penting dihancurkan! Pencurian meruntuhkan kehidupan, hal ini membuat hidup manusia yang sebenarnya tak ternilai harganya menjadi bahkan lebih murah daripada kue pai. Makan yang cukup, tidur yang cukup, cinta dan ketabahan – hal ini akan membantu dalam pemeliharaan kesehatan tubuh dan juga pikiran. Siapapun engkau, apapun kondisimu, jika engkau tidak memberikan ruang bagi kesedihan dan ketakutan, mengingat Tuhan dengan keyakinan yang tak tergoyahkan dan tanpa maksud yang tersembunyi, semua penderitaan dan kesedihan akan menjauh darimu!

- Prema Vahini, Chapter"The Harvest of a Sadhaka".

Saturday, May 15, 2010

Sai Inspires 15th May 2010


Just as cream is present in milk and fire in the fuel, so also the attainment of Divine is a sure result for those who perform spiritual practices. Even if the attainment of Liberation is not directly realized as a consequence of taking the Lord's Name, the following fruits are clearly evident: (i) the company of the great (ii) truth (iii) contentment and (iv) control of the senses. Through whichever of these gates one may enter, whether one is a householder or a recluse or a member of any other class, one can certainly reach the Lord. This is certain!

Sama seperti krim yang ada dalam susu, api dalam bahan bakar, begitupun pencapaian Ilahi pasti merupakan hasil bagi mereka yang melakukan praktek-praktek spiritual. Bahkan jika pencapaian Pembebasan tidak langsung disadari sebagai konsekuensi dari menggunakan Nama Tuhan, hasil berikut ini jelas terlihat: (i) pergaulan dengan orang-orang yang agung (ii) kebenaran (iii) kepuasan dan (iv) pengendalian indera . Melalui yang mana saja gerbang ini dapat memasuki seseorang, apakah ia adalah kepala rumah tangga atau pertapa atau anggota dari golongan yang lainnya, seseorang pasti bisa mencapai Tuhan. Ini pasti!

-Prema Vahini, Chapter, "The Harvest of a Sadhaka".

Friday, May 14, 2010

Sai Inspires 14th May 2010


There are many destructive forces in the world. But, luckily along with them, there are also constructive forces. As students of Vidya (True Knowledge) you should not turn yourself into worshippers of bombs and machines. You must transform yourself into active persons, worshipping the Divine. Authority and power are powerful intoxicants. They will pollute one until he/she is completely destroyed. They breed misfortune. But, genuine knowledge will confer on you fullness and fortune.

Terdapat banyak kekuatan yang merusak di dunia ini. Tetapi, untungnya bersamaan dengan hal tersebut, ada juga kekuatan yang berguna. Sebagai siswa dari Vidya (pengetahuan sejati), engkau seharusnya tidak mengarahkan dirimu menjadi pemuja bom dan mesin. Engkau harus mengubah dirimu menjadi orang yang aktif, memuja Tuhan. Kewenangan dan kekuasaan adalah minuman keras yang sangat memabukkan, yang akan mencemari seseorang sampai dia benar-benar hancur, yang selanjutnya dapat menyebabkan kemalangan. Tetapi, pengetahuan sejati akan menganugerahkanmu kesempurnaan dan keberuntungan.

- Vidya Vahini, Chapter 8.

Sai Inspires 13th May 2010


In this world, there is no penance higher than fortitude, no happiness greater than contentment, no blessing holier than mercy and no weapon more effective than patience. Devotees should consider the body as a field, the good deeds as seeds and cultivate the Name of the Lord. Take the help of the Heart as the farmer in order to get the harvest - which is the Lord Himself. Like cream in the milk, fire in the fuel, the Lord is in everything. Have full faith in this.

Di dunia ini, tidak ada penebusan dosa yang lebih tinggi dari ketabahan, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kepuasan dan tidak ada blessing (berkat) yang lebih suci dari kemurahan hati serta tidak ada senjata yang lebih efektif daripada kesabaran. Devotees (Bhakta) seharusnya menganggap tubuh ini sebagai sebuah ladang, perbuatan baik sebagai bibitnya dan tanamkanlah Nama Tuhan. Gunakanlah bantuan dari Hati sebagai petani untuk mendapatkan hasil panen - yang adalah Tuhan sendiri. Seperti krim dalam susu, api dalam bahan bakar, demikianlah Tuhan ada dalam segala hal. Milikilah keyakinan ini.

- Prema Vahini, Chapter 'The Harvest of a Sadhaka'.

Thursday, May 13, 2010

Sai Inspires - 12th May 2010


In the garden of the Heart, you must plant and foster the Rose of Divinity, the Jasmine of Humility and the Lily (Champak) flower of Generosity. In your medicine chest, you must keep in readiness, the tablets of discrimination, drops of self-control and three key powders: Faith, Devotion and Patience. Through the use of these drugs, you can escape the serious illness called Ajnana (Ignorance).

Di taman hatimu, engkau harus menanam dan memupuk mawar Ketuhanan, melati kerendahan hati serta bunga lily (champak) kemurahan hati. Dalam lemari obatmu, engkau harus siap siaga, tablet diskriminasi, setetes pengendalian diri dan tiga bubuk utama dari keyakinan, pengabdian, dan kesabaran. Melalui penggunaan obat-obatan tersebut, engkau dapat melepaskan diri dari penyakit serius yang disebut Ajnana (kebodohan).

-Vidya Vahini, Chapter 8.

Sai Inspires 11th May 2010


Good character is the precious jewel of human life. Human birth itself is the consequence of countless good deeds and it should not be frittered away. This chance must be utilized to the fullest extent. With deep yearning and steadfast discipline, you must endeavor to experience Divinity and redeem yourself.

Karakter yang baik merupakan permata yang berharga dari kehidupan manusia. Kelahiran manusia itu sendiri adalah konsekuensi dari perbuatan baik yang tak terhitung jumlahnya dan tidak ada potongan-potongan yang tertinggal. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sepenuhnya. Dengan kerinduan yang mendalam dan disiplin yang teguh, engkau harus berusaha untuk mengalami Keilahian dan membebaskan dirimu sendiri.

Monday, May 10, 2010

Sai Inspires 10th May 2010


Eating food is a holy ritual, a yajna. It should not be performed during moments of anxiety or emotional upheavals. Food should be considered as medicine for the illness of hunger and for the sustenance for life. Treat each trouble you encounter as a fortunate opportunity to develop your strength of mind and toughen you spiritually.

Makan adalah suatu ritual suci, sebuah Yajna. Makan seharusnya tidak dilakukan pada saat kecemasan atau pada saat emosi bergejolak. Makanan seharusnya dianggap sebagai obat pada saat kelaparan dan sebagai makanan untuk kehidupan. Anggaplah setiap masalah yang engkau hadapi sebagai kesempatan beruntung untuk mengembangkan kekuatan pikiran dan menguatkan spiritualmu.

- Vidya Vahini, Chapter 8.

Sunday, May 9, 2010

Sai Inspires 9th May 2010


Look at the crane - it walks about pretty fast in water. But, during that walk, it cannot catch any fish. It must, for that purpose, become slow and quiet and stand motionless. So also, if one proceeds with greed, anger and other evil qualities, one cannot secure the fish of truth, love and peace. You must chant the Name of the Lord. Then, you will surely overcome the natural traits of greed and anger. Hold on to the Lord as the Universal Goal and make Him the destination of your life's journey. Practice control of speech and constant contemplation of the Lord. Then you will be able to subdue your mind that makes you restless, and gradually you will be filled with all the good qualities!

Lihatlah derek itu – ia bergerak begitu cepat dalam air. Namun, selama perjalanannya, ia tidak dapat menangkap ikan apapun. Tentu saja, untuk mencapai tujuan tersebut, derek itu seharusnya bergerak dengan lambat dan tenang kemudian diam tak bergerak. Begitu juga, jika seseorang melangkah dengan keserakahan, kemarahan, dan sifat-sifat buruk yang lainnya, seseorang tidak dapat mengamankan ikan kebenaran, cinta-kasih, dan kedamaian. Engkau harus mengucapkan nama Tuhan. Selanjutnya, engkau pasti akan dapat mengatasi sifat alami dari keserakahan dan kemarahan. Berpeganglah pada Tuhan sebagai Tujuan Universal dan membuat-Nya sebagai tujuan perjalanan hidupmu. Praktekkanlah mengendalikan bicara dan terus-menerus merenungkan Tuhan. Setelah itu engkau akan dapat menaklukkan pikiranmu yang membuatmu gelisah, dan secara bertahap engkau akan dipenuhi dengan semua kualitas-kualitas yang baik.


- Prema Vahini, Chapter, "Sat-Sankalpa is the Path for Attaining the Presence".

Saturday, May 8, 2010

Sai Inspires 8th May 2010


The taste of food cannot be appreciated if the person is ill or if the mind is immersed in something else. Similarly, even if you are engaged in spiritual practices, you will not experience joy if your heart is filled with evil qualities. You can taste sweetness so long as there is sugar on the tongue. However, if there is even a tinge of bitterness on the tongue, your whole mouth tastes bitter. Therefore, those who aspire to attain the Holy Presence of the Lord must cultivate good habits, discipline and noble qualities. The usual accustomed ways of life will not lead you to God automatically. You must perform sadhana (spiritual practices) to modify it suitably.

Cita rasa makanan tidak dapat dinikmati jika seseorang sedang sakit atau jika pikiran ditenggelamkan dalam sesuatu yang lain. Demikian pula, bahkan jika engkau terlibat dalam praktek spiritual, engkau tidak akan mengalami kebahagiaan jika hatimu dipenuhi dengan sifat-sifat yang buruk. Engkau dapat merasakan rasa manis selama ada gula di lidah. Akan tetapi, jika ada rasa pahit di lidah, seluruh mulutmu akan terasa pahit. Oleh karena itu, mereka yang mengharapkan untuk mencapai Kehadirat Tuhan, harus menanamkan kebiasaan yang baik, disiplin, dan sifat-sifat yang mulia. Sesuatu yang biasa kita lakukan dalam kehidupan ini, secara otomatis tidak akan mengarahkanmu pada Tuhan. Engkau harus melakukan Sadhana (praktek spiritual) untuk mengubahnya menjadi sesuai.

-Prema Vahini, Chapter "Sat-Sankalpa is the Path for attaining the Presence".

Sai Inspires 7th May 2010


When one is involved in the world, only worldly thoughts will arise during one’s last moments. To those who yearn wholeheartedly for the Lord, the Lord will present Himself. One may love his/her kith and kin, respect them and keep them in good humour so long as one moves about in the world. But, while still being in the world, one must offer unstinted love and loyalty all through the life to the Lord alone, none else.

Ketika seseorang disibukkan di dunia ini, hanya pikiran duniawilah yang akan muncul pada saat-saat terakhir hidupnya. Bagi mereka yang rindu sepenuh hati pada Tuhan, Tuhan akan segera hadir. Seseorang mungkin mengasihi handai tauland dan sanak saudaranya, menghormati mereka dan memperhatikan mereka dalam menyenangkan hati mereka selama mereka berada di dunia ini. Tetapi, sementara masih berada di dunia ini, seseorang harus memberikan cinta-kasih yang tak habis-habisnya dan loyalitas sepanjang hidup hanya untuk Tuhan, tidak untuk yang lainnya.

-Divine Discourse, May 6, 1983

Thursday, May 6, 2010

Sai Inspires May 6, 2010


More fragrant than the sweet smelling flowers like jasmine and lily, softer than butter, more beautiful than the eye of the peacock, more pleasant than the moonlight is the love of a mother. Human life is a journey from 'I' to ‘We’. In this short journey, you have to detach yourself from the body and develop attachment towards the ‘Self’. For this, mother's grace is very essential.

Cinta-kasih seorang ibu lebih wangi dari bunga-bunga yang indah seperti melati dan lili, lebih lembut dari mentega, lebih indah dari mata burung merak, serta lebih menyenangkan dari sinar bulan. Kehidupan manusia adalah sebuah perjalanan dari “I (aku)” menuju “We (kami)”. Dalam perjalanan singkat ini, engkau harus melepaskan dirimu dari badan fisikmu dan mengembangkan keterikatan pada “Self (Atma)”. Untuk ini, rahmat ibu sangatlah penting.

-Divine Discourse, 19 Nov 1999

Wednesday, May 5, 2010

Sai Inspires 5th May 2010


You must understand the value of mother's love and her concern for you. You must give your mother the topmost priority. Sometimes, modern youth do not care for their mothers. They think they are highly educated and that their mothers do not know anything. It is a great mistake to think so. Never look down upon your mother. Mothers also should not compel their children to accede to each and every wish of theirs. Through love and sincerity, she should put her children on the proper path. Every mother should aspire that her children should be good; they need not be great.

Engkau harus memahami bahwa cinta-kasih seorang ibu dan perhatiannya hanyalah untukmu. Engkau harus memberikan ibumu prioritas yang utama. Kadang-kadang, pemuda modern tidak perduli dengan ibu mereka. Mereka berpikir mereka berpendidikan tinggi dan ibu mereka tidak tahu apa-apa. Ini adalah kesalahan besar. Jangan pernah memandang rendah ibumu. Ibu juga seharusnya tidak memaksakan anak-anak mereka untuk mengikuti setiap keinginan mereka. Melalui cinta-kasih dan ketulusan, ibu seharusnya menempatkan anak-anaknya pada jalur yang benar. Setiap ibu seharusnya berkeinginan bahwa anak-anaknya haruslah baik; mereka tidak perlu hebat.


-Divine Discourse, 19 November 1999

Tuesday, May 4, 2010

Sai Inspires 4th May 2010


Your nature is revealed by your acts, gestures, looks, speech, food habits, dress and the manner in which you conduct yourself. Therefore, you must pay attention to ensure that your speech, movements, thoughts and behavior are all correct and filled with love and nobility, devoid of wildness and waywardness. You have to develop the humility to believe that you have much good to learn from others. Your enthusiasm, aspiration, resolution, capacity to work, knowledge and wisdom have to be directed towards the welfare of all and not utilized solely for your selfish ends. You should be broad-minded and cultivate all-embracing love.

Sifatmu terlihat dari tindakan-tindakan, gerak tubuh, penampilan, gaya berbicara, kebiasaan makan, pakaian, dan sikap bagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri. Oleh karena itu, engkau harus memastikan bahwa ucapanmu, gerak-gerikmu, pikiranmu, dan tingkah lakumu semuanya benar dan dipenuhi dengan cinta-kasih dan kemuliaan, sama sekali tanpa sifat liar dan ketidakpatuhan. Engkau harus mengembangkan kerendahan hati untuk percaya bahwa engkau mempunyai banyak sifat-sifat baik untuk dipelajari dari orang lain. Antusiasmu, aspirasimu, resolusimu, kemampuan untuk bekerja, pengetahuan dan kebijaksanaan harus diarahkan untuk kesejahteraan semuanya dan tidak digunakan hanya untuk tujuan-tujuan yang mementingkan diri sendiri. Engkau seharusnya memiliki wawasan luas dan mengembangkan cinta-kasih yang merangkul semuanya.

-Divine Discourse, Vidya Vahini, Chapter VIII

Monday, May 3, 2010

Sai Inspires 3rd May 2010


A farmer clears and levels the land, removes the stones and thorns, ploughs and prepares the field, manures and nourishes the soil, waters and applies fertilizers on it. Then he sows the seeds and transplants the saplings. This is followed by the process of weeding and spraying of pesticides. Finally, after a long wait, he reaps the harvest. Once the crop is harvested, he then winnows it, threshes it and finally stacks the produce. All these various processes are for the sake of feeding the stomach. So too, one must feel that hunger, thirst, joy and sorrow, grief and loss, suffering and anger, food and appetite are but impulses that impel us towards attaining the Presence of the Lord. If you have this attitude, no sin will ever tarnish your actions. Over time, these impulses too will vanish, without a trace.

Seorang petani membersihkan dan meratakan lahannya, menghilangkan bebatuan dan semak berduri, membajak dan menyiapkan lahan, memeliharanya, mengairi serta memberikan pupuk diatasnya. Setelah itu, petani tersebut menabur benih dan menghasilkan tanaman muda. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan penyiangan dan penyemprotan pestisida. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, ia menuai panen. Setelah tanaman dipanen, ia kemudian menampinya, memukul-mukulkannya (mengiriknya), dan akhirnya mendapatkan tumpukan hasil. Semua proses yang dilakukan ini demi memberi makanan pada perut. Demikian juga, seseorang harus merasakan bahwa lapar, haus, suka dan duka, kesedihan dan kehilangan, penderitaan dan kemarahan, makanan dan nafsu makan bukanlah merupakan desakan yang mendorong kita untuk mencapai Kehadirat Tuhan. Jika engkau memiliki sikap seperti ini, dosa tidak akan menodai tindakanmu. Seiring dengan berjalannya waktu, dorongan ini akan lenyap, tanpa meninggalkan jejak.

- Prema Vahini, Chapter"Sat-Sankalpa is the Path for Attaining the Presence"

Sai Inspires 2nd May 2010



Vidya (true knowledge) instructs you to reform yourself first. After transforming yourself, try to reform others. That is the advice offered by Vidya. The delusive attachment to the objective world can be uprooted by means of selfless service rendered as worship to the Lord. Genuine devotion is characterized by love for all, at all times, everywhere.

Vidya (pengetahuan sejati), pertama-tama menginstruksikan pada dirimu untuk memperbaiki dirimu menjadi lebih baik. Setelah mentransformasi dirimu, cobalah untuk mereformasi orang lain. Hal inilah yang disarankan oleh Vidya. Keterikatan pada benda-benda duniawi dapat ditumbangkan dengan cara melakukan pelayanan tanpa pamrih yang dipersembahkan sebagai pemujaan kepada Tuhan. Pengabdian yang sejati ditandai dengan kasih untuk semuanya, dimana-mana dan setiap saat.

-Divine Discourse, Vidya Vahini, Chapter VIII.

Sai Inspires 1st May 2010


For beings immersed in the world, there are two obstacles that must be overcome: the craving for animal desires and the craving of the tongue. Every one of you must conquer these. So long as they persist, they cause sorrow. These are the causes of all sins, and sin is the manure on which maya (delusion) thrives. Those aspiring for liberation should subdue the senses. To conquer these desires, whatever activity you do - eating, walking, studying, serving or moving - you should perform them in the belief that they lead you to the presence of God. Every action should be done in a spirit of dedication to the Lord.

Bagi setiap mahluk yang ditenggelamkan dalam kehidupan duniawi, ada dua hambatan yang harus diatasi: nafsu hewaniah dan keinginan untuk memuaskan lidah. Setiap orang harus menaklukkan hambatan-hambatan ini. Jadi selama hal-hal tersebut tetap ada dalam diri manusia, hal tersebut menyebabkan penderitaan. Inilah penyebab dari semua dosa, dan dosalah yang memupuk Maya (delusi) tumbuh dengan subur. Mereka yang menginginkan pembebasan, haruslah menaklukkan inderanya. Untuk menaklukkan keinginan ini, apapun aktivitas yang engkau lakukan - makan, berjalan, belajar, melayani atau melangkah, engkau seharusnya melakukan hal tersebut dalam keyakinan bahwa itu akan mengarahkanmu ke hadirat Tuhan. Setiap tindakan harus dilakukan dalam semangat pengabdian pada Tuhan.

- Prema Vahini, Chapter "Sat-Sankalpa is the Path for Attaining the Presence"